Featured Slider

Lahiran Anak ke-3, dari Tandem Menyusui sampai Lahiran Gratis di RSUD

2 komentar

Sabtu, 7 November 2020 pukul 16.02

Alih-alih liburan ringan ke tempat yang tidak terlalu jauh, saya malah mengalami pengalaman mendebarkan dan tidak terlupakan seumur hidup saya. Alih-alih tidur di kamar hotel, saya malah tidur di "barak".

Husna Adilla Reksoprodjo hadir di tengah kami tanpa terduga. Hadir 2-3 minggu lebih cepat dari dugaan saya dan suami. Rencana liburan pekan itu boleh gagal, namun Allah menghadirkan rencana lebih baik yang indah dikenang.

Lahiran gratis rsud


Pengalaman Baru

Kehamilan yang tidak terduga

Kami baru diberikan rejeki kehamilan Hasan setelah 8 bulan menikah. Saya hamil Bilqis setelah setahun lebih  berusaha meski kami tidak menggunakan KB sama sekali. Isakan demi isakan saya lalui tiap bulannya saat mengetahui saya menstruasi. Siapa yang menyangka kalau saya hamil lagi saat Bilqis berusia 1 tahun kurang? Berbeda dengan saya yang tidak pernah mengingat-ingat jadwal menstruasi saya, suami hampir selalu ingat sehingga kenyataan saya hamil cukup membuat ia terkejut. Berdasarkan hitungan dia, harusnya saya tidak hamil. Tapi kenyataanya berkata lain.


Punya anak jarak dekat

"Kenapa ya jarak Hasan (anak pertama) dan Bilqis (anak kedua) jauh. Kan kalau selisih umurnya sedikit enak bisa sekalian, sekalian capek." ujar saya


Saat Hasan lahir, saya dan suami memang berencana untuk memberikan Hasan adik dengan usia tidak jauh, sekitar 2 tahun. Pun, saya tidak menggunakan KB dan tidak berencana menunda kehamilan melihat rekam jejak sebelumnya dibutuhkan waktu cukup lumayan sebelum hamil Hasan.

Ternyata manusia hanya bisa berencana dan Allah-lah yang menentukan. Saya yang sebelum hamil Hasan memiliki siklus sangat teratur tiba-tiba kacau balau setelah mendapat haid paska melahirkan Hasan. Gejolak  hormon yang tidak tentu ditambah dengan menyusui membuat kami belum diberi rezeki hamil adiknya Hasan agar berjarak 2 tahun. Alhamdulilah, 2-3 bulan setelah Hasan lulus menyusui 2 tahun, saya diberi rezeki hamil adik Hasan. Betapa senang hati kami, akhirnya penantian kami terbayar. Yah, tidak mengapa selisih Hasan dan adiknya 3 tahun, meski terbersit rasa berat karena selisih 3 tahun artinya kami akan bayar uang pangkal sekolah Hasan dan adiknya secara bersamaan!

Qadarullah, dokter menyatakan janin tidak berkembang dan harus dikuret beberapa hari setelah diagnosa. Betapa mencelosnya hati saya. Rasanya dunia tidak adil. Sudahlah kami bukan tipe cepat mendapatkan momongan, kini harus dihadapkan dengan kenyataan abortus. Mana keadaan kami pada saat itu relatif pas-pasan. Biaya untuk kuretase cukup mahal namun tidak menghasilkan "apa-apa", alias tidak ada bayi. Rasanya kayak buang uang sia-sia.


Menyusui saat hamil

"Bisakah aku menyempurnakan penyusuan sampai 2 tahun?" ujar saya dalam hati.

Berangkat dari keinginan awal ingin memiliki anak dengan jarak usia 2 tahun, saya kerap berpikir apakah saya bisa menyusui saat hamil, atau bahasa populernya Nursing While Pregnant (NWP)? Kalau anak jarak usia 2 tahun otomatis sudah hamil meski masih dalam keadaan menyusui anak sebelumnya.

Apakah menyusui saat hamil berbahaya?

Dari hasil baca-baca dan mendengar pengalaman yang lain, menyusui saat hamil tidak berbahaya asal tidak membahayakan kehamilan dan asupan gizi masuk memadai. 

Saya baru tahu kalau saya hamil pada bulan April berdasarkan hasil testpack, kira-kira Bilqis berusia 1 tahun. Kami memang menginginkan menambah anak dalam kurun waktu tidak lama, tapi yah tidak secepat itu mengingat kami memiliki beberapa rencana ke depan yang terasa lebih baik apabila belum menambah anak lagi. Baik suami dan saya tidak ada yang menyangka.

Awalnya kami berencana untuk konsul di dokter kandungan langganan kami di Cibubur, namun karena yang bersangkutan tidak praktek dahulu dalam jangka waktu lama, akhirnya kami memutuskan untuk mengecek kehamilan di RS Islam Cempaka Putih yang berlokasi sangat dekat dengan apartemen kami. Mengingat tahun 2020 ini dunia sedang dikepung pandemi COVID, saya memutuskan untuk berangkat sendiri ke Rumah Sakit. Untung pada saat itu masih diberlakukan Work From Home (WFH) bagi suami, sehingga ia bisa menjaga anak-anak di apartemen.

Alhamdulillah, ternyata benar ditemukan kantung hamil. Kabar buruknya, terlihat gumpalan warna hitam di bagian bawah yang artinya ditemukan pendarahan pada rahim.

"Tapi selama ini tidak ada darah yang keluar, dok!", ujar saya tidak percaya.

Akhirnya dokter memberikan progesteron sebagai penguat kandungan. Saya pun mulai curiga, apakah akibat saya masih menyusui anak kedua saya. 

"Sebenarnya tidak juga.", jawab sang dokter.

Secercah kabar baik bagi saya. Pada saat itu saya agak sedih, masa harus secepat itu "berpisah" dengan anak kedua saya? Masa dia hanya menerima penyusuan setahun? Akhirnya di dalam hati saya mencoba mengambil jalan tengah, tetap menyusui tapi mengurangi frekuensi menyusui, hanya 2 kali saja yaitu saat menjelang tidur siang dan tidur malam dengan harapan tidak melukai janin.

Sebulan kemudian, saya kembali kontrol. Alhamdulillah, pendarahan sudah tidak terlihat lagi di USG. Rasanya lebih tenang hamil sembari menyusui Bilqis. Kontraksi? Tidak. Mungkin sedikit lebih menantang saat usia kehamilan bertambah besar karena harus memposisikan Bilqis sedemikian rupa agar tidak menindih perut saya.

Ujian NWP juga terjadi saat trimester tiga. Entah mengapa, puting terasa lebih sensitif sehingga terasa nyeri tiap Bilqis menyusui. Mana Bilqis tipe menyusui seenaknya, alias banyak gaya. Benar-benar bikin saya harus memposisikan Bilqis sedemikian rupa agar rasa nyeri tidak semakin menjadi-jadi.

Menyusui tandem

"Gimana ya rasanya menyusui tandem? pasti enak deh, 2 anak nyusuinnya ga genap 4 tahun" pikir saya bertahun-tahun lalu.

Husna lahir saat Bilqis berusia 19 bulan. Itu artinya saya harus melakukan penyusuan tandem!

Saya memiliki sejarah dua kali sulit menyusui. Beberapa alasan saya kenapa ingin menyusui tandem adalah memudahkan si adik untuk menyusui (karena bentuk puting akan lebih memudahkan) dan menyelesaikan berbagai permasalahan awal menyusui seperti payudara bengkak, breast engorgement bahkan mastitis lebih cepat!

Pengalaman pertama menyusui tandem baru saya alami saat Husna berumur 4 hari. H+1 kami mengeluarkan diri secara "paksa" dari rumah sakit. H+2 hingga H+4 Husna harus mendapatkan terapi sinar.

Saya membawa Husna ke dokter anak pada H+2 kelahiran karena ingin minta dilakukan screening awal dan vaksin hepatitis B yang tidak diberikan oleh RSUD saat kelahiran. Ternyata bilirubin Husna tinggi, nilainya 22! Akhirnya Husna harus disinar selama 2 hari. Berbekal pengalaman Bilqis yang bingung puting karena murni 24 jam menggunakan ASIP dot, saya memutuskan memberi ASIP baik secara langsung maupun dot saat Husna disinar. Untuk memudahkan itu, saya meminta izin untuk menginap di Rumah Sakit.

Saya dan Husna pulang pada H+4 sorenya. Entah kangen atau bagaimana, Bilqis langsung "buka puasa" dan langsung menyusui saat saya pulang ke rumah 😝.

Maka dimulailah antrian menyusui terjadi setiap harinya. Berhubung Husna masih bayi baru dan Bilqis masih terlalu kecil untuk mengerti perkara kecemburuan, saya tidak pernah menyusui sekaligus dua-duanya. Selain saya tidak bisa mengangkut Husna satu tangan, menyusui Bilqis beriringan malah bikin Bilqis mendorong dan menggencet Husna. Jadi pilihan yang saya ambil adalah "nomor antrian menyusui".

Opsi ini ada plus minusnya. Sisi baiknya Bilqis jadi tidak dorong-dorong adeknya saat menyusui. Sejak hamil Husna, Bilqis cuma menyusui sebelum tidur saja, jadi 2-3x sehari. Nah, tiap mau mendekati waktu tidur lah prahara terjadi. Saya selalu memprioritaskan menyusui Husna dahulu karena sekali ia lapar, relatif tidak ada opsi untuk menenangkan. Sementara Bilqis bisa minta tolong Hasan untuk ajak dia main. Atau, dengan cara memberikannya baju kotor saya dan kemudian ia luntang-lantung di kasur menunggu gilirannya haha. Setelah Husna tidur, saya pergi ke kamar anak-anak untuk menyusui Bilqis sampai ia tertidur dan menyuruh Hasan tidur menemani adiknya.

Sekarang Bilqis berusia 21 bulan, bismillah menggenapkan penyusuan Bilqis sampai 2 tahun!

Labour on the run

lahiran gratis rsud

telah lahir anak kami yang bernama x di RSUD y

itu adalah kira-kira pesan di sebuah WAG yang saya ikuti. Loh, dia kan orang Jakarta, kok lahiran di RSUD di sesuatu daerah Jawa. Ternyata si teman lahir saat hendak keluar kota.

"waduh gimana itu ya rasanya. Tidak terencana, malah bisa jadi ga siap bawa perlengkapan lahir", pikir saya saat itu.

Sangat tidak disangka, ini terjadi kepada saya!

Berdasarkan perhitungan kasar, kira-kira saya akan melahirkan pada pertengahan atau akhir November 2020. Saat usia kehamilan 36-38 minggu. Kami diajak berlibur di daerah Rancamaya saat perkiraan usia kehamilan 36-37. Ah, dua anak sebelumnya juga baru melahirkan di usia kehamilan 39, santai lah . Kami pun menyanggupi ajakan tersebut. Malam sebelum keberangkatan, pikiran saya sedikit masygul. Kok perut saya tidak enak sekali. Rahim berkali-kali kontraksi. Tidak sakit sih, cuma karena terus menerus membuat saya merasa tidak nyaman.

"Aku capek yang malam ini. Kontraksinya kayak terus-terusan.", ujar saya kepada suami.

Sembari menyiapkan koper untuk esok harinya, saya berdoa di dalam hati. Ya Allah, aku ingin sekali liburan. Plis ya bisa liburan dengan tenang. Di sisi lain saya agak yakin ini cuma kontraksi palsu namun terus-menerus. Pasalnya, salah seorang teman pernah mengalami ini di kehamilan keduanya. Saat dicek ke Rumah Sakit malah tidak ada bukaan sama sekali. Ia baru melahirkan bulan berikutnya. Ah mungkin kasus kami sama.

Tapi ternyata saya salah dan doa saya tidak dikabulkan Allah.

Dalam perjalanan menuju Rancamaya, saya mulai intensif memperhatikan frekuensi kontraksi rahim. Sangat frekuentif dan teratur. Hati saya semakin masygul. Setelah hampir setengah jam rentetan kontraksi teratur, akhirnya kontraksi tidak seintens itu frekuensi. Fyuh, saya bisa bernapas agak lega.

Yakin, meski doa saya tidak dikabulkan, ini adalah jalan terbaik dari Allah.

Saat saya bersantai di playground indoor hotel, hati saya kembali kalut. Sembari memesan makanan siang melalui aplikasi Gojek, saya merasakan perut saya yang kembali mengeras secara rutin. Tapi ah, saya abaikan saja.

Kami kembali ke kamar setelah mengambil pesanan makanan dan memberi anak-anak makan siang di kamar. Bilqis sempat agak rewel sehingga saya harus beberapa kali menggendongnya. Tiba-tiba saya merasa perasaan ingin kencing besar saat menggendong Bilqis. Tunggang langgang saya ke kamar mandi. Dengan hati yang tidak karuan, saya intip air wc sebelum saya siram.

Ah benar saja, air berwarna merah!

Saya segera lapor ke suami. 

"Oke, ayo kita berangkat!" ujar suami sembari melihat gawai untuk mengecek rumah sakit terdekat. Sebenarnya suami juga agak kalut meski raut wajahnya sangat tenang.

Lantas bagaimana dengan nasib anak-anak?

Sebenarnya kami tidak liburan sendiri, akan ada mertua beserta adik-adik suami serta satu adik suami lainnya bersama keluarganya. Tapi pada saat itu baru kami yang sampai Rancamaya. Anak-anak pun terpaksa kami boyong ke RSUD Ciawi, satu-satunya  Rumah Sakit terdekat dari Rancamaya.

"Kamu ga apa-apa kan ngurus sendiri? Aku harus nungguin anak-anak." Tanya suami masygul.
"Gapapa, tungguin aja anak-anak. Aku ga masalah ngurus sendiri dulu."

Akhirnya suami menunggui anak-anak sampai nanti salah satu adiknya sampai dan menjemput anak-anak. Saya sendiri ke IGD untuk mengecek bukaan. Waktu itu jam 2 sore.

"Kata susternya udah bukaan 3, terus katanya karena ini RS rujukan COVID mau lanjut disini ga. Soalnya mesti rapid test sama ronsen dulu." tanya saya kepada suami melalui  Telegram.

Karena sudah bukaan 3 dan melihat rekam jejak melahirkan saya sebelumnya, suami tidak berani ambil risiko memindahkan saya ke rumah sakit lain. Dalam hati pun berat rasanya jika harus pindah rumah sakit. Jalanan sangat macet di depan RSUD Ciawi, kira-kira bisa dibutuhkan 45 menit untuk menuju Rumah sakit langganan saya yang berada di Cibubur, Bekasi. Tidak cuma itu, saya ingat bahwa harus dilakukan dahulu prosedur swab PCR sebelum diurus proses lahiran. Hah, jangan-jangan sampai sama sudah bukaan 7 atau 8, kemudian harus melewati prosedur melelahkan lainnya? Jujur saya tidak kuat membayangkannya.

Setelah suami memberikan persetujuan kepada suster untuk melanjutkan prosedur melahirkan, saya segera diarahkan untuk mengurus pendaftaran awal pasien di kasir yang berada di pintu masuk IGD dari sisi luar. Untung saja tidak rame dan saya bisa langsung dilayani.

Proses lahiran (hampir sendiri)

lahiran gratis rsud


"Tolong pak, saya mau lahiran. Susternya bilang slip merah (didahulukan). Tolong diurus cepat ya!" Pinta saya.

"Ibunya sendirian saja?" Tanya petugas keheranan.

"Iya mas, suami saya lagi nungguin anak-anak di mobil. Nunggu ada saudara yang bisa ambil anak-anak."

Petugas resepsionis langsung menyerahkan formulir untuk diisi dan meminta KTP serta kartu BPJS saya. Meski kami semua terdaftar BPJS Kesehatan, tapi kami tak pernah memakainya. Praktis saya tidak pernah membawanya, tersimpan rapi di rak lemari kamar.

"Ini pak, saya ada kartu BPJS tapi saya tidak bawa. Nanti menyusul ya!" Ujar saya sembari menyodorkan KTP.

Saya langsung membuka gawai untuk mengabarkan suami soal BPJS ini. Ternyata suami sudah mengirimkan soft copy BPJS saya. Luar biasa inisiatifnya suami. Saya segera menyodorkan gawai dengan gambar pindaian kartu BPJS saya kepada petugas. Tidak lama kemudian, urusan administrasi awal selesai dan saya langsung menuju ke IGD Ponek (bagian kebidanan).

Saya disuruh berbaring oleh suster karena mau diambil darah untuk rapid test. Tidak lama kemudian suami video call untuk memastikan saya baik-baik saja. Pas sekali, adik suami sudah tiba di RSUD dan bisa mengambil anak-anak untuk dititipkan sementara waktu. Tidak lama kemudian suami sudah berada di ruang IGD.

Suster mengisyaratkan bahwa dia hendak memasang infus ke tangan saya. Sontak saya kaget, buat apa. Lahiran anak pertama baru dipasang saluran infus karena bukaan 8 saya kurang bagus, jadi saluran infus sebagai selang masuk cairan induksi. Sementara lahiran anak kedua, saya tidak menggunakan infus sama sekali karena kelahiran Bilqis begitu mengagetkan membuat bahkan suster bidan di ruangan pun kalang kabut.

"Mau disiapin buat induksi Pak, Bu. Biar cepat lahirannya" ujar perawat.

Lah, buat apa. Suami menjelaskan histori kelahiran sebelumnya yang cenderung cepat prosesnya. Walaupun kalau proses bukaan tidak bagus, keputusan induksi bisa diputuskan nanti. Terlalu prematur keputusan melakukan induksi sekarang. Kami kompak menolak. Namun akhirnya karena malas berdebat, tangan saya tetap dipasangkan infus yang katanya untuk pemberian nutrisi. Ya sudahlah. Rugi menghabiskan energi disini.

"Pak, bisa isi ini, ini dan ini ga. Terus ini saya tulisin perlengkapan buat ibu dan bayinya. Bisa dibeli sekitar sini." Pesan perawat.

Yhaa,, suami baru datang sudah disuruh pergi lagi buat "belanja" haha. Yak betul, saya sendiri lagi. Tidak lama kemudian saya dibawa oleh suster menggunakan kursi roda untuk foto ronsen. Tidak jauh, tapi lumayan memakan waktu karena harus menunggu sampai peralatan siap. Selesai ronsen, saya kembali lagi ke IGD dengan rasa dan frekuensi kontraksi  yang semakin intens.

Lahiran pertama saya hanya tergeletak di kasur rumah sakit semenjak datang pada bukaan 3.

Lahiran kedua saya sudah lebih banyak membaca sebelumnya, jadi saya memutuskan berjalan-jalan di ruangan saat rasa sakit kontraksi mulai mengganggu. Bukaan 5 atau 6 mungkin?

Lahiran ketiga saya berencana mempraktekkan gerakan-gerakan yang saya ketahui saat mengikuti zoom prenatal excercise. Gerakan tersebut seperti jongkok atau prenatal flow lainnya. Tapi rencana hanya tinggal rencana.

"Sus, saya boleh minta tolong tangga (yang buat turun dari kasur) dipindahkan ke sebelah kiri ga?" pinta saya memelas.

Infus di tangan kiri, tangga di sebelah kanan kasur. Kalau saya turun otomatis infus tertarik kan? Makanya saya meminta tangga dipindahkan ke sisi lain.

Permintaan pertama saya diabaikan. Saya ulang lagi permintaan tersebut untuk kedua kalinya dengan suara agak keras dan setengah memaksa. Akhirnya baru permintaan saya dilakukan, meski menunggu 5 menit dahulu semenjak saya utarakan untuk kedua kalinya.

Ah, saya sudah keburu malas buat turun. Rasa kontraksi semakin menggangu. Saya berpegangan erat pada tiang infus sembari konsentrasi melakukan hirup-hembus nafas untuk meredakan rasa sakit kontraksi. Di kasur sebelah saya ada ibu lainnya yang sedang hamil. Total perawat ada 3 orang. Selain yang berada di belakang meja, 2 perawat lainnya sedang melayani ibu tersebut.

"Sus, ini kok rasanya udah dibawah banget ya. Bi..sa.. tolong... cek ga?" ujar saya sedikit terengah-engah.

Satu perawat yang sedang mengurus di ranjang sebelah saya menghampiri dan mengecek bukaan saya. Sudah bukaan 8 ternyata.

"Yak! hasil tes negatif, segera bawa ke ruang melahirkan!" tandas perawat yang berada di belakang meja.

Kemaluan saya rasanya sudah berat sekali, seperti ada yang hendak keluar. Saya meminta agar lahiran di ruang IGD saja. Dengan rasa sedemikian rupa, tak kuat membayangkannya jika sang bayi keluar di kursi roda. Tapi perawat bersikeras. Saya turun sendiri (iya tidak dibantu! haha) dari kasur dan diarahkan ke kursi roda. Tas saya pun disuruh pegang sendiri. Untung salah satu perawat mau dimintai tolong pegang setelah saya minta. Tergopoh-gopoh kursi roda saya didorong menelusuri koridor. Saya sembari berdoa saat menunggu pintu lift terbuka. 
"Untung ga lahiran di Ponek, bisa repot kita!" Terdengar sayup-sayup percakapan para perawat

Akhirnya sampai juga di ruang bersalin. Pintu kaca dibuka, terlihat koridor ruangan bersalin dengan stasiun perawat di sebelah kanan. Saya segera masuk ke bangsal yang berjejer 2 baris dengan tiap baris terdiri dari 3 kasur. Terdengar sayup-sayup suara suami dari ujung koridor. Alhamdulillah, akhirnya saya bisa bersama suami lagi. Namun suami tidak langsung bisa bersama saya. Tampaknya dia harus mengurus sesuatu dulu di satsiun perawat.

Lagi-lagi saya harus turun kursi roda dan naik ke atas kasur sembari memegang botol infus. Dengan sedikit agak mengeluh, saya setengah membanting botol infus ke atas kasur. Saya tidak bisa berfikir, rasanya berat harus melakukan rentetan yang seharusnya ringan itu dalam keadaan kepala bayi akan keluar beberapa menit lagi. 

"Ya kalau lahiran di Rumah sakit harus begini. Kalau mau lahiran enak ya di bidan." Sungut seorang perawat, jelas terdengar di telinga saya.

Ehem,, 2 kali lahiran sebelumnya di Rumah Sakit kok, tapi ya jauh sekali dari begini.

Akhirnya saya dapat rebahan kembali di kasur. Tampak suami di pintu bangsal masuk. Alhamdulillah suami dapat menemani saya.

Setelah satu kontraksi di kasur, bidan memberi aba-aba bahwa bukaan sudah lengkap dan saya bisa mengejan. Saya genggam erat tangan suami. Ejanan pertama, belum keluar. Ejanan kedua, terasa sedikit perih di bagian kemaluan dan keluarlah Husna pada pukul 16.00 diiringi dengan suara hujan lebat dari luar. Saya menarik nafas lega.

Tinggal satu tahapan lagi. Jahitan. Proses jahitan bagi saya adalah penutup yang sebenarnya bersifat anti klimaks jika dibandingkan dengan proses lahiran. Suami saya disuruh suster untuk segera mengurus proses administrasi rawat inap. Namun, saya meminta suami untuk bersama saya sebentar lagi, setidaknya sampai disuntikkan anastesi sebelum dijahit. Meski luka robek tidak besar, tetap keinginan saya untuk melahirkan tanpa jahitan belum terealisasi sampai lahiran anak ketiga. Mungkin nanti lahiran anak keempat? Insya Allah.

Husna diambil oleh perawat untuk dievaluasi di ruangan yang sama. Ditimbang dan diukur serta diteteskan polio. Husna lahir dengan berat badan 2,8 kg dan tinggi badan 48 cm. Dibandingkan kakak-kakaknya, Husna termasuk paling kecil dan lahir saat usia kehamilan paling muda. Hasan lahir saat usia kehamilan 39 minggu dengan BB 3,45 kg dan TB 50 cm. Bilqis lahir saat usia kehamilan 39 minggu dengan BB 3,05 kg dan TB 49 cm.

Setelah suami pergi, saya melalui proses penjahitan sendiri. Dari ketiga jahitan, entah kenapa proses jahitan kali ini paling tidak enak. Paling lama dan paling menggangu. Bahkan saat saya cebok setelah buang air kecil, terasa aneh sekali tutupan jahitannya.

Beberapa bulan lalu saya mengobrol dengan seorang teman yang berdomisili di Jepang mengenai kelahiran di masa pandemi. Ia bercerita bahwa ia melakukan semuanya sendiri mulai dari berangkat ke Rumah Sakit hingga pulang dari Rumah Sakit. Ia baru bertemu suami dan anak sulungnya pada saat menjemput dirinya yang telah selesai menghabiskan 5 malam di Rumah Sakit. Saya benar-benar tidak habis pikir, entah bagaimana rasanya melalui semuanya sendirian.

Ternyata saya (hampir) merasakan yang dirasakan teman. Melahirkan (hampir) sendiri.

Pulang dari rumah sakit kurang dari 24 jam

lahiran gratis rsud


"Kamu pasti mutung ya, kesannya kok aku tega banget biarin di ruangan kelas 3 RSUD?" Tanya suami setelah kita keluar dari Rumah Sakit keesokan paginya.

Setelah proses penjahitan selesai, Husna diantarkan dan ditaruh ke dada saya untuk IMD (Inisiasi Menyusui Dini). Cukup lama Husna berada di dada saya, hampir setengah jam mungkin? Entah karena apakah IMD selama itu atau memang saya dianggurkan karena perawat entah mengurus apa di luar sana 😑. Setelah sekian lama, akhirnya perawat datang untuk memakaikan baju serta membedong Husna.

"Baju dedeknya mana ya bu?" Tanya perawat.
"Saya disini lahiran mendadak sus, benar-benar ga bawa apa-apa. Tadi suami saya udah keliling apotik di sekitar sini juga ga ketemu yang jual baju bayi, cuma ada pampers. Tolong sus, ada ga bedong sama baju satu aja stok dari sini? Nanti saya beli juga gapapa." Pinta saya memelas.

Padahal saya sudah meminta dengan keinginan serupa saat masih menahan kontraksi bukaan di Ponek. Mereka bersikukuh kalau Rumah Sakit tidak menyediakan pakaian bayi. Alhamdulilah Husna dipakaikan sepotong baju dan bedong dari Rumah Sakit. Lega saya melihatnya, anakku bisa berpakaian dengan layak. Setelah selesai dipakaikan, Husna diletakkan di bed bayi yang berada disamping saya. Perawat pun meninggalkan saya. Akhirnya saya dapat berbaring dengan lega seraya menatap Husna yang sedang tertidur dengan pandangan teduh. Kulitnya agak gelap seperti Hasan, bentuk mukanya bulat dengan secuil pipi menyembul. Hidungnya mancung seperti kakak-kakaknya yang lain.

Saya bersantai sejenak menunggu suami datang sebelum dipindahkan ke ruang rawat inap. Tas yang berada di meja samping saya gapai dan resletingnya dibuka untuk mengambil gawai. Begitu banyak notifikasi muncul di layar gawai. Ternyata orang tua dan mertua ingin mengunjungi saya di Rumah Sakit. Karena terlalu lama dianggurkan, saya baru bisa memegang gawai saat itu. Padahal saya ingin menitip agar dibawakan beberapa bedong dan baju bayi yang tertinggal di rumah ortu, namun ortu terlanjur sudah dalam perjalanan ke RSUD.

Mertua datang setelah berwisata melihat jembatan gantung di Sukabumi. Mereka juga menginap di Rancamaya. Jadi sebelum ke hotel, mereka mampir dulu ke RSUD yang jaraknya lumayan dekat meski menjadi terasa jauh karena banyaknya volume kendaraan di sekitar yang membuat jalanan macet berat. Mengingat ini situasi pandemi, mertua saya hanya sebentar di ruang bersalin untuk kemudian kembali ke hotel. Tidak lama kemudian orang tua saya datang membawa titipan saya yang dibeli dari apotek sekitar. Breast pad dan pembalut bersalin. Azan maghrib berkumandang. Suami mengajak ortu saya untuk sholat di mesjid RSUD sembari berpesan ke saya agar menunggu kedatangan mereka sebelum dibawa ke rawat inap.

"Ruangan sudah siap! yuk kita ke ranap." Ujar suster.

Saya menyampaikan pesan suami, sekitar 10 menit kemudian akhirnya suami dan ortu datang dan kami bersama-sama ke ruang rawat inap. 

Sebuah pengalaman yang berbeda dibandingkan kelahiran pertama dan kedua saya. Jika sebelumnya saya masuk ruangan dengan kamar mandi dalam, terdiri dari 1 ranjang dan ber-AC, sekarang saya memasuki kamar yang terdiri dari 4-5 ranjang, kamar mandi dalam dan tidak ber-AC. Meski begitu, saya tidak mengatakan apa-apa di dalam hati. Saya malah kepikiran ingin menyuruh suami saya untuk pulang saja ke hotel dan menemani Hasan dan Bilqis tidur. Suami menolak dan saya baru menyadari tepatnya keputusan itu setelah keesokan hari. 

Ternyata mandi dengan selang infus di tangan sangat sulit. Untung saja ada suami saya yang setia membantu melepas-memakaikan baju. Akhirnya saya beres mandi juga setelah seharian memakai baju yang penuh peluh dengan bercakan darah sana sini akibat proses persalinan. Badan segar, rasanya jadi lebih bisa tidur meski tanpa AC. Alhamdulillah saat itu di kamar hanya ada 1 pasien lain yang ditemani oleh suaminya. Suami saya jadi bisa tidur di tempat tidur kosong di samping saya. Setelah menyusui dan mengganti popok Husna, saya mencoba tidur seraya mendekatkan rannjang bayi ke dekat tempat tidur saya.

"Bapak, ibu, barang-barang pribadinya dijaga ya, takut ada orang niat jahat ambil." ujar satpam dari daun pintu bangsal.

Hah, ada apa ini? Rasanya jadi deg-degan. Ini pengalaman yang sama sekali baru. Suami segera mengambil gawai saya dan memasukkannya di tas tangan saya yang berada di laci. Karena ranjang saya berada paling dekat dengan pintu bangsal katanya.

Jendela bangsal dibuka oleh pasien yang ranjangnya di dekat sana agar udara mengalir. Deru mobil dan motor bersahut-sahutan. Apalagi saat tengah malam. Alih-alih tidur saya terbangun karena tangisan bayi, saya malah lebih terganggu dengan suara motor yang kebut-kebutan di tengah malam. Pada dua kelahiran sebelumnya saya merasakan sedikit nyeri di kemaluan akibat jahitan pada malam pertama. Sekarang malah hampir tidak terlalu terasa mengganggu. Allah maha baik dan adil, saya dipermudah oleh-Nya disaat keadaan sedang kurang enak dan mendukung.

Bangsal yang gerah, suara kendaraan yang gaduh di malam hari, kurangnya privasi, membuat saya tidak sabar menuruti saran suami untuk langsung pulang esok paginya.

"Memang bisa pulang besok pagi?" Tanya saya tidak percaya.
"Bisa, pulang paksa aja lah! Syarat BPJS yang penting udah nginap sehari." Tandas suami.

Matahari menunjukkan sinar paginya. Kumandang Azan terdengar di ufuk sana. Gawai suami berbunyi menandakan saatnya bangun dan salat Subuh. Saya kembali memejamkan mata karena tidak harus salat Subuh. Jam 7 saya kembali dibangunkan suami. Suami menginginkan pulang secepat mungkin. Namun apa daya, meski jam 7, belum ada petugas terlihat. Pintu koridor rawat inap masih terkunci. Setelah mandi, mulai tampak perawat lalu lalang. Mereka pun meminta ranjang bayi diantarkan ke stasiun perawat untuk dimandikan.

"Cuma ada pampersnya ya, bajunya mana bu?" Tanya perawat keheranan.

Teriris hati saya mendengarnya. Husna tidak ada baju ganti karena dari kemarin kami tidak dapat menemukan baju bayi di jual disekitar RSUD. Bahkan ortu saya yang datang juga tidak dapat menemukan di toko sekitar. Karena alasan ini pula lah yang membuat saya semakin yakin bahwa pagi inilah kami harus pulang ke Cibubur (rumah ortu saya). Kasian Husna. Saya ingin sesegera mungkin Husna memakai baju dan bedong ganti yang bersih. Karena tidak ada baju ganti, Husna kembali memakai baju dan bedong yang sama. Sedih melihatnya.

Alhamdulillah, seusai Husna mandi, suami pun selesai mengurus administrasi untuk keluar ranap. Kami segera membereskan barang bawaan. Saya menggendong Husna, suami membawa tas.

Ah lega, nyaman sekali menghirup udara luar, pikir saya dalam hati sembari duduk di mobil. Masuk jam 4 sore, keluar jam 9 pagi. 17 jam. Kurang dari 24 jam saya sudah keluar dari rumah sakit paska persalinan. Masuk dalam keadaan perut gendut, keluar dalam keadaan menggendong bayi.

"Aku lapar, sarapan dulu yuk!" Ujar saya

Kemudian mobil meninggalkan Rumah Sakit dan menuju hotel. Ternyata Husna ingin menikmati suasana hotel juga.

Lahiran gratis

Tidak pernah terbayangkan sama sekali oleh kami, lahiran anak ketiga ini gratis dan tidak mengeluarkan uang sepeserpun kecuali biaya belanja perlengkapan kelahiran dadakan. Kartu BPJS yang sudah 3 tahun teronggok di dompet saya akhirnya di gunakan juga. Karena okupasi suami, dirinya beserta keluarganya harus didaftarkan ke BPJS kesehatan kelas 3. Tidak terbayangkan juga, akhirnya kartu tersebut terpakai untuk kebutuhan lahiran anak ke-3.

Alhamdulillah, ini bagian dari rejeki Husna. Lahiran lancar, cepat, dan gratis. Biaya lahiran yang telah disiapkan oleh suami sebelumnya jadi bisa dialokasikan ke pos lain. Kebetulan sekali, kebutuhan kami untuk tahun 2021 cukup banyak, Memang benar, tiap anak membawa rejekinya masing-masing.

Lahiran di RSUD

lahiran gratis rsud


Saya melahirkan anak pertama dan kedua di RS Permata Cibubur. Meski jauh dari apartemen, kami rutin kontrol dan pada akhirnya melahirkan disana karena dokter Obgyn langganan kami praktek disana. Pun, lokasinya sangat dekat dengan rumah orang tua. Kami bisa menunggu di rumah ortu dulu sebelum jadwal kontrol. Kami pun tidak perlu mengantri dan menunggu lama di rumah sakit.

Lahiran anak ketiga secara tidak terduga terjadi di tempat yang tidak terbayangkan sama sekali, jauh dari rencana lokasi. Ini pertama kalinya lahiran di Rumah sakit milik pemerintah. Saya lahiran di RSUD Ciawi. Suami yang bekerja di instansi rumah sakit pemerintah membuatnya cukup terbekali bagaimana sistem Rumah sakit di daerah sehingga membuatnya dapat bertindak lebih taktis dalam mengambil keputusan. 

Meski lahiran ketiga melalui standar prosedur yang jauh berbeda dibanding lahiran sebelumnya, tidak terbersit pun di benak saya sampai sekarang untuk menyesal dan mengeluh. Toh wajar saja, kan gratis sementara yang sebelumnya bayar. Lahiran di RSUD benar-benar sangat berkesan karena memberikan pengalaman yang menarik bagi kami berdua. Ah bukan, bertiga.

Secercah Harapan ke Depan

Segala bentuk rasa penasaran saya yang terpikirkan sebelumnya sebagian besar terjawab di kelahiran ketiga. Apakah lebih baik? Sesuaikan dengan bayangan saya? Menurut saya semua ada kelebihan dan kekurangnya. Yang sama jelas satu, pengalaman yang indah dikenang.

Meski begitu, jika dipikir-pikir masih ada beberapa keinginan seputar hamil-menyusui-melahirkan ini. Lahiran di negeri orang dan lahir tanpa jaitan. Lahiran di negeri orang tampak mustahil. Pun, sudah akan lahiran anak keempat. Saya juga tidak menginginkan kehebohan ekstra pada anak keempat.

Tinggal lahiran tanpa jaitan. Saya masih penasaran bagaimana cara dan rasanya. Meski menurut saya Allah memberikan kemudahan pada tiga kelahiran saya, saya tetap belum merasakan pengalaman lahiran tanpa jaitan. Lahiran anak keempat mungkin?

Eh gimana sih, ini Husna juga baru 2.5 bulan? 😏

lahiran gratis rsud

Chromebook, Laptop terbaik untuk Pendidikan dan Bisnis Sekolah

31 komentar

"Di SMP Negeri anak saya, anak kelas IX diwajibkan memiliki komputer/laptop sendiri untuk mempersiapkan Ujian Nasional dari awal tahun ajaran baru. Soalnya SMPN-nya belum siap memfasilitasi UNBK (Ujian Nasional Berbasis Komputer))".


Di atas adalah curahan hati Mba Yuyun, orang yang biasa saya panggil untuk menyetrika di rumah saya seminggu sekali. Para siswa sudah mendapat anjuran ini jauh sebelum Pandemi Corona menyerang. Meski penyelenggaraan UNBK sudah mulai dicanangkan, banyak fasilitas sekolah negeri yang jauh dari kata siap untuk menyelenggarakn UNBK. Padahal, sang anak bersekolah di SMPN yang berlokasi di bilangan Jakarta Timur. Bisa dibayangkan betapa minimnya kesiapan fasilitas UNBK di daerah, terlebih daerah terpencil.

"Bahkan, banyak para orang tua di sekolahan anak saya yang terpaksa rela berutang demi membeli laptop atau komputer untuk menyanggupi persyaratan dari sekolah." tambah Mba Yuyun.

asus chromebook pendidikan


Pada Bulan Maret 2020, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim memutuskan untuk membatalkan penyelenggaraan UNBK tahun ajaran 2019/2020 sebagai dampak pandemi Corona. Mendikbud memberikan 2 opsi yang diserahkan ke tiap sekolah: melaksanakan ujian sekolah daring atau menggunakan nilai siswa 5 semester terakhir. Meski pemerintah berkomitmen memaksimalkan akses internet, tidak dapat dipungkiri, baik sekolah dan siswa tidak semuanya mampu dalam pengadaan perangkat, baik gawai maupun komputer atau laptop. 

Pelaksanan UNBK sudah dicanangkan sejak tahun 2015. Namun, menurut Anies Baswedan yang merupakan Mendikbud di kala itu, ada 29 sekolah yang batal melaksanakan UNBK dari 585 sekolah yang direncanakan menggunakan sistem tersebut akibat ketidaksiapan sarana dan prasarana. Bahkan, beberapa sekolah unggulan tetap menggunakan sistem manual. Hal ini ditenggarai karena jumlah komputer tidak sesuai, dibawah  rasio 1:3 untuk jumlah komputer terhadap jumlah siswa. 

"Dari 54 sekolah (di Kendari, Sulteng), hanya 10 sekolah yang mampu melaksakan UNBK", ujar Muhadjir Effendy, Mendikbud pada saat itu saat mengomentari penyelenggaraan UNBK pada tahun 2018.

Kesulitan pengadaan sarana dan prasarana laptop dan komputer tidak hanya milik sekolah negeri yang notabene difasilitasi pemerintah. Sekolah swasta pun banyak yang mengalami hal yang sama. Sebagai contoh, menurut Dinas Pendidikan Kota Bekasi, Jawa Barat, sebanyak total 168 sekolah Swasta dan Negeri di Bekasi tidak siap mengikuti UNBK karena kekurangan sarana dan prasarana.

5 tahun sudah berlalu sejak penyelenggaraan perdana UNBK, namun pengadaan fasilitas laptop dan komputer bagi sekolah tetap belum memadai. Kekurangan sarana dan prasarana ini memaksa para orang tua murid memaksakan diri untuk membeli laptop atau komputer sendiri, meski harus berutang kesana-kemari. Ini merupakan kondisi yang berat terlebih bagi golongan ekonomi menengah kebawah.


Laptop untuk Semua

asus chromebook pendidikan


"Guys, ada yang punya rekomendasi laptop murah buat PJJ anak ga?", ujar salah seorang teman di sebuah WAG yang saya ikuti.
"Beli laptop seken aja, bisa dapat murah." Tandas saya.
"Ga berani ah, nanti salah-salah ditipu dapat barang jelek."

Di masa pandemi corona ini, kebutuhan laptop meningkat drastis. Ini disebabkan oleh peningkatan kebutuhan  Work from Home (WFH) bagi orang dewasa dan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) bagi anak. International Data Center (IDC) menaksir permintaan perangkat IT akan tumbuh sebesar 12,3% ketimbang pada tahun 2019. Bahkan, pada kuartal 2 tahun 2020 saja terjadi kenaikan permintaan komputer dan laptop sebesar 18,6%. Menurut Muhammad Firman, Head of Public Relation ASUS, penjualan laptop ASUS tumbuh 15%-20% dan merangkak naik pada Mei dan Juni lalu.

Laptop Murah?

Opsi untuk mendapatkan laptop anak dengan harga terjangkau ada 2: Membeli laptop bekas atau membeli laptop entry level.

Opsi pertama, membeli laptop bekas. Ini layaknya membeli kucing dalam karung bagi mayoritas orang. Malah terkadang seperti sedang berjudi. Dibutuhkan kemampuan yang mumpuni untuk memahami serba-serbi laptop dan mengatahui detil apa saja yang harus dicek saat membeli laptop bekas. Ini dilakukan untuk menghindari penipuan dan mendapatkan laptop bekas dengan kualitas prima.

Opsi kedua: membeli laptop entry level. Bagi yang memperhitungkan membeli laptop bekas, opsi ini adalah opsi tunggal. Seperti yang jamak terjadi, harga bersahabat yang dimiliki laptop entry level kerap kali membuat kita makan hati, apalagi bagi yang membutuhkan kinerja laptop yang tidak sekedar mengetik dan browsing. Malah, hanya untuk mengetik dan browsing pun juga dapat membuat kita jengkel dengan kelambatannya, apalagi jika laptop tersebut lumayan berumur dan sudah banyak menyita penyimpanan Hard Drive. Belum lagi serangan malware dan virus akibat berselancar di dunia maya. Duh. Menurut Firman, laptop dengan harga dibawah 4 jutaan performanya akan terasa lambat setelah digunakan 1-2 tahun.

Mindset masyarakat saat membeli laptop sedikit berubah pada masa pandemi COVID-19 ini. Karena kebutuhan WFH dan PJJ, masyarakat cenderung membeli laptop yang memiliki masa jangka penggunaan panjang. Menurut catatan ASUS, laptop dengan harga kurang dari 4 juta menjadi kurang diminati, terlebih yang masih menggunakan penyimpanan berbasis hard disk. Masyarakat juga cenderung memilih laptop dengan harga di atas 5 jutaan yang memiliki kemampuan opsi penambahan kapasitas RAM, sudah menggunakan Solid State Drive (SSD), serta memiliki slot untuk penambahan kapasitas penyimpanan.

Jika opsi pertama dan kedua dinilai kurang solutif, bagaimana solusi terbaiknya?

Laptop untuk Sekolah

asus chromebook pendidikan

Di Indonesia, sekolah sebagai lembaga pendidikan tentunya harus menjadikan pengadaan laptop sebagai prioritas penting demi mengejar rasio penggunaan 1:3 seperti yang telah dianjurkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Menurut Rivan Fernando, ASUS ID Comercial FAE, pihak pemerintah dan perusahaan menganggap pengadaan sarana dan prasana sebagai investasi. Disini, Pemerintah dan dewan sekolah swasta cenderung akan memilih laptop yang memiliki masa penggunaan yang panjang serta memiliki harga terjangkau mengingat pengadaannya yang akan super masif. Laptop dan komputer juga harus tangguh secara perangkat keras dan minim masalah secara perangkat lunak, terutama perihal serangan virus. Sayangnya, laptop dengan kelas begini biasanya hampir pasti dibanderol dengan harga mahal.

Lantas bagaimanakah solusinya?

Mengenal Chromebook

asus chromebook pendidikan

Ada 2 Operating System (OS) yang populer di kalangan laptop: Windows dan dan macOS. Sebagian besar laptop yang beredar menggunakan sistem operasi Windows, baik Processor Intel maupun AMD. Bagaimana dengan sistem operasi Chrome?

Sistem operasi Chrome beranggapan bahwa sebagian besar komputer yang kita gunakan cepat sekali berasa ketingalan jaman dan kurang mantap. Antivirus yang diinstal sebagai penangkal serangan virus dan malware terpisah dengan update dan sistem optimisasinya. Belum lagi kalau kita ingin menginstal ulang laptop kita, banyak yang harus diinstal dan disesuaikan. Intinya, ribet.     

Chromebook adalah proyek optimis Google dengan penjualan hampir sebesar 2 juta unit pada kuartal awal tahun 2016. Bagi sistem operasi Chrome, "cloud" adalah masa depan. Dahulu banyak yang mengandalkan besarnya kapasitas penyimpanan karena banyak diisi dengan file musik, film dan serial televisi. Mulai dari diunduh dari situs resmi maupun tidak resmi. Tapi hei, sekarang sudah banyak sekali situs streaming resmi dengan biaya terjangkau seperti Netflix, Google Play dan Spotify. Jadi, buat apa lagi penyimpanan lokal ekstra untuk keperluan di atas?

Saat ini saja saya sedang menggunakan laptop yang baru diganti dari kapasitas Hard Disk 1 TB dengan SSD 256 GB agar laptop berjalan lebih kencang. Apakah saya merasa kehilangan dengan besarnya kapasitas penyimpanan yang telah hilang itu? Faktanya, saya bahkan belum mengakses kembali hard disk lama saya. Kebanyakan isinya berupa film, lagu, dan serial tv yang tidak akan saya tonton lagi karena sudah ada penyedia streaming resmi. Begitu pun dengan file simpel lainnya. Semua pindaian dokumen resmi saya sudah ada di dropbox atau Google Docs. File yang terkait pekerjaan saya juga sudah ada di surel ataupun aplikasi Telegram. Saya bisa mengakses file tersebut melalui "cloud" untuk dipindahkan ke SSD baru saya.

Sebagai pemain baru, sistem operasi Chrome tidak sepopuler 2 sistem operasi lainnya. Lantas, apa perbedaan laptop biasa dan Chromebook?

Perbedaan Chromebook dengan laptop lainnya

asus chromebook pendidikan

Keduanya relatif sama secara fisik. Perbedaan paling mendasar adalah sistem operasi. Kalau laptop biasa menggunakan Windows, Google Chrome menggunakan sistem operasi Google. Ruang penyimpanan laptop beragam dan cenderung besar, sementara Chromebook relatif kecil, yakni 16 GB dan 32 GB. Hal ini disebabkan aplikasi yang berjalan pada sistem operasi Chrome tidak membutuhkan terlalu banyak ruang. Pun, pada awal kemunculannya, sistem operasi Chrome menitikberatkan pada cloud computing meski pada akhirnya mereka mulai berdamai dengan memberi kapasitas internal lebih besar dan kemampuan menyimpan data serta penggunaan aplikasi secara offline

Chromebook adalah pilihan tepat jika menginginkan laptop untuk mengekseskusi penggunaan dasar dengan harga murah. Sistem operasi Chrome cocok untuk berselancar, bermain game dan memutar multimedia. Selain itu, sistem operasi Chrome sangat aman dan sulit ditembus oleh virus karena hanya aplikasi legal yang didistribusikan di Google Play saja yang dapat diunduh.

Saya paling senang menggunakan Google Chrome saat berselancar. Kenapa? Selain paling kencang kinerjanya, Google memiliki fasilitas sinkronisasi luar biasa untuk hampir semua jenis data. Browser history, bookmark, informasi kredensial, pengaturan website, hingga aktivitas terakhir youtube bisa disinkorinisasi. Dengan demikian, mudah bagi saya untuk menggunakan Google Chrome di perangkat manapun mulai dari laptop suami hingga tablet dengan rasa menggunakan perangkat sendiri. Selain itu, tampilan Chrome yang minimalis dan simpel sangat menyenangkan dan tentunya sangat memudahkan pengguna awam.

Menjalankan laptop seperti menggunakan Google Chrome, bakal jadi pengalaman yang menyenangkan bukan?

Chromebook untuk Sekolah

asus chromebook pendidikan

Chromebook sudah diperkenalkan ke sekolah-sekolah di Amerika semenjak tahun 2013. Awalnya, penggunaan tablet sebagai sarana multimedia di sekolah lebih marak. Survei yang dilakukan oleh Kepala Teknologi Sekolah Lanjut New Caney Independent School di Texas dengan responden pada ketua kelas memperoleh hasil yang mengejutkan. Mereka ditanyakan perihal fitur apa yang paling mereka inginkan pada sebuah perangkat dalam peningkatan proses belajar. Sebagian besar responden menjawab bahwa mereka membutuhkan fitur keyboard. Hasil survei ini cukup mencengangkan karena bertentangan dengan perangkat edukasi yang biasa digunakan, yakni tablet yang tidak memiliki keyboard.

Chromebook ini dirasa sebagai perangkat dengan teknologi yang mengisi celah antara kepraktisan tablet dan kekompletan laptop. Para pendidik di Distrik Sekolah Charlott-Mecklenburg, North Carolina, melakukan evaluasi penggunaan laptop, tablet, dan Chromebook dengan melakukan pembobotan poin. Hasilnya, Chromebook yang menang. Chromebook dinilai paling efektif dalam membantu proses pembelajaran digital. Sekarang di Amerika, jumlah siswa terhadap ketersediaan chromebook sudah mencapai rasio 1:1.

Banyak sekolah yang ingin memakai Google Apps for Educatioin (GAFE). Sekolah dapat mengontrol aplikasi apa saja yang bisa digunakan oleh anak. Dengan demikian, saat anak menggunakan Chromebook tersebut di rumah, anak hanya bisa membuka aplikasi yang diizinkan oleh sekolah.

Kemendikbud juga sudah mulai melirik penggunaan Chromebook untuk sekolah. Direktorat Sekolah Menengah Pertama (DITSMP) dikabarkan sudah mulai memberikan prasarana berupa Chromebook ke sekolah berbagai daerah untuk menunjang pembelajaran jarak jauh.

Tidak hanya sekolah negeri, sekolah swasta seperti IPEKA Integrated Christian School juga sudah mulai menggunakan Chromebook untuk mewujudkan sistem pembelajaran Blended Learning sejak tahun 2017.

Penggunaan Chromebook tidak melulu harus dalam keadaan online. Saat dalam keadaan offline, pengguna dapat melakukan berbagai hal seperti mengakses media pembelajaran sekolah dan mengakses file pembelajaran melalui penyimpanan lokal (hardisk, flashdisk, Micro SD) dan jaringan lokal sekolah. Pengguna juga tetap bisa mengirim email yang nantinya tersimpan dahulu di kotak keluar untuk kemudian terkirimkan setelah terhubung dengan jaringan internet. Chromebook juga menyediakan kapasitas penyimpanan "cloud" gratis sebesar 15 GB yang dapat diupgrade sesuai kebutuhan dengan biaya tambahan terjangkau.

ASUS sebagai brand laptop dan komputer terkemuka tentunya juga sudah memiliki koleksi di lini Chromebook. Untuk segmen yang cocok untuk anak sekolahan, ASUS Indonesia menawarkan 2 seri Chromebook, yakni ASUS Chromebook C204 dan ASUS Chromebook C214. Keduanya dibanderol dengan harga 5 jutaan saja.


ASUS Chromebook C204 dan C214, si tangguh untuk pendidikan


ASUS memiliki 2 tipe Chromebook dengan target jenjang sekolah SD hingga SMA dengan rentang usia 7 - 12 tahun. Chromebook tersebut adalah tipe C204 yang memiliki slogan "Tangguh, ringkas, siap untuk sekolah" dan C214 dengan slogan "Lipat, jelajahi, belajar". ASUS mempertimbangkan penggunaan kedua jenis Chromebook ini sebagai sarana pembelajaran, pencarian informasi, dan kebutuhan hiburan. Alasan harga, keterandalan, kemudahan perbaikan, hingga kemampuan produktivitas menjadi landasan perancangan Chromebook C204 dan C214. Atas dasar inilah product value yang diusung adalah desain yang mudah digenggam, kemampuan baterai yang tahan lama hingga desain komponen modular.



Kedua laptop asus ini dijual di rentang harga 5 jutaan saja. Cukup murah mengingat durabilitas yang ditawarkan. Bingung menentukan mana diantara C204 dan C214 yang lebih cocok untuk anak atau sekolah anda?


Pada ASUS C214 tersedia juga pilihan bundling bersama stylus yang mempermudah pekerjaan dalam mencatat dan menggambar ilustrasi.

Mengapa ASUS Chromebook cocok untuk sekolah?


Per tahun 2019, 85% dari sekolah di Amerika telah menggunakan Chromebook dalam program pendidikannya. Kemendikbud pun sedang jor-joran melakukan pengadaan Chromebook untuk memfasilitasi pembelajaran jarak jauh.

Lantas, mengapa penggunaan Chromebook sangat populer dan dinilai tepat untuk tujuan pendidikan di sekolah?

1. Harga yang terjangkau

Chromebook menjembatani sekolah dengan latar belakang siswa berpenghasilan besar dan rendah. Berbeda dengan laptop dengan sistem operasi Windows, sistem operasi Google lebih ringan sehingga tidak dibutuhkan spesifikasi perangkat keras yang yang berdampak pada harga yang murah. Untuk harga yang sama, Chromebook menawarkan fitur lebih banyak ketimbang laptop biasa. Selain itu, keamanan tinggi sistem operasi Google dari virus dan malware membuat biaya pemeliharaannya lebih murah. Ini sangat menguntungkan pihak sekolah dan siswa. Baik ASUS Chromebook C204 dan C214 dibanderol dengan harga hanya 5 jutaan saja!

2. Super kencang

ASUS Chromebook C204 dan C214 "hanya" menggunakan Intel Celeron. Oke, saya tahu. Sebagian orang pasti skeptis mendengarnya. Berdasarkan pengalaman saya menggunakannya di laptop biasa kategori entry level murah, performa laptop yang menggunakan prosesor ini relatif akan lamban saat sudah satu atau dua tahun pemakaian.

Tetapi ini tidak berlaku untuk Chromebook. Transisinya sangat halus. Bahkan saat bermain PUBG masih optimal dengan pengaturan grafis: smooth dan frame rate: high. Bayangkan, harga 5 jutaan sudah bisa dapat laptop kencang.


Karena sistem operasinya yang tidak memakan daya yang besar, Intel Celeron justru bekerja dengan sangat baik pada ASUS Chromebook C204 dan C214. Tidak lamban sama sekali, malah berasa menggunakan laptop harga belasan juta.

3. Berat yang ringan 

Sistem operasi yang simpel membuat Chromebook tidak membutuhkan perangkat keras yang banyak sehingga beratnya pun menjadi ringan. Untuk Asus Chromebook C204 dan C214 hanya memiliki berat 1,2 kg, cocok untuk anak sekolahan tanpa harus membebani punggung mereka secara berlebihan.

4. Kokoh dan tahan banting

asus chromebook pendidikan

Percaya kah anda bahwa laptop dengan harga 5 jutaan bisa memiliki fisik standar kelas militer?

Baik ASUS Chromebook C204 dan C214 sudah dibekali fisik standar kelas militer. ASUS Chromebook tahan terhadap benturan dan tumpahan yang sangat mungkin terjadi dilakukan oleh anak. Kedua jenis Chromebook ini jauh melampaui standar daya tahan MIL-STD 810G kelas militer yang juga sudah diuji untuk lolos tes ketat ASUS. Tidak perlu khawatir jika Chromebook anak jatuh dari ketinggian 120 cm dalam keadaan menyala atau tertumpuk barang-barang lain saat berada di dalam tas karena sudah teruji mampu menahan beban sampai dengan 30 kg!

asus chromebook pendidikan

ASUS Chromebook C204 dan C214 dikemas dengan fitur pintar seperti bumper karet, keyboard yang tahan tumpahan air, mudah digenggam, keyboard anti copot, dan material anti gores. Keempat ujung eksterior sudah dilindungi oleh karet yang kuat untuk mengurangi dampak fisik pada komponen dalam yang terjadi saat terjatuh.

Air adalah musuh utama peralatan elektronik. Ucapkan selamat tinggal untuk permasalahan ini pada ASUS Chromebook. Chromebook C204 dan C214 mampu menghadapi anak-anak yang secara tidak sengaja menyenggol gelas sehingga air tumpah mengenai keyboard. Fitur keyboard anti-airnya dapat menahan cairan sebanyak 66 cc. Tinggal tiriskan air, bersihkan dan tunggu kering semua cairan, maka Chromebook dapat digunakan kembali.

Tangan yang kecil membuat genggaman terhadap laptop tidak sekuat orang dewasa. Karet di setiap pojokan memperbesar gaya gesek sehingga genggaman tangan terhadap laptop menjadi lebih erat dan mengurangi resiko terjatuh secara tidak sengaja.

Jarak antara tepian tuts dan badan keyboard juga sudah dirancang sedemikian rupa sehingga meminimalisir resiko tuts keyboard terlepas dari gerakan iseng jari anak. Tekstur eksterior ASUS Chromebook C204 dan C214 bertekstur 3D dengan bintik-bintik halus mengurangi kekhawatiran goresan pada badan Chromebook dan ketempelan sidik jari dimana-mana.
asus chromebook pendidikan

ASUS Chromebook C204 dan C214 memperkuat bagian-bagian rentan pada laptop seperti koneksi engsel, keempat ujung dan bawah perangkat, serta memiliki struktur baja internal yang kuat. Bagian keyboard dipasangkan pada pelat baja ringan yang dapat menahan tekanan fisik agar perangkat keras di dalamnya tidak rusak. 

5. Baterai tahan lama

Apa browser favoritmu? Kalau saya adalah Google Chrome, bahkan saya menulis tulisan ini melalui Google Chrome. Menurut saya, Google Chrome adalah browser paling cepat. Begitu pula yang dapat kamu rasakan jika menggunakan Chromebook. Penggunaan Chromebook layaknya sedang menjalankan Google Chrome. Karena penggunaan sumber perangkat kerasnya hemat dan tidak perlu spek tinggi, penggunaan baterainya juga jadi jauh lebih efisien. ASUS Chromebook C204 dan C214 sudah ditenagai dengan baterai 3-Cell 50 WH yang mampu bertahan hingga 11 jam! Cocok untuk anak sekolahan bahkan yang sekolah dengan metode full-day school. Datang dengan baterai berkapasitas penuh, tidak usah lagi repot mencari colokan untuk mengecas Chromebook mereka.

6. Keamanan nomor satu

asus chromebook pendidikan

Chromebook dan jaminan keamanan ujian sekolah

Bukan isu baru kalau setiap mendekati masa ujian, mulai dari ujian sekolah hingga ujian nasional pasti cloud yang dimanajemeni oleh Google?

Ada beberapa penyebab kenapa soal ujian dapat bocor menjelang diselenggarakannya ujian:
  1. Komputer si pembuat soal diretas
  2. Soal yang sudah dicetak dicuri atau hilang
  3. "Orang dalam" yang membocorkan

Pada Maret tahun 2018, Ombudsman menyatakan terjadi kebocoran soal ujian USBN di DKI Jakarta, Kota Bekasi, dan Kabupaten Bekasi. Kebocoran tersebut disinyalir berasal dari tempat kursus maupun sekolah sendiri. Hal ini juga terjadi di Kota Bandung. Menurut Kabid Humas Polda Jakbar AKBP  Trunoyudo Wisnu Andiko, diduga penyebaran tersebut melalui Whatsapp Grup. Iwan Hermawan yang merupakan Ketua FAGI Kota Bandung mensinyalir ada dua kemungkinan kebocoran: oknum internal yang membocorkan dan penyadapan komputer oleh pihak luar.

Lantas, bagaimanakah pendistribusian soal USBN?

asus chromebook pendidikan

Pendistribusian soal berupa file di dalam flashdisk yang berisi kisi-kisi indikator soal, kartu soal, kunci jawaban, dan password untuk membuka file setiap mata pelajaran. Kebocoran ini mendorong agar dilakukan ujian berbasis komputer untuk pelaksanaan USBN berikutnya.

Peretasan komputer meliputi peretasan lokal dan peretasan cloud. Peretasan lokal berupa adanya pihak yang beruusaha mengakses soal yang disimpan di dalam hard disk lokal komputer. Peretasan cloud berupa usaha menembus informasi kredensial seperti kata sandi untuk memasuki akses penyimpanan lokal melalui internet.

ASUS Chromebook C204 dan C214 sudah dibekali dengan chip perangkat keras H1 yang berfungsi menyimpan informasi sensitif seperti kata sandi dan kunci enkripsi secara aman. Chip H1 dapat digunakan untuk memproses operasi kriptografi pada fitur built-in security key.

Keamanan informasi berupa perlindungan informasi dalam bentuk apapun. Contoh asetnya berupa dokumen tercetak, informasi digital, hingga hak milik intelektual. Pada kasus USBN 2018, perlindungan terhadap informasi soal sangat lemah, sehingga dokumen soal yang sudah tercetak bahkan soft file soal bocor. Untuk keamanan siber, asetnya berupa informasi yang diproses, disimpan dan ditransfer melalui sistem dan jaringan komputer. Saat penyelenggaraan ujian sekolah dan nasional sudah berbasis komputer, perlu diperhatikan keamanan sibernya karena soal ujian tersimpan dalam cloud. Melalui penggunaan ASUS Chromebook yang sudah menggunakan sistem operasi Google, peretasan terhadap cloud sangat sulit ditembus. Pun, strategi melalui malware dan virus yang disusupkan juga relatif mustahil mengingat aplikasi yang dapat kita instal di chromebook hanya aplikasi yang sudah diverifikasi. Sistem Google for Education (GAFE) juga memungkinkan pengontrolan terpusat mengenai aplikasi yang dapat diakses dan digunakan.

Menurut Budi Sulistyo pada salah satu webinar mengenai keamanan data yang diselenggarakan oleh ASUS Indonesia dan Ibu-Ibu Doyan Nulis, penyerangan informasi digital bisa dengan sengaja atau tidak sengaja. Penyerangan dengan sengaja berupa penyerangan menggunakan virus, phising, dan malware serta pemaksaan terhadap korban untuk menyerahkan data. Kejadian yang tidak sengaja berupa kegagalan fungsi, kerusakan fisik perangkat, hingga perangkat yang hilang. Dengan menggunakan ASUS Chromebook, penyerangan dengan sengaja dapat di minimalisir. Begitu pula dengan penyerangan tidak sengaja karena meski perangkat hilang atau rusak, data penting masih bisa diakses karena tersimpan pada cloud.

asus chromebook pendidikan

Aspek-aspek keamanan data meliputi Confidentiality (Kemanan), Integrity (Integritas), dan Availability (Ketersediaan) atau bisa disingkat menjadi CIA. Keamanan data meliputi data, objek, dan sumber yang dilindungi dari akses yang tidak dikenal. Integritas data meliputi data yang dilindungi dari perubahan yang tidak disetujui untuk memastikan data tersebut dapat diandalkan, akurat, dan konsisten. Ketersediaan berupa pengguna yang sudah terdaftar memiliki akses kepada sistem dan sumber-sumber yang dibutuhkan, data tidak hilang dan aksesnya selalu bisa. Dalam memanajemeni sistem ujian sekolah dan nasional, pemerintah dan sekolah sendiri wajib memperhatikan aspek-aspek ini.

Internet juga merupakan salah satu gerbang pertama dari serangan virus maupun malware. Salah satu tindakan kita yang beresiko yang rentan terhadap keselamatan data adalah penggunaan wifi umum dan membuka website yang tidak terpercaya.  Semua aplikasi yang bisa diinstal di Chromebook hanya aplikasi yang tersedia dari Google Play, layaknya gawai android lainnya. Dengan demikian, semua aplikasi yang diinstal hanya aplikasi yang sudah terverifikasi dan tersaring dari sangkutan virus dan malware. 

Pengguna Chromebook juga tidak usah dipusingkan dengan kerepotan harus terus mengupdate program aplikasi dan anti virusnya. Sistem operasi Google memungkinkan semua program yang terinstal sudah terbaharui secara otomatis saat terkoneksi pada internet, termasuk security dan anti-virusnya.

Tidak hanya itu, baik ASUS Chromebook C204 dan C214 sudah dilengkapi dengan slot Kensington yang dapat melindungi perangkat saat melakukan transfer data melalui USB.

Dengan demikian, kemungkinan bocornya soal ujian sekolah dapat diminimalisir dengan cara mencegah poin pertama penyebab kebocoran terjadi. Sisanya, tinggal mengantisipasi terjadinya human error agar tidak terjadi pencurian soal fisik dan permasalahan mental kejujuran "orang dalam".

Tidak hanya bagi pemangku petinggi sekolah, ASUS Chromebook ini juga cocok buat siswa sekolah karena sangat simpel tanpa harus pusing memiliki perangkat laptop yang tergerogoti virus sehingga mengganggu produktivitas.

7. Layar Sentuh

asus chromebook pendidikan
Baik ASUS Chromebook C204 dan C214 memiliki layar sentuh berukuran 11,6 inci yang sudah menggunakan teknologi multitouch 10 titik sehingga menambah pengalaman interaksi layar. Fitur layar sentuh ini dapat menambah pengalaman interaktif belajar dan bermain game di waktu luang. Tidak usah khawatir kesulitan melihat layar saat perangkat dibawa ke luar ruangan. ASUS Chromebook C204 dan C214 sudah memiliki fitur anti-silau yang dapat memastikan pengurangan pantulan di setiap sudut layar sehingga dapat mengurangi kualitas gambar.

Layar sentuh menggunakan Corning Gorilla Glass yang tangguh dengan teknologi Native Damage Resistance yang menahan kerusakan dan membantu mencegah goresan pada layar. Selain itu, Corning Gorilla Glass memiliki 10 kali tahanan terhadap soda kapur.
asus chromebook pendidikan

8. Fleksibel dengan Layar Engsel 180 Derajat dan 360 Derajat

asus chromebook pendidikan


Dengan harga 5 jutaan saja, kita bisa mendapatkan laptop dengan engsel 180 derajat (ASUS Chromebook C204) dan 360 derajat (ASUS Chromebook C214) yang bisa dibuka penuh. Fitur ini memudahkan siswa berbagi layar, berdiskusi, dan berkolaborasi yang memudahkan komunikasi karena memperbesar sudut jangkauan penglihatan untuk orang banyak. ASUS Chromebook C204 dan C214 sudah memiliki view angle yang sangat bagus sehingga menjaga kualitas gambar dari berbagai sudut pengihatan.

Ada 5 mode yang bisa dilakukan: 
  1. Mode laptop untuk mengerjakan tugas, bekerja, dan bermain
  2. Mode datar untuk berbagi layar
  3. Mode berdiri untuk membaca artikel dan menandai dokumen
  4. Mode tenda untuk berbagi layar
  5. Mode tablet untuk mencatat dan beraktifitas menggunakan stylus
Adapun mode 3, 4, dan 5 khusus untuk seri ASUS Chromebook Flip C214.

9. Dilengkapi dengan stylus

asus chromebook pendidikan

Tersedia stylus khusus ASUS C214 secara opsional. Kehadiran stylus ini menambah kepresisian untuk mempermudah dalam menggambar, mencatat, bahkan menandai dokumen. Takut kehilangan stylus? Jangan khawatir, tersedia slot menyimpan stylus pada Chromebook sehingga meminimalisir resiko kehilangan.

10. Memperkaya pengalaman proses pembelajaran

Dengan menggunakan Chromebook, sekolah dapat membeli lisensi Chrome Education yang dapat memberikan kemampuan pengelolaan sederhana sejumlah perangkat milik sekolah seperti menginstal dan memblokir aplikasi serta diawasi langsung oleh Google. Chromebook juga memiliki fitur Google Classroom yang mulai banyak digunakan sejumlah sekolah di Indonesia pada masa pandemi Covid-19 ini. Fitur tersebut dapat memberikan kemudahan untuk para guru kemampuan untuk membuat kelas, membagikan bahan ajar dan tugas, mengajar, mendistribusikan tugas, menerima kiriman tugas murid, memeriksa tugas murid, mengirim penilaian, hingga memantau status pembelajaran.

Sistem operasi Chrome juga menyediakan berbagai aplikasi dasar bawaan yang mendukung pembelajaran seperti Google Docs untuk menulis tugas, Google Slides untuk membuat bahan presentasi, Google Hangout untuk diskusi, dan Google Drive untuk menyimpan data lainnya. Selain itu, sistem Cloud merupakan kekuatan utama yang dimiliki oleh Chromebook sehingga semua pekerjaan bisa diakses dalam keadaan terupdate dari perangkat manapun dan kapanpun asal ada koneksi internet. Sistem Cloud ini juga mempermudah membagi dan mengumpulkan tugas sehingga guru mudah mengawasi.

Dual Kamera, mendukung Augmented Reality

asus chromebook pendidikan

Asus Chromebook C214 dilengkapi oleh dua kamera: satu webcam normal yang terletak di atas layar dan satu kamera khusus terletak di sudut bawah area keyboard. Perangkat ini memungkinkan kita melipat laptop secara penuh sehingga berbentuk seperti tablet dengan posisi kamera kedua berada di belakang layar. Siswa dapat mengambil foto dan video dalam mode tablet sehingga menambah pengalaman belajar lebih menarik seperti pembelajaran dengan menggunakan augmented reality. Selain itu, pengguna dapat menggunakan kamera belakang pada saat melihat layar pada mode tablet.

11. Mudah dalam penggantian part

asus chromebook pendidikan

Apa yang kamu rasakan jika laptopmu bermasalah? Pasti panik dan kemungkinan kecil bisa kita perbaiki sendiri karena keterbatasan pengetahuan mengenai bagian-bagian dari laptop dan bagaimana cara memperbaikinya. Pun, saat memasukkan laptop ke tempat servis, dibutuhkan waktu yang cukup lama hingga kita menerima laptop yang sudah direparasi dengan baik. Bisa dibayangkan jika dalam satu kelas berisi 25 anak ditemukan 3 laptop yang bermasalah? Sudah pasti kegiatan belajar-mengajar akan pincang dan menjadi terhambat.

Namun ini tidak berlaku bagi ASUS Chromebook. ASUS Chromebook C204 dan C214 sudah memiliki konstruksi modular yang memungkinkan konstruksi utama seperti keyboard, baterai, modul termal, dan motherboard diganti dalam hitungan menit hanya dengan menggunakan alat sederhana. Hal ini dapat dikerjakan sendiri oleh administrator TI sehingga sangat mengurangi downtime servis. Perangkat yang bermasalah pun dapat cepat dikirim kembali ke tangan siswa.

asus chromebook pendidikan

asus chromebook pendidika

Masih ragu menggunakan Chromebook?


Banyak yang ragu menggunakan Chromebook karena merasa kemampuan sistem operasi Google memiliki banyak keterbatasan. Padahal, layaknya gawai android, hampir semua aplikasi yang anda gunakan di gawai android bisa diunduh dan digunakan di Chromebookmu. Selain itu, banyak yang tidak berani mencoba hal baru hanya karena belum terbiasa dengannya. Banyak yang tidak berani mencoba sistem operasi Chrome karena belum berani keluar dari pakem kebiasaan.

Selain dilapisi sistem operasi Google, ASUS Chromebook juga dilapisi sistem operasi Linux sehingga pengguna juga dapat menggunakan aplikasi keluaran Linux ataupun mengkustomisasi pengalaman sistem operasi melalui Linux.

Berikut jawaban dari anggapan keterbatasan kemampuan Chromebook!
  1. Penggunaan Offline. Jangan gentar dengan cap Chromebook hanya bisa digunakan saat terhubung dengan internet. Sistem operasi Chrome juga menyediakan fitur penggunaan offline bagi beberapa aplikasinya seperti Gmail, Google Calendar dan Google Docs. Video yang sudah diunduh juga bisa disimpat di penyimpanan lokal Chromebook dan bisa diputar sewaktu-waktu. Daftar aplikasi yang bisa digunakan saat mode offline bisa dilihat disini.
  2. Penggunaan penyimpanan lokal. Meski hanya disematkan penyimpanan lokal yang relatif kecil, kita tetap bisa menghubungkan USB, hard drives eksternal, SD Card, dan berbagai jenis perangkat penyimpanan.
  3. Jenis file dan perangkat eksternal yang bisa dibaca dan dikoneksikan pada Chromebook dapat dibaca disini daftar lengkapnya.
  4. Aplikasi. Merasa hanya dapat menggunakan aplikasi terbatas pada Chromebook? Bisa cek disini daftar lengkapnya. Kita tetap dapat menyunting foto dan video, mendesain, hingga melukis mengunakan berbagai aplikasi terkenal karena sudah didukung sistem operasi Google. Bahkan, kita tetap bisa menggunakan Microsoft Office loh!
  5. Bermain Game. Meski kita tidak dapat bermain games PC, kita tetap dapat bermain game terkenal lainnya yang telah tersedia di Google Play seperti Mobile Legend.
Masih ragu menggunakan Chromebook?

asus chromebook pendidikan
Spesifikasi ASUS Chromebook C204


asus chromebook pendidikan
Spesifikasi ASUS Chromebook C214