Langsung ke konten utama

(Rencana) Perpustakaan (Pribadi)

Salah satu ambisi saya dari dulu adalah punya perpustakaan sendiri.

Dari dulu saya senang sama yang berkaitan dengan buku. Ya, saya senang membaca semenjak dari kecil. Namun sayang sekali, karena perkembangan zaman, teknologi semakin maju, keinginan dan kecepatan membaca saya tergerus oleh teknologi yang namanya sosial media. Karena kebanyakan membaca di sosial media, saya jadi lupa membaca manual a.k.a buku.




Setali tiga uang, hobi membaca membuat efek samping menjadi hobi mengkoleksi buku. Semenjak saya mengenal buku, saya sudah niat untuk menyimpannya. Bahkan sempat sudah beberapa buku saya sampuli sendiri agar lebih awet. Buku non fiksi, fiksi, agama, komik, textbook, semuanya. Disaat orang hobi menggarsel bukunya, saya malah hobi miara buku. Biasanya, mahasiswa yang baru lulus hobi menjual (murah) buku texbook-nya. Rejeki buat saya, saya bisa membeli buku kualitas bagus dengan harga murah asal buku tersebut masih relevan dengan minat saya. Sayang sekali, sekarang koleksi buku saya berserakan. Beberapa lokasi tempat tercecernya buku saya yang diingat:

  • Di dalam pak kardus
  • Di bandung
  • Di rumah ortu di Cibubur
  • Di apartemen
Bahkan perasaan saya, saat pindah ke apartemen saya tidak ada membawa buku sama sekali. 5 bulan setelah kepindahan ke apartemen, tau-tau rak buku sudah tidak muat lagi. Apa daya, rumah jadi susah rapi, sampai saya sudah mengukur-ukur ruangan karena hendak membeli rak buku baru.

Rencana-rencana saya di masa yang akan datang terkait buku yang pertama adalah merapikan buku-buku. Nanti tiba saatnya saat saya sekeluarga sudah settle serta memiliki tempat bernaung sendiri, saya hendak mengumpulkan semua buku saya yang tercecer di pelbagai tempat. Tidak hanya buku saya, tetapi juga buku-buku suami saya.

Rencana berikutnya adalah merancang posisi dan membeli rak buku yang pantas. Dibalik banyaknya buku, perlu rak buku yang secara kualitas pantas dapat menampung buku-buku tersebut. Mungkin nanti bakal ada ruang buku yang isinya rak buku-buku. meja kerja, sofa, dan karpet?



Satu lagi, rencana yang super sangat saya idam-idamkan adalah membuat katalog buku saya? Pernah datang ke perpustakaan umum? Ya seperti itulah gambarannya. Buku-buku dikelompokkan sesuai kelompok dan jenisnya, Di siku buku, ditempelkan label identitas buku. Semua buku-buku itu disampuli. Tidak hanya itu, semua identitas buku itu direkap dan dimasukkan ke dalam format digital di komputer. Identitas, jenis, letak. Semuanya. Apabila buku dipinjam dicantumkan juga keterangannya. Tampak rumit nan ribet ya harus mengkurasi semuanya. Tak apa, rasanya saya kebelet juga untuk melakukannya.



Yah, semoga segera diberi kesempatan dan waktu untuk mengkurasikan semua buku-buku saya. Dan yang tak kalah penting, bukunya dibaca dan diamalkan :).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

5 Buku Nonfiksi Favorit

Tahun 2019 adalah titik balik saya untuk kembali banyak membaca buku setelah tahun lalu dan tahun-tahun sebelumnya hanya membaca 2-3 buku per-tahun. Miris bukan? Oleh karena itu, postingan kali ini saya dedikasikan sebagai bentuk apresiasi saya kembali membaca. Daftar buku dibawah juga berdasarkan daftar bacaan saya tahun 2018 yang selengkapnya bisa dilihat di goodreads saya. Kali ini saya akan coba merekomendasikan 5 buku non fiksi, tanpa sesuai urutan favoritnya.
1. Mindset: The New Psychology of Success - Carol S. DweckSuka penasaran tidak kenapa banyak anak kecil yang dianggap sebagai child prodigy kebanyakan hanya mampu mekar pada tempo waktu yang singkat. Biasanya saat mereka sudah dewasa, kiprahnya malah jarang terdengar. Akhirnya saya mengetahui alasannya setelah membaca buku ini.
Carol S. Dweck membagi pola pikir manusia menjadi dua: growth mindset dan fixed mindset. Growth mindset adalah pola pikir yang mendorong kita untuk selalu berkembang. Sementara fixed mindset adalah …

Pusat Perbelanjaan Purwokerto

Bukan orang asli maupun yang punya di keluarga, entah mengapa saya menulis rentetan blog seri Purwokerto ini bagaikan menulis Purwokerto 101 😉. Bagian yang pertama adalah dimana saja sih pusat perbelanjaan? You're living, you need place(s) to shop to fulfil your daily life. Standar, pusat perbelanjaan ada supermarket dan pasar tradisional.

Kafe & Kuliner Modern Purwokerto

Banyak, banyak bangeeet! 😝. Entahlah, padahal rasanya tidak sesering itu saya mencari kuliner di luar. Dan dalam waktu sebulan, akhir pekan hanya terbatas 4 kali. Yang sangat saya tidak sangka selama di Purwokerto adalah betapa suburnya pertumbuhan kafe dan restoran modern disini. Mulai dari restoran keluarga, kafe nongkrong, kafe taman, comfort dining, hingga kafe dengan konsep unik. Harga rata-rata relatif lebih murah dibanding Jakarta, tetapi ada juga harga yang menyerupai di Jakarta. Rata-rata kafe banyak tersebar di daerah utara, yakni area Jalan Suharso, Bunyamin. Pokoknya dekat dengan area kampus Unsoed.