Tampilkan postingan dengan label teknologi. Tampilkan semua postingan

4 Ide Main Game sebagai Bonding dengan Anak

Tidak ada komentar
Sebagai seorang dokter bedah, jadwal suami tergolong padat. Kalau orang-orang kantoran normalnya bisa pulang saat jam kantor usai, standar suami pulang kantor adalah jam setengah 9 malam. Itu normal ya, karena sering juga pulang diatas jam 10 malam karena jadwal operasi. Terkadang malah tidak pulang sama sekali karena operasi baru selesai jam 1 dini hari dan ia memlih tidur di rumah sakit saja. Kalau sore hari suami sudah menampakkan batang hidung di rumah, we call it bonus! Ya, karena memang sejarang itu dan kita serumah bakal bahagia banget karena bisa menghabiskan waktu bareng-bareng lebih lama.

bonding dengan anak

Rutinitas sibuk bekerja di luar rumah tidak hanya di hari kerja saja, tapi (sangat) sering ada di akhir pekan. Selain suami memang memiliki jadwal praktik hari sabtu pagi, sering juga ia tiba-tiba memiliki jadwal rapat, seminar, hingga operasi (lagi!).

Banyak ya, hehe. Padahal suami bukan tipe yang ambis. Tidak ambis aja jadwalnya seperti itu.

Pasalnya, di waktu luangnya yang sangat sedikit itu, ia harus membaginya untuk diri sendiri dan keluarga. Waktu untuk diri sendiri juga termasuk istirahat karena bisa dinilai sendiri, waktu istirahat suami di hari kerja sangat sedikit. Waktu pribadinya yang lain adalah “me-time”.

Meski suami ingin me-time, tapi juga dia harus membagi potongan lain waktu luangnya buat keluarga, termasuk bersama anak. Bonding dengan anak itu sangat penting, begitu pengasuhan anak oleh sosok bapak.

Pentingnya bonding dengan anak

bonding dengan anak
Bonding time atau bonding dengan anakadalah interaksi antara orangtua dan anak untuk menciptakan keterikatan baik secara fisik dan emosional. Ikatan yang kuat antara orangtua dan anak dapat menumbuhkan ikatan batin dan rasa aman yang membuat anak memiliki harga diri yang positif.

Orangtua yang hadir menemani anak dalam beraktivitas dapat membuat anak merasa dicintai, dihargai, dan diperhatikan menurut Rosalina Verauli, M.Psi yang merupakan psikologi anak. Bonding dengan anak tidak bisa dianggap remeh karena berpartisipasi dalam tumbuh kembang anak. Beberapa manfaat dari bonding dengan anak berupa meningkatkan keterampilan, kemampuan komunikasi, hingga kemampuan emosi anak.

Saat me-time, suami hobinya main game konsol atau komputer. Bermain bersama anak adalah salah satu cara bonding dengan anak. Kenapa tidak sekaligus saja me-time dan bonding dengan anak? Jenis permainan apa saja yang bisa dijadikan bonding dengan anak?

Jenis permainan sebagai bonding dengan anak

Bermain sering dianggap sepele, bahkan sering dianggap bukan belajar dan hanya dinilai sekadar refreshing belaka. Padahal, banyak sekali perkembangan anak yang terjadi hanya dengan bermain. Apalagi jika bermain dengan orangtuanya, maka selain belajar dan refreshing, sang anak juga merasa lebih dekat dengan orangtuanya.

Bermain bersama anak juga merupakan bagian dari parenting. Banyak jenis permainan yang bisa para orangtua mainkan bersama sesuai dengan kebiasaan dan kesenangan keluarga masing-masing.

1. Bermain game fisik

bonding dengan anak
Main game fisik rasa-rasanya paling praktis dan tidak butuh persiapan banyak. Eits, jangan salah sangka dulu. Bermain game fisik bersama anak tidak melulu berolahraga bersama anak. Main gendong-gendongan, main gobak sodor, dan segala kontak fisik lainnya antara orangtua dan anak merupakan salah satu main game sebagai bonding dengan anak.

Biasanya kalau suami pulang kerja, anak-anak langsung berhamburan minta digendong. Yang gadis-gadis ini juga pada hobi minta duduk di pundak babehnya atau minta digendong lempar-tangkap. Bisa juga main gelantungan dan gobak sodor. Kalau bermain game fisik seperti ini sih saya tidak sanggup, hehe.

Kalau suami sedang ada waktu senggang, baru deh ia berolahraga bersama anak. Biasanya sepedaan bersama si sulung. Pernah suatu waktu si sulung merengek ke saya menanyakan kapan babehnya kapan pulang karena ingin sepedaan bersama.

“Babeh lagi kerja, nanti ya pas sabtu-minggu sepedaan sama babeh. Kan biasanya juga hari sekolah gini Hasan sepedaan sama mama.” Terang saya

“Ga mau, sepedaan sama mama ga seru, ga bisa jauh-jauh dan kencang-kencang.” Tandas Hasan

2. Berman board game

Berbeda dengan saya, suami malah tidak hobi bermain board game. Jadi, aktivitas bonding bersama anak dengan cara bermain board game biasanya dilakukan bersama saya. Board game yang biasa kami mainkan cukup standar, UNO kartu dan UNO stack. Hmm, sebenarnya saya ingin bermain board game yang lebih variatif bersama si sulung. Namun apa daya, adik-adik gadisnya yang berusia 3.5 tahun dan 2 tahun sudah barang pasti tidak sabar buat mengacak-acak. Saat saya bermain game memori tutup botol bersama si tengah saja, si bungsu langsung tidak sabar buat mengacak-acak urutan tutup botolnya.

Hasan juga senang bermain puzzle. Biasanya sih dia main sendiri, namun ia kerap mengajak saya menyusun puzzle bersama untuk puzzle baru yang baru dibeli dan ia belum familiar. Sejujurnya sih saya ingin banget konsen main puzzle barang si sulung. Apa daya, adik-adik gadisnya kerap meneror saya. Alhasil saya benar-benar main kucing-kucingan, curi-curi waktu dan posisi agar bisa main puzzle barang si sulung.

Sudahlah, untuk saat ini bermain aneka board game yang lain saya percayakan si sulung bermain dengan paman-pamannya saja.

3. Bermain pretend play

Imajinasi anak-anak melebihi orang dewasa. Dengan ikut terjun ke dunia imajinasi anak melalui pretend play, orangtua bisa membangun bonding dengan anak sekaligus meningkatkan kemampuan komunikasi, imajinasi, dan tingkat kreativitas anak.

Si sulung dan si tengah sedang dalam fase senang bermain pretend play. Biasanya mereka main berdua. Namun, tidak jarang baik si sulung atau si tengah mengajak saya bermain pura-pura. Entah bermain jual-jualan atau masak-masakan.

4. Bermain game konsol dan PC

bonding dengan anak

Nah, ini adalah jenis main game yang paling suami saya gemari. Mau bukti? Lihat saja 3 laptop kami di rumah ini semuanya adalah gaming laptop! Saya sih tidak masalah, soalnya saya pribadi sebenarnya hobi ngegame juga, hehe. Sebenarnya sih saya menginginkan laptop ukuran 13” dengan bobot sangat ringan agar enak dibawa tiap saya mobile. Tapi sudahlah, saya masih bercita-cita melakukan hal “powerful” dengan laptop seperti coding atau menjalankan aplikasi berat lainnya. Barang pasti kegiatan ini akan lebih nyaman menggunakan laptop gamiing karena speknya saja tinggi.

Baik suami dan saya hobi bermian game konsol dan PC bersama si sulung. Si sulung juga jadi menagih jatah main game tiap libur tiba. Saya dan Hasan hobi kompetisi Mario Kart di Nintendo Switch. Asli, seru banget. Suami dan Hasan main Mario lawan-lawanan (entah apa nama asli game ini). Tidak selalu main game bersama, “mengomentari” Hasan yang main game juga sering dilakukan. Misalnya mengobrol karakter-karakter Pokemon.

Tentunya pilihan bermain game konsol dan PC bukan piilihan semua orangtua. Pun, jika para orangtua termasuk pihak yang memperbolehkan anak bermain game konsol dan PC, pastikan anak bermain game secukupnya saja. Disiplinkan anak dengan cara memberikan jadwal kapan saja ia boleh bermain game konsol dan PC.

Bermain game konsol dan PC bersama anak merupakan pilihan paling mahal dan menyiapkan persiapan yang lebih panjang ketimbang 2 jenis bermain bersama sebelumnya.

Pasalnya, harga konsol atau PC saja sudah berapa, hehe. Tidak hanya konsolnya, pastikan juga kita menggunakan konektor andal yang menghubungkan konsol ke TV. Asli ya, kalau konektor rusak rasanya tidak enak. Entah gambarnya jadi rusak warna atau bahkan tidak muncul sama sekali di layar kaca. Kayaknya suami sudah beberapa kali ganti kabel konektor deh.

Samai akhirnya kami mencoba sebuah kabel konektor dan puas banget sama performanya.

Kabel Lindy sebagai pilihan kabel HDMI

bonding dengan anak


“Aku baru mindahin Switch ke TV atas nih, harus cari kabel konektor baru deh, soalnya yang kegantung disini ga berfungsi.” Ujar suami suatu ketika.

Untungnya, di saat suami bertanya, saya baru ingat bahwa saya punya kabel konektor HDMI dari Lindy yang bisa didapatkan di Official Store Lindy di Tokopedia sekali pun.

bonding dengan anak

Lindy sebagai brand konektor kabel terdepan tidak main-main dalam mendesain produk sesuai dengan kebutuhan. ada 4 kabel High Speed HDMI milik Lindy:
  1. Gold Line
  2. Chromo Line
  3. Anthra Line
  4. Black Line
Nah, kabel konektor Lindy yang kami miliki merupakan tipe Chrono Line. Kabel konektor Chromo Line ini memuaskan sekali baik secara desain dan performa. Bentuk konektornya terasa mewah dengan sentuhan warna emas. Secara kegunaan juga memang ditujukan untuk penggunaan prosumer dan kebutuhan komersial dimana harus dipastikan baik desain dan performa sama-sama estetik dan berteknologi tinggi. 

bonding dengan anak

Penggunaan High Speed HDMI Lindy ini benar-benar mulus tanpa halangan. Mudah dicolokkan baik di konsol Nintendo Switch dan Televisi. Panjang kabel yang 2M juga ideal untuk penggunaan rumah tangga. Sejauh ini kami puas dan tidak ada keluhan.

Main game bersama = bonding dengan anak

Jadwal suami yang padat bukanlah penghalang untuk membangun kedekatan dengan anak-anak dengan cara bonding time. Main game bersama adalah salah satu ikhtiar kami agar anak-anak lebih terkoneksi dengan kami sekaligus refreshing mereka (dan orangtuanya).

Karena sekarang sudah ada High Speed HDMI mumpuni, kini kami bisa leyeh-leyeh di kamar sambil lomba di Mario Kart.

4 Tips Anti Ponsel Lowbat di Tengah Jalan

15 komentar
“Aduh, mau foto sama ambil video banyak tapi batere udah merah,” ujar saya saat berkunjung ke Lembang Park Zoo tempo hari.

Saya punya kebiasaan buruk dengan ponsel yang terjadi hampir tiap pergi: ponsel lowbat. Mungkin 70% setiap mau pergi, saya selalu membawa ponsel dalam keadaan baterai di bawah 30%.

anti ponsel lowbat

“Makanya kalau mau pergi itu HP malamnya sudah di cas penuh!” Ujar suami acap kali melihat kebiasaan saya bawa ponsel lowbat

Kadangkala saya cukup sadar bahwa ponsel dalam keadaan lowbat saat hendak pergi. Saya pun segera mengecasnya. Cas setengah jam juga sudah lumayan bukan?

Sayangnya, tiap saya mengecas ponsel saat sebelum pergi, 90% saya kelupaan mencabut dan membawanya pergi. Probabilitas yang tinggi ini lah yang membuat saya mengambil opsi lebih baik membawa ponsel lowbat ketimbang tidak bawa sama sekali.

Sebagai seorang blogger musiman, pegiat literasi digital masa kini juga tukang sharing instagram, bawa ponsel lowbat itu ga enak banget. Bikin ga bisa ambil foto dan video bagus. Yang mau live streaming juga tidak bisa. Bawaannya ponsel banyak dibiarkan di dalam tas supaya jika suatu saat ada kedaruratan, saya masih bisa mengakses ponsel untuk kebutuhan tertentu.

Bertahun-tahun lewat, saya belum bisa sepenuhnya menghilangkan kebiasaan membawa ponsel lowbat. Kalian jangan ikut-ikutan saya deh. Supaya ga ikut-ikutan, ini ada beberapa tips anti ponsel lowbat di tengah jalan supaya kegiatan ngonten tidak terganggu.

Check this out!

1. Cas Ponsel penuh sebelum keluar rumah

I know, ini memang tips anti ponsel lowbat paling klasik, sekaligus saran yang masih belum bisa saya amalkan sampai sekarang hehe. Tapi mengecas ponsel penuh sebelum keluar rumah itu harusnya dijadikan kebiasaan. Buktinya suami saya selalu begitu. Kayaknya dia tidak pernah mengeluh bawa ponsel lowbat.

Suami biasa mengecas ponsel di malam hari saat hendak tidur. Kalau kamu punya head colokan yang ada timer akan lebih baik karena bisa mengatur waktu arus listrik dialirkan sehingga mengurangi risiko overcharge.

Tips mengecas ponsel penuh sebelum keluar rumah ini adalah saran paling mudah dan paling tidak repot karena membuat kita tidak perlu mengerjakan saran-saran setelah ini jika hanya bepergian tidak seharian banget.

2. Bawa Powerbank

Saya lihat tips anti ponsel lowbat kedua ini termasuk yang paling populer. Namun tidak bagi saya.

Bawa powerbank bagi saya yang tipe ringkas ini malesin banget. Powerbank yang dayanya besar berat, sementara powerbank ringan dayanya rendah. Mungkin hanya sekali cas saja.

Barangkali tips anti ponsel lowbat di tengah jalan ini lebih cocok bagi yang hendak bepergian dalam waktu lama dan rentan tidak menemukan stop kontak. Misalnya berpergian ke alam liar atau mau naik pesawat ke Amerika (eh).

Ya pokoknya tips anti ponsel lowbat di tengah jalan ini merupakan tahap yang paling saya hindari.

3. Bawa 1 set casan (kabel dan adaptor)

Alih-alih bawa powerbank kemana-mana, saya lebih nyaman untuk mengerjakan tips anti ponsellowbat di tengah jalan yang ini. Bawa 1 set casan jauh jauh jauh lebih ringan ketimbang bawa powerbank di tas.

Memang pada akhirnya akan ketergantungan mencari stop kontak. Namun berdasarkan pengalaman saya mobilisasi, membawa 1 set casan ini sangat membantu dalam menjaga daya ponsel saya tanpa harus kerepotan. Soalnya biasanya tempat-tempat mampir saya di dalam ruangan juga yang gampang stop kontaknya. Selain itu, mayoritas mobilisasi saya biasanya naik mobil sehingga membawa 1 set casan ini juga sangat feasible karena…

4. Siapkan kabel casan di mobil

anti-ponsel-lowbat

Betul! Saya bisa mengecas ponsel saya di mobil. 90% mobilisasi saya belakangan ini menggunakan mobil pribadi. Rata-rata perjalanan sekitar setengah jam, jadi lumayan lah kan cas setengah jam. Nanti pas balik ke rumah naik mobil lagi dan bisa cas lagi.

Sebelum judgemental, saya ibu rumah tangga yang notabene pergerakannya seputar belanja dan antar-jemput anak. Jadi jelas lebih efisien, mudah, dan nyaman bepergian pakai mobil. Selain bisa tektok, biasanya saya bawa sekompi di mobil. Tentu lebih nyaman pakai mobil pribadi.

Gunakan kabel casan yang terpercaya

anti ponsel lowbat

Demi menyelamatkan saya dari kebiasaan buruk lupa mengecas ponsel malam sebelumnya, kini saya menyediakan kabel casan yang selalu tinggal di mobil. Menurut saya, cara ini sangat efektif. Beberapa kali saya mempraktekkan tips anti ponsel lowbat di tengah jalan dengan membawa 1 set casan, beberapa kali juga saya kelupaan bawa. Atau saat tiba di rumah dan hendak mengecas, eh casannya tinggal di mobil. Pun, jika saya berniat mempraktekkan tips anti HP lowbat di tengah jalan ketiga, saya tinggal membawa kepala charger saja di tas.

Masalahnya, dengan meninggalkan kabel casan iPhone di mobil, artinya saya harus punya kabel casan lebih dari dua. Beli kabel casan iPhone langsung di tokonya pun sudah jadi rahasia umum, mahal banget.

Kini saya tidak usah bingung lagi mencari kabel casan iPhone. Saya coba menggunakan kabel USB to Lightning Cable keluaran Lindy. Berhubung produk ini belum pernah saya dengar sebelumnya, saya sedikit skeptis dengan performanya. Maklum, barang-barang keluaran Apple itu terkenal rewel banget. Pakai aksesoris bukan keluaran dia suka ga kedeteksi lah, ga berfungsi lah, dan lain sebagainya.

Contohnya saja, tiap saya mencolok iPhone ke laptop Windows saya, kadang kedeteksi, kadang tidak. Hehehe.

Ternyata kabel iPhone keluaran Lindy ini surprisingly bagus banget! Memang sepertinya didesain untuk kebutuhan gawai keluaran Apple. Saya pakai yang panjang 2 meter, padahal kabel resmi Apple biasanya sekitar 1.5 m saja. Alhasil enak banget dipakai di mobil. Saya bisa menaruh iPhone saya sembari di cas di saku laci mobil di sebelah kanan kemudi.

anti ponsel lowbat

Nah, pengalaman saya pakai kabel (agak) abal-abal buat iPhone saya adalah tidak terdeteksi di radio mobil saya, atau kadang terdeteksi kadang tidak. Pakai kabel iPhone keluaran Lindy berfungsi 100 persen! Terdeteksi di radio dan juga daya iPhone ikutan bertambah.

Sekarang mau koleksi kabel USB to Lightning Cable tidak usah pakai mahal lagi. Lumayan kan bisa stok satu di mobil, satu di tas, dan satu cadangan di rumah. 

Say goodbye to low battery iPhone!

Interaksi di Metaverse sebagai Literasi Digital Masa Kini

38 komentar
“Hah, kok bisa itu Wade Watts sekolahnya di OASIS, pestanya juga di OASIS. Bahkan banyak yang bisa cari duit dari sana.” ujar saya dalam hati saat menonton Ready Steady One beberapa tahun lalu.

Ready Steady One adalah sebuah film distopik futuristik besutan sutradara spesialis film sci-fi, Steven Spielberg, yang memprediksi literasi digital masa kini. Film ini adalah adaptasi dari sebuah buku berjudul sama karya Ernest Cline yang diterbitkan pada tahun 2011.

Wade Watts adalah seorang bocah payah yang menghabiskan sebagian besar waktunya di dunia metaverse OASIS karena dunia nyata sedang dalam keadaan yang sangat menyedihkan. Kemiskinan merata hingga polusi udara sampai tingkat yang membahayakan. OASIS sendiri menawarkan dunia metaverse yang sangat lengkap, mulai dari sekolah, interaksi sosial, mencari nafkah, hingga berbisnis.

Saya yang menonton pada tahun 2020 saja merasa surealistik skeptis sama prediksi Ernest Cline, apalagi pembaca bukunya di tahun 2011?

Tapi ternyata prediksi Ernest Cline ini semakin mendekati kenyataan.

literasi digital masa kini

Mengenal Metaverse, (calon) dunia paralel baru

Layaknya dunia nyata, metaverse merupakan ruang digital yang memiliki dunianya sendiri. Metaverse adalah dunia 3 dimensi seperti dunia maya yang dilebur ke dalam dunia virtual. Diperlukan dukungan seluruh indera manusia ke akses virtual untuk merasakan dunia metaverse menjadi lebih nyata. Hingga sekarang, kita baru dapat mengakses metaverse melalui dua indera: penglihatan dengan menggunakan kacamata dan pendengaran dengan menggunakan perangkat jenama (headphone).

Bukan tidak mungkin beberapa tahun hingga dekade ke depan manusia dapat mengakses metaverse menggunakan kelima indera.

Layaknya di dunia nyata, kita juga dapat melakukan banyak hal di metaverse. Mulai dari berteman, menghadiri acara konser virtual, hingga jual beli dengan menggunakan uang digital. Pasti belakangan ini kamu pernah mendengar tentang real estate dan karya seni virtual yang dijual? Memahami literasi digital masa kini adalah langkah agar lebih siap masuk ke dunia metaverse.

Dipicu oleh Pandemi

Tidak bisa dipungkiri, perkembangan metaverse berada di puncaknya saat pandemi melanda. Lebih dari 92% responden menjawab hal serupa seperti survei yang dilakukan oleh Statista pada tahun 2022.

Pandemi Covid-19 yang mulai melanda di tahun 2020 menyebabkan banyak sekolah memberlakukan Study from Home (SFH) dan kantor memberlakukan Work From Home (WFH). Dari yang awalnya hanya mengandalkan aplikasi video conference seperti Zoom, Google Meet dan Microsoft Teams, kini mulai banyak aplikasi di internet yang memfasilitasi pertemuan secara daring yang membuat sensasinya terasa lebih nyata ketimbang hanya menonton pembicara dan bercakap-cakap saja.

Beberapa bulan lalu, komunitas dimana saya salah satu anggotanya diundang untuk mengisi acara konferensi bertajuk “International Adolescent Health Week” yang diadakan oleh salah satu universitas di Indonesia. Uniknya, acara tersebut diselenggarakan secara virtual tapi bukan menggunakan salah satu dari 3 platform yang saya sebut di atas, m

literasi digital masa kini

Layaknya bermain game RPG, di platform tersebut kita dapat membuat karakter sendiri. Para peserta yang mendaftar akan diberikan link dan akses untuk mengakses ruangan virtual yang telah didesain oleh panitia. JIka karakter kita kebetulan berpapasan dengan karakter lain, maka kita bisa saling melihat wajah yang terekam via kamera gawai masing-masing. Tidak hanya melihat saja, tapi kita juga dapat bercakap-cakap.

Ya, layaknya dunia nyata, kita hanya bisa berbicara dengan orang yang kebetulan berpapasan saja. Kehadiran aplikasi-aplikasi metaverse semacam ini membuat kehadiran di acara virtual terasa lebih nyata.

Saat hanya menggunakan 3 platform virtual dasar seperti Zoom, Google Meet, dan Microsoft Teams, terasa butuhnya fast internet provider karena pertukaran data akibat adanya video dan suara akan semakin besar. Tidak kebayang saya fast internet provider macam apa yang dibutuhkan untuk menyamai akses ke OASIS seperti yang ada di Ready Steady One.

Fast internet provider sebagai sarana literasi digital masa kini

literasi digital masa kini

Sebelum muluk-muluk memikirkan fast internet provider mana yang bisa memberikan akses internet ke OASIS, mungkin setidaknya kita bisa memilih fast internet provider yang sudah ada di Indonesia saat ini sebagai sarana meningkatkan literasi digital masa kini.

Saya sudah menjadi pelanggan IndiHome dari Telkom Group belasan tahun lamanya. Dengan luasnya wilayah Indonesia, keterandalan jaringan internet tidak hanya berdasarkan fast internet provider saja, tapi juga keterjangkauannya hingga ke pelosok daerah. Bukan sebuah rahasia kalau IndiHome menyediakan jaringan internet hingga ke pelosok daerah sehingga membantu literasi digital masa kini masyarakat yang ada di pelosok.

Indihome sebagai fast internet provider menyediakan kecepatan jaringan dari 10 Mbps hingga 300 Mbps dengan harga sangat terjangkau.

Metaverse tidak akan menggantikan dunia nyata

literasi digital masa kini

Setelah mengetahui kenyataan Metaverse yang sangat nyata, akankah interaksi metaverse akan menggantikan interaksi di dunia nyata?

Tenang saja, mudah-mudahan tidak ya!

Pasalnya, berinteraksi dengan keadaan saling berhadapan adalah sebuah kebutuhan dasar manusia.

Jika para musisi terpaksa konser virtual akibat pandemi, sekarang jadwal konser di dunia nyata sudah saling sambung-menyambung seperti gerbong kereta api yang tak ada habisnya.

Sebagai contoh, kegemaran saya mendatangi konferensi ilmiah bukan cuma mempublikasi jurnal dan mempresentasikannya. Coffee break adalah salah satu waktu yang saya tunggu-tunggu di konferensi karena saya bisa “pedekate” dengan orang baru dengan memulai dari topik presentasinya sebagai pemantik awal basa-basi.

Ini menunjukkan bahwa metaverse sama sekali tidak dapat menggantikan dunia nyata seperti yang ada di novel/film Ready Steady One. Untuk sekarang, keberadaan metaverse seperti pelengkap dunia nyata atau bahkan “cadangan” jika banyak hal tidak mampu dilakukan seperti puncak masa pandemi tahun lalu.

Namun itu mungkin karena keadaan dunia nyata sekarang masih jauh lebih baik ketimbang di Ready Steady One. Jika dunia semakin buruk? Bukan tidak mungkin kehadiran metaverse bagaikan dunia utama layaknya di OASIS.


Namun mari berharap agar hal tersebut tidak terjadi!

Laptop atau Tablet? Sebuah Kisah Perjalanan Mencari Laptop

15 komentar
“Mas, kalau buat ngegame tipis-tipis rekomen mana? Zenbook atau Vivobook? Kok ini ada seri yang harganya ga jauh beda?” Tanyaku penasaran sambil menatap layar kinclong ASUS OLED

“Vivobook RAM-nya lebih besar. Mau pakai buat sehari-hari misal edit foto, cocoknya pakai Vivobook. Zenbook lebih cocok untuk multitasking, bahannya juga terkesan premium. Tapi kalau mau ngegame sayang mba, mending pakai TUF atau ROG. Vivobook sama Zenbook fannya mengarah ke layar jadi kalau sering dipakai gaming malah rentan ngerusak. Kalau seri gaming fannya menghadap keluar laptop dari samping dan belakang laptop.” jelas mas-mas sales konter ASUS PIM 2.

Cukup lama pencarian saya dalam mencari laptop, sampai mata saya diarahkan ke tulisan spesifikasi ASUS Vivobook 13 Slate OLED. Laptop Vivobook 13 Slate OLED (T3300) sudah menggunakan sistem operasi terbaru yaitu Windows 11.

laptop atau tablet

For some people, they can't work except using Windows Operating System, ain't it?

Perjalanan mencari laptop

laptop atau tablet

Memilih laptop dimulai dari mengenali diri sendiri. Apa yang dibutuhkan, akan digunakan untuk apa, dan berapa dana yang mampu digelontorkan. Setelah mengenali diri sendiri, baru kita mengenali produk dengan cara membaca ulasan hingga langsung mendatangi gerainya. Jangan sampai membeli laptop overbudget dan overspesification padahal sebenarnya kita tidak butuh-butuh amat dengan fitur-fitur yang ditawarkan. Jadi, pastikan budget dan kebutuhan terhadap laptop sesuai.

Misalnya saya membutuhkan laptop untuk blogging, membuat konten, dan menonton film streaming. Laptop seri Vivobook ASUS juga sudah cukup menghadirkan harga yang lebih terjangkau dengan spesifikasi yang lebih tinggi untuk harga setara di lini Zenbook ASUS.

Sejujurnya saya cukup puas menggunakan laptop yang sekarang aktif saya gunakan untuk kebetuhan blogging dan sesekali gaming. Saya menggunakan laptop ASUS TUF A15 yang sebelumnya digunakan oleh suami saya. Performa laptop gaming memang tidak bohong. Wuss,, wuss,, wuss. Selain performanya yang kencang dan sudah jelas punya kartu grafis mumpuni, yang saya sukai dari laptop gaming adalah layarnya yang besar dan punya numpad. Kalau punya laptop ukuran 15 inci rasanya tidak ingin beli layar desktop tambahan lagi untuk di rumah. Sudah lebih cukup untuk kebutuhan sehari-hari.

Namun, pertanyaan yang kerap muncul di benak saya adalah bagaimana jika saya membutuhkan laptop untuk dibawa mobilisasi. Di jaman sekarang, membawa laptop sebesar 2,3 kg dengan ukuran 15 inci sungguh tidak praktis, terutama bagi saya yang perempuan. Meski laptop 15 inci muat di ransel anti air 15 inci saya, tidak bohong jika sebenarnya saya juga menginginkan laptop super ringan untuk dibawa-dibawa. Jujur, dengan berat dan besarnya laptop gaming saya, keinginan untuk membawanya keluar rumah jadi berkurang drastis.

Melihat saya yang relatif banyak di rumah karena merupakan Ibu Rumah Tangga, memang sih kebutuhan membawa laptop saya sekarang cuma sebatas kalau lagi menginap di rumah orang tua dan mertua atau saat sedang “ngafe” menunggu si sulung selesai sekolah. Intinya, membawa laptop keluar rumah bagi saya hanya sesederhana menentengnya dari mobil-kafe/rumah dan sebaliknya. Meski begitu, tetap terasa muncul rasa resah, berat dan tidak plong jika harus memikirkan mobilisasi laptop besar saat dibawa keluar rumah.

Itu cuma perjalanan mobil-kafe/rumah ya, bagaimana jika harus dibawa dengan mobilisasi yang lebih banyak. Kalau bawa laptop 15 inci praktis saya harus bawa ransel 15 inci saya. Nanti jadi kurang modis donk 😂.

Laptop TUF A15 ini sungguh tidak ingin saya lungsurkan. Laptop ini enak banget dipake di rumah, apalagi kalau nanti ternyata saya butuh mengoperasikan pekerjaan berat seperti coding atau bahkan aplikasi berat lainnya seperti Photoshop dan ArcGis.

Punya laptop ringan dan kecil itu menyenangkan. Tapi laptop kecil untuk dipakai di rumah kurang produktif. Punya laptop bobot ringan juga tidak memberikan pengaruh yang signifikan jika digunakan di rumah saja.

Sempat terbersit di benak saya untuk menggunakan tablet saja jika harus melakukan pekerjaan di luar rumah. Di rumah ada 1 tablet ukuran 10 inci yang biasanya digunakan oleh anak saya. Tablet ini juga tablet tipe yang sama seperti yang digunakan oleh suami saat ia butuh  mengerjakan pekerjaan jika berada di luar rumah. Suami saya menggunakan case bluetooth keyboard sehingga tablet bisa diposisikan berdiri dan memiliki bentuk persis laptop yang dibuka. Biasanya saat mobilisasi tinggi, suami saya menggunakan konfigurasi tablet-keyboard.

Sempat terbersit untuk melakukan konfigurasi serupa saat saya hendak bekerja di luar rumah. Tidak cuma bisa mengetik, saya bahkan bisa mencorat-coret layar saat sedang mendapatkan ide untuk menulis blog. 

Namun hati masih terasa berat. Saya kurang nyaman jika harus banyak mengetik menggunakan gadget yang tidak menggunakan platform Windows. Pun, saya juga merasa kurang nyaman jika harus mengetik di layar tablet 10 inci. Memang dahulu saya sempat menggunakan tablet 7 inci, untuk kebutuhan utama e-book. Saya anti menggunakan tablet 10 inci karena berat dan besarnya layar untuk membaca buku adalah fitur yang mubazir. Namun kini saya sudah memiliki e-book reader untuk membaca buku sehingga praktis saya tidak membutuhkan tablet lagi.

Selain itu, hanya menggunakan fitur sentuh tablet juga kurang nyaman untuk menyunting foto atau bahkan mendesain blog banner ataupun Instagram post di Canva. Asli, pakai Canva tanpa mouse itu susah dan wasting time sekali.

Penggunaan tablet ini di sisi lain sebenarnya memiliki sisi menggiurkan lainnya, yakni saat melakukan corat-coret untuk brainstorming ide blog saya ataupun kerangka jurnal saintifik. Jujur saat saya melakukan corat-coret di rumah , saya menggunakan kertas yang nantinya kertas itu hanya menumpuk tidak jelas. Kalaupun saya memutuskan untuk membuangnya, sering saya harus memfoto dahulu menggunakan ponsel yang ujung-ujungnya tidak saya lihat lagi karena saya bingung mencarinya di tumpukan galeri ponsel.

Pencarian laptop saya sejujurnya masih berlanjut meski saya sudah memiliki laptop tetap yang memiliki performa mumpuni. 

Sampai tiba-tiba hati saya digerakkan untuk mencari tahu tentang Laptop Vivobook 13 Slate OLED.

Saat hati memilih ASUS Vivobook 13 Slate OLED

laptop atau tablet

Saat hendak membeli gadget, bagi saya hampir wajib hukumnya untuk “mencari ilmu” dengan cara mendatangi ke gerainya langsung. Meski pada akhirnya belinya melalui marketplace, tetap wajib menyambangi toko langsung. Dengan ke toko langsung, saya bisa berdialog dengan mas sales mengenai fitur barang tersebut. Saya juga dapat melihat barang tipe lain sebagai opsi, soalnya sering juga yang awalnya kami tertarik untuk membeli tipe A, pada akhirnya berdasarkan masukan insight dari mas sales, kami malah membeli tipe B.

Ini saya lakukan terakhir kali saat mencari barang elektronik besar di rumah baru saya. Kompor, oven, kulkas. Saya harus memastikan bahwa fitur yang saya inginkan sesuai dengan harga yang saya bayarkan. Saya juga harus memastikan bahwa fitur yang saya dapatkan memang kami butuhkan. Saya dan suami tentu tidak ingin mengeluarkan budget lebih untuk mendapatkan barang yang memiliki fitur-fitur yang sebenarnya tidak digunakan secara optimal di rumah. Mubazir.

Ini juga berlaku untuk laptop. Maka, saya pun menyambangi gerai ASUS di PIM 2 bersama anak saya. Posisi gerai ASUS ini super strategis, yakni di ujung koridor dan persis di samping Foodcourt! Jadi setelah kami mengisi perut, saya bisa langsung asik cuci mata melihat laptop ASUS dengan perut kenyang.

Belakangan ini ASUS sedang banyak merilis edisi laptop layar OLED baik untuk seri Vivobook, Zenbook, dan Expertbook. Saya pun sudah beberapa kali mengulasnya di blog saya meski belum pernah sama sekali melihat kejernihan layar OLED.

laptop atau tablet

Begitu saya ke gerai ASUS di PIM 2? BOOM! Benar-benar layar ASUS OLED sekinclong itu, sejernih itu, sebagus itu, dan senyaman itu untuk mata. Bakal kebayang sih bakalan enak mengedit foto via aplikasi Lightroom ataupun nonton serial tv kesayangan pakai laptop ASUS OLED.

Layar ASUS OLED yang bersinar di pinggir foodcourt beneran kayak magnet yang menarik orang-orang yang lalu lalang di foodcourt!

Sayang sekali, menurut penuturan mas sales ASUS, Laptop Vivobook 13 Slate OLED belum ada fisiknya untuk di test drive di gerai ASUS. Hal yang sama juga saya konfirmasi ulang ke Muhammad Firman (@emmet24son), kepala Public Relation ASUS Indonesia, ternyata seri laptop Vivobook 13 Slate OLED baru resmi dirilis di Indonesia tanggal 29 Juni. Wow jadi tidak sabar untuk melihat dan menggunakan barang aslinya!

Jika belum ada barang aslinya, saya pun belum membulatkan niat untuk menjatuhkan hadi pada Vivobook 13 Slate OLED. Meski begitu, mari bersama-sama dengan saya untuk mempelajari keunggulan Vivobook 13 Slate OLED ini. Siapa tahu fitur-fitur yang ditawarkan beserta harganya yang kompetitif sesuai dengan kebutuhan kamu juga!

Ini di fitur-fitur unggulan dari Laptop Vivobook 13 Slate OLED

1. Laptop? Tablet? Dapatkan keduanya sekaligus

laptop atau tablet

Publik sering dihadapkan dengan 3 pilihan: laptop saja, tablet saja, atau keduanya?

Pilihan laptop saja tentu kurang feasible bagi beberapa orang terutama ilustrator karena mereka menggunakan tablet untuk mengerjakan pekerjaan mereka. Pilihan menggunakan tablet saja juga dirasa kurang efektif karena meski opsi paling ringan, melakukan pekerjaan mengetik dengan sistem operasi bukan Windows juga sangat tidak nyaman, apalagi jika sampai menyunting tulisan dan gambar. Layarnya pun cenderung kecil, maksimal hanya 10 inci dan rentan membuat sakit mata.

Pilihan menggunakan tablet dan laptop sekaligus adalah pilihan paling efektif namun membawa keduanya sekaligus saat mobilisasi sangat lah berat dan tidak praktis.

Lantas bagaimana solusinya?

“ASUS merupakan satu-satunya produsen laptop di Indonesia yang konsisten menghadirkan laptop dengan beragam form factor, mulai dari laptop clamshell tradisional, convertible, hingga detachable,” ujar Jimmy Lin, ASUS Regional Director Southeast Asia.

 

laptop atau tablet

That's right! ASUS mengeluarkan produk di lini detachableMengapa harus memilih diantara laptop atau tablet kalau kamu bisa memiliki keduanya hanya dalam satu perangkat saja?

laptop atau tablet

Vivobook 13 Slate OLED merupakan perangkat yang serba guna, dengan keyboard ukuran penuh yang dapat dilepas dan cover stand yang memiliki engsel 170°. Tidak hanya itu, laptop yang memiliki kecepatan sampai dengan 3.3 GHz Intel® quad-core CPU ini dibekali layar sentuh, Vivobook 13 Slate OLED dilengkapi dengan layar sentuh sehingga menjadi sangat nyaman saat digunakan pada mode tablet. Laptop ini juga telah mendukung penggunaan stylus dengan teknologi MPP 2.0 yang merupakan teknologi teranyar ASUS Pen 2.0.

Simak 2 mode penggunaan Vivobook 13 Slate OLED yang akan menunjukkan betapa best deal sekali laptop detachable OLED pertama di Indonesia ini!

a. Mode laptop klasik

laptop atau tablet
Everyone need this! Tidak ada yang lebih enak untuk mengetik selain menggunakan laptop dengan bentuk klasik. Artinya, laptop dengan keyboard untuk mengetik dan layar yang berdiri mengarah ke muka. Pekerjaan sehari-sehari seperti mengetik dan mengedit gambar Canva pun menjadi lebih mudah.

Memang banyak tablet yang sudah dibekali dengan detachable keyboard. Namun bagi saya, tablet yang memiliki sistem operasi bukan Windows dan tanpa pointer tidak cukup nyaman untuk digunakan sebagai pengganti laptop seperti umumnya.

b. Mode tablet

laptop atau tablet
Sedang tidak ingin mengetik? Kamu bisa melepas detachable keyboard dan menggunakan layarnya saja seperti tablet.

Di bagian belakang layar ASUS Vivobook 13 Slate OLED terdapat semacam sisi kepak yang bisa digunakan untuk membuat tablet berdiri. Mode tablet ini akan sangat digunakan jika saya butuh untuk menulis sesuatu atau bahkan nonton serial televisi kesayangan! Jika tidak membutuhkan sisi kepak, layar tablet bisa diletakkan sejajar dengan permukaan. Saat ingin menonton, layar tablet bisa diberdirikan dalam posisi landscape.

Kehebatan sisi kepak ASUS Vivobook 13 slate OLED ini juga bisa menopang badan layar saat diberdirikan posisi portrait.

Mode tablet yang dimiliki oleh ASUS Vivobook 13 Slate OLED ini menurut saya sangat berguna bagi saya baik saat berada di luar rumah ataupun di dalam rumah. Saat di rumah, saya masih menggunakan laptop ASUS TUF A15 sebagai laptop utama dan bisa menjadikan ASUS Vivobook 13 Slate OLED ini sebagai layar kedua, yakni sebagai layar acuan saat saya sedang mengerjakan tulisan berdasarkan dokumen jurnal. Saya juga bisa mengetik di laptop utama sembari mencorat-coret mengumpulkan ide di Vivobook 13 Slate OLED yang sedang dalam posisi tablet.

laptop atau tablet
laptop atau tablet

Oleh karena itu, jika saya yang biasanya anti membeli aksesoris gimmick, maka tanpa berpikir panjang saya pasti akan membeli ASUS Pen 2.0 yang dilengkapi teknologi MPP 2.0 dan Bluetooth Pairing. ASUS Pen ini keren banget menurut saya karena memiliki fitur perubahan ujung tekanan. Maksudnya, di settingan pen bisa diganti-ganti layaknya mengganti pensil 2H, H, HB, dan 2B berdasarkan tekanan yang diberikan oleh pengguna. Bagi saya yang menggunakan untuk mencorat-coret dan mencatat tulisan tangan saja akan sangat terbantu dengan fitur ini, apalagi bagi seorang ilustrator.

laptop atau tablet

Tidak cuma buat mencoret-coret, ASUS Pen 2.0 ini multifungsi, bisa screenshot, tap ke slide berikutnya saat presentasi, dan hal menarik lainnya. Daya baterainya juga tahan lama. Cuma sekali dicas penuh, bisa digunakan sampai dengan 140 jam! Itu bahkan kayak ngecas sekali sebulan ya 😁. Casnya juga gampang, bisa di laptop ataupun di power bank sekali pun.

2. Mendukung Mobilitas secara maksimal


Bagi saya yang cenderung menggunakan laptop bepergian untuk kepentingan basic, tidak ada fitur lain yang saya butuhkan selain RINGAN. Rata-rata sebuah laptop yang paling tipis sekalipun memiliki berat di atas 1 kg. Bagi kamu yang generasi muda aktif pasti akan jatuh cinta sama ASUS Vivobook 13 Slate OLED karena beratnya KURANG dari 1 kg, tepatnya CUMA 785 gr!

Jaman sekarang sudah tidak jaman deh bawa laptop berat-berat. Sakit punggung coy! Apalagi bagi perempuan yang mayoritas akan membawanya di tas samping. Membawa barang terlalu berat di tas sandang samping itu riskan bisa bikin punggung miring yang pada akhirnya akan merusak postur tubuh secara keseluruhan.

Dimensinya juga cuma 13 inci saja dengan ketipisan layar 7,9 mm yang sudah didukung oleh Corning® Gorilla® Glass touchscreen dengan layar anti sidik jari sehingga tidak membutuhkan tas laptop khusus untuk membawanya. Bahkan saya bisa membawa laptop Vivobook 13 Slate OLED ini hanya di tas sandang sehari-hari saya ukuran medium saja!

Meski memiliki berat ringan dan fisik yang ringkas, untuk kebutuhan sehari-hari saya tidak usah menambah beban charger di tas. Pasalnya, Vivobook 13 Slate OLED bisa bertahan seharian atau sampai 9,5 jam hanya dengan sekali cas saja. Baterainya juga cukup powerful karena dibekali oleh kapasitas baterai sebesar 50 Wh. Pengisian daya juga sangat cepat! Pengisian 60% saja cuma 39 menit menggunakan adapter casan sebesar 65 W. Bye-bye wasting time for charging!

Layaknya tablet biasa atau ponsel, jika saya ingin menggunakan Vivobook 13 Slate OLED lebih lama, saya bisa mengecasnya menggunakan powebank bahkan di pesawat.

3. Layar OLED anti mata sakit

laptop atau tablet

Sesuai namanya, laptop Vivobook 13 Slate OLED sudah dibekali oleh layar OLED yang memanjakan mata. No debate, period. Kalau tidak percaya, kamu bisa langsung lihat di gerai ASUS. Pengalaman melihat jejeran laptop ASUS OLED melalui foodcourt PIM 2 sedemikian berkesannya bagi saya. Dari jauh saja saya sudah seperti tertarik untuk mendatanginya, apalagi saat melihat dari lebih dekat, benar-benar bikin jatuh cinta. Yang awalnya tidak tertarik-tarik amat dengan laptop ASUS OLED, sekarang terbersit di dalam hati untuk punya satu laptop ASUS OLED.

laptop atau tablet

Tentu laptop yang memiliki teknologi ASUS OLED seperti yang sudah pernah saya bahas ini memiliki kelebihan dibandingkan laptop biasa. Bagi content creator, tentunya kehadiran layar OLED ini akan membantu pekerjaan terutama untuk menyunting foto karena menampilkan warna sangat akurat. Bahkan, saya juga sudah membahas secara detail kenapa kamu harus menggunakan laptop ASUS OLED disini karena berhubungan erat untuk meningkatkan kualitas tidur.

Begitu juga untuk tontonan multimedia. Bahkan saya bisa menonton serial televisi LEBIH BAIK dibandingkan menontonnya di layar TV saya meskipun lebih besar. Soalnya, TV layarnya belum OLED sih hehe.

Mau untuk bekerja atau menikmati hiburan, ASUS Vivobook 13 Slate OLED menjaga kesehatan mata berkat kehadiran fitur Eye Care yang telah tersertifikasi TÜV Rheinland.

laptop atau tablet

Nonton hiburan juga bisa dimana saja. Kalau kamu hanya mempercayakan hiburan kamu saat bepergian di tablet yang notabene hanya berukuran 10 inci, tentu pengalaman nonton serial televisi kesayangan di layar 13-inci (16:9) berteknologi ASUS OLED akan SANGAT JAUH BERBEDA. Layar ASUS OLED akan menampiskan kualitas warna terbaik berkat jasa reproduksi warna akurat terserfikasi dari PANTONE® Validated dan color gamut 100% DCI-P3.

Tidak hanya itu, teknologi layarnya juga sudah didukung oleh Dolby Vision yang biasa dipunyai oleh bioskop. Kontras warnanya juga sempurna dengan sertifikasi VESA Display HDR™ True Black 500. Bagaimana tuh, kamu nonton film sudah hampir sama pengalamannya kayak nonton di bioskop cuma lebih kecil dan lebih bisa dinikmati dimanapun dan kapanpun.

laptop atau tablet

Jika kamu tim tablet, coba perhatikan fakta berikut ini dahulu. Rasio aspek yang biasa dihadirkan tablet hanya 4:3 sementara Vivobook 13 Slate OLED menghasilkan rasio aspek 16:9. Tentu saja ini memberikan pengalaman yang signifikan bedanya. Nonton di Vivobook 13 Slate OLED akan lebih nyata karena bisa melihat serial televisi kesyaangan penuh satu layar.

Tentunya pengalaman menonton yang akan saya rasakan ini tidak cuma didukung oleh layar, tapi juga oleh kualitas suara yang tak kalah hebat.

4. Suara jernih menggelegar seperti nonton bioskop

laptop atau tablet

Kecil-kecil cabe rawit! Itu yang bisa saya ucapkan kepada Laptop Vivobook 13 Slate OLED. Badan boleh kecil, tapi sistem audionya sudah ditenagai oleh Dolby Atmos Quad Speaker yang menggelegar.

Yes. you’ve read right! Bodi 13-inci tapi speaker punya empat! Teknologi Dolby Atmos ini adalah fitur suara yang digunakan untuk menghasilkan suara sekelas nonton di bioskop. Di film-film terbaru di berbagai aplikasi streaming juga sudah mendukung Dolby Atmos sehingga tentu fitur ini tidak akan mubazir. Pengalaman nonton serial televisi rasa bioskop dimanapun juga bersama ASUS Vivobook 13 Slate OLED diperkukuh dengan tekonologi Smart Amplifier.

5. Fitur-fitur pendukung produktivitas

laptop atau tablet

Tontonan berbagai aplikasi streaming multimedia lainnya sudah pasti mengandalkan koneksi internet. Apa gunanya punya layar jernih dan suara menggelegar tapi tontonan terputus-putus karena jeleknya konektivitas?

laptop atau tablet

Asal internet kamu lancar, kamu sudah pasti tidak akan kecewa menonton hiburan di laptop Vivobook 13 Slate OLED karena sudah dibekali oleh teknologi WiFi teranyar, yakni WiFi 6 (802.11ax) yang telah dioptimasi oleh ASUS WiFi Master untuk konektivitas yang lebih stabil dan anda. Kecepatan transfer WiFi juga sangat kencang, yaitu 2.4 Gbps demi menonton serial televisi kualiatas 4K tanpa ngadat.

Tentunya secara ini juga didukung dengan kemampuan internal Asus Vivobook 13 Slate OLED yang sudah menggunakan Windows 11 home dan ditengai dengan Intel® quad-core CPU sampai dengan 3.3 GHz. Penyimpanannya juga cukup lega karena sampai dengan 256 GB PCIe® Gen 3.0 x4 SSD storage yang anti lemot-lemot club. Mau simpan banyak video dan foto? Santai! RAM-nya juga sampai dengan 8 GB LPDDR4x. Jadi sudah dipastikan kamu mau kerja agak berat seperti menyunting foto dan video juga bisa.

FItur-fitur lain yang dapat meningkatkan produktivitas adalah hadirnya Noise Cancelation yang akan sangat efektif mengeliminasi suara ribut anak-anak saya yang sedang bermain saat saya sedang menjadi pembicara via daring. ASUS AI noise-cancelling menggunakan sistem Machine Learning yang didukung dengan fitur ClearVoice Mic dari MYASUS app dapat menyingkirkan suara-suara latar yang tidak diharapkan agar suara kita yang sedang berbicara ini terdengar renyah dan jernih. Tidak cuma menyingkirkan suara latar dari kita yang sedang berbicara, tapi juga menangkap suara pembicara lainnya lebih jernih saat video konferensi berkat hadirnya fitur ClearVoice Speaker.

Oh ya, layaknya ponsel, ASUS Vivobook 13 Slate OLED juga sudah dibekali dengan pemindai sidik jari di tombol power yang berada di atas layar. Benar-benar seperti tablet, saya bisa mengunci laptop tablet ini secepatnya dengan mudah sebelum dipakai dan diambil oleh anak saya hehe.

6. Dual Camera

laptop atau tablet

Jika ASUS memutuskan bahwa varian Vivobook 13 Slate OLED bisa digunakan sebagai tablet, maka mereka tidak main-main dan akan totalitas. Layaknya tablet pada umumnya, Vivobook 13 Slate OLED juga dibekali Dual Camera, yakni 13 MP untuk kamera belakang dan 5 MP untuk kamera belakang.

Tentunya fitur dual camera ini tidak dimiliki oleh laptop pada umumnya. Saya bisa dengan gampangnya memotret apa yang ada di depan saya atau bahkan selfie dengan kualitas gambar resolusi tinggi dan kemudian mencoret-coretnya dengan menggunakan ASUS Pen 2.0.

7. Last but not least, desain yang edgy

laptop atau tablet

Kalau tampak dari jauh sih ASUS Vivobook 13 Slate OLED ini cuma warna hitam saja. But black is the new modern design! Desain hitamnya juga tidak hitam bland karena ada detail splatter-finished di bodinya serta motif aksen hijau cerah di bagian atas belakang layar yang pastinya membuat laptop ini makin keren bagi siapapun yang menggunakan.

To bring or not to bring laptop..

Pikiran berkecamuk kembali saat hendak menginap di rumah orang tua akhir pekan lalu. Bawa laptop atau tidak. Akhirnya saya memutuskan untuk tidak membawa laptop karena malas bawa barang besar. Saya melihat suami membawa laptopnya sehingga berharap untuk numpang laptop dia buat mengerjakan artikel ini.

Pada akhirnya saya tidak mengerjakan tulisan ASUS Vivobook 13 Slate OLED ini karena ternyata suami saya lagi “pelit” karena dia pake buat main game haha 😝.

Akhir pekan depan ini juga kami juga akan liburan ke Solo. To bring or not to bring laptop, jawabannya sudah pasti tidak bawa. Ke rumah orangtua yang notabene cuma packing laptop, naikin ke mobil, melakukan perjalanan dekat dan membawa turun saja saya masih galau. Apalagi ini perjalanan jauh. Padahal terbersit di pikiran saya untuk mencicil tulisan catatan perjalanan saya di blog melalui laptop selagi masih sangat segar di pikiran.

Saya merasa permasalahan ini tidak hanya dialami oleh saya sendiri. Sebenarnya suami pun juga begitu, makanya ia yang tipe praktis tidak mau ribet dan berat lebih memilih membawa tablet beserta keyboardnya saat sebulan ke Prancis.

Laptop atau tablet. Hal yang kerap menjadi pilihan ini sebenarnya tidak perlu menjadi beban pikiran lagi. Hadirnya ASUS Vivobook 13 Slate OLED ini bisa menjadi jawaban bagi saya dan generasi milenial lainnya. Kenapa harus memilih diantara keduanya jika kita bisa memiliki keduanya dalam satu perangkat saja?


ASUS Vivobook 13 Slate OLED.
Too lightweight as laptop, too powerful as tablet.



Mengenal Gastronomi Molekuler: Perkawinan Sains dan Makanan

14 komentar
“Baru matang dari kompor kemudian langsung dimasukkan ke dalam oven? Oh, tampaknya Chef ingin membuat sajian tersebut dalam bentuk bubuk.” Ujar Alton Brown mengomentari salah seorang Chef dalam sebuah acara kuliner favorit saya, Iron Chef.

gastronomi molekuler

Iron Chef adalah acara reality show masak-memasak yang baru diluncurkan di Netflix. Sebenarnya, acara Iron Chef ini adalah acara reality show dari Jepang sejak tahun 1993. Namun baru belakangan ini Iron Chef diproduksi ulang sama Amerika dan jadilah Iron Chef yang dapat kamu tonton di layanan Netflix.

Iron Chef adalah salah satu reality show masak-memasak favorit saya, alasan utamanya karena saya suka cara pembawa acara mengomentari pekerjaan para Chef. Mereka memiliki pengetahuan kuliner yang terverifikasi karena bisa menebak hidangan apa yang akan disajikan oleh Chef hanya dengan mengamati dan menjelaskan teknik-teknik memasak yang mereka gunakan.

Melalui Iron Chef pula saya melihat beberapa teknik memasak yang tidak saya lihat di acara reality show masak-memasak lainnya. Wajar saja para pembawa acara memahami dunia kuliner dan tekniknya begitu mendalam. Alton Brown sudah berpengalaman menjadi pembawa acara masak-memasak dan Kristen Kish adalah seorang Chef yang merupakan pemenang acara Top Chef.

gastronomi molekuler
Sumber: People

Saya kerap memandang sebuah hidangan sebagai hasil peracikan teknis yang piawai berpadu dengan kemampuan eksplorasi palate. Sebuah pola pikir yang tidak populer tapi cukup wajar bagi saya yang lulusan teknik lingkungan ini.

Science of Cooking

gastronomi molekuler

Science of Cooking karangan Stuart Farrington yang kini bertengger di pojok rak dapur saya adalah salah satu pembelian buku terbaik saya. Untungnya, saya beli saat diskon 50% di sebuah toko buku impor. Menang banyak! Di buku ini dijelaskan sangat detil dari A hingga Z soal sains yang terjadi seputar masak. Bahkan dari pemilihan panci dan pisau, lho!

Rasa penasaran saya terhadap sains dalam memasak tidak berhenti disitu. Dua tahun lalu, saya mengambil kursus gratis berjudul “Science of Cooking” dari edx. Tanpa berpikir panjang, saya pun langsung mendaftar kursus gratis ini. Dalam jangka 3 bulan, kita harus menonton video pembelajaran, membaca bahan ajar, mengerjakan kuis, hingga mengerjakan tugas praktek.

Salah satu tugas praktek pertama yang saya ingat adalah “mengenal oven dengan lebih baik.” Intinya, kita melakukan kalibrasi oven sendiri dengan mengacu ke titik leleh gula.

Mempelajari sains dari memasak itu nyatanya bisa membuat kamu lebih paham dengan apa yang kamu masak bahkan menambah kualitas hasil masakan kamu pula. Bahkan, kamu memasak daging pun terjadi proses "penghancuran" dalam daging tersebut. 

Lho, bagaimana maksudnya?

Memasak daging: Proses penghancuran protein

Tahukah kamu kalau kalau proses memasak protein artinya telah terjadi proses penghancuran protein?

Telur mentah mengeras, artinya panas telah menghancurkan struktur protein pada telur tersebut sehingga teksturnya mengeras seiring dengan lamanya memasak. Daging berubah warna dari hitam dan melunak menjadi merah, artinya ada protein yang “dihancurkan” agar makanan tersebut lebih layak untuk dimakan. Itu baru proses fisik dan kimiawi ya, belum termasuk proses biologis yang terlibat seperti matinya bakteri yang dapat menimbulkan penyakit seperti Salmonella.

Sains menarik dalam memasak lainnya adalah sains dibalik snack buah-buahan yang dikemas dalam kemasan. Apa yang terjadi dibaliknya?

Rahasia dibalik snack durian kering dari Thailand


gastronomi molekuler

Saya sering menemui grafik fasa padat-cair-pada di atas di beberapa mata kuliah dahulu. Lucunya, saya lebih mengerti grafik tersebut sekarang ketimbang saat saya duduk di bangku kuliah.

Sebagai contoh, apakah kamu pernah kebayang kenapa bisa ada yang jual snack durian kering? Proses apa yang terjadi dari durian berukuran besar dengan daging lembek basah berubah menjadi durian berukuran kecil?

Grafik di atas adalah jawabannya. Durian yang baru dibelah berada dalam area warna ungu dimana cairan buahnya berada dalam fasa cair. Kemudian, suhu diturunkan sehingga cairan durian membeku dan fasanya berada di area oranye. Setelah itu, tekanan diturunkan secara drastis sehingga merubah cairan durian yang tadinya beku berubah menjadi gas dan menguap ke udara. Tada! Jadilah snack durian kering dimana sekarang kondisi cairannya berada di area hijau.

Jadi, durian kering yang kamu makan itu sudah hampir tidak mengandung air, makanya bisa berukuran kecil dan bisa dikemas di kantong plastik. Tidak hanya itu, makanan yang memiliki kadar air rendah bakal memiliki ketahanan (shelf life) yang jauh lebih tinggi.

Proses pengeringan makanan menjadi bentuk bubuk seperti yang dikomentari Alton Brown di acara Top Chef juga melalui cara serupa. Menggunakan oven adalah salah satu cara proses pengeringan. Caranya dengan menyetel oven dengan suhu rendah (60 derajat Celcius) ditambah dengan membuka pintu oven sedikit agar sirkulasi udara lancar. Jangan menyetel suhu lebih tinggi dari itu karena akan membuat makanan bertambah tingkat kematangannya.

Proses pengeringan makanan berdasarkan diagram di atas hanyalah salah satu partikel kecil dari ilmu kuliner yang dijelaskan secara sains. Jika kita biasanya hanya memahami proses masak-memasak hanya sebagai ketepatan meracik bumbu dan menyajikannya secara pantas (asal tidak gosong atau kematangan), maka saatnya kamu mengenal gastronomi molekuler.

Ilmu kuliner ini sangat memperhatikan segala aspek fisis dan kimiawi sebagai bentuk rekayasa. Oleh karena itu, saya menyebutnya teknik kuliner. Mari mengenal gastronomi molekuler lebih dalam!

Mengenal Gastronomi Molekuler

gastronomi molekuler



Gastronomi molekuler adalah cabang ilmu kuliner yang fokus kepada proses fisis dan kimia yang terjadi pada saat proses memasak terjadi. Proses dan interaksi ini dieksplorasi dan dimanipulasi untuk menghasilkan rasa yang maksimal hingga menghasilkan penampakan akhir yang artistik.

Istilah gastronomi molekuler ini juga pertama kali ditemukan tahun 1988 oleh dua ilmuwan yang berasal dari Oxford, Nicholas Kurti dan Hervé This. Awalnya, gastronomi molekuler merupakan salah satu cabang sains yang mempelajari proses fisis dan kimia selama memasak. Namun tidak untuk sekarang.

Gastronomi molekuler ini seperti mendobrak ilmu kuliner tradisional yang berfokus pada produksi makanan dalam skala industri alias dalam skala massal. Intinya asal hasil masakan enak dan dimasak dengan benar.

gastronomi molekuler

Alat-alat yang digunakan para chef gastronomi molekuler juga layaknya ilmuwan di laboratorium. Mereka menggunakan nitrogen cair, pipet, gel, alat pembakar, dan alat-alat laboratorium lainnya.

Ilmu sains yang dipelajari di gastronomi molekuler biasanya berkutat pada transfer panas, interaksi makanan tiap fasanya, kestabilan aroma, masalah kelarutan suatu zat, hingga hubungan tekstur-aroma. Kalau kamu hobi nonton acara masak-memasak seperti Masterchef, Top Chef, Hell's Kitchen, dan lain-lain, pasti kamu akan familiar dengan komentar yang mengomentari hubungan tekstur-aroma sebuah hindangan dan bagaimana bisa menghancurkan satu sama lain jika tidak diramu dengan cermat.

Sekarang mulai bermunculan restoran-restoranyang fokus pada gastronomi molekuler. Saya menganggapnya restoran yang menyajikan penipuan.

Bukan, bukan penipuan dalam arti negatif, tapi dari arti positif haha. Banyak restoran gastronomi molekuler yang memiliki visi sebagai fun dining dengan mengoptimasi seluruh indera di tubuh demi menikmati makanan secara maksimal. Bahkan, terkadang Chef dari restoran fun dining tersebut menyediakan makanan yang secara bentuk berlawanan 180 derajat dengan rasanya.

Contoh molekular gastronomi adalah kamu dihadapkan dengan sebuah apel di atas piring namun nyatanya makanan itu memiliki rasa seperti steak. Persepsi kamu terkecoh dengan indra kamu sendiri. Inilah yang menyebabkan menyantap hidangan di resto gastronomi molekuler menjadi sangat menyenangkan.

You prepare to be surprised!

Pekan lalu, saya dan suami berkesempatan menikmati sepaket sajian hidangan dan hiburan di sebuah restoran molekuler gastronomi di bilangan Jakarta Selatan. Sejujurnya, saya tidak pernah membayangkan akhirnya bisa duduk di salah satu kursi restoran ini mengingat harga sekali makan disana yang cukup tidak masuk akal.

Honestly, I'm dying to writing the full review for the food and experience. But unfortunately, please wait until the end of this year since I don't want to ruin the fun and the food that planning to be served. I'm not that viral FOMO ike people in Tiktok.

"Kok bapaknya tahu ini makanan apa, habis lihat di TikTok ya?" Duga sang pelayan menanggapi tanggapan tebakan suami saya.
Jadi saya cuma bisa kasih sneak peak saja ya, supaya semakin penasaran haha. Lebih baik lagi kalau langsung cuss ke restorannya (saya rasa sih sebagian besar yang baca ini sudah tahu restoran apa).

Contohnya ini. Menurut kalian ini makanan apa?

gastronomi molekuler

Apa yang kamu harapkan jika yang disediakan "cuma" seperti ini?

gastronomi molekuler

 clue: coba berpikir out of the box

Stelah saya dan suami melakukan fun dining disana, persepsi saya terhadap mahalnya makan di restoran gastronomi molekuler mahal berubah. Harga tersebut SANGAT MASUK AKAL.

“Aku makan bukan fine dining cuma dapat four course di Prancis aja harganya setengah dari restoran ini yang menyajikan 17 menu. Kata temanku juga makan sebanyak itu dijamin kenyang”. Ujar suami tempo hari.


Setelah mengenal gastronomi molekuler, tertarik mencoba fun dining di restoran gastronomi molekuler?