Tampilkan postingan dengan label Gaya hidup. Tampilkan semua postingan

4 Ide Main Game sebagai Bonding dengan Anak

Tidak ada komentar
Sebagai seorang dokter bedah, jadwal suami tergolong padat. Kalau orang-orang kantoran normalnya bisa pulang saat jam kantor usai, standar suami pulang kantor adalah jam setengah 9 malam. Itu normal ya, karena sering juga pulang diatas jam 10 malam karena jadwal operasi. Terkadang malah tidak pulang sama sekali karena operasi baru selesai jam 1 dini hari dan ia memlih tidur di rumah sakit saja. Kalau sore hari suami sudah menampakkan batang hidung di rumah, we call it bonus! Ya, karena memang sejarang itu dan kita serumah bakal bahagia banget karena bisa menghabiskan waktu bareng-bareng lebih lama.

bonding dengan anak

Rutinitas sibuk bekerja di luar rumah tidak hanya di hari kerja saja, tapi (sangat) sering ada di akhir pekan. Selain suami memang memiliki jadwal praktik hari sabtu pagi, sering juga ia tiba-tiba memiliki jadwal rapat, seminar, hingga operasi (lagi!).

Banyak ya, hehe. Padahal suami bukan tipe yang ambis. Tidak ambis aja jadwalnya seperti itu.

Pasalnya, di waktu luangnya yang sangat sedikit itu, ia harus membaginya untuk diri sendiri dan keluarga. Waktu untuk diri sendiri juga termasuk istirahat karena bisa dinilai sendiri, waktu istirahat suami di hari kerja sangat sedikit. Waktu pribadinya yang lain adalah “me-time”.

Meski suami ingin me-time, tapi juga dia harus membagi potongan lain waktu luangnya buat keluarga, termasuk bersama anak. Bonding dengan anak itu sangat penting, begitu pengasuhan anak oleh sosok bapak.

Pentingnya bonding dengan anak

bonding dengan anak
Bonding time atau bonding dengan anakadalah interaksi antara orangtua dan anak untuk menciptakan keterikatan baik secara fisik dan emosional. Ikatan yang kuat antara orangtua dan anak dapat menumbuhkan ikatan batin dan rasa aman yang membuat anak memiliki harga diri yang positif.

Orangtua yang hadir menemani anak dalam beraktivitas dapat membuat anak merasa dicintai, dihargai, dan diperhatikan menurut Rosalina Verauli, M.Psi yang merupakan psikologi anak. Bonding dengan anak tidak bisa dianggap remeh karena berpartisipasi dalam tumbuh kembang anak. Beberapa manfaat dari bonding dengan anak berupa meningkatkan keterampilan, kemampuan komunikasi, hingga kemampuan emosi anak.

Saat me-time, suami hobinya main game konsol atau komputer. Bermain bersama anak adalah salah satu cara bonding dengan anak. Kenapa tidak sekaligus saja me-time dan bonding dengan anak? Jenis permainan apa saja yang bisa dijadikan bonding dengan anak?

Jenis permainan sebagai bonding dengan anak

Bermain sering dianggap sepele, bahkan sering dianggap bukan belajar dan hanya dinilai sekadar refreshing belaka. Padahal, banyak sekali perkembangan anak yang terjadi hanya dengan bermain. Apalagi jika bermain dengan orangtuanya, maka selain belajar dan refreshing, sang anak juga merasa lebih dekat dengan orangtuanya.

Bermain bersama anak juga merupakan bagian dari parenting. Banyak jenis permainan yang bisa para orangtua mainkan bersama sesuai dengan kebiasaan dan kesenangan keluarga masing-masing.

1. Bermain game fisik

bonding dengan anak
Main game fisik rasa-rasanya paling praktis dan tidak butuh persiapan banyak. Eits, jangan salah sangka dulu. Bermain game fisik bersama anak tidak melulu berolahraga bersama anak. Main gendong-gendongan, main gobak sodor, dan segala kontak fisik lainnya antara orangtua dan anak merupakan salah satu main game sebagai bonding dengan anak.

Biasanya kalau suami pulang kerja, anak-anak langsung berhamburan minta digendong. Yang gadis-gadis ini juga pada hobi minta duduk di pundak babehnya atau minta digendong lempar-tangkap. Bisa juga main gelantungan dan gobak sodor. Kalau bermain game fisik seperti ini sih saya tidak sanggup, hehe.

Kalau suami sedang ada waktu senggang, baru deh ia berolahraga bersama anak. Biasanya sepedaan bersama si sulung. Pernah suatu waktu si sulung merengek ke saya menanyakan kapan babehnya kapan pulang karena ingin sepedaan bersama.

“Babeh lagi kerja, nanti ya pas sabtu-minggu sepedaan sama babeh. Kan biasanya juga hari sekolah gini Hasan sepedaan sama mama.” Terang saya

“Ga mau, sepedaan sama mama ga seru, ga bisa jauh-jauh dan kencang-kencang.” Tandas Hasan

2. Berman board game

Berbeda dengan saya, suami malah tidak hobi bermain board game. Jadi, aktivitas bonding bersama anak dengan cara bermain board game biasanya dilakukan bersama saya. Board game yang biasa kami mainkan cukup standar, UNO kartu dan UNO stack. Hmm, sebenarnya saya ingin bermain board game yang lebih variatif bersama si sulung. Namun apa daya, adik-adik gadisnya yang berusia 3.5 tahun dan 2 tahun sudah barang pasti tidak sabar buat mengacak-acak. Saat saya bermain game memori tutup botol bersama si tengah saja, si bungsu langsung tidak sabar buat mengacak-acak urutan tutup botolnya.

Hasan juga senang bermain puzzle. Biasanya sih dia main sendiri, namun ia kerap mengajak saya menyusun puzzle bersama untuk puzzle baru yang baru dibeli dan ia belum familiar. Sejujurnya sih saya ingin banget konsen main puzzle barang si sulung. Apa daya, adik-adik gadisnya kerap meneror saya. Alhasil saya benar-benar main kucing-kucingan, curi-curi waktu dan posisi agar bisa main puzzle barang si sulung.

Sudahlah, untuk saat ini bermain aneka board game yang lain saya percayakan si sulung bermain dengan paman-pamannya saja.

3. Bermain pretend play

Imajinasi anak-anak melebihi orang dewasa. Dengan ikut terjun ke dunia imajinasi anak melalui pretend play, orangtua bisa membangun bonding dengan anak sekaligus meningkatkan kemampuan komunikasi, imajinasi, dan tingkat kreativitas anak.

Si sulung dan si tengah sedang dalam fase senang bermain pretend play. Biasanya mereka main berdua. Namun, tidak jarang baik si sulung atau si tengah mengajak saya bermain pura-pura. Entah bermain jual-jualan atau masak-masakan.

4. Bermain game konsol dan PC

bonding dengan anak

Nah, ini adalah jenis main game yang paling suami saya gemari. Mau bukti? Lihat saja 3 laptop kami di rumah ini semuanya adalah gaming laptop! Saya sih tidak masalah, soalnya saya pribadi sebenarnya hobi ngegame juga, hehe. Sebenarnya sih saya menginginkan laptop ukuran 13” dengan bobot sangat ringan agar enak dibawa tiap saya mobile. Tapi sudahlah, saya masih bercita-cita melakukan hal “powerful” dengan laptop seperti coding atau menjalankan aplikasi berat lainnya. Barang pasti kegiatan ini akan lebih nyaman menggunakan laptop gamiing karena speknya saja tinggi.

Baik suami dan saya hobi bermian game konsol dan PC bersama si sulung. Si sulung juga jadi menagih jatah main game tiap libur tiba. Saya dan Hasan hobi kompetisi Mario Kart di Nintendo Switch. Asli, seru banget. Suami dan Hasan main Mario lawan-lawanan (entah apa nama asli game ini). Tidak selalu main game bersama, “mengomentari” Hasan yang main game juga sering dilakukan. Misalnya mengobrol karakter-karakter Pokemon.

Tentunya pilihan bermain game konsol dan PC bukan piilihan semua orangtua. Pun, jika para orangtua termasuk pihak yang memperbolehkan anak bermain game konsol dan PC, pastikan anak bermain game secukupnya saja. Disiplinkan anak dengan cara memberikan jadwal kapan saja ia boleh bermain game konsol dan PC.

Bermain game konsol dan PC bersama anak merupakan pilihan paling mahal dan menyiapkan persiapan yang lebih panjang ketimbang 2 jenis bermain bersama sebelumnya.

Pasalnya, harga konsol atau PC saja sudah berapa, hehe. Tidak hanya konsolnya, pastikan juga kita menggunakan konektor andal yang menghubungkan konsol ke TV. Asli ya, kalau konektor rusak rasanya tidak enak. Entah gambarnya jadi rusak warna atau bahkan tidak muncul sama sekali di layar kaca. Kayaknya suami sudah beberapa kali ganti kabel konektor deh.

Samai akhirnya kami mencoba sebuah kabel konektor dan puas banget sama performanya.

Kabel Lindy sebagai pilihan kabel HDMI

bonding dengan anak


“Aku baru mindahin Switch ke TV atas nih, harus cari kabel konektor baru deh, soalnya yang kegantung disini ga berfungsi.” Ujar suami suatu ketika.

Untungnya, di saat suami bertanya, saya baru ingat bahwa saya punya kabel konektor HDMI dari Lindy yang bisa didapatkan di Official Store Lindy di Tokopedia sekali pun.

bonding dengan anak

Lindy sebagai brand konektor kabel terdepan tidak main-main dalam mendesain produk sesuai dengan kebutuhan. ada 4 kabel High Speed HDMI milik Lindy:
  1. Gold Line
  2. Chromo Line
  3. Anthra Line
  4. Black Line
Nah, kabel konektor Lindy yang kami miliki merupakan tipe Chrono Line. Kabel konektor Chromo Line ini memuaskan sekali baik secara desain dan performa. Bentuk konektornya terasa mewah dengan sentuhan warna emas. Secara kegunaan juga memang ditujukan untuk penggunaan prosumer dan kebutuhan komersial dimana harus dipastikan baik desain dan performa sama-sama estetik dan berteknologi tinggi. 

bonding dengan anak

Penggunaan High Speed HDMI Lindy ini benar-benar mulus tanpa halangan. Mudah dicolokkan baik di konsol Nintendo Switch dan Televisi. Panjang kabel yang 2M juga ideal untuk penggunaan rumah tangga. Sejauh ini kami puas dan tidak ada keluhan.

Main game bersama = bonding dengan anak

Jadwal suami yang padat bukanlah penghalang untuk membangun kedekatan dengan anak-anak dengan cara bonding time. Main game bersama adalah salah satu ikhtiar kami agar anak-anak lebih terkoneksi dengan kami sekaligus refreshing mereka (dan orangtuanya).

Karena sekarang sudah ada High Speed HDMI mumpuni, kini kami bisa leyeh-leyeh di kamar sambil lomba di Mario Kart.

Kenapa Si Kembar dan Tantangan Profesor Haydar Cocok Dibaca Generasi Muda Islam

Tidak ada komentar
“Ramadan besok, kami ga berdua nggak puasa, ya.”

Buku apa menurutmu yang sekaligus cocok dibaca oleh anak-anak hingga remaja bahkan para orangtua sekali pun?

Tenang saja, no spoiler alert.

si kembar dan tantangan profesor haydar

Awal bulan puasa 2022, seorang teman mempromosikan buku karangannya yang berjudul Si Kembar dan Tantangan Profesor Haydar melalui berbagai kanal media sosial. Katanya sih merupakan buku yang cocok dibaca menyambut bulan Ramadhan. Target pembaca bisa dari anak SD yang sudah lancar membaca sampai orang dewasa. Saya pun tertarik membeli karena sangat ingin mendukung teman.

Karena kecepatan membaca saya tidak sebanding dengan banyak buku yang belum dibaca, alhasil buku tersebut baru sempat saya baca di Bulan September ini, itu pun menjadi buku mobil (buku yang saya taruh di mobil, jadi kalau lagi menunggu atau macet, saya bisa baca buku).

Ternyata Si Kembar dan Tantangan Profesor Haydar tidak hanya sebuah buku yang menyasar pembaca muda. Saya sebagai orang dewasa sekaligus Ibu dari 3 anak cukup tertohok dan menjadikan buku tersebut refleksi saya termasuk hubungan antara orang tua dan anak.

Tentu saya berkata seperti ini karena ada alasan yang konkrit

Tentang “Si kembar dan Tantangan Profesor Haydar?”

si kembar dan tantangan profesor haydar

Buku ini menceritakan tentang sepasang anak kembar beda kelamin berusia 11 tahun, Khalid dan Aya, yang menolak untuk berpuasa di Ramadan kali ini dengan argumen puasa adalah sebuah kegiatan yang melanggar hak asasi manusia. Argumen yang terkesan liar ini ditemukan oleh mereka di forum internet dan kemudian mereka amini.

Sontak orangtua mereka syok. Meski dirayu dan diiming-imingi, si kembar tetap tidak luruh dari pendapat mereka. Akhirnya orangtua mereka menyerah dan memutuskan untuk membawa si kembar ke rumah Profesor Haydar, kakek mereka.

Berbeda dengan respon orangtua, Profesor Haydar memperbolehkan mereka untuk tidak berpuasa di Bulan Ramadhan dengan satu syarat: Si kembar dapat membuktikan kebenaran argumen bahwa puasa melanggar hak asasi manusia.

Apakah si kembar berhasil?

Pembelajaran penting dari “Si Kembar dan Tantangan Profesor Haydar”

si kembar dan tantangan profesor haydar

Menariknya, buku “Si Kembar dan Tantangan Profesor Haydar” ini tidak hanya menghadirkan kontradiksi dan plot yang asik untuk dibaca. Semakin dibaca, semakin banyak pembelajaran yang dapat pembaca muda ambil, bahkan termasuk bagi para orangtua yang membacanya.

Apa saja pembelajaran yang dapat diambil dengan membaca “Si Kembar dan Tantangan Profesor Haydar?”

1. Mendidik berpikir kritis

Adalah hal yang lumrah bagi manusia untuk terus mempertanyakan suatu sebab, atau yang dikenal dengan berpikir kritis. Anak-anak memiliki fitrah berpikir kritis semenjak dini, janganlah kita sebagai orangtua mematikan kekritisan dengan cara memberikan larangan tanpa menjelaskan secara gamblang alasan dibalik itu.

Karakter Profesor Haydar dan Ibu si kembar bertolak belakang, termasuk dalam menanggapi keinginan si kembar untuk tidak berpuasa di bulan Ramadan. Alih-alih menyuruh si kembar untuk berpuasa dengan hanya menjelaskan sebagai “kewajiban”, Profesor Haydar mengajak si kembar untuk berpikir kritis, mencari tahu kenapa Allah menyuruh umatnya untuk berpuasa dan membuktikan "kebenaran" argumen mereka.

Sang kakek menantang si kembar dengan open question dan meminta mereka untuk mencari bahan untuk memvalidasi pernyataan bahwa puasa telah melanggar hak asasi manusia. Syarat Profesor Haydar hanya satu: argumen yang dibawa si kembar harus berdasarkan sumber yang valid dan bisa dipertanggungjawabkan.

2. Bijak dalam berinternet

si kembar dan tantangan profesor haydar

Bebeda dengna generasi kita para orang tua saat masih kecil, para generasi alpha sangat dekat dengan dunia digital. Mereka akan dengan mudahnya mencari tahu apapun semudah mengetik kata kunci di keyboard.

Namun, kemudahan di dunia digital ini bagai pedang bermata dua. Sisi positifnya, hampir semua hal dapat diperoleh dengan mudah dan cepat. Sisi negatifnya, kita kesulitan menyaring mana informasi yang sembarangan dan mana informasi yang bisa dipertanggungjawabkan.

Disini, Profesor Haydar membekali si kembar buku panduan bijak berinternet saat mengetahui darimana cucu-cucunya mendapat argumen bahwa puasa melanggar hak asasi manusia.

Beretika dan bijak dalam berinternet adalah kemampuan yang harus dimiliki manusia zaman modern, terutama oleh generasi alpha dimana sebagian besar mereka masih belum dewasa. Bahkan, beberapa belum mencapai akil balig. Tentu keadaan ini membuat mereka gampang menyerap apapun dari luar dengan saringan yang minimal. Pembaca muda dapat belajar bagaimana bijak berinternet melalui “Si Kembar dan Tantangan Profesor Haydar”.

3. Belajar bagaimana berpuasa dengan benar

Dalam benak hati, mungkin si kembar menafikan argumen bahwa puasa melanggar hak asasi manusia. Ada banyak faktor yang memicu mereka menyetujui argumen tersebut, salah satunya adalah sulitnya mereka berpuasa karena kerap merasa lemas dan lapar saat berpuasa.

Setelah digali, ternyata di kembar dan keluarga berpuasa dengan cara yang salah. Padahal, disarankan untuk makan kurma dengan jumlah ganjil saat sahur dan berbuka puasa. Memilih makanan sahur yang salah bisa menyebabkan badan lemas dan mudah lapar.

Saat berbuka puasa pun disunnahkan mengkonsumsi kurma terlebih dahulu untuk menghindari lonjakan glukosa di dalam tubuh. Ini sudah ada penelitiannya, lho! Berbuka puasa dengan cara yang salah malah dapat mengacaukan metabolisme tubuh.

4. Memunculkan semangat untuk menuntut ilmu agama

Seberapa sering kamu menyisihkan waktumu untuk menuntut ilmu agama padahal itu adalah panduan hidupmu dan akan memberikan manfaat saat waktu kita sudah usai?

Pemahaman kita yang salah akan hidup disebabkan oleh minimnya ilmu agama yang kita pahami. Sama seperti si kembar. Anggapan berpuasa merupakan pelanggaran HAM berangkat dari ketidakfahaman mengenai hikmah berpuasa.

Setelah perlahan mereka memahami puasa dari sudut agama, mereka pun merasa tidak tahu apa-apa soal agama. Buku “Si Kembar dan Tantangan Profesor Haydar” benar-benar menuuntun sisi kritis anak-anak dengan berbagai rentetat mengapa dan mengapa sehingga pembaca pun menjadi tertarik pula menuntut ilmu agama.

Tidak hanya untuk kebutuhan pribadi, secara tidak langsung si kembar ingin mengajak ayah dan ibu mereka untuk bersama-sama menuntut ilmu agama karena menyadari betapa pentingnya.

5. Berkomunikasi efektif

si kembar dan tantangan profesor haydar

Komunikasi efektif adalah satu skill yang harus dimiliki oleh semua orang, termasuk oleh anak-anak. Sayang banget kan kalau kita mau mengkomunikasikan hal baik kepada orang lain tapi harus mental karena kita tidak dapat berkomunikasi secara efektif.

Buku “Si Kembar dan Tantangan Profesor Haydar” akan mengajarkan pembaca bagaimana berkomunikasi efektif dari konflik antar tokoh yang terjadi. Bagaimana tipsnya?

Makanya baca donk, hehe

6. Belajar agar tidak menjadi orangtua toksik

Ini adalah poin yang menjadi refleksi saya pribadi sebagai pembaca dewasa. Lewat hubungan interpersonal antara si kembar dan orangtua, saya berusaha mengevaluasi diri sendiri. Apakah selama ini saya sudah cukup mendengarkan anak? Apakah selama ini saya tidak mengedepankan keinginan semata tanpa memperhatikan kondisi anak?

“Si Kembar dan Tantangan Profesor Haydar” sebagai sebuah buku

si kembar dan tantangan profesor haydar

Jujur saja, awalnya saya membeli buku ini karena ingin mengapresiasi hasil karya teman saya, kaka Reytia (punteun, Rey wkwk). Setelah membaca buku, opini saya sama sekali berubah. Saya merasa buku “Si Kembar dan Tantangan Profesor Haydar” ini perlu dibaca oleh generasi muda Islam juga para orangtuanya.

Gaya berceritanya yang tidak berbelit-belit dan berterus terang dengan berbagai irisan konflik interpersonal membuat buku ini cocok dibaca oleh pembaca muda termasuk anak SD yang sudah lancar membaca. Tiap bab tidak panjang dan total halaman buku ini juga sekitar 150-an lebar sehingga buku ini membuat mereka mudah mengkonsumsi serta menjadi bacaan ringan penuh kontemplasi sekaligus menjadi hiburan bagi kita yang orangtua. Bahkan bagi pembaca cepat, buku ini bisa sekali duduk saja.

Berhubung Hasan yang masih duduk di kelas 1 ini belum lancar membaca cepat, buku ini baru menjadi salah satu koleksi bukunya. Insya Allah tahun depan ia sudah bisa baca novel ini, amin.

Karena begitu terkesannya dengan “Si Kembar dan Tantangan Profesor Haydar”, saya sampai menulis tulisan ini dan mengeposnya di Instagram haha. Bahkan, saya juga memberikan ke saudara-saudara saya.

Bagaimana? Kamu juga tertarik? Bisa langsung hubungi pengarang ya, langsung googling nama Reytia. Bisa juga kontak ke saya, nanti dibantuin buat pesan.

Kenangan Si Merah: Dari Proletar Hingga Sekarang

11 komentar
“Aku liat koper kita yang ukuran medium udah pada ga layak semua. Satu yang Lojel roda udah getas dan berat banget, practically ga pernah digunain lagi sejak 2018. Satu lagi udah jelek retak dimana-mana. Tapi buat perjalanan pake mobil enak banget, bisa expandable terus muat banyak. Kita beli koper baru yuk buat gantiin yang Lojel!” Ajak saya beberapa minggu silam.

 

si merah

Formasi koper ala-kadarnya

Keluarga kami bukan model yang sering travelling kesana-kemari, jadi formasi koper kami pun rada pas-pasan. Pun, keuangan kami yang baru stabil beberapa tahun belakangan ini membuat kami juga tidak melakukan reformasi koper.

Koper yang kami gunakan saat berpergian ya koper-koper lama yang sudah rutin kami gunakan sebelum menikah. Saat menikah tahun 2014 hingga 2017 kami cuma memiliki dua koper.

si merah
Perjalanan Jombang - Yogya menggunakan KAI

Yang pertama adalah koper kain warna coklat merk Paviotti ukuran cabin (20”) punya saya yang sudah menemani sejak tahun 2009. Koper ini masih model jadul banget, lupakan roda double wheel 360o, koper ini masih dua roda maju-mundur saja haha. Penggunaannnya juga cenderung abusif, bahkan pernah menjadi koper kabin 11 kg (ups) akibat berisi dua bungkus salak bali saat perjalanan pesawat Bali - Jakarta pulang dari konferensi.

Kami menggunakan koper ini sampai resleting expandable dan bagian dalam yang untuk pembatas koper copot. Maklum lah, penggunaannya abusif. Karena sudah tidak layak lagi, akhirnya kami memberikan koper ini ke ART bulan April lalu karena suami yang hendak ke Prancis berniat membeli koper cabin disana saja. Bisa dapat Delsey lebih murah coy! 

Bayangkan, baru pensiun setelah 12 tahun pelayanan.

Yang kedua adalah koper hardcase warna oren jadul non-zipper super berat merk Lojel ukuran medium (24”). Sebut saja si oren. Karena modelnya jadul, jadi materialnya masih yang berat dan bulky banget, jadi cuma bisa diisi sedikit. Meski begitu, ini jadi koper bagasi yang paling bisa diandalkan. Namun dasar usia, setelah dibawa banyak perjalanan di 2018, roda koper ini getas dan karetnya patah satu per-satu. Alhasil koper ini mobilitasnya tidak enak sama sekali. Setelah tahun 2018 itu, koper ini tidak pernah digunakan kembali.

Sisanya kami menggunakan tas kain Miniso yang bisa dilipat dan dicantelkan di gagang koper untuk barang-barang tambahan kami. Sampai tas ini rusak saat dibawa suami Chiang Mai - Pattaya Oktober 2018.

Formasi koper kami baru bertambah saat perjalanan kami ke Singapura pada Desember 2017. Kami cuma pergi membawa 2 koper di atas beserta tas kain untuk membawa belanjaan saat pulang ke tanah air.

Namun, om suami yang melihat kami bawa tas kain lusuh malah prihatin haha. Akhirnya mendadak diberikan koper merah murah meriah ukuran medium agar barang-barang lebihan kami bisa dimasukkan ke koper tersebut. Sebut saja si merah. Maka bertambahlah formasi koper kami dan menjadi koper yang tidak pernah absen saat kami berpergian.

Formasi koper kami bertambah lagi saat suami hendak pergi ke Prancis, ia mendapatkan lungsuran koper ukuran besar (30”) Rimowa hitam. No comment lah sama si hitam ini. Pertama kali menggunakan koper borjuis, isinya malah takjub sama betapa ergonomis dan thoughtful desainnya. Mobilitasnya juga sudahlah, tidak usah dipertanyakan.

Saat melepaskan si koper merah pun tiba…

si merah

Loh, kan awalnya kami mau mengganti si oren, kok tiba-tiba malah si merah yang diganti? Padahal si merah ini masih berfungsi untuk perjalanan ke luar kota di Pulau Jawa menggunakan mobil.

Jadi begini, rencana awalnya kami hendak memberikan si oren ini ke orang lain, kemudian kami membeli koper hardcase non-zipper baru untuk menggantikan si oren. Bahkan saya mulai memikirkan merk apa untuk menggantikan koper lama. Karena koper besar Rimowa, koper kabin Delsey, jadi inginnya sih koper medium beda merek. Mungkin antara Lojel lagi atau Samsonite yang sekelasnya.
“Mendingan Samsonite atau Lojel ya? Ada yang punya testi atau komparasi dari keduanya?” Ketik saya di WAG ITBMH Jaktangsel.

Kemudian pikiran saya sempat lebih sadis, yakni membuang si oren! Pasalnya saat itu saya juga sedang memesan jasa Bberes (sekarang Jagatera) untuk mengeluarkan barang-barang tidak terpakai dari apartemen dahulu. Namun suami sangat berat hati. Dia masih ingin mereparasi koper ini. Seburuk-buruknya skenario ya memberikan si oren ini ke orang lain, ke saudara lebih tepatnya. Saya juga merasa agak sayang, mengingat ini Lojel dan cuma masalah roda saja. Kalaupun tukar si oren ya mendingan trade in, ada harganya.

Tiba-tiba teman saya di WAG ITBMH Jaktangsel ngetag saya soal info program Trade in koper dari Samsonite. Alhamdulillah rejeki, untung si oren belum dibuang!

Program Trade in Samsonite

si merah

Saya menonton Reels dari akun @jktgo. Tertulis bahwa hanya dengan menukarkan koper, kita bisa membeli Samsonite tipe Niar, Enwrap, dan Volant dengan potongan 40%. Kabarnya ini adalah kerjasama dengan WWF yang akan mendaur ulang bahan polycarbonate dari koper yang ditukarkan.

Potongannya besar banget untuk ukuran Samsonite, sampai hampir setengah harga. Saya anaknya suuzon, jadi mau mastiin dulu dengan cara DM ke IG @samsonite_indonesia. Ternyata promonya tidak fishy, murni potongan 40% dengan membawa koper hardcase lama ukuran apapun, merk apapun, dan KONDISI APAPUN.

Mengetahui ketentuan MERK APAPUN dan KONDISI APAPUN, yang awalnya mau menukarkan si oren malah berpindah hati untuk menukarkan si merah. Saat mau menukarkan si merah, saya tentu biasa saja. Namanya juga mau beli koper baru yang lebih bagus dan fungsional. Namun tiba-tiba anak sulung saya minta untuk berfoto bersama si merah dengan tatapan agak sendu.

Kenangan si Koper Merah

si merah
Super early flight JKT - SUB

Ternyata dia mellow. Perlu diketahui sebelumnya, si sulung memang anaknya sensitif, rada hoarder karena dia tipe sulit melepaskan barang, hehe.

Saat menatap si sulung bersama si merah dari layar ponsel, sejenak saya tertegun, mengingat perjalanan-perjalanan ke luar kota kami yang 90% dilakukan bersama si merah.

Si merah menemani perjalanan kami dari jaman masih proletar (baca: masih residensi) hingga perekonomian cukup stabil. Mulai dari perjalanan darat, udara, hingga laut. Perjalanan dalam negeri hingga luar negeri.

Meskipun murah meriah, koper ini enak banget karena super ringan dan bervolume besar karena bisa expandable. Otomatis koper ini menjadi koper wajib bawa di setiap perjalanan keluar kota kami.

Mulai dari traveliving 2018, yakni rentetan perjalanan saya, suami, dan anak sulung kami keluar kota dengan durasi satu bulan di tiap kotanya. Sudah jelas bawaan bertiga dengan balita untuk waktu sebulan cukup banyak. Dengan menggulung pakaian seperti metode konmari, kami bisa hanya membawa tiga koper saja saat traveliving dan itu sudah termasuk beberapa buku dan mainan si sulung.

Kami melakukan traveliving pada tahun 2018 karena sepanjang tahun itu beberapa kali suami saya harus melakukan stase luar kota di tahun keempatnya sebagai residensi bedah tulang. Mumpung Hasan belum sekolah dan agar tidak terpisah terlalu lama, kami mengusahakan agar kami tetap bisa bareng-bareng saat suami mendapatkan jatah residensi luar kota tersebut.

Sekalian jalan-jalan juga donk, sebulan gitu, bisa dapat banyak haha.

Setelah 2018, perjalanan keluar kota kami terhenti akibat pandemi. Setelah pandemi agak mereda sedikit. Barulah kami pelan-pelan melakukan perjalanan keluar kota kembali. Pada saat menggunakan si merah kembali, anggota keluarga kami dari yang hanya bertiga kini membengkak menjadi berlima!

Saat sudah berlima, memang paling enak membawa si merah turut serta. Misalnya saat perjalanan kami ke Solo-Semarang Juli lalu selama 4 hari 3 malam, kami hanya membawa si merah dan satu tas kain. Terakhir saat kami ke Bandung September ini dengan durasi menginap yang sama, kami hanya membawa si merah saja bahkan! Sisanya tentengan-tentengan kecil yang berisi ransum.

si merah
Solo, 2022

Si merah juga sudah menempuh perjalanan darat, laut, dan udara.

Salah satu perjalan udara berkesan saat kami bertiga traveliving ke Chiang Mai tahun 2018. Pasalnya, kami tidak hanya membawa baju, mainan, dan buku Hasan saja, tetapi juga peralatan masak dan ransum dasar! Kami sampai membawa kompor listrik, panci, happy call, pisau, hingga piring dan alat makan. Untuk ransum dasar kami membawa beras sedikit, frozen nugget, bumbu basah, bumbu kering, hingga garam-gula.

Maklum, kami hanya menginap di penginapan yang tidak ada dapur. Sebagai sarana berhemat tentu akan lebih untung dan mudah jika memasak sendiri.

si merah
Flight JKT - BKK - CNX


Saat ke Chiang Mai, kami hanya membawa 3 koper. Koper jadul besar pinjaman yang berisi seluruh baju kami, peralatan masak dan ransum di si merah, serta barang tambahan di koper kabin. Saat pulang, komper listrik kami tinggalkan. Sebagai gantinya, si merah berisi barang jastipan Thailand saya haha.

Si merah juga menjadi koper pilihan kami saat berwisata ke Pulau Tidung selama dua hari satu malam bersama keluarga besar. Sebenarnya secara ukuran si oren lebih enak dibawa. Namun mengingat bobotnya yang berat, akhirnya kami memilih si merah. Kami bakal naik-turun kapal, pasti kami berusaha membawa koper yang enak diangkut.

Perpisahan akhirnya tiba

Dimana ada pertemuan, disana ada perpisahan. Si sulung yang sedari sampai di toko geret-geret si merah terus, kini harus menyerahkan ke pegawai toko. Setelah si merah dicek sudah kosong dan saya sendiri mengecek koper baru (Let's call it si glossy), serah terima pun terjadi.

Terima kasih si merah telah, menemani perjalanan-perjalanan keluarga kami. Meski kehadirannya sangat singkat, yakni cuma 5 tahun, namun pengalaman yang diberikan cukup berkesan dan memuaskan.

si merah

Si merah, you've done your job well. Happy Good recycle!


Kesetaraan OYPMK di Momen Kemerdekaan Ini

18 komentar
Apa yang terbayang di benakmu jika mendengar penyakit kusta? Penyandang kusta? Saatnya mengakui kesetaraan OYPMK!

“Uhh, penyakit kampung, ga mau dekat-dekat ah. Takut menular.” Begitu kata sebagian besar masyarakat

kesetaraan oypmk

Faktanya, meski kita merasakan semangat kemerdekaan membuncah di benak pada bulan Agustus, Orang yang Pernah Mengalami Kusta (OYMPK) masih merasa terkekang dan terdiskriminasi. Sebagian besar dari kita banyak menganggap remeh OYPMK. Pun, topik tentang kusta ini terkesan tidak menarik untuk dibahas. Selain mendapat perlakuan kurang enak di tengah masyarakat, OYPMK juga kerap  sulit mendapat perkerjaan di perusahaan. Mereka mendapatkan stigma tidak enak, padahal OYPMK yang sudah mengalami pengobatan teratur dan sudah sembuh tidak ada bedanya dengan orang biasa, mereka bisa berfungsi maksimal layaknya orang normal.

OYPMK memang dikategorikan sebagai difabel karena karakteristik dari penyakit kusta itu sendiri yang membuat bagian tubuh diamputasi jika tidak ditangani lebih awal dan tuntas. Namun, jika OYPMK berobat dini dan menyelesaikan medikasi hingga tuntas tanpa ada bagian tubuh yang harus diamputasi, mereka termasuk OYPMK yang bukan difabel.

Untuk menjawab ketimpangan stigma ini, KBR mengadakan talkshow yang bertajuk “Makna Kemerdekaan bagi OYPMK, Seperti Apa?” dengan dua narasumber yang hebat dan dimoderatori oleh Rizal Wijaya. Diharapkan talkshow ini menjadi sarana edukasi kusta bagi masyarakat luas.

Narasumber pertama adalah Dr. Mimi Mariani Lusli yang merupakan direktur Mimi Instutute. Keadaannya yang tunanetra tidak menghalangi Dr. Mimi untuk meraih mimpinya. Beliau menyandang dua gelar master dari Universitas Indonesia dan University of Leeds. Berawal dari keprihatinannya terhadap anak-anak tunanetra yang memiliki keterbatasan kesempatan, ia mendirikan Mimi Institute pada tahun 2009. Lembaga ini merupakan badan konseling bagi difabel yang juga mensosialisasikan isu kecacatan kepada masyarakat umum agar anak-anak berkebutuhan khusus tidak mendapat perlakuan diskriminasi.

kesetaraan oypmk
Sumber: Mimi Institute

Narasumber berikutnya tidak kalah hebat adalah Marsinah Dhedhe, OYMPK yang juga merupakan aktivis wanita dan difabel. Ia sudah mengalami disabilitas sebelum terkena bakteri kusta, Mycobacterium leprae.

Perempuan yang akrab disapa Dhedhe ini membagikan kisahnya yang membuat pendengar trenyuh. Saat ia terinfeksi bakteri kusta, Dhedhe rutin berobat dengan mendapatkan suntikan tiap hari Jumat. Namum semesta sempat kurang berpihak padanya. Ia mendapat perlakuan diskriminasi dari sekolah akibat sang guru memintanya untuk pulang. Mungkin, Dhedhe adalah salah satu OYPMK yang beruntung karena memiliki support system yang mendukung. Akibat perlakuan kurang menyenangkan ini, sang ayah datang ke sekolah untuk mengecam perlakuan sekolah, bahkan sampai membawa senjata!

Tidak ingin OYPMK merasakah hal yang sama seperti yang ia rasakan, Dhedhe semangat untuk mengkampanyekan kesetaraan OYPMK kepada  masyarakat untuk mengubah stigma negatif ini.

OYPMK di mata hukum

kesetaraan oypmk

Ternyata, kesetaraan OYPMK juga dipayungi oleh hukum agar mereka tidak mendapat perlakuan diskriminasi di tempat kerja. Perusahaan setidaknya  harus menerima pegawai dengan disabilitias minimal sebesar 2%. Hal ini sesuai dengan yang tertuang di Undang-undang Nomor 8 tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas yang berbunyi:

Pasal 53 ayat 1:
Pemerintah pusat, pemerintah daerah, BUMN, dan BUMD wajib memperkerjakan penyandang disabilitas paling sedikit 2 persen dari jumlah pegawai atau pekerja.

Pasal 53 ayat 2:
Perusahaan swasta wajib memperkerjakan paling sedikit 1 persen penyandang disabilitas dari jumlah pegawai atau pekerja.

Dengan demikian, jika OYPMK dan penyandang disabilitas lainnya dapat mengadukan ke lembaga hukum jika mendapat perlakuan diskriminasi dari perusahaan tempat mereka bekerja.

Kamu OYPMK? Jangan khawatir!

kesetaraan oypmk

OYPMK tidak perlu minder dan berkecil hati karena penyakit kusta bukanlah kutukan. Bakteri kusta layaknya bakteri lain, jika diobati dengan telaten, maka akan sembuh. OYPMK mungkin pede dengan keadaannya, namun tidak dengan keadaan sekitar. Beberapa hal yang bisa OYPMK lakukan saat sudah sembuh agar mendapatkan kesetaraan OYPMK:

1. Keluarga menjadi support system utama

Dhedhe menjelaskan bahwa rasa percaya diri adalah hal yang paling penting dimiliki untuk mendapatkan kesetaraan OYPMK. Keluarga sebagai support system utama juga harus saling menguatkan. Dari keluarga pula OYPMK semakin berani untuk menghadapi dunia yang diskriminatif.

2. Bersosialisi dengan masyarakat

Stigma negatif terhadap OYPMK memang masih tidak dapat dihindari. Mau tidak mau, OYPMK lah yang harus mendekati masyarakat. Speak up, memberikan pengertian serta edukasi kepada masyarakat dengan gencar. Buktikan kalau kesetaraan OYPMK itu harus dinormalisasi di masyarakat umum.

Komunitas kusta masih berjumlah sedikit, namun jika saling bahu-membahu dan aktif menyuarakan tentang kusta, diharapkan bentuk diskriminasi masyarakat luas terhadap OYPMK dan difabel berkurang sehingga lebih melibatkan mereka di berbagai sendi kehidupan.

3. Afirmasi positif di tempat kerja

Meski ada testimoni OYPMK yang memiliki cerita positif di tempat kerjanya, ternyata masih ada OYPMK yang tidak seberuntung itu. Pak Irwan dari Makassar menuturkan kisah OYPMK di lingkungannya yang banyak mendapatkan tekanan mental bahkan berujung depresi akibat mereka tidak dapat berkerja kembali menghidupi keluarganya.

Seharusnya bulan kemerdekaan ini menjadi momen mendapatkan kesetaraan OYPMK agar semakin giat berkarya tanpa ada hambatan akibat stigma negatif kusta yang melekat. Pun, kita sebagai masyarakat yang sadar harus membantu menghilangkan stigma negatif kepada OYPMK tersebut.

4. Mengutamakan pendidikan

Banyak OYPMK yang menarik diri dari sendi kehidupan seperti berhenti menempuh pendidikan saat didiagnosa terinfeksi bakteri kusta. Padahal, kemungkinan kusta menular SANGAT SULIT. Pun, saat sudah sembuh total pun para OYPMK banyak yang menerima perlakuan tidak adil.

Stigma negatif OYPMK berhenti di kamu

Sudah saatnya OYPMK hidup dengan normal layaknya manusia biasanya. Tidak ada yang salah dengan OYPMK, yang berbeda hanya mereka pernah terinfeksi oleh bakteri kusta. Tidak ada alasan untuk menjauhi mereka. Sulit sekali tertular kusta dari mereka, apalagi jika sudah sembuh total.

Mari maknai momen kemerdekaan ini sebagai kemerdekaan dan kesetaraan OYPMK untuk terus berkarya, bersosialisasi, dan menempuh pendidikan dengan layak.

Hindari 3 Kesalahan Ini dalam Membangun Personal Brand Blogger

13 komentar
“Saya diundang jadi pembicara suatu konferensi nih. Bisa saja kesempatan ini saya berikan ke orang lain. Tapi ternyata orang tersebut tidak bisa karena cuma saya yang bisa melakukannya. Jadilah entitas unik yang tidak terlupakan.” ujar mantan atasan saya di sebuah lingkup akademisi beberapa tahun silam.

personal brand blogger

Saya pernah menjadi asisten peneliti di sebuah Universitas Negeri di Bogor selama hampir 2 tahun. Dalam hanya waktu sesingkat itu, saya sangat terkesan dengan mantan atasan saya saat itu.

Mantan atasan saya adalah tipe orang yang senang ngobrol dan kerap mendorong “anak bimbingannya” untuk terus maju. Dengan segala kerendahan hatinya, Ia juga senang bercerita tentang kisah pribadinya Mayoritas yang mendengarnya akan merasa terinspirasi.

Setelah terjun ke dunia blog dan sosial media, baru saya ketahui nasihat mantan atasan saya tersebut adalah soal personal branding agar membentuk diri memiliki personal brand blogger yang tidak terlupakan.

“Personal brand adalah apa yang orang pikiran tentang kamu setelah bertemu secara langsung atau dengan hanya mencari nama kamu di internet. Personal branding adalah apa yang kamu lakukan untuk membuat personal brand kamu menguntungkan.” Tekan Coach Muqiet

Sayangnya, banyak blogger yang melakukan kesalahan saat sedang membentuk personal brand blogger mereka. Jangan sampai kemampuan kita sebagai seorang blogger tersia-siakan karena gagal membentuk personal brand yang tepat.

3 kesalahan utama saat membangun personal brand blogger

personal brand blogger

Personal branding bisa dipelajari dimana saja dan sudah menjadi hal yang umum di dunia digital ini. Namun, ternyata tetap banyak blogger yang melakukan kesalahan dalam personal branding di dunia maya. Menurut Coach Muqiet, ada 3 kesalahan terbesar dalam membangun personal brand yang kerap tidak disadari!

1. Tanpa kisah diri

Bayangkan, jika tiba-tiba ada seseorang yang mendekatimu kemudian tanpa tedeng aling-aling langsung menawarkan produk, apa yang kamu rasakan? Terganggu pastinya.

Dalam ilmu psikologi, menceritakan kisah diri apalagi jika objek kita memiliki kesamaan pengalaman akan membangun rapport atau kedekatan. Jika rapport terbentuk maka akan semakin mudah mempengaruhi pembaca blog. Kisah diri yang dikemas dengan baik dapat membuat personal brand blogger kita menjadi sangat berkesan bahkan tidak terlupakan.

2. Tanpa value

Jadilah blogger yang memiliki nilai unik dan solid. Blogger ada banyak, tapi value yang kita usung lah yang membuat kita menjadi selalu dicari-cari.

Saya membentuk personal brand blogger dengan kualitas situs bagus, rangkaian tulisan yang memikat, dan mampu menyediakan sudut pandang teknis dengan bahasa awam karena saya yakin tidak banyak blogger yang sekaligus seorang (mantan) akademis.

3. Tanpa identitas

Di jaman serba elektronik ini, bukan sebuah rahasia kalau apa-apa kita bergantung kepada Google. Public Relation sebuah perusahaan menyaring kandidatnya berdasarkan sosial media. Faktanya, 1 milyar nama dicari tiap hari melalui Google dan 65% orang percaya dengan hasil yang mereka temukan di internet.

Pastikan kita memiliki sosial media yang mewakili identitas personal brand blogger. Sosial media bagaikan portfolio seorang blogger yang menceritakan hasil pekerjaan dan menyediakan identitas personal yang kredibel. Personal brand blogger yang kuat dan terpercaya akan membuat identitas kita menjadi dapat diakses publik kapan pun.

Untuk melakukan riset kecil soal personal brand blogger, kamu bisa mencari nama lengkapmu atau bahkan melekatkan profesi di samping nama di Google. Misal, saya bisa mencari “Zeneth Ayesha Thobarony” atau bahkan “Blogger Zeneth Ayesha Thobarony” di Google.

Puaskah saya dengan hasilnya?

Bantu Personal brand-mu dengan PamerBio


personal brand blogger


Efisiensi adalah melakukan hal baik, efektif adalah melakukan hal baik dengan benar - Peter F. Drucker

Dalam melakukan personal branding diperlukan strategi agar apa yang kita lakukan efektif. Jangan sampai kemampuan dan kualitas diri kita sia-sia hanya karena kita tidak dapat melakukan personal branding yang tepat.

Jika ada klien yang tertarik ingin mengetahui kita sebagai blogger lebih jauh, halaman mana yang akan kita tunjukkan ke calon klien?

personal brand blogger

PamerBio adalah aplikasi pemasaran online yang dapat membantu merepresentasikan diri kita di dunia jagat maya. Uniknya, PamerBio menyediakan aplikasi pameran online yang menyediakan fitur kustomisasi tanpa batas. Lupakan situs landing page membosankan lainnya. Kita dapat mengutak-atik apa saja yang ditampilkan mulai dari jenis huruf, warna huruf, hingga warna latar belakang.

PamerBio juga menyediakan berbagai pilihan domain premium dan menyediakan fitur kustomisasi lebih melimpah untuk mendukung personal brand blogger. Jangan khawatir, harga premium yang ditawarkan PamerBio juga sangat terjangkau!

Ini contoh landing page PamerBio aku.

Tertarik menggunakan PamerBio untuk personal brand bloggermu?

The Archipelago Writer's Circle, Banyak Kisah Hangat Dibalik Cara Menulis Creative Writing

26 komentar
“Ini adikku ada disini” ujar Ahmet sembari menunjukkan jarinya ke gambar laut saat menjelaskan tentang keluarganya saat proses pengungsian dari Suriah terjadi (The Boy at the Back of the Class - Onjali Q. Rauf).


Akhir bulan Juni, tepatnya Rabu, 29 Mei 2022, saya menghadiri Writer’s Circle yang diselenggarakan oleh The Archipelago, sebuah media luring komunitas internasional yang memberikan perspektif segar soal migrasi, penjajahan, dan isu pengungsi. Tidak hanya berisi tentang tulisan monoton, The Archipelago juga menghimpun tulisan berupa artikel, puisi, memoir, fiksi, hingga karya seni. Penulis dan pengarang berasal dari berbagai negara sehingga memberikan kita cerita dan sudut pandang yang mungkin belum pernah terbayangkan selama ini.

cara menulis creative writing


Mungkin pertemuan saya dengan The Archipelago seperti untaian takdir. Tiba-tiba saya melihat postingan The Archipelago (@archipelago_mag) di kanal sponsored feed saya dan hati saya tergerak untuk mengklik akun @archipelago_mag.

“Wah menarik nih, kanal media internasional yang isinya banyak menekankan soal keberagaman. Isu refugee?” ujar saya dalam hati.

Karena penasaran, maka saya semakin mengeksplorasi postingan @archipelago yang lain. Sampai akhirnya perhatian saya tertuju kepada postingan soal Writer’s Circle yang akan diadakan secara luring dan akan memberikan semacam mini workshop mengenai bagaimana menulis agar tulisan kita lebih menggugah pembaca, atau impactful writing. Tanpa pikir panjang, saya langsung mendaftar di situs terkait dengan harapan mendapatkan umpan balik positif.

Tidak sampai seminggu berselang, saya mendapatkan surel balasan! Saya diminta untuk mencantumkan contoh tulisan saya yang menjelaskan apa yang menginspirasi saya untuk tetap menulis. Intinya, saya menjelaskan bahwa saya "iri" dengan suami yang dokter. Setidaknya, sepanjang karirnya ia akan memberikan manfaat kepada orang lain. Lantas bagaimana dengan saya? Memanfaatkan kegemaran saya akan menulis sebagai wadah penyaluran pikiran saya yang ribut, saya berusaha membuat tulisan saya sebagai amal jariyah yang bisa bermanfaat bagi banyak orang.


Meski nantinya banyak tulisan saya yang memberikan kucuran dana ke dompet. But, it’s not the focus, it’s just the side effect I gain.

The Archipelago Writer's Circle

Alhamdulillah, dua hari setelah saya mengirimkan contoh tulisan, saya mendapatkan email balasan bahwa saya diterima untuk bergabung di acara The Archipelago Writer’s Circle. Yeey! Warsan Weedhsan, selaku salah satu co-founder The Archipelago menghubungi saya via WA dan berkonsolidasi soal kapan acara dilaksanakan.

Acara diadakan di D Hotel, Manggarai. Posisi yang sangat strategis karena dekat dengan rel kereta api dan jalur Trans Jakarta. Bagi saya juga posisi ini tidak terlalu jauh bagi saya karena relatif terjangkau dari rumah.

cara menulis creative writing
Sumber: Agoda

Saya membawa anak kedua yang berusia 3 tahun bersama. Ada perasaan deg-degan sebelum beranjak dari mobil.

“Siapa orang-orang asing yang akan saya temui nanti, apakah saya bisa berbaur?” tanya saya dalam hati. My introverted soul has just arised!

Dengan memantapkan langkah, saya naik ke lantai dua dimana pertemuan diadakan. Wow, there’s a lot of race and we speak English to each other. Perawakan kita berbeda-beda, warna kulit beraneka ragam, dan bahasa yang digunakan juga bervariasi. Bahkan, ada beberapa bahasa yang tidak akan pernah kamu dengar sebelumnya.

Wow, that’s a lot of language I hear in just one desk.”, pekik Eduard Lazarus, seorang Jurnalis, penulis, dan Editor yang juga menjadi penerjemah bagi The Archipelago Mag.

Acara dimulai dari jam 11 dan dibagi menjadi 2 sesi. Sesi pertama berupa perkenalan dan sesi kedua berupa mini workshop.

Sesi 1: Buah apakah kamu?

cara menulis creative writing

Di sebuah ruangan berukuran menengah dengan wallpaper coklat jadul, meja disusun berbentuk U sehingga kami dapat melihat satu sama lain. Warsan yang bertindak sebagai MC meminta kami untuk memperkenalkan diri secara berurutan. Uniknya, kami disuruh untuk memilih satu buah favorit yang merepresentasikan diri masing-masing.

Saya mendengar banyak buah, mulai dari kurma, durian, mangga, semangka, hingga buah yang tidak pernah dengar karena (katanya) merupakan buah khas di negaranya. Sejujurnya saya bingung harus memilih apa, akhirnya saya memilih Buah Naga yang sekaligus buah favorit si sulung. Saya pun mendeskripsikan diri saya seperti Buah Naga, like Dragon Fruit which have different appearance apart the skin and the fruit itself, I’m kinda unexpected!

cara menulis creative writing
Setelah semuanya memperkenalkan diri, Warsan dan Kieren Kresevic Salazar sebagai co-founder dari The Archipelago Mag menjelaskan secara singkat mengenai The Archipelago dan bagaimana media ini memberdayakan semua orang dengan menitikberatkan keberagaman. Di ruangan tersebut saya banyak bersama para pengungsi (refugee) mulai dari Afghanistan, Somalia, dan beberapa negara konflik lainnya. Meski banyak pengungsi, tapi mereka tidak ingin dikenal sebagai seorang pengungsi yang rapuh.

“We’re not the refugee media, we just write about refugee and other thing”, tekan Warsan

Acara Writer’s Circle ini juga dihadiri oleh penulis Indonesia seperti Rain Chudori dan Awi Chin, editor seperti Eduardus Lazarus, serta tamu spesial Dr. Beth Yap yang merupakan penulis Malaysia-Australia.

Sesi 1 diakhiri dan masuk ke jam istirahat dimana kita bisa Sholat dan makan siang. Mushola ada di sebelah ruang pertemuan dan hall prasmanan untuk makan siang di lantai yang sama pula. 

Sesi 2: Your heart full of heartwarming stories

cara menulis creative writing

Setelah makan siang dan sholat, saya kembali masuk ke ruangan pertemuan. Kaget, ternyata meja sudah disusun ulang menjadi tiga grup kecil. Ternyata akan dilangsungkan mini workshop yang akan dipandu oleh penulis tamu. Dua meja lain dipandu oleh Rain Chudori dan Awi Chin serta Kieren dan Eduard Lazarus. Saya dan 5 rekan lain: Mozhdeh, Sakina, Taher, Rabia, dan Mariza, kebetulan berkesempatan dibimbing langsung oleh Dr. Beth Yahp yang dengan kerendahan hatinya rela terbang dari Australia ke Indonesia. Beliau merupakan seorang dosen menulis kreatif di salah satu University of Sydney dan memenangkan beberapa penghargaan sebagai penulis dan editor.

Ketimbang menggurui, saya senang dengan tone sederhana yang diajarkan oleh Dr. Beth, Ia memulai dengan cerita personalnya yang membuat kami merasa lebih dekat dengannya.

“Saya lahir dan besar di Johor Bahru, sebuah kota yang sangat dekat dengan Singapura. Ayah saya suku Cina dan Ibu punya darah Thailand. Anehnya, saya tidak bisa bahasa Cina sama sekali, hanya bahasa Inggris dan melayu pada saat itu.” Cerita Dr. Beth.

Sebagai seorang perempuan yang bukan merupakan warga asli tempat tinggalnya sekarang, Dr. Beth mengalami diskriminasi meski ia tinggal dan berkarya di sebuah negara yang katanya maju itu. Bagaimana bisa seorang yang tidak bisa berbahasa Inggris dari lahir, bukan warga negara asli, dan seorang perempuan bisa menjadi seorang pengajar di jurusan Bahasa Inggris di sebuah universitas ternama? Tapi Dr. Beth datang di waktu yang tepat. Pada saat itu, fakultas tempat ia bekerja sekarang sedang memiliki proyek penelitian kebudayaan dan sastra ASEAN sehingga menempatkan ia sebagai orang yang tepat di fakultas.

Melalui layar laptop, kami diajarkan bagaimana teknik-teknik menulis kreatif sehingga membuat para pembaca mendapatkan pesan dari apa yang ingin disampaikan oleh penulis. Dalam menulis kreatif juga harus memaksimalkan kelima indra yang dipunya: penglihatan, pendengaran, sentuhan, pengecap, dan pembau. Bahkan, ternyata ada indera keenam yang harus dimaksimalkan agar pembaca seolah-olah sedang berada di imaji yang dibentuk oleh penulis. Indera tersebut adalah menerjemahkan indera lain ke dalam perasaan.

“Coba lihat ruangan ini, kamu bisa lihat ruangan ini berwarna coklat, apa yang kamu rasakan?” tanya Dr. Beth.
Murky” jawab saya, “Because this room uses brown old school wallpaper and is not bright as it can be.

cara menulis creative writing
Mini workshop ini tidak berjalan searah, kami semua melakukan diskusi dua arah. Setelah materi selesai diberikan, Dr. Beth meminta kami menuliskan di kertas mengenai salah satu tempat yang membuat kami bahagia. Sembari kami menuliskan cerita di secarik kertas, Dr. Beth sembari menginstruksikan hal-hal mengenai indera kami sehingga kami dapat mengadopsinya dan mendeskripsikan di dalam tulisan kami.

“Siapa yang membuat kamu bahagia. Mengapa kamu senang berada di sana. Bagaimana kamu melihat tempat tersebut. Bau apa yang dapat kamu ingat saat berada di sana. Perasaan apa yang kamu rasakan selama disana.” Rinci Dr. Beth.

Kami pun menulis cerita versi kami masing-masing. Sebelumnya Dr. Beth juga sudah menyarankan agar kami jangan terlalu banyak berpikir saat menulis cerita tersebut. Langsung tulis apa yang langsung terbayang di benak. Tidak disangka, kami berhasil menuliskan cerita tentang tempat yang membuat kami bahagia dalam 2,3 hingga ada yang 4 lembar kertas.

Well, congratulations to you all! Since you write this in your second language, not you are born with, it must be hard for you. I myself am not sure can do it in a fast way like you”, puji Dr. Beth.

Dr. Beth pun meminta kami membacakan cerita kami satu persatu. Tidak hanya mendengar, kami juga diminta untuk memberikan opini terhadap cerita rekan kami.

Saya tidak menyangka, betapa hangatnya mendengarkan 5 gaya tulisan yang saling berbeda dengan pandangan memori masing-masing. Ada yang mengutarakan dengan gaya yang aneh tapi unik, ada yang punya sisi humor sangat bagus, hingga ada juga yang seperti cerita dongeng.

You describe the place in your story very accurately and feel alive. Your story is moving, I guess you must be a good writer when it comes to fiction.” saran Mozhdeh mengomentari cerita saya

Saya seperti merasa wow. Maksudnya, seumur-umur tidak pernah terbersit di pikiran untuk menulis cerita fiksi. Saya hanya tertarik untuk menulis cerita non-fiksi dan pengalaman saja, seperti yang saya tulis di blog saya ini. Well, mungkin saya harus mencoba kapan-kapan menulis cerita pendek?


Setelah kami semua membacakan cerita kami, Warsan menginstruksikan bahwa waktu tinggal setengah jam lagi. Sembari menyodorkan biskuit di meja, Dr. Beth menawarkan apakah ingin mempelajari materi lagi atau ingin berdiskusi saja. Serempak kami menjawab ingin berdiskusi. Setelah mengambil snack dan kopi di meja seberang, kami berdiskusi tentang banyak hal. Tidak hanya perihal menulis, tetapi juga tentang cerita hidup.

“Saya punya blog dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, tapi setelah saya baca keduanya, saya seperti memiiki dua kepribadian berbeda dalam tulisan tersebut. Kepribadian dalam tulisan bahasa Indonesia, dan kepribadian dalam tulisan bahasa Inggris.” Tanya saya penasaran.

Setelah sesi mini workshop selesai, Warsan mengedarkan kertas survei, menutup acara dan mengajak kami semua berfoto bersama.

An impecable experience!

cara menulis creative writing


Selain anak tengah saya yang beberapa kali terdengar minta segera pulang, siang itu berkesan sekali. Saya tidak hanya belajar hal baru, tapi juga mengenal orang baru, mendengar cerita baru, hingga mengetahui hal trivial seperti ternyata orang Afghanistan bahasanya bukan Arab.

Saya sadar betul, dalam satu ruangan tersebut banyak teman-teman pengungsi yang berasal dari puluh ribu kilometer jauhnya dari kota ini. Saya yang dari kecil hingga sekarang hidup dengan damai dan bahagia berbeda de nga beberapa dari mereka yang terpaksa mengalami suasana yang mencekam hingga terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka. Bahkan, beberapa dari mereka sempat merasakan hidup yang nyaman sampai satu waktu situasi politik memanas sehingga mereka terusir dan meninggalkan kehidupan nyaman mereka.

Saya sendiri sebenarnya sadar bahwa Indonesia kedatangan pengungsi dari negara krisis. Saya kerap membacanya beberapa kali di media daring dan cetak. Tapi berita tentang pengungsi ini sangat jarang. Kehadiran teman-teman pengungsi yang dari berbagai latar belakang dan negara membuat saya sadar ternyata banyak teman-teman pengungsi yang harus menempuh jalan hidup keras, tinggal di negara baru, belajar tekun bahasa Inggris dan bahasa Indonesia, hingga setengah mati berjuang agar dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Setelah saya membaca buku The Boy at the Back of the Class karya Onjali Q. Rauf, saya terbayang sekaligus penasaran untuk mengetahui cerita pahit yang membawa mereka ke Indonesia. Tapi, saya tahu saya tidak pantas menanyakan hal tersebut. Biarlah itu menjadi cerita mereka sampai mereka bersedia menceritakannya kepada orang lain.

Ingat kutipan buku tentang pengalaman sang anak Suriah yang menunjukan adiknya ada di gambar laut?


*Rekomendasi Buku

Tamu-tamu spesial di The Archipelago Writer’s Circle ini saat memperkenalkan diri di sesi pertama menunjukkan buku-buku karangan mereka. Berikut saya sertakan judul buku mereka, siapa tahu kamu tertarik membacanya.

  • Eat First, Talk Later - Dr. Beth Yahp. Sebuah cerita heart-waming tentang orang tuanya yang berbeda latar belakang tapi sangat hangat.
cara menulis creative writing
Sumber: Goodreads

  • Rain Chudori - Imaginary City. Cerita sentimentil seorang wanita yang mengunjungi kembali kota dimana dia berasal dan mengalami hal-hal yang membuat ia terkenang.
  • cara menulis creative writing