Tampilkan postingan dengan label parenting. Tampilkan semua postingan

Let's Read: Berpetualang Tanpa Harus Berpelesir ala Karl May

18 komentar

Saya pernah ke Amerika di era Wild West loh bertemu suku Indian Apache!

Begitu juga dengan Karl May, penulis berkebangsaan Jerman yang menulis serial buku Winnetou. Meski berlatar belakang Amerika jaman Wild West, Karl May tidak pernah menjejakkan kakinya sama sekali di Amerika saat proses pembuatan buku. 

Winnetou adalah seorang tokoh fiksi yang menjadi kepala suku Indian Mescalero Apache setelah ayahnya Intschu-tschuna dan adeknya Nscho-tschi dibunuh oleh bandit. Setelah kejadian yang cukup dramatis, Winnetou bersahabat dengan seorang insinyur kereta api "kulit-pucat" (Bangsa Eropa) berkebangsaan Jerman yang nantinya dikenal dengan nama Old Shatterhand.

lets read budaya membaca

Mengenal Karl May dan Budaya Membacanya

budaya membaca lets read

Karl May (1842-1912) adalah penulis berkebangsaan Jerman yang membesut tokoh terkenal Winnetou dan Old Shatterhand. Ia didaulat sebagai Penulis Jerman yang karyanya paling banyak dibaca. Menulis sekitar 70 buku yang telah terjual lebih dari 200 juta kopi di seluruh dunia dan telah diterjemahkan ke dalam 40 bahasa. Karakter-karakternya se-terkenal Harry Potter-nya JK Rowling atau Luke Skywalker-nya Star Wars. 

Kehidupan pribadi Karl May cukup misteri karena ia hidup lebih dari 180 tahun yang lalu dan kisah hidupnya tidak terekam dengan baik. Karl May muda sering keluar-masuk penjara untuk kejahatan-kejahatan kecil. Pada tahun 1870, ia menghabiskan 4 tahun di penjara, waktu terlamanya.

Berbeda dengan yang lain, Karl May malah memanfaatkan waktunya selama di penjara, waktu yang tidak pernah ia dapat saat ia berada di luar penjara. Ia menjadikan penjara sebagai perpustakaan, membaca sebanyak mungkin, riset mendetil terutama soal geografis yang mana menyiapkan dirinya untuk menulis buku petualangan dan mengantarkannya menuju kesuksesan.

Uniknya, semua novel fiksi fenomenalnya tercipta di penjara, bukan melalui perjalanan yang eksotik. Perjalanan mengelilingi dunia hanya terjadi di ruang imajinasinya. Ia mencurahkan waktunya melakukan riset yang teliti pada buku geografik, catatan perjalanan hingga novel-novel petualangan klasik. 

Tenggelam dalam Petualangan Old Shatterhand dan Winnetou

budaya membaca lets read

Usia yang labil dan sarat penjajakan diri.

Saya ingat sekali, pertama membaca karya-karyanya Karl May pada saat duduk di bangku SMA, mungkin usia 14 tahun. Bahkan saking sukanya saya dengan tokoh Old Shatterhand, saya sampai mencari nama beken di dunia maya semacam Old Shatterhand. Old, bukan menunjukkan bahwa si penyandang gelar tua, tapi menunjukkan kalau ia disegani dan ahli. Shatterhand, kaena karakter utamanya memiliki tangan yang handal. Akhirnya saya sampai kepada kesimpulan Young Shatterbrain. Memakai Young karena saya masih muda dan tidak populer penyandangan "old/tua" untuk orang yang ahli atau disegani. Shatterbrain, karena cuma otak saja yang (agak) bisa diandalkan, tangan saya cenderung biasa-biasa saja, tidak handal. Tapi pada akhirnya itu hanya berakhir hilang di otak saya saja karena Young Shatterbrain terdengar sangat aneh 😜.

Budaya membaca yang sudah ditanamkan kepada saya dan abang saya sejak kecil membuat Gramedia sebagai tempat rekreatif bagi kami. Saya ingat betul, kalau tidak salah kami ada jatah untuk membeli buku. Jika buku itu mahal dan membeli buku dalam jarak dekat, saya sampai bela-bela menabung.

Saya dan Buku Winnetou seperti layaknya orang yang baru bertemu dan seketika itu memiliki "chemistry". Terpampang jelas di sudut rak Gramedia, sebuah buku berwarna merah marun dengan gambar patung kepala suku Indian. Penasaran gerangan buku apakah itu, saya pun mengambilnya dan melihat sampul belakang berharap mendapatkan jawaban tentang apa buku tersebut. Alih-alih berisi resensi buku, Winnetou I hanya berisi cuplikan tulisan di buku dan komentar para tokoh literasi Indonesia. Menurut saya sampulnya tidak menarik. Pun, tidak ada petunjuk seperti apa keseruan buku ini bagi saya. Saya juga bukan pecandu kisah-kisah tentang Indian. Tapi entah kenapa hati saya tergerak untuk menaruh buku ini di keranjang belanjaan.

budaya membaca lets read

Merah, biru, hijau. Buku ini adalah trilogi. Winnetou IV dicetak sedikit belakangan, menceritakan kisah paska wafatnya Winnetou. Ternyata, Winnetou pernah dicetak sebelumnya oleh Penerbit Pradnya Paramitha pada tahun 80-an. Namun, yang dicetak adalah edisi resensi, makanya bukunya pun tipis-tipis. Berbeda dengan Winnetou baru terbitan Pustaka Primatama yang 1 buku bisa sekitar 400-500 halaman. Ternyata, penggagas sekaligus pemilik penerbit tersebut itu adalah ayahnya (rahimahullah) seorang teman dimana baru berkenalan baik ayahnya ataupun anaknya di beberapa komunitas saat saya kuliah.

Serial Harry Potter mulai booming saat itu. Namun, ternyata saya lebih menikmati keseruan membaca Winnetou. Jika suatu buku tidak begitu menarik, saya kerap sekali menghitung berapa lembar lagi tersisa sampai bab berakhir. Anehnya, ini tidak berlaku pada buku serial Winnetou. Padahal untuk buku setebal ini hanya terdiri dari tiga bab saja! Pun, di dalamnya terdiri dari sub-bab yang tiap sub-bab terdiri dari puluhan lembar. Harusnya saya bosan kan membaca buku semacam ini? Namun tidak sekalipun saya menghitung berapa lembar yang tersisa. Saya hanyut di dalam jalinan ceritanya. Di dalam kisah heroik dan penuh tragedi Old Shatterhand dan Winnetou.

Betapa nyatanya gambaran geografis yang "dilukiskan" oleh Karl May. Tentang perjalanan mereka, sifat dan ciri khas tiap suku kulit merah (Indian) dan kulit pucat (Bangsa Eropa penjajah). Tentang situasi mencekam penyerangan dan perang suku. Suku Indian sebagai suku asli juga memiliki teknik-teknik "GPS" untuk bertahan di alam bebas. Semisal dengan merunduk, "mencium" jejak, dan "membaca" bentang alam. Semuanya terasa nyata. Siapa yang menyangka, ini semua ditulis oleh orang yang belum pernah menjejakkan kaki di Wild West Amerika, tapi di penjara suatu benua nun jauh disana.

Saking "jatuh cintanya" saya pada buku ini, sampai-sampai saya mencari serial yang lain. Pustaka Primatama juga menerbitkan buku Karl May lainnya, seperti serial Kara Ben Nemsi yang dikenal sebagai Winnetou di jazirah Arab. Begitu juga cerita-cerita pendek lainnya yang di kurasi pada buku berjudul "Kumpulan Cerita Gurun & Prairie". Tidak sampai disitu, saya juga sampai memburu buku-buku karangan Karl May yang diterbitkan oleh penerbit terdahulu, Pradnya Paramitha. Buku-buku dengan ilustrasi jadul tapi tetap menarik di mata saya. Jangan ditanya bagaimana saya mendapatkan buku tersebut, saya juga lupa 😏.

lets read budaya membaca

Namun, sekarang saya sudah tidak tahu dimana rimba koleksi buku Karl May saya akibat terlalu sering berpindah-pindah. Saya harus pindah karena kuliah di kota yang berbeda. Sejak itu saya tidak pernah menyentuh buku-buku saya yang tersimpan di rumah.

Budaya membaca untuk melatih imajinasi dan kreativitas anak

lets read budaya membaca

Rasanya sulit membayangkan saya dan banyak penggemar Karl May di seluruh dunia bisa hanyut di dunia petualangan yang dikarang oleh seseorang dalam penjara tanpa pernah mengunjungi tempat-tempat tersebut. Sebegitunya efek membaca dalam menumbuhkan imajinasi dan kreativitas.

Begitu juga untuk anak.

Sangat penting melatih imajinasi anak sejak usia dini karena dapat menumbuhkan kreativitas dan kemampuan anak untuk menganalisis hingga memecahkan masalah. Mengasah imajinasi anak melalui buku cerita adalah salah satu cara yang jitu. Melalui bacaan, anak tak hanya fokus dalam alur cerita, tapi juga berimajinasi seolah terlibat di dalamnya. Menurut Eugene Schwartz, orang tua juga memegang andil penting dalam menumbuhkan imainasi anak saat mebacakan buku. Misalnya membaca degan intonasi yang menarik dan menghubungkan bacaan kepada kejadian-kejadian di sekitar.

Saat membaca novel, proses yang terjadi di otak berbeda dengan saat membaca buku pelajaran dan koran. Ketika membaca novel dan buku cerita, kita sedang melatih otak kanan karena berperan dalam kemampuan kreatifitas, imajinasi, dan fantasi. Selain berimajinasi, kita juga melibatkan otak kiri untuk menganalisis dan melogikakan jalan cerita. 

Para dokter di Klink Cleveland merekomendasikan para orang tua untuk membacakan anak-anak buku sejak dari bayi hingga usia sekolah dasar. Membaca buku bersama anak membuat anak memandang buku sebagai sumber atmosfer hangat dan menyenangkan. Ini dapat meningkatkan kesukaan anak-anak untuk membaca buku di kemudian hari. Selain itu, ternyata kesenangan membaca di rumah dapat meningkatkan performa di sekolah loh. Dapat menambah kosa kata, meningkatkan tingkat kepercayaan diri, memperbaiki kemampuan berkomunikasi, dan memperkuat fungsi otak.

Manfaat membacakan buku untuk anak

lets read budaya membaca

1. Melatih imajinasi anak

Proses pembentukan kreativitas tidak hanya melalui deretan kalimat pada novel. Untuk anak berusia dini bisa menggunakan komik atau buku bergambar. Buku bergambar ini juga turut membantu anak untuk bisa membaca sendiri karena anak terlatih mengaitkan gambar dan tulisan. Imajinasi anak akan terus terangsang saat menyimak tokoh-tokoh dan cerita yang menarik.

2. Meningkatkan pemahanan dan daya ingat

Saat membaca, anak juga berlatih untuk memahami bacaan dan meningkatkan daya ingatnya. Sebagai contoh, anak bisa menceritakan kembali cerita yang pernah ia baca atau diceritakan oleh orang tuanya. Oleh karena itu, sebagai orang tua kita juga bisa melatih pemahaman dan daya ingat anak dengan cara menanyakan kembali cerita yang sudah dibacakan hingga meminta anak untuk menceritakan kembali.

3. Memperluas kosa kata

Kosa kata yang digunakan saat percakapan jauh lebih sedikit dan simpel ketimbang kosa kata yang ada di dalam buku. Dengan membaca, kita memperluas kosa kata kita dengan kosa kata yang lebih kompleks dan memiliki kedalaman yang berbeda. Ini akan meningkatkan kemampuan berbicara dan literatur anak.

Mari Membangun Budaya Membaca

Dengan semakinnya berkembangnya zaman, semakin bertambah pula kemudahan untuk membaca buku. Sebagai contoh sekarang sudah hadir aplikasi  Let's Read yang bisa diunduh melalui gawai pula. Namun sayang, aplikasi ini baru tersedia di Play Store. Karena saya pengguna iOS, maka saya biasa membacakan anak melalui versi daring.
lets read budaya membaca

Aplikasi Let's Read ini sangat menarik karena bisa mengelompokkan buku digital sesuai kelompok umur atau kemampuan membaca anak. Selain itu, koleksinya banyak sekali yang telah diterjemahkan ke berbagai bahasa termasuk Indonesia. Let's Read juga memiliki tim relawan sendiri yang bertugas menerjemahka dan menyunting buku digital. Jika kamu bersemangat membangun budaya membaca anak-anak Indonesia, kamu bisa daftar menjadi tim relawan loh!

Jika anak sangat tertarik untuk membaca, kita tidak perlu pusing lagi untuk membawa buku fisik terutama saat berpelesir. Kita bisa mengakses Let's Read melalui gawai atau untuk lebih gampangnya kita bisa mengunduh dahulu sehingga buku digital tetap bisa dibaca meski ketiadaan koneksi internet, sebagai contoh di atas pesawat.

Anak masih setia dengan buku fisik? Jangan khawatir, jika tetap ingin membaca koleksi buku digital dari Let's Read, kita bisa juga mencetaknya di kertas untuk kemudian di bundel rapi.

Nah, apa lagi alasan kita sebagai orang tua? Mari kita bangun bersama budaya membaca di Indonesia! Perkenalkan buku, budayakan membaca, mari berpetualang!

Saya telah berbicara, howgh! - Winnetou

Let's Read! Menumbuhkan Minat Baca Anak sejak dalam Pangkuan

12 komentar
Saya suka turut sedih jika mendengar cerita-cerita orang tua yang memaksakan anaknya untuk bisa membaca di usia sedini mungkin. Semakin cepat anak bisa membaca, semakin bangga orang tua. Bahkan tak jarang cara-cara yang digunakan malah dapat "mencederai" anak ketimbang mendidik dengan penuh kasih sayang. Menurut seorang psikolog anak, David Elkind, dalam bukunya The Hurried Child, kecenderungan masyarakat untuk mendorong anak agar secepatnya bisa membaca menjadi lebih buruk dibanding 2 dekade tahun yang lalu. Entah karena tuntutan sekolah atau demi kebanggaan semu orang tua semata.

Sedikit yang mengetahui bahwa proses untuk bisa membaca adalah proses panjang yang terbina sejak dari duduk dalam pangkuan. Otak anak kecil mempersiapkan kemampuannya untuk membaca jauh lebih dini ketimbang yang kita kira. persepsi, konsep dan kata menjadi bahan mentah proses kemampuan membaca. Dalam perjalanannya, anak-anak menggabungkan berbagai pandangannya menjadi bahasa tertulis yang biasa kita gunakan.
Bisa cepat membaca itu bonus, yang penting pemahaman dan pembiasaan! - Indri Ayu Lestari, Pegiat Literasi Anak
minat baca anak

Buku adalah Keluarga Kami

minat baca anak
Tinggal di apartemen, terkadang banyak tamu yang mengeluhkan betapa terjejalinya ruang apartemen kami dengan buku. Saya tumbuh dan besar di lingkungan buku. Sejak belum bisa membaca, katanya saya sering sekali minta dibacakan buku hingga bisa baca sendiri tanpa diajari detail saat akan memasuki usia 5 tahun. Meski saya bukan tipe pembaca cepat, saya rutin baca buku sampai sebelum digempur oleh tren media sosial, saat saya menduduki bangku perkuliahan. Beruntung beberapa tahun belakangan ini, saya berhasil menata kembali diri saya untuk mengurangi aktifitas media sosial dan kembali memfokuskan untuk menuntaskan buku-buku yang belum selesai.

Suami saya juga pada dasarnya pecinta buku, sampai sekarang ia juga rajin belajar melalui text book meski kadang lebih suka main komputer.

Meski masih banyak buku di rumah yang belum saya baca, tapi saya secinta itu dengan buku.

Saya mulai membiasakan Hasan dengan buku semenjak ia masih bayi, mungkin sekitar 6 bulan. Dimulai dari buku kain, board book, hard cover hingga buku kertas biasa. Kebetulan, Hasan memiliki motorik halus yang sangat baik sehingga saya bisa menyajikan buku kertas biasa lebih cepat. Dengan kemampuan membuka tiap halaman dengan baik, Hasan jarang sekali merobek buku. Hanya sesekali saja jika "kecelakaan". Hampir tiap hari saya membacakan buku untuk Hasan. Dari saya yang menawarkan hingga ia memilih bukunya sendiri untuk minta dibacakan. Dari yang hanya betah dibacakan 3 lembar buku sedikit tulisan, hingga menagih selesai 1 buku dengan halaman penuh tulisan. Semua itu butuh proses. Ketika Hasan tumbuh menjadi anak yang memiliki minat baca tinggi, rasa keingintahuan besar dan senang belajar, rasanya proses yang sudah dibina sejak dini menjadi tidak sia-sia.

Patut saya akui, saya mengalami panic buying dalam membeli buku untuk Hasan, anak pertama kami, bahkan di bulan-bulan awal kelahiran dia. Buku yang belum menjadi jangkauan usianya juga kerap saya belikan. Pameran buku BBW, lapak cuci gudang buku, semua saya jabanin. Bahkan ada beberapa buku yang harganya cukup lumayan, tetap saya beli. Seiring dengan perkembangan usia Hasan dan penuhnya rak apartemen kami secara signifikan, saya mulai menjadi pembeli buku anak yang penuh perhitungan. Saya sudah lebih memahami buku  macam apa yang Hasan butuhkan di umurnya. Apalagi, Hasan sudah mulai bisa memilih buku yang ia sukai.

Apakah saya menyesal?
Tidak sepenuhnya.

Sudah banyak sekali buku di apartemen, dibanding penuh begitu, masukin aja ke kardus sebagian.

Saya mendengar ujaran tersebut saat Hasan kira-kira berusia 3.5 tahun. Saat itu saya merenung sejenak, hingga akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa meski ada seratus lebih buku anak di apartemen kecil kami, ternyata TIDAK SATU PUN yang luput oleh Hasan untuk minta dibacakan. Tidak satu pun buku yang belum pernah minta dibacakan. Saya tertegun sedikit tidak menyangka. Sampai sekarang pun Hasan suka minta dibacain buku di tumpukan entah mana yang bahkan saya tidak ingat sama sekali pernah membelikan buku itu.

Membaca sejak di Pangkuan

minat baca anak
Semuanya bermula dari hangatnya pangkuan orang yang mereka cintai. Banyak riset yang membuktikan  bahwa waktu yang dibutuhkan oleh seorang anak mendengarkan cerita dari orang tua-nya dapat menjadikan prediktor kemampuan baca mereka. Sedikit sekali yang mengetahui bahwa seorang anak kecil yang duduk mendengarkan cerita sembari melihat gambar berwarna telah belajar bahwa dari tiap halaman terdiri dari berbagai huruf, huruf menjadi kata, kata menjadi kisah, dan suatu kisah tersebut dapat diceritakan berulang-ulang kali. Tahap ini menjadi prekursor penting perkembangan kemampuan baca seorang anak.

Proses berikutnya adalah meningkatnya kemampuan memahami gambar. Sistem visual sudah berfungsi penuh sejak usia 6 bulan. Sistem pemerhati ini akan menempuh jalan panjang untuk pematangannya. Sistem konseptual mereka juga tumbuh hari hari ke hari. Saat kemampuan atensi dan perseptual anak berkembang, mereka akan semakin tertarik dengan prekursor terpenting dalam membaca, perkembangan bahasa dini, dan kemampuan mengaitkan bahwa segala sesuatu di dunia ini memiliki nama. Misalnya yang bisa diminum itu air minum, yang bisa dimakan itu makanan. Sebenarnya,  anak baru akan menyadari bahwa segala sesuatu di dunia ini punya nama pada saat berusia 18-24 bulan. Ini didasari bahwa pada saat itu otak mulai mampu menghubungkan dua atau lebih sistem untuk mendapatkan pengetahuan baru. Otak anak akan mampu mengintegrasikan beberapa sistem seperti penglihatan, kognisi dan bahasa.

Dari munculnya konsep penamaan ini, keberadaan buku menjadi sangat penting. Semakin banyak seorang anak berbicara, semakin faham ia bahasa oral. Semakin banyak anak membaca, semakin berkembang kemampuan kosa kata-nya. Jalinan antara bahasa oral, bahasa tertulis dan kognisi membuat masa awal tumbuh kembang anak sebagai masa emas perkembangan bahasa. Perkembangan bahasa meliputi perkembanga fonologi, semantik dan gramatikal.

Anak mempelajari emosi melalui cerita-cerita di buku. Bayangkan seorang anak berusia 3,5 tahun yang duduk di pangkuan orang yang sering membacakannya cerita. Anak ini perlahan akan paham bahwa gambar tertentu berkaitan dengan cerita tertentu. Cerita tersebut akan menggambarkan emosi dan perasaan melalui tulisan. Disinilah hubungan berkesinambungan antara perkembangan emosi dan membaca. Anak kecil yang belajar merasakan emosi melalui membaca, mempersiapkan diri mereka untuk lebih memahami emosi yang lebih rumit.
minat baca anak
Tahap terpenting lainnya dalam membaca bisa membeli nama alfabet. Setelah anak mampu, pertanyaan berikutnya adalah seberapa dini anak dapat membaca sendiri. Sebuah pertanyaan yang menjadi harapan bagi para orang tua, bahkan menjadi bahan iklan program-program pra-membaca. 

Membaca merupakan ketergantungan kemampuan otak untuk menghubungkan dan mengintegrasikan beberapa sumber informasi, terutama visual dengan auditori, linguistik, dan area konseptual. Proses integrasi ini sangat tergantung dengan pematangan tiap bagian, wilayah asosiasi, dan kecepatan tiap bagian-bagian otak untuk saling terhubung. Menurut neurolog perilaku Norman Geschwind, bagian-bagian ini tidak akan terhubung dan terintegrasi penuh hingga usia sekolah, yaitu antara 5-7 tahun bagi sebagian besar anak. Geschwind juga memiliki hipotesis bahwa biasanya anak laki-laki lebih lambat untuk lancar membaca dibandingkan anak perempuan. Anak perempuan akan lebih cepat melakukan tugas penamaan dibanding anak laki-laki hingga usia 8 tahun.

Ketika anak-anak mencapai usia taman kanak-kanak, yakni 5-6 tahun, semua prekursor terjadinya proses membaca mulai terkoneksi. Jika sebelumnya anak-anak tidak mengerti saat diajari cara-cara membaca, pada usia ini mereka mulai tampak paham, seperti bagaiana menggabungkan huruf menjadi suku kata, suku kata menjadi kata, hingga kata menjadi kalimat. Kata dan kalimat yang masing-masing memiliki maknanya masing-masing.

Metode Membacakan Buku untuk Hasan

minat baca anak
Di usianya yang sebentar lagi genap 5 tahun, saya menggunakan beberapa pendekatan metode dalam membacakan Hasan. Untuk buku Bahasa Indonesia dengan tulisan sedikit dan diulang-ulang, saya menggunakan metode read-aloud (membaca nyaring) sembari menunjukkan tulisan seiring saya baca. Sesekali di kata yang berulang-ulang saya menyuruh dia menebak. Jika buku berbahasa Indonesia dengan kalimat panjang, saya membacakan utuh persis seperti yang tertulis. Untuk buku Bahasa Inggris dengan sedikit kalimat, saya membacakan utuh dengan Bahasa Inggris sambil sesekali bertanya menggunakan Bahasa Inggris. Jika buku berbahasa Inggris dengan tulisan panjang, biasanya jenis ensiklopedi, saya menceritakan atau mendongeng sambil menunjukkan ilustrasi gambar. Di luar itu, Babehnya Hasan juga kerap kali membacakan Hasan dengan cara mendongeng. Baik itu buku Bahasa Indonesia ataupun Bahasa Inggris

Seperti yang dilansir pada Asian Parent, Menurut Rosie Setiawan, pakar yang mendalami membaca nyaring, metode membaca nyaring memiliki segudang manfaat seperti menstimulasi otak anak agar berkembang secara maksimal serta memperkenalkan anak pada kemampuan dasar literasi, yaitu mendengarkan. 90% dari perkembangan otak anak terjadi pada usia 0-6 tahun, sehingga membiasakan membacakan kepada anak harus segera dilakukan.

Manfaat lain dari membaca nyaring adalah meningkatkan kedekatan antar orang tua dan anak serta menumbuhkan rasa cinta membaca. Begitu bayi duduk di pangkuan sang pembaca, bayi tersebut akan mengasosiasikan kegiatan membaca sebagai bentuk curahan cinta. Menurut Jim Trealease pada bukunya Read-Aloud Handbook, metode membaca nyaring juga dapat meningkatkan kosakata anak. kosa kata yang digunakan saat berbicara jauh lebih sedikit dibandingkan kosa kata pada buku. Ini sangat membantu tingkat literasi anak, bahkan orang dewasa. Menurut para ahli, dibacakan buku adalah salah satu tahap mempersiapkan anak untuk membaca.

Minat Baca Anak dan Literasi Indonesia

Budaya literasi Indonesia sangat rendah jika dibandingkan peringkat dunia. Penelitian yang dilakukan oleh UNESCO pada tahun 2016 terhadap 61 negara di dunia, Indonesia menduduki peringkat ke-60, hanya satu tingkat diatas Bostwana. Kemendikbud menyusun Indeks Aktivitas Literasi Membaca (Alibaca). Kegiatan literasi dipengaruhi beberapa faktor: akses, alternatif, dan budaya. Kategori Indeks Alibaca terdiri dari sangat rendah, rendah, sedang, tinggi, dan sangat tinggi. DKI Jakarta menduduki peringkat tertinggi dengan nilai hampir mencapai 60%. Sementara rata-rata indeks Alibaca nasional hanya mencapai 37,32% yang tergolong rendah.

Jika dibandingkan negara lain, sistem pendidikan Indonesia kurang menitik beratkan tentang pentingnya membaca. Jika melihat buku terbitan Amerika atau Inggris, kita sering melihat buku tersebut ada di tingkatan mana. Tingkat pengenalan (usia prasekolah), tingkat 1, tingkat 2 atau tingkat 3
  • Tingkat 1: Siap membaca Prasekolah-TK
  • Tingkat 2: Membaca dengan bantuan (Prasekolah-Kelas 1)
  • Tingkat 3: Membaca sendiri (Kelas 1-3)
  • Tingkat 4: Membaca paragraf (Kelas 2-3)
  • Tingkat 5: Siap untuk membaca bab (Kelas 2-4)
minat baca anak
Diambil dari Julius Jr. Howdy-Doodle-Doo
Tiap tingkatan memiliki karakteristik model bacaan tersendiri. Seperti pada tahap 1, buku akan disertai dengan tulisan berhuruf besar, berima dan gambar untuk menebak bacaan. Di tahap 2, buku akan terdiri dari kosa kata dasar, kalimat pendek, serta cerita yang sederhana untuk dimengerti oleh anak. Tingkat 3 dimana anak sudah dapat membaca sendiri, karakteristik bacaan mulai lebih rumit seperti perngkarakteran tokoh, plot cerita yang mudah, dan topik-topik populer. Pada tahap 4 anak sudah mulai bisa membaca paragraf sehingga kosa katanya lebih menantang, jalan cerita juga lebih menarik. Di tahap 5, anak sudah dipersiapkan untuk membaca dalam bagian bab, otomatis paragraf akan lebih panjang.

Aplikasi Let's Read

minat baca anak
Saya jarang menemukan pengkategorisasian seperti ini pada kebanyakan buku anak di Indonesia. Namun, sekarang sudah ada aplikasi Let's Read yang bisa diunduh disini. Sementara hanya tersedia untuk pengguna Android. Untuk pengguna iOS jangan khawatir, kita bisa membukanya melalui daring. Di aplikasi ini kita bisa banyak menemukan buku anak-anak dari pengarang seluruh dunia yang sudah dikategorikan sesuai bahasa maupun tingkatannya. Dengan banyaknya ragam buku yang disertai ilustrasi menarik, semua anak memiliki kesempatan yang sama untuk mengakses buku berkualitas. Untuk membaca semua buku juga gratis tanpa dipungut biaya. Aplikasi ini juga cocok buat berpergian. Tanpa harus membawa banyak buku fisik, kita bisa memberikan pilihan bacaan kepada anak. Buku cerita bisa diunduh dalam format epub untuk memudahkan penggunaan tanpa sinyal.

Saat saya menunjukkan aplikasi ini melalui gawai kepada Hasan, ia sungguh tertarik untuk mengeksplorasi buku apa saja. Pilihan pertama jatuh pada judul Ayo, Sini Pus! karangan Karen Lilije, tentang kucing peliharaan seorang anak yang dicuri oleh monster. Buku ini secara cerdas tersirat menjelaskan kepada anak pentingnya membuang sampah di tempatnya, dengan alegori berupa semakin banyak sampah maka semakin besar monster. 

Mari Tingkatkan Minat Baca Anak Indonesia!

Melihat rendahnya tingkat literasi Indonesia, perlu langkah taktis dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, selain mengandalkan pemerintah, ada baiknya kita sebagai orang tua kembali membudayakan membaca dan mendorong agar anak-anak kita menjadi generasi melek literasi. Dengan membaca, kita lebih memahami persoalan. Dengan membaca, kita menjadi generasi bukan penyebar hoax. Dengan membaca, kita siapkan generasi yang adaptif terhadap perubahan.

Daftar Pustaka:
Maryanne Wolf (2008). "Proust and The Squid: The Story and Science of The Reading Brain.".Iconbooks. Hal.81-101

Romantisme Hasan dan (Calon) Adeknya

2 komentar
Makanya, Hasannya sedih kan tiap pulang dari ketemu saudaranya. Belum ada adeknya sih, jadi sendirian.
Terus terang, saya suka sedih dan keki dengan respon dan komentar-komentar semacam itu. Sedih buat sayanya yang memang sudah lama ingin memberi adik untuk Hasan, dan sedih untuk Hasan karena terkesan mendiskreditkan Hasan.

*akan diperbaharui secara berkala, tergantung suasana hati 😙

romantisme adik kakak


Di saat saya menulis tulisan ini, Alhamdulillah saya sedang hamil jalan 36 minggu di usia Hasan yang memasuki 3.5 tahun itu. Dari dulu, Hasan memiliki suatu kelemahan yang sangat terlihat. Apakah itu?
LEMAH TERHADAP BAYI-BAYI 😀
Hahaha, jika itu mau disebut kelemahan. Hasan selalu suka sama bayi-bayi. Kalau tiap mau main ke tempat temannya atau saudaranya, pasti yang disebut pertama kali yang lebih muda dari dia atau yang bayi-bayi. Kalau lagi makan di restoran dan kebetulan sedang ada bayi-bayi, Hasan mendadak makan tidak konsen. Hasan yang memiliki kepribadian membutuhkan adaptasi terhadap orang baru membuat ia bagaikan bayi-bayi penguntit. Jadi sering curi pandang diam-diam bayi-bayi di sekitar tapi tidak berani mendekatinya haha. 

Kebayang kan bagaimana reaksi Hasan saat ia tahu kalau ia akan memiliki adik sendiri? Senang sekali dia. Bahkan sudah tersusun paripurna kurikulum apa saja yang hendak dia ajarkan ke adiknya! 😂.
Ade bebi nanti diajarin merangkak sama abang Hasan.
Ade bebi nanti pakai jilbab warna pink gambar hello kitty
Ade bebi nanti diajarin naik sepeda sama abang Hasan. Sepedanya yang kecil karena masih kecil dia.
Ade bebi nanti diajarin renang sama abang Hasan dibawah.
Dan segudang susunan rencana kurikulum lainnya.

Banyak orang yang suka khawatir jika nanti anak kesekiannya lahir, abang/kakaknya bakal cemburu sama sang adik. Adiknya dibelikan ini itu, kakanya tidak. Adiknya dapat kado ini itu, kakaknya tidak. Sementara Hasan malah segala apapun ingin beli buat adek bebi. Malah dia suka lupa sama barang yang dia butuhkan sendiri. Mau beli baju adek bebi, mau beli mainan adek bebi, mau beli buku buat adek bebi. Dia hampir tidak pernah minta barang buat diri sendiri kecuali kalau kita sedang bawa ke semacam toko mainan dan dia cuma liat-liat mainan semacam die cast mobil Tomica dan mainan karakter seperti McQueen dan Paw Patrol. Malah, kalau Hasan diajak buat beli perlengkapan adek bebi, dia merasa itu seperti hiburan ia tersendiri.

Romantisme (Calon adik) dan Kakak

Situasi 1

Saya dan Hasan hendak pergi ke kantor imigrasi untuk menanyakan beberapa perihal paspor untuk mertua saya. Respon Hasan?

Saya: Kita lagi di kantor imigrasi, dulu Hasan bikin paspor disini
Hasan: Mau bikin paspor ade bebi
Saya: Ade bebinya kan belum lahir. Emang abang Hasan mau kemana sih sama ade bebi?
Hasan: Nanti kalau ade bebi lahir mau nemenin ade bebi bikin paspor. Mau ke legoland sama ade bebi

Kemudian setelah kami beres urusan paspor, saya menawarkan ke Hasan,

Saya: Hasan mau pulang atau cuci mata liat baju ade bebi?
Hasan: Mau liat-liat baju ade bebi.

Sesampainya kami di Birds & Bees Kelapa Gading, Hasan bersemangat sekali turun dari mobil dan memasuki toko. Kemudian di etalase, terpampang nyata koper-koperan merk Trunki. Saya katakan koper ini bisa dinaiki. Kemudian saya tanyakan,

romantisme adik kakak

Saya: Ini ceritanya koper Hasan, bisa dinaikin loh. Isinya kayak koper beneran. Kira-kira nanti mau diisi apa sama abang Hasan?
Hasan: Mau diisi baju-baju ade bebi

Situasi 2

Hasan entah kenapa suka "ngerjain" dan iseng sama babehnya.

Saya: Hasan anak?
Hasan: Acom
Saya: Dan anak?
Hasan: Soleh
Saya: Sayang?
Hasan: Sayang mama, ade bebi tapi babehnya ga sayang *kemudian tersenyum jail*

Atau suatu ketika saya, suami dan Hasan sedang berenang di kolam apartemen.

Suami: Ini babeh lagi sayang-sayang mama cinca dan ade bebi *sambil mengelus perut yang ada ade bebi*
Hasan: aaaaah, ga boleh! Babehnya ga boleh! Ade bebinya ditutup sama abang Hasan *sambil langsung mendekap dan nutupin perut mamanya.

Hasan ini juga suka banyak ngobrol sama adenya. Bahkan banyak ritualnya saat mau pamit. Misal pamit mau ke mesjid:

Hasan: *kiss ade bebi di perut* Ade bebi, abang Hasan pergi ke mesjid dulu ya, ade bebi jangan lupa solat sama mama. Dah ade bebi *kiss bunyi lagi*

Sementara nasib babehnya,

Babeh: Hasan babeh kiss ya! *kiss Hasan
Hasan: *mengilap bekas kiss

Aktifitas Motorik Halus bagi Si Kecil yang Tidak Suka Menggambar

1 komentar
Perkembangan motorik sangatlah penting karena berhubungan dengan syaraf, otot, otak, dan syaraf tulang belakang. Motorik dibagi menjadi dua jenis, motorik kasar dan halus. Motorik kasar berhubungan dengan gerakan otot besar yang menunjukkan kemampuan anak seperti duduk, merangkak, berjalan, dan berlari. Motorik halus berhubungan dengan gerak otot-otot kecil seperti memegang benda, menulis dan beberapa kegiatan yang membutuhkan koordinasi. 

aktifitas motorik halus

Perkembangan Motorik Halus 0-3 tahun

Pada usia 1 tahun, si Kecil mulai mampu mengontrol lebih baik jari-jari dan otot tangannya. Ia mulai sadar ada dunia lain di sekitarnya dan tertarik untuk mempelajarinya. Pada usia 2 tahun, si Kecil lebih bisa menggerakkan jari mereka secara mandiri, tugas-tugas yang lebih rumit juga sudah mulai bisa dilakukan. Saat sudah berusia 3 tahun, perkembangan motorik, verbal, kognitif, dan interaktif si Kecil berubah secara signifikan. Coretannya mulai terlihat ada bentuknya. Sebagian tertarik untuk menggambar bentuk dan menulis huruf.

Saat umur Hasan berumur 2 tahun lebih, saya sering mendengar laporan orang tua teman-temannya yang seumuran bahwa mereka kewalahan karena rumah jorok akibat sang anak yang gemar mencoret-coret dinding. Meskipun seharusnya anak-anak diarahkan agar tidak-tidak mencoret dinding, sering terbersit rasa iri di hati saya. Teman-temannya yang lain juga banyak yang sudah bisa mencorat coret kertas sampai orang tuanya harus banyak menyetok kertas dan buku gambar. Bahkan, ada yang sampai sudah bisa menulis menggunakan telusuran garis putus-putus. Terbersit kekhawatiran di benak saya, bagaimana ini jika nantinya Hasan masuk sekolah dan masih tetap tidak suka menulis dan menggambar? Akhirnya saya berusaha melakukan latihan stimulasi lainnya untuk menguatkan motorik halusnya.

Alternatif Aktivitas yang Menstimulasi Motorik Halus selain Memegang Pensil

1. Bermain plastisin

aktifitas motorik halus

Bermain plastisin adalah hal yang sudah saya perkenalkan semenjak Hasan berusia 1.5 tahun dan paham bahwa plasitisin tidak boleh dimakan. Plastisin yang saya belikan dilengkapi dengan penggiling, cetakan, cap, dan gunting. Pada awalnya ia hanya membentuk bebas plastisin tersebut tanpa pola. Mungkin kemampuan  motorik halusnya juga belum begitu berkembang sehingga belum mampu menggunakan peralatan yang ada. Saya mulai mengajarkan membentuk cacing dan membentuk bola. Hasan tampak senang dan dengan rapi menyusun hasil karya cacing dan bola-nya. Lambat laun ia pun mulai tertarik menggunakan peralatan yang ada seperti penggililing, cetakan dan cap. Ia mulai menggiling plastisin untuk mendapatkan bentuk pipih, kemudian dicetak dengan beraneka ragam bentuk seperti bintang, lingkaran, oval, segitiga, persegi, segi empat, hati, dan jajar genjang. Plastisin yang lengket diangkat dari lantai kemudian disisihkan bagian berlebih dari hasil cetakan tersebut. Ia juga mulai menggunting menggunakan gunting plastisin. Gunting plastisin tersebut terbuat dari plastik, bilahnya bisa ditukar dari guntingan lurus ataupun guntingan pola.

Selain itu, seiring dengan pertambahan umur, Hasan juga mulai menggunakan imajinasinya saat membentuk plastisin. Ia kerap kali merobek dan membentuk plastisin ke bentuk barang sehari-hari yang biasa ia liat. Terkadang saya malah harus bertanya benda apa yang sedang dibuatnya itu.

Bermain plastisin dapat melatih kelenturan otot tangan dan jari, koordinasi mata dan tangan, serta daya imajinasinya.

2. Menyumpit

aktifitas motorik halus

Saat berusia 2,5 tahun, Hasan mulai diperkenalkan sumpit yang berupa penjepit, artinya ia hanya butuh menjepit dan tidak mengontrol arah jepitan sumpit seperti sumpit pada umumnya. Saya membentuk bola-bola plastisin dan menyuruhnya memasukkan ke wadah sesuai warnanya. Pada awalnya Hasan agak kaku, tetapi tidak membutuhkan waktu lama, ia lancar menjepit bola tersebut dan memasukkan-nya. Kemudian ukuran bola pun saya perkecil. Setelah sebentar adaptasi ia kembali dengan lancar menjepit dan memasukkan-nya.

Di kesempatan berikutnya, saya memperkenalkan Hasan sumpit biasa namun pada atasnya terdapat perekat karet sehingga selain menjepit ia juga harus mengarahkan ujung sumpit. Kegiatan menyumpit menjadi semakin menantang karena dengan mengarahkan ujung sumpit yang lancip, artinya ia harus mengontrol tekanan jarinya. Pada awalnya tiap Hasan menyumpit plastisin, bolanya terlepas karena terlalu kencang memberi tekanan. Kemudian ia belajar bahwa perlu pengaturan tekanan sehingga lama-kelamaan ia bisa menyumpit dan memasukkan bola plastisin dengan relatif lancar. Belakangan saya ketahui saat kami sekeluarga makan bakso, Hasan secara tidak sengaja dapat menyumpit bakso menggunakan sumpit normal tanpa penjepit diatasnya. Hal ini membuat saya takjub akan perkembangan Hasan yang kerap kali tidak dapat diduga.


Monde Boromon Cookies memiliki bentuk bola-bola yang relatif kecil. Hasan suka menantang dirinya untuk menyumpit tiap biskuit ketika makan ketimbang makan dengan tangan. Tidak hanya menyumpit satu biskuit, tidak jarang Hasan langsung menyumpit 2 atau 3 butir biskuit Monde Boromon karena ia tidak sabar untuk segera menyantapnya. Rasa dan teksturnya enak sih.

3. Menggunting

aktifitas motorik halus

Berawal dari latihan menggunting menggunakan gunting plastisin yang terbuat dari plastik, lama kelamaan saya membiarkan Hasan menggunting menggunakan gunting asli, tentu dengan pengawasan. Ia hafal dimana posisi gunting yang saya letakkan. Jika ada kebutuhan membuka kemasan ia langsung mengambil gunting tersebut. Sejauh ini ia dapat menggunting menggunakan kedua jarinya meskipun belum bisa berkesinambungan. Hasan juga kerap sekali membuka bungkus makanan sendiri menggunakan gunting atau kemasan barang-barang lain yang ia penasaran di dalamnya. Mungkin tahap selanjutnya setelah lancar menggunting secara berkesinambungan adalah menggunting bentuk yang sudah digambar.

4. Bermain Lego

aktifitas motorik halus

Sama seperti plastisin, lego balok sudah saya perkenalkan semenjak Hasan berusia 1 tahun. Saya mulai memperkenalkannya dengan Lego Duplo yang berukuran lebih besar jika dibandingkan dengan Lego Classic. Awalnya bingung harus diapakan Lego tersebut. Lama-kelamaan, ia mulai mengerti dengan cara menumpukkan barang hingga membentuk barang sesuai dengan imajinasi-nya. Dari Lego Duplo, Mega Blocks yang berukuran lebih besar hingga mampu merangkai bentuk dari Lego Classic. Hasan juga mulai mampu mencabut Lego Classic yang tipis dari base.

Saya percaya, bermain Lego adalah salah satu sarana stimulasi motorik halus dan imajinasi karena dengan begitu Hasan belajar mengontrol dan menggerakkan jari dan otot tangannya secara simultan.

5. Memasukkan tali ke lubang

aktifitas motorik halus

Saya membelikan mainan berupa memasukkan tali ke lubang papan dan menjahit tempelan binatang semenjak Hasan berusia 2 tahun dan baru mengerti dimainkan saat ia berusia 2.5 tahun. Awalnya ia hanya mampu memasukkan tali tersebut dengan papan dan tempelan binatang yang masih saya pegang. Kemudian papan saya balik dan menyuruhnya menarik tali yang ia masukkan itu dari sisi sebaliknya. Lama-kelamaan ia bisa memegang papan sendiri sambil memasukkan tali dan kemudian membalikkannya untuk ditarik tali dari sisi lainnya. Hasan belum sampai ke tahapan memasukkan tali sambil memegang papan dan menahan tempelan binatang. Menurut saya kegiatan ini cukup berat karena melatih konsentrasi anak serta koordinasi mata dan kedua tangan yang melakukan hal yang berbeda

6. Makan sendiri

aktifitas motorik halus

Sejatinya, ini menjadi hal yang agak rumit karena semenjak MPASI 6 bulan, Hasan tidak tertarik untuk makan. Pun, saat berusia dibawah setahun dia sangat minim memasukkan barang-barang ke mulutnya. Sekarang Hasan berusia 3 tahun. Meski dia tidak pernah menolak makanan besar apapun ketika disodorkan, tetapi frekuensi ia minta makanan baik makanan kecil atau besar bisa dihitung dengan jari. Oleh karena itu, melatih motorik halus Hasan menggunakan cara makan sendiri merupakan tantangan bagi saya. Jika dia tidak minta makanan, makanannya sudah saya potong dan saya menyuruh ia menyendok dan menyuap sendiri ke mulutnya. Jika ia minta makanan tersebut, saya akan suruh dia ambil, siapkan di wadah dan bawa makanan tersebut ke meja makannya untuk dimakan sendiri.

Hasan sejatinya merupakan tipe anak yang tidak suka ngemil. Setelah mencoba Monde Boromon Cookies, entah kenapa dia tertarik dan meminta terus-terusan. Saya pun iseng mencoba, ternyata rasanya enak, bukan seperti rasa biskuit anak biasanya. Monde Boromon Cookies ternyata menyehatkan karena bebas gluten, mengandung sari pati kentang, madu dan DHA. Selain itu, teksturnya yang mudah meleleh saat terkena air liur membantu si Kecil mengeksplorasi rasa, bentuk, tekstur serta kemampuan untuk makan bagi anak-anak yang sedang tahap mengenal makanan. Menarik bukan? Monde Boromon Cookies sudah tersedia di banyak supermarket dan bisa juga dipesan online disini.

aktifitas motorik halus

Dan Sekarang...

Secara alami, anak akan memegang pensil dengan cara yang berbeda-beda seiring dengan bertambahnya usia. Cara memegang pensil ini tergantung dari seberapa siap bahu dan lengan tangan mereka. Secara garis besar, ada 4 tipe tahapan memegang pensil.

  1. Genggaman Mengepal, biasanya sekitar usia 1-1,5 tahun. Posisi ini menggunakan bahu untuk menggerakkan seluruh lengan.
    aktifitas motorik halus
  2. Genggaman Palmer, biasanya sekitar usia 2-3 tahun. Anak sudah mulai bisa mengontrol bahu dan otot lengan.
    aktifitas motorik halus

  3. Genggaman Tripod atau Quadrupod Statis, biasanya sekitar usia 3,5-4 tahun. Anak menggunakan 3 atau 4 jari-nya saat menulis. Posisi masih statis, jadi mereka menggerakkan tangan melalui siku.
    aktifitas motorik halus
  4. Genggaman Tripod Dinamis, biasanya mulai dari usia 4-6 tahun. Gerakan tangan akan berubah dari statis menjadi dinamis. Jari-jari tersebut sudah dapat bergerak secara mandiri.
    aktifitas motorik halus
Seperti anak umumnya, Hasan memulai dengan Genggaman Mengepal. Hanya sebentar saja ia sudah bisa ke tahap Genggaman Palmer. Namun, setelah hampir memasuki usia 3 tahun, genggaman Hasan tak kunjung berubah menjadi Tripod ataupun Quadrupod. Kerap kali saya mengarahkan untuk posisi quadrupod, tetapi hanya ia lakukan sebentar dan kemudian kembali lagi ke Genggaman Palmer. Ia tampak lelah dan tidak tahan lama. Meski begitu, saya berusaha untuk tetap mengingatkan dan mengarahkan ke posisi Quadrupod setiap kali ia memegang alat tulis.

Saat usia hampir 3,5 tahun, tiba-tiba ia meminta untuk mencoret-coret. Saya berikan ia kertas dan spidol. Apa yang saya liat? Ia mulai memegang dengan posisi Quadrupod tanpa menggantinya ke Palmer. Memang dia belum begitu tahan lama, tetapi bagi saya ini kemajuan yang berarti. Mungkin pada sebelumnya ia merasa otot tangannya belum siap sehingga ia tidak suka melakukannya.

Untuk berikutnya, saya kira harus lebih mencari akal untuk tetap sabar dan melatih motorik halus Hasan melalui kegiatan lainnya. Yang paling penting adalah setiap anak meminta arena permainan yang diinginkan, se-bisa mungkin kita penuhi karena kita tidak tahu kejutan apa yang akan ia berikan.

aktifitas motorik halus




Pranala luar:
https://www.the-elbowroom.com/useful-information/news/stages-of-pencil-grasp-development/

Konsep ANAK pada Keselamatan Balita di Rumah

Tidak ada komentar
Setidaknya, setengah dari hidup si kecil dihabiskan di rumah. Tetapi, apakah anda yakin bawa rumah anda merupakan tempat yang nyaman, selamat dan aman bagi balita anda?


Menurut Jean Piaget, seorang psikolog dari Swiss yang memfokuskan diri pada perkembangan anak, perkembangan kognitif pada anak dibagi menjadi 4 fase tumbuh kembang. Fase ini dibagi berdasarkan bagaimana anak-anak belajar, memahami dan menyesuaikan diri terhadap informasi baru. Anak-anak tidak kurang pintar-nya dibandingkan dengan orang dewasa, perbedaannya hanya pada cara berfikir dan proses informasi yang berbeda.


Pada usia balita, perkembangan sensor motor dan pra-operasional mengalami kemajuan  yang pesat. Fase sensor motor yaitu mengalami lingkungannya melalui indera perasa dan tindakan seperti melihat, merasa, meraba, menggunakan mulut, dan menggenggam. Fase pra-operasional berupa menyatakan kalimat dan gambar dengan lebih menggunakan intuisi ketimbang pikiran logis. Tahap-tahap ini membuat anak-anak menjadi senang bermain, bergerak, eksplorasi, mencoba, meniru, fase "aku bisa" dan merasa dunia ini adalah tempat bermain.

Kecelakaan dirumah paling banyak dialami oleh anak balita berusia dibawah 4 tahun dengan persentase anak laki-laki lebih besar. Anak-anak yang lebih muda memiliki persentase yang lebih tinggi untuk patah tulang, luka terbakar, keracunan hingga tersedak. Kita tidak bisa menahan anak untuk bermain karena itu merupakan tugas dan hak mereka.

Kecelakaan dirumah paling sering terjadi di ruang keluarga dan ruang makan, tetapi kecelakaan yang paling serius terjadi di dapur dan di tangga. Menurut RoSPA (Royal Society for the Prevention of Accidents), setiap tahun lebih dari 67,000 anak mengalami kecelakaan di dapur dan 43,000 orang diantaranya balita dibawah 4 tahun. Seringnya, balita yang sedang asik sendiri cenderung lupa akan sekelilingnya. Mereka memiliki persepsi terbatas akan lingkungannya karena pengalaman mereka akan lingkungan belum memadai. Balita juga tidak menyadari konsekuensi dari berbagai lingkungan yang sedang mereka hadapi.

Ada beberapa jenis kecelakaan dirumah yang sering terjadi:

Terpeleset dan jatuh

44 persen kecelakaan dirumah yang terjadi pada anak-anak adalah terpeleset dan terjatuh. Sebagian besarnya merupakan kecelakaan pada tinggi permukaan yang sama, tetapi kecelakaan pada dua tinggi permukaan berbeda seperti jatuh dari tangga atau tempat tidur menimbulkan efek cedera yang lebih serius. 

Pastikan untuk menggunakan pagar pengaman pada ujung atas dan bawah tangga. Terali susuran tangga juga jangan sampai terlalu renggang sehingga rentan mengakibatkan kepala balita terjebak. Balita dibawah 3 tahun hendaknya memegang pegangan tangga saat hendak naik-turun tangga. Orang dewasa disarankan untuk menemani dan jangan sambil fokus kepada HP. Jangan sampai ada barang tertinggal di anak tangga karena jika terpijak oleh balita akan menyebabkan kehilangan keseimbangannya sehingga dapat terjatuh. 



Jangan letakkan pijakan dibawah jendela karena akan membuat balita memijaknya dan berisiko menggapai jendela diatasya. Pastikan karpet tidak menggelombang atau berlipat agar balita tidak terpeleset.

TV dan lemari juga menjadi salah satu penyebab anak terjatuh. Anak yang masih dipenuhi oleh keinginan eksplorasi tertarik untuk memanjatnya. TV dan lemari yang tidak terkait pada dinding dapat menyebabkan anak terjatuh bahkan tertimpa sehingga mengakibatkan cedera amat serius.

Luka bakar dan lepuhan

Makanan dan minuman panas adalah penyebab terbesar luka bakar pada balita. Kulit balita lebih sensitif daripada orang dewasa dan minuman panas dapat menyebabkan luka bakar sampai setelah 15 menit kejadian berlangsung. Jadi, jangan pegang anak dan minuman panas secara bersamaan. Anak-anak juga beresiko mengalami luka bakar yang disebabkan oleh api terbuka, kompor, setrika, dan lainnya meskipun dalam proses pendinginan. Jadi jauhkan barang-barang ini dari jangkauan mereka. 

Tersengat listrik

Kabel listrik yang tidak rapi serta usang dan stop kontak yang terbuka merupakan sumber anak tersengat listrik. Periksa perangkat elektronik beserta kabelnya secara berkala. Jauhkan perangkat listrik dari kamar mandi. Tutup stop kontak dengan pengaman.

Kecelakaan akibat kaca

Hindari penggunaan Furnitur kaca yang tidak menggunakan tempered glass. Karena jika bukan, apabila kaca itu pecah makan akan pecah berkeping-keping menjadi beling sehingga sangat riskan mencederai anak.

Keracunan

Kebanyakan kasus keracunan disebabkan oleh obat-obatan, produk rumah tangga, dan kosmetik. Jauhkan produk kimia berbahaya dari jangkauan anak. Disarankan, produk-produk tersebut tersimpan dalam lemari terkunci. Kebanyakan obat-obatan dan produk rumah tangga memiliki warna menarik yang membuat balita tertarik untuk mencobanya. 

Tersedak dan Tercekik

Anak-anak dapat menelan dan menghirup benda-benda kecil seperti mainan kecil, kacang dan kelereng yang bisa mengakibatkan tersedak. Awasi mereka saat bermain dan makan, jauhkan mereka dari bungkus makanan yang gampang dibuka. Pilih juga mainan-mainan yang sesuai kebutuhan anak, seperti mainan yang tidak beracun dan mengandung bagian kecil yang mudah terlepas.

Kabel-kabel yang terlilit juga dapat menyebabkan balita tercekik. Sebaiknya kabel tersimpan dalam keadaan rapi dan jauh dari pandangan balita. Balita yang berusia diantara 16 sampai 36 bulan belum memiliki koordinasi fisik yang memadai, sehingga apabila mereka terjebak pada kabel yang terlilit, mereka cenderung tidak bisa membebaskan diri sendiri. 

Tenggelam

Anak-anak dapat tenggelam bahkan pada genangan air kurang dari 3 cm. Jadi saat anak berada dekat air, pastikan selalu dalam keadaan diawasi. Jangan tinggalkan anak di bak mandi meskipun kakaknya mengawasi. Jika memiliki kolam renang dan kolam ikan, pasang pengawas di sekitarnya dan pastikan anak tidak dapat mencapai kolam dengan sendiri.


Dengan sekian banyak bahaya mengerikan di rumah, lantas pantaskah kita melarang anak-anak untuk bermain dan mengeksplorasi dunianya? Kita baru pantas melarang apabila anak-anak melakukan tindakan amoral dan hal-hal yang berbahaya bagi dirinya.

Konsep ANAK


SKI (Safekids Indonesia), sebuah komunitas yang peduli terhadap keamanan dan keselamatan anak mempopulerkan metode ANAK. Metode ini terdiri dari 4 poin penting:
  • Amati bahayanya
  • Nilai risikonya
  • Ambil Tindakan
  • Komunikasikan
Persepsi tentang keselamatan bagi mayoritas kita sebenarnya masih menjadi hal tabu dan kurang penting. Padahal keselamatan bukan sekedar masalah teknis tetapi pembiasaan dan pola pikir. Masih banyak yang merasa keselamatan hanya penting bagi dunia kerja dan merasa sudah cukup hati-hati sehingga kecelakaan tidak akan terjadi pada dirinya dan keluarga. 

Home proofing juga perlu dilakukan pada ujung meja tajam, listrik, benda terbuka seperti lemari dan kulkas, serta daerah licin. Hal-hal yang bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya kecelakaan dirumah yang sudah dijelaskan di poin-poin sebelumnya bisa kita rangkum menjadi sebagai berikut.

https://www.asecurelife.com/baby-proofing-house/
Produk-produk home proofing bisa ditemukan di toko bangunan terdekat yang terdiri dari berbagai macam merk seperti ClevaMama. Pastikan juga mainan si kecil, pakaiaannya sudah berstandar SNI untuk mencegah zat kimia yang tidak diinginkan. Untuk perlengkapan tidur seperti bantal, guling, dan selimut yang aman dari material berbahaya bisa didapatkan pada produk babybee.

1 hal yang sering terlupakan oleh kita adalah menghafal nomor-nomor penting apabila terjadi kecelakaan. Kita bisa menulis dan menempelkan nomor panggilan darurat (112), pemadam kebakaran (113), polisi (110), nomor anggota keluarga lain, dan nomor rumah sakit terdekat.

Karena kita tidak bisa mendapatkan keadaan dengan kemungkinan 0% bahaya, mengenali bahaya dan mencegah adalah bentuk kasih sayang kita kepada anak-anak tercinta.

Simulasi Gempa di SD Nabawi Jakarta

Tidak ada komentar
Gempa di Lombok yang terjadi pada bulan lalu sarat membuat masyarakat Indonesia was-was, takut, dan bertanya-tanya dimanakah gempa yang akan terjadi berikutnya. Ditambah dengan isu-isu mega gempa yang akan mengguncang Jakarta, semakin besar pula kecemasan yang timbul. Gempa merupakan fenomena alam yang tidak akan dapat kita hindari. Tapi apakah kita siap menghadapi gempa apabila terjadi di lokasi kita?

Kita perlu membekali diri, keluarga dan orang sekitar terkait sikap apa yang harus dilakukan apabila terjadi gempa. Gempa dapat terjadi kapan saja, bisa saat kita di rumah, tempat kerja, sekolah, atau di jalan raya. Kali ini akan dibahas contoh simulasi gempa di sekolah. Dengan adanya edukasi gempa kepada siswa dan sivitas sekolah, anak-anak bisa lebih siap dan orang tua dapat berkurang kekhawatirannya.

Tim SKI (Safekids Indonesia) berjumlah 5 orang mendapat undangan memberikan edukasi serta melakukan simulasi gempa di SD Nabawi Jakarta pada Kamis, 6 September 2018. 

Kesempatan Kedua Hari Ini

Tidak ada komentar
Dari awal saya sudah faham, Hasan bukan tipe penyelesai kepingan Puzzle.

Kalau saat Hasan berusia 2 tahun dan anak-anak seusianya banyak yang bisa menyelesaikan puzzle, Hasan tertarik saja juga tidak. Sampai sekarang hampir genap 3 tahun, Hasan tak kunjung tertarik akan puzzle. Namun beberapa hari terakhir ini ia kerap kali minta diambilkan puzzle impor yang sudah berbulan-bulan lamanya teronggok di sudut almari. Puzzle bergambarkan suasana ladang dan peternakan dengan warna cerah, ilustrasi menarik dan kepingan yang besar pula. Sesaat setelah Hasan menyerakkan seluruh kepingan Puzzle itu ke lantai, ia langsung berteriak memanggil saya minta disusunkan. Mencoba sekali memasangkan, langsung bingung dan tidak mengerti.

Baby Gear: Aprica Karoon Review

Tidak ada komentar
Sewaktu masih hamil hasan trimester kedua, saya udah mulai rajin buka tutup review stroller di pelbagai website. Banyak faktor yang dibutuhkan untuk memilih stroller yang pas. Pertimbangan saya dalam memilih stroller dapat dilihat di artikel saya sebelumnya mengenai kriteria stroller disini. Melihat segala kriteria saya dan budget yang dimiliki, muncul beberapa shortlisted. Namun, ternyata alhamdulillah Hasan mendapat kado stroller dari Datuk Aya. Berhubung dikadoin, saya mah pasrah apa aja. Apalagi lebih mahal dari budget kita hehe. Stroller yang dikasih Aprica Karoon. Seperti ini penampakannya.

Penampakan Aprica Karoon

Baby Gear: Stroller #1 Kriteria

4 komentar
Halooo,,

Wah parah setelah ngecek query,  ternyata udah lama banget ga nulis, terakhir sekitar setengah tahun lalu :o Yah baiklah, untuk kembali mengkatalis tingkat keproduktifan, mari mulai menulis kembali!

Seperti layaknya mak-mak lainnya, teruma first-mom-to-be, udah pasti euforia menunggu kelahiran si lucu-lucu. Hihi. Mulai dari shopping frenzy sampe riset mencari baby gear semacam ini #eaaa. Nah bagian mencari baby gear termasuk bagian favorit saya. Kenapa? Well, emang dari dulu sih hobinya ngeriset barang yang mau dibeli. Bahkan teman perempuan saya kalau mau cari gadget suka nanya saya merekomendasikan barang apa ke mereka. Dan saya dengan senang hati merisetkan barang-barang untuk mereka :D Salah satu hasil riset saya yang paling berhasil adalah Nikon D90. Mid range camera yang dari bertahun-tahun lalu gw beli sampe sekarang harga belinya relatif sama dan dinobatkan salah satu kamera paling versatile. Hihi.

baby gear stroller



Back to topic!