Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan

Menjadi Istri PPDS: The Beginning

1 komentar
Hari ini, Rabu 25 Juni 2014 adalah hari pertama suami saya menjalankan kehidupan PPDS (Program Pendidikan Dokter Spesialis) setelah sehari sebelumnya briefing resmi baik dari departemen dan senior.

istri ppds




Apa yang berubah?

Filosofi Memasak

Tidak ada komentar
Kehidupan memasak saya resmi berubah selepas tanggal 22 Maret 2014, yakni tanggal pernikahan saya dan suami. Kalo boleh jujur, kehidupan masak-memasak saya tergolong menyedihkan. 


Iri dan Menunggu

Tidak ada komentar
Dalam rangka ingin meneruskan blog multiply gw dulu yang berbahasa Indonesia, jadi saya memutuskan untuk mulai menulis lagi. Berhubung blog multiply sudah dinonaktifkan dan diconvert menjadi blog dagang sama ownernya, jadinya gw mengexport semua tulisan dalam format XML kemudian di import ke Blogspot ini. Jadi kalau kalian tertarik membaca tulisan gw yang udah berumur 3-6 tahun yang lalu, bisa scroll ke bawah atau kehalaman belakang. Belum semua gw tampilkan, karena banyak tulisan mengandung rahasia (ahiyyy,,,) jadi ga bisa publish all. Nanti dicoba mempublish tulisan lama yang layak ditunjukkan jikalau ada waktu. Dan maaf juga karena tampilannya masih acak adut. In progress lah :D.


Hate Being Generalist

4 komentar

Pertanyannya : Apakah menjadi seorang generalis itu menyenangkan?

Mari kita uraikan.

Generalis terkait dengan seseorang yang mampu melakukan banyak jenis hal saat orang-orang lain hanya bisa melakukan sedikit hal. Dalam hal ini adalah kemampuan. Kuantitas. Chekclist. Mungkin dalam hal ini, orang-orang generalis ini mejadi tepatguna. Dalam berbagai hal juga dapat diandalkan. Selain itu mereka ini cenderung bersifat selfish, karena merasa bisa melakukan. Bagi segelintir orang mungkin bisa jadi sombong. Terserah pandangan orang, sebenarnya ini tergantung bagaimana mereka menempatkan diri mereka masing-masing.

Generalis tidak hanya berhubungan dengan kuantitas kapabiliti seorang. Tetapi juga ketertarikan. Para golongan generalis ini memiliki ketertarikan pada banyak hal. Checklist. Entah mereka tipikal manusia yang gampang teracuni, atau memang dari sananya banyak memiliki ketertarikan. Jika memang seperti itu, sisi baiknya adalah mereka orang yang suka belajar, bahkan untuk belajar segala sesuatu yang sama sekali baru dan asing. 

Well, I guess enough for talking quality. Okay, they get point for this stuff.Checklist.
Lantas bagaimana dengan kualitas?
Hal ini lah yang akan menjadi pertanyaan besar.
Sebelum bingung mari saya analogikan sesuatu. Umpamakan ada pensil berjumlah 10 buah. Lalu ada kotak pensil sebagai wadah pensil tersebut. 10 Pensil ini adalah pengandaian anugrah skill dan kemampuan yang diberikan oleh Tuhan. Semua orang memiliki kemampuan yang sama rata untuk mengisi tiap skill yang mereka punya. Lalu kotak pensil ini adalah skill tersebut. Katakanlah, si orang biasa memiliki 5 kotak pensil atau 5 kemampuan. Maka tiap kotak itu akan menerima 2 pensil. Sementara untuk para manusia generalis, banyak memiliki kemampuan jadi mereka mempunyai 10 kotak pensil, yang mana tiap kotak pensil akan menerima 1 pensil. Jelas sampai sini. Orang biasa memiliki kemampuan dengan 2 skill sementara orang generalis memiliki kemampuan dengan hanya 1 skill. Kesimpulannya, orang biasa memiliki kualitas kemampuan yang sungguh lebih diatas dari kaum generalis ini. Orang generalis memiliki tipikal tipis lebar sementara orang biasa memiliki tipikal mengerucut

Orang generalis akan banyak memiliki kendala “bingung”. Bingung dalam memilih sesuatu karena mereka tidak tau dalam hal apa mereka baik. Bingung karena mereka merasa banyak yang baik tapi mereka tidak tahu mana yang terbaik. Bingung, dan memiliki kekhawatiran seandainya dari yang mereka pilih itu ternyata merupakan pilihan buruk dan mereka tenggelam dari ketidakmampuan yang pada akhirnya ditampakkan. Pada intinya, mereka sesungguhnya adalah orang-orang bingung.

Selain itu, orang generalis bisa jadi terlihat “wah” diluar. Namun jika anda akan mulai sangat dekat dengan mereka, anda akan tau betapa kasihannya mereka dan akan tahu seberapa tidak bisa apa apa mereka.
Dengan kata lain, saya menyebut mereka ini “bisa tapi tidak bisa”. Ironis.

Namun, saya pribadi pernah melihat beberapa fenomena ini tidak berlaku. Saya melihat segelintir kaum generalis yang merupakan “bisa dan memang bisa”. Mereka memiliki kuantitas kemampuan banyak dan memiliki kualitas kemampuan tersebut besar pula. Alangkah menyenangkannya. Tapi entahlah, apakah disini saya sebagai pengamat masih melihat mereka ke tahap “wah” atau memang saya belum terlalu mengenal mereka.

Sebagian orang, ada yang menganggap generalis adalah sebuah anugrah. Ada juga yang menganggap generalis hanyalah sebuah penghambat, terutama bagi sang generalis tersebut. Sebenarnya tergantung bagaimana kita menganggapnya. Semua orang diciptakan pasti memiliki kekurangan dan kelebihan. Dan Tuhan tahu yang terbaik. Generalis bukan berarti hambatan. Bisa jadi kegeneralisan bagi mereka yang memilikinya dinilai Tuhan lebih baik apabila mereka tidak generalis. Sebenarnya untuk menjawab hal ini cuma satu, yaitu Bersyukur. Terkadang bersyukur cukup susah. Sudah sifat alami manusia untuk selalu melihat ke atas tanpa pernah melihat diri sendiri dan apa yang dipunya. Tapi sesungguhnya bersyukur itu adalah opsi paling gampang. Selain itu sangat penting untuk memahami diri sendiri, apa yang kita punya.

Saya, seorang generalis yang mencoba mencari tahu.

Hate being generalist, I want to be specialist