Langsung ke konten utama

(Not) A Fairy Tale

Alkisah pada suatu hari, seorang teman membalas salah satu plurk saya dengan balasan yang sama sekali tidak relevan dengan status plurk yang saya gaungkan.

"Net, nanti gw mau japri lo ya. Ada mau nanya-nanya sesuatu."
"Oke, shoot!", balas saya.



Hari berganti hari, minggu berganti minggu, teman saya tak kunjung menghubungi saya. Memang terbersit sedikit rasa kepo, tapi ah yasudahlah, mungkin baginya tidak terlalu penting masalahnya. Sampai suatu ketika teman tersebut menghubungi saya via online (lupa WA, LINE atau apa).

"Net, ceritain donk punya suami yang lagi PPDS (program spesialis) itu gimana. Gw dari kemaren-kemaren pengen nanya lo cuma segan"
Betul saja ternyata dugaan saya. Maka saya ceritakanlah dari A, B, C, D dan seterusnya. Di tengah percakapan, jiwa penasaran saya semakin membuncah.

"Siapa sih? Gw kenal ga?"
"Ada deh!" jawab sang teman,
"Oh berarti gw kenal, clue donk!"
"Ogah ah."

Apa boleh buat, saya akhirnya "menginvestigasi kecil-kecilan dengan mengemukakan beberapa pertanyaan. Entah kenapa, selagi saya menanyakan dengan gencarnya, di kepala saya terpikirkan satu orang. Ya, hanya satu orang dari sekian banyak random orang yang memungkinkan.

"Dia mau ngambil PPDS juga? PPDS apa?"
"Mata. Gw rada gimana gitu agak ga siap. Soalnya beda dari lo, gw bakal tinggal jauh dari orang tua. Ini aja gw udah ga ngekos lagi."

Yak,, info yang saya punya sudah lebih dari cukup. Meluncur lah saya ke Facebook, membuka profil satu-satunya tebakan nama yang ada di kepala saya. Saya cocokkan dengan info-info yang bisa saya temui di Facebook.

Tertarik dengan Mata.

Bukan Jakarta.

YAK BENAR. Definitely he was.

"Si xxxx ya?", tembak saya tanpa basa basi.
"Loh, kok tau?"

Ya, saya, suami saya, teman saya dan xxxx pernah sekelas saat SMA. Lega rasanya satu misteri terpecahkan. Setebak saya, sang teman dahulu pernah suka sama xxxx saat masa SMA. Dan sekarang mereka tampak seperti ada suatu kecenderungan dan moga-moga sampai ke jenjang pernikahan. What a dream! Saya pun kemudian membalas chat teman saya dengan penuh berapi-api. Penasaran sekaligus berharap mereka bisa jadi.

Hari demi hari berlalu. Minggu demi minggu berlalu. Bulan demi bulan pun berlalu. Saya tidak pernah chat lagi dengan sang teman. Terakhir kita bertemu di pernikahan salah seorang teman kita juga. Dan pada saat itu saya diam-diam cengin dia dan ya, mereka masih dekat.

Saya membuka Instagram. Scroll, scroll. Sampai saya tiba-tiba berhenti di postingan Instagram xxxx. Disitu terdapat foto xxxx sendirian, dengan tulisan caption foto bahwa ia sedang berada disamping orang yang dicintainya. Lebih tepatnya calon. Saya tap dengan jari saya foto tersebut untuk mengetahui apakah ada orang yang di-tag. Ada sebuah nama. Tapi itu itu bukan nama teman saya. Dengan tidak enak hati, saya menghubungi teman saya via Line

"Lo udah ga sama  xxxx lagi ya?"
"Iya net, udah lama sih. Beberapa bulan lalu lah. Kenapa?"
"Gw nemu foto di instagram, tapi ga mendeskripsikan lo."
"Oh, dia sama adik kelasnya kalau tidak salah."

Saya makin tidak enak hati dengan menghubungi teman tersebut. Ternyata, yang saya bayang-bayangkan tidak menjadi kenyataan. Ternyata, fakta hidup yang terjadi tidak berjalan seperti di novel-novel picisan ataupun sinetron.

Ini hidup.

The reality will absolutely complicated. A lot.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Baby Gear: Aprica Karoon Review

Sewaktu masih hamil hasan trimester kedua, saya udah mulai rajin buka tutup review stroller di pelbagai website. Banyak faktor yang dibutuhkan untuk memilih stroller yang pas. Pertimbangan saya dalam memilih stroller dapat dilihat di artikel saya sebelumnya mengenai kriteria stroller disini. Melihat segala kriteria saya dan budget yang dimiliki, muncul beberapa shortlisted. Namun, ternyata alhamdulillah Hasan mendapat kado stroller dari Datuk Aya. Berhubung dikadoin, saya mah pasrah apa aja. Apalagi lebih mahal dari budget kita hehe. Stroller yang dikasih Aprica Karoon. Seperti ini penampakannya.

Drama keberangkatan ke Chiang Mai

Setelah hampir 2 bulan, akhirnya saya memberanikan untuk menulis ini karena menurut saya pengalaman ini sangat memalukan sekaligus agak menyesakkan. Let's call it rejeki hanya sampai disitu saja dan rejeki pengalaman berharga.
Suami mendapatkan kabar pada bulan Juli kemarin bahwa akan dikirimkan ke Chiang Mai di bulan Oktober selama sebulan. Sontak saya gembira karena akhirnya akan kejadian juga tinggal di negara asing meski hanya sebulan. Sebenarnya suami mendaftar untuk pengiriman bulan Maret, setelah mengira tidak dapat jatah praktis kabar bulan Oktober ini sedikit mengejutkan. Mulailah pada saat itu saya malam-malam suka iseng membukan online travel apps semacam Traveloka, Tiket.com, dan pegi-pegi. Karena kami masih di Jogjakarta pada saat itu, kami memutuskan mulai agak serius memesan tiket nanti saja setelah kepulangan ke Jakarta pada bulan Agustus. Selain itu, kalau mencari tiket pada waktu itu saya juga tidak konsen karena otak saya masih terjejali rencana-rencana kunjung…

5 Buku Nonfiksi Favorit

Tahun 2019 adalah titik balik saya untuk kembali banyak membaca buku setelah tahun lalu dan tahun-tahun sebelumnya hanya membaca 2-3 buku per-tahun. Miris bukan? Oleh karena itu, postingan kali ini saya dedikasikan sebagai bentuk apresiasi saya kembali membaca. Daftar buku dibawah juga berdasarkan daftar bacaan saya tahun 2018 yang selengkapnya bisa dilihat di goodreads saya. Kali ini saya akan coba merekomendasikan 5 buku non fiksi, tanpa sesuai urutan favoritnya.
1. Mindset: The New Psychology of Success - Carol S. DweckSuka penasaran tidak kenapa banyak anak kecil yang dianggap sebagai child prodigy kebanyakan hanya mampu mekar pada tempo waktu yang singkat. Biasanya saat mereka sudah dewasa, kiprahnya malah jarang terdengar. Akhirnya saya mengetahui alasannya setelah membaca buku ini.
Carol S. Dweck membagi pola pikir manusia menjadi dua: growth mindset dan fixed mindset. Growth mindset adalah pola pikir yang mendorong kita untuk selalu berkembang. Sementara fixed mindset adalah …