Tampilkan postingan dengan label travelling. Tampilkan semua postingan

Setengah Hari Jalan-Jalan di Kudus, Bisa Ngapain Aja?

23 komentar
Setengah hari di Kudus bisa dapat banyak banget! 

“Aku diajakin operasi ke Kudus, wiken nanti, mau ikut ga?” 

 


Oh tentu, ajakan impulsif berkedok operasi akhir pekan  tidak akan saya lewatkan. Memang sebelumnya sudah berpesan ke suami untuk ikut turut serta kalau dia diajak operasi/acara rentang area Jawa, Palembang, dan Pontianak. Alhamdulillah sudah pernah ke Palembang dan Pontianak. 

Kami memutuskan melakukan perjalanan naik mobil demi kefleksibelan. Berangkat Jumat sore setengah 3, transit malamnya di Semarang dan menginap, kemudian melanjutkan perjalanan ke Kudus setelah Subuh.

Rencananya sih di Kudus kami menginap semalam di rumah teman suami dan kembali ke Jakarta di hari minggu. Loh harusnya 2 hari 1 malam di Kudus judul blognya, kok malah setengah hari di Kudus? 
Jawabannya ada di blog ini! 

Ternyata (hampir) cukup setengah hari jalan-jalan di Kudus 


Berhubung suami seharian bakal operasi di salah satu Rumah Sakit di Kudus, otomatis saya bakal sendiri jalan-jalan di Kudus. Ini juga salah satu alasan kami kenapa lebih memilih membawa mobil sendiri ketimbang naik kereta api/travel ke Kudus. Setelah menaruh barang bawaan dan berbincang-bincang dengan tuan rumah, suami berangkat operasi bersama sang tuan rumah (temannya), menandakan saya pun berangkat bawa mobil sendiri jalan-jalan di Kudus. 

Bisa kemana saja setengah hari jalan-jalan di Kudus?

1. Ngopi di No. 8 Coffee 


Sebagai pengopi, tentu yang dicari adalah rekomendasi kafe di Kudus. Mencari rekomendasi kafe agak tricky karena jaman sekarang diksi dari kafe adalah restoran estetik. Padahal Kafe berasal dari bahasa Prancis, Café, yang artinya kopi. Butuh usaha untuk menyisihkan kafe estetik itu karena kebanyakan kopinya, mohon maaf,, 🥲. 

Akhirnya ketemu No. 8 Coffee yang merupakan pelopor coffee shop di Kudus. Tentu saja, kafe Kudus ini menggarap kopi dengan serius, malah menu utama yang disajikan adalah kopi dengan aneka bijihnya. Cemilan pendamping juga tersedia namun tidak banyak. 

Kafe ini menyabet beberapa penghargaan seperti 4th Place Indonesia Cup Toasters Championship. Baristanya, Imam Kurniawan. Juga termasuk peserta manual brewing class dan cupping class di Surabaya Coffee Festival 2015. 

Kedai kopi di Kudus ini cukup terspesialisasi, terlihat dari pilihan penyajian kopi yang tidak terlalu banyak dengan filter coffee sebagai andalannya. Nikmatnya ngafe di kota kecil, kopi berrkualitas dengan harga yang murah. Hanya dengan membayar Rp 20.000 kita sudah bisa meneguk segelas filter coffee. 

Tentu saya memesan flter coffee di No. 8 Coffee. Barista menawarkan saya mau menggunakan bijih apa. Tidak hanya menanyakan, tapi juga menjelaskan profil kopi dari ketiga bijih kopi yang ditawarkan. Karena saya ingin minum kopi filter dingin, ia pun menyarankan bijih kopi Weninggalih. Sepakat! 

Namanya juga kopi penyajian manual, sudah pasti tidak akan seinstan penhyajian kopi berbasis espresso. Saya tidak bosan menunggu, apalagi sambil duduk dimeja depan jendela muka sambil menyaksikan kendaraan lalu lalang di depan Jl. Menur, Kudus. 


No. 8 Coffee tidak luas, tapi cukup homey, mengingatkan kita perasaan bertamu ke rumah saudara kemudian disajikan kopi enak. Banyak terdapat peralatan vintage di berbagai sudut kafe, salah satunya alat pemutar piringan hitam. 

Tidak terasa, mas barista pun datang sambil membawa segelas kopi dingin. Bagaikan menenggak cairan selai nanas dengan after taste yang ringan. Saya suka sekali filter coffee yang disediakan oleh No. 8 Coffee. Sebelum meninggalkan kedai kopi, tidak komplit jika tidak sekaligus membeli bijih kopi, mengingat No. 8 Coffee juga tempat roaster. Saya memilih bijih kopi Menur yang memiliki profil chocolaty. Saya sangat puas menyeduh biji kopi ini dengan metode coffee drip di rumah. 

2. Sarapan Lentog di Sentra Lentog Tanjung 


Setelah memulai pagi dengan kopi, maka saatnya mencari sarapan. Sebenarnya saya dan suami sudah sarapan terlabih dahulu di rumah teman suami. Kami menyantap pindang kerbau dan soto kudus. Namun karena perut masih bisa diisi, sayang jika melewatkan salah satu kuliner khas kudus, Lentog. 

Namanya juga Sentra Lentog, praktis disini berkumpul banyak warung Lentog. Tinggal pilih saja secara random, insya allah enak semua. Salah satu yang terkenal adalah Lentog Tanjung Pak Mitro. Awalnya saya sudah mau ke sana, tapi melihat pemilik warung tampak belum siap, saya lebih memilih mendatangi Lentog Bu Sulasih. Sepi, tidak ada orang. Kayaknya asik nih sambil berbincang sekaligus mengalirkan sedikit rezeki. 

Lentog panas pun dihidangkan. Makan khas Kudus ini merupakan campuran lontong sayur lodeh, jadi sudah pasti kuahnya berwarna putih. Lentog yang dihidangkan di depan saya tidak otomatis disediakan beserta sate telor puyuh, tapi bisa ambil berbagai sate di meja hidang. Aslinya, Lentog terdiri dari tahu, tempe, sayur gori (nangka), dan santan. 

”Bu, apa beda lentog dan opor ya?” Tanya saya. 
”Lentog pakai kencur, kalau opor tidak.” Jawab Ibu penjual 

Sembari bercakap-cakap, tidak terasa, sepiring lentog hangan pun tandas berpindah ke perut saya. 

“Berapa bu?” Sembari saya mengeluarkan dompet. 
”10 ribu saja mba!” 
Ya ampun murah sekali ya 🥲. 

3. Cari drama pengusaha rokok di Museum Kretek 


Berjarak tidak sampai 2 km dari Sentra Lentog Tanjung, berdiri Museum Kretek di lahan yang sangat luas dengan harga tiket yang sangat murah. Hanya Rp 5.000!

Jika kamu merasa drama Jeng Yah, karakter Gadis Kretek karya Ratih Kumala, terlalu surealis, kamu harus tahu bahwa drama seperti itu tidak jauh beda dengan drama pengusaha kretek di kehidupan nyata. 

Lahirnya kretek di Kudus tidak dapat dipisahkan dari kehidupan H. Jamhari. Asal muasal kretek ini juga cukup konyol. Bermula dari H. Jamhari yang mengeluh sakit di dada dan tidak kunjung membaik. Iya pun mengoleskan minyak cengkeh di bagian dada dan pundak. Mengejutkan, sakit dadanya terasa membaik. Ia pun mencoba mengunyah cengkeh dan hasilnya lebih baik lagi. Ide yang terlintas di kepala H. Jamhari pun semakin menjadi-jadi. Ia merajang halus cengkeh dan dicampur dengan tembakau serta berbagai rempah lainnya. Setelah itu, dibungkus dengan klobot (daun jagung kering) dan diikat dengan benang. Ia menghirup bungkusan itu dan merasa sesak di dadanya pun sembuh. 

Well, let’s set aside, H. Jamhari and his pseudoscience. Intinya metode H. Jamhari ini dikenal luas dan dikenal dengan metode rokok obat. Nama rokok kretek itu muncul dari bunyi “kretek-kretek” yang muncul pada saat campuran tembakau-cengkeh dibakar. 


Jika H. Jamhari memulai kegilaan pseudoscience rokok obat, maka Nitisemito muncul sebagai pengusaha Kretek terkaya di jamannya, dengan nama kretek “Bal Tiga”. Kalau kamu merasa superior melakukan pemasaran dengan pasang iklan elektronik di New York Square? Jangan sombong dulu, nih Nitisemito ngiklan dengan cara sebar brosur pakai pesawat Fokker. Iya, PESAWAT 😂. 

Pengusaha rokok memang bisa setajir itu. Lihat saja komplek kantor-pabrik rokok terbesar di Indonesia yang terletak di Kota Kudus, jangan iri ya kalau kompleknya lebih bagus dari komplek perumahan kamu, hehe. Beberapa tahun lalu juga salah satu pengusaha rokok terbesar kedua di Kota Kudus baru menikahkan anaknya. Acara dirayakan di rumahnya yang luas lahannya SAMPAI ADA LAPANGAN GOLF PRIBADI. Penasaran dimana? Pokoknya di kaki Gunung Muria, kayak Puncak-nya Kota Jakarta.

Meski sangat sukses dan pernah jadi salah satu orang terkaya di Indonesia, Kretek Bal Tiga perlahan meredup sampai hilang sama sekali karena konflik internal, perang dunia, dan pendudukan Jepang. Mirip kan ceritanya kayak Kretek Gadis milik Jeng Yah yang sangat tenar kemudian hilang sama sekali karena kejadian G30SPKI. 

Selain cerita Nitisemito, kita bisa melihat berbagai macam peralatan membuat rokok kretek serta rupa botol saus tembakau. Dipajang juga berbagai kotak mulai dari rokok kretek hingga rokok modern.

4. Makan siang di Pindang Kerbau Haji Sulichan 


Kalau jalan-jalan di Kudus, jangan sampai lewatkan menyantap pindang kerbau deh, karena memang masakan khas-nya! Terutama Pindang Kerbau H. Sulichan. Lokasinya di tengah kota banget, benar-benar di samping simpang tujuh Kudus yang ikonik itu. 

Menempati ruko sederhana berwarna hijau, pindang kerbau H. Sulichan seolah-olah tidak pernah sepi dari pengunjung, padahal saya datang sudah lewat jam makan siang dan tetap sepi. Dengan Rp 20.000 saja, saya sudah bisa menyantap pindang kerbau tanpa nasi. Rasanya? Pokoknya unik deh. Segar dengan sentuhan santan dan hint asam yang pas. Ada sedikit rasa pahit yang malah meningkatkan kekompleksan cita rasa. Rasa pahit ini berasal dari daun melinjo. 


Nah, yang menarik dari Pindang Kerbau H. Sulichan ini adalah mereka menggunakan kecap yang tidak akan kamu temui dimana pun! Konon katanya, mereka menggunakan kecap yang dibuat oleh tetangganya. Tidak cuma itu, kecap tetangga ini juga bukan seperti yang dijual ke pelanggan lain, tapi sudah diracik khusus sehingga lebih cocok untuk masakan pindang kerbau. 

5. Beli oleh-oleh dan cari tahu sejarah kota Kudus di Museum Jenang Kudus 


Jalan-jalan di Kudus tidak lengkap kalau tidak beli Jenang Kudus sebagai oleh-oleh, atau setidaknya buat konsumsi sendiri. Bagi yang tidak tahu, Jenang Kudus mirip dengan Dodol Garut baik dari bentuk dan rasa. Jenang Kudus lebih tidak manis ketimbang Dodol Garut menurut saya. Nah, rasa “original”-nya itu uniknya malah rasa mocca. Rasa lain favorit saya yang kombinasi, yakni durian-nangka-mocca yang sepertinya menjadi best seller juga. 

Selain menjual Jenang, ada museum yang terletak di lantai atasnya. Hanya dengan tiket masuk Rp 10.000, Kamu bisa mengetahui sejarah Jenang Kudus mulai dari awal hingga sekarang yang sudah dalam manajemen generasi keempat. Selain sejarah merek Jenang Kudus, kamu juga bisa belajar sejarah Kota Kudus.
 
Pernah terpikirkan kenapa Kota Kudus terkenal dengan industri rokoknya? Atau kenyataan bahwa kenapa Kudus sebagai Kota Santri juga sebagai Kota Pengusaha? 


Nah, tak lain dan tak bukan karena slogan GUSJIGANG. Bagus menunjukkan bahwa rakyat Kota Kudus harus memiliki tata krama dan nilai-nilai kehidupan yang bagus. Ngaji menunjukkan bahwa masyarakat Kota Kudus adalah penuntut ilmu agama dimana nilai-nilai agama tidak lepas dari sendi kehidupan. Dagang berarti bahwa warga Kota Kudus wajib mandiri dan ikut serta menggerakkan roda perekonomian daerah, salah satunya ya dengan cara berdagang. 

Tak heran kan kenapa pemilik Pabrik Rokok dan Jenang Kudus merupakan santri? Yah meskipun sebenarnya dalam Islam rokok itu memegang nilai minimal makruh (kalau tidak mau disebut haram). 

Selain tentang sejarah Kota Kudus, juga ada sekelebat sejarah pengusaha raksasa rokok jaman dahulu yang bernama Nitisemito. Ada juga Museum Al Quran dimana kita bisa melihat berbagai “kertas” penulisan Al-Quran yang mulai dari kulit hewan, kain, hingga sekarang di kertas dengan berbagai macam rupa. Museum Jenang Kudus juga menampilkan karya anak Kudus berupa kaligrafi yang sudah memenangkan perlombaan baik skala regional, lokal, hingga internasional. 

Kudus, Kota selewatan yang kerap terlewat 

Kudus terkenal dengan Kota Santri karena sejarahnya yang erat dengan asal Sunan Kudus dan Sunan Muria (Gunung Muria, terletak di utara Kota Kudus). Selain sebagai kota sejarah, Kudus juga merupakan Kota dengan segudang kuliner lokal yang lezat seperti Pindang Kerbau yang menjadi favorit saya. Ada kuliner lain seperti Garang Asem Kudus yang terkenal, sayang tidak sampai kami jajal karena kami harus pulang mendadak akibat si tengah yang dirawat di Rumah Sakit karena Radang Paru.

Mendadak sekali, benar-benar di paginya mendapat laporan si tengah sesak napas, padahal Video Call malam sebelumnya tampak ceria. Pun, tidak ada gejala batuk-pilek seperti si bungsu. Qadarullah, memang sudah jalan Allah. Alhamdulillah ‘ala kulli hal.

Jika memiliki waktu yang agak lowong, daerah wisata kaki bukit Gunung Muria juga wajib kamu jajal karena menawarkan wisata alam dan pemandangan yang menarik. 


Yuk, eksplor Kota Kudus! 

5 Rekomendasi Tempat Wisata Pangandaran yang Underrated Bagi Keluarga

10 komentar
“Masih pulang besok kan? Yuk besok dari jam 3 kita berangkat ke Pangandaran, bagus-bagus disana. Sekalian beli ikan, murah-murah dan segar disana!” Ajak tante (rahimahullah) impulsif, beberapa bulan/tahun lalu.

 


Masih segar terpatri di ingatan, tante yang sering secara impulsif mengajak kami ke Pangandaran setiap kami menginap di rumah Bandung. Apakah saya pernah ke Pangandaran? Lupa-lupa ingat. Rasanya pernah tapi lupa gimana rasanya. Mungkin pas masih kecil ya.

Semakin sering disinggung Pangandaran, semakin penasaran buat merencanakan liburan ke Pangandaran. Yah, meski agak kurang realistis karena jarak ke Pangandaran dari Jakarta cukup jauh, 8 jam lebih!

Orang Bandung biasanya doyan mencari hiburan pantai di Pangandaran. Ternyata di Pangandaran tidak sekedar pantai, tapi berbagai wisata alam yang indah. Memang ada apa aja sih di Pangandaran?

Rekomendasi Tempat Wisata Pangandaran

Di Pangandaran tidak sekedar wisata pantai, tapi juga cagar alam, ngarai, sungai. Wah komplit ya. Sini aku bocorin beberapa tempat wisata Pangandaran yang bikin kamu merasa tidak cukup cuma menginap hanya 2 malam saja.

1. Pantai Madasari


Tidak tahu apa-apa soal Pangandaran, Pantai Madasari adalah rekomendasi tempat wisata Pangandaran pertama yang saya incar. Sesimpel karena penginapan yang saya incar ada di area sana sih, hehe. Terletak di sudut timur menghadap teluk Pangandaran. Pantai Madasari memiliki pasir berwarna hitam. Karena belum banyak terjamah, jadi pantai ini masih terasala asri dan alami. Akses jalanan menuju ke Pantai Madasari juga belum terlalu bagus.

Pantai ini memberikan pemandangan pulau-pulau yang terhampar padu di kejauhan. Batu Karangnya unik dan pantainya landai sehingga cocok untuk main pasir di pantai. Tapi pantai ini agak bahaya untuk main ombak mengingat reputasi pantai selatan dengan ombak cukup kencang. Kamu juga bisa berkemah dan melakukan kegiatan outbound di sini sambil menikmati suara deburan ombak dan memburu matahari terbit.

2. Green Canyon


Tidak jauh dari Pantai Madasari, terdapat objek wisata Green Canyon. Rekomendasi tempat wisata Pangandaran ini cukup beken di kalangan teman-teman mahasiswa. Uniknya, Green Canyon ini dipopulerkan oleh Warga Prancis pada tahun 1993. Orang Sunda sendiri menyebutnya dengan Cukang Taneuh yang artinya jembatan tanah.

Merupakan plesetan dari Grand Canyon yang berada di Amerika, Green Canyon berbentuk ngarai yang terjadi akibat erosi tanah dari aliran Sungai Cijulang selama jutaan tahun lalu. Ngarai ini menembus gua dengan stalaktit dan stalakmit yang menawan.

Untuk mencapai Green Canyon, kita harus menyewa perahu kayuh dari dermaga Ciseureuh dan menempuh perjalanan 30-45 menit. Jangan khawatir, sudah banyak kok agen wisata yang menyediakan tur perjalanan Green Canyon dan dibanderol dengan harga sekitar Rp 200.000/sampan. Banyak kegiatan yang bisa dilakukan di Grand Canyon mulai dari main kayak, berenang, memancing, panjat tebing, atau cuma sekedar menikmati pemandangan alam saja.

3. Pantai Batu Karas


Pantai Batu Karas juga termasuk rekomendasi tempat wisata Pangandaran yang paling terkenal. Pantainya landai dan ombaknya tenang membuat pantai ini menjadi primadona turis karena nyaman dijadikan sebagai tempat mandi pantai. Belum lagi kita juga disuguhkan pemandangan yang indah dari pantai yang bersih dan batu hiu yang terlihat. Di sini selain berenang, kamu juga bisa berselancar dan berkemah.

Banyak penginapan di sekitar pantai Batu Karas, salah satunya pondok wisata yang dikelola langsung oleh Disparda Kabupaten Ciamis.

4. Citumang (Green Valley)


Ada Green Canyon, ada juga Green Valley.

Dikenal juga dengan Citumang, merupakan sungai yang mengalir membelah hutan jati dan goa dengan air yang jernih kebiruan. Di badan sungai terdapat batu-batu padas dengan relung yang dihiasi relief alam aliran sungai. Green Valley bisa dicapai dengan berjalan 300 meter dari pintu masuk.

Citumang sendiri berasal dari legenda tentang seekor buaya buntung, si Tumang yang berdasarkan kepercayaan masyarakat sekitar membuat nama sungai yang melintasinya bernama Citumang. 

5. Taman Wisata Alam (TWA) Pangandaran


Di tengah Kabupaten Pangandaran, ada ujung daratan yang lokasinya dijadikan TWA Pangandaran. Daerah kawasan konservasi wisata alam ini dikelola oleh Perum Perhutani. Disini banyak terdapat goa-goa dan kawasan karst yang masih alami serta flora dan fauna yang masih cukup banyak jenisnya. Salah satu jenis fauna yang banyak terdapat di TWA Pangandaran adalah jenis primata.

Terdapat Goa Cirengganis di taman wisata ini yang cukup terkenal dengan keindahan alamnya serta kepercayaan masyarakat lokal terhadap gua ini.

Menginap di Mana?

Wah, dari yang sebelumnya saya cuma pernah dengar soal Pantai Madasari dan Pantai Batukaras saja, ternyata ada banyak objek wisata alam di Pangandaran yang tersebar di penjuru Kabupaten Pangandaran. Kayaknya ke Pangandaran tidak cukup cuma menginap 1-2 malam di 1 penginapan, tapi idealnya bisa 4-5 malam biar bisa merasakan banyak objek wisata alam sekaligus. 

Ada banyak rekomendasi Hotel Murah di Pangandaran yang bisa kamu eksplor mulai dari Rp 85.000 semalam. Dengan hanya Rp 600 ribu, kamu bisa menghabiskan seminggu menginap di area Pangandaran.

Bagaimana? Menarik bukan?

5 Rekomendasi Restoran Halal Paris yang Wajib Kamu Ketahui

26 komentar
Sebagai kota terbesar di Prancis, mana saja rekomendasi restoran halal Paris?

restoran halal paris

Berhubung kami hanya menghabiskan waktu 3 hari 2 malam di Paris dari total 1 bulan di Prancis, mohon dimaafkan kalau hanya sedikit restoran halal Paris yang kami coba. Berhubung di Prancis sertifikasi halal belum jamak, banyak restoran yang mengklaim sendiri bahwa makanan yang dijual halal. Kalau kamu ingin mencari restoran halal di Paris yang lebih variatif dan lebih anti mainstream, kamu bisa baca tips mencari restoran halal Prancis yang sudah saya unggah sebelumnya.


Beberapa kriteria kritis dalam menentukan restoran halal adalah restoran tersebut menggunakan daging halal dan tidak menjual daging babi. Sayang sekali bagi kamu pecinta makanan Indonesia, saya tidak mencantumkan satu pun restoran Indonesia halal di Prancis karena berdasarkan penelusuran di Google Map, saya tidak menemukan keterangan penggunaan daging halal.

Tapi jangan khawatir, sebagai kota metropolitan, di Paris banyak restoran-restoran seru kok! Yuk langsung cek sana list di bawah!

Restoran Halal Prancis yang Sudah Kami Coba

restoran halal paris

Buat kamu yang mungkin baru pertama kali ke Perancis, ada beberapa hal yang harus kamu perhatikan saat ingin makan di restoran.

Yang pertama adalah perhatikan jam buka restoran. Mayoritas restoran di Perancis tidak buka sepanjang hari. Tidak buka setiap hari juga TERUTAMA MINGGU. Jadi kamu wajib CEK GOOGLE MAP. Pastikan jadwal buka sesuai dengan rencana kunjunganmu.


Yang kedua adalah lakukan reservasi. Booking restoran di Perancis adalah KEHARUSAN. Di Perancis, restoran biasanya ukurannya kecil-kecil. Memang tidak semua restoran harus reservasi, tapi lebih baik lakukan reservasi dibandingkan manyun ditolak di depan pintu restoran. Apalagi restoran yang beken, wah itu bisa waiting list panjang hehe. Siapin mental juga kalau reservasi kamu ditolak.

Makanya aku bikin rekomendasi restoran halal Paris supaya kamu tidak bingung cari alternatif ke mana kalau reservasi ditolak 😜. Untuk restoran yang lebih ke comfort food alias warteg sih tidak perlu dilakukan reservasi.

Bikin reservasi gampang kok, bisa telepon, direct web, atau third party seperti aplikasi Deliveroo atau The Fork. Berhubung Bahasa Inggris orang Perancis agak diragukan, pasti kamu juga menghindari booking via telepon kan. Makanya bikin reservasi via direct web sangat dianjurkan.

Apa saja rekomendasi restoran halal di Paris?

1. Le Jumeyrah

restoran halal paris

Sudah di Prancis, rugi tidak mencoba Restoran Perancis HALAL. Ya karena tidak lain dan tidak bukan, hampir tidak ada restoran restoran Perancis Halal di Indonesia. Setau saya baru Cafe d’aurelie di Bintaro saja. Meski di Lyon kami sudah cukup banyak mencoba restoran Perancis halal, tetap sayang melewatkan makan makanan Perancis halal di Paris.

Pilihan pertama jatuh di Le Jumeyrah yang merupakan restoran yang mengusung masakan French-Mediteran. Berhubung sore itu hujan deras membasahi kota Paris dan lokasinya yang cukup dekat dengan penginapan, kami pergi menggunakan Grab XL karena kami berjumlah 6 orang. Perlu diingat, peraturan lalu lintas Perancis cukup ketat ya, jadi kalau rombongan kamu berjumlah lebih dari 3 orang, pesan Grab family/XL! Kalau kamu nekat ujung-ujungnya ditolak oleh supir Grab.

Le Jumeyrah berlokasi di pinggir jalan Rue-Saint Maur yang ber-elevasi. Layaknya restoran Perancis lainnya, restoran ini tidak luas. Nuansanya kalem dengan interior warna gelap. Entah kenapa saya jadi merasa agak remang-remang haha.

Kita mulai dengan makanan pembuka, kami memesan Toast with Foie Gras dan Beef Carpaccio. Kalau kamu sudah di Perancis, rugi tidak pesan Foie Gras. Kayak, mau cari dimana di Indonesia Foie Gras halal??? Nah Foie Gras itu standarnya disajikan setengah dingin dengan roti panggang dan selai buah tin. Sisanya bebas, tergantung kreasi chef restoran. Di Le Jumeirah pakai roti rye panggang dan plating biji delima dan saus honey soy. Kebayang tidak, jadi rasa “telur asin-nutty” Foie gras setengah dingin bercampur dengan rasa manis selai, dipadukan dengan hangatnya roti panggang dan dilengkapi dengan rasa crunchy asam delima dan diberi sensasi asin soy sauce. Duh, benar-benar kedalaman cita rasa yang komplit 😰.

Foie gras le jumeyra

Kami pesan Beef Carpaccio karena penasaran dan belum pernah pesan di restoran-restoran lain. Standar sih persaladan dedaunan, dipadu dengan parmesan kasar, tomat cherry, dan diberi nuansa protein dari beef slice. Tidak lupa dibalut dengan rasa asam balsamic vinegar.

Beef carpaccio le jumeyra

Untuk menu utama, kami pesan Duck breast (Canard confit), beef tenderloin, dan salmon steak. Kalau kamu ke Le Jumeyrah, WAJIB PESAN DUCK BREAST. Ada 2 alasan kenapa aku pesan duck breast. Yang pertama karena merasa dikecewakan oleh duck breast L’authentique, Lyon. Yang kedua, karena karbohidrat pendampingnya alih-alih mashed potato, malah dapat puree ubi oren!! Sebagai budak ubi, yha jelas aku terjual. Ini dada bebek yang dimasak lambat jadi bisa super lembut. Dada bebek dengan saus manis asin dipadukan dengan rasa manis ubi oranye. Enak banget sih, fix ini duck confit terfavorit di seantero Prancis.

Duck breast le jumeyra

Untuk menu utama lainnya seperti steak salmon cenderung so-so. salmonnya tebal tapi tetap juicy dan lembut. Sudah beberapa kali pesan salmon steak, tidak ada yang failed. Padahal Salmon itu kalau kematangan tidak enak dan kalau terlalu mentah juga kurang sip. Salmon potongan tebal juga rentan luarnya kekeringan dan dalamnya semi mentah. Kayaknya chef di Perancis jago mengolah salmon. Sayangnya, pelengkapnya cuma berupa tumisan buncis-kentang-wortel yang terlalu kering dan kurang berkesan. Berbeda dengan Salmon steak di La Belle Colombe, Lyon, tumisan di resto ini berupa terong, kentang goreng, jamur kancing yang ditambah dengan saus wortel creamy yang pecah banget!

Salmon steak le jumeyra

Untuk beef tenderloin standar sih, daging lembut dipadu dengan saus gravy dan mashed potato. Setelah berkali-kali pesan daging sapi, entah kenapa masakan daging sapi ala Perancis tidak ada yang istimewa. Anak-anak pesan kids meal, standar sih, makan kering ala bule haha. Jadi burger ditemani dengan kentang goreng. Kentang goreng di Prancis masih ada kulit yang menyangkut ya, jadi jangan heran.

beef tenderloin le jumeyra

Karena kami belum makan macaron sama sekali setelah hampir sebulan di Perancis, akhirnya kami memesan macaron vanilla untuk hidangan penutup. Eh yang datang macaron besar banget yang di bagian dalamnya ada es krim vanilla dan strawberry. Sejujurnya kemanisan sih, but that’s macaron, ain’t it? Dilengkapi dengan selai strawberry juga di plating sehingga memberikan rasa asam untuk menetralisir rasa manis macaron.

macaron le jumeyra

2. Le Confidentiel

restoran halal paris

Meski sudah banyak restoran Perancis halal yang kami coba, Le Confidentiel ini bisa dibilang cukup unik. Kenapa? Bisa dibilang ini restoran yang menjual makanan Perancis yang disesuaikan untuk orang Asia.

Ehm, kok bisa?

Berlokasi di belakang Champs-Élysées, rasa-rasanya hampir tidak ada alasan orang Indonesia untuk tidak mengunjungi restoran Perancis halal ini. Yah, siapa sih turis yang tidak mampir ke Champs-Élysées kalau ke Paris, hehe.

Lokasinya benar-benar di ujung jalan. Confidentiel banget ga tuh? Restorannya relatif luas dibandingkan restoran Perancis lainnya. Nuansanya perpaduan hitam dan ungu. Di dalam banyak orang berwajah India makan.

Saat kami buka menu, baru akhirnya mengerti kenapa ini restoran Perancis sangat Asia. Restoran Prancis mana coba yang menyediakan karbohidrat pengantar berupa nasi. NASI, bukan kentang atau pun roti. Tidak hanya itu, saya menemukan banyak tulisan thaï, tom yum, bahkan ada gingembre (jahe), yang merupakan rempah khas Asia.

Untuk starter, kami pesan Carpaccio de Boeuf du Limousin. Iya Carpaccio lagi padahal kemarin baru pesan Carpaccio haha. Memang hobi daging potongan dingin sih ya. Penyajiannya relatif sama, cuma ditambah buah zaitun dan tomat ceri. Porsinya lebih besar dibandingkan Carpaccio di Le Jumeyrah.

Carpaccio le confidential

“Aku menunggu waktu yang tepat memesan Souris D’Agneau”, ujar suami.

Souris D’Agneau adalah kuliner khas perancis yang merupakan kaki kambing di masak lambat selama 5 jam sehingga menghasilkan daging yang super empuk. Tinggal di geser pakai sendok aja sudah potek itu daging. Bumbunya kayak bumbu stew gitu ya, jadi kaldu daging plus saus tomat serta bumbu pelengkap lain. Suami yang sudah berkali-kali besan Souris D’Agneau cukup puas dengan versi di Le Confidential.

Lamb shank le confidential

Nah aku pesan Wok de Filet de Boeuf. Aku kira apa, ternyata yang datang tumis daging wok ala Asia banget HAHA. Tidak cuma perkara tumis di wok, tapi bumbunya juga kayak tumisan masakan Thailand. Pakai saus tiram, kecap ikan, serta printilan-printilan “jorok” seperti potongan tomat dan paprika. Tidak ketinggalan hiasan serehnya. Pokoknya kalau merem kayak makan di resto Thailand deh. Sayang, menurutku agak keasinan kalau makannya udah kebanyakan. Oh ya, ini disajikan pakai nasi juga, jadi benar-benar Asia sekali.

Beef wok le confidential

Kita pesan pasta buat anak-anak perempuan. Linguine Poulet sauce Forestière. Intinya pasta linguine pakai ayam dan saus Forestière. Bagi yang belum tahu, Forèstiere itu saus khas Perancis, kayak Alfredo di Itali. Forestière ini saus yang dibuat dari kaldu dan crème fraîche, jadi bukan dari susu ya. Nah Crème fraiche ini bahan masakan khas Perancis. Rasanya tidak se-asam dan teksturnya tidak setebal yoghurt tapi lebih berat dari susu. Unik kan? Nah aku bikin resep saus forestière ini instagramku, cocok buat kamu yang sudah bosan masak pasta itu-itu saja.

Pasta le confidential

Pesan pasta saus forestière dengan harapan seenak seperti yang di restoran La Belle Colombe, Lyon. Sayangnya kami agak kecewa, Saus Forestière agak kering dan rasanya lebih dangkal. Parutan parmesannya agak lebih menghibur dari tekstur rasanya.

Nah untuk désert kita pesan Mi-Cuit au Chocolat au Cœur Coulant Noisette et Sa Creme l’Anglaise. Singkat kata, lava cake biasa kok haha. Ini lava cake yang bolunya pakai cokelat Valrhona, merek kebanggan Prancis. Isian lava cake ada ganache cokelat hazelnut. Nah di cup terpisah disediakan creme l’anglaise yang lebih menyerupai fla vanilla. Yummy banget ini, coklatnya meleleh di mulut. Meskipun double isian begini, kombinasinya tidak kemanisan.

Fondant cake le confidential

Oh ya, maaf ya kasih nama menunya Bahasa Prancis, ternyata ada menu Bahasa Inggrisnya yang baru saya temukan saat baru mau pulang, haha.

3. Le Oulala

restoran halal paris

Sebuah hidden gem restoran halal Paris!

Hidden gem baik dari masakannya hingga lokasinya yang kayaknya jarang dibagikan oleh traveller Indonesia di Paris. Heran kenapa restoran yang menjual makanan khas Italia ini kurang terkenal, padahal ini adalah restoran halal Paris pertama di Paris, sudah berdiri sejak tahun 2006!

Kami menemukan ini juga tidak sengaja. Setelah berkeliling Grand mosquée di siang hari, kami memutuskan untuk mencari makanan halal di sekitar masjid. Setelah patroli Google Map, kami menemukan restoran ini, sayangnya baru buka malam hari. Akhirnya kami makan di restoran kebab terdekat.

Saat malam tiba dan kami sudah berkeliling kian kemari di Kota Paris, entah kenapa hati tergerak untuk melihat ulang restoran Le Oulala di Google Maps. Eh ternyata buka! Langsung lah melipir ke sana padahal area terakhir kami tidak dekat-dekat amat.

Rue Mouffetard di musim panas Prancis malam hari ternyata sangat ramai! Sangat ramai dengan orang makan dan nongkrong di patio. Berhubung kami sudah makan kebab (porsi) banyak da late lunch, kami berpikiran untuk pesan makanan ringan saja. Kami pesan 2 loyang pizza: Quattro formaggi dan Campione dan dessert berupa Tiramisu.

Quattro formagginya juara! Kalau di Indo edisi 4 kejunya berupa mozarella, parmesan, cheddar, dan gorgonzola, kalau di restoran ini cheddar-nya diganti jadi chèvre, keju khas Perancis yang terbuat dari susu kambing. Nah chèvre ini memiliki tekstur rasa tangy di upper base dan sweet di lower base. Memberikan tuning ambiance rasa yang komplit saat digabung dengan rasa gurih parmesan-gorgonzola dan soft hint di mozzarella.

Pizza le oulala

Nah Campione-nya juga juara. Pizza dengan base renyah tipis ini disajikan dengan telur mata sapi di tengah loyang serta ditaburi tumisan steak haché (daging cincang) dan jamur kancing. Saya belum pernah nemu pizza telur yang nyambung kayak di Le Oulala ini. Entah pakai jenis keju apa, tapi blending keju-telur-daging-saus tomat di satu loyang ini harmonis banget.

Pizza le oulala

Untuk penutup, kami pesan Tiramisu au Nutella et Spéculos. Cantik banget disajikan bersusun di gelas bening. Sudah memperkirakan rasanya bakal manis banget karena krim tiramisu ketemu nutella ketemu speculaas. Eh ternyata rasa manisnya pas, tidak ada yang overpower.

Tiramisu le oulala

Oh ya, setelah berkali-kali liat menu mocktail sex on the beach, akhirnya suami pesan dan puas banget!!! Ternyata kata teman yang bartender ini emang enak banget. Di restoran halal Perancis banyak keluar menu ini dan sudah diadaptasi jadi versi mocktail. Rekomen untuk dipesan!

Restoran Halal Paris Lainnya (yang Tidak Kami Coba)

Namun sudah dicoba oleh suami dan ia puas! Kami hanya 3 hari di Perancis jadi tidak sempat ke restoran di bawah ini. Penasaran ada restoran halal di Paris apa saja?

4. Les Grands Enfant

restoran halal paris

Kalau googling, restoran ini muncul di urutan-urutan awal restoran halal Paris. Restoran ini mengusung makanan tradisional Perancis versi halal. Salah satu khasnya adalah makan di trotoar, cocok bagi kamu yang mengunjungi Paris di musim panas. Lokasinya ada di ujung timur Paris, lebih tepatnya dekat Bagnolet (Bekasi-nya Paris?).

Kalau mau makan disini, pastikan sudah booking jauh-jauh hari! Salah satu alasan kami tidak kesini ya karena tidak dapat reservasi hehe.

Menu andalannya (lagi-lagi) Souris d’Agneau yang dimasak lambat selama 7 hari, Jadi jelas kan kenapa kamu harus mencoba kuliner ini kalau ke Prancis?

5. Afrik ‘n ‘Fusion

restoran halal paris

Tips kuliner di luar negeri: Mencoba makanan yang tidak ada di Indonesia! Salah satunya adalah asal makanan yang imigrannya tidak ada di Indonesia.

Misalnya masakan Afrika. Afrik ‘n ‘Fusion ini adalah restoran halal Paris yang mengusung masakan khas Afrika Barat. Kami pernah mencoba restoran Senegal di Lyon dan menu-menu khas seperti bumbu Yassa, Dibi, Thieb, dan Mafé juga disajikan di restoran ini. Menurutku, orang Indonesia yang sudah terlalu bosan makan masakan Perancis WAJIB mencoba masakan Afrika karena palate-nya mirip sama masakan Indonesia.

Sebut saja, saus Mafé merupakan saus kacang-tomat. Makan ayam mafé seperti makan ayam panggang pakai bumbu sate. Hampir pasti cocok deh lidah Indonesia.

Restoran ini banyak cabangnya, salah satunya di area Pyrénées yang sangat dekat dengan lokasi Airbnb kami. Karena alasan yang sama, ketiadaan waktu, membuat kami tidak menjajal restoran ini. Pun, cukup lah kami sudah pernah mencoba cita rasa Afrika selagi saat berada di Lyon.

Haruskah coba semua?

restoran halal paris

Paris itu besar. BESAR BANGET megapolitan-nya. Tidak harus dicoba semua, tapi sesuaikan saja dengan area tempat tinggal dan itinerary kamu. Cukup banyak kok restoran halal Paris. Mentok-mentok ya makan kebab turki haha.

Jadi bagaimana? Penasaran mencoba restoran-restoran di atas? Semoga list ini bermanfaat bagi kamu yang sedang merencanakan pelesir ke Paris.

5 Tips Mencari Restoran Halal Perancis, Supaya Tidak Arab-India Terus!

24 komentar
restoran halal perancis

Kalau kamu memiliki rencana pergi ke Perancis, simak tips mencari makanan halal di Perancis  ini!

Sebenarnya tidak terbatas di Perancis saja sih, tips mencari makanan halal di sini bisa digunakan juga saatmau ke negara Eropa lainnya. Cara mencarinya mudah-mudah gampang. Mudah karena semua bisa ditemukan via internet. Tricky karena kehalalan restoran tersebut tidak dipublikasikan secara terang-terangan.

Bagi kamu yang senang berpetualan kuliner halal, wajib membaca tips mencari makanan halal ini. Ingat, makanan halal di luar negeri tidak cuma restoran Arab-Turki dan India saja kok 😋. Bosan kan sudah jauh-jauh ke Eropa, malah makan itu-itu lagi, makanan yang mudah ditemukan di Indonesia. 

Kalau kamu tahu triknya, kamu bahkan bisa mencoba kuliner internasional halal yang tidak ditemukan di Indonesia. Contoh gampangnya saja nih, di Indonesia HAMPIR TIDAK ADA Restoran Perancis halal. Silahkan dicek. Setahu saya hanya ada Cafe d'Aurelie saja di Bintaro.

Nah kan, penasaran bagaimana tips mencari makanan halal di Perancis?

Tips Mencari Restoran Halal dengan Mudah

restoran halal perancis

Mencari Restoran halal Singapura mudah sekali. Sama seperti di Indonesia, ada sertifikasi halal dan bahkan mereka lebih peduli kehalalan ketimbang di Indonesia hehe.

Tapi tidak untuk di Eropa.

Meskipun (hampir) pasti restoran Arab dan India halal, restoran tersebut agak dihindari selama di Perancis. Restoran lain yang kami hindari saat di Perancis adalah restoran Jepang. Semua restoran tersebut banyak pilihannya di Indonesia mulai dari budget murah sampai yang mahal. Beda sama restoran Cina, kalau ada dan lagi bosan makanan Perancis, memang safe heaven sih hehe.

Prioritas kami adalah mencari restoran yang menyediakan makanan Perancis, Eropa lainnya, atau bahkan makanan dari negara yang tidak ditemukan sama sekali di Indonesia. Nah masalahnya, restoran di Prancis tidak ada baku sertifikasi halal seperti sertifikasi MUI. Sertifikasi halal biasanya hanya di makanan kemasan restoran dan daging di penjagalan. Nama sertifikatnya AVS yang merupakan singkatan “A Votre Service” yang artinya “At your service”. Lembaga sertifikasi ini juga tergolong cukup muda, baru berdiri di tahun 1991.  Sisanya adalah self-claim halal karena mereka menjual masakan yang berasal dari penjagalan daging halal serta tidak mengandung alkohol dan derivat babi lainnya.

Tidak seperti Indonesia yang bisa dengan mudah terpampang sertifikasi halal MUI di depan restoran dan di buku menu, suasana islamophobia yang masih cukup kental di seantero Perancis membuat pemilik restoran tidak memasang tulisan “Halal Viande (Halal beef)” terang-terangan di plang depan restoran untuk mencegah pelanggan islamophobia enggan mencoba makanan di resto tersebut. Beberapa restoran halal di Perancis menaruh tulisan “Halal Viande” di buku menu, di meja kasir, atau bahkan tidak sama sekali. Jadi info soal kehalalan restoran kayak info lokal saja yang memang harus ditanyakan langsung ke pemilik restoran.

Susah kan? Kalau lihat Instagram saya di akun @matzenmatzen, cukup variatif dan banyak restoran halal yang kami coba. Nih saya bocorin tips mencari restoran halal di Perancis!

1. Googling!

restoran halal perancis

Salah satu tips mencari restoran halal di Perancis yang paling sering dilakukan oleh orang adalah Googling, because who doesn’t? Ini adalah cara paling mudah.

Kamu bisa googling dengan menggunakan kata kunci Bahasa Inggris seperti “Halal Restaurant in France” ataupun Bahasa Indonesia seperti “Restoran Halal di Prancis”. Biasanya, yang muncul paling atas adalah website penyedia jasa travelling seperti Tripadvisor dan YELP serta website berita normatif seperti detikFood. Kamu juga bisa menemukan beberapa tulisan di blog (seperti tulisan saya ini, hehe).

Namun, biasanya rekomendasi restoran halal di Perancis yang muncul adalah yang populer bagi kebanyakan orang dan sudah cukup lama ada. Sebagai contoh, Tripadvisor adalah situs listing berdasarkan rating yang ditulis oleh pengguna. List yang muncul di jajaran atas tergantung seberapa banyak pengulas dan besarnya rating. Sementara untuk portal berita normatif seperti detikFood, banyak yang ditulis berdasarkan hasil keyword research dan googling belaka, alias si penulis sendiri bahkan belum pernah memiliki pengalaman hunting restoran halal di Perancis.

Jika kamu tidak cukup lama berada di Perancis, hasil googling sudah lebih dari cukup. Kamu tinggal menyesuaikan mau makan jenis makanan apa dan lokasi mana yang cukup terjangkau dari itenary kamu. Namun, kalau kamu ingin melihat rekomendasi restoran halal di Perancis yang lebih kuratif, maka kamu harus…

2. Follow Halal Foodgram Perancis

restoran halal perancis

Biasanya para selebgram makanan halal di Perancis akan mengulas restoran halal Perancis yang lebih beragam dan bervariasi. Mereka juga akan mengulas restoran halal yang baru-baru ini muncul dengan ulasan yang lebih detail.

Kami sekeluarga melakukan Traveliving, yakni traveling sebulan di Prancis. Persiapan melakukan Traveliving bersama tiga anak bisa juga kamu kepoin kalau berniat melakukan hal serupa juga, hehe.

Kami akan banyak tingggal di Kota Lyon, oleh karena itu fokus saya adalah mencari beberapa halal foodgram Perancis yang berdomisili di Lyon. Karena kami berencana pergi ke Paris, saya juga mengikuti beberapa akun halal Foodgram di Paris. Ada juga halal foodgram yang mengepos konten makanan halal di beberapa kota di Perancis.

Andalan halal foodgram saya untuk area Kota Lyon adalah @food.lyon. Di tiap ulasannya, ia menulis status makanan di caption. Apakah “halal viande”, “vegetarien”, “sans alcool”, atau bahkan “moderate”. Halal foodgram area Kota Lyon lainnya adalah @onmangeaulyon dan @amar_food_. Kadang-kadang mereka tidak menulis secara gamblang status kehalalan. Cara memastikannya, kamu bisa cek di tagar yang mereka food. Biasanya tercantum seperti #halalfood dan #halal.

Karena mereka mencantumkan status kehalalan makanan, otomatis rekomendasi restoran halal yang muncul juga akan lebih kuratif. Halal foodgram seperti @food.lyon juga menyimpan highlight story ulasan restoran makanan berdasarkan dari mana makanan itu berasal. Kamu akan melihat bendera Algeria, India, Tunisia, Jepang, Senegal, dan lain-lain. Untuk follower baru akan sangat dimudahkan karena tinggal mengeksplor highlight sang pemilik akun dan menyesuaikan dengan pinpoint Google Maps kita.

3. Cek menu

restoran halal perancis

Meski tidak terang-terangan menaruh tulisan “makanan halal” di papan depan petunjuk restoran, tulisan “halal” dicantumkan di buku menu. Klaim “halal viande" yang disematkan oleh para halal foodgram Prancis terkadang bukan jaminan, karena..

Sebut saja, sebuah restoran di kawasan Brotteaux bernama “Chez Song” yang berdasarkan salah satu akun halal foodgram Prancis mengatakan bahwa mereka menggunakan daging halal. Saya sejujurnya ragu sih, soalnya pernah melewati restoran itu saat mampir ke Boulangerie Marcel dan sempat sangat tertarik, tapi ragu karena yang makan mukanya Tionghoa sekali.

Menghadapi hal semacam ini, maka senjata berikutnya adalah menggunakan Google Maps!

Google Maps adalah aplikasi underrated yang entah kenapa jarang dioptimalkan oleh penggemar kuliner. Padahal krusial untuk menilai apakah sebuah resto itu menyediakan makanan halal atau tidak

Caranya sesimpel mencari via tab “menu” di restoran yang kita tuju. Kalau tidak ada, tinggal eksplor dari foto-foto yang diunggah oleh pengulas. Benar saja, saya menemukan foto menu bahwa restoran Chez Song menjual banyak menu babi.


HAHAHA 😂😂😂


Yang benar saja, daging (sapi/ayam) halal sih, tapi selama ada daging babi di satu dapur ya jatuhnya tetap haram karena bakal bercampur di alat masak dan makan.

Jadi perlu perhatian bagi umat muslim yang mencari restoran halal di luar negeri (untuk kasus ini, Eropa). Jangan lupa crosscheck menu restoran yang diincar. Karena sekali ketemu bahan-bahan non-halal yang tidak bisa bercampur seperti derivat dari babi, maka otomatis kamu tidak dapat makan di restoran tersebut.

4. Cek ulasan pengguna di Google Maps

restoran halal perancis

Sebenarnya tahap mencari restoran halal di Perancis cukup sampai tahap tiga. Namun, saya suka ingin lebih memastikan kredibilitas restoran tersebut.

Pertama, saya mencari nama-nama yang berbau Islam di seksi "review" pada Google Maps. Soalnya sering juga saya menemukan restoran yang kata halal foodgram Perancis halal, tapi saya tidak menemukan tulisan halal baik di plang restoran ataupun di menunya. Pun, meski menunya aman dari menu babi, suka terbesit keraguan di hati saya.

Kalau banyak menemukan nama-nama Islam, entah kenapa terasa lebih meyakinkan. Meski sudah membaca status kehalalan makanan tapi tidak menemukan penegasan kehalalan secara tertulis baik di plang restoran atau pun di menu, pasti muncul kan secercah keraguan.

Saya bisa scroll panjang di kolom ulasan Google Maps. Apalagi sampai membaca ulasan yang menyatakan bahwa makanan yang dijual dari daging halal. Wah makin tenang hati setelah mendapat validasi.

5. Dari mulut ke mulut

restoran halal perancis

Tips mencari restoran halal di Perancis terakhir dari saya adalah mendengarkan info mulut ke mulut. Beberapa orang menjadikan langkah ini sebagai pertama, kalau saya menjadikannya langkah terakhir.

“Ibu lagi pengen makan apa?”

Nah kalau ada yang bertanya ini dan saya belum cari tahu sama sekali, rasanya bingung dan tidak nyamanhaha. Kalau sudah googling, tinggal jawab,

“Mau makan A, mendingan restoran X apa Y?”

Kan enak ya, expect what to expect, kemudian mendengarkan warga lokal atau orang yang sudah pernah mencoba restoran-restoran tersebut. Berikutnya tinggal memutuskan mau ke restoran mana.

Untuk kasus mencari restoran halal di Perancis kali ini sih tidak ada yang bisikin alias tidak ada info dari mulut ke mulut selain dari suami hehe. Suami sudah ke Perancis 1 tahun sebelumnya. Karena tidak ada keluarga di sana, jadi bawaan gabut dia adalah reservasi restoran-restoran di sana. Sebagian restoran yang kami coba selama di Perancis ya memang karena rekomendasi dari suami.

“La Confidential, Les Grand Enfants, bedanya apa ya?” Tanya saya ke suami 2 tahun lalu.
“Dua-duanya sama-sama restoran makanan Perancis di Paris, tapi ya beda. Beda apa ya? Pokoknya beda. Dua-duanya sama-sama enak kok”

Dan ya! Memang lidah suami saya tidak diragukan lagi. Kedua restoran sama-sama menyajikan makanan enak dengan kekhasan masing-masing. Contohnya La Confidential adalah resto Perancis yang memanjakan lidah orang Asia karena menyajikan nasi dan rempah khas Asia seperti daun ketumbar. Restoran Perancis lain yang kami datangi belum ada yang seperti itu.

Rekomendasi dari mulut ke mulut lain adalah Le Jumeirah, restoran Perancis lainnya di Paris. Saudara sudah ada yang pernah mencoba dan cukup puas. Selain itu, Le Jumeirah juga muncul di rekomendasi restoran halal di Paris versi Tripadvisor.

Pokoknya, kalau kamu mendengar rekomendasi mulut ke mulut, jangan diabaikan deh. Jangan sampai mengandalkan keviralan belaka, apalagi viral via jalur tiktok 😡. Kadang-kadang banyak juga restoran viral tapi,, ya tapi makanannya kurang berkenan.

Kenapa kami malah tidak makan di Restoran Indonesia selama di Perancis?

restoran halal perancis

Alasan pertama dan yang paling mendasari adalah ogah karena harganya pasti jauh lebih mahal dengan standar di bawah restoran Indonesia di Indonesia langsung. Bukan berarti tidak enak sih, tapi pasti rasanya sudah menyesuaikan pasar warga Perancis yang kurang bisa menerima rasa bumbu yang medhog. Jadi kayak ngapain makan makanan Indonesia, toh kita cuma sebulan di Perancis. Mending puas-puasin makan makanan halal yang tidak ada di Indonesia. Makan makanan Indonesia pas pulang aja.

Lagian, selama di apartemen kebanyakan makanan yang saya masak gaya Indonesia kok, jadi ya memang tidak kangen-kangen amat hehe.

Adakah restoran Indonesia di Perancis? Ada!

Di Paris ada beberapa, namun tentu tidak masuk dalam radar kami mengingat kami hanya berkunjung 3 hari 2 malam.

Di Lyon ada 1, tapi.. Tapi….

JUAL MENU BABI

Sewaktu patroli Google Maps saya juga menemukan restoran Malaysia. Lumayan kan bisa minum teh tarik. Eh ternyata hanya angan-angan, soalnya restoran Malaysia itu juga jual menu babi.

Jadi begitulah pengalaman mencari restoran halal di Perancis selama di Indonesia. Penasaran makan di restoran halal mana saja kami? Banyak deh! Mulai dari Turki, Uzbek, Senegal, Cina, hingga gastronomi Perancis. Boleh cek-cek ke Instagramku @matzenmatzen kalau penasaran.

Penasaran ulasan lengkap restoran halal selama kami di Perancis? Makanan dan restoran halal mana yang penasaran untuk dibahas lebih lanjut? Cus komen ya di bawah!