Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2016

Menularnya LGBT dan Kekhawatiran Emak-emak

*disclaimer: Tulisan ini bisa jadi notabene berisi pikiran serta opini dan mengandung sangat minim informasi ilmiah. Segala bentuk ketidakrelevan mohon dikoreksi. Tapi maaf, pandangan saya mengenai LGBT tidak bisa dikoreksi. Hate me, call me a bigot :)
Topik LGBT menghangat bak minyak yang siap disulut api belakangan ini. Pertikaian baik yang muncul di permukaan atau hanya diam-diam di dalam benak. Sosial media dijadikan ajang beradu argumentasi. LGBT dan pernikahan sejenis memang sudah dilegalkan di banyak negara. Namun, seperti yang saya duga, pelegalan pernikahan sesama jenis di Amerika tempo lalu benar-benar realita yang dijadikan momentum untuk mencari "keadilan" bagi kaum LGBT.
Berhubung tanpa disadari saya sudah menyandang status emak-emak (hadeuh..) serta beberapa grup FB emak-emak yang saya diikuti,banyak para emak-emak ini mengungkapkan kegelisahan dan keruwetan hatinya dalam bentuk status sosial media. Salah satunya pada wall Facebook. Salah satu bentuk keluhan ya…

Tentang Mimpi

Suami: Kamu ada rencana sekolah di luar negeri? Saya: Sebenarnya ada. Tapi santai. Kenapa emangnya? Suami: Aku ada rencana mau ke luar.
Tiba-tiba percakapan tersebut muncul di layar kaca ponsel. Tersentak. Setau saya suami mana ada keinginan melanjutka sekolah setelah spesialis. After all he has been through. After he will go through. 5 Tahun pendidikan dokter. 1 tahun internship. 5 tahun (rencananya) PPDS (Program Pendidikan Dokter Spesialis) dan kira-kira usianya menjejak 30 tahun saat menyelesaikan semuanya. A long way path. Very. Dan lagi kesibukannya jauh diatas rata-rata dibanding sekolah sarjana atau magister yang banyak waktu lowong seperti yang saya tempuh. Terus kemudian masa mau lanjut lagi? What a exhausted moment.
Tapi di sisi lain, ini rasanya seperti mimpi. Mimpi bisa tinggal di luar for just one year or two. Mimpi kali-kali saya bisa nebeng melanjutkan studi doktoral. Perlahan mimpi itu menjadi nyata.
Kemudian saya terbangun dari tidur.

Story of Hasan: Hari Pertama MPASI

Tanggal 19 Februari akhirnya datang juga. Akhirnya genap juga Hasan berusia 6 bulan. Artinya adalah hari pertama Hasan icip-icip makanan selain ASI. Untuk dua minggu pertama, Hasan akan mencoba menu tunggal. Hal ini bertujuan sebagai pengenalan makanan bagi Hasan dan mengindikasi adanya alergi Hasan pada suatu makanan. Jadwal lengkap menu tunggal Hasan dapat dilihat di postingan saya sebelum ini.


Refleksi 33 Hari Pertama Tantangan #ODOPfor99days

Tak terasa, hari ini sudah menapaki hari ke 33 dalam tantangan One Day One Post di grup FB atau yang dikenal dengan hashtag #ODOPfor99days. Bagaimana rasanya? Ternyata sudah 33 publikasi tulisan saya yang saya tampilkan di beberapa blog saya yang saya sebar. Blogspot saya untuk postingan berbahasa Indonesia, Wordpress untuk postingan berbahasa Inggris, dan Tumblr untuk rambling posting.

Story of Hasan: Persiapan MPASI

Tak terasa, Insya Allah jumat nanti, tanggal 19 Februari Hasan genap berusia 6 bulan. Itu artinya Hasan akan naik kelas dari ASIX menjadi ASIX + MP-ASI. Deg-degan? Tentu. Rasanya seperti baru kemarin Hasan lahir. Ngurus Hasan cuma main-main, mengurus hajat sama menyusui. Nanti harus ditambah mempersiapkan dan memberi makanan. Kalau dulu mau berpergian tinggal bawa saja anaknya, kalau sekarang harus berfikir kapan dan sampai kapan di perjalanan.

Suami yang Absen

"Sendirian aja net? Mana suaminya?" Pertanyaan yang sama sering dilontarkan jika saya pergi bertemu teman atau kumpul keluarga. Awal-awalnya setiap saya mendapat pertanyaan serupa aneh rasanya. Lama kelamaan semua berubah menjadi biasa saja. Pertanyaan ini tidak hanya dilontarkan setelah Hasan lahir, tetapi sejak saya belum hamil pun. Sempat sering terlintas di benak pikiran apa yang teman-teman atau keluarga judge jika melihat saya (sekarang saya dan Hasan)datang ke acara keluarga atau acara kumpul teman.

Carseat dan Urgensitasnya yang Sering Terlupakan

Carseat bukanlah barang yang populer di Indonesia. Kehadirannya di masyarakat setidaknya masih jauh dibawah stroller. Berbeda hal dengan di Amerika dan Eropa. Carseat disana posisinya sangat penting. Bahkan semenjak keluar dari rumah sakit apabila memakai mobil pribadi wajib menggunakan Carseat.


"Di Amerika, kalau bawa bayi ga pakai carseat dinilai sebagai child abusive. Bisa ditangkap." Ungkap mertua. Yep, karena kebanyakan di luar negeri mengenai penggunaan carseat ini sudah ditelurkan dalam bentuk undang-undang. Undang-undang yang mana jika dilanggar akan mendapat sanksi yang keras. Tidak hanya konsumen, produsen carseat pun dituntut secara ketat akan produknya agar memenuhi bahkan melewati prasyarat dan kondisi keamanan yang sudah ditetapkan oleh pemerintah. Atau bahasa lainnya harus melewati tahap crash test berkali-kali.
The law requires all children travelling in the front or rear seat or any car, van or goods vehicle must use the correct child car seat until they are …