Langsung ke konten utama

Carseat dan Urgensitasnya yang Sering Terlupakan

Carseat bukanlah barang yang populer di Indonesia. Kehadirannya di masyarakat setidaknya masih jauh dibawah stroller. Berbeda hal dengan di Amerika dan Eropa. Carseat disana posisinya sangat penting. Bahkan semenjak keluar dari rumah sakit apabila memakai mobil pribadi wajib menggunakan Carseat.



"Di Amerika, kalau bawa bayi ga pakai carseat dinilai sebagai child abusive. Bisa ditangkap." Ungkap mertua.
Yep, karena kebanyakan di luar negeri mengenai penggunaan carseat ini sudah ditelurkan dalam bentuk undang-undang. Undang-undang yang mana jika dilanggar akan mendapat sanksi yang keras. Tidak hanya konsumen, produsen carseat pun dituntut secara ketat akan produknya agar memenuhi bahkan melewati prasyarat dan kondisi keamanan yang sudah ditetapkan oleh pemerintah. Atau bahasa lainnya harus melewati tahap crash test berkali-kali.

The law requires all children travelling in the front or rear seat or any car, van or goods vehicle must use the correct child car seat until they are either 135 cm in height or 12 years old (which ever they reach first). After this they must use an adult seat belt. There are very few exceptions. It's the driver's responsibility to ensure that children under the age of 14 years are restrained correctly in accordance with the law. - The Royal Society for the Prevention of Accident (Inggris)
NHTSA to initiate rulemaking on child restraint system safety, with a specific focus on booster seats and restraints for children who weigh more than 50 pounds. - National Highway Traffic Safety Administration (Amerika) 
Child restraint systems are the most effective way to protect young children involved in motor vehicle crashes - National Highway Traffic Safety Administration
Peraturan-peraturan ini dimulai dari gaya hidup masyarakatnya sendiri. Sebagian besar, masyarakat disana kalau tidak kaya-kaya banget melakukan semuanya serba sendiri. ART disana mahal bok. Yang pakai baby sitter kalau tidak penting-penting amat juga sedikit. Keterlibatan orang tua hanya kalau sedang ada. Karena keadaan seperti itu, mereka apa-apa kemana-mana harus sendiri jika tidak ada suami. Mau belanja, mau jalan-jalan, mau jogging, dan sebagainya. Karena segalam macam harus sendiri, muncullah berbagai macam insidensi.

Motor vehicle accidents are a leading cause of death in children ages 1-18. One in 3 children who die in a motor vehicle collision are unrestrained. - American Academy of Pediatrics
Yak, muncul banyak insiden kecelakaan-kecelakaan. Melihat ini, pemerintah tidak tinggal diam. Mereka merancang suatu aturan yang ketat mengenai berkendaraan bersama anak. Para produsen baby gear juga berlomba-lomba menciptakan gear yang memenuhi kualifikasi. Muncullah produk-produk carseat dengan rentang berbagai harga dan model yang memenuhi kebutuhan. Peraturan-peraturan itu diperbaharui secara berkala. Prasyarat makin ketat. Produk-produk baby gear juga ikut diperbaharui. Makanya ada bunyi salah satu peraturan kalau umur carseat yang dipakai seharusnya kurang lebih 5 tahun saja. Carseat yang lulus kualifikasi bisa dilihat di link ini. Tentunya karena saya ambil di link Amerika, maka yang dinilai cuma carseat yang beredar disana saja. Untuk yang tidak ada bisa dilihat di link negera-negara yang memasarkannya.

yeay,, carseat yang dipakai Hasan masuk kategori!


Adanya tindakan preventif ini ternyata membuahkan hasil. Resiko kematian dan keseriusan cacat pada kecelakaan bermotor bisa dikurangi.

In children younger than 1 year, using car seat decreases mortality by 71%. When compared to only using a seatbelt, car seats reduce the risk of injury by 54% in children 1-4 years old, and in children 4-8 years old, booster seats reduce the risk by 45%. In older children and adults, the use of seat belts decreases the risk for death and serious injury by about 50%. - American Academic of Pediatric

Mengapa Carseat tidak Populer di Indonesia?

Perbedaan kultur pengasuhan anak dalam bertransportasi menjadi jawaban yang paling dasar dari pertanyaan ini. Terlepas dari adanya peraturan di luar sana. Di sini, punya ART dan baby sitter adalah hal yang biasa. Jika hendak ke suatu tempat dengan cara berkendara pribadi, ART atau baby sitter ikut turut serta. Adanya orang ketiga ini menyebabkan adanya keputusan bahwa ART atau baby sitter yang akan menggendong anak selama dalam kendaraan. Tidak hanya itu, hubungan sebuah keluarga dengan orang tuanya juga (alhamdulillah) masih sangat dekat disini. Orang tua juga kerap kali menjadi orang ketiga yang berperan menggendong bayi dalam kendaraan.



Bagaimana dengan resiko kematian dan cacat permanen kecelakaan kendaraan bermotor di Indonesia?

Sejauh ini (atau saya saja yang tidak tahu) saya belum menemukan penelitian di website. Malaysia, negara tetangga yang kulturnya tidak jauh dengan kita sudah mulai ada wacana untuk menggalakkan peraturan pentingnya carseat

The first week of May has been horrific for children dying on the road in ASEAN countries, with multiple fatalities due to car crashes in Malaysia alone. The Malaysian Consumers Association is urging the government to make child car seats compulsory for babies and children in cars. - thesafetyeducator.com

Saya baru menemukan data statistik rata-rata kecelakaan di Indonesia dari Global status report on road safety 2013 milik WHO.

Sumber: WHO

Dan wow, ternyata tingkat kecelakaan di Indonesia per 100.000 penduduk tergolong cukup besar, 17.7. Peringkat 5 dalam ASEAN dan masih dibawah rata-rata tingkat kecelakaan di ASEAN. Tapi jika dibandingkan dengan negara-negara di Erop yang hanya berkisar 3.7, 6.4 dan 11.4, jumlah ini cukup signifikan.

Alasan Saya Pakai Carseat


1. Disuruh mertua dan ortu

Hahahahahaha. Jujur, sebelumnya memang ga kepikiran sama sekali. Baru pas hamil kepikiran karena cerita ortu dan mertua. Mertua ngelahirin 2 anaknya di Amerika jadi merasa wajib pakai carseat karena peraturan disana dan manfaatnya terasa. Sementara ortu, saya dan abang dulu tidak pakai carseat. Ortu pernah mendengar cerita temannya yang anaknya merosot ke bawah jok setelah ortunya rem mendadak. Si anak tampak tidak kenapa-kenapa secara fisik. Namun setelah anak tersebut remaja, berkali-kali sang anak harus terapi ke Australia karena ada gangguan tumbuh kembangnya. Sejak saat itu, saya dituntut untuk punya carseat juga.

2. Gaya Hidup

Berhubung saya penganut paham kebebasan.... kebebasan berkendara kesana kesini sendiri maksudnya hahaha, maka saya merasa carseat ini penting sekali. Suami adalah seorang residen yang kesibukannya luar biasa bahkan jam tidurnya lebih sedikit dibanding saya yang mengurus anak. Sementara saya hobi menyetir dan kesana kemari. Baik kerumah ortu/mertua, belanja, melakukan hal ga jelas ataupun ketemu teman. Sebenarnya di apartemen ada mbak yang kerja. Cuma saya membatasi dia ga boleh gendong anak. Kalau cuma mengajak Hasan becanda sih gapapa. Ketemu teman bawa ART bagi saya cukup rempong sih, meski harus ditebus kadang-kadang Hasan gelisah rewel dan harus tetap tenang dalam menyetir sekalipun dalam kemacetan. Dan alhamdulillah Hasan tipe anak tenang di carseat.

3. Kelelahan

Suatu hal yang pasti, memegang anak meski duduk dalam kurun waktu yang lama pasti menimbulkan kelelahan. Apalagi jika sang bayi berbobot besar. Karena itu, bagi yang suka keluar kota Carseat itu penting sebagai tempat duduk sang anak. Kalau tidak ada carseat, masa harus dipegang terus? Kan capek. Tidak cuma keluar kota, Jakarta yang notabene macet membuat waktu tempuh sejam adalah waktu tempuh normal. Sejam menimang bayi? Capek loh. Selain itu, kalau menggendong bayi kita tidak boleh tertidur di jalan. Haram hukumnya tidur. Dengan tidur kita kehilangan kontrol otot dan kesadaran dalam menggendong bayi. Bayi akan mudah jatuh dan merosot. Selain itu, kita akan kehilangan keawasan. Kita tidak tahu kapan pengemudi rem mendadak atau menikung. Kita tidak tahu kapan harus menggendong bayi dengan lebih erat. Dengan adanya carseat, bayi dapat diletakkan di kursinya dan lebih aman apabila kita hendak tidur.

4. Keamanan

Loh kok keamanan malah menjadi faktor terakhir? Oke saya revisi semuanya. Keamanan menjadi 1 alasan yang melingkupi semua. Namun disini kenapa saya menempatkan di posisi terakhir, yah karena saya tidak ingin membayangkan apalagi kejadian kecelakaan bermotor. Nauzubillah mindzalik. Jadi menempatkan bayi di carseat adalah salah satu ikhtiar saya dalam menjaga bayi saya jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.


Sebenarnya banyak hal lagi yang ingin saya jabarkan. Semisal cara memilih carseat, pertimbangan memilih carseat dan cara memasang carseat yang benar. Yah, mungkin di lain kesempatan yak!

Hasan melotot di carseat usia 2 bulan

Komentar

  1. mba, kalau boleh tau, beli car seat nya dimana dan harganya berapa?
    makasi ya mba :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya hari itu beli dari garselan teman. Jadi si teman ini punya teman expat beli carseat di sing. Cuma ga jadi pake karena anaknya terlanjur ga mau. Saya belicukup murah untuk barangnya, 1.8

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Baby Gear: Aprica Karoon Review

Sewaktu masih hamil hasan trimester kedua, saya udah mulai rajin buka tutup review stroller di pelbagai website. Banyak faktor yang dibutuhkan untuk memilih stroller yang pas. Pertimbangan saya dalam memilih stroller dapat dilihat di artikel saya sebelumnya mengenai kriteria stroller disini. Melihat segala kriteria saya dan budget yang dimiliki, muncul beberapa shortlisted. Namun, ternyata alhamdulillah Hasan mendapat kado stroller dari Datuk Aya. Berhubung dikadoin, saya mah pasrah apa aja. Apalagi lebih mahal dari budget kita hehe. Stroller yang dikasih Aprica Karoon. Seperti ini penampakannya.

Drama keberangkatan ke Chiang Mai

Setelah hampir 2 bulan, akhirnya saya memberanikan untuk menulis ini karena menurut saya pengalaman ini sangat memalukan sekaligus agak menyesakkan. Let's call it rejeki hanya sampai disitu saja dan rejeki pengalaman berharga.
Suami mendapatkan kabar pada bulan Juli kemarin bahwa akan dikirimkan ke Chiang Mai di bulan Oktober selama sebulan. Sontak saya gembira karena akhirnya akan kejadian juga tinggal di negara asing meski hanya sebulan. Sebenarnya suami mendaftar untuk pengiriman bulan Maret, setelah mengira tidak dapat jatah praktis kabar bulan Oktober ini sedikit mengejutkan. Mulailah pada saat itu saya malam-malam suka iseng membukan online travel apps semacam Traveloka, Tiket.com, dan pegi-pegi. Karena kami masih di Jogjakarta pada saat itu, kami memutuskan mulai agak serius memesan tiket nanti saja setelah kepulangan ke Jakarta pada bulan Agustus. Selain itu, kalau mencari tiket pada waktu itu saya juga tidak konsen karena otak saya masih terjejali rencana-rencana kunjung…

5 Buku Nonfiksi Favorit

Tahun 2019 adalah titik balik saya untuk kembali banyak membaca buku setelah tahun lalu dan tahun-tahun sebelumnya hanya membaca 2-3 buku per-tahun. Miris bukan? Oleh karena itu, postingan kali ini saya dedikasikan sebagai bentuk apresiasi saya kembali membaca. Daftar buku dibawah juga berdasarkan daftar bacaan saya tahun 2018 yang selengkapnya bisa dilihat di goodreads saya. Kali ini saya akan coba merekomendasikan 5 buku non fiksi, tanpa sesuai urutan favoritnya.
1. Mindset: The New Psychology of Success - Carol S. DweckSuka penasaran tidak kenapa banyak anak kecil yang dianggap sebagai child prodigy kebanyakan hanya mampu mekar pada tempo waktu yang singkat. Biasanya saat mereka sudah dewasa, kiprahnya malah jarang terdengar. Akhirnya saya mengetahui alasannya setelah membaca buku ini.
Carol S. Dweck membagi pola pikir manusia menjadi dua: growth mindset dan fixed mindset. Growth mindset adalah pola pikir yang mendorong kita untuk selalu berkembang. Sementara fixed mindset adalah …