Abangku Guruku, Uniku Idolaku

17 komentar


“Tu, wa, tiga, epat, lima, ena, ujuh, lapaa, bilaaa, puluu,” ujar si bungsu yang belum genap dua tahun tempo lalu.

Sontak saya sedikit kaget, perasaan dulu si sulung dan si tengah belum bisa berhitung komplit sampai sepuluh di usia yang belum genap dua tahun. Jangankan berhitung, mereka mulai banyak ngomong saat usia mendekati dua tahun.

Tiap anak memang berbeda-beda. Meski berasal dari rahim yang sama, tapi kemampuan, bakat, dan sifat bisa berbeda-beda pula.

Si sulung dan si genap termasuk lama baru bisa ngomong. Pun, si tengah yang kini berusia 3,5 bulan masih kerap tidak mengucapkan sebuah kata lengkap dengan huruf matinnya. Misalnya makan masih maka dan minum menjadi minu.


Paket laki dan perempuan

Saya punya tiga anak: 1 laki-laki dan 2 perempuan. Baru si sulung saja yang laki-laki. Selisih si sulung dan si tengah 3,5 tahun lebih, selisih yang cukup lumayan termasuk perkembangan kemampuannya. Sementara, 2 anak perempuan saya berusia cukup dekat, hanya 1,5 tahun. Jenis kelamin yang sama dan jarak usia yang dekat membuat mereka sering main bersama dan memiliki rentang perkembangan dan kemampuan yang tidak jauh berbeda.

A kid imitates what her big sibling does.

One, two, three, four, five, six, seven, eight, nine, ten!” Teriak si tengah yang berusia 3,5 tahun.

Beruntung yang menjadi anak pertama si sulung yang istilahnya benar-benar wonder boy yang cocok menjadi proyek percontohan. Si sulung patuh, rapi, suka keteraturan, tidak manja, kuat, rajin membersihkan mainan, dan yang paling menarik dia senang mengajarkan sesuatu.

Termasuk mengajarkan adik-adiknya. Perlu saya akui, banyak kemampuan dini yang si tengah kuasai adalah berkat jasa si sulung. Adik bisa main puzzle, adik hapal al-fatihah, adik bisa berhitung dalam bahasa Inggris.

Hanya ada satu yang ia tidak meniru keteladanan si sulung. Adik manja dan malas membersihkan mainan haha.

Si sulung kini sudah sekolah, meninggalkan adik-adiknya berantam di rumah. Meski si sulung sekolah full day, tapi tetap masih bisa banyak ia ajarkan ke adik-adiknya. Selanjutnya, tentu saja si bungsu banyak belajar dari si genap.

Paket ganjil dan genap

Unik sekali, anak-anak saya kalau ingin dirangkun bisa disebut paket ganjil dan paket genap. Tentu istilah semacam ini tidak hadir begitu saja. Paket ganjil, yakni anak urutan ganjil (si sulung dan bungsu) memiliki fisik yang relatif sama meski berbeda jenis kelamin. Rambut lurus, kulit lebih coklat, muka bulat, hidung lebar, dan kelakuan pun sama teladannya. Sementara paket genap, yakni anak urutan genap (si tengah) memiliki fisik dan sifat berbeda signifikan. Rambut kribo, muka lonjong, kulit putih, dan kelakuan bak ratu.


“Minuuuuuuum” rengek si tengah sebagai kode ke saya minta diambilkan minum yang CUMA berjarak 10 cm.

Saya sih ogah ya melayani si kemanjaan si tengah haha. Namun, tiba-tiba tanpa disuruh ada si bayi mandiri turun dari kursinya dan mengambilkan minum si tengah komplit dengan mengantarkan langsung ke tangan si tengah.

Gawat banget kan ya.

Makanya saya sering bilang, si bungsu itu seperti si sulung cuma menjadi agak kurang mandiri karena suka meniru si tengah. Uniku idolaku menurutnya. Apa yang dilakukan Uni langsung mentah-mentah dilakukan, bagaikan yang dilakukan Uni adalah cara hidup yang benar di dunia haha.

Si tengah mau baca buku, si bungsu juga mau pegang buku. Si tengah menolak jalan keluar, si bungsu juga menolak padahal sudah diimingi buat mencari kucing yang merupakan hewan kesayangannya di jalanan komplek. Yang lucunya, si tengah punya kebiasaan aneh untuk tidur sambil memeluk daster kotor sore saya. Merasa itu adalah tindakan yang harus dicontoh, si bungsu pun merengek minta daster saya juga meski ia tidak faham kenikmatan apa yang didapatkan uninya oleh daster kotor itu hehe.

Karena jarak usia mereka dekat, maka perkembangan kemampuannya juga dekat. Makanya banyak ilmu-ilmu yang dimiliki si tengah sudah dimiliki si bungsu, seperti berhitung satu sampai sepuluh.

Kuartal akhir tahun ini juga saya bersama si tengah sesekali hilir mudik untuk survey calon TK untuk tahun depan. Tidak cuma si tengah yang berkeliling dan main, tapi si bungsu pun ikutan. Belum lagi kepribadian si bungsu yang sangat supel sehingga tanpa berpikir ia mau bergaul dengan orang yang baru dikenal.

Pentingnya anak pertama sebagai percontohan

Melihat perkembangan ketiga anak ini, sering terbersit di hati saya kalau saya sangat sangat bersyukur memiliki si sulung sebagai anak pertama. Ia merupakan tipe anak yang membuat orangtua ingin memiliki selusin anak. Tanpa disadari pun si sulung jadi sering memberikan pengaruh positif bagi adik-adiknya. Si sulung memeberikan contoh positif kepada si tengah, si tengah pun turut memberikan contoh positif ke si bungsu. Begitu pula seterusnya jika (insya Allah nanti) si bungsu punya adik lain.

Jika dulu saya sedikit menyesalkan kenapa jarak si sulung dan si tengah cukup jauh, maka kini saya agak bersyukur karena saya merasa banyak waktu bersama si sulung berdua saja dan kesempatan menanamkan nilai nilai kepribadian positifnya.

17 komentar

  1. Seru ya mbak, ternyata memang urutan ganjil genap ini ngaruh banget. Di saya malah ke fisik pun ganjil genap ini beda.

    BalasHapus
  2. Aakkk, serunyaaaaa😍🙏
    Memang anak tuh unik unik
    Kita orang dewasa yg sering berguru dgn karakter dan keunikan mereka yhaaaa

    BalasHapus
  3. MasyaAllah.. aku selalu melihat anak pertama memang selalu jadi contoh yaa mba, dan semoga itu bukan beban buat mereka hehe.. kalau harus jadi contoh, rasanya mereka akan berusaha banget jadi yang terbaik.. padahal mereka juga manusia biasa yg ngga sempurna..

    BalasHapus
  4. Abang idola banget nih ...rajin, mandiri rapih. Keren abang bisa memberi contoh bagi adik-adiknya

    BalasHapus
  5. Alhamdulillah si kakak sulung baik banget ya, mbak. Bisa menjadi panutan bagi adik-adiknya. Insya Allah putra-putrinya sholih dan sholiha.

    BalasHapus
  6. Benar juga sih, awalnya harus bisa mendidik anak pertama dengan baik karena sebagai percontohan bagi adek adeknya. Sebagai anak pertama saya jadi introspeksi diri juga nih, sudah jadi contoh yg baik belum ya untuk adik adik saya...

    BalasHapus
  7. Saya jadi ingat sebuah webinar yang dulu pernah saya ikuti, Mbak. Webinar yang diadakan oleh praktisi homeschooling. Untuk menangani anak sulung itu kuncinya. Jadi sulung itu sebagai kepala sukunya, kita harus pegang dengan baik kepala sukunya sebelum ke adik-adiknya karena kepala suku (sulung) akan jadi percontohan bagi adik²nya

    BalasHapus
  8. Wah memang ya meski lahir dari rahim yang sama , tiap anak istimewa. Bahagianya punya tiga permata, sudah ada anak laki-laki ada juga dua anak perempuan. Barakallah

    BalasHapus
  9. Selalu menyenangkan bila melihat satu keluarga kecil masih mempertahankan tradisi. Setiap anak istimewa. Namun bukan membiarkan semaunya ya

    BalasHapus
  10. MashAllah~
    Mengenal dan memahami karakter masing-masing anak ini penting sekali. Aku jadi ingat kalau anakku juga melakukan hal yang sama ketika masih kecil. Tapi semakin besar, seperti sang adik juga ingin "warna"nya didengar sehingga kini ia memiliki karakter yang ia banggakan.

    Aku pun tanpa ragu kerap memuji masing-masing keunikan anak-anak. Semoga menjadi sumber kekuatan bagi anak-anak ya.. untuk terus berbuat kebaikan.

    BalasHapus
  11. Jadi pingin Meluk anak-anak . Terima kasih artikelnya. Semoga mereka bisa seperti ini juga. Saling menguatkan satu sama lain.

    BalasHapus
  12. Abang idolaku...artikelnya bagus mbak... saya sepakat anak pertama menjadi teladan bagi sang adik.

    BalasHapus
  13. Ahhh, terharu kalau sudah bicara tentang anak pertama deh aku. Anak pertama seperti harapan dan doa yang berlebihan di awal pernikahan, jadilah mereka ya mb jawaban doa pertama. Ketika mereka bisa menjadi contoh yang baik buat adiknya itu seperti keajaiban lainnya dari doa-doa malam.

    BalasHapus
  14. anak keduaku menganggap abangnya adalah idolanya, bahkan adakalanya anak keduaku yang memihak banget anak pertama, misal ada barang anak pertama yang kupinjam tanpa izin, anak kedua yang marahin aku hahaha

    BalasHapus
  15. MasyaAllah Tabarakallah. Seneng kalau baca diary ibu-ibu begini. Memang tiap anak ada aja kelakuannya. Persis anakmu yang tengah kaya anakku yang bungsu, anak perempuan manjanya ahahha. Minum minta diambilin padahal cuma beberapa cm dari nya

    BalasHapus
  16. MasyaAllah tabarakAllah si sulung tipe yang momong ya mbak. Jadi si adek bisa punya role model yang baik juga

    BalasHapus
  17. Wah senangnya baca cerita seperti ini
    Adik kakak bisa akur gini
    Nggak ada cerita sibling rivarly ya mbak

    BalasHapus