Langsung ke konten utama

Antusiasme Film Jerman dan Korea

Dreileben: 3 kehidupan
Di minggu yang berturut-turut, Jerman dan Korea yang mungkin sebagai bentuk persahabatannya dengan Indonesia mengadakan Fetival Film. Festival Film Jerman diadakan untuk kedua kalinya pada tanggal 20 - 27 Juni 2013 di Bioskop Blitz Megaplex berberapa kota di Indonesia. Festival Film Korea diadakan bertepatan dengan momentum 40 tahun hubungan diplomatik antara Korea dan Indonesia. Festival ini dimulai pada tanggal 25 Juni sebagai opening dan 26 - 30 Juni 2013 untuk screening. Sama halnya dengan Festival Film Jerman, Festival Film Korea diadakan di Bioskop Blitz Megaplex. Memang tampaknya bioskop Blitz ini satu-satunya bioskop yang bisa berkecimpung di area indie ya.


Berbagai film-film lokal menarik dan beberapa dinominasikan atau bahkan pemenang dari berbagai festival film lokal. Berhubung saya tinggal di Bandung, saya mengecek jadwal untuk area Bandung. Ada 2 hari. Berhubung betapa cintanya saya kepada Jerman, saya pun bahkan berniat menonton lebih dari satu film dalam sehari :D. Tapi apa mau dikata, takdir berkata lain. Disebabkan oleh urusan tesis yang aral melintang dan tak kian ada ujung, saya batal memenuhi target saya. Pada akhirnya saya hanya menonton satu film di hari Minggu, yaitu Dreileben trilogi kedua: Komm Mir Nich Nach (Jangan Cari Aku). Ini pun sempat nonton gara-gara udah stres berat gara-gara harus revisi Tesis yang harus dijilid. Sesudah menjilid tesis di bilangan Dipati Ukur. Serandom itu makanya langsung menuju ke Blitz Megaplex Paris Van Java. Film dimulai pukul 17.00 dan saya baru sampai pukul 16.55. Ternyata tiket masih ada beberapa, tidak disangka. Berhubung tidak ada penomoran kursi, jadi penonton mengantri panjang di depan studio. Panjang, namun quite reasonable. Penonton boleh masuk lebih dari pukul 17.00. Sesampai semua sudah duduk manis di studio, sebelum film dimulai ada seorang frau yang menyapa dalam bahasa Jerman (tidak, orang Indonesia kok :D) memberi salam dan menjelaskan sedikit resensi dari film ini. Otomatis film pun baru dimulai pukul setengah 6 kurang. Cukup molor.

Buku Acara dan Tiket
Film ini bercerita tentang seorang psikolog polis, Johanna yang ditungaskan untuk melacak jejak Patrik Molesch, seorang pelaku kejahatan seksual ke Dreileben. Berhubung entah mengapa hotel yang sudah dibookingnya tiba-tiba penuh, maka akhirnya dia memilih untuk menginap di rumah teman lamanya, Vera. Vera tinggal bersama pacarnya. Selama tinggal disana, mereka asyik bernostalgia, sampai terungkap sesuatu rahasia yang tidak disangka oleh kedua sahabat ini.

Jika saya harus mereview film ini. Mmm,, mungkin saya kurang cocok. Entah saya tidak cocok dengan film ini secara khusus, atau saya memang tidak cocok dengan film drama Jerman. Entahlah, berhubung saya  baru kali ini menonton film drama Jerman. Seingat saya, film Jerman lainnya yang saya tonton adalah der Untergang (The Fall), yang menceritakan tentang kejatuhan tirani Hitler. Namun saya tidak bosan dengan film itu. Sementara untuk Dreileben trilogi kedua ini, saya berulang kali melihat jam tangan. Ending film ini cenderung "krik". Saya rasa yang lain juga berpendapat seperti itu, melihat saat film usai, penonton cuma kaget diam saja.

Miracle in Cell No. 7
Minggu depannya, saya bersama teman saya mencoba menonton festival film korea. Setelah melihat jadwal, dan memperhitungkan bahwa saya minggu paginya ikut lomba Marathon Halo Fit Run 5k di depang gedung sate (ciyeeee), akhirnya kami memilih menonton film Miracle in cell no. 7, pukul 16.30. Berhubung saya mau cari sepatu lari dulu di sport station (ciyee lagi) sekalian bisa ambil tiket lebih cepat, jadinya janjian sama teman pukul 15.00. Saya sampai duluan, saat mau mengambil tiket,

"Maaf mbak, untuk yang pukul 16.30 sudah habis tiketnya".

Melengos.

Kemudian saya liat papan pengumuman disamping panitianya bahwa ternyata tiket mulai dijual 2 jam sebelumnya, artinya pukul 14.30.

Jadi hanya dalam waktu setengah jam tiket habis?

Sungguh luar biasa dan tak saya duga. Wow. Namun si petugasnya bilang, nanti pukul 16.30 coba datang kembali, siapa tahu ada yang cancel. Saya sih tau kemungkinannya tipis. Tapi yaudah, teman saya juga nothing to loose. Setelah mondar mandir di PVJ, sekitar pukul 16.30 kurang kami balik lagi ke blitz megaplex. Dan tebak, antriannya PANJANG PAKE BANGET! Sejujurnya saya tidak faham itu tuh antri berharap dapat tiket yang di cancel atau,

antrian beli tiket untuk film jam 19.00, yang artinya baru akan dibuka pukul 17.00.

Saya sudah tidak habis pikir. Luar biasa memang festival film korea ini.

"Ini kan film korea loh net. Ingat, FILM KOREA.", ujar teman saya.

Dalam hati saya mengiyakan, meskipun di dalam hati kecil saya masih merasa nonsense.

Jadi seperti itulah teman-teman, bagaimana animo terhadap sesuatu yang berbau Korea di negeri kita ini sungguh amat besar. Tidak hanya wanita, tapi lelaki juga. Sangat kerasa perbedaan yang signifikan. Bagaimana Korea telah menginvansi secara kultural, baik dalam musik, drama dan film. Mungkin yang nonton film Jerman hanyalah orang yang mengisi waktu luang, yang menggunakan kesempatan nonton gratis, yang belajar bahasa Jerman, ataupun yang memang senang dengan hal-hal berbau Jerman seperti saya. Sayang banget saya ga sekota sama si Hanif, lumayan, bisa seru-seruan sesama fanatik Jerman tuh :D.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Baby Gear: Aprica Karoon Review

Sewaktu masih hamil hasan trimester kedua, saya udah mulai rajin buka tutup review stroller di pelbagai website. Banyak faktor yang dibutuhkan untuk memilih stroller yang pas. Pertimbangan saya dalam memilih stroller dapat dilihat di artikel saya sebelumnya mengenai kriteria stroller disini. Melihat segala kriteria saya dan budget yang dimiliki, muncul beberapa shortlisted. Namun, ternyata alhamdulillah Hasan mendapat kado stroller dari Datuk Aya. Berhubung dikadoin, saya mah pasrah apa aja. Apalagi lebih mahal dari budget kita hehe. Stroller yang dikasih Aprica Karoon. Seperti ini penampakannya.

Drama keberangkatan ke Chiang Mai

Setelah hampir 2 bulan, akhirnya saya memberanikan untuk menulis ini karena menurut saya pengalaman ini sangat memalukan sekaligus agak menyesakkan. Let's call it rejeki hanya sampai disitu saja dan rejeki pengalaman berharga.
Suami mendapatkan kabar pada bulan Juli kemarin bahwa akan dikirimkan ke Chiang Mai di bulan Oktober selama sebulan. Sontak saya gembira karena akhirnya akan kejadian juga tinggal di negara asing meski hanya sebulan. Sebenarnya suami mendaftar untuk pengiriman bulan Maret, setelah mengira tidak dapat jatah praktis kabar bulan Oktober ini sedikit mengejutkan. Mulailah pada saat itu saya malam-malam suka iseng membukan online travel apps semacam Traveloka, Tiket.com, dan pegi-pegi. Karena kami masih di Jogjakarta pada saat itu, kami memutuskan mulai agak serius memesan tiket nanti saja setelah kepulangan ke Jakarta pada bulan Agustus. Selain itu, kalau mencari tiket pada waktu itu saya juga tidak konsen karena otak saya masih terjejali rencana-rencana kunjung…

5 Buku Nonfiksi Favorit

Tahun 2019 adalah titik balik saya untuk kembali banyak membaca buku setelah tahun lalu dan tahun-tahun sebelumnya hanya membaca 2-3 buku per-tahun. Miris bukan? Oleh karena itu, postingan kali ini saya dedikasikan sebagai bentuk apresiasi saya kembali membaca. Daftar buku dibawah juga berdasarkan daftar bacaan saya tahun 2018 yang selengkapnya bisa dilihat di goodreads saya. Kali ini saya akan coba merekomendasikan 5 buku non fiksi, tanpa sesuai urutan favoritnya.
1. Mindset: The New Psychology of Success - Carol S. DweckSuka penasaran tidak kenapa banyak anak kecil yang dianggap sebagai child prodigy kebanyakan hanya mampu mekar pada tempo waktu yang singkat. Biasanya saat mereka sudah dewasa, kiprahnya malah jarang terdengar. Akhirnya saya mengetahui alasannya setelah membaca buku ini.
Carol S. Dweck membagi pola pikir manusia menjadi dua: growth mindset dan fixed mindset. Growth mindset adalah pola pikir yang mendorong kita untuk selalu berkembang. Sementara fixed mindset adalah …