Featured Slider

Manfaat Membaca untuk Otak Anak

Tidak ada komentar

Buku dikenal sebagai jendela dunia. Bagi saya, ada 2 aktivitas yang membuat saya seolah-olah pernah mengunjungi suatu tempat padahal belum, yaitu membaca dan berjalan-jalan via google map. Seperti yang Karl May lakukan di abad ke-20, berjalan-jalan melalui buku bacaan sampai bisa membuat novel dengan kondisi geografis yang sangat persis dengan aslinya.


Lewat buku, berbagai kisah dan wawasan bisa kita dapatkan. Tapi ternyata tidak hanya wawasan baru yang kita dapatkan, tetapi juga memiliki manfaat untuk menjaga fungsi otak. Termasuk otak anak. 

Manfaat ini diklaim bisa bertahan seumur hidup. Membaca buku juga turut membangkitkan kreativitas, berpikir kritis, empati, dan keuntungan lainnya.

Sebuah studi menunjukkan, saat membaca, ocipital lobe, bagian otak yang merupakan pusat proses visual lebih berkembang. Ini artinya para pembaca dapat memproses informasi visual dengan efisien. Kemampuan otak dalam imajinasi dan kemampuan kreativitas dapat membuat seseorang menjadi pengambil keputusan lebih baik. Bagian otak yang bernama parietal lobe yang berfungsi mengubah huruf menjadi kata dan kata menjadi ide juga berkembang lebih baik. Kemampuan ini sangat penting untuk komprehensi menulis dan membaca. Membaca juga membantu otak untuk memproses baik informasi visual dan verbal lebih efektif. Membaca benar-benar membantu meningkatkan kemampuan komunikasi.  

Seperti yang dilansir Healthline dan Goodnet, inilah manfat membaca buku secara rutin.

1. Memperkuat fungsi otak

Sejumlah penelitian membuktikan bahwa membaca dapat memperkuat kemampuan otak. Para peneliti menyebutkan bahwa kegiatan membaca buku melibatkan jaringan sirkuit dan sinyal yang kompleks pada otak. Saat kemampuan membaca bertambah, jaringan-jaringan tersebut akan menguat, terutama di bagian korteks somatosensori.

Sebuah penelitian yang dilakukan di Universitas Emory, membaca dapat meningkatkan aktivitas otak pada bagian central sulcus, bagian yang mengatur kemampuan gerak kita. Saat kita membaca yang menggambarkan karakternya sedang berjalan, aktivitas di neuron kita membuat seolah-olah kita sedang berjalan juga

2. Meningkatkan kemampuan berempati

Sejumlah penelitian menemukan bahwa orang-orang yang membaca sastra (tipikal cerita yang mengeksplorasi kehidupan karakternya secara mendetil) menunjukkan kemampuan untuk memahami perasaan dan pemahaman orang lain lebih baik. Para peneliti menyebut bahwa empati menjadi keterampilan penting bagi seseorang untuk membangun dan memelihara hubungan sosial.

3. Menambah kosakata

Para peneliti menemukan bahwa siswa-siswa yang rutin membaca buku, terutama yang memulai sejak dini memiliki perbendaharaan kata yang lebih luas. Perlu diketahui, perbendaharaan kata dapat mempengaruhi aspek lain dalam kehidupan seperti seleksi penerimaan mahasiswa dan pekerjaan. Sebuah jajak pendapat pada tahun 2019 menemukan bahwa 69 perssen perusahaan akan mempekerjakan karyawan dengan keterampilan berbahasa yang mumpuni. Membaca buku menjadi salah satu cara untuk meningkatkan kemampuan berbahasa.

4. Mengurangi kepikunan

Saat membaca, yang otak kita lakukan lebih dari sekedar menerjemahkan kata demi kata pada lembar buku. Bahkan, proses yang terjadi pada saat membaca lebih rumit ketimbang memproses gambar atau berpidato. Ini seperti para syaraf yang berolahraga. Berbagai bagian otak seperti penglihatan, bahasa, dan pembelajaran asosiatif, semuanya saling bekerja.

Agar otak tetap sehat dan waspada, dibutuhkan latihan terus menerus. Sebuah penelitian merekomendasikan membaca buku dan majalah adalah cara untuk mencegah kepikunan seiring kita bertambah tua. Lansia yang rutin membaca dapat meningkatkan kemampuan kongitif mereka. Sering membaca disertai dengan bermain teka-teki menjaga aktifitas otak agar tetap baik dan aktif. 

5. Mengurangi stress

Penelitian pada tahun 2019 menemukan bahwa membaca selama 30 menit dapat menurunkan tekanan darah, detak jantung, dan perasaan tertekan. Manfaat ini sama efektifnya dengan yoga atau mendengarkan cerita jenaka. Saat membaca buku, kita seolah-olah berada di dunia lain, membuat buku sebagai sarana pelepas stres.

Penelitian pada tahun 2009 menunjukkan bahwa membaca dapat mengurangi stress sebanyak 68 persen. Lebih efektif dibandingkan mendengarkan musik, menikmati secangkir teh, bermain video game, ataupun berjalan. Detak jantung menjadi lebih lambat dan tekanan pada otot juga berkurang. 

6. Meningkatkan kualitas memori

Saat membaca, kita mengaktifkan berbagai bagian otak, seperti kemampuan fonem, visual, proses auditori, konprehensi, kefasihan, dan lan-lain. Dengan membaca, otak kita tersentak dan konsentrasi dipertahankan. Semakin sering kita membaca, semakin kuat memori kita. Penelitian lain juga menunjukkan bahwa membaca dapat memperlambat hilangnya memori pada otak dan penurunan mental lainnya

Pentingnya Menumbuhkan Growth Mindset bagi Anak

15 komentar
“Hasan gapapa? Santai aja, gapapa kok gagal, itu lumrah. Yang penting kita cari tahu kenapa kita gagal. Gagal itu biasa kok, malah itu sarana untuk menjadi lebih baik. Ada yang mau dibantu? Nanti coba ujian lagi ya!” Ujar saya saat mengetahui Hasan tidak lulus ujian kenaikan sabuk Taekwondo.
 
growth mindset bagi anak

Jujur saya agak syok, bagaimana mungkin bisa terjadi. Apalagi saat saya tahu bahwa ia adalah salah satu dari dua anak saja yang tidak lulus ujian kenaikan sabuk kuning dari puluhan anak lainnya. Ini tidak hanya ujian baginya. Ini menjadi ujian buat saya juga

Bagaimana cara saya menyikapi hal ini dibalik inner child saya yang pennuh ambisi? Bagaimana saya bisa tetap tenang? Bagaimana saya bisa menenangkan anak? Bagaimana saya bisa tetap membangkitkan semangat anak? Bagaimana saya bisa menerapkan growth mindset kepada anak?

Sejenak saya tarik napas dalam-dalam dan berpikir, ini lah saatnya menanamkan anak growth mindset. Pelan-pelan saya mendekatinya.

“Hasan, kecewa ya ga lulus ujian sabuk? Tidak apa-apa kok kecewa.” Percakapan pun saya mulai dari memvalidasi emosinya.

Setelah berbicara dalam kepada Hasan, ia pun kembali melangkah menuju Sabeomnimnya (guru Taekwondo) untuk melakukan ujian ulang sabuk. Alhamdulillah, akhirnya ia bisa melangkah ke sabuk kuning bersama teman-teman TK lainnya.

Sebenarnya apa sih itu growth mindset? Seberapa penting seorang anak memiliki growth mindset?

Mengenal Growth Mindset

growth mindset bagi anak

Konsep Growth mindset pertama kali dipopulerkan oleh Carol Dweck, seorang Psikologis dari Amerika dalam bukunya yang populer, Mindset. Growth mindset adalah pola pikir yang menganggap kegagalan adalah sebuah cara untuk terus maju. Faham growth mindset menganggap bahwa bakat dan kemampuan adalah hal yang terus berkembang jika terus diasah.

Kerap kali kita sering minder saat melihat orang lain yang kita anggap berbakat di bidang yang sedang ditekuninya. Kita merasa tidak dapat mengejar mereka karena memiliki suatu anugerah dari Tuhan yang tidak kita miliki sejak awal.

Padahal kenyataanya bukan seperti itu. Orang yang berbakat namun tidak memiliki pola pikir growth mindset akan kalah dengan orang yang “kurang” berbakat tetapi memiliki pola pikir growth mindset. Mereka percaya bahwa kemampuan akhir adalah perkawinan dari bakat, kegigihan, serta pengalaman yang ditempat bertahun-tahun.

Growth Mindset vs Fixed Mindset

growth mindset bagi anak
Sumber: Alterledger

Lawan dari Growth Mindset adalah Fixed Mindset. Fixed mindset percaya bahwa bakat adalah dan kemampuan adalah anugerah dan bawaan dari lahir. Mereka kerap merasa superior . Namun, kondisi ini bisa sangat rawan. Apabila seseorang memiliki fixed mindset dan di kemudian hari dia sedang di fase kegagalan, mereka bisa sangat down dan sulit untuk bangkit. Para pemilik fixed mindset akan merasa egonya terluka sebab kemampuan mereka menjadi diragukan.

Berbeda dengan orang yang memiliki growth mindset. Alih-alih patah semangat, mereka melihat kegagalan ini sebagai peluang untuk tumbuh. Mereka percaya kalau kecerdasan dan kemampuan bisa bertumbuh. Alih-alih patah semangat saat menghadapi kegagalan, mereka lebih  memilih untuk mempelajari kegagalan, mengambil umpan balik dan mengolahnya menjadi strategi untuk masa datang.

Dulu saya sempat sering berpikir, mengapa anak yang dinobatkan sebagai anak genius sejak usia dini biasanya tidak kedengaran lagi kabarnya saat mereka dewasa. Ternyata (ini praduga saya saja sih), mayoritas dari mereka dibesarkan dengan fixed mindset. Mereka terlalu terbuai dengan apresiasi masyarakat bahwa mereka adalah anak prodigy. Satu kegagalan saja membuat mereka mempertanyakan kejeniusan mereka. Tak jarang banyak anak prodigy yang lebih memilih menarik diri ketimbang melanjutkan bidang yang sedang mereka dalami.

Tentu kita tidak menginginkan anak kita tumbuh memiliki fixed mindset alih-alih menjadi growth mindset bukan?

Tumbuh dengan growth mindset bersama Biskuat Academy

growth mindset bagi anak

Prestasi tidak melulu soal prestasi akademik. Ada beberapa anak yang memiliki kecerdasan kinestetik sehingga ia sangat menonjol. Sayangnya, banyak orangtua yang belum teredukasi bahwa prestasi kinestetik adalah prestasi yang juga membanggakan dan patut dibina seserius mungkin.

Untuk membangun kepedulian ini, Biskuat mendorong pencapaian anak-anak Indonesia di bidang olahraga, terutama di sepak bola melalui Biskuat Academy. Biskuat percaya bahwa setiap anak unik dan masing-masing dari mereka memiliki potensi tak terbatas melebihi apa yang mereka lihat. Kekuatan sejati dan unik itu sesungguhnya terletak di dalam diri mereka sendiri.

growth mindset bagi anak

Tidak banyak produk kemasan yang peduli dengan pertumbuhan dan perkembangan anak-anak Indonesia. Salah satunya Biskuat yang merupakan brand unggulan Mondelez International yang memiliki tujuan mulia menciptakan #GenerasiTiger agar anak tidak hanya berprestasi, tapi juga memiliki kekuatan baik dari dalam (inner strength) yang tercermin dari karakter positif anak.

Tentunya Biskuat Academy juga mendorong agar anak memiliki growth mindset untuk terus bertumbuh meskipun menghadapi rentetan kegagalan demi kegagalan.

Melalui Biskuat Academy, anak dapat mengembangkan potensi dari dalam untuk mencapai mimpi mereka menjadi pesepakbola handal. Mulai dari peningkatan kemampuan sepak bola dari pelatih berlisensi UEFA A sebagai persiapan menjadi pemain sepak bola profesional di masa depan hingga bertemu langsung pemain profesional dari Tim Nasional Sepak Bola Indonesia untnuk memotivasi mereka. Kini cita-cita untuk menjadi pemain sepak bola profesinoal bukan hanya mimpi!

growth mindset bagi anak

Tertarik? Jangan khawatir, Biskuat Academy terbuka secara umum untuk seluruh anak Indonesia dari Sabang hingga Merauke. Cara ikutannya juga sangat mudah! Tinggal membeli Biskuat kemasan khusus dan mendaftarkannya melalui WA sehingga sah mengikuti Biskuat Academy. Jika kamu beruntung dan menang Grand Final, bukan tidak mungkin kamu ikut tur ke stadion bola di Eropa. Menarik bukan?

growth mindset bagi anak

Growth mindset pada anak yang didukung oleh sumber daya

Apapun kemampuan anak, kita sebagai orangtua tidak boleh mengerdilkan anak sama sekali. Terus dukung anak saat mereka memiliki kemampuan non-akademis. Didik dan tanamkan anak kepribadian growth mindset agar mereka selalu siap menerima tantangan dan kegagalan. Sedih saat gagal itu wajar, tapi harus segera bangkit dan menjadikan kegagalan itu sebuah pembelajaran.

Jika si kecil memiliki minat dan bakat yang besar di bidang olahraga terutama sepak bola, bisa segera mendaftarkan mereka ke Biskuat Academy.



Unleash their potential, you never know what gonna happen if they have growth mindset and work hard on what they love!

growth mindset bagi anak


“Artikel ini diikutsertakan pada lomba KEB X Biskuat Academy”





Saat Anak Mulai Terlihat "Matre"

Tidak ada komentar

 "Ma, Hasan suka naik mobilnya A karena luas dan bagus. Hasan ga suka naik mobil lama", ujar Hasan tiba-tiba, sembari membuat jantung saya berdetak lebih cepat.

"Mobil lama maksudnya?" Tanya saya memastikan sambil berharap yang saya pikirkan salah.

"Hasan ga suka naik mobil Jazz sama Livina (yang merupakan mobil kami)."

Tahun 2022 ini Hasan genap 7 tahun dan pertama kalinya menjadi murid SD. Saat memilih SD, salah satu parameter adalah biayanya mulai dari uang pangkal hingga SPP bulanan. Salah satu alasannya selain agar ekonomi keluarga kami tetap stabil, kami ingin lingkungan pergaulan Hasan tidak beda dengan ekonomi kami.

Ternyata lingkungan pergaulan Hasan sesuai dugaan kami. Relatif setara meski tetap ada yang "di atas".

Kebetulan beberapa minggu terakhir ini diberlakukan kebijakan "shuttle" oleh sekolah. Jalanan di depan sekolah Hasan kecil sehingga saat jam antar dan jemput sekolah terjadi penumpukan kendaraan tidak tanggung-tanggung. Sudahlah numpuk, macet pula! Sebagai ilustrasi, jarak dari rumah ke sekolah Hasan hanya 2,5 km, tapi saat menjemput saya harus berangkat setengah jam sebelumnya! Kurang lebih sampai ke rumah kembali bisa makan total waktu 1 jam. Tentu saja, kendaraan antri menumpuk di sepanjang jalan depan sekolah Hasan kontan mendulang protes dari warga.

Akhirnya salah satu skenario untuk mengurai kemacetan adalah diberlakukannya "shuttle mandiri", alias tiap kelas mengorganisir sendiri jadwal shuttle dari kerelaan para orang tua yang menggunakan mobil kapasitas besar untuk menjemput anak dengan jumlah banyak sekaligus. Nantinya dengan kesepakatan internal, para orangtua menetapkan dimana titik penjemputan anak dari mobil shuttle.

Tentu saja anak-anak bahagia karena bisa ramai-ramai gaduh dalam satu mobil. Bahkan sebagian anak mengeluh kenapa trayeknya pendek sekali sehingga mereka hanya bisa bersama dalam jangka waktu pendek.

Namun, bagi sebagian anak menjadi ajang merasakan mobil temannya yang lain, termasuk bagi Hasan.

Sontak saja pernyataan Hasan di atas membuat saya sangat terkejut. Bagaimana mungkin, Hasan terbiasa "proletar" sejak kecil karena ekonomi keluarga kami masih belum stabil. Saya sering sekali mengajak Hasan naik angkutan umum kesana-kemari. Intinya, semua jenis moda angkutan umum sudah dirasakan Hasan. Hotel dari kelas rakyat sampai mewah juga sudah pernah ia rasakan. Selain itu Hasan juga bukan tipe anak yang merengek meminta sesuatu untuk dibelikan. Sampai belakangan ini sering terdengar,

"Ma, mau beli kartu pokemon di PIM kayak E"

Bahkan bisa berujung bad mood hingga setengah jam ke depan.

Bukan berarti ia matre

Jujur, memang awalnya saya terkaget-kaget dengan sikap Hasan belakangan ini. Namun saya berusaha berpikir jernih dan merasa mungkin Hasan sedang melewati fase "ledakan emosi". Apalagi ia punya kecenderungan FOMO (Fear of Missing Out), maka semakin terdoronglah alam bawa sadarnya menuntut agar ia bisa menyamai apa yang dilakukan dan dimiliki teman-temannya.

"Ajari dia kalau kita bukan ATM, ajari dia buat menabung!", respon suami setelah mendengar keluhan saya.

Memang betul, ini adalah momen yang tepat untuk mengajarkan anak mengendalikan diri dan mengajarkannya untuk menabung. Tidak semua yang diingini harus didapatkan. Tidak semua yang orang lain miliki harus kita miliki.

Hasan sejujurnya juga belum terlalu khatam perihal uang. Dia bisa menghitung uang cuma konsep konkretnya tetap belum 100% terbayang di otak dia. Buktinya, pernah beberapa kali dia menggunakan uang dan tidak minta kembalian dari sisa uang yang harus didapatkannya.

Akhirnya kami berencana untuk memberinya uang jajan secara harian dengan jumlah yang relatif kecil. Mungkin 2000 atau 5000 rupiah, menunggu didiskusikan dahulu bersama suami. Ia boleh membelanjakan uangnya setelah terkumpul, tapi harus memastikan bahwa tetap ada uang yang disisihkan untuk ditabung. Mungkin saya menuntut agar maksimal hanya boleh membelanjakan setengah dari uang yang didapatkannya.

Dari memberikan uang jajan, saya berusaha untuk mengajarkan bagaimana untuk selalu bersyukur, menahan diri dari nafsu membelanjakan, menabung, hingga berhitung.

Benarkah Menjadi Boks Bayi Perlengkapan Sia-sia?

Tidak ada komentar
“Salah satu barang perlengkapan bayi yang paling tidak ada gunanya: Box bayi. Sudahlah mahal, ujung-ujungnya malah jadi tempat tumpukan barang” kata sebuah postingan di Facebook.

Menjelang kelahiran bayi, para orangtua semakin disibukkan untuk menyiapkan peralatan si kecil mulai dari pakaian, mainan, stroller, hingga boks bayi. Para orangtua yang belum berpengalaman alias yang sedang menunggu kelahiran anak pertama biasanya kalut dengan cara menyiapkan semua peralatan dan perlengkapan bayi tanpa tahu urgensinya. Yang penting beli dulu. Tidak hanya membeli perlengkapan bayi, tapi juga turut membuat kamar bayi atau dalam bahasa gaulnya “nursery room”. Biar kayak orang-orang luar negeri, ujar beberapa orang tua (di dalam hati).

Salah satu perlengkapan bayi yang dinilai banyak orang (terutama di Indonesia) yang paling sia-sia adalah boks bayi. Benarkah boks bayi adalah perlengkapan bayi yang sia-sia?

Fungsi Boks bayi

Di beberapa negara barat, kehadiran boks bayi termasuk penting. Misalnya cerita salah seorang teman yang lahir di Belanda. Beberapa bulan sebelum jadwal kelahiran biasanya ada semacam perwakilan yang mengecek ke rumah calon orang tua apakah rumah tersebut layak ditinggali oleh bayi. Salah satu parameter yang dicek adalah boks bayi.

Fungsi dari boks bayi sesuai dari tujuan pembuatannya adalah menjaga keselamatan si bayi saat tertidur dari resiko terguling dari kasur. Bagi bayi-bayi kecil baru lahir mungkin terasa aman-aman saja jika menidurkan bayi di kasur karena toh mereka cenderung belum bisa terlalu bergerak. Namun, lambat laun kemampuan motorik bayi meningkat. Dari yang gerak uwel-uwel hingga berbalik badan.

Gerakan uwel-uwel bayi sudah cukup membuat mereka berpindah tempat dari tempat awal ditidurkan. Salah satu solusi yang dilakukan oleh banyak orangtua adalah menaruh bantal di sekeliling mereka saat sedang tidur. Solusi ini biasanya sukses sampai sang anak bisa membalik badannya di waktu yang tidak kita sangka-sangka. Bukan jarang sang anak bisa melewati bantal yang ditumpuk setelah mencapai kemampuan motorik kasar ini.


Setelah bayi semakin banyak bergerak, biasanya banyak orangtua yang memilih tidur di kasur tanpa dipan dengan harapan kalaupun si bayi “jatuh”, maka tidak akan menimbulkan cedera berarti. Beberapa orangtua juga memilih memepetkan kasur ke dinding dan memasang pagar kasur agar si kecil tidak jatuh saat berada di tempat tidur.

Fungsi sekunder boks bayi adalah sebagai tempat menaruh bayi agar sang bayi tidak menjangkau benda-benda berbahaya saat orangtua ingin melakukan hal lain di ruangan yang berbeda, misalnya masak.

Banyak yang mengklaim kehadiran boks bayi tidak sesuai tradisi parenting di Indonesia dan lebih cocok bagi teknik parenting orang-orang barat. Tapi apakah seperti itu?

Boks bayi bagi keluarga kami

Sebagian besar keluarga di Indonesia kontra terhadap penggunaan boks bayi, alias sia-sia belaka dan hanya menjadi tempat menumpuk barang belaka. Tetapi tidak dengan keluarga saya.

Orang tua saya tidak menggunakan boks bayi saat saya kecil dahulu, tapi keluarga suami saya menggunakan untuk kelima anaknya. Kami pun diberikan boks bayi sejak dari anak pertama.

Anak pertama kami tidur di boks bayi sampai ia berusia 2 tahun dan dipindahkan ke kasurnya di kamar sendiri. Ia tidak selalu berada di boks bayi karena sering tengah malam ia menangis dan saya harus mengambilnya untuk menyusui. Dari yang awalnya mengembalikannya ke boks bayi setelah menyusui, lama-lama saya mengetahui kalau si sulung ini menangis sebenarnya tidak butuh menyusui, tapi tersadar saat berada di fase melanjutkan siklus tidur dan ingin “kehangatan” agar ia bisa melanjutkan siklus tidurnya kembali. Alhasil, banyak setengah malam terakhir si sulung di habiskan di kasur kami.

Anak kedua kami tidur di boks bayi sampai usia 2 tahun lebih 1 bulan. Berbeda dibandingkan si sulung, kehadiran boks bayi bagi si tengah SANGAT VITAL. Si tengah tipe tidur yang teramat lasak (bergerak kesana kemari). Beberapa kali menaruh si tengah tidur malam di kasur kami dan berujung dengan ketidaknyamanan saya tidur karena berulang kali ia hampir jatuh.

Bahkan, saat sakit pun jika ia berada di kasur kami baik tidur saya dan tidur si tengah sama-sama tidak nyenyak. Kenyamanan si tengah untuk melanjutkan siklus tidur adalah bau saya ibunya, jadi asal ia dibekali daster kotor saya untuk dipeluk, maka bakalan nyenyak tidurnya. Itulah alasan kenapa bahkan saat si tengah sakit saya lebih memilih menaruhnya tidur di boks dengan bekal daster kotor saya. Tidurnya dan tidur saya sama-sama menjadi nyenyak. Bukan kah salah satu resep cepat sembuh adalah tidur yang cukup? Si tengah cepat sembuh dan saya meminimalisir ikut-ikutan sakit karena minim tidur.

Anak ketiga kami memiliki pola kurang lebih sama dengan si sulung, tipe haus “kehangatan” jadi ia sering terbangun tengah malam menangis dan minta menyusu sebagai bentuk minta “kehangatan”. Si bungsu tidur di boks bayi hanya sampai usia 22 bulan saja karena ia lebih senang didekap saat sebelum tidur.

Pro-kontra boks bayi

Boks bayi banyak tidak terpakai karena banyak orangtua yang lebih memilih menyusui si kecil sambil tiduran. Tentunya penggunaan boks bayi tidak akan efektif karena ngapain harus memindahkan si bayi lagi ke boks bayi dengan risiko terbangun padahal ia sudah jatuh tertidur di kasur orangtuanya. Bayi yang terbangun malam hari juga sesimpel disusui sambil tiduran juga, jelas lebih simpel ketimbang harus mengambil dari boks bayi, menyusuinya, dan mengembalikannya lagi ke boks bayi tetap dengan risiko bayi terbangun.

Salah satu yang menjadi alasan pokok saya lebih senang menggunakan boks bayi adalah karena saya tidak bisa menyusui sambil tiduran. Pernah sih saat jaman anak pertama, tapi kerap kali puting saya lecet. Ketimbang risiko puting lecet meningkat, saya lebih memilih menyusui duduk. Begitulah saya menyusui sampai di akhir menyusui anak ketiga ini.

Kontra boks bayi berikutnya adalah karena ada opsi lain mengurangi potensi cedera jatuh pada si kecil berupa penggunaan kasur tanpa dipan dan penggunaan pagar tempat tidur. Penggunaan kasur tanpa dipan bagi kami bukan lah opsi karena tidak ergonomis dan tidak ada ruangan lain untuk menyimpan headboard dan dipan. Pun, kami tetap tidak sreg jika harus menggunakan kasur dengan pagar.

Pro boks bayi lainnya bagi kami adalah untuk tempat menaruh anak saat saya sedang mandi atau pun masak. Mungkin bayi akan menangis meraung-raung saat saya tinggalkan sendirian di kamar, tapi itu adalah opsi yang lebih baik ketimbang potensi bahaya yang ia hadapi jika membiarkan ia tetap merangkak atau jalan di lantai dan menjangkau benda-benda berbahaya. Mungkin bayi yang sudah bisa berdiri memiliki potensi memanjat boks bayi dan keluar dengan potensi jatuh dari pagar boks bayi. Namun, potensi kemungkinan itu terjadi tetap lebih kecil ketimbang bahaya di luar boks bayi.

Boks bayi atau tidak?

Pada akhirnya, pilihan untuk menggunakan boks bayi atau tidak sama sekali adalah pilihan dari masing-masing orangtua dengan mempertimbangkan gaya hidup dan pola asuh yang diterapkan. Bagi keluarga saya sih kehadiran boks bayi penting dan tetap akan menggunakannya hingga kami memiliki bayi lagi nantinya. Bahkan, saya sampai meminjam boks bayi kedua dari teman karena selisih umur si tengah dan si bungsu hanya 19 tahun sehingga sama-sama membutuhkan boks bayi.

Abangku Guruku, Uniku Idolaku

17 komentar


“Tu, wa, tiga, epat, lima, ena, ujuh, lapaa, bilaaa, puluu,” ujar si bungsu yang belum genap dua tahun tempo lalu.

Sontak saya sedikit kaget, perasaan dulu si sulung dan si tengah belum bisa berhitung komplit sampai sepuluh di usia yang belum genap dua tahun. Jangankan berhitung, mereka mulai banyak ngomong saat usia mendekati dua tahun.

Tiap anak memang berbeda-beda. Meski berasal dari rahim yang sama, tapi kemampuan, bakat, dan sifat bisa berbeda-beda pula.

Si sulung dan si genap termasuk lama baru bisa ngomong. Pun, si tengah yang kini berusia 3,5 bulan masih kerap tidak mengucapkan sebuah kata lengkap dengan huruf matinnya. Misalnya makan masih maka dan minum menjadi minu.


Paket laki dan perempuan

Saya punya tiga anak: 1 laki-laki dan 2 perempuan. Baru si sulung saja yang laki-laki. Selisih si sulung dan si tengah 3,5 tahun lebih, selisih yang cukup lumayan termasuk perkembangan kemampuannya. Sementara, 2 anak perempuan saya berusia cukup dekat, hanya 1,5 tahun. Jenis kelamin yang sama dan jarak usia yang dekat membuat mereka sering main bersama dan memiliki rentang perkembangan dan kemampuan yang tidak jauh berbeda.

A kid imitates what her big sibling does.

One, two, three, four, five, six, seven, eight, nine, ten!” Teriak si tengah yang berusia 3,5 tahun.

Beruntung yang menjadi anak pertama si sulung yang istilahnya benar-benar wonder boy yang cocok menjadi proyek percontohan. Si sulung patuh, rapi, suka keteraturan, tidak manja, kuat, rajin membersihkan mainan, dan yang paling menarik dia senang mengajarkan sesuatu.

Termasuk mengajarkan adik-adiknya. Perlu saya akui, banyak kemampuan dini yang si tengah kuasai adalah berkat jasa si sulung. Adik bisa main puzzle, adik hapal al-fatihah, adik bisa berhitung dalam bahasa Inggris.

Hanya ada satu yang ia tidak meniru keteladanan si sulung. Adik manja dan malas membersihkan mainan haha.

Si sulung kini sudah sekolah, meninggalkan adik-adiknya berantam di rumah. Meski si sulung sekolah full day, tapi tetap masih bisa banyak ia ajarkan ke adik-adiknya. Selanjutnya, tentu saja si bungsu banyak belajar dari si genap.

Paket ganjil dan genap

Unik sekali, anak-anak saya kalau ingin dirangkun bisa disebut paket ganjil dan paket genap. Tentu istilah semacam ini tidak hadir begitu saja. Paket ganjil, yakni anak urutan ganjil (si sulung dan bungsu) memiliki fisik yang relatif sama meski berbeda jenis kelamin. Rambut lurus, kulit lebih coklat, muka bulat, hidung lebar, dan kelakuan pun sama teladannya. Sementara paket genap, yakni anak urutan genap (si tengah) memiliki fisik dan sifat berbeda signifikan. Rambut kribo, muka lonjong, kulit putih, dan kelakuan bak ratu.


“Minuuuuuuum” rengek si tengah sebagai kode ke saya minta diambilkan minum yang CUMA berjarak 10 cm.

Saya sih ogah ya melayani si kemanjaan si tengah haha. Namun, tiba-tiba tanpa disuruh ada si bayi mandiri turun dari kursinya dan mengambilkan minum si tengah komplit dengan mengantarkan langsung ke tangan si tengah.

Gawat banget kan ya.

Makanya saya sering bilang, si bungsu itu seperti si sulung cuma menjadi agak kurang mandiri karena suka meniru si tengah. Uniku idolaku menurutnya. Apa yang dilakukan Uni langsung mentah-mentah dilakukan, bagaikan yang dilakukan Uni adalah cara hidup yang benar di dunia haha.

Si tengah mau baca buku, si bungsu juga mau pegang buku. Si tengah menolak jalan keluar, si bungsu juga menolak padahal sudah diimingi buat mencari kucing yang merupakan hewan kesayangannya di jalanan komplek. Yang lucunya, si tengah punya kebiasaan aneh untuk tidur sambil memeluk daster kotor sore saya. Merasa itu adalah tindakan yang harus dicontoh, si bungsu pun merengek minta daster saya juga meski ia tidak faham kenikmatan apa yang didapatkan uninya oleh daster kotor itu hehe.

Karena jarak usia mereka dekat, maka perkembangan kemampuannya juga dekat. Makanya banyak ilmu-ilmu yang dimiliki si tengah sudah dimiliki si bungsu, seperti berhitung satu sampai sepuluh.

Kuartal akhir tahun ini juga saya bersama si tengah sesekali hilir mudik untuk survey calon TK untuk tahun depan. Tidak cuma si tengah yang berkeliling dan main, tapi si bungsu pun ikutan. Belum lagi kepribadian si bungsu yang sangat supel sehingga tanpa berpikir ia mau bergaul dengan orang yang baru dikenal.

Pentingnya anak pertama sebagai percontohan

Melihat perkembangan ketiga anak ini, sering terbersit di hati saya kalau saya sangat sangat bersyukur memiliki si sulung sebagai anak pertama. Ia merupakan tipe anak yang membuat orangtua ingin memiliki selusin anak. Tanpa disadari pun si sulung jadi sering memberikan pengaruh positif bagi adik-adiknya. Si sulung memeberikan contoh positif kepada si tengah, si tengah pun turut memberikan contoh positif ke si bungsu. Begitu pula seterusnya jika (insya Allah nanti) si bungsu punya adik lain.

Jika dulu saya sedikit menyesalkan kenapa jarak si sulung dan si tengah cukup jauh, maka kini saya agak bersyukur karena saya merasa banyak waktu bersama si sulung berdua saja dan kesempatan menanamkan nilai nilai kepribadian positifnya.

Cara Memilih TK Terbaik untuk Anak

19 komentar
Memasuki kuartal keempat tahun 2022, banyak para orangtua yang bingung bagaimana cara memilih TK terbaik untuk anak.

Bukan rahasia umum, banyak sekolah di Jabodetabek yang sudah membuka pendaftaran untuk tahun ajaran 2023/2024. Bahkan, ada juga yang sudah membuka gelombang pendaftaran pertama sejak Agustus 2022. Loh, baru awal tahun ajaran baru malah sudah buka pendaftaran tahun ajaran  berikutnya.

Not to mention beberapa sekolah yang sudah waiting list sejak anak masih dalam kandungan *ups* 😏.

cara memilih tk

Survei sekolah selalu menyenangkan, sekaligus memusingkan. Terakhir kali saya lakukan saat di penghujung tahun 2018, yakni survei TK si sulung untuk tahun ajaran 2019/2020. Sebenarnya si sulung tahun 2022 ini masuk SD sih, tapi anehnya kami malah tidak melakukan survei seperti TK haha. Kayaknya memang saya sudah mengincar SD si sulung sekarang sejak baru buka cabang Lebak Bulus. Pun, sepupu si sulung sudah ada yang sudah bersekolah di sana, jadi lebih mudah untuk bertanya langsung untuk mengetahui tentang pembelajaran di SD ini.

Untuk si tengah, saya menginginkan kriteria TK yang mirip dengan TK si sulung 3 tahun silam baik dari segi rentang harga, waktu sekolah, dan jarak rumah ke sekolah. SPP si sulung di bawah 1 juta, memiliki waktu sekolah pukul 07.30 hingga 11.00, dan jarak rumah ke sekolah kurang dari 3 km.

Loh, kenapa sekalian saja si tengah dimasukkan ke TK yang sama dengan si sulung? Tidak bisa bos, soalnya kini kami sudah pindah rumah, makanya saya pun harus mengulangi kembali survei TK.

Tidak ada sekolah yang sempurna, begitu pula TK sang buah hati. Pilih yang tidak sempurna tidak apa-apa. Kenapa? Simak dulu cara memilih TK terbaik untuk anak berikut inI!

1. Berada dalam rentang harga yang disanggupi

Jujur saja, rentang harga baik uang pangkal hingga SPP bulanan pasti menajdi kriteria pertama para orangtua sebelum menentukan sekolah mana saja yang masuk ke shortlisted berikutnya. Jelas, ini berkaitan dengan kemampuan ekonomi.

Serta gaya hidup anak (dan orangtuanya).

Dalam memilih sekolah anak pastikan mempertimbangkan komponen uang pangkal (termasuk seragam, aktifitas, dan sebagainya) serta uang SPP bulanan. Kadang-kadang ada sekolah yang uang pangkalnya murah, tapi SPP bulanannya besar banget. Ada juga yang SPP bulanannya tidak terlalu mahal, tapi uang pangkalnya tidak masuk akal. Ada, ada banget di salah satu TK yang saya survei.

Kadang ada yang tertipu dengan uang pangkal murah tapi SPP bulanan. Iya mampu bayar di awalnya, tapi tiap bulannya membuat perekonomian rumah tangga ketar-ketir. Beberapa tidak mempermasalahkan sekolah dengan uang pangkal mahal tapi SPP bulanan terjangkau. Toh hanya dibayarkan sekali di awal. Tapi bagi saya ini sesuatu karena merasa tidak adil saja, kok uang pangkal sekolah A besar banget, padahal fasilitasnya kurang lebih sama dengan sekolah lain dengan uang pangkal lebih rendah.

Malahan, saya pernah membaca sebuah ulasan yang menjelaskan baiknya SPP dan uang pangkal anak sepersekian gaji kedua orangtua. Kalau dipikir ini cukup masuk akal sih, selain tidak membuat perekonomian rumah tangga ketar-ketir, pergaulan anak dan antar orangtua anak juga biar lebih "sekufu".

2. Jarak rumah-sekolah dan kemacetan

Pengalaman punya anak yang jarak TK-nya dekat? ENAK BANGET!

Bagi saya, jarak TK WAJIB dekat. Soalnya rata-rata mereka cuma sekolah 3 hingga 4 jam saja. Males banget kan kalau punya anak tapi TKnya jauh. Berangkat sekolah harus lebih awal yang artinya anak harus bangun lebih awal pula. Tahu sendiri lah, mayoritas anak usia TK sulit untuk disiapkan pagi-pagi benar. Selesai ngantar, baru duduk bentar dan beberes 1,5 jam, eh harus berangkat lagi! Pulang sekolah juga bakalan lebih lama sampai rumahnya.

No to mention the gasoline you pay for the long journey.

Saat TK, si sulung masuk jam 7.30. Karena sekolah dekat, saya baru membangunkannya pukul 6.45. Kemudian saya mandikan dan temani sarapan. Jam 7.15 sudah berangkat. Biasanya saya sampai rumah kembali pukul 8 kurang karena lalu lintas mulai padat. Lumayan saya punya waktu bersih-bersih, masak, istirahat, dan mengurus si tengah yang masih bayi selama 2,5 jam. Jam 10.45 saya sudah berangkat lagi untuk menjemput si sulung. Jam setengah 12 biasanya sudah sampai rumah dan bisa istirahat sebentar sebelum makan siang.

Kalau sekarang mungkin saya akan lebih picky dalam memilih TK si tengah. Tidak hanya jarak maksimal sekitar 3 kilometer, tetapi arahnya sebisa mungkin menyesuaikan dengan si sulung. Beberapa sekolah yang tidak searah sama si sulung masih ada yang saya pertimbangkan, asal searah dengan rumah saya karena aya tidak harus membawa si tengah ikut serta saat mengantar si sulung. Jadi setelah mengantar si sulung, saya bisa menjemput si tengah di rumah dan langsung mengantarnya ke sekolah.

Saya bisa menitipkan si tengah ke ART dahulu di rumah. Lumayan kan ia bisa sarapan terlebih dahulu saat saya mengantar si sulung ke sekolah terlebih dahulu.

Tidak cuma itu, ada juga sekolah yang meski jaraknya dekat dengan rumah, tapi waktu tempuhnya bisa cukup lama karena terjebak kemacetan.

"Lalu lintas sekarang sudah ramai banget, makanya jam masuk TK A dan TK B dibedakan." Ujar salah seorang guru di salah satu TK yang saya survei.

Mungkin setelah menetapkan shortlisted terakhir, ada baiknya para orangtua menguji kemacetan terlebih dahulu dengan cara mensimulasikan antar sekolah anak di TK tersebut di waktu masuknya. Apakah kena macet saat mengantar dan pulangnya?

Kalau pulangnya kena macet, ya sama aja sih, baru duduk bentar harus berangkat jemput lagi. Kalau bagi saya sih jadi mengurangi pembobotan poin sekolah yang nantinya akan dipilih.

3. Jam sekolah

Cara memilih TK terbaik untuk anak ini juga berkaitan dengan kemacetan yang dihadapi serta ritme aktivitas yang akan disinkronisasi dengan pengantar.

Salah satu TK yang saya survei menyebutkan bahwa anak TK A masuk pukul 8.30. Langsung saya merasa sangat berkeberatan meski TK ini dekat dengan rumah dan lokasinya dekat dengan SD si sulung. Namun jam masuk yang agak ganjil ini sangat tidak sinkron sama jadwal tahsin saya yang 2 hari seminggu. Tidak hanya itu, kalaupun saya tidak ada aktivitas, saya menyelesaikan aktivitas antar anak bakal lama sekali, yakni dari jam 6.40 sampai jam 8.50!

4. Kekurangan yang masih bisa ditolerir

Sekolah A hampir sempurna tapi kurang di x.
Sekolah B hampir sempurna sayangnya dia tidak y.
Sekolah C suka banget, tapi dia tidak z.

Pada akhirnya memang tidak ada sekolah yang sempurna, selalu ada kurangnya. Tinggal kekurangan mana yang bisa kita toleransi.

Di keluarga kami, ada spesifikasi wajib dan ada spesifikasi opsional. Beberapa spesifikasi wajib adalah sekolah Islam, dalam rentang 3 km, dan biaya yang sesuai. Untuk spesifikasi opsional seperti jam masuk, fasilitas, dan metode pengajaran.

4 tahun lalu saat saya survei TK si sulung, saya sangat ingin si sulung masuk ke sebuah TK yang bagi saya sempurna sekali dari semua aspek, kecuali harga. Harga yang cukup mahal bagi kami ini cukup menjadi poin minus mengingat pada saat itu perekonomian kami juga belum stabil. Beberapa parameter yang unggul di mata saya namun pada akhirnya saya berdamai adalah sekolah sunnah dan hafal juz 30.

Pada akhirnya kedua parameter itu menjadi kekurangan yang masih bisa ditolerir jika saya mengambil sekolah lain tanpa program dan visi misi tersebut. Bagi kami, TK belum waktunya memamkan sumber daya anggaran besar, Anak pun masih banyak dalam pendidikan saya karena jam sekolah hanya 3.5 jam. Alhamdulillah, 2 tahun TK si sulung bisa membedakan mana doa pendek yang sesuai tuntunan sunnah dan bisa menjelaskan ke gurunya kalau diajarkan doa yang lain. Selain itu, alhamdulillah si sulung bisa tamat menghafalkan Juz 30 sebelum menyelesaikan TK B.


Berkaca dari pengalaman anak pertama, saya mengambil pembelajaran yang cukup bagaimana cara memilih TK terbaik untuk anak. Bagaimana meramu semua kriteria dan kemampuan dan mengkombinasikannya dengan pendidikan di rumah demi anak mendapatkan output yang terbaik.

Manfaat Jalan Kaki ke Sekolah bersama Anak

13 komentar
Meski jarak SD si sulung dari rumah kurang dari 3 km, saya rutin jalan kaki ke sekolah bersama anak. 

Tiap hari saya mengantarkan si sulung ke sekolah menggunakan mobil. Kadang-kadang banget sih babehnya antar, karena biasanya babehnya sudah sepedaan ke kantor sejak jam setengah 7. Terakhir babehnya mengantarkan si sulung saat dua adik gadisnya si sulung sakit dan ART saya pulang bulan lalu.

Lho, katanya antarnya naik mobil, kok tetap jalan kaki ke sekolah bersama anak?

manfaat jalan kaki

Begini, jarak sedekat itu kalau full menggunakan mobil harus spare waktu hampir 40 menit sebelum jam masuk supaya si sulung tidak telat masuk. Harus mengantri lampu merah simpang dan mengantri di jalan kecil depan sekolah si sulung lah yang menyebabkan waktu perjalanan sangat lama.

Tidak rela dong saya rumah dekat banget tapi butuh 40 menit mengantarkan sekolah. Beruntung saat awal-awal suami mengantarkan si sulung ke sekolah, ia menemukan jalur pintas ke sekolah supaya tidak usah repot-repot antri lampu merah dan antri di jalan kecil. Jadi, mobil cukup diparkirkan di lahan parkir depan depo gas dan bengkel di samping gang, kemudian kami jalan melewati gang rumah-rumah warga sejuah 300 m.

Kini kami bisa berangkat 20 menit sebelum jam masuk sekolah! Meski harus combo jalan kaki ke sekolah bersama anak, justru saya semangat menyambut pagi tiapi mau antar anak ke sekolah. Tidak kebayang jika saya harus menghabiskan 40 menit untuk mengantar si sulung sekolah 5 hari dalam seminggu. Sudahlah capek hati, habis bensin pula.

Ternyata ada beberapa manfaat jalan kaki ke sekolah bersama anak yang membuat saya bersemangat tiap Senin hingga Jumat meski harus bangun lebih pagi.

1. Menaikkan mood

manfaat jalan kaki
Saya tipe orang yang saat keluar rumah, inginnya sudah mandi. Dulu aja jaman kuliah pagi jam 7, saya rela mandi meski hanya 2 menit saat telat bangun pagi (dulu sehabis subuh suka tidur lagi ehehe). Ketimbang saya keluar rumah dalam keadaan pliket, muka berminyak, panas, tidak segar, dan hanya membungkus diri dengan jilbab dan jaket tambahan, mending saya maksa mandi meski kilat tapi dalam keadaan penampilan sudah siap beraktivitas.

Saat jalan kaki ke sekolah bersama anak pun membuat diri terpapar sinar matahari. Jalan kaki 600 m pulang-pergi artinya membuat saya melakukan aktifitas fisik ringan di tiap Senin dan Jumat.

Menurut buku Why We Sleep karangan Matthew Walker, langsung beraktifitas saat matahari terbit membuat tubuh memaksimalkan siklus sirkadian yang menandakan tingginya kewaspadaan. Terpapar matahari pagi juga menekan pelepasan melatonin dalam tubuh yang merupakan hormon tidur. Melatonin ini bisa terus dikeluarkan oleh tubuh saat dalam keadaan gelap. Makanya, Ikut jalan kaki bersama si sulung dibandingkan di rumah saja sangat berpengaruh untuk mood saya seharian itu.

Jalan kaki ke sekolah bersama anak pulang-pergi sejauh 600 meter menghabiskan waktu sekitar 10-15 menit tergantung jalan cepat atau jalan santai. Saya yang tipe introver pemikir ini tentu akan sangat memaksimalkan momen kesendirian ini karena saya bisa sendiri dan berpikir dengan tenang sembari menghirup udara segar di luar ruangan. Bagi saya kesendirian ini tiap harinya cukup penting mengingat saat pulang ke rumah saya relatif tidak memiliki waktu untuk pikiran sendiri karena harus berinteraksi sama 2 adik gadisnya si sulung.

Inilah manfaat jalan kaki ke sekolah bersama anak yang selalu saya rasakan tiap harinya.

2. Bonding

manfaat jalan kaki
Si sulung dan adik tertuanya berjarak 3,5 tahun lebih, artinya selama 3,5 tahun itu pula saya mudah melakukan bonding time degan si sulung, termasuk saat melakukan traveliving. Semua berubah saat adik kedua dan ketiganya lahir. Bisa dihitung, saya cukup jarang melakukan bonding time lama bersama si sulung saja tanpa terdistraksi adik-adiknya. Terakhir yang saya ingat adalah saat mengantarkan Hasan ke dokter kulit berdua saja 2 tahun lalu.

Meski si sulung sudah beranjak besar, tangki perhatian untuk si sulung harus diisi selalu. Kalau saya dapat berduaan dengan si sulung minimal 20 menit tiap 5 hari dalam semingu, why not? Selama di mobil kami bisa ngobrol tanpa terdistraksi adik-adiknya yang minta perhatian. Begitu juga saat jalan kaki ke sekolah bersama anak. Bahkan hal-hal remeh temeh pun bisa kita perbincangkan dan menjadi salah satu momen pergi sekolah.

Saat sampai di sekolah, saya juga bisa lebih proper mengantarnya di depan sekolah. Menyalami dan mencium pipinya. Rasanya beda jika saya melepas si sulung pergi sekolah di rumah saja.

Namun, kami tidak selalu berdua saja. Si tengah suka sudah bangun dan akan merengek untuk ikut mengantar abangnya. Dibanding bertengkar, mending saya boyong saja sekalian hehe. Lumayan, si tengah yang suka “manja” itu jadi terpaksa ikut jalan kaki 600 meter dan secara tidak langsung berjemur di bawah matahari sambil menghirup udara segar.

Coba kalau di rumah di ajak jalan keluar, pasti suka malas-malasan dia. Lumayan kan salah satu manfaat jalan kaki ke sekolah beserta si tengah juga termasuk melatihnya mampu jalan jauh. Mempersiapkan fisiknya saat travelling nanti.

3. Mengamati sekitar

manfaat jalan kaki

Ada banyak hal yang bisa diamati saat jalan kaki dibandingkan saat naik transportasi umum atau naik mobil pribadi. Saat naik kendaraan bermotor, kita begitu cepat melewati suatu area sehingga tidak sempat mengamati sekitar lebih detil. Itulah makanya saat travelling, saya sebisa mungkin menyempatkan jalan kaki di pinggir jalan demi mengamati hal-hal yang "tidak" terlihat.

Misalnya saat kami traveliving sebulan di Yogyakarta. Meski kami bawa mobil, kadang-kadang saya jalan-jalan bersama si sulung naik trasportasi umum yang pastinya harus disertai kombo berjalan kaki. Saat saya berjalan kaki di area Malioboro, saya bisa mengamati jenis manusia apa yang lalu lalang, arah tujuan manusia yang bersliweran, hubungan harga-waktu-pengunjung di Gudeg Mbah Lindhu, hingga menemukan hidden gem berupa kafe di gang semping Sosrowirjan.

Mengamati sekitar adalah manfaat jalan kaki yang selalu saya nikmati. Saat jalan kaki ke sekolah bersama anak pun saya bisa melihat denyut dan sendi kehidupan warga di sekitar sekolah si sulung. Mengetahui bahwa banyak guru sekolah si sulung yang ngekos di area tersebut. Ada juga adik-kakak yang sama-sama murid satu sekolah dan secara kebetulan sering kami lihat saat mereka berangkat sekolah.

Hal-hal lucu lainnya adalah ternyata area gang-gang pemukiman di sekitar sekolah si sulung sering dipakai untuk syuting. Belakangan saya baru tahu (lebih tepatnya akhirnya tahu karena ngintip hehe) bahwa itu adalah syuting sinetron “Tukang Ojeg Pengkolan”. Kami juga melewati kandang ayam yang terkadang ayamnya sudah bersliweran serta kandang yang berisi musang yang ditangkap warga dan sepertinya kemudian dipelihara.

Begitulah manfaat jalan kaki ke sekolah bersama anak yang benar-benar saya nikmati di tiap harinya. Alih-alih tertekan karena harus sudah bersiap sejak pagi, saya malah menyambut dengan sukacita karena bisa merasakan banyak hal dengan hanya jalan kaki ke sekolah mengiringi si sulung.


Mood yang stabil, bonding bersama anak, aktifitas fisik ringan, terpapar sinar matahari, hingga mengamati hal unik di sekitar. Hampir tidak ada deh alasan tidak senang ikut jalan kaki ke sekolah bersama anak :)