Langsung ke konten utama

Hate Being Generalist


Pertanyannya : Apakah menjadi seorang generalis itu menyenangkan?

Mari kita uraikan.

Generalis terkait dengan seseorang yang mampu melakukan banyak jenis hal saat orang-orang lain hanya bisa melakukan sedikit hal. Dalam hal ini adalah kemampuan. Kuantitas. Chekclist. Mungkin dalam hal ini, orang-orang generalis ini mejadi tepatguna. Dalam berbagai hal juga dapat diandalkan. Selain itu mereka ini cenderung bersifat selfish, karena merasa bisa melakukan. Bagi segelintir orang mungkin bisa jadi sombong. Terserah pandangan orang, sebenarnya ini tergantung bagaimana mereka menempatkan diri mereka masing-masing.

Generalis tidak hanya berhubungan dengan kuantitas kapabiliti seorang. Tetapi juga ketertarikan. Para golongan generalis ini memiliki ketertarikan pada banyak hal. Checklist. Entah mereka tipikal manusia yang gampang teracuni, atau memang dari sananya banyak memiliki ketertarikan. Jika memang seperti itu, sisi baiknya adalah mereka orang yang suka belajar, bahkan untuk belajar segala sesuatu yang sama sekali baru dan asing. 

Well, I guess enough for talking quality. Okay, they get point for this stuff.Checklist.
Lantas bagaimana dengan kualitas?
Hal ini lah yang akan menjadi pertanyaan besar.
Sebelum bingung mari saya analogikan sesuatu. Umpamakan ada pensil berjumlah 10 buah. Lalu ada kotak pensil sebagai wadah pensil tersebut. 10 Pensil ini adalah pengandaian anugrah skill dan kemampuan yang diberikan oleh Tuhan. Semua orang memiliki kemampuan yang sama rata untuk mengisi tiap skill yang mereka punya. Lalu kotak pensil ini adalah skill tersebut. Katakanlah, si orang biasa memiliki 5 kotak pensil atau 5 kemampuan. Maka tiap kotak itu akan menerima 2 pensil. Sementara untuk para manusia generalis, banyak memiliki kemampuan jadi mereka mempunyai 10 kotak pensil, yang mana tiap kotak pensil akan menerima 1 pensil. Jelas sampai sini. Orang biasa memiliki kemampuan dengan 2 skill sementara orang generalis memiliki kemampuan dengan hanya 1 skill. Kesimpulannya, orang biasa memiliki kualitas kemampuan yang sungguh lebih diatas dari kaum generalis ini. Orang generalis memiliki tipikal tipis lebar sementara orang biasa memiliki tipikal mengerucut

Orang generalis akan banyak memiliki kendala “bingung”. Bingung dalam memilih sesuatu karena mereka tidak tau dalam hal apa mereka baik. Bingung karena mereka merasa banyak yang baik tapi mereka tidak tahu mana yang terbaik. Bingung, dan memiliki kekhawatiran seandainya dari yang mereka pilih itu ternyata merupakan pilihan buruk dan mereka tenggelam dari ketidakmampuan yang pada akhirnya ditampakkan. Pada intinya, mereka sesungguhnya adalah orang-orang bingung.

Selain itu, orang generalis bisa jadi terlihat “wah” diluar. Namun jika anda akan mulai sangat dekat dengan mereka, anda akan tau betapa kasihannya mereka dan akan tahu seberapa tidak bisa apa apa mereka.
Dengan kata lain, saya menyebut mereka ini “bisa tapi tidak bisa”. Ironis.

Namun, saya pribadi pernah melihat beberapa fenomena ini tidak berlaku. Saya melihat segelintir kaum generalis yang merupakan “bisa dan memang bisa”. Mereka memiliki kuantitas kemampuan banyak dan memiliki kualitas kemampuan tersebut besar pula. Alangkah menyenangkannya. Tapi entahlah, apakah disini saya sebagai pengamat masih melihat mereka ke tahap “wah” atau memang saya belum terlalu mengenal mereka.

Sebagian orang, ada yang menganggap generalis adalah sebuah anugrah. Ada juga yang menganggap generalis hanyalah sebuah penghambat, terutama bagi sang generalis tersebut. Sebenarnya tergantung bagaimana kita menganggapnya. Semua orang diciptakan pasti memiliki kekurangan dan kelebihan. Dan Tuhan tahu yang terbaik. Generalis bukan berarti hambatan. Bisa jadi kegeneralisan bagi mereka yang memilikinya dinilai Tuhan lebih baik apabila mereka tidak generalis. Sebenarnya untuk menjawab hal ini cuma satu, yaitu Bersyukur. Terkadang bersyukur cukup susah. Sudah sifat alami manusia untuk selalu melihat ke atas tanpa pernah melihat diri sendiri dan apa yang dipunya. Tapi sesungguhnya bersyukur itu adalah opsi paling gampang. Selain itu sangat penting untuk memahami diri sendiri, apa yang kita punya.

Saya, seorang generalis yang mencoba mencari tahu.

Hate being generalist, I want to be specialist

Komentar

  1. Waduh waduh ^_~“ gimana ya... Yang saya tau pasti, setidakx seorg generalis bs jadi spesialis (baca: tinggal pilih satu aja trus d tekunin) tp org spesilis SUSAH jd org generalis. Yahhh Tuhan sudah kasih anugrah d terima aja ya :D (ps: jd generalis bnyk enakx kok ^^v,namax rumput tetangga emang biasax kelihatan lebih ijo)

    BalasHapus
  2. bisa jadi, cuma yaitu,,takut pas memilih sesuatu itu terus mentok karena kemampuannya abis,,huhu

    BalasHapus
  3. Hahahaha ^o^ kemampuan kan bs d tingkatkan terus~ apalagi kalo udah ada bibitx (sbg org generalis, bibitx banyak kan). Org spesialis jg ngga ada yg langsung jd org gede tanpa usaha. SEMANGAT!!

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Baby Gear: Aprica Karoon Review

Sewaktu masih hamil hasan trimester kedua, saya udah mulai rajin buka tutup review stroller di pelbagai website. Banyak faktor yang dibutuhkan untuk memilih stroller yang pas. Pertimbangan saya dalam memilih stroller dapat dilihat di artikel saya sebelumnya mengenai kriteria stroller disini. Melihat segala kriteria saya dan budget yang dimiliki, muncul beberapa shortlisted. Namun, ternyata alhamdulillah Hasan mendapat kado stroller dari Datuk Aya. Berhubung dikadoin, saya mah pasrah apa aja. Apalagi lebih mahal dari budget kita hehe. Stroller yang dikasih Aprica Karoon. Seperti ini penampakannya.

Drama keberangkatan ke Chiang Mai

Setelah hampir 2 bulan, akhirnya saya memberanikan untuk menulis ini karena menurut saya pengalaman ini sangat memalukan sekaligus agak menyesakkan. Let's call it rejeki hanya sampai disitu saja dan rejeki pengalaman berharga.
Suami mendapatkan kabar pada bulan Juli kemarin bahwa akan dikirimkan ke Chiang Mai di bulan Oktober selama sebulan. Sontak saya gembira karena akhirnya akan kejadian juga tinggal di negara asing meski hanya sebulan. Sebenarnya suami mendaftar untuk pengiriman bulan Maret, setelah mengira tidak dapat jatah praktis kabar bulan Oktober ini sedikit mengejutkan. Mulailah pada saat itu saya malam-malam suka iseng membukan online travel apps semacam Traveloka, Tiket.com, dan pegi-pegi. Karena kami masih di Jogjakarta pada saat itu, kami memutuskan mulai agak serius memesan tiket nanti saja setelah kepulangan ke Jakarta pada bulan Agustus. Selain itu, kalau mencari tiket pada waktu itu saya juga tidak konsen karena otak saya masih terjejali rencana-rencana kunjung…

5 Buku Nonfiksi Favorit

Tahun 2019 adalah titik balik saya untuk kembali banyak membaca buku setelah tahun lalu dan tahun-tahun sebelumnya hanya membaca 2-3 buku per-tahun. Miris bukan? Oleh karena itu, postingan kali ini saya dedikasikan sebagai bentuk apresiasi saya kembali membaca. Daftar buku dibawah juga berdasarkan daftar bacaan saya tahun 2018 yang selengkapnya bisa dilihat di goodreads saya. Kali ini saya akan coba merekomendasikan 5 buku non fiksi, tanpa sesuai urutan favoritnya.
1. Mindset: The New Psychology of Success - Carol S. DweckSuka penasaran tidak kenapa banyak anak kecil yang dianggap sebagai child prodigy kebanyakan hanya mampu mekar pada tempo waktu yang singkat. Biasanya saat mereka sudah dewasa, kiprahnya malah jarang terdengar. Akhirnya saya mengetahui alasannya setelah membaca buku ini.
Carol S. Dweck membagi pola pikir manusia menjadi dua: growth mindset dan fixed mindset. Growth mindset adalah pola pikir yang mendorong kita untuk selalu berkembang. Sementara fixed mindset adalah …