Langsung ke konten utama

Buy.. Packed.. Sent!

Jujur, mungkin ini pertama kali saya menerima jasa titip buku untuk event Big Bad Wolf pada hari Rabu. Awalnya memang sedikit agak galau. Pertimbangannya, kalau menerima jasa titip lumayan bisa subsidi beberapa buku Hasan, selain itu saya juga sudah menempuh jarak sangat jauh. Kalau saya tidak menerima jasa titipan asik bisa konsentrasi me (our) time ngider-ngider ICE BSD sambil konsentrasi menelisik dan memilih buku. Pada akhirnya saya menerima jasa titip buku. Saya iklankan lah di grup ITBMh dengan biaya jasa titip 10% harga buku. Sesungguhnya biaya ini sangat murah sekali mengingat saya pernah melihat beberapa akun IG mengenakan biaya bisa sampai 1 buku 35 ribu! Cukup 1 grup saja. Consequence takes its toll!

Dan kira-kira inilah semua buku yang siap dibungkus dan dikirim via JNE.

Buku titipan

Kalau direkap, semua buku ini untuk 12 orang. 10 orang dari ITBMh dengan jasa titip 10% biaya buku. 2 buku (masing-masing 1 buku) untuk 2 orang ibu-ibu penghuni Apartemen. Pesanan 9 orang dikirim via JNE, 3 pesanan langsung ketemu langsung. Karena harus mengepak 9 pesanan, saya memperkirakan ini akan menghabiskan waktu yang lama. Maka saya memutuskan untuk menyicil mengepak pada sabtu malam, pasca Hasan tidur.

Saya sempat sangat kebingungan menggunakan saya mengepak pesanan-pesanan ini. Maklum, saya tidak memiliki usaha online shop. Pernah beberapa kali mengirimkan barang tetapi itu juga sekali-kali. Akhirnya dengan memanfaatkan ketersediaan bahan, saya mengepak menggunakan plastik-plastik kresek dan kantong belanjaan kertas untuk 2 pesanan yang baik bobot dan ukurannya besar. Permasalahan tidak sampai disitu. Jika buku hanya dibungkus plastik kresek, akan kelihatan isi paket apa. Oleh karena itu, saya menyiasati dengan menggunakan kertas HVS A4 yang tidak terpakai. Aduh maaf tidak modal sekali ya. Otomatis karena keterbatasan ukuran kertas HVS A4, otomatis dibutuhkan waktu ekstra untuk menyambungkan antar HVS. Saya mulai berkerja pukul 9 malam dan baru beres untuk sesi malam itu pukul setengah 11 malam.

Kenapa saya berhenti? Ya, saya kehabisan selotip bening! Selain itu saya tidak memiliki selotip kuning besar untuk mengepak paket yang menggunakan kantong belanjaan kertas. Jadi pada malam itu saya hanya menyelasaikan 6 paket.

Almost done..

Esoknya, yakni hari ini saya memutuskan selotip bening dan selotip kuning untuk menyelesaikan pengepakan paket. 1 paket menggunakan kresek dan 2 menggunakan kantong belanjaan kertas. Ternyata mengepak menggunakan kulit kantong belanjaan kertas cukup menantang untuk saya yang tidak memiliki pengalaman ini. Saya harus menggunting sana sini untuk mengepaskan dengan buku, Selain itu saya harus menggunakan banyak selotip kuning untuk melapisi bagian yang rapuh, Daaaan,, akhirnya semua beres. Siap kirim!

Ready to send!

Saya hendak menggunakan jasa JNE yang berada sangat dekat, yakni di belakang apartemen pada esok hari. Mengepak barang kalau tidak settle alat tempurnya ternyata sangat melelahkan dan menghabiskan waktu ya!


Komentar

Postingan populer dari blog ini

5 Buku Nonfiksi Favorit

Tahun 2019 adalah titik balik saya untuk kembali banyak membaca buku setelah tahun lalu dan tahun-tahun sebelumnya hanya membaca 2-3 buku per-tahun. Miris bukan? Oleh karena itu, postingan kali ini saya dedikasikan sebagai bentuk apresiasi saya kembali membaca. Daftar buku dibawah juga berdasarkan daftar bacaan saya tahun 2018 yang selengkapnya bisa dilihat di goodreads saya. Kali ini saya akan coba merekomendasikan 5 buku non fiksi, tanpa sesuai urutan favoritnya.
1. Mindset: The New Psychology of Success - Carol S. DweckSuka penasaran tidak kenapa banyak anak kecil yang dianggap sebagai child prodigy kebanyakan hanya mampu mekar pada tempo waktu yang singkat. Biasanya saat mereka sudah dewasa, kiprahnya malah jarang terdengar. Akhirnya saya mengetahui alasannya setelah membaca buku ini.
Carol S. Dweck membagi pola pikir manusia menjadi dua: growth mindset dan fixed mindset. Growth mindset adalah pola pikir yang mendorong kita untuk selalu berkembang. Sementara fixed mindset adalah …

Pusat Perbelanjaan Purwokerto

Bukan orang asli maupun yang punya di keluarga, entah mengapa saya menulis rentetan blog seri Purwokerto ini bagaikan menulis Purwokerto 101 😉. Bagian yang pertama adalah dimana saja sih pusat perbelanjaan? You're living, you need place(s) to shop to fulfil your daily life. Standar, pusat perbelanjaan ada supermarket dan pasar tradisional.

Kafe & Kuliner Modern Purwokerto

Banyak, banyak bangeeet! 😝. Entahlah, padahal rasanya tidak sesering itu saya mencari kuliner di luar. Dan dalam waktu sebulan, akhir pekan hanya terbatas 4 kali. Yang sangat saya tidak sangka selama di Purwokerto adalah betapa suburnya pertumbuhan kafe dan restoran modern disini. Mulai dari restoran keluarga, kafe nongkrong, kafe taman, comfort dining, hingga kafe dengan konsep unik. Harga rata-rata relatif lebih murah dibanding Jakarta, tetapi ada juga harga yang menyerupai di Jakarta. Rata-rata kafe banyak tersebar di daerah utara, yakni area Jalan Suharso, Bunyamin. Pokoknya dekat dengan area kampus Unsoed.