Pentingnya Menumbuhkan Growth Mindset bagi Anak

15 komentar
“Hasan gapapa? Santai aja, gapapa kok gagal, itu lumrah. Yang penting kita cari tahu kenapa kita gagal. Gagal itu biasa kok, malah itu sarana untuk menjadi lebih baik. Ada yang mau dibantu? Nanti coba ujian lagi ya!” Ujar saya saat mengetahui Hasan tidak lulus ujian kenaikan sabuk Taekwondo.
 
growth mindset bagi anak

Jujur saya agak syok, bagaimana mungkin bisa terjadi. Apalagi saat saya tahu bahwa ia adalah salah satu dari dua anak saja yang tidak lulus ujian kenaikan sabuk kuning dari puluhan anak lainnya. Ini tidak hanya ujian baginya. Ini menjadi ujian buat saya juga

Bagaimana cara saya menyikapi hal ini dibalik inner child saya yang pennuh ambisi? Bagaimana saya bisa tetap tenang? Bagaimana saya bisa menenangkan anak? Bagaimana saya bisa tetap membangkitkan semangat anak? Bagaimana saya bisa menerapkan growth mindset kepada anak?

Sejenak saya tarik napas dalam-dalam dan berpikir, ini lah saatnya menanamkan anak growth mindset. Pelan-pelan saya mendekatinya.

“Hasan, kecewa ya ga lulus ujian sabuk? Tidak apa-apa kok kecewa.” Percakapan pun saya mulai dari memvalidasi emosinya.

Setelah berbicara dalam kepada Hasan, ia pun kembali melangkah menuju Sabeomnimnya (guru Taekwondo) untuk melakukan ujian ulang sabuk. Alhamdulillah, akhirnya ia bisa melangkah ke sabuk kuning bersama teman-teman TK lainnya.

Sebenarnya apa sih itu growth mindset? Seberapa penting seorang anak memiliki growth mindset?

Mengenal Growth Mindset

growth mindset bagi anak

Konsep Growth mindset pertama kali dipopulerkan oleh Carol Dweck, seorang Psikologis dari Amerika dalam bukunya yang populer, Mindset. Growth mindset adalah pola pikir yang menganggap kegagalan adalah sebuah cara untuk terus maju. Faham growth mindset menganggap bahwa bakat dan kemampuan adalah hal yang terus berkembang jika terus diasah.

Kerap kali kita sering minder saat melihat orang lain yang kita anggap berbakat di bidang yang sedang ditekuninya. Kita merasa tidak dapat mengejar mereka karena memiliki suatu anugerah dari Tuhan yang tidak kita miliki sejak awal.

Padahal kenyataanya bukan seperti itu. Orang yang berbakat namun tidak memiliki pola pikir growth mindset akan kalah dengan orang yang “kurang” berbakat tetapi memiliki pola pikir growth mindset. Mereka percaya bahwa kemampuan akhir adalah perkawinan dari bakat, kegigihan, serta pengalaman yang ditempat bertahun-tahun.

Growth Mindset vs Fixed Mindset

growth mindset bagi anak
Sumber: Alterledger

Lawan dari Growth Mindset adalah Fixed Mindset. Fixed mindset percaya bahwa bakat adalah dan kemampuan adalah anugerah dan bawaan dari lahir. Mereka kerap merasa superior . Namun, kondisi ini bisa sangat rawan. Apabila seseorang memiliki fixed mindset dan di kemudian hari dia sedang di fase kegagalan, mereka bisa sangat down dan sulit untuk bangkit. Para pemilik fixed mindset akan merasa egonya terluka sebab kemampuan mereka menjadi diragukan.

Berbeda dengan orang yang memiliki growth mindset. Alih-alih patah semangat, mereka melihat kegagalan ini sebagai peluang untuk tumbuh. Mereka percaya kalau kecerdasan dan kemampuan bisa bertumbuh. Alih-alih patah semangat saat menghadapi kegagalan, mereka lebih  memilih untuk mempelajari kegagalan, mengambil umpan balik dan mengolahnya menjadi strategi untuk masa datang.

Dulu saya sempat sering berpikir, mengapa anak yang dinobatkan sebagai anak genius sejak usia dini biasanya tidak kedengaran lagi kabarnya saat mereka dewasa. Ternyata (ini praduga saya saja sih), mayoritas dari mereka dibesarkan dengan fixed mindset. Mereka terlalu terbuai dengan apresiasi masyarakat bahwa mereka adalah anak prodigy. Satu kegagalan saja membuat mereka mempertanyakan kejeniusan mereka. Tak jarang banyak anak prodigy yang lebih memilih menarik diri ketimbang melanjutkan bidang yang sedang mereka dalami.

Tentu kita tidak menginginkan anak kita tumbuh memiliki fixed mindset alih-alih menjadi growth mindset bukan?

Tumbuh dengan growth mindset bersama Biskuat Academy

growth mindset bagi anak

Prestasi tidak melulu soal prestasi akademik. Ada beberapa anak yang memiliki kecerdasan kinestetik sehingga ia sangat menonjol. Sayangnya, banyak orangtua yang belum teredukasi bahwa prestasi kinestetik adalah prestasi yang juga membanggakan dan patut dibina seserius mungkin.

Untuk membangun kepedulian ini, Biskuat mendorong pencapaian anak-anak Indonesia di bidang olahraga, terutama di sepak bola melalui Biskuat Academy. Biskuat percaya bahwa setiap anak unik dan masing-masing dari mereka memiliki potensi tak terbatas melebihi apa yang mereka lihat. Kekuatan sejati dan unik itu sesungguhnya terletak di dalam diri mereka sendiri.

growth mindset bagi anak

Tidak banyak produk kemasan yang peduli dengan pertumbuhan dan perkembangan anak-anak Indonesia. Salah satunya Biskuat yang merupakan brand unggulan Mondelez International yang memiliki tujuan mulia menciptakan #GenerasiTiger agar anak tidak hanya berprestasi, tapi juga memiliki kekuatan baik dari dalam (inner strength) yang tercermin dari karakter positif anak.

Tentunya Biskuat Academy juga mendorong agar anak memiliki growth mindset untuk terus bertumbuh meskipun menghadapi rentetan kegagalan demi kegagalan.

Melalui Biskuat Academy, anak dapat mengembangkan potensi dari dalam untuk mencapai mimpi mereka menjadi pesepakbola handal. Mulai dari peningkatan kemampuan sepak bola dari pelatih berlisensi UEFA A sebagai persiapan menjadi pemain sepak bola profesional di masa depan hingga bertemu langsung pemain profesional dari Tim Nasional Sepak Bola Indonesia untnuk memotivasi mereka. Kini cita-cita untuk menjadi pemain sepak bola profesinoal bukan hanya mimpi!

growth mindset bagi anak

Tertarik? Jangan khawatir, Biskuat Academy terbuka secara umum untuk seluruh anak Indonesia dari Sabang hingga Merauke. Cara ikutannya juga sangat mudah! Tinggal membeli Biskuat kemasan khusus dan mendaftarkannya melalui WA sehingga sah mengikuti Biskuat Academy. Jika kamu beruntung dan menang Grand Final, bukan tidak mungkin kamu ikut tur ke stadion bola di Eropa. Menarik bukan?

growth mindset bagi anak

Growth mindset pada anak yang didukung oleh sumber daya

Apapun kemampuan anak, kita sebagai orangtua tidak boleh mengerdilkan anak sama sekali. Terus dukung anak saat mereka memiliki kemampuan non-akademis. Didik dan tanamkan anak kepribadian growth mindset agar mereka selalu siap menerima tantangan dan kegagalan. Sedih saat gagal itu wajar, tapi harus segera bangkit dan menjadikan kegagalan itu sebuah pembelajaran.

Jika si kecil memiliki minat dan bakat yang besar di bidang olahraga terutama sepak bola, bisa segera mendaftarkan mereka ke Biskuat Academy.



Unleash their potential, you never know what gonna happen if they have growth mindset and work hard on what they love!

growth mindset bagi anak


“Artikel ini diikutsertakan pada lomba KEB X Biskuat Academy”





15 komentar

  1. Growth mindset dan inner strength, kombinasi ampuh nih buat bekal anak-anak tumbuh dewasa. Good job buat Biskuat yang memprakarsai Biskuat academy untuk anak-anak Indonesia.

    BalasHapus
  2. Anak2 kudu dibekali semangat utk selalu tangguh menjalani hidup ya.
    Inner strength ini sangat signifikan perannya

    BalasHapus
  3. Betul sekali ni Mbak, dari dini kalau sudah diajarkan arti kekalahan dan mau bangkit lagi akan berbeda hasilnya dengan yang tidak diajarkan sama sekali ya, Mbak. Semuanya perlu latihan dan proses panjang euy. Dan lagi, lingkungan juga berpengaruh.

    Lingkungan berkualitas akan membentuk inner strength anak juga, apalagi Biskuat dengan program Biskuat Academy nya memfasilitasi anak yang punya bakat dibidang sepak bola. Kesempatan emas, bukan?

    BalasHapus
  4. Perlu banget ya mengajarkan anak-anak untuk belajar menerima kegagalan. Supaya engga patah semangat. Biskuat Academy pas banget momennya pas ada kejuaraan Piala Dunia. Mendorong anak-anak berprestasi di dunia sepak bola.

    BalasHapus
  5. Menghadapi kegagalan adalah salah satu hal yang mesti ditanamkan ke anak sejak dini agar tak mudah down, inferior, dan punya daya juang ya. Ini bagus agar saat dewasa menghadapi situasi kompetitif mereka tak terjebak saling sikut atau menjatuhkan.

    BalasHapus
  6. Setuju pakai banget jika orang tua perlu menumbuhkan mindset untuk bangkit dari kegagalan. Banyak hal pekerjaan rumah orang tua .

    BalasHapus
  7. Saya setuju banget mbak. Kegagalan anak bukan hanya berpengaruh pada mereka saja. Sikap kita yang akan membantu mereka paham dan terus tumbuh, menghadapi dunia luar sana yang terkadang cukup keras

    BalasHapus
  8. Penjelasan yang membuat orangtua berpikir kembali, apa yang perlu ditumbuhkan, terutama memilih kalimat ketika anak-anak mengalami masa sulit, penerimaan di saat mereka tidak sesuai dengan impian mereka.
    Wah, keren banget menumbuhkan growth mindset daripada fixed mindset.

    Terima kasih, kak.
    Rasanya ini buatku banget sih..sebelum untuk anak-anak ya.. Pola pikir orangtuanya dulu yang diatur agar bisa mengajarkan keada anak-anak konsep yang benar mengenai makna keberhasilan.

    BalasHapus
  9. Yap, sudah saatnya orangtua tidak hanya fokus pada prestasi akademis semata tapi juga menumbuhkan dan mengasah potensi karakter lainnya dalam diri anak tidak lupa mengajarkan anak untuk tangguh dan bangkit jika terjatuh atau mengalami situasi tidak enak.

    BalasHapus
  10. Olahraga sepak bola memang baik untuk anak ya. Apalagi dengan event Biskuat Academy 2022. Selain melatih fisik anak, juga melatih pola pikirnya.

    BalasHapus
  11. pola pikir seperti ini memang sangat bagus diterapkan sejak dini ke anak-anak, sehingga mendorong atau menstimulasi otak atau pola pikir mereka untuk memiliki growth mindset sejak dini. dan hal ini sangat bagus untuk perkembangan otak anak kedepannya

    BalasHapus
  12. Waaaaaa baru tau mbak tentang ini , duo mantap inii growth mindset dan inner strength, duo combo yang kalau pas treatmentnya anak akan bersinar

    BalasHapus
  13. Growth mindset ini penting banget ya mbak
    Prestasi tak hanya akademis tapi juga menyesuaikan dengan minat dan bakat anak

    BalasHapus
  14. Seru deh kalau anak-anak udah mantap growth mindset dan inner strengthnya. Si sulung saya yang saya senengnya tuh pembelajar banget. Saya ingat pas pertama kali dia punya hulahup. Itu tuh blas dia gak tahu sama sekali cara pakainya, belajar..eh kok hulahupnya jatuh muluk. Dia coba dan terus coba. Masya Allah.. belum sampai seminggu, dia bisa memainkannya. Lama banget bertahan muter-muter gitu.

    BalasHapus
  15. Perlu pendampingan dari orangtua secara menyeluruh nih untuk menanamkan growth mindset ke putra-putrinya. Keberhasilan adalah proses yang harus diperjuangkan, tidak semata-mata mengandalkan bakat. Butuh mental yang kuat untuk bangkit dari kegagalan. Gapapa kok, gagal tuh bukan aib, bisa diperbaiki lagi ikhtiarnya.

    BalasHapus