Langsung ke konten utama

Homemade MPASI Luar Kota

Jumat sampai Minggu ini, Hasan akan berlibur ke luar kota, tepatnya ke Tanjung Lesung. Berhubung Hasan sudah berusia 7 bulan, artinya harus dipersiapkan juga kan apa yang akan Hasan makan selama keluar kota itu.





Biasanya, Hasan makan makanan besar 3x sehari (pagi, siang, sore) dan disela-sela itu snack berupa buah 1-2x sehari. Setelah ortu mengecek spesifikasi penginapan, ternyata disana tidak ada kompor dan microwave. Jadi saya memutuskan untuk membawa slow cooker. Tinggal cemplung kemudian tunggu beberapa jam. Kemudian saya harus memutuskan menu apa aja untuk hari jumat, sabtu, dan minggu.

Saya memutuskan menu hari Jumat adalah Ikan dori, Beras merah + kaldu ayam, tempe, dan oyong. Untuk menu hari Sabtu adalah telur, kacang merah, labu mentega, dan buncis. Menu hari Minggu adalah Kentang, daging sapi giling,  wortel dan kacang merah. Berhubung kami harus ke Cibubur dulu untuk berangkat bersama-sama, semua bahan saya siapkan sorenya untuk kemudian malamnya dibawa ke Cibubur. Sesampai di Cibubur semua bahan makanan (kecuali bubuk beras merah dan kentang) dimasukkan ke kulkas kembali. Untuk ikan dori, daging sapi giling dan kacang merah berbentuk es batu yang sudah keluar dari freezer, saat di Cibubur tidak saya masukkan kembali ke freezer, tetapi cukup di chiller saja. Saya juga menyiapkan buah-buahan untuk camilan Hasan. 2 buah pisang, 1 buah pir dan 1/3 buah naga.

Jadi, 1 tas makanan Hasan berisi:

  1. Slow cooker
  2. Pigeon food maker (sudah termasuk sendok dan alu)
  3. Wadah makanan kecil-kecil berisi bahan makanan
  4. Botol minum Hasan


Esoknya pagi-pagi sekali saya memasak makanan Hasan. Saya kukus potongan tempe, oyong, dan ikan dori beserta bumbunya. Setelah matang saya masak bubur beras merah memakai kaldu ayam menggunakan teflon goreng telur. Semua bahan makanan saya campur kemudian dimasukkan ke kotak biokips ukuran sedang. Itu adalah porsi 2x makan, yakni untuk makan siang dan makan malam. Sarapan saya putuskan memberi Hasan pisang saja karena di perjalanan Hasan suka susah untuk makan. Selain itu saya juga sekalian mengukus telur agar disana tidak kerjaan lagi merebus telur.

Sesampai di Tanjng Lesung, semua bahan makanan dan makanan yang sudah dimasak dimasukkan kedalam kulkas penginapan. Yang saya masak paginya saya ambil dari wadah dan bagi setengah. Setengah sisanya untuk jatah makanan malam. Kemudian seperti biasa saya gerus dan disesuaikan teksturnya.

Untuk makan malam, saya keluarkan porsi makanan yang tersisa. Sayang sekali saya tidak teliti, ternyata kulkas di penginapan rusak sehingga kulkas tidak dingin. Alhasil sisa makanan tersebut basi. Rasanya sudah berantakan. Saya buang sambil memikirkan apa yang bisa dibuat untuk makan malam Hasan. Tidak hanya itu, kacang merah yang saya persiapkan untuk 2 hari juga basi. Sayang sekali rasanya. Akhirnya, saya memutuskan untuk memasak kembali makanan Hasan. Beruntung Ibu saya membawa wortel dan labu siam untuk lalapan. Akhirnya saya masak wortel, sebagian kecil labu mentega yang saya bawa serta kuning telur menggunakan electric steamer yang (beruntung) dibawa oleh tante saya. Tidak lupa bahan makanan lain yang tidak basi buru-buru diungsikan ke penginapan cowok (ortu saya menyewa 2 bungalow).

Esoknya, saya mengukus labu mentega dan buncis menggunakan electric steamer. Kemudian bersama dengan sisa telur dicampurkan. Saya masak untuk makan 3 porsi. Karena tidak ada kacang merah, praktis selama dua hari Hasan hanya makan menu 3 bintang saja. Mau bagaimana, ini kan di kampung. Mau beli-beli juga susah. Ya sudahlah hehe. Agak self note, sebenarnya sebelum berangkat mau beli Heinz botolan 1 botol saja untuk jaga-jaga, namun sayang sekali lupa. Siangnya saya berencana memberi Hasan snack pir. Tapi apa mau dikata, Pir nya ternyata ketinggalan di mobil. Jatuh. Untung Ibu saya bawa apel, jadi Hasan makan Apel yang sudah diparut.

Hari terakhir, minggu, saya mengukus potongan kentang, daging sapi giling beserta bumbu, dan potongan wortel. Saya masak untuk 2 porsi saja, pagi dan sore, karena kembali siang masih dalam perjalanan jadi diberi pisang saja. Namun pada kenyataannya Hasan tidak makan siang. Hasan 2 hari tidak pup dan sekalinya pup keras. Karena keadaan seperti itu, pemberian pisang lagi hanya akan menambah sembelit. Beruntung di perjalan Hasan pup cuci gudang. Legaa.

Kami sampai di Cibubur sekitar azan Ashar. Saya berencana memberi makan Hasan sehabis memandikannya. Apa mau dikata, karena seharian itu makanan tidak dikulkaskan, makanan yang saya buat basi. Alhasil, Hasan hanya makan pir yang diparut. Beruntung di kulkas ibu saya masih ada 1 pir.

Kapok membawa Hasan jalan keluar kota sambil menyiapkan makananan homemade? Insya Allah tidak! Malah ini menjadi bahan evaluasi saya supaya lebih detil dalam mempersiapkan. Untuk kedepannya mungkin saya akan menyiapkan MPASI botolan untuk jaga-jaga jika bahan makanan yang saya bawa basi.

Looking forward to bring Hasan out of town before he eats family meal :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Baby Gear: Aprica Karoon Review

Sewaktu masih hamil hasan trimester kedua, saya udah mulai rajin buka tutup review stroller di pelbagai website. Banyak faktor yang dibutuhkan untuk memilih stroller yang pas. Pertimbangan saya dalam memilih stroller dapat dilihat di artikel saya sebelumnya mengenai kriteria stroller disini. Melihat segala kriteria saya dan budget yang dimiliki, muncul beberapa shortlisted. Namun, ternyata alhamdulillah Hasan mendapat kado stroller dari Datuk Aya. Berhubung dikadoin, saya mah pasrah apa aja. Apalagi lebih mahal dari budget kita hehe. Stroller yang dikasih Aprica Karoon. Seperti ini penampakannya.

Drama keberangkatan ke Chiang Mai

Setelah hampir 2 bulan, akhirnya saya memberanikan untuk menulis ini karena menurut saya pengalaman ini sangat memalukan sekaligus agak menyesakkan. Let's call it rejeki hanya sampai disitu saja dan rejeki pengalaman berharga.
Suami mendapatkan kabar pada bulan Juli kemarin bahwa akan dikirimkan ke Chiang Mai di bulan Oktober selama sebulan. Sontak saya gembira karena akhirnya akan kejadian juga tinggal di negara asing meski hanya sebulan. Sebenarnya suami mendaftar untuk pengiriman bulan Maret, setelah mengira tidak dapat jatah praktis kabar bulan Oktober ini sedikit mengejutkan. Mulailah pada saat itu saya malam-malam suka iseng membukan online travel apps semacam Traveloka, Tiket.com, dan pegi-pegi. Karena kami masih di Jogjakarta pada saat itu, kami memutuskan mulai agak serius memesan tiket nanti saja setelah kepulangan ke Jakarta pada bulan Agustus. Selain itu, kalau mencari tiket pada waktu itu saya juga tidak konsen karena otak saya masih terjejali rencana-rencana kunjung…

5 Buku Nonfiksi Favorit

Tahun 2019 adalah titik balik saya untuk kembali banyak membaca buku setelah tahun lalu dan tahun-tahun sebelumnya hanya membaca 2-3 buku per-tahun. Miris bukan? Oleh karena itu, postingan kali ini saya dedikasikan sebagai bentuk apresiasi saya kembali membaca. Daftar buku dibawah juga berdasarkan daftar bacaan saya tahun 2018 yang selengkapnya bisa dilihat di goodreads saya. Kali ini saya akan coba merekomendasikan 5 buku non fiksi, tanpa sesuai urutan favoritnya.
1. Mindset: The New Psychology of Success - Carol S. DweckSuka penasaran tidak kenapa banyak anak kecil yang dianggap sebagai child prodigy kebanyakan hanya mampu mekar pada tempo waktu yang singkat. Biasanya saat mereka sudah dewasa, kiprahnya malah jarang terdengar. Akhirnya saya mengetahui alasannya setelah membaca buku ini.
Carol S. Dweck membagi pola pikir manusia menjadi dua: growth mindset dan fixed mindset. Growth mindset adalah pola pikir yang mendorong kita untuk selalu berkembang. Sementara fixed mindset adalah …