Tampilkan postingan dengan label review buku. Tampilkan semua postingan

Kenapa Si Kembar dan Tantangan Profesor Haydar Cocok Dibaca Generasi Muda Islam

15 komentar
“Ramadan besok, kami ga berdua nggak puasa, ya.”

Buku apa menurutmu yang sekaligus cocok dibaca oleh anak-anak hingga remaja bahkan para orangtua sekali pun?

Tenang saja, no spoiler alert.

si kembar dan tantangan profesor haydar

Awal bulan puasa 2022, seorang teman mempromosikan buku karangannya yang berjudul Si Kembar dan Tantangan Profesor Haydar melalui berbagai kanal media sosial. Katanya sih merupakan buku yang cocok dibaca menyambut bulan Ramadhan. Target pembaca bisa dari anak SD yang sudah lancar membaca sampai orang dewasa. Saya pun tertarik membeli karena sangat ingin mendukung teman.

Karena kecepatan membaca saya tidak sebanding dengan banyak buku yang belum dibaca, alhasil buku tersebut baru sempat saya baca di Bulan September ini, itu pun menjadi buku mobil (buku yang saya taruh di mobil, jadi kalau lagi menunggu atau macet, saya bisa baca buku).

Ternyata Si Kembar dan Tantangan Profesor Haydar tidak hanya sebuah buku yang menyasar pembaca muda. Saya sebagai orang dewasa sekaligus Ibu dari 3 anak cukup tertohok dan menjadikan buku tersebut refleksi saya termasuk hubungan antara orang tua dan anak.

Tentu saya berkata seperti ini karena ada alasan yang konkrit

Tentang “Si kembar dan Tantangan Profesor Haydar?”

si kembar dan tantangan profesor haydar

Buku ini menceritakan tentang sepasang anak kembar beda kelamin berusia 11 tahun, Khalid dan Aya, yang menolak untuk berpuasa di Ramadan kali ini dengan argumen puasa adalah sebuah kegiatan yang melanggar hak asasi manusia. Argumen yang terkesan liar ini ditemukan oleh mereka di forum internet dan kemudian mereka amini.

Sontak orangtua mereka syok. Meski dirayu dan diiming-imingi, si kembar tetap tidak luruh dari pendapat mereka. Akhirnya orangtua mereka menyerah dan memutuskan untuk membawa si kembar ke rumah Profesor Haydar, kakek mereka.

Berbeda dengan respon orangtua, Profesor Haydar memperbolehkan mereka untuk tidak berpuasa di Bulan Ramadhan dengan satu syarat: Si kembar dapat membuktikan kebenaran argumen bahwa puasa melanggar hak asasi manusia.

Apakah si kembar berhasil?

Pembelajaran penting dari “Si Kembar dan Tantangan Profesor Haydar”

si kembar dan tantangan profesor haydar

Menariknya, buku “Si Kembar dan Tantangan Profesor Haydar” ini tidak hanya menghadirkan kontradiksi dan plot yang asik untuk dibaca. Semakin dibaca, semakin banyak pembelajaran yang dapat pembaca muda ambil, bahkan termasuk bagi para orangtua yang membacanya.

Apa saja pembelajaran yang dapat diambil dengan membaca “Si Kembar dan Tantangan Profesor Haydar?”

1. Mendidik berpikir kritis

Adalah hal yang lumrah bagi manusia untuk terus mempertanyakan suatu sebab, atau yang dikenal dengan berpikir kritis. Anak-anak memiliki fitrah berpikir kritis semenjak dini, janganlah kita sebagai orangtua mematikan kekritisan dengan cara memberikan larangan tanpa menjelaskan secara gamblang alasan dibalik itu.

Karakter Profesor Haydar dan Ibu si kembar bertolak belakang, termasuk dalam menanggapi keinginan si kembar untuk tidak berpuasa di bulan Ramadan. Alih-alih menyuruh si kembar untuk berpuasa dengan hanya menjelaskan sebagai “kewajiban”, Profesor Haydar mengajak si kembar untuk berpikir kritis, mencari tahu kenapa Allah menyuruh umatnya untuk berpuasa dan membuktikan "kebenaran" argumen mereka.

Sang kakek menantang si kembar dengan open question dan meminta mereka untuk mencari bahan untuk memvalidasi pernyataan bahwa puasa telah melanggar hak asasi manusia. Syarat Profesor Haydar hanya satu: argumen yang dibawa si kembar harus berdasarkan sumber yang valid dan bisa dipertanggungjawabkan.

2. Bijak dalam berinternet

si kembar dan tantangan profesor haydar

Bebeda dengna generasi kita para orang tua saat masih kecil, para generasi alpha sangat dekat dengan dunia digital. Mereka akan dengan mudahnya mencari tahu apapun semudah mengetik kata kunci di keyboard.

Namun, kemudahan di dunia digital ini bagai pedang bermata dua. Sisi positifnya, hampir semua hal dapat diperoleh dengan mudah dan cepat. Sisi negatifnya, kita kesulitan menyaring mana informasi yang sembarangan dan mana informasi yang bisa dipertanggungjawabkan.

Disini, Profesor Haydar membekali si kembar buku panduan bijak berinternet saat mengetahui darimana cucu-cucunya mendapat argumen bahwa puasa melanggar hak asasi manusia.

Beretika dan bijak dalam berinternet adalah kemampuan yang harus dimiliki manusia zaman modern, terutama oleh generasi alpha dimana sebagian besar mereka masih belum dewasa. Bahkan, beberapa belum mencapai akil balig. Tentu keadaan ini membuat mereka gampang menyerap apapun dari luar dengan saringan yang minimal. Pembaca muda dapat belajar bagaimana bijak berinternet melalui “Si Kembar dan Tantangan Profesor Haydar”.

3. Belajar bagaimana berpuasa dengan benar

Dalam benak hati, mungkin si kembar menafikan argumen bahwa puasa melanggar hak asasi manusia. Ada banyak faktor yang memicu mereka menyetujui argumen tersebut, salah satunya adalah sulitnya mereka berpuasa karena kerap merasa lemas dan lapar saat berpuasa.

Setelah digali, ternyata di kembar dan keluarga berpuasa dengan cara yang salah. Padahal, disarankan untuk makan kurma dengan jumlah ganjil saat sahur dan berbuka puasa. Memilih makanan sahur yang salah bisa menyebabkan badan lemas dan mudah lapar.

Saat berbuka puasa pun disunnahkan mengkonsumsi kurma terlebih dahulu untuk menghindari lonjakan glukosa di dalam tubuh. Ini sudah ada penelitiannya, lho! Berbuka puasa dengan cara yang salah malah dapat mengacaukan metabolisme tubuh.

4. Memunculkan semangat untuk menuntut ilmu agama

Seberapa sering kamu menyisihkan waktumu untuk menuntut ilmu agama padahal itu adalah panduan hidupmu dan akan memberikan manfaat saat waktu kita sudah usai?

Pemahaman kita yang salah akan hidup disebabkan oleh minimnya ilmu agama yang kita pahami. Sama seperti si kembar. Anggapan berpuasa merupakan pelanggaran HAM berangkat dari ketidakfahaman mengenai hikmah berpuasa.

Setelah perlahan mereka memahami puasa dari sudut agama, mereka pun merasa tidak tahu apa-apa soal agama. Buku “Si Kembar dan Tantangan Profesor Haydar” benar-benar menuuntun sisi kritis anak-anak dengan berbagai rentetat mengapa dan mengapa sehingga pembaca pun menjadi tertarik pula menuntut ilmu agama.

Tidak hanya untuk kebutuhan pribadi, secara tidak langsung si kembar ingin mengajak ayah dan ibu mereka untuk bersama-sama menuntut ilmu agama karena menyadari betapa pentingnya.

5. Berkomunikasi efektif

si kembar dan tantangan profesor haydar

Komunikasi efektif adalah satu skill yang harus dimiliki oleh semua orang, termasuk oleh anak-anak. Sayang banget kan kalau kita mau mengkomunikasikan hal baik kepada orang lain tapi harus mental karena kita tidak dapat berkomunikasi secara efektif.

Buku “Si Kembar dan Tantangan Profesor Haydar” akan mengajarkan pembaca bagaimana berkomunikasi efektif dari konflik antar tokoh yang terjadi. Bagaimana tipsnya?

Makanya baca donk, hehe

6. Belajar agar tidak menjadi orangtua toksik

Ini adalah poin yang menjadi refleksi saya pribadi sebagai pembaca dewasa. Lewat hubungan interpersonal antara si kembar dan orangtua, saya berusaha mengevaluasi diri sendiri. Apakah selama ini saya sudah cukup mendengarkan anak? Apakah selama ini saya tidak mengedepankan keinginan semata tanpa memperhatikan kondisi anak?

“Si Kembar dan Tantangan Profesor Haydar” sebagai sebuah buku

si kembar dan tantangan profesor haydar

Jujur saja, awalnya saya membeli buku ini karena ingin mengapresiasi hasil karya teman saya, kaka Reytia (punteun, Rey wkwk). Setelah membaca buku, opini saya sama sekali berubah. Saya merasa buku “Si Kembar dan Tantangan Profesor Haydar” ini perlu dibaca oleh generasi muda Islam juga para orangtuanya.

Gaya berceritanya yang tidak berbelit-belit dan berterus terang dengan berbagai irisan konflik interpersonal membuat buku ini cocok dibaca oleh pembaca muda termasuk anak SD yang sudah lancar membaca. Tiap bab tidak panjang dan total halaman buku ini juga sekitar 150-an lebar sehingga buku ini membuat mereka mudah mengkonsumsi serta menjadi bacaan ringan penuh kontemplasi sekaligus menjadi hiburan bagi kita yang orangtua. Bahkan bagi pembaca cepat, buku ini bisa sekali duduk saja.

Berhubung Hasan yang masih duduk di kelas 1 ini belum lancar membaca cepat, buku ini baru menjadi salah satu koleksi bukunya. Insya Allah tahun depan ia sudah bisa baca novel ini, amin.

Karena begitu terkesannya dengan “Si Kembar dan Tantangan Profesor Haydar”, saya sampai menulis tulisan ini dan mengeposnya di Instagram haha. Bahkan, saya juga memberikan ke saudara-saudara saya.

Bagaimana? Kamu juga tertarik? Bisa langsung hubungi pengarang ya, langsung googling nama Reytia. Bisa juga kontak ke saya, nanti dibantuin buat pesan.