1 komentar
Hari ini, Kamis 19 Mei adalah hari terakhir tantangan One Day One Post selama 99 hari. Ya, ini adalah hari weekday ke-99 semenjak saya memulai tantangan ini di hari pertama. Senin, 4 Januari 2016 adalah hari pertama tantangan ODOP ini dimulai. 4 Januari adalah hari senin pertama di tahun 2016. Tidak terasa, sangat tidak terasa, 4.5 bulan telah berlalu. Postingan bersama saya mengenai hari dimana kelahiran Hasan. Postingannya bisa di baca disini.

Tidak ada komentar
Tempo hari, salah seorang rekan saya mengepos di salah satu sosial medianya perihal lomba blog yang cukup menarik minat saya. Sebetulnya sudah banyak rekan-rekan yang lain mengepos lomba blog yang lain, namun yang ini adalah satu dari sedikit lomba menulis yang relevan dengan saya.

Lomba blog apakah itu?

1 komentar
Ada bermacam alasan mengapa dana kita dikembalikan oleh sebuah e-commerce atau online shop. Tidak tersedianya stok, kendala transfer ataupun pesanan kita tidak ditanggapi oleh penjual. Now I'm gonna pour it down my refunding story which happened twice in a week.

Tidak ada komentar
Lucid dream: any dream during which the dreamer is aware that they are dreaming. During lucid dreaming, the dreamer may allegedly be able to exert some degree of control over the dream characters, narrative, and environment. - Wikipedia.com



Tidak ada komentar
Jujur, mungkin ini pertama kali saya menerima jasa titip buku untuk event Big Bad Wolf pada hari Rabu. Awalnya memang sedikit agak galau. Pertimbangannya, kalau menerima jasa titip lumayan bisa subsidi beberapa buku Hasan, selain itu saya juga sudah menempuh jarak sangat jauh. Kalau saya tidak menerima jasa titipan asik bisa konsentrasi me (our) time ngider-ngider ICE BSD sambil konsentrasi menelisik dan memilih buku. Pada akhirnya saya menerima jasa titip buku. Saya iklankan lah di grup ITBMh dengan biaya jasa titip 10% harga buku. Sesungguhnya biaya ini sangat murah sekali mengingat saya pernah melihat beberapa akun IG mengenakan biaya bisa sampai 1 buku 35 ribu! Cukup 1 grup saja. Consequence takes its toll!

Dan kira-kira inilah semua buku yang siap dibungkus dan dikirim via JNE.

Buku titipan
Tidak ada komentar
Pagi ini, di sebuah grup WA sedang membahas mengenai sebuah acara yang sedang berlangsung di JCC Senayan, yakni Garuda Travel Fair (GATF) 2016. Seperti yang saya diduga, ribuan orang yang ingin berlibur dengan harga murah riuh rendah akan berdesakan di arena JCC. Padahal, untuk mengantri saja bisa habis waktu total 2-3 jam. Kabarnya, seorang teman juga menyatakan ada yang sampai menginap di JCC demi mendapatkan tiket! Dia sendiri datang jam 10 dan antrian sudah sangat membludak. 40 menit antri tiket masuk. 1 jam antri travel. 1 jam antri bayar. 20 menit antri tiket dikeluarkan. Luar biasa bukan!

Antri GATF di pintu masuk
Tidak ada komentar
Kapankah saya memanggil seseorang dengan prefix kak/mas/teh/bang/dsb?


Angkatan


Usia saya 2 tahun lebih muda dibanding rata-rata teman seangkatan saya karena dahulu saya masuk SD saat 5 tahun dan sempat aksel saat SMP. Tetapi, sepanjang sejarah tidak pernah ada tuh teman seangkatan yang dipanggil "kak". Jadi tentu saja, teman yang saya panggilan dengan awalan "kak" pastinya ada di angkatan yang lebih tua dari saya


Keakraban


Tetapi ternyata tidak semua kakak kelas saya yang saya panggil dengan awalan "kak". Ada beberapa yang ya, ada beberapa yang langsung nama. Kategori kakak kelas di bagian ini adalah 1-3 angkatan diatas saya. Diatas itu sudah pasti pakai awalan, jauh bedanya, lebih dari 6 tahun hehe.


Ternyata yang mempengaruhi apakah saya memanggil orang tersebut memakai awalan "kak" adalah keakraban. Untuk orang yang baru pertama kali kenal sudah pasti saya memakai awalan. Mereka masuk ke kategori acquaintance, alias kenalan. Awal "kak" (and "teh" mostly nowadays) sebagai bukti rasa segan dan respek yang mana masih sangat dijunjung di negara ini, Namun kalau yang bersangkutan orang yang akrab? Oh, langsung panggil nama saja meski dia 5 tahun lebih tua dari saya hehe.

Dalam sebuah rentang skala dimana sisi paling kiri adalah kenalan dan sisi paling kanan adalah teman akrab, sisi tengah atau sisi diantara adalah sisi yang paling tidak konsisten. Ya, rekan-rekan yang berada di sisi ini dalam rentang keakraban versi saya panggilannya bervariasi. Ada yang memakai awalan, ada juga yang lanngsung nama saja
Tidak ada komentar
Alkisah pada suatu hari, seorang teman membalas salah satu plurk saya dengan balasan yang sama sekali tidak relevan dengan status plurk yang saya gaungkan.

"Net, nanti gw mau japri lo ya. Ada mau nanya-nanya sesuatu."
"Oke, shoot!", balas saya.
Tidak ada komentar
Belakangan ini, di FB santer kritik terhadap status FB (yang katanya) seorang ustad. Di statusnya, beliau menyatakan bahwa ruqyah bisa membantu melahirkan melalui vagina padahal sang istri sudah divonis dokter sebaiknya melahirkan melalui SC.
Ada beberapa hal yang membuat status ini dikritik keras di pelbagai elemen masyarakat.
Tidak ada komentar
Fiuh,, akhirnya 33 hari kedua tantangan ODOP for 99 days terlewati juga. Alhamdulillah semua postingan lengkap disetor meski ya harus saya akui ada beberapa kali saya harus memposting di hari yang lain karena ada uzur. But anyway, good job for me! Sekali-kali memuji diri sendiri tidak mengapa kan ya. Yang saya rasakan pada fase 33 hari kedua ini, kegiatan memposting blog seperti menjadi rutinitas. Kalau saya merasa tidak ada waktu, saya serius untuk mengalokasikan waktu. Selain itu, keributan otak saya perlahan semakin bisa rutin dikeluarkan.



Oke, mungkin itu sedikit ulasan fase kedua ini dari saya. Berikut adalah 33 postingan blog, yakni dari hari ke-34 hingga hari ke-66. Mungkin sedikit telat ya saya baru mengepost blog rekapan di hari ke 80 :).

  1. Hari 34 - Refleksi 33 Hari Pertama Tantangan #ODOPfor99days
  2. Hari 33 - Hari-Hari Pertama MPASI
  3. Hari 36 - Story of Hasan: Hari Pertama MPASI
  4. Hari 37 - Tentang Mimpi
  5. Hari 38 - Kotak Pandora
  6. Hari 39 - Surprising Boy
  7. Hari 40 - Double Diced Stalking
  8. Hari 41 - Menularnya LGBT dan Kekhawatiran Emak-emak
  9. Hari 42 - Jika Doa Belum Dikabulkan
  10. Day 43 - Story of Hasan: Di akhir MP-ASI Menu Tunggal
  11. Day 44 - Arti Kepuasan Pelanggan
  12. Day 45 - Mahmud Abas Outing #1: Pelesir Kota Kasablanka
  13. Day 46 - Rasa Malu
  14. Day 47- Diet Obat
  15. Day 48 - Tentang Sekolah (Lagi)
  16. Day 49 - Jakarta Baby Swimmin Lesson
  17. Day 50 - Aeroplane Ticket
  18. Day 51 - Story of Hasan: Icip Kolam Renang Pertama
  19. Day 52 - Hasan Story: WHO Growth Chart dan Anomali Hasan
  20. Day 53 - Soal Selebgram
  21. Day 54 - Adek (nya) Hasan
  22. Day 55 - Keluh Kesah yang Lenyap
  23. Day 56 - Karakteristik Makan Hasan
  24. Day 57 - Story of Hasan: Hasan yang Ramah
  25. Day 58 - Bagasi Berlibur Hasan
  26. Day 59 - Homemade MPASI Luar Kota
  27. Day 60 - Ceroboh Belajar Agama
  28. Day 61 - Story of Backpain
  29. Day 62 - Plus Minus Supermarket Sekitar Green Pramuka
  30. Day 63 - Story of Hasan: My Traveling Boy
  31. Day 64 - Sedikit Ide Soal Rumah
  32. Day 65 - Baby Gear: Britax Boulevard CS70 Review
  33. Day 66 - Cita-cita Lepas
What a number!

Semoga kedepannya bisa lebih bagus lagi dan lebih semangat lagi! ;)
Tidak ada komentar
Saya punya kebiasaan hanya mengambil uang alakadarnya dari ATM. Kalau tidak ada keperluan membutuhkan uang bernominal besar. Saya kerap kali hanya akan mengambil seratus hingga dua ratus ribu rupiah saja. Alasan saya hanya mengambil uang pas-pasan saja lebih karena saya tidak ingin uang di dompet saya mengalir begitu saja bagaikan ban keran bocor. Tidak cuma mengambil uang pas-pasan, terkadang jika di dompet hanya ada uang kurang dari lima ribu rupiah, saya malas untuk mengambil lagi dengan asumsi kalau ada apa-apa saya masih ada uang (seadanya).

Tidak ada komentar
"Bayinya jangan sering berenang dibawah ya, bayi A kasian kepalanya ada bakteri sampai harus dibolongin.'

Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Though I felt like, "huh?".

Berdasarkan info yang saya dapat dari sesama teman Mahmud Abas di Apartemen ini, sebut saja bayi A harus mendapat musibah karena harus dioperasi kepalanya menggunakan bius total. Terakhir dilihat oleh teman-teman saya sang anak sudah dibotak dan kepalanya sedang diperban. Tampaknya operasinya sudah lewat.

Tidak ada komentar
Hasan sudah semenjak lama menyicipi air kolam renang (well,, sebenarnya sudah tergolong telat sih), yakni saat ia berusia 5.5 bulan. Berhubung respon pertama Hasan menyenangkan, oleh karena itu saya menjadi sedikit lebih niat soal renang Hasan. Berbagai kolam sudah diicip termasuk kolam apartemen. Ambang batas mood Hasan saat renang juga sudah dicoba. Kerap kali saya memasukkan Hasan ke kolam renang saat ia sudah mulai mengantuk. Meski ia jadi tidak tertawa, tetapi ia tidak nangis! Bagi saya ini artinya respon Hasan terhada renang positif.

Tidak ada komentar
Salah satu ambisi saya dari dulu adalah punya perpustakaan sendiri.

Dari dulu saya senang sama yang berkaitan dengan buku. Ya, saya senang membaca semenjak dari kecil. Namun sayang sekali, karena perkembangan zaman, teknologi semakin maju, keinginan dan kecepatan membaca saya tergerus oleh teknologi yang namanya sosial media. Karena kebanyakan membaca di sosial media, saya jadi lupa membaca manual a.k.a buku.

Tidak ada komentar
"Nanti kalau sudah besar mau jadi apa?"

Bisa saja pertanyaan tersebut merupakan sebuah pertanyaan populer dan frekuentif yang ditanyakan kepada anak kecil. Begitu juga dengan saya (jika ditanyakan, siapa pula yang nanya haha). Tapi bukan cita-cita yang saya ingini masa kecil yang hendak saya perbincangkan kali ini.

Tetapi saat SMA.

Tidak ada komentar
Carseat memang bukan perlengkapan bayi yang pamornya setinggi stroller di Indonesia. Fungsinya yang sangat krusial belum disadari oleh banyak orang. Keterangan urgensitas carseat dapat dibaca di postingan saya disini. Kali ini saya akan membahas carseat yang dipakai oleh Hasan sehari-hari. Britax Boulevard CS 70. Carseat ini dibeli second sebenarnya, seorang anggota ITBMh menggarsel carseat temannya yang expat. Carseat ini dibeli di Singapura, namun ternyata anaknya sudah terlanjur seperti anak Indonesia, tidak mau pakai carseat. Jadinya carseat ini dijual dengan harga Rp 1.700.000. Btw, Britax susah mencari yang jual. Setahu saya cuma Mothercare, dan itu Britax Inggris. Sementara Britax Amerika menurut saya modelnya lebih bagus dan harganya lebih masuk akal. So, it's pretty a good deal!

Tidak ada komentar
Mungkin masih seputar perjalanan ke Belitung, kali ini saya akan menceritakan tindak tanduk Hasan selama perjalanan pergi, saat di lokasi liburan dan kembali lagi ke Jakarta.

Tidak ada komentar
Sudah sekitar 5 bulanan saya tinggal di Apartemen Green Pramuka. Sebagai seorang emak-emak (huhu)\, mengetahui posisi dan lokasi supermarket untuk belanja bulanan atau mingguan merupakan hal yang sangat penting. Sebelum tinggal di Apartemen, saya tinggal di daerah Lebak Bulus. Supermarket di area tempat tinggal saya sungguh beragam dan tinggal pilih mau belanja apa, mau hemat atau tidak, ataupun lagi minat belanja area mana. Disana ada Pasar Pondok Labu, Aneka Buana, Carrefour, Hypermart, 2 buah Giant dan Superindo. Benar-benar tinggal pilih kan?

Tidak ada komentar
Rabu pagi lalu, saya sedang santai duduk di sofa sedang menggerus puree untuk sarapan Hasan. Bangkit, kemudian saya menyadari ada sedikit yang aneh di pinggang saya tapi saya menghiraukan karena rasanya tidak begitu berarti. Kemudian saya ke kamar hendak menghampiri Hasan yang baru bangun pagi di ranjang bayi. Rasa sesuatu di pinggang yang semula saya hiraukan menjadi sesuatu yang sangat signifikan.

Tidak ada komentar
Belakangan ini gampang sekali kita menemui postingan di Facebook yang berisi tulisan mengenai agama dari sebuah link. Dan link tersebut link yang berisi tulisan-tulisan agama langsung dari pakarnya?

TIDAK

Tidak ada komentar
Jumat sampai Minggu ini, Hasan akan berlibur ke luar kota, tepatnya ke Tanjung Lesung. Berhubung Hasan sudah berusia 7 bulan, artinya harus dipersiapkan juga kan apa yang akan Hasan makan selama keluar kota itu.


Tidak ada komentar
Terhitung, Hasan baru dua kali berpergian ke luar kota. Sebuah jumlah yang biasa saja untuk bayi berusia 7 bulan. Pergi ke luar kota pertama adalah ke Bandung saat kira-kira usia Hasan menginjak 4 atau 5 bulan dan belum MPASI. Pergi yang kedua kali adalah long weekend minggu ini, yakni ke pantai Tanjung Lesung. Saat ini Hasan berusia 7 bulan dan sudah MPASI. Ternyata pergi bersama bayi benar-benar repot. Banyak barang yang disiapkan jauh melebihi kedua orang tuanya. Lucu ya, makhluk sekecil itu tapi barang bawaannya segaban.

Tidak ada komentar
Hasan yang ramah. Hasan yang menyenangkan. Senang bertemu dengan Hasan :) - Hanif Nugraha
Hasan Khalid Reksoprodjo, 7 bulan, adalah salah satu bayi paling ramah yang pernah saya temui. Kenal atau tidak, pernah bertemu atau baru, Hasan tak sungkan-sungkan menebar senyum dan tawa pada 90% dari orang yang ditemuinya. Sejauh ini hanya ada dua alasan jika Hasan  dan pelit senyum tawa. Yaitu pada saat mood jelek dan kurang tidur. Jadi maaf-maaf saja ya kalau bertemu Hasan di waktu Hasan seperti itu, alih-alih diberi senyum Hasan akan memberikan raut muka senggol bacok xD.

Tidak ada komentar
Seperti algoritma acak. Random. Itulah yang dapat saya bilang untuk mendeskripsikan karakteristik makan Hasan. Tapi yang saya tau, ada satu variabel yang memiliki bobot paling besar dalam menentukan sikap Hasan pada saat makan. Apakah itu?

Tidak ada komentar
Slow but sure.

Mungkin itu adalah slogan yang tepat untuk menggambarkan tumbuh kembang Hasan. Setidaknya untuk hal berat dan tinggi badan. Dulu biasanya untuk memantau tumbuh kembang bayi menggunakan grafik CDC. Namun sekarang sudah ada grafik tumbuh kembang WHO, dimana anak-anak Afrika dan Asia turut dimasukkan kedalam sampel. Berbeda dengan grafik CDC yang menggunakan sampel hanya anak Amerika dan Eropa.

1 komentar
Selasa minggu lalu, 14 Maret 2016 untuk pertama kalinya Hasan icip-icip kolam renang. Saya tinggal di apartemen yang ada kolam renang di tiap towernya. Tapi baru kali ini setelah Hasan berusia 6.5 bulan ia icip-icip kolam renang. Kemana saja saya selama ini?

Oke.

Jadi sebenarnya niatnya adalah Hasan belajar berenang langsung nyemplung di kolam renang saat usia 6 bulan. Setelah berusaha mencari tempat les renang bayi, akhirnya saya menemukan 2 tempat les renang bayi di Jakarta. Aquatic Baby dan Anak Air. Keduanya dapat menerima bayi minimal berusia 6 bulan. Wah cocok ni pikir saya. Pada saat itu Hasan sudah berusia 5 bulan. Kemudian saya menghubungi Aquatic Baby perihal brosur. Ternyata eh ternyata, berhubung kelasnya terbatas jadi waiting list nya panjang benar. Masa term berikutnya Mei atau Juni, yang mana Hasan sudah berusia 9 atau 10 bulan. Oh iya, Aquatic Baby ini berlokasi di Bintaro. Informasi lebih lanjut mungkin bisa lihat di postingan ini.

Tidak ada komentar
Saya tergolong orang yang "malas" makan obat. Maksudnya, saya kalau tidak kepepet dan memang harus, saya tidak akan menyentuh obat. Entah kenapa dan entah sejak kapan saya mulai begini. Dulu (dan saban kali sampai sekarang) saya langganan sakit kepala hebat bulanan. Sakitnya seperti migrain, sakit kepala sebelah dari tulang hidung, menjalar  ke mata, pelipis hingga kepala. Sakit kepala hebat sampai keluar air mta dan rasa-rasanya otak saya mau meledak. Namun, daripada saya makan obat, saya memilih jalan dengan tidur. Biasanya bangun paginya sakit kepala sudah hilang. Saya baru akan menyentuh obat sakit kepala jika keesokannya sakit kepala masih terasa.

Tidak ada komentar
Baru saja kemarin, Kamis 3 Maret 2015 wacana nge-mall Mahmud Abas (Mamah Muda Anak Baru Satu) Apartemen Green Pramuka terealisasikan setelah diomongkan bulan lalu. Berawal dari Eva (Mom Vya) WA nawarin mau ikutan ke Kota Kasablanka yang deket atau tidak. Akhirnya peserta terdiri dari 5 pasang ibu-bayi. Saya dan Hasan; Eva dan Vya, kak Tita dan Adam, Adit dan Arya Mom Elsa (namanya belum nanya, duh) dan Elsa. Dan kebetulan, jarak usia antar bayi tidak jauh! Vya 7 bulan. Hasan, Adam, dan Elsa 6 bulan, dan yang paling muda Arya 4 bulan. Berhubung ini adalah perjalanan pertama, maka ini titik penentuan. Kalau sukses bakalan diulang lagi nih.

2 komentar
"Vun, HPnya setelah gw ganti lancar jaya. Batere yang udah gw ganti juga fully function."
Itu adalah WA teman saya yang baru membeli iPhone 5 saya terdahulu. Ada kelegaan dan kepuasan batin tersendiri pembeli puas.

1 komentar
Alhamdulillah, Insya Allah besok adalah hari terakhir Hasan MP-ASI tunggal. Menu MP-ASI tunggal Hasan dapat dilihat di sini. Alhamdulillah Hasan melaluinya dengan relatif lancar. Tanpa alergi dan sembelit. Buang Air Besar (BAB) Hasan lancar seperti biasa. sekitar 2-3 kali sehari. Oh, sehari sekali apabila keluar rumah haha. Demam panggung mungkin. BAB Hasan pun baik aroma, warna dan teksturnya menjadi variatif. Menjadi lebih bau :p

Beberapa puree menu tunggal MPASI Hasan
1 komentar
*disclaimer: Tulisan ini bisa jadi notabene berisi pikiran serta opini dan mengandung sangat minim informasi ilmiah. Segala bentuk ketidakrelevan mohon dikoreksi. Tapi maaf, pandangan saya mengenai LGBT tidak bisa dikoreksi. Hate me, call me a bigot :)

Topik LGBT menghangat bak minyak yang siap disulut api belakangan ini. Pertikaian baik yang muncul di permukaan atau hanya diam-diam di dalam benak. Sosial media dijadikan ajang beradu argumentasi. LGBT dan pernikahan sejenis memang sudah dilegalkan di banyak negara. Namun, seperti yang saya duga, pelegalan pernikahan sesama jenis di Amerika tempo lalu benar-benar realita yang dijadikan momentum untuk mencari "keadilan" bagi kaum LGBT.

Berhubung tanpa disadari saya sudah menyandang status emak-emak (hadeuh..) serta beberapa grup FB emak-emak yang saya diikuti,banyak para emak-emak ini mengungkapkan kegelisahan dan keruwetan hatinya dalam bentuk status sosial media. Salah satunya pada wall Facebook. Salah satu bentuk keluhan yang paling viral adalah ketakutan mereka bahwa LGBT akan menjangkiti dan menular kepada anak mereka. Namun benarkah itu?

Tidak ada komentar
Suami: Kamu ada rencana sekolah di luar negeri?
Saya: Sebenarnya ada. Tapi santai. Kenapa emangnya?
Suami: Aku ada rencana mau ke luar.

Tiba-tiba percakapan tersebut muncul di layar kaca ponsel. Tersentak. Setau saya suami mana ada keinginan melanjutka sekolah setelah spesialis. After all he has been through. After he will go through. 5 Tahun pendidikan dokter. 1 tahun internship. 5 tahun (rencananya) PPDS (Program Pendidikan Dokter Spesialis) dan kira-kira usianya menjejak 30 tahun saat menyelesaikan semuanya. A long way path. Very. Dan lagi kesibukannya jauh diatas rata-rata dibanding sekolah sarjana atau magister yang banyak waktu lowong seperti yang saya tempuh. Terus kemudian masa mau lanjut lagi? What a exhausted moment.

Tapi di sisi lain, ini rasanya seperti mimpi. Mimpi bisa tinggal di luar for just one year or two. Mimpi kali-kali saya bisa nebeng melanjutkan studi doktoral. Perlahan mimpi itu menjadi nyata.

Kemudian saya terbangun dari tidur.

Tidak ada komentar
Tanggal 19 Februari akhirnya datang juga. Akhirnya genap juga Hasan berusia 6 bulan. Artinya adalah hari pertama Hasan icip-icip makanan selain ASI. Untuk dua minggu pertama, Hasan akan mencoba menu tunggal. Hal ini bertujuan sebagai pengenalan makanan bagi Hasan dan mengindikasi adanya alergi Hasan pada suatu makanan. Jadwal lengkap menu tunggal Hasan dapat dilihat di postingan saya sebelum ini.


Tidak ada komentar
Tak terasa, hari ini sudah menapaki hari ke 33 dalam tantangan One Day One Post di grup FB atau yang dikenal dengan hashtag #ODOPfor99days. Bagaimana rasanya? Ternyata sudah 33 publikasi tulisan saya yang saya tampilkan di beberapa blog saya yang saya sebar. Blogspot saya untuk postingan berbahasa Indonesia, Wordpress untuk postingan berbahasa Inggris, dan Tumblr untuk rambling posting.


Tidak ada komentar
Tak terasa, Insya Allah jumat nanti, tanggal 19 Februari Hasan genap berusia 6 bulan. Itu artinya Hasan akan naik kelas dari ASIX menjadi ASIX + MP-ASI. Deg-degan? Tentu. Rasanya seperti baru kemarin Hasan lahir. Ngurus Hasan cuma main-main, mengurus hajat sama menyusui. Nanti harus ditambah mempersiapkan dan memberi makanan. Kalau dulu mau berpergian tinggal bawa saja anaknya, kalau sekarang harus berfikir kapan dan sampai kapan di perjalanan.

Tidak ada komentar
"Sendirian aja net? Mana suaminya?"
Pertanyaan yang sama sering dilontarkan jika saya pergi bertemu teman atau kumpul keluarga. Awal-awalnya setiap saya mendapat pertanyaan serupa aneh rasanya. Lama kelamaan semua berubah menjadi biasa saja. Pertanyaan ini tidak hanya dilontarkan setelah Hasan lahir, tetapi sejak saya belum hamil pun. Sempat sering terlintas di benak pikiran apa yang teman-teman atau keluarga judge jika melihat saya (sekarang saya dan Hasan)datang ke acara keluarga atau acara kumpul teman.

2 komentar
Carseat bukanlah barang yang populer di Indonesia. Kehadirannya di masyarakat setidaknya masih jauh dibawah stroller. Berbeda hal dengan di Amerika dan Eropa. Carseat disana posisinya sangat penting. Bahkan semenjak keluar dari rumah sakit apabila memakai mobil pribadi wajib menggunakan Carseat.



"Di Amerika, kalau bawa bayi ga pakai carseat dinilai sebagai child abusive. Bisa ditangkap." Ungkap mertua.
Yep, karena kebanyakan di luar negeri mengenai penggunaan carseat ini sudah ditelurkan dalam bentuk undang-undang. Undang-undang yang mana jika dilanggar akan mendapat sanksi yang keras. Tidak hanya konsumen, produsen carseat pun dituntut secara ketat akan produknya agar memenuhi bahkan melewati prasyarat dan kondisi keamanan yang sudah ditetapkan oleh pemerintah. Atau bahasa lainnya harus melewati tahap crash test berkali-kali.

The law requires all children travelling in the front or rear seat or any car, van or goods vehicle must use the correct child car seat until they are either 135 cm in height or 12 years old (which ever they reach first). After this they must use an adult seat belt. There are very few exceptions. It's the driver's responsibility to ensure that children under the age of 14 years are restrained correctly in accordance with the law. - The Royal Society for the Prevention of Accident (Inggris)
NHTSA to initiate rulemaking on child restraint system safety, with a specific focus on booster seats and restraints for children who weigh more than 50 pounds. - National Highway Traffic Safety Administration (Amerika) 
Child restraint systems are the most effective way to protect young children involved in motor vehicle crashes - National Highway Traffic Safety Administration
Peraturan-peraturan ini dimulai dari gaya hidup masyarakatnya sendiri. Sebagian besar, masyarakat disana kalau tidak kaya-kaya banget melakukan semuanya serba sendiri. ART disana mahal bok. Yang pakai baby sitter kalau tidak penting-penting amat juga sedikit. Keterlibatan orang tua hanya kalau sedang ada. Karena keadaan seperti itu, mereka apa-apa kemana-mana harus sendiri jika tidak ada suami. Mau belanja, mau jalan-jalan, mau jogging, dan sebagainya. Karena segalam macam harus sendiri, muncullah berbagai macam insidensi.

Motor vehicle accidents are a leading cause of death in children ages 1-18. One in 3 children who die in a motor vehicle collision are unrestrained. - American Academy of Pediatrics
Yak, muncul banyak insiden kecelakaan-kecelakaan. Melihat ini, pemerintah tidak tinggal diam. Mereka merancang suatu aturan yang ketat mengenai berkendaraan bersama anak. Para produsen baby gear juga berlomba-lomba menciptakan gear yang memenuhi kualifikasi. Muncullah produk-produk carseat dengan rentang berbagai harga dan model yang memenuhi kebutuhan. Peraturan-peraturan itu diperbaharui secara berkala. Prasyarat makin ketat. Produk-produk baby gear juga ikut diperbaharui. Makanya ada bunyi salah satu peraturan kalau umur carseat yang dipakai seharusnya kurang lebih 5 tahun saja. Carseat yang lulus kualifikasi bisa dilihat di link ini. Tentunya karena saya ambil di link Amerika, maka yang dinilai cuma carseat yang beredar disana saja. Untuk yang tidak ada bisa dilihat di link negera-negara yang memasarkannya.

yeay,, carseat yang dipakai Hasan masuk kategori!


Adanya tindakan preventif ini ternyata membuahkan hasil. Resiko kematian dan keseriusan cacat pada kecelakaan bermotor bisa dikurangi.

In children younger than 1 year, using car seat decreases mortality by 71%. When compared to only using a seatbelt, car seats reduce the risk of injury by 54% in children 1-4 years old, and in children 4-8 years old, booster seats reduce the risk by 45%. In older children and adults, the use of seat belts decreases the risk for death and serious injury by about 50%. - American Academic of Pediatric

Mengapa Carseat tidak Populer di Indonesia?

Perbedaan kultur pengasuhan anak dalam bertransportasi menjadi jawaban yang paling dasar dari pertanyaan ini. Terlepas dari adanya peraturan di luar sana. Di sini, punya ART dan baby sitter adalah hal yang biasa. Jika hendak ke suatu tempat dengan cara berkendara pribadi, ART atau baby sitter ikut turut serta. Adanya orang ketiga ini menyebabkan adanya keputusan bahwa ART atau baby sitter yang akan menggendong anak selama dalam kendaraan. Tidak hanya itu, hubungan sebuah keluarga dengan orang tuanya juga (alhamdulillah) masih sangat dekat disini. Orang tua juga kerap kali menjadi orang ketiga yang berperan menggendong bayi dalam kendaraan.



Bagaimana dengan resiko kematian dan cacat permanen kecelakaan kendaraan bermotor di Indonesia?

Sejauh ini (atau saya saja yang tidak tahu) saya belum menemukan penelitian di website. Malaysia, negara tetangga yang kulturnya tidak jauh dengan kita sudah mulai ada wacana untuk menggalakkan peraturan pentingnya carseat

The first week of May has been horrific for children dying on the road in ASEAN countries, with multiple fatalities due to car crashes in Malaysia alone. The Malaysian Consumers Association is urging the government to make child car seats compulsory for babies and children in cars. - thesafetyeducator.com

Saya baru menemukan data statistik rata-rata kecelakaan di Indonesia dari Global status report on road safety 2013 milik WHO.

Sumber: WHO

Dan wow, ternyata tingkat kecelakaan di Indonesia per 100.000 penduduk tergolong cukup besar, 17.7. Peringkat 5 dalam ASEAN dan masih dibawah rata-rata tingkat kecelakaan di ASEAN. Tapi jika dibandingkan dengan negara-negara di Erop yang hanya berkisar 3.7, 6.4 dan 11.4, jumlah ini cukup signifikan.

Alasan Saya Pakai Carseat


1. Disuruh mertua dan ortu

Hahahahahaha. Jujur, sebelumnya memang ga kepikiran sama sekali. Baru pas hamil kepikiran karena cerita ortu dan mertua. Mertua ngelahirin 2 anaknya di Amerika jadi merasa wajib pakai carseat karena peraturan disana dan manfaatnya terasa. Sementara ortu, saya dan abang dulu tidak pakai carseat. Ortu pernah mendengar cerita temannya yang anaknya merosot ke bawah jok setelah ortunya rem mendadak. Si anak tampak tidak kenapa-kenapa secara fisik. Namun setelah anak tersebut remaja, berkali-kali sang anak harus terapi ke Australia karena ada gangguan tumbuh kembangnya. Sejak saat itu, saya dituntut untuk punya carseat juga.

2. Gaya Hidup

Berhubung saya penganut paham kebebasan.... kebebasan berkendara kesana kesini sendiri maksudnya hahaha, maka saya merasa carseat ini penting sekali. Suami adalah seorang residen yang kesibukannya luar biasa bahkan jam tidurnya lebih sedikit dibanding saya yang mengurus anak. Sementara saya hobi menyetir dan kesana kemari. Baik kerumah ortu/mertua, belanja, melakukan hal ga jelas ataupun ketemu teman. Sebenarnya di apartemen ada mbak yang kerja. Cuma saya membatasi dia ga boleh gendong anak. Kalau cuma mengajak Hasan becanda sih gapapa. Ketemu teman bawa ART bagi saya cukup rempong sih, meski harus ditebus kadang-kadang Hasan gelisah rewel dan harus tetap tenang dalam menyetir sekalipun dalam kemacetan. Dan alhamdulillah Hasan tipe anak tenang di carseat.

3. Kelelahan

Suatu hal yang pasti, memegang anak meski duduk dalam kurun waktu yang lama pasti menimbulkan kelelahan. Apalagi jika sang bayi berbobot besar. Karena itu, bagi yang suka keluar kota Carseat itu penting sebagai tempat duduk sang anak. Kalau tidak ada carseat, masa harus dipegang terus? Kan capek. Tidak cuma keluar kota, Jakarta yang notabene macet membuat waktu tempuh sejam adalah waktu tempuh normal. Sejam menimang bayi? Capek loh. Selain itu, kalau menggendong bayi kita tidak boleh tertidur di jalan. Haram hukumnya tidur. Dengan tidur kita kehilangan kontrol otot dan kesadaran dalam menggendong bayi. Bayi akan mudah jatuh dan merosot. Selain itu, kita akan kehilangan keawasan. Kita tidak tahu kapan pengemudi rem mendadak atau menikung. Kita tidak tahu kapan harus menggendong bayi dengan lebih erat. Dengan adanya carseat, bayi dapat diletakkan di kursinya dan lebih aman apabila kita hendak tidur.

4. Keamanan

Loh kok keamanan malah menjadi faktor terakhir? Oke saya revisi semuanya. Keamanan menjadi 1 alasan yang melingkupi semua. Namun disini kenapa saya menempatkan di posisi terakhir, yah karena saya tidak ingin membayangkan apalagi kejadian kecelakaan bermotor. Nauzubillah mindzalik. Jadi menempatkan bayi di carseat adalah salah satu ikhtiar saya dalam menjaga bayi saya jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.


Sebenarnya banyak hal lagi yang ingin saya jabarkan. Semisal cara memilih carseat, pertimbangan memilih carseat dan cara memasang carseat yang benar. Yah, mungkin di lain kesempatan yak!

Hasan melotot di carseat usia 2 bulan

Tidak ada komentar
*disclaimer: Tulisan ini semata IMSO (In my Sotoy Opinion). Menerima masukan selebar-lebarnya terutama dari Ford user.



Dalam pekan terakhir ini, kita dikagetkan oleh berita pernyataan resmi akan hengkangnya Ford dari Indonesia. Kalau Chevrolet hanya menutup pabriknya di Bekasi, Ford menutup dealership, serta menghentikan penjualan dan impor resmi. Hal ini disinyalir karena market share Ford di Indonesia menurun. Tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di Jepang. Penutupan di Jepang diakibatkan kalah bersaing dengan produsen mobil lokal seperti Toyota, Honda dan Nisan serta berkurangnya kebutuhan mobil oleh masyarakat Jepang. Penutupan di Indonesia juga karena Ford tidak memiliki pabrik produksi seperti merk mobil lainnya.
Tidak ada komentar
Ada 2 hal yang ingin saya alami sampai detik ini. Entah kapan pun itu terwujud. Sesuatu yang diinginkan tetapi tidak obsesif untuk didapatkan. Hanya bergantung pada jalur takdir, qadha dan qadhar dari Allah. Yang pertama adalah melanjutkan studi doktoral ke luar negeri. Yang kedua adalah tinggal di luar negeri bersama suami dan anak-(anak). 2 hal ini saling bertautan tetapi tetap memiliki sifat independensi dan bisa saja tidak bergantungan. Jadi, mari saya bahas dua-duanya menjadi satu pokok tulisan. Dua menjadi satu.

Tidak ada komentar
Sejak Hasan lahir hingga hari ini hingga berusia 5 bulan, saya masih berstatus menjabat stay-at-home mom. But I was a "santai" working woman. Kalau ditanya pengen kerja ga dalam waktu dekat ini sih, jawabannya enggak. Nanti ga bisa bikin kurikulum bayi lagi. Hahaha. Tapi kadang-kadang sering berandai-andai, kalau saya kerja, anak bagaimana?

Tidak ada komentar
"Umurnya berapa bulan? Wah hebatnya tenang, ga nangis sama sekali"

2 komentar
Memasuki usia sekarang ini, setiap saya membuka FB kebanyakan adalah newsfeed yang isinya hanya berkisar kepada kategori pernikahan, anak, dan kerja. Yah,, ternyata saya sudah tua juga ya. Topik yang akan saya soroti pada tulisan kali ini adalah tentang anak. Tidak, bukan hanya anak, tetapi satu kesatuan yang lain, yaitu motherhood.

Tidak ada komentar
Saat sedang membuka-buka newsfeed Facebook, seorang teman SMA saya mengepos mengenai perkembangan tidur normal batita. Website tersebut adalah keluaran IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia). Artinya, rujukan tersebut bisa dinilai "sahih" keresmiannya. Jika saya harus meringkas, berikut beberapa hal yang saya dapatkan.

Tidur memegang peranan penting dalam proses tumbuh kembang anak. Dalam tidur terjadi banyak aktivasi sel otak yang berperan besar dalam perkembangan kematangan otak pada tahun-tahun pertama kehidupan. Tidur juga memiliki sifat restoratif yang terkait dengan pemeliharaan daya tahan tubuh dan pertumbuhan fisik, menghilangkan kelelahan, serta memperbaiki fokus dan konsentrasi.

Tidak ada komentar

"Bayi A masa katanya sudah tumbuh gigi tidak lama setelah lahir."
"Bayi saya. B baru tumbuh gigi pertama setelah 1 tahun 3 bulan. Lucu deh jalan dulu baru tumbuh gigi." 
Tidak ada komentar
Dalam membeli suatu barang melalui dunia maya, kepercayaan terhadap lawan jual beli adalah hal nomor satu. Baik pembayaran dengan cara COD ataupun bertemu langsung. Disini saya akan sedikit bercerita mengenai transaksi jual beli dengan rekan sesama kampus ITB. Baik yang masih mahasiswa atau sudah alumni. Entah kenapa, label mahasiswa/alumni ITB sudah punya nilai kepercayaan sendiri yang berbuah kenyamanan dalam bertransaksi. Entahlah, mungkin karena sama-sama dari ITB, jika terjadi hal yang tidak diinginkan misalnya barang mengecewakan atau penipuan, sang lawan transaksi dengan mudah dilacak. Entah melalui mutual friend ataupun dari NIM. Dan alhamdulillah, sejauh ini bertransi dengan anak ITB aman-aman saja. Lawan transaksi saya biasanya saya temukan di grup FB Forum Jual Beli (FJB) ITB, ITBMotherhood, ataupun rekan ITB lainnya yang bukan merupakan dari dua grup itu. Berikut beberapa testimonial saya mengenai kenyamanan berbelanja dengan rekan-rekan ITB.

4 komentar
I can't live without music
Setidaknya itulah slogan yang santer digaung-gaungkan oleh media massa atau berbagai orang di social media.

Tapi benarkah begitu?

Tidak ada komentar
Sewaktu masih hamil hasan trimester kedua, saya udah mulai rajin buka tutup review stroller di pelbagai website. Banyak faktor yang dibutuhkan untuk memilih stroller yang pas. Pertimbangan saya dalam memilih stroller dapat dilihat di artikel saya sebelumnya mengenai kriteria stroller disini. Melihat segala kriteria saya dan budget yang dimiliki, muncul beberapa shortlisted. Namun, ternyata alhamdulillah Hasan mendapat kado stroller dari Datuk Aya. Berhubung dikadoin, saya mah pasrah apa aja. Apalagi lebih mahal dari budget kita hehe. Stroller yang dikasih Aprica Karoon. Seperti ini penampakannya.

Penampakan Aprica Karoon