Langsung ke konten utama

Panduan Menggunakan Transportasi Umum di Chiang Mai

Meskipun saya tinggal selama sebulan di Chiang Mai, saya tetap memandang kami sekeluarga adalah turis di kota itu. Sebagai turis, mencari tahu sarana transportasi umum apa saja untuk kepentingan memudahkan mobilisasi menjadi sangat krusial. Saya sudah mulai riset internet sejak hampir sebulan sebelum keberangkatan.
"Salah satu kelemahan Chiang Mai adalah transportasi publiknya buruk", ujar seorang teman saya yang sudah lama tinggal disana.

Lantas saya menjadi bimbang untuk ikut serta kesana? Tidak! Saya malah semakin tertantang untuk mencari tahu. Bagi yang ingin mengunjungi Chiang Mai, semoga informasi ini bisa bermanfaat ya!

Transportasi Umum Massal

1. Songthaew (Red Car)


Menggunakan transportasi umum di Chiang Mai sejatinya mahal, apalagi kalau ingin dibandingkan langsung dengan biaya transportasi umum di Indonesia. Songthaew, dikenal dengan Rod Daeng/Red Car, atau kita kenal dengan angkot versi Thailand. Merupakan sarana transportasi umum paling populer di Chiang Mai. Mobil berwarna merah adalah songthaew yang memfasilitasi perjalanan di dalam kota. Warna selain merah untuk tujuan luar kota.

Untuk biaya sekali perjalanan adalah 30 baht per-orang atau setara 15 ribu rupiah, tertulis di atas jendela songthaew dan mudah dibaca. Tapi, kalau jaraknya dekat atau kurang dari 2,5 km, supir masih menerima jika kita hanya membayar 20 baht. Jika jaraknya relatif jauh maka kadang-kadang supir menetapkan harga 40 baht. Tips soal biaya ini, tidak usah bertanya berapa tarifnya. Kalau merasa perjalanan singkat langsung kasih 20 baht. Mungkin si supir juga merasa kita orang lokal yang sudah tahu dan biasa naik songthaew. Mayoritas warga asli Thailand di Chiang Mai tidak bisa berbahasa Inggris, apalagi supir songthaew, jadi hapalkan baik-baik ini:

20 -- yissip
30 -- samsip
40 -- sisip

Jika kita memberhentikan songthaew kosong, biasanya mereka akan seenaknya menetapkan harga. Dengan menyebutkan tarif standar menggunakan bahasa Thai, seringnya mereka akan langsung merespon setuju. Ada baiknya kita menghafal bilangan dalam bahasa Thai karena kemampuan ini bisa kita gunakan untuk menawar terutama di pasar tradisional. Cukup gampang kok, hanya perlu menghapalkan 17 kata. Panduan lengkapnya bisa dibaca disini. Jadi, misalkan kita harus menawar tarif songthaew untuk dua orang, bisa langsung katakan ini: song, hok sip baht (dua, enam puluh baht). Lebih afdol lagi kalau bicaranya pakai logat Thai hehe.

Kesulitan berikutnya perihal songthaew adalah kebanyakan dari mereka tidak memiliki rute tetap. Kalau kosong dan lagi mood, mereka bisa angkut kita ke tujuan. Kalau kebetulan tujuan kita searah sama penumpang lain, mereka mau angkut kita. Jadi, setiap kita memberhentikan songthaew, pastikan kita tanya apakah mereka mau menuju ke arah tujuan kita. Cukup katakan nama tempatnya. Iya dan tidak bisa ditebak cukup dari anggukan mereka. Karena mereka tidak punya rute tetap meskipun ada beberapa yang punya (tapi sampai saya pulang pun tidak tahu pasti mana songthaew yang memiliki rute tetap), maka bersabar dan berlapang dada lah karena kita akan banyak menghadapi penolakan 😝.

Trik memperkecil penolakan dari abang songthaew adalah jeli menentukan tempat dalam memberhentikan songthaew. Sebagai contoh, kami tinggal di dorm yang di belakangnya bukan jalan utama. Jika memberhentikan songthaew ke arah kota tua tepat di belakang dorm kami, kemungkinan ditolaknya tinggi karena bisa saja songthaew yang mengarah ke selatan menuju arah Suthep,  Kota tua atau bandara. Karena itu jika ingin ke kota tua, berjalanlah ke selatan sampai bertemu jalan utama. Pilihlah songthaew yang mengarah ke timur. Dengan itu maka probabilitas penolakan oleh abang songthaew berkurang karena pilihan arah songthaew yang ada ke arah kota tua atau bandara. Maka dari itu, dibutuhkan paham mengenai orientasi daerah yang kita tuju. Caranya ya rajin-rajin saja buka Google Map hehe.

Kerumitan usai? Belum! Kesulitan berikutnya adalah Bahasa. Selain memang kemampuan berbahasa Inggris warga Thailand masih rendah, induk bahasa dari Bahasa Thailand bukanlah Inggris dan Eropa seperti Bahasa Indonesia. Misalnya, jika ada turis asing ingin ke museum dan menyebutkan "museum" ke mamang angkot Indonesia, mereka pasti mengerti karena museum fonetiknya mirip dengan museum bahasa kita. Kalau ke abang Songthaew? Jangan harap! Maka dari itu, jadikan Google Translate sebagai temanmu. Persoalan beres? belum tentu! Terkadang jika kita mengucapkannya tidak dengan ucapan (bahkan logat) yang benar, si abang songthaew tak urung mengerti juga. Bahasa Thailand dari museum adalah phiphithphanth. Saya ucapkan sambil asal baca, si abang tidak mengerti. Ternyata cara pengucapannya agak beda dari yang saya baca langsung haha. Jadi, pastikan selain mengecek translasinya kita juga mengecek pelafalannya.

Alternatif cara lainnya dalam berkomunikasi adalah menunjukkan gambar tujuan kita. Sebagai contoh, museum yang hendak saya kunjungi adalah Chiang Mai Historical Center. Tepat di depan museum tersebut terdapat patung 3 raja. Nah bisa langsung Google Images gambar 3 raja itu dan ditunjukkan ke si abang songthaew.

Bagaimana kalau tempat yang kita tuju tidak memiliki gambar karakteristik khas? Kita bisa menyebutkan nama jalan dimana lokasi yang kita tuju itu. Sebagai contoh, Chiang Mai Historical Center terletak di jalan Inthawarorot. Tapi jangan terlalu percaya diri, meski menyandang status supir songthaew, si abang belum tentu hapal nama jalan 😂. Jadi cadangkan nama lokasi terkenal atau jalan terkenal lainnya yang searah dengan tujuan kita. Dengan berbekal Google Map, lihat posisi kita saat songthaew berjalan dan turun di lokasi dimana dekat dan bisa berjalan menuju tujuan asli kita. Saat saya menyebutkan Inthawarorot, entah kenapa menurut dia adalah (pasar) Warorot. Karena saya lelah dengan penolakan akhirnya saya iyakan saja. Saya tahu, jalan menuju Warorot hampir pasti melewati sekitaran museum yang saya tuju. Saya pantau terus gerakan songthaew di Google Map. Alhamdulillah tepat dugaan saya, songthaew yang saya naiki melewati jalan yang hanya dibutuhkan berjalan 100 meter untuk menuju museum. Saya pun berhenti disitu.

Butuh waktu 1 minggu lebih sampai saya menemukan cara terbaik menaiki songthaew. Meskipun dengan segala problematikanya, perlu saya akui songthaew adalah angkutan umum terbaik dan paling taktis untuk dinaiki di Chiang Mai. Hubungan saya dengan songthaew bagaikan "love-hate relationship".

2. Tuk Tuk


Sejatinya, Tuk Tuk adalah Bajaj versi Thailand. Secara keseluruhan bentuknya mirip sekali dengan bajaj di Indonesia, hanya sedikit lebih besar dengan kursi penumpang yang lebih lebar. Bisa duduk 3 orang. Sama seperti di Indonesia, harga Tuk Tuk bisa jauh lebih mahal dibanding angkutan umum lainnya. Mereka akan memberikan harga awal yang sangat-sangat mahal. Berlagak tidak butuh saja, nanti mereka akan menurunkan harga. Tahap berikutnya adalah menawar. Lagi-lagi bisa mengucapkan bilangan dengan Bahasa Thailand adalah kemampuan yang penting untuk mendapatkan harga lebih murah. Memang pada akhirnya harga akhir akan lebih mahal dari ongkos songthaew, tetapi akan terasa sangat murah dari harga awal yang ditawarkan. Toh, para supir Tuk Tuk dan kita juga tahu, Tuk Tuk dikategorikan sebagai angkutan rekreasional yang mengundang orang untuk ber-swafoto karena merupakan angkutan umum yang khas.

Sampai kami meninggalkan Chiang Mai, pada akhirnya kami belum merasakan naik Tuk Tuk. Mahal, itu yang menjadikan alasan kami. Sempat sih kami meniatkan naik sekali saja untuk sekedar merasakan, tapi beribu sayang, saat itu kami tidak cukup banyak bawa uang baht haha. Jadi pulang dari Pasar Minggu (pasar malam kaget yang cuma ada di Minggu malam), kami berniat pulang ke Suandok menggunakan Tuk Tuk. Harga awal yang mereka tawarkan adalah 200 baht! Kemudian kami berlagak tidak butuh, sang supir dengan mawas diri menawarkan harga 150 baht. Karena memang uang yang kami bawa tidak cukup, kami pun berakhir dengan tidak menawar lagi. Padahal saya yakin, jika saya menawar dengan menggunakan Bahasa Thai, kami bisa dapatkan harga 120 baht atau 100 baht saja. Harga kami bertiga (anak kecil tidak dihitung) naik songthaew adalah 60 baht. Lumayan kan ya cuma bayar tuk tuk hampir dua kali lipat.

3. Bus Umum


Penguasaan preman terhadap sektor transportasi publik di Kota Chiang Mai membuat kehadiran Bus umum tergolong baru. Bus ini dinamakan RTC Chiang Mai. Baru dirilis pada pertengahan tahun 2018 dan sampai Oktober 2018 baru ada 3 jalur. Tarif yang dikenakan adalah 20 baht sekali naik, membuat bus umum menjadi sarana transportasi termurah di Chiang Mai, apalagi kalau naik dan turun dari ujung rute.

Bus baru yang sangat nyaman, tersedia beberapa tempat duduk dan tempat duduk prioritas untuk orang lanjut usia, wanita hamil dan orang berkebutuhan khusus. Ada juga 1 tempat khusus yang disediakan dengan biksu sebagai prioritas.


Saat saya memutuskan untuk mencoba bus, saya akui cukup sulit untuk mencari tahu jadwal dan rute bus. Informasi  yang ada benar-benar berserakan di jagat maya. Beberapa mengatakan sudah ada aplikasi, yaitu CM TRANSIT yang bisa diunduh melalui Play Store dan App Store. Aplikasi ini menyatakan bisa mendeteksi posisi bus secara tepat waktu. Tapi sepertinya aplikasinya belum berfungsi dengan baik, terbukti saat saya mengunduh di iPhone, saya tidak mendapatkan informasi apapun, termasuk deteksi posisi bus.

Saya memutuskan menggunakan bus dari depan Chiang Mai University sampai ke Central Festival. Ternyata posisi-posisi tersebut berada di ujung rute. Saya mencari tempat pemberhentian bus di dekat universitas. Tempat pemberhentiannya sendiri bisa berupa halte dengan beberapa tempat duduk ataupun hanya palang penunjuk saja. Nanti begitu ada bus mau lewat kita tinggal mengibaskan tangan. Sayang sekali, jumlah armada bus belum begitu banyak, saya membutuhkan waktu sekitar 20 menit menunggu sampai bertemu bus pertama.


Ada 3 alternatif pembayaran bus. Pertama dengan cara tunai, yaitu memasukkan 2 koin 10 baht ke dalam mesin. Kedua dengan cara mengetuk Rabbit Card (kerjasama dengan LINE) dan Tourist Card di mesin sebelahnya. Ketiga, bisa dengan langsung memberikan sehelai uang kertas 20 baht kepada supir. Tampaknya, adanya alternatif ketiga itu untuk menghindari lamanya antrian memasuki bus dan alternatif jika penumpang tidak memiliki uang koin.


Berhubung Chiang Mai University dan Central Festival berada di ujung rute, total perjalanan menghabiskan waktu 1.5 jam. Rute bus melewati tengah kota bahkan terminal bus, menyebabkan bus melewati beberapa titik kemacetan. Jika anda hendak buru-buru dan tidak memiliki waktu lowong, menggunakan bus ini tidak dianjurkan. Tetapi kalau ingin menghemat pengeluaran, tentu menggunakan bus sangat menguntungkan.

Ternyata sekarang sudah ada situs yang menulis panduan  menaiki bus umum di Chiang Mai. Mulai dari harga sampai rute. Bisa langsung coba kesini.

4. Free Shuttle Van


Chiang Mai memiliki 3 mal besar, yaitu Central Festival sebagai yang terbesar, Central Plaza dan Maya Mall. Pusat perbelanjaan yang berafiliasi dengan Central memiliki jadwal dan armada shuttle bus sendiri. Shuttle tersebut berhenti di berbagai lokasi, biasanya berhenti di beberapa hotel. Jadwal lengkap shuttle tersebut bisa didapatkan langsung di mal Central atau di hotel yang disinggahi oleh shuttle. Biayanya gratis, tetapi karena berhenti di beberapa hotel dulu baru lanjut ke mal Central, waktu yang dibutuhkan bisa 1 jam. Jadi kalau terburu-buru oleh waktu tidak disarankan untuk menggunakan moda transportasi ini.

Transportasi Umum Non-Massal

1. Grab/Taxi

Penggunaan Grab adalah alternatif terakhir jika bingung memilih moda transportasi yang mana. Pasalnya, kita tinggal menentukan tujuan mana saja tanpa bersusah payah mencari. Namun, tarif Grab di Chiang Mai tidak murah-murah amat. Jika kita berjumlah 3 orang, menggunakan Grab akan sangat menguntungkan karena menggunakan songthaew 3 orang bisa menghabiskan 30 baht, itu pun harus menunggu dan kemungkinan mengalami penolakan. Sementara dengan menggunakan Grab Car untuk jarak menengah hanya sekitar 80 baht.

Fitur Grab yang tersedia di Chiang Mai hanya Grab Car dan Delivery, berbeda dengan di Indonesia yang beraneka ragam seperti Grab Bike dan Grab Food. Jasa pengantaran makanan tidak ada mungkin karena kehadiran Food Panda terlebih dahulu. Nah yang menarik, pada Grab Car tersedia layanan Grab Roddaeng, atau Grab yang memakai songthaew. Tampaknya ini adalah salah satu jalan tengah yang diambil oleh pihak Grab untuk "merangkul" preman songthaew. Harganya sedikit lebih mahal dari Grabcar biasa, tetapi apabila rombongan kita terdiri lebih dari 4 orang, penggunaan Grab Roddaeng sangat efisien karena bisa mengangkut sampai 10 orang dalam sekali pengangkutan. Otomatis harganya akan lebih murah dibandingkan menggunakan 2 atau 3 Grabcar.

Sementara untuk Taxi hanya ada di bandara. Menggunakan Taxi keluar dari bandara adalah alternatif terbaik karena jika menggunakan Grab tarifnya akan membengkak. Kok bisa? silahkan baca sampai selesai hehe.

2. Mo-bike

Jika anda hendak berjalan-jalan santai sendiri atau setidaknya tidak bawa anak, Mo-bike ini benar-benar efisien. Kita bisa mengunduh aplikasinya di gawai masing-masing. Ada pilihan rental 3 bulan dengan hanya membayar sekitar 250 baht (saya lupa tepatnya) dan rental per-15 menit, tetapi jatuhnya jadi lebih mahal. Penggunaannya juga sederhana, nanti di aplikasi ada lokasi halte mobike dan kita tingga pindai barcode yang ada di sepeda menggunakan gawai kita. Nanti sepeda akan terbuka kunciannya dan kita bisa bebas menggunakannya. Saat sudah beres menggunakan tinggal diparkirkan (dianjurkan di halte yang tersedia) kemudian tinggal dipindai ulang barcode sepeda tersebut. Selesai. Kita bisa meninggalkan sepeda tanpa harus terbebani rasa bertanggung jawab dan ketakutan akan dicuri.

Sepeda mobike terdiri dari keranjang di depannya, jadi bisa menjadi tempat untuk meletakkan tas atau belanjaan. 

3. Sewa Motor atau Mobil

Ini adalah alternatif terakhir. Sangat berguna apabila kita hendak berpergian ke tempat yang jauh dari kota secara bebas. Apalagi Chiang Mai banyak lokasi wisata alamnya yang berjarak 1 jam atau lebih dari pusat kota, membuat alternatif menggunakan Grab menjadi nihil. Kami pribadi belum pernah menggunakannya. Berdasarkan testimoni beberapa teman, untuk menyewa mobil dibutuhkan SIM Internasional jika tanpa supir. Kalau sewa motor saya kurang tahu. Tempat penyewaan bisa ditemukan di berbagai area turis seperti di wilayah Nimmanheiman di Kota Tua. Untuk tarif sendiri bervariasi, tergantung juga dari kemampuan kita untuk menawar. Bahkan ada yang bisa menyewakan langsung 3 bulan dengan harga lebih murah dari sewa bulanan.

Pengaruh Premanisme terhadap Transportasi Umum

Layaknya seperti yang dapat kita temui di kota-kota besar selain Jakarta, premanisme yang dilakukan oleh sebagian oknum cukup untuk "membungkam" perkembangan transportasi umum milik pemerintah. Mari ambil Kota Bandung sebagai contoh. Pihak Dinas Perhubungan Kota Bandung tidak banyak bisa bergerak atas keputusan Koperasi Wahana Kalpika. Untuk kasus Chiang Mai, pengemudi Songthaew dan Tuk tuk lah "preman tersebut". Oleh karena itu, logis rasanya jika Grab "merangkul" songthaew untuk "berbagi rezeki". Salah satu kerjasamanya adalah menghadirkan songthaew di aplikasi Grab. Songthaew ini juga sedikit sulit untuk dicampuri pemerintah, sama seperti Koperasi Wahana Kalpika. Buktinya mereka tidak ada rute khusus, meski ada beberapa yang terkesan "dibayar" noleh beberapa pihak lain seperti Central.

Kehadiran Grab ini juga mengancam Tuk Tuk, kerap kali ditemukan di beberapa tempat Tuk Tuk berkumpul dan menaruh plang bahwa Grab dilarang ambil penumpang. Contohnya di seberang Pasar Malam Sabtu. Pelanggan yang ingin memesan Grab harus jalan terlebih dahulu menjauh dari plang tersebut. 

Tidak hanya itu, beberapa tempat wisata dan bandara juga ada premannya! Sebagai contoh saat saya hendak pergi ke Chiang Mai University (CMU). Untuk mengantisipasi supir songthaew yang tidak mengerti kata "university", saya menyebutkan zoo sebagai tujuan karena posisi CMU hanya 400 meter dari kebun binatang. Namun sang supir mengisyaratkan kalau tarifnya 80 baht! Padahal lokasinya tidak jauh dari dorm kami. Saya pun terkaget-kaget. Dengan cepat saya merevisi CMU sebagai tujuan saya, harganya pun berubah menjadi normal 30 baht. Apa yang terjadi?

Tampaknya pihak kebun binatang (atau preman yang bercokol di kebun binatang) menarik tarif tambahan dari para supir songthaew. 80 baht adalah harga tarif untuk Grab juga. Mungkin pengelola kebun binatang lebih bersahabat dengan supir Grab ketimbang songthaew. 

Pernah juga saya iseng mencari tahu tarif Grab dari dorm menuju bandara menjelang kepulangan kami ke Jakarta. Saya kaget karena harga yang muncul adalah 180 baht! Apa-apaan itu. Soalnya seingat saya, terakhir saya memakai Grab dari Central Plaza yang jaraknya kurang dari 1 km dari bandara, harganya hanya 90 baht kurang. Kemudian saya pun iseng menggeser titik pengantaran sedikit keluar dari gerbang bandara. Ternyata harganya kembali 80-an baht. Hebat sekali palakan preman bandara ya, bisa 80 baht sendiri. Jika menggunakan songthaew kalau tidak salah tidak ada perubahan tarif. Mungkin ini sebabnya saat saya naik bus umum, saya menemukan banyak turis membawa koper yang hendak menuju bandara. Rupa-rupanya mereka juga menghindari tarif Grab yang super mahal itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Baby Gear: Aprica Karoon Review

Sewaktu masih hamil hasan trimester kedua, saya udah mulai rajin buka tutup review stroller di pelbagai website. Banyak faktor yang dibutuhkan untuk memilih stroller yang pas. Pertimbangan saya dalam memilih stroller dapat dilihat di artikel saya sebelumnya mengenai kriteria stroller disini. Melihat segala kriteria saya dan budget yang dimiliki, muncul beberapa shortlisted. Namun, ternyata alhamdulillah Hasan mendapat kado stroller dari Datuk Aya. Berhubung dikadoin, saya mah pasrah apa aja. Apalagi lebih mahal dari budget kita hehe. Stroller yang dikasih Aprica Karoon. Seperti ini penampakannya.

Drama keberangkatan ke Chiang Mai

Setelah hampir 2 bulan, akhirnya saya memberanikan untuk menulis ini karena menurut saya pengalaman ini sangat memalukan sekaligus agak menyesakkan. Let's call it rejeki hanya sampai disitu saja dan rejeki pengalaman berharga.
Suami mendapatkan kabar pada bulan Juli kemarin bahwa akan dikirimkan ke Chiang Mai di bulan Oktober selama sebulan. Sontak saya gembira karena akhirnya akan kejadian juga tinggal di negara asing meski hanya sebulan. Sebenarnya suami mendaftar untuk pengiriman bulan Maret, setelah mengira tidak dapat jatah praktis kabar bulan Oktober ini sedikit mengejutkan. Mulailah pada saat itu saya malam-malam suka iseng membukan online travel apps semacam Traveloka, Tiket.com, dan pegi-pegi. Karena kami masih di Jogjakarta pada saat itu, kami memutuskan mulai agak serius memesan tiket nanti saja setelah kepulangan ke Jakarta pada bulan Agustus. Selain itu, kalau mencari tiket pada waktu itu saya juga tidak konsen karena otak saya masih terjejali rencana-rencana kunjung…

5 Buku Nonfiksi Favorit

Tahun 2019 adalah titik balik saya untuk kembali banyak membaca buku setelah tahun lalu dan tahun-tahun sebelumnya hanya membaca 2-3 buku per-tahun. Miris bukan? Oleh karena itu, postingan kali ini saya dedikasikan sebagai bentuk apresiasi saya kembali membaca. Daftar buku dibawah juga berdasarkan daftar bacaan saya tahun 2018 yang selengkapnya bisa dilihat di goodreads saya. Kali ini saya akan coba merekomendasikan 5 buku non fiksi, tanpa sesuai urutan favoritnya.
1. Mindset: The New Psychology of Success - Carol S. DweckSuka penasaran tidak kenapa banyak anak kecil yang dianggap sebagai child prodigy kebanyakan hanya mampu mekar pada tempo waktu yang singkat. Biasanya saat mereka sudah dewasa, kiprahnya malah jarang terdengar. Akhirnya saya mengetahui alasannya setelah membaca buku ini.
Carol S. Dweck membagi pola pikir manusia menjadi dua: growth mindset dan fixed mindset. Growth mindset adalah pola pikir yang mendorong kita untuk selalu berkembang. Sementara fixed mindset adalah …