Tampilkan postingan dengan label travelling. Tampilkan semua postingan

Chiang Mai Night Safari, Wisata Dibalik kaki Gunung

2 komentar
Tidak hanya kebun binatang, Chiang Mai sebagai kota terbesar kedua di Thailand juga memiliki Safari malam. Lokasinya persis di sebelah komplek Taman Flora Rajapruek. Kami berkesempatan mengunjungi taman safari ini di hari-hari terakhir kami di Chiang Mai. Yaitu hari Rabu, sementara hari Sabtu pesawat kami sudah mengudara menuju Kuala Lumpur.
chiang mai night safari

Chiang Mai Night Safari: Persiapan

Setelah hampir sebulan di Chiang Mai, kami cukup paham kalau kami tidak bisa seenaknya beli makanan di luar. Untuk menyiapkan diri, kami membawa bekal ringkas berupa nasi lauk di tas untuk makan malam. Kami juga bawa camilan dan air minum.

Kami memesan tiket masuk Chiang Mai Night Safari melalui aplikasi Klook. Selama di Thailand, saya merasa aplikasi ini sangat membantu karena bisa mendapatkan penawaran-penawaran wisata dengan harga lebih murah dibandingkan dengan harga aslinya. Misalnya, kami bisa mendapatkan harga sebesar 248 ribu rupiah per-orang sudah termasuk antar jemput dari tempat tinggal kami (kebetulan kami tinggal di cakupan area pick-up). Sementara harga tiket masuk aslinya 800 baht, atau sekitar 350 ribu rupiah! Belum lagi kalau dihitung dengan biaya transportasi pulang pergi menggunakan Grab yang sekali pergi bisa menghabiskan 80 ribu rupiah. Jadi dengan hanya membayar kurang dari 500 ribu (anak umur 3 tahun masih gratis), kami bisa mengunjungi Chiang Mai Night Safari tanpa pusing memikirkan transportasi pergi dan pulang. Sangat praktis kan! Oh ya, harga segitu sudah semua akses, termasuk 2 safari dan semua pertunjukan.

Ada 2 alternatif jadwal Klook yang bisa dipilih:
  • 3:00pm-8:30pm
  • 5:30pm-9:30pm
Jadwal pertama berdurasi 5,5 jam sementara jadwal kedua hanya 4 jam ditambah baru bisa pulang larut malam. Akhirnya kami memilih jadwal pertama agar tidak rugi. Kebetulan jadwal rumah sakit suami selama di Chiang Mai adalah sebelum Ashar sudah bisa pulang ke dorm. Saya ditelepon pukul 2:30pm oleh perwakilan travel lokal yang menangani pesanan Klook. Mereka bilang sekitar jam 3 sudah stand by di belakang dorm untuk dijemput. Sempat skeptis dengan banyak warga Thailand yang tidak bisa Bahasa Inggris, saya merasa lega sekali si perwakilan berbicara Inggris dengan baik. Sebelum pukul 3:30pm mobil travel sudah sampai. Sesuai dugaan saya, kami dijemput paling terakhir karena posisi tempat tinggal kami paling dekat dan searah dengan Taman Safari. Sebuah keuntungan bukan? Jadi kami tidak menghabiskan waktu lama di jalan. Mobil jemputan travel adalah mobil elf dan kami duduk di kursi paling belakang karena sudah penuh oleh turis dari Tiongkok.

Chiang Mai Night Safari

chiang mai night safari

Sebelum pukul 4:00pm kami sudah sampai di taman safari. Si pembimbing dengan sigap mengurus semua tiket kami. Intinya kami tinggal menerima tiket dan masuk ke gerbang masuk taman safari.  Ia juga berpesan agar jam 8:00 sudah stand by di gerbang luar untuk persiapan kepulangan kami ke tempat tinggal masing-masing. Sebelumnya kami lihat jadwal pertunjukan dan trem safari yang terpampang sebelum gerbang masuk guna menyusun strategi agar bisa memaksimalkan kunjungan kami. Begini jadwalnya:
chiang mai night safari

Berbeda dengan Taman Safari Cisarua Bogor, Chiang Mai Safari memiliki sedikit pertunjukan. Akhirnya kami memutuskan pukul 4:00pm sampai maksimal 5:10pm untuk bersantai menikmati jajaran hewan yang terpampang di masing-masing kandang ekosistem layaknya kebun binatang biasa. Mereka menyebutnya Jaguar Trail Zone. Pukul 5:20 kami jadwalkan untuk menonton Night Predators Show. Setelah itu kami lanjutkan dengan menonton Tiger Show. Berbeda dengan pertunjukan di Taman Safari Bogor yang hanya sekitar 15 menit, di Taman Safari Chiang Mai kedua pertunjukan ini menghabiskan waktu masing-masing sekitar setengah jam. Pukul 6:50 langsung direncanakan untuk menikmati Night Safari yang menggunakan bahasa Inggris. Safari malam ini memiliki 2 stasiun, Savanna Safari yang lebih berisi hewan-hewan herbivora dan Predator Prowl yang berisi hewan-hewan pemangsa. Sekali perjalanan menghabiskan setengah jam. Karena 2 stasiun jadi menghabiskan 1 jam.
chiang mai night safari

Jaguar Trail Zone

chiang mai night safari

Hari masih sore,  jadi kami putuskan untuk menjelajah Jaguar Trail Zone. Terdapat danau entah asli atau buatan di tengah-tengah komplek Taman Safari. Seperti kebun binatangnya, posisi Taman Safari yang persis disamping Doi Suthep membuat pemandangan yang ditawarkan sangat indah dan berkesan. Ditambah langit yang sangat cerah berawan menambah rona pemandangan di sore itu.  Padahal, sebelum keberangkatan kami was-was mengingat cuaca Chiang Mai akhir-akhir itu adalah hujan. Rute kebun binatang didesain mengelilingi danau tersebut. Jalur dan kandang tampak bersih dan terawat. Sayang sekali, di sepanjang jalur sangat minim penerangan. Sontak saya pun langsung bersyukur dengan keputusan yang kami ambil, yaitu jadwal yang pertama. Saya tidak dapat membayangkan jika kami mengambil jadwal Klook yang kedua, selain pasti akan kejar-kejaran jadwal dan binatang-binatang yang berada di Jaguar Trail Zone pasti tidak terlihat sama sekali.
chiang mai night safari

Koleksi binatang yang ada cukup lengkap dan variatif serta tidak jauh berbeda dengan koleksi Chiang Mai Zoo. Ada angsa, llama, cendrawasih, kura-kura, kadal, buaya, flamingo, burung, kapibara, macan, dan lain-lain. Didukung dengan jalur setapak yang bernuansa pepohonan, membuat perjalanan terasa berada di hutan.
chiang mai night safari
chiang mai night safari
chiang mai night safari
chiang mai night safari
chiang mai night safari
chiang mai night safari

Night Predators Show

chiang mai night safari

Kami selesai mengitari danau tepat pukul 5:05 dan langsung menuju arena pertunjukan Night Predators Show. Lucunya, arenanya berada di luar pintu masuk taman safari, sehingga tangan kita dicap dahulu saat keluar gerbang sebagai tanda kita pengunjung yang sah. Jadi, kalau nanti balik lagi masuk melalui pintu pengunjung bisa langsung masuk. Sesampai di area pertunjukan tiket kami dimintai oleh petugas untuk dicoblos, sebagai pertanda sudah dikunjungi. Arena sudah ramai dijejali oleh penonton. Tempat duduknya menyerupai stadion yang bertangga-tangga. Setelah menaruh stroller di paling belakang, kami berusaha mencari tempat duduk yang masih oke posisinya untuk menonton.
chiang mai night safari

Ternyata, tidak lama setelah kami menaruh pantat, pertunjukan langsung dimulai. Kami tepat waktu!

Pertunjukan dimulai dengan iring-iringan landak menggemaskan yang melintas di jalur depan yang melintang. Setelah itu muncul singa yang lagi berburu mangsanya. Setelah beres, muncul 3 kukang (?) berjalan diatas tali dan mengambil makanan yang sudah disediakan sebelumnya. Pertunjukan ditutup dengan singa yang memanjat pohon untuk mengambil daging dan kemudian berenang di kolam yang disediakan. Saat pertunjukan ada suara yang menjelaskan. Bahasa Thai dan Inggris bergantian secara acak. Benar-benar pertunjukan  yang mengesankan dan penonton tampak puas.

Tigers Show

chiang mai night safari

Karena pertunjukan berakhir pukul 5:50pm, maka dijamin semua penonton di arena Night Predators Show langsung bergegas menuju arena Tigers Show. Arena berada di dalam taman safari, tepatnya di bagian timur danau. Penonton sudah banyak menjejali tempat duduk, kami pun benar-benar menyelipkan diri agar mendapat posisi yang bagus. Berbeda dengan arena sebelumnya, arena kali ini berbentuk panjang dan meski tempat duduk penonton bertangga-tangga tapi sangat kecil dan tidak lebar. Sehingga pasti saat pertunjukan penonton ujung kanan tidak akan bisa melihat atraksi yang sedang dilakukan di ujung kiri, vice versa. Beruntung kami mengambil tempat duduk di tengah, jadi bisa menyaksikan semuanya dengan cukup baik.
chiang mai night safari

Para harimau bergantian muncul beserta dengan pelatihnya melakukan atraksi-atraksi yang spesifik. Sebagai contoh, atraksi pembuka adalah sang harimau yang bernama Nemo diajak untuk memberi salam kepada penonton. Ada juga harimau yang melompat-lompat ke platform yang disajikan, berdiri, loncat berdiri, melompat ke kolam hingga harimau-harimau yang dijejerkan berdiri sesuai ketinggiannya. Lucu dan menghibur sekali.
chiang mai night safari

Oh ya, sepanjang pertunjukan disertai dengan murni bahasa Thai. Berbeda dengan pertunjukan sebelumnya yang berupa rekaman kaset, kali ini benar-benar petugasnya yang mengisi suara. Setelah pertunjukan selesai para pelatih keluar dari arena dan memberi hormat kepada penonton, tidak lupa sembari memegang kotak sumbangan untuk penonton yang bersimpati mengulurkan tangan untuk kemajuan taman safari. Tampak juga beberapa penonton yang langsung memberi tip kepada para pelatih.
chiang mai night safari

Safari Malam

chiang mai night safari

Selepas pertunjukan, terbersit di kepala saya untuk memberi Hasan makanan terlebih dahulu. Benar saja sesuai dugaan, selain memang kami tidak bisa jajan sembarangan, tidak ada restoran khusus di area taman safari. Seingat saya restoran adanya di luar gerbang, tepat di drop point kami tadi. Yang ada hanya tukang jualan disepanjang lorong menuju Safari Malam. Sempat terbersit di kepala saya untuk melipir dan memberi makan Hasan. Tapi kok suami tampak memburu-buru saya untuk mengejar jadwal safari. Ternyata kami harus berkumpul jam 8:00pm di gerbang masuk sementara sudah pukul 6:30pm. Padahal, masing-masing safari malam berdurasi 30 menit. Belum lagi waktu tunggunya. Akhirnya saya mengurungkan niat, cuma menawarkan Hasan apakah ia mau camilan. Melihat ke arah danau, harusnya ada pertunjukan air mancur. Tapi pertunjukan itu tidak ada, entah karena memang pada saat itu hujan. Ternyata kata seorang teman yang berdomisili di Chiang Mai, beberapa bulan lalu saat mereka berkunjung kesana juga tidak ada pertunjukan air mancur meski hari cerah.
chiang mai night safari

Ada 2 jadwal safari malam, yakni trem yang menggunakan bahasa Thai dan bahasa Inggris. Karena takut tidak terburu mengejar jadwal safari malam, suami memutuskan mengambil trem berbahasa Thai dengan asumsi wisatawan lokal tidak akan ramai mengingat kami berkunjung di hari kerja. Disini perdebatan kami terjadi. Suami kekeuh demi mengejar jadwal, saya kekeuh mengingat ingin mendengar penjelasan pemandu. Akhirnya keputusan jatuh kepada menggunakan trem berbahasa Thai. Ternyata kami blunder, justru jalur tersebut ramai sekali, sayangnya kami ketinggalan dan harus menunggu giliran trem berikutnya. Sementara jalur trem berbahasa Inggris lancar dan kami pasti langsung naik jika memilih trem tersebut. Untung trem batch berikutnya muncul tidak lama-lama amat. Kami langsung naik, meski saya agak manyun karena jadinya harus menikmati sajian makhluk-makhluk predator dengan bahasa yang tidak dimengerti.
chiang mai night safari

Trem memasuki kawasan gelap gulita dengan jalanan mendaki karena memang benar-benar kami berada di kaki gunung. Saat berhenti di titik-titik pemberhentian hewan, trem melambat sembari lampu kanan dan kiri dihidupkan agar pengunjung dapat menyimak hewan  yang ada. Kami dapat melihat hewan-hewan seperti singa, macan tutul, harimau, cheetah, anjing hutan dan sebagainya.  Karena sebagian besar makhluk predator adalah nokturnal, maka mereka tampak aktif ketimbang jika saat siang hari yang hanya tampak malas-malasan. Meskipun ini safari hewan predator, sebelum melihat sajian hewan-hewan tersebut entah kenapa kami juga disuguhkan dengan aneka ragam jenis rusa. Mungkin menyajikan hewan buruannya ya.
chiang mai night safari

Setelah setengah jam menyaksikan hewan-hewan predator, kami berjalan sedikit menuju area Savannah Safari. Belajar dari pengalaman sebelumnya, kami mengambil antrian trem yang berbahasa Inggris. Antrian sudah cukup lumayan dan kami menghabiskan waktu kira-kira 15 menit untuk menunggu trem giliran batch kami datang. Hasan mulai tampak agak mengantuk karena memang sudah mulai memasuki jam tidur, tapi ia tetap melek dan bahagia menyaksikannya. Sama seperti Predator Prowl, sajian hewan pertama kali adalah aneka rusa. Setelah itu kami bisa melihat zebra, jerapah, gajah, dan sebagainya. Pengunjung dipersilahkan untuk memberi makan hewan-hewan tersebut menggunakan wortel yang dijual di pintu masuk trem.
chiang mai night safari

Kami menyelesaikan semuanya pukul 8.00pm. Wah pas sekali dengan jam perjanjian. Kami menemukan sang pemandu berdiri di pinggir pintu keluar. Kemudian ia meminta kami untuk menunggu karena hendak mencari anggota tur yang lainnya. Selain kami, ada 1 keluarga sesama tur yang sudah menyelesaikan kunjungan juga, namun tiba-tiba mereka pergi kearah luar. Tinggallah kami bertiga disana beberapa waktu, sampai akhirnya selular saya berdering dan ternyata itu adalah sang pemandu. Ia menanyakan apakah kami hendak dijemput di bundaran pintu masuk agar kami tidak kehujanan. Akhirnya kami pun dijemput dan ternyata semua anggota tur sudah didalam mobil. Wah artinya kami anggota terakhir dong ya!

Karena kami dijemput paling terakhir, berarti kami juga diantar paling pertama karena tempat tinggal kami paling dekat. Hore! Kami bertiga pun merasa puas begitu sampai di belakang dorm. Semuanya berjalan lancar, sampai terjadi suatu tragedi.

Tragedi Pasca Chiang Mai Night Safari

Saya merogoh tas demi mencari kartu masuk gedung dorm. Ternyata tidak ada! Panik donk ya. Saya berusaha mengingat dimana kira-kira kunci itu terjatuh. Saya berniat menelfon sang pemandu untuk minta tolong dicek apakah ada kunci di jok belakang mobil, tapi sudah terjatuh ketiban tangga, HP saya habis baterai sementara casan ada di kamar. Mencoba berpikir jernih, saya menanyakan apakah rekan suami saya yang sama-sama tinggal di dorm hp-nya iPhone juga. Ternyata tidak.

Kemudian saya pelan-pelan mengingat kemana saja kami pasca keluar dari gedung dorm sore itu. Kami duduk di kursi-kursi batu di taman belakang dorm. Kemudian saya berlari mencoba mencari kunci tersebut di jajaran kursi-kursi terebut dalam kegelapan. Ternyata tidak ada juga. Saya mulai panik kembali. Bagaimana sih, dalam beberapa hari lagi kami balik ke Indonesia masa ada kejadian tidak mengenakkan begini. Urusannya juga pasti repot kalau benar-benar hilang.

Akhirnya suami memiliki ide untuk ke desk manajemen yang berada di gedung berbeda. Disitu suami saya melaporkan kejadian meski agak berbohong. Ya, dia minta tolong dibukain kunci gedung dan kamar dengan alasan kuncinya tertinggal di dalam kamar. Akhirnya bersama satpam kami kembali ke dorm dan dibantu untuk dibukakan kuncinya. Alhamdulillah akhirnya kami masuk kamar. Saya langsung mengecas HP dan mengirim sms ke pemandu perihal kunci hilang. Lega rasanya. Setidaknya perkara kunci ini bisa ditunda sementara sampai besok.

Esoknya, pikiran saya mulai kalut kembali semenjak bangun tidur. Saya baru bisa mencari kunci hanya bisa setelah suami pulang, karena butuh 1 orang yang stand-by di dalam gedung untuk buka-tutup pintu gedung dorm. Kalau pintu kamar gampang, kan bisa tidak dikunci.

HP saya berdering, ternyata itu telepon dari sang pemandu. Ia mengabarkan bahwa supir mobil tersebut tidak menemukan kunci yang dimaksud. Mencelos lah hati saya. Ah kemungkinan keberadaan kunci ini menghilang satu. Tinggal berharap semoga kunci tersebut ada yang menemukan di halaman belakang dorm.

HP berdering kembali, ternyata suami mengirimkan foto kunci kamar dengan bermodalkan memfoto kunci kamar rekannya. Sepulang suami, saya langsung bergegas ke halaman belakang dorm. Celingak-celinguk, wah untung ada pria berpakaian seperti satpam. Sontak saya bertanya kepadanya dengan menggunakan Bahasa Inggris sesederhana mungkin (ya, saya masih skeptis soal kemampuan berbahasa inggris orang sana), tepat dugaan saya, dia terlihat bingung. Kemudian, ia tampak meminta tolong kepada mahasiswa yang lewat untuk membantu komunikasi kami. Si Mahasiswa bertanya menggunakan bahasa Inggris apa yang saya butuhkan. Saya menyampaikan apakah sang satpam mendapat laporan ada kunci hilang di sekitara situ. Si mahasiswa juga tampak bingung. Iya, bahkan level mahasiswa pun kemampuan bahasa Inggris mereka juga tergolong kurang baik 😓. Ia menyampaikan seadanya kepada si satpam. Saya menangkap gelagat si satpam juga bingung. Kemudian saya punya ide, saya tunjukkan gambar kunci kiriman suami. Dia langsung menangkap maksud saya. Sang satpam juga langsung terbirit-birit ke gedung belakang begitu si mahasiswa menunjukkan gambar.

Secercah harapan muncul.

Sang satpam kembali dengan kunci yang dimaksud.

"Khab Khun Krab!", pekik saya kepada sang satpam dan mahasiswa.

ALHAMDULILLAH
ALHAMDULILLAH
ALHAMDULILLAH

Alhamdulillah masalah kali ini berakhir dengan bahagia. Saya langsung terbirit-birit pulang untuk bercerita kepada suami. Ternyata memang dari awal suami mengirim foto itu agar bisa langsung menyampaikan secara isyarat soal kunci itu. Oalah, ternyata saya yang tidak menangkap maksud suami. Mungkin sudah terlalu kalut, hehe.

Hati saya lega. Kami juga jadi bisa fokus menyiapkan barang-barang untuk pulang lusanya.

Terima kasih Chiang Mai atas pengalaman-pengalaman berharganya! 😏
chiang mai night safari

Travelling Sebulan, Kehidupan Baju 7 Hari dan Konmari

4 komentar
Siapa sih jaman sekarang yang tidak mengenal Marie Kondo dengan teknik Konmari-nya?

Marie Kondo terkenal dengan bukunya yang berjudul "The Life Changing Magic of Tidying up". Harga tanah dan properti yang sangat mahal di Jepang, membuat standar luas apartemen dan rumah orang Jepang tidak besar. Keterbatasan ruang ini menyebabkan mereka benar-benar memperhitungkan barang-barang yang ada di rumah mereka. Marie Kondo dikenal sebagai ahli berbenah yang menciptakan metode Konmari, yang mana nama Konmari ini berasal dari namanya, KONdo MArie. Ia mengklaim dengan memiliki jumlah barang yang terbatas dan hanya yang membuat kita senang, artinya kita sudah memutuskan untuk hidup di lingkungan positif. Banyak yang mengklaim kehidupannya mendadak lebih bahagia pasca berbenah. Untuk selanjutnya Marie Kondo dan Konmari dikenal dengan frase:
Does it spark joy?
travelling konmari

Netflix yang jitu pun mengambil peluang dengan cara mengajak Marie Kondo pada sebuah acara televisi bergenre realita yang terdiri dari 8 episode pada season 1. 

Travelling Konmari: Berkemas untuk Kehidupan Sebulan

travelling konmari

Acara realita yang berjudul Tidying Up with Marie Kondo baru dirilis untuk semua episode pada tanggal 1 Januari 2019. Hadirnya acara ini menjadi bahan pembicaraan di pelbagai sosial media, tidak terkecuali di grup-grup WA saya. Pembicaraan-pembicaraan tersebut membuat saya merenung akan perjalanan kami pada sepanjang 2018 yang membuat saya berkemas untuk kehidupan selama sebulan dengan frekuensi 4 kali untuk sekeluarga  dan 3 kali untuk suami saya sendiri.


Pada tahun 2018 kami banyak melakukan perjalanan selama sebulan. Bulan Januari ke Purwokerto, Juni-Juli ke Jombang dan Yogyakarta, Oktober ke Chiang Mai dan Desember ke Pemalang. Semua perjalanan dinas sebulan suami ke luar kota saya dan Hasan ikut, kecuali Banyumas pada bulan Februari, Mei dan November. Saya memutuskan untuk membawa stok baju untuk 7 hari. Lebih jelasnya, mungkin uraiannya seperti ini

Baju Suami

  • 6 Setel baju kerja (kemeja, celana panjang, kaos dalam, kaos kaki)
  • 3 buah sarung
  • 8 kaos
  • 1 pasang setelan renang (kaos dry-fit dan celana pendek)
  • 1 celana kargo kasual
  • Setelan jalan-jalan 2 pasang (jeans dan polo)
  • 9 Celana dalam
  • 2 buah handuk
Perlu diperhatikan, penyusunan baju ini tidak bersifat pakem, artinya semuanya tergantung kepada kebiasaan berpakaian yang bersangkutan, cuaca serta kemungkinan aktifitas apa saja yang dilakukan. Di daerah, suami saya masuk ke Rumah Sakit dari Senin sampai Sabtu. Di beberapa kota malah hari Minggu juga operasi atau sekadar mengunjungi pasien. Uraian di atas adalah contoh kemasan baju saat tugas di Purwokerto. Hitungan setelan baju kerja sehari sekali. Sarung dipakai hanya di rumah (kosan), jadi pemakaiannya dua hari sekali. Kaos rumah juga merangkap kaos keluar rumah  dengan pemakaian sehari sekali dengan 1 kaos sebagai cadangan. Setelan jalan-jalan untuk Sabtu dan Minggu, juga dipakai saat kunjungan ke Rumah Sakit pada hari Minggu. Celana dalam sehari sekali dengan asumsi 2 buah untuk cadangan, misalnya jika basah karena renang. Handuk 2 buah disiapkan apabila satu handuk sedang dicuci. Karena saya kurang begitu suka berkemas heboh, saya memilih 2 handuk yang cenderung tipis akan tidak makan tempat.

Baju Pribadi

  • 7 buah gamis
  • 7 buah jilbab panjang pasangannya
  • 2 buah jilbab pendek
  • 7 buah daster/baju rumah
  • 1 setel pakaian renang
  • 9 buah pakaian dalam atas-bawah
  • 2 buah handuk
Keempat kota yang saya datangi merupakan kota dengan suasana panas dan cuacanya tidak jauh berbeda dengan Jakarta. Saya menyiapkan semua gamis saya dengan bahan yang enak dipakai dan tidak berat. Sebelum kami berangkat, saya selalu memplot kalau di kota tujuan kami akan kemana-mana menggunakan transportasi umum. Jelas kan kenapa baju yang nyaman dan ringan dibutuhkan. Meski pada kenyataanya saat di Purwokerto 3 minggu terakhir kami mendapat pinjaman mobil untuk mobilisasi, di Jombang sesekali bisa menggunakan mobil penghuni rumah, di Yogyakarta 2 hari di hari kerja mobil bisa saya bawa berkelana karena saya memilih  mengantar suami ke Klaten, dan 6 hari di Pemalang saya memiliki akses penuh membawa mobil.

Saya membawa gamis 7 buah dengan asumsi saya tiap hari keluar rumah. Saya dan Hasan keluar rumah berdua pada saat siang hari bisa 2 sampai 4 di hari kerja. Sisanya kalau suami mengajak makan di luar pada malam hari. Kalau akhir pekan sudah pasti keluar rumah. Diluar itu, tiap Maghrib saya mengajak Hasan untuk shalat Maghrib di mesjid dekat kos. Dan pastinya tiap hari juga saya keluar kamar kos untuk masak atau kadang-kadang membeli makanan. Itu lah makanya saya membawa 2 jilbab pendek untuk keluar kasual.

Baju Hasan

  • 6 buah celana panjang
  • 5 buah celana pendek
  • 8 buah kaos pendek
  • 2 buah kaos panjang
  • 2 buah polo
  • 2 buah kemeja
  • 4 setel baju tidur
  • 9 celana dalam
  • 1 setel pakaian renang
  • 2 buah handuk
Celana panjang dan pendek yang dibawa ada yang bahan ada juga yang jeans. Sebenarnya bawa baju Hasan cederung acak pilihannya. Kira-kira pilih  yang warnanya beda dan kalau bisa satu warna tidak sampai 2 buah. Celana panjang bahan kaus atau kargo biasanya dipakai sore hari. Kalau tidak jorok biasanya dipakai 2 sore. Baju tidur terkadang dipakai satu setel untuk dua malam kalau cuma sebentar dan tidak jorok.

Cukupkah?

Cukup tidak pakaian dengan jumlah segitu untuk kehidupan sebulan? Cukup banget! Kami mengalami dari yang pakaian cepat dicuci kering-nya sampai yang seret sekali selesai dicuci. Misalnya selama di Purwokerto, di kosan ada fasilitas bebas dicuciin. Kalau hari cerah dan baju kotor diambil pagi hari, bisa-bisa sewaktu sore baju kotor tersebut sudah berubah menjadi baju bersih dan wangi. Kosan di Jogja juga ada fasilitas mesin cuci dan dek jemuran sehingga saya bebas mencuci dan menjemur setiap hari. Di dua kota tersebut karena baju kotor hampir tiap hari langsung kering dan bisa disetrika, stok baju yang kami bawa menjadi kebanyakan.

Selama di Chiang Mai, kami mencuci menggunakan mesin cuci koin 2 hari sekali. Sekali mencuci menghabiskan 25 sampai 30 baht (12 ribu sampai 15 ribu). Jemurannya di balkon terbuka, cuma tidak ada gantungan yang pantas, cuma memakai tahanan kompresor AC dengan menggunakan hanger. Baju pun tidak selalu kering tiap sore. Saat di Pemalang kami juga menggunakan jasa laundry 2 kali sehari. Dengan frekuensi cuci-kering seperti itu, kami memiliki suplai baju bersih yang cukup dengan beberapa buah baju cadangan.

Keadaan paling sulit saat berada di Jombang. Sebenarnya kami tinggal di rumah dokter yang menampung suami saya beserta anggota dokter lain dan keluarganya. Penghuni yang banyak dan ketiadaan mesin cuci (katanya sih si mbok cuci tangan semuanya) membuat suplai baju bersih baru ada 3-4 hari sekali! Suplai baju bersih terakhir cukup sih, tetapi benar-benar pas-pasan. Dengan catatan beberapa hari sekali baju dalam saya harus dicuci sendiri dan dijemur di kamar mandi yang.. lembab. Iya, tidak ada akses jemur keluar karena aksesnya harus melalui ruang pembantu dan harus naik tangga tinggi.

Travelling Konmari: Koper dan Bagasi

Saya memiliki kebiasaan tidak ingin ada baju mubazir alias tidak terpakai saat berpergian ke luar kota. Untuk berpergian jangka pendek saja saya hanya menyiapkan baju cadangan 1 setel. Hal ini juga terbawa saat berpergian jangka panjang. 4 kali berkemas untuk berpergian jangka panjang membuat saya lumayan berpengalaman dalam menentukan kapan mulai waktu berkemas, baju yang seperti apa yang dibawa hingga berapa banyak baju yang harus dibawa. Sebagai contoh, karena merasa kebanyakan bawa baju saat pergi ke Purwokerto, untuk berpergian sebulan berikutnya saya mengurangi jumlah baju. Pengurangan jumlah baju dan keefisienan berkemas sebagai akibat dari terbatasnya jumlah koper yang bisa dibawa untuk sekali pergi.

Baca juga: Drama keberangkatan ke Chiang Mai

Kami biasa pergi menggunakan 1 koper hardcase ukuran sedang, 1 koper hardcase resleting (bisa diperbesar) ukuran sedang, 1 koper kecil ukuran cabin, 1 tas koper lipat untuk jaga-jaga, 1 stroller ringan dan 1 kontainer kecil-menengah untuk membawa peralatan masak.

Saat ke Purwokerto, orang tua saya mendahului kami dengan mengendarai mobil pribadi sehingga barang-barang kami termasuk kontainer bisa dititipkan ke mobil. Saya, suami dan Hasan hanya tinggal membawa 1 koper ukuran cabin saat naik kereta api.

travelling konmari
Harus menenteng semua ini ke kereta api?!

Saat ke Surabaya-Jombang kami membawa ketiga koper beserta stroller saja karena disana kami menumpang rumah, jadi praktis tidak butuh membawa peralatan masak. Ketika pindah ke Yogyakarta, kami sedikit repot karena membawa ketiga koper beserta stroller menggunakan moda kereta api. Suami jadi bolak balik mengangkut koper ke kereta api. Saat turun di Stasiun Tugu Yogyakarta kami juga menggunakan jasa porter untuk membantu. Karena kami butuh memasak saat di Yogyakarta, jadi kami butuh kontainer yang berisi alat masak. Tepat sekali saat itu supir mertua ditugaskan mengantar mobil agar kami bisa mobilisasi selama di Yogyakarta, kontainer pun bisa dititipkan.

travelling konmari
Koper ke Chiang Mai

Keberangkatan kami ke Chiang Mai adalah pengalaman yang menantang dan tidak terlupakan. Berawal dari drama keberangkatan hingga strategi koper. Kenapa menantang? Karena kami harus pergi bertiga menggunakan pesawat ekonomi Thai Lion dan Air Asia dengan total bagasi hanya 60kg! Yang pergi sebelumnya bisa bebas beban alat masak karena ada yang membawakan kontainer menjadi semua-semuanya harus termasuk dalam 60kg. Beruntung teman-teman suami saya ada yang meninggalkan kompor kecil yang bisa untuk menanak nasi serta setrika sehingga kami bisa mencoret kedua barang itu dari daftar bawaan. Barang dapur yang kami bawa meliputi kompor listrik Maspion, Happy Call, 1 panci kecil-menengah beserta tutupnya, 3 piring melamin, 3 sendok-garpu, gelas plastik, handblender, tatakan, pisau santoku, pisau kupas, dan segala bumbu basah dan bumbu kering. Oh ya, tidak lupa starter pack food seperti Mac n Cheese kemasan buat sarapan. Beras, garam, gula, bawang putih bubuk, kecap, chicken wing, dan sayuran beku. Barang bawaan non baju lainnya juga termasuk buku bacaan dan mainan Hasan. Wuih! Jadinya kami sedikit mengganti strategi koper. Kami membawa 1 koper hardcase ukuran besar pinjaman dari mertua, 1 koper hardcase resleting, 1 koper ukuran kabin, 1 tas koper lipat cadangan dan 1 stroller. Semua baju kami bertiga bisa muat ke koper besar itu loh! Koper hardcase resleting ukuran besar isinya peralatan mandi, barang dapur, mainan dan buku Hasan. Koper ukuran kabin isinya barang-barang yang tidak muat di kedua koper seperti sepatu dan sandal tambahan kami bertiga.

Keberangkatan terakhir adalah ke Pemalang selama seminggu dengan didahului Semarang selama 4 hari. Suami sudah berangkat duluan dengan menggunakan koper ukuran kabin. Saya dan Hasan berangkat menggunakan pesawat membawa stroller, 1 koper hardcase ukuran sedang serta tas kain untuk dibawa ke kabin. Saya mengatur hanya membawa baju untuk 6 hari karena di hotel Semarang ada laundry dan dryer mandiri. Kontainer alat masak kami juga tidak butuh karena kami tidak masak di Pemalang.

Travelling Konmari: Efek Memiliki Baju Sesuai Kebutuhan

Berbeda dengan sewaktu di rumah, saat kami berpelesir sebulan ini rasanya pikiran dan perasaan saya plong. Kamar bersih. Isi lemari simpel dan tidak berdesak-desakan. Mau bersihin lemari juga hampir tidak dilakukan karena hampir selalu rapi. Hal menyenangkan berikutnya adalah tidak adanya kegalauan saat memilih baju untuk dipakai. Memilih baju suami tinggal ambil sesuai stok yang ada untuk mingguan, memilih baju saya dan Hasan juga sama, ambil yang gampang dilihat dan cocok atas-bawah. Benar-benar mengurangi konsumsi waktu untuk hal remeh-temeh kegalauan pilihan baju yang tidak penting.

Disini saya juga tidak merasa mubazir sekali. Seolah-olah kami memiliki pakaian dan kesemuanya kondisi bagus layak pakai serta memiliki jaminan dipakai terus. Berbeda dengan saat dirumah dimana baju-baju banyak memiliki frekuensi yang rendah untuk dipakai. Bahkan banyak baju yang lupa terpakai atau sengaja tidak dipakai dengan alasan tidak nyaman dan lain-lain. Disini kita diajarkan untuk memilih apa yang terbaik dan apa yang dibutuhkan untuk kita. Bukan nafsu untuk memiliki.

Panduan Menggunakan Transportasi Umum di Chiang Mai

Tidak ada komentar
Meskipun saya tinggal selama sebulan di Chiang Mai, saya tetap memandang kami sekeluarga adalah turis di kota itu. Sebagai turis, mencari tahu sarana transportasi umum apa saja untuk kepentingan memudahkan mobilisasi menjadi sangat krusial. Saya sudah mulai riset internet sejak hampir sebulan sebelum keberangkatan.
"Salah satu kelemahan Chiang Mai adalah transportasi publiknya buruk", ujar seorang teman saya yang sudah lama tinggal disana.
transportasi umum Chiang Mai

Lantas saya menjadi bimbang untuk ikut serta kesana? Tidak! Saya malah semakin tertantang untuk mencari tahu. Bagi yang ingin mengunjungi Chiang Mai, semoga informasi ini bisa bermanfaat ya!

Transportasi Umum Chiang Mai Massal

1. Songthaew (Red Car)

transportasi umum Chiang Mai

Menggunakan transportasi umum di Chiang Mai sejatinya mahal, apalagi kalau ingin dibandingkan langsung dengan biaya transportasi umum di Indonesia. Songthaew, dikenal dengan Rod Daeng/Red Car, atau kita kenal dengan angkot versi Thailand. Merupakan sarana transportasi umum paling populer di Chiang Mai. Mobil berwarna merah adalah songthaew yang memfasilitasi perjalanan di dalam kota. Warna selain merah untuk tujuan luar kota.

Untuk biaya sekali perjalanan adalah 30 baht per-orang atau setara 15 ribu rupiah, tertulis di atas jendela songthaew dan mudah dibaca. Tapi, kalau jaraknya dekat atau kurang dari 2,5 km, supir masih menerima jika kita hanya membayar 20 baht. Jika jaraknya relatif jauh maka kadang-kadang supir menetapkan harga 40 baht. Tips soal biaya ini, tidak usah bertanya berapa tarifnya. Kalau merasa perjalanan singkat langsung kasih 20 baht. Mungkin si supir juga merasa kita orang lokal yang sudah tahu dan biasa naik songthaew. Mayoritas warga asli Thailand di Chiang Mai tidak bisa berbahasa Inggris, apalagi supir songthaew, jadi hapalkan baik-baik ini:

20 -- yissip
30 -- samsip
40 -- sisip

Jika kita memberhentikan songthaew kosong, biasanya mereka akan seenaknya menetapkan harga. Dengan menyebutkan tarif standar menggunakan bahasa Thai, seringnya mereka akan langsung merespon setuju. Ada baiknya kita menghafal bilangan dalam bahasa Thai karena kemampuan ini bisa kita gunakan untuk menawar terutama di pasar tradisional. Cukup gampang kok, hanya perlu menghapalkan 17 kata. Panduan lengkapnya bisa dibaca disini. Jadi, misalkan kita harus menawar tarif songthaew untuk dua orang, bisa langsung katakan ini: song, hok sip baht (dua, enam puluh baht). Lebih afdol lagi kalau bicaranya pakai logat Thai hehe.

Kesulitan berikutnya perihal songthaew adalah kebanyakan dari mereka tidak memiliki rute tetap. Kalau kosong dan lagi mood, mereka bisa angkut kita ke tujuan. Kalau kebetulan tujuan kita searah sama penumpang lain, mereka mau angkut kita. Jadi, setiap kita memberhentikan songthaew, pastikan kita tanya apakah mereka mau menuju ke arah tujuan kita. Cukup katakan nama tempatnya. Iya dan tidak bisa ditebak cukup dari anggukan mereka. Karena mereka tidak punya rute tetap meskipun ada beberapa yang punya (tapi sampai saya pulang pun tidak tahu pasti mana songthaew yang memiliki rute tetap), maka bersabar dan berlapang dada lah karena kita akan banyak menghadapi penolakan 😝.

Trik memperkecil penolakan dari abang songthaew adalah jeli menentukan tempat dalam memberhentikan songthaew. Sebagai contoh, kami tinggal di dorm yang di belakangnya bukan jalan utama. Jika memberhentikan songthaew ke arah kota tua tepat di belakang dorm kami, kemungkinan ditolaknya tinggi karena bisa saja songthaew yang mengarah ke selatan menuju arah Suthep,  Kota tua atau bandara. Karena itu jika ingin ke kota tua, berjalanlah ke selatan sampai bertemu jalan utama. Pilihlah songthaew yang mengarah ke timur. Dengan itu maka probabilitas penolakan oleh abang songthaew berkurang karena pilihan arah songthaew yang ada ke arah kota tua atau bandara. Maka dari itu, dibutuhkan paham mengenai orientasi daerah yang kita tuju. Caranya ya rajin-rajin saja buka Google Map hehe.

Kerumitan usai? Belum! Kesulitan berikutnya adalah Bahasa. Selain memang kemampuan berbahasa Inggris warga Thailand masih rendah, induk bahasa dari Bahasa Thailand bukanlah Inggris dan Eropa seperti Bahasa Indonesia. Misalnya, jika ada turis asing ingin ke museum dan menyebutkan "museum" ke mamang angkot Indonesia, mereka pasti mengerti karena museum fonetiknya mirip dengan museum bahasa kita. Kalau ke abang Songthaew? Jangan harap! Maka dari itu, jadikan Google Translate sebagai temanmu. Persoalan beres? belum tentu! Terkadang jika kita mengucapkannya tidak dengan ucapan (bahkan logat) yang benar, si abang songthaew tak urung mengerti juga. Bahasa Thailand dari museum adalah phiphithphanth. Saya ucapkan sambil asal baca, si abang tidak mengerti. Ternyata cara pengucapannya agak beda dari yang saya baca langsung haha. Jadi, pastikan selain mengecek translasinya kita juga mengecek pelafalannya.

Alternatif cara lainnya dalam berkomunikasi adalah menunjukkan gambar tujuan kita. Sebagai contoh, museum yang hendak saya kunjungi adalah Chiang Mai Historical Center. Tepat di depan museum tersebut terdapat patung 3 raja. Nah bisa langsung Google Images gambar 3 raja itu dan ditunjukkan ke si abang songthaew.

Baca juga: Kafe di Chiang Mai

Bagaimana kalau tempat yang kita tuju tidak memiliki gambar karakteristik khas? Kita bisa menyebutkan nama jalan dimana lokasi yang kita tuju itu. Sebagai contoh, Chiang Mai Historical Center terletak di jalan Inthawarorot. Tapi jangan terlalu percaya diri, meski menyandang status supir songthaew, si abang belum tentu hapal nama jalan 😂. Jadi cadangkan nama lokasi terkenal atau jalan terkenal lainnya yang searah dengan tujuan kita. Dengan berbekal Google Map, lihat posisi kita saat songthaew berjalan dan turun di lokasi dimana dekat dan bisa berjalan menuju tujuan asli kita. Saat saya menyebutkan Inthawarorot, entah kenapa menurut dia adalah (pasar) Warorot. Karena saya lelah dengan penolakan akhirnya saya iyakan saja. Saya tahu, jalan menuju Warorot hampir pasti melewati sekitaran museum yang saya tuju. Saya pantau terus gerakan songthaew di Google Map. Alhamdulillah tepat dugaan saya, songthaew yang saya naiki melewati jalan yang hanya dibutuhkan berjalan 100 meter untuk menuju museum. Saya pun berhenti disitu.

Baca juga: Chiang Mai Night Safari

Butuh waktu 1 minggu lebih sampai saya menemukan cara terbaik menaiki songthaew. Meskipun dengan segala problematikanya, perlu saya akui songthaew adalah angkutan umum terbaik dan paling taktis untuk dinaiki di Chiang Mai. Hubungan saya dengan songthaew bagaikan "love-hate relationship".

2. Tuk Tuk

transportasi umum Chiang Mai

Sejatinya, Tuk Tuk adalah Bajaj versi Thailand. Secara keseluruhan bentuknya mirip sekali dengan bajaj di Indonesia, hanya sedikit lebih besar dengan kursi penumpang yang lebih lebar. Bisa duduk 3 orang. Sama seperti di Indonesia, harga Tuk Tuk bisa jauh lebih mahal dibanding angkutan umum lainnya. Mereka akan memberikan harga awal yang sangat-sangat mahal. Berlagak tidak butuh saja, nanti mereka akan menurunkan harga. Tahap berikutnya adalah menawar. Lagi-lagi bisa mengucapkan bilangan dengan Bahasa Thailand adalah kemampuan yang penting untuk mendapatkan harga lebih murah. Memang pada akhirnya harga akhir akan lebih mahal dari ongkos songthaew, tetapi akan terasa sangat murah dari harga awal yang ditawarkan. Toh, para supir Tuk Tuk dan kita juga tahu, Tuk Tuk dikategorikan sebagai angkutan rekreasional yang mengundang orang untuk ber-swafoto karena merupakan angkutan umum yang khas.

Sampai kami meninggalkan Chiang Mai, pada akhirnya kami belum merasakan naik Tuk Tuk. Mahal, itu yang menjadikan alasan kami. Sempat sih kami meniatkan naik sekali saja untuk sekedar merasakan, tapi beribu sayang, saat itu kami tidak cukup banyak bawa uang baht haha. Jadi pulang dari Pasar Minggu (pasar malam kaget yang cuma ada di Minggu malam), kami berniat pulang ke Suandok menggunakan Tuk Tuk. Harga awal yang mereka tawarkan adalah 200 baht! Kemudian kami berlagak tidak butuh, sang supir dengan mawas diri menawarkan harga 150 baht. Karena memang uang yang kami bawa tidak cukup, kami pun berakhir dengan tidak menawar lagi. Padahal saya yakin, jika saya menawar dengan menggunakan Bahasa Thai, kami bisa dapatkan harga 120 baht atau 100 baht saja. Harga kami bertiga (anak kecil tidak dihitung) naik songthaew adalah 60 baht. Lumayan kan ya cuma bayar tuk tuk hampir dua kali lipat.

3. Bus Umum

transportasi umum Chiang Mai

Penguasaan preman terhadap sektor transportasi publik di Kota Chiang Mai membuat kehadiran Bus umum tergolong baru. Bus ini dinamakan RTC Chiang Mai. Baru dirilis pada pertengahan tahun 2018 dan sampai Oktober 2018 baru ada 3 jalur. Tarif yang dikenakan adalah 20 baht sekali naik, membuat bus umum menjadi sarana transportasi termurah di Chiang Mai, apalagi kalau naik dan turun dari ujung rute.

Bus baru yang sangat nyaman, tersedia beberapa tempat duduk dan tempat duduk prioritas untuk orang lanjut usia, wanita hamil dan orang berkebutuhan khusus. Ada juga 1 tempat khusus yang disediakan dengan biksu sebagai prioritas.

transportasi umum Chiang Mai

Saat saya memutuskan untuk mencoba bus, saya akui cukup sulit untuk mencari tahu jadwal dan rute bus. Informasi  yang ada benar-benar berserakan di jagat maya. Beberapa mengatakan sudah ada aplikasi, yaitu CM TRANSIT yang bisa diunduh melalui Play Store dan App Store. Aplikasi ini menyatakan bisa mendeteksi posisi bus secara tepat waktu. Tapi sepertinya aplikasinya belum berfungsi dengan baik, terbukti saat saya mengunduh di iPhone, saya tidak mendapatkan informasi apapun, termasuk deteksi posisi bus.

Saya memutuskan menggunakan bus dari depan Chiang Mai University sampai ke Central Festival. Ternyata posisi-posisi tersebut berada di ujung rute. Saya mencari tempat pemberhentian bus di dekat universitas. Tempat pemberhentiannya sendiri bisa berupa halte dengan beberapa tempat duduk ataupun hanya palang penunjuk saja. Nanti begitu ada bus mau lewat kita tinggal mengibaskan tangan. Sayang sekali, jumlah armada bus belum begitu banyak, saya membutuhkan waktu sekitar 20 menit menunggu sampai bertemu bus pertama.

transportasi umum Chiang Mai

Ada 3 alternatif pembayaran bus. Pertama dengan cara tunai, yaitu memasukkan 2 koin 10 baht ke dalam mesin. Kedua dengan cara mengetuk Rabbit Card (kerjasama dengan LINE) dan Tourist Card di mesin sebelahnya. Ketiga, bisa dengan langsung memberikan sehelai uang kertas 20 baht kepada supir. Tampaknya, adanya alternatif ketiga itu untuk menghindari lamanya antrian memasuki bus dan alternatif jika penumpang tidak memiliki uang koin.

transportasi umum Chiang Mai

Berhubung Chiang Mai University dan Central Festival berada di ujung rute, total perjalanan menghabiskan waktu 1.5 jam. Rute bus melewati tengah kota bahkan terminal bus, menyebabkan bus melewati beberapa titik kemacetan. Jika anda hendak buru-buru dan tidak memiliki waktu lowong, menggunakan bus ini tidak dianjurkan. Tetapi kalau ingin menghemat pengeluaran, tentu menggunakan bus sangat menguntungkan.

Ternyata sekarang sudah ada situs yang menulis panduan  menaiki bus umum di Chiang Mai. Mulai dari harga sampai rute. Bisa langsung coba kesini.

4. Free Shuttle Van

transportasi umum Chiang Mai

Chiang Mai memiliki 3 mal besar, yaitu Central Festival sebagai yang terbesar, Central Plaza dan Maya Mall. Pusat perbelanjaan yang berafiliasi dengan Central memiliki jadwal dan armada shuttle bus sendiri. Shuttle tersebut berhenti di berbagai lokasi, biasanya berhenti di beberapa hotel. Jadwal lengkap shuttle tersebut bisa didapatkan langsung di mal Central atau di hotel yang disinggahi oleh shuttle. Biayanya gratis, tetapi karena berhenti di beberapa hotel dulu baru lanjut ke mal Central, waktu yang dibutuhkan bisa 1 jam. Jadi kalau terburu-buru oleh waktu tidak disarankan untuk menggunakan moda transportasi ini.

transportasi umum Chiang Mai

Transportasi Umum Chiang Mai Non-Massal

1. Grab/Taxi

Penggunaan Grab adalah alternatif terakhir jika bingung memilih moda transportasi yang mana. Pasalnya, kita tinggal menentukan tujuan mana saja tanpa bersusah payah mencari. Namun, tarif Grab di Chiang Mai tidak murah-murah amat. Jika kita berjumlah 3 orang, menggunakan Grab akan sangat menguntungkan karena menggunakan songthaew 3 orang bisa menghabiskan 30 baht, itu pun harus menunggu dan kemungkinan mengalami penolakan. Sementara dengan menggunakan Grab Car untuk jarak menengah hanya sekitar 80 baht.

Fitur Grab yang tersedia di Chiang Mai hanya Grab Car dan Delivery, berbeda dengan di Indonesia yang beraneka ragam seperti Grab Bike dan Grab Food. Jasa pengantaran makanan tidak ada mungkin karena kehadiran Food Panda terlebih dahulu. Nah yang menarik, pada Grab Car tersedia layanan Grab Roddaeng, atau Grab yang memakai songthaew. Tampaknya ini adalah salah satu jalan tengah yang diambil oleh pihak Grab untuk "merangkul" preman songthaew. Harganya sedikit lebih mahal dari Grabcar biasa, tetapi apabila rombongan kita terdiri lebih dari 4 orang, penggunaan Grab Roddaeng sangat efisien karena bisa mengangkut sampai 10 orang dalam sekali pengangkutan. Otomatis harganya akan lebih murah dibandingkan menggunakan 2 atau 3 Grabcar.

Sementara untuk Taxi hanya ada di bandara. Menggunakan Taxi keluar dari bandara adalah alternatif terbaik karena jika menggunakan Grab tarifnya akan membengkak. Kok bisa? silahkan baca sampai selesai hehe.

2. Mo-bike

Jika anda hendak berjalan-jalan santai sendiri atau setidaknya tidak bawa anak, Mo-bike ini benar-benar efisien. Kita bisa mengunduh aplikasinya di gawai masing-masing. Ada pilihan rental 3 bulan dengan hanya membayar sekitar 250 baht (saya lupa tepatnya) dan rental per-15 menit, tetapi jatuhnya jadi lebih mahal. Penggunaannya juga sederhana, nanti di aplikasi ada lokasi halte mobike dan kita tingga pindai barcode yang ada di sepeda menggunakan gawai kita. Nanti sepeda akan terbuka kunciannya dan kita bisa bebas menggunakannya. Saat sudah beres menggunakan tinggal diparkirkan (dianjurkan di halte yang tersedia) kemudian tinggal dipindai ulang barcode sepeda tersebut. Selesai. Kita bisa meninggalkan sepeda tanpa harus terbebani rasa bertanggung jawab dan ketakutan akan dicuri.

Sepeda mobike terdiri dari keranjang di depannya, jadi bisa menjadi tempat untuk meletakkan tas atau belanjaan. 

3. Sewa Motor atau Mobil

Ini adalah alternatif terakhir. Sangat berguna apabila kita hendak berpergian ke tempat yang jauh dari kota secara bebas. Apalagi Chiang Mai banyak lokasi wisata alamnya yang berjarak 1 jam atau lebih dari pusat kota, membuat alternatif menggunakan Grab menjadi nihil. Kami pribadi belum pernah menggunakannya. Berdasarkan testimoni beberapa teman, untuk menyewa mobil dibutuhkan SIM Internasional jika tanpa supir. Kalau sewa motor saya kurang tahu. Tempat penyewaan bisa ditemukan di berbagai area turis seperti di wilayah Nimmanheiman di Kota Tua. Untuk tarif sendiri bervariasi, tergantung juga dari kemampuan kita untuk menawar. Bahkan ada yang bisa menyewakan langsung 3 bulan dengan harga lebih murah dari sewa bulanan.

Pengaruh Premanisme terhadap Transportasi Umum Chiang Mai

Layaknya seperti yang dapat kita temui di kota-kota besar selain Jakarta, premanisme yang dilakukan oleh sebagian oknum cukup untuk "membungkam" perkembangan transportasi umum milik pemerintah. Mari ambil Kota Bandung sebagai contoh. Pihak Dinas Perhubungan Kota Bandung tidak banyak bisa bergerak atas keputusan Koperasi Wahana Kalpika. Untuk kasus Chiang Mai, pengemudi Songthaew dan Tuk tuk lah "preman tersebut". Oleh karena itu, logis rasanya jika Grab "merangkul" songthaew untuk "berbagi rezeki". Salah satu kerjasamanya adalah menghadirkan songthaew di aplikasi Grab. Songthaew ini juga sedikit sulit untuk dicampuri pemerintah, sama seperti Koperasi Wahana Kalpika. Buktinya mereka tidak ada rute khusus, meski ada beberapa yang terkesan "dibayar" noleh beberapa pihak lain seperti Central.

Kehadiran Grab ini juga mengancam Tuk Tuk, kerap kali ditemukan di beberapa tempat Tuk Tuk berkumpul dan menaruh plang bahwa Grab dilarang ambil penumpang. Contohnya di seberang Pasar Malam Sabtu. Pelanggan yang ingin memesan Grab harus jalan terlebih dahulu menjauh dari plang tersebut. 

Tidak hanya itu, beberapa tempat wisata dan bandara juga ada premannya! Sebagai contoh saat saya hendak pergi ke Chiang Mai University (CMU). Untuk mengantisipasi supir songthaew yang tidak mengerti kata "university", saya menyebutkan zoo sebagai tujuan karena posisi CMU hanya 400 meter dari kebun binatang. Namun sang supir mengisyaratkan kalau tarifnya 80 baht! Padahal lokasinya tidak jauh dari dorm kami. Saya pun terkaget-kaget. Dengan cepat saya merevisi CMU sebagai tujuan saya, harganya pun berubah menjadi normal 30 baht. Apa yang terjadi?

Tampaknya pihak kebun binatang (atau preman yang bercokol di kebun binatang) menarik tarif tambahan dari para supir songthaew. 80 baht adalah harga tarif untuk Grab juga. Mungkin pengelola kebun binatang lebih bersahabat dengan supir Grab ketimbang songthaew. 

Pernah juga saya iseng mencari tahu tarif Grab dari dorm menuju bandara menjelang kepulangan kami ke Jakarta. Saya kaget karena harga yang muncul adalah 180 baht! Apa-apaan itu. Soalnya seingat saya, terakhir saya memakai Grab dari Central Plaza yang jaraknya kurang dari 1 km dari bandara, harganya hanya 90 baht kurang. Kemudian saya pun iseng menggeser titik pengantaran sedikit keluar dari gerbang bandara. Ternyata harganya kembali 80-an baht. Hebat sekali palakan preman bandara ya, bisa 80 baht sendiri. Jika menggunakan songthaew kalau tidak salah tidak ada perubahan tarif. Mungkin ini sebabnya saat saya naik bus umum, saya menemukan banyak turis membawa koper yang hendak menuju bandara. Rupa-rupanya mereka juga menghindari tarif Grab yang super mahal itu.

Traveliving 2018

6 komentar
Terhitung semenjak lahir, sudah banyak kota yang saya diami. Saya lahir di Medan, kemudian tumbuh dan berkembang di Lhokseumawe, Aceh sampai usia 8 tahun. Mampir sebentar selama 1,5 tahun di Medan, pindah ke Jakarta dari SD kelas 6 sampai tamat SMA, kuliah di Bandung selama 6 tahun hingga sampai sekarang, 2018 saya bekerja, menikah dan memiliki anak di Jakarta. Dari keempat kota tersebut, domisili tercepat saya adalah 1,5 tahun. Bersekolah dan menjalani hidup. Namun bagaimana dengan tinggal di sebuah kota hanya dalam tempo 1 bulan saja?


Saya menyebutnya Traveliving. Travelling + Living. Saya puas jalan-jalan santai mengeksplorasi kota selama sebulan, tetapi saya juga melakukan kegiatan hidup seperti belanja, bayar tempat tinggal bulanan, mencuci-menyetrika dan memasak. Minusnya hanya saya tidak berkegiatan seperti berkomunitas karena hanya menetap sebentar. Problematika terbesar melakukan traveliving adalah disaat kita sudah nyaman, kita terpaksa harus meninggalkan kota tersebut. Bagaikan sedang sayang-sayangnya eh diputusin. Maka terjadilah momen yang terkenal dengan sebutan "susah move on".

Tahun 2018 adalah tahun dimana suami saya ditempatkan dalam jangka waktu sebulan di berbagai Rumah Sakit di tiap kota diluar Jakarta sebagai bagian dari program pendidikan spesialis. Suami mengajak saya dan Hasan ikut serta di semua kota, kecuali Banyumas karena terkait lokasi dan tempo kerja. Dalam jangka 1 tahun, praktis kami sudah berpindah tempat dari Purwokerto, Jombang, Yogyakarta, dan Chiang Mai pada bulan Januari, Juni, Juli dan Oktober. Terakhir Desember ini saya dan Hasan hampir ikut ke Pemalang selama sebulan. Namun setelah mempertimbangkan banyak hal, mungkin kami akan menyusul di minggu terakhir di bulan Desember. Semua kota yang kami tempati memiliki plus minus, daya tarik dan cerita sendiri.

Purwokerto


Kami memulai awal tahun 2018 di kota ini. Karena mengetahuinya amat sangat mendadak, alhasil kami membeli tiket kereta dengan harga liburan akhir tahun. Mahal. Kami berangkat pada tanggal 30 Desember 2017 menggunakan kereta api dengan durasi 5 jam yang sekaligus merupakan perjalanan kereta api pertama Hasan. Melalui jalan darat, orang tua saya sudah terlebih dahulu sampai di Purwokerto sehingga esok paginya sementara suami bertugas di rumah sakit, kami mencari tempat kos-kosan untuk sebulan. Alhamdulillah ketemu yang bagus dengan harga yang cukup masuk akal.

Saya sempat menulis banyak postingan tentang Purwokerto. Mengenai pengalaman kami disana, atraksi kotainformasi pusat perbelanjaanwisata alamWisata kuliner tradisional, hingga kuliner modern dan kafe. Sebagai salah satu kota mahasiswa karena disana terdapat universitas besar, yakni Universitas Soedirman, Purwokerto jauh melebihi dari ekspektasi kami soal wisata, kuliner dan kenyamanannya. 

Jombang


Jombang berlokasi di Jawa Timur, sekitar 80 km dari dari ibu kota provisi Jawa Timur. Kami melakukan perjalanan melalui Surabaya dahulu menggunakan pesawat terbang. Perjalanan kami bertepatan dengan tanggal orang-orang bersiap untuk mudik, jadi sekali lagi, kami membeli tiket yang agak lebih mahal dari harga biasa. Beruntung kami datang saat ruas tol Surabaya - Mojokerto (Sumo) sudah diresmikan. Perjalanan Surabaya-Jombang yang sebelumnya bisa memakan waktu hampir 3 jam kini bisa ditempuh melalui tol dengan hanya 1 jam lebih saja. Kami dijemput oleh supir untuk kemudian melakukan perjalanan darat dari Surabaya ke Jombang.

Jombang terkenal dengan kota santri. Sebuah kota kecil yang jauh dari hiruk pikuk apalagi kemacetan. Disana kami tinggal di rumah seorang dokter yang menjadi Supervisor suami saya selama disana. Alhamdulillah rejeki karena kami tidak membayar sepeser pun untuk tinggal dan makan disana. Berhubung kota kecil, tak banyak yang saya eksplor disana. Saya menemukan 2 buah taman yang indah, yakni Kebon Ratu yang letaknya agak diluar kota dan Kebon Rojo yang terletak di jantung kota Jombang. Alun-alun Kota Jombang tiap malamnya sangat ramai, apalagi saat akhir pekan. Hasan sangat bahagia dan menjadi pelanggan tetap alun-alun. Bayangkan, cuma bayar lima ribu untuk main sepuasnya di satu wahana! Ada Superindo yang merupakan tempat belanja rutin mingguan saya. Satu-satunya restoran cepat saji yang terkenal yang ada disana hanya ada KFC. Dibalik kesahajaannya, Jombang ternyata banyak memiliki kafe-kafe yang memiliki estetika modern layaknya di kota-kota besar. Bahkan, tak jarang mereka lebih serius dalam menyajikan bijih kopi-nya. 

Setengah bulan kami berpuasa di Jombang dan pertama kalinya kami merayakan Ramadhan di luar Jakarta. Sungguh pengalaman yang menarik. Selain itu, setengah pertandingan Piala Dunia 2018 juga kami tonton disana 😄.

Yogyakarta


Kami meninggalkan Jombang menuju Yogjakarta pada tanggal 30 Juni menggunakan kereta api yang ditempuh dalam waktu 4 jam. Sebenarnya suami bertugas di RSUD Klaten, namun dengan alasan agar kami tidak kebosanan, kami memutuskan untuk tinggal di Yogyakarta. Saya mencari kos-kosan menggunakan aplikasi Mamikos sudah semenjak berada di Jombang. Berhubung Yogyakarta adalah kota pelajar, tentu tidak susah mencarinya. Yang susah adalah mencari mana yang pada akhirnya kami ambil. Kosan yang saya pilih dekat dengan bandara dan tidak jauh dari jalan raya utama menuju Klaten. Menurut saya itu adalah pilihan terbaik karena suasananya enak rumahan, secara berkala ada yang memberihkan, lengkap dapur dan mesin cuci serta ke RSUD Klaten hanya ditempuh kurang dari setengah jam. Selain itu, saya juga bisa berjalan kurang dari 1 km menuju halte Trans Jogja terdekat.

Yogyakarta adalah kota paling enak yang kami tinggali dibandingkan dengan Purwokerto dan Jombang. Kota besar yang tidak terlalu besar, sedikit sekali ruas macet, dan berlimpah kuliner dengan harga yang jauh lebih murah ketimbang di Jakarta. Selain itu yang membuat saya sangat puas sebagai maniak sejarah adalah Yogyakarta bertabur dengan museum-museum, sesuai dengan statusnya sebagai kota sejarah. Kayaknya saya hampir tiap hari keluar rumah supaya terkekejar mengunjungi semua museum yang menarik hati.

Biasanya mobil dibawa suami pulang pergi ke Klaten. 2 kali seminggu saya antar jemput suami karena ingin menggunakan mobil untuk mengeksplorasi Yogyakarta. Jika saya malas menggunakan mobil, saya juga kerap kali menggunakan opsi Trans Jogja.

Kami juga berkesempatan mengunjungi kota Solo pada akhir pekan ketiga di bulan Juli. Berhubung suami harus masuk dulu ke RSUD, saya dan Hasan pergi duluan ke Solo menggunakan Kereta Api (KRL) Prambanan Ekspres. Haa, akhirnya resolusi saya menggunakan Prameks tercapai. Menarik sih soalnya tiketnya hanya 8000 rupiah per orang. Seperti yang saya duga, karena Stasiun Maguwo adalah stasiun terakhir di Kota Yogyakarta, jadi saya tidak memiliki ekspektasi perjalanan selama sejam mendapatkan kursi. Benar saja, saat kami menginjakkan kaki di Prameks, manusia-manusia sudah berjejal. Kami berdiri sekitar 15 menit sampai saya menawarkan anak saya untuk duduk dengan posisi saya berjongkok. Seorang bapak di dekat saya tidak tega dan menawarkan kursinya kepada kami. Alhamdulillah, rejeki.

Selain itu kami juga berkesempatan mengunjungi wisata alam yang berada sedikit di luar kota seperti Punthuk Setumbu yang populer karena AADC dan area museum disekitar Merapi. Karena makanan yang variatif dan murahnya harga, kami jadi sering jajan disana. Gudeg saja saya sampai mencoba 5 jenis, dan itu pun merasa masih kurang 😁! 

Chiang Mai


Terbaik! Satu-satunya kota yang berada di luar Indonesia. Awalnya suami mengajukan penempatan Chiang Mai untuk bulan Maret, meski tertunda alhamdulillah akhirnya suami dijadwalkan mendapat stase Chiang Mai untuk bulan Oktober. Saya diberi kabar ini oleh suami sekitar bulan Juli. Artinya 3 bulan sebelum keberangkatan.

Berawal dari drama pencarian tiket, akhirnya kami berangkat juga pada tanggal 29 September. Disana kami tinggal di dorm yang sudah disediakan oleh pihak sana (tapi tetap bayar!) yang berlokasi di kompleks FK Chiang Mai University (CMU) dan RS Maharaj daerah Suandok. Memang rejeki kami, bulan Oktober ada 2 libur panjang di Thailand: tanggal merah kematian Raja Chulalongkorn (Rama V) di minggu kedua dan kematian cucunya, Raja Bhumibol Adulyadej (Rama IX) minggu depannya. Artinya kami terutama suami jadi memiliki waktu lebih banyak untuk mengeksplorasi Chiang Mai, bahkan ke tempat wisata yang ada di luar kota.

Chiang Mai sungguh menyenangkan. Bayangkan, tempo hidup masyarakatnya yang seperti Yogyakarta, hampir tidak ada kemacetan dan pelataran alam pegunungan seperti Bandung dan Malang. Ya, Chiang Mai merupakan kota terbesar ke-2 di Thailand yang berada tepat disamping gunung (doi) Suthep serta tidak jauh dari gunung tertinggi di Thailand, Doi Inthanon. Orangnya juga ramah-ramah. Minus disana cuma bukan negara non muslim yang membuat kita tidak bisa sembarang makan, transportasi publik yang jelek dan minimnya masyarakat lokal yang bisa berbahasa Inggris. Lainnya, sempurna!

Dengan segala kemampuan, akhirnya saya bisa menemukan celah transportasi publik, tempat makan halal, dan tempat-tempat belanja produk halal. Yang saya senangi disini adalah, karena transportasi publik minim dan mahal kemana-mana, saya jadi banyak jalan. Dari standar jalan biasa saya di terakhir di Yogyakarta untuk jarak dibawah 1 km, di Chiang Mai bertambah menjadi dibawah 2 km!

Oh ya, biaya hidup disini juga lebih murah dari Jakarta, senangnya! Harga belanjaan dan standar makan di resto juga jadi murah. Bahkan harga sebuah boneka bebek yang lucu! Cerita dramatisasinya bisa dibaca disini. Hehe.

Sebagai penggemar sejarah, saya sangat puas dengan Chiang Mai. Kota bekas kerajaan dan museum-museum bagus nan terawat yang memberikan edukasi sejarah secara menakjubkan. Kalau dihitung kayaknya hampir tiap hari saya keluar rumah buat eksplorasi kota. Tetapi tetap saja, sebulan di Chiang Mai tidak cukup untuk menikmati semua wisata yang ditawarkan. Padahal kami tidak mengunjungi Wat (kuil) sama sekali. Wisata alam juga hanya Green Canyon dan Queen Sirikit Botani Garden. Padahal masih melimpah atraksi alam yang bagus-bagus disana. Bahkan kami belum sempat ke tempat wisata dalam kota, yakni Royal Park Rajapruek yang menawan dan Museum Nasional Chiang Mai.

Sepertinya Chiang Mai adalah kota yang paling memberikan kesan kepada kami. Benar-benar nyaman tetapi kemudian seperti langsung disuruh pulang buru-buru tanpa bisa mengucapkan selamat tinggal.

Longing for Russia

Tidak ada komentar
Moscow, where the city covered of snow enriched with Romanov dynasty heritage and architecture.



Moskow, atau Rusia lebih umumnya adalah salah satu daftar kota dan negara (non-muslim) yang paling saya inginkan untuk dikunjungi. Klasik, karena alasan sejarah dan arsitektur saya menyukai kota ini. Sebelumnya saya sudah pernah menjejakkan kaki di Moskow, tetapi hanya ruangan tunggu pesawat di Bandara Demodedovo karena keperluan transit, tidak sampai menembus batas imigrasi tanah merah tersebut. Saya datang pada awal Januari 2009, dimana musim dingin sedang berada di puncak. Itu adalah pengalaman musim dingin saya pertama kali sekaligus pengalaman keluar negeri pertama setelah 12 tahun sebelumnya terakhir ke Singapura. Suasana dingin menusuk tulang sudah terasa semenjak keluar dari pintu pesawat dan melintasi garbarata. Angin dingin pun berhembus bahkan terasa saat petugas hilir mudik membuka pintu penghubung antara ruang tunggu dan garbarata. Di luar tampak tumpukan salju tebal serta petugas pengatur pesawat memakai jaket musim dingin berbulu yang amat tebal. Oh, ternyata seperti ini musim dingin di tanah merah.

Ketertarikan saya kepada Rusia berawal semenjak saya kelas 6 SD. Pada saat itu saya dan abang saya sering bermain game komputer bergenre simulator terbang yang berjudul Sukhoi-27. Sukhoi adalah pesawat yang berasal dari pabrikan Rusia. Secara tidak sengaja saya pun menemukan daftar huruf cyrilic saat sedang mencari tombol-tombol kendali saat bermain. Langsung saja saya catat di kertas, dihapal dan kemudian menerjemahkan huruf-huruf cyrilic di logo klub bola Rusia pada majalah Liga Champion. Saat SMP saya menerjemahkan huruf cyrillic teks lagu grup band t.A.T.u. Berlanjut kuliah, saya malah mendengarkan lagu-lagu band Rusia dan lagi-lagi membaca, dan mengetik liriknya dalam huruf cyrillic. Terakhir, saya malah menonton film-film Rusia termasuk salah satu film legendaris Rusia, Иди и Смотри (Come and See), berakhir saya sampai mengetahui percakapan-percakapan dasar bahasa Rusia 😂. Pemahaman-pemahaman terbatas tentang Bahasa Rusia pernah saya tuliskan dalam blog ini.

Kota yang Menarik

  • Moskow merupakan ibukota dari Rusia sekaligus kota terpadat dan terbesar di Rusia bagian Eropa. Selain itu, Moskow juga termasuk kota besar terdingin di dunia. Terdapat situs warisan dunia seperti Kremlin dan Lapangan Merah.
  • St. Petersburg merupakan kota terbesar kedua di Rusia. Selain menjadi salah satu kota paling modern di tanah merah, St. Petersburg juga menjadi ibukota budaya dan dipertimbangkan menjadi situs peninggalan sejarah oleh UNESCO.
  • Yekaterinburg, yang teringat pertama kali di otak saya adalah merupakan kota dimana keluarga Tsar terakhir dibantai. Merupakan kota terbesar keempat dan disebut-sebut sebagai ibu kota keempat di Rusia.
  •  Vladivostok, Kota yang berada di bagian Asia ini sangat dekat dengan garis perbatasan Cina dan Korea Utara. Kota ini amat menarik karena banyak percampuran sejarah dengan Cina, Jepang dan Korea.

Yang Ingin Dilakukan

Naik kereta Trans-Siberia! Meskipun cuma segmen kecil yang dilalui, saya sangat ingin berpetualang menggunakan kereta tersebut. Perjalanan melintasi Rusia dan melakukan napak tilas amatlah menarik. Selain itu tentu setidaknya mengunjungi keempat kota yang sudah saya sebutkan diatas. Eksplorasi kota, mengambil foto berunsur arsitektur, naik transportasi umum, dan tentu kunjungan museum ke museum dan tempat-tempat bersejarah. Jika ditanya saya tipe pengembara yang mana, maka saya akan menjawab pengembara kota. Dan saya merasa Rusia adalah negeri yang cocok sekali dengan kepribadian dan ketertarikan sejarah saya!

5 Restoran Halal di Chiang Mai

Tidak ada komentar
Alhamdulillah, pada bulan Oktober kemarin kami mendapatkan rezeki tinggal sebulan di Chiang Mai. Berkali-kali saya menulis postingan mengenai Chiang Mai, tak henti-heti pula saya masih baper kepada kota yang memiliki keramahan dan kesantaian ala Yogyakarta dan memiliki pelataran alam seperti Bandung. Chiang Mai pun belum banyak populer di kalangan orang Indonesia yang hendak berwisata ke Thailand. Sebagai kota terbesar ke-dua di Thailand dan memakan waktu 1 jam lebih menggunakan perjalanan udara, apakah susah mencari makanan halal di Chiang Mai?
But First, please Install "Smart Halal" App on your smartphone.

Dramatisasi Kisah Boneka Bebek

2 komentar
Sejak kecil, menjadi materialistis dan perhitungan tidak pernah menggelayuti diri saya. Kecuali (mungkin) perhitungan bakhil ke diri sendiri.