Langsung ke konten utama

Sinar Matahari: Harta yang disia-siakan Masyarat Tropis

Jakarta sudah 3 kali dihantam banjir di awal tahun 2020 ini. Awan pekat dan butiran-butiran air menghujam kota Jakarta saban hari. Kehadiran sinar matahari pun menjadi dirindukan. Di tengah musim hujan ini, ternyata sempat berhari-hari sinar matahari bersinar cerah di Kota Jakarta. Sinar yang agak sedikit menyengat, baik tanpa maupun dengan sedikit tutupan awan. Selesai mengantar abang ke sekolah, saya berjalan ke taman belakang apartemen sembari menggendong adek. Kami hendak berjemur. Kami, saya dan adek. Bukan adek saja yang masih berusia 11 bulan. Setahun belakangan ini suami mewajibkan kami untuk mencari sinar matahari. Mewajibkan, tidak hanya menyarankan. Oleh karena itu, saya hampir selalu menjatahkan waktu berjemur di sela-sela waktu antar-jemput abang ke sekolah.
Di bawah teriknya sinar matahari, saya melihat sekelompok anak-anak dan penunggunya malah berteduh di kanopi apartemen. Kok mereka malah duduk-duduk disana menunggu anak-anak yang sedang bermain? Kok tidak di taman belakang saja, pasti anak-anak lebih senang.

Kenapa? Tidak mau kepanasan kah?

Bilqis ngapain panas-panasan? Emang masih bayi dijemur?

Padahal saat itu Bilqis baru berusia 8 bulan. Andai masyarat tropis tahu betapa krusialnya kegunaan sinar matahari bagi kita. Kita, bukan hanya bayi dan anak-anak. Tapi semua umur.
Sinar matahari

Manfaat Sinar Matahari

1. Meningkatkan produksi vitamin D

Paparan sinar matahari membantu meningkatkan produksi vitamin D di dalam tubuh. Menurut penelitian, dengan terkena sinar matahari selama 20 menit, maka Vitamin D yang dapat dihasilkan oleh tubuh sebanyak 20 ribu. Vitamin D diperlukan untuk meningkatkan penyerapan kalsium dan fosfor di usus sehingga memperkuat tulang, gigi, serta otot. Mulai dari usia muda hingga tua membutuhkan vitamin D.

Seperti yang dilansir di WebMD, berjemur adalah cara paling mudah dan efektif mendapatkan vitamin D. Berjemur sebanyak 2-3 kali seminggu selama 15-20 menit akan menyebabkan terbakar matahari level ringan yang akan menyebabkan kulit memproduksi vitamin D. Kebutuhan berjemur bervariasi tergantung usia, jenis kulit, musim, dan lain-lain. Hanya 6 hari berjemur sudah cukup membuat cadangan 49 hari tanpa berjemur. Saat berjemur, vitamin D disimpan di lemak dan dilepaskan saat tidak ada sinar matahari. Waktu terbaik berjemur di Indonesia adalah dibawah pukul 11 siang. Pasalnya, intensitas sinar UVB tertinggi terjadi pada pukul 11 sampai 1 siang. Tidak dianjurkan berjemur dibalik kaca karena sinar matahari yang diperlukan untuk memproduksi vitamin D dapat terserap oleh kaca.

Vitamin D dapat mencegah beberapa penyakit seperti multiple sclerosis, osteoporosis, hipertensi, diabetes tipe 1 dan 2, serta rakitis. Multiple Sclerosis adalah penyakit dimana sistem imun menyerang sistem saraf pusat. Asupan vitamin D dapat meringankan gejala bahkan memperlambat laju penyakit. Vitamin D juga dapat memperlambat kurangnya kepadatan tulang, artinya dapat mengurangi resiko osteoporosis dan kemungkinan patah tulang.

Penelitian yang terbit pada Turkish Journal of Anasthesiology and Reanimation pada tahun 2015 menyatakan bahwa pasien dengan defisiensi Vitamin D memiliki masalah pasca-operasi. Para pasien dirawat lebih lama, perawatan ulang di ICU, dan risiko kematian yang lebih tinggi.

2. Memperbaiki kualitas tidur

Paparan sinar matahari pagi dapat merangsang produksi hormon melatonin di dalam tubuh. Melatonin adalah hormon yang mempengaruhi siklus tidur.

3. Meningkatkan imunitas

Sinar matahari dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Saat terpapar sinar matahari, tubuh akan menghasilkan lebih banyak sel darah putih yang berfungsi sebagai perlindungan tubuh. Sel darah putih memegang peranan penting dalam melawan berbagai penyakit penyebab infeksi. Para ilmuwan masih mencari tau bagaimana vitamin D dapat mengobati bahkan mencegah kita terhadap serangan virus. Sebuah penelitian menunjukkan konsumsi vitamin D pada anak sekolah di Jepang membantu mereka sembuh dari flu.

4. Mengurangi Depresi

Meskipun para ahli belum yakin, banyak penelitian yang menunjukkan relasi solid antara depresi dan kekurangan vitamin D. Vitamin D yang cukup dapat membantu gejala depresi dan memperbaiki mood.

Anomali Negara Tropis: Defisiensi Vitamin D


Solusi paling cepat dan murah mendapatkan vitamin D adalah dengan cara berjemur di bawah paparan sinar matahari. Masyarakat negara empat musim banyak yang mengalami defisiensi vitamin D karena sedikitnya pajanan sinar matahari. Berarti rata-rata masyarakat tropis memiliki level vitamin D yang cukup dong? Ternyata tidak.

Penelitian menunjukkan fakta sebaliknya, seperti yang dilansir oleh tirto.id, masyarakat di Asia Selatan memiliki tingkat vitamin D terendah dibandingkan dengan kelompok yang lain meskipun memiliki indeks massa (BMI) yang sama. Ini merupakan kesimpulan penelitian Dian Caturini Sulistyoningrum, Dosen Departemen Gizi Kesehatan, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan terhadap berbagai kelompok etnis: Kaukasia, Asia Timur, Asia Selatan, dan Aborigin di Kanada. Menurut studinya, anak-anak berusia 15-18 tahun di 10 sekolah Yogyakarta menunjukkan hampir 100 persen defisit vitamin D.

Menurut penelitian Asian Journal of Clinical Nutrition, dari 300 sampel perempuan Sumatera Utara, 122 sampel memiliki status defisiensi dan 158 sampel insufisiensi. Hanya 12 yang sufisiensi namun tetap tidak di level standar di negara tropis. Analisis di sebuah klinik bersalin di Jakarta, dari 143 sampel perempuan, sebanyak 90,2 persen mengalami defisiensi vitamin D.

Penyebab utama defisiensi vitamin D ini dibentuk dari persepsi bahwa dengan berjemur matahari hanya membuat kulit menghitam. Lagi-lagi ini berangkat dari stigma warna kulit yang terbentuk di masyarakat kita. Kasarnya, kulit putih adalah kulit yang bagus, Kulit gelap hanya milik kaum bawah. Ini semua adalah akibat banyaknya masyarakat kita yang terbeli oleh iklan-iklan yang beredar. Lebih parahnya, stigma ini juga banyak mengarahkan masyarakat membeli krim-krim pemutih gurem yang malah merusak kulit. Sungguh memprihatinkan.

Seharusnya masyarakat tropis lebih tenang berjemur dibanding melakukannya di negara 4 musim. Daerah disekitar lintang ekuator memiliki lapisan ozon paling tebal dibadningkan daerah 4 musim. Semakin mendekati kutub, semakin tipis lapisan ozon. Lapisan ozon ini berfungsi sebagai filter penangkal sinar UVB, yang disinyalir penyebab kanker kulit.
sinar matahari

Penyebab lainnya, kebanyakan masyarakat metropolitan terutama kaum pekerja berangkat subuh pulang maghrib. Sebagian besar kegiatan dihabiskan di dalam ruangan. Kebiasaan ini praktis membuat minimnya kulit terpapar sinar matahari. Untuk menambah waktu paparan sinar matahari, mungkin bisa diakali dengan cara banyak melakukan kegiatan di luar ruangan saat akhir pekan. Tambahan vitamin D juga bisa didapat dengan mengkonsumsi berbagai makanan kaya vitamin D.

Makanan pembantu asupan Vitamin D

sinar matahari

Terkadang kita tidak bisa setiap hari terkena paparan sinar matahari. Cuaca juga terkadang berawan dan mendung. Berjemur di cuaca berawan masih disarankan karena tetap mendapat manfaat sinar matahari meski kurang optimal. Mengontrol asupan makanan adalah salah satu caranya menjaga angka vitamin D kita.

Ada beberapa sumber makanan tinggi vitamin D apabila sedang tidak cukup terpapar sinar matahari seperti dilansir dari Runner's World:

  1. Ikan berminyak. Selain baik untuk jantuk dan otak, ikan-ikan berminyak kaya akan vitamin D. Lemak pada ikan membantu tubuh menyerap vitamin D. Bisa mengkonsumsi salmon, tuna dan sardin.
  2. Produk Susu
  3. Telur. Selain sebagai sumber protein, telur juga menawarkan 7 persen kebutuhan vitamin harian. Vitamin D ada di kuning telur.
  4. Jamur. Jamur Portobello menjadi opsi sumber vitamin D yang baik. Sekitar 85 gram jamur sama dengan 400 IU.
  5. Minyak Ikan kod. 1 sdm minyak ikan cod mengandung 1360 IU vitamin D
  6. Suplemen. Jika ingin mengkonsumsi suplemen, disarankan memilih Vitamin D3 dengan level 600-1000 IU. Biasanya suplemen mengandung kalsium untuk membantu penyerapan vitamin D

Komentar

  1. Wah, banyak juga manfaat sinar matahari, ya, Mbak. Jadi menyesal deh selama ini lebih banyak ada di dalam rumah aja. Sepertinya sudah waktunya kembali melakukan rutinitas lari pagi supaya bisa dapat memaksimalkan manfaat sinar matahari daripada sebelumnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, sayang banget kita yang berlimpah ruah sinar matahari gini malah melewatkannya

      Hapus
  2. betul, banayk orangs ekarang walau paans pagi bilangnay takut hitamlah, panaslah

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

5 Buku Nonfiksi Favorit

Tahun 2019 adalah titik balik saya untuk kembali banyak membaca buku setelah tahun lalu dan tahun-tahun sebelumnya hanya membaca 2-3 buku per-tahun. Miris bukan? Oleh karena itu, postingan kali ini saya dedikasikan sebagai bentuk apresiasi saya kembali membaca. Daftar buku dibawah juga berdasarkan daftar bacaan saya tahun 2018 yang selengkapnya bisa dilihat di goodreads saya. Kali ini saya akan coba merekomendasikan 5 buku non fiksi, tanpa sesuai urutan favoritnya.
1. Mindset: The New Psychology of Success - Carol S. DweckSuka penasaran tidak kenapa banyak anak kecil yang dianggap sebagai child prodigy kebanyakan hanya mampu mekar pada tempo waktu yang singkat. Biasanya saat mereka sudah dewasa, kiprahnya malah jarang terdengar. Akhirnya saya mengetahui alasannya setelah membaca buku ini.
Carol S. Dweck membagi pola pikir manusia menjadi dua: growth mindset dan fixed mindset. Growth mindset adalah pola pikir yang mendorong kita untuk selalu berkembang. Sementara fixed mindset adalah …

Pusat Perbelanjaan Purwokerto

Bukan orang asli maupun yang punya di keluarga, entah mengapa saya menulis rentetan blog seri Purwokerto ini bagaikan menulis Purwokerto 101 😉. Bagian yang pertama adalah dimana saja sih pusat perbelanjaan? You're living, you need place(s) to shop to fulfil your daily life. Standar, pusat perbelanjaan ada supermarket dan pasar tradisional.

Kafe & Kuliner Modern Purwokerto

Banyak, banyak bangeeet! 😝. Entahlah, padahal rasanya tidak sesering itu saya mencari kuliner di luar. Dan dalam waktu sebulan, akhir pekan hanya terbatas 4 kali. Yang sangat saya tidak sangka selama di Purwokerto adalah betapa suburnya pertumbuhan kafe dan restoran modern disini. Mulai dari restoran keluarga, kafe nongkrong, kafe taman, comfort dining, hingga kafe dengan konsep unik. Harga rata-rata relatif lebih murah dibanding Jakarta, tetapi ada juga harga yang menyerupai di Jakarta. Rata-rata kafe banyak tersebar di daerah utara, yakni area Jalan Suharso, Bunyamin. Pokoknya dekat dengan area kampus Unsoed.