Langsung ke konten utama

Kenapa Bergabung Bersama Blogger Perempuan

Sejujurnya, saya tidak tahu menahu perihal komunitas Blogger Perempuan Network (BPN). Saya yang sedang tidak terlalu aktif untuk menulis blog ditambah ke-apatisan diri membuat saya tidak bergabung ke dalam komunitas blogger manapun. Sampai saat BPN mengadakan tantangan untuk menulis selama 30 hari dengan tema yang telah ditentukan. Saya yang aktif menggunakan instagram melihat beberapa teman-teman saya yang kebetulan rajin blogging membuat posting ulang soal tantangan 30 hari dari BPN ini.


Jika membaca beberapa tulisan sebelumnya, jelas saya memang tidak ada motivasi menulis blog secara serius. It is all about fun! Karakterisitik saya yang introvert membuat saya benar-benar menjauhi dengan apa yang namanya "jual diri". Bahkan kerap kali saya merasa tidak ingin tulisan blog saya dibaca, apalagi tulisan-tulisan yang berbau sentimentil. Sampai akhirnya saya berada di titik dimana terjadi banyak penolakan.

Baby gear dan child safety belakangan ini menjadi perhatian saya. Baby gear, lebih tepatnya car seat. Hal ini bersesuaian juga dengan child safety yang saya minati. Permasalahannya adalah, bahkan topik keselamatan anak-pun bagi masyarakat Indonesia juga kurang peminatnya. Itu kata salah satu komunitas dimana saya bergabung dan kami juga sedang menggalakkan agar orang-orang peduli. Apalagi car seat. Banyak deh kalau kita lihat di pasar internet orang jual car seat dengan alasan: anaknya tidak mau pakai. Ah sudahlah, itu dibahas nanti-nanti saja.

Begitu juga kalau saya ingin mengulas carseat. Cuma terbatas menunggu rekanan yang mau menyewakan kepada saya. 2 carseat saya adalah barang-barang yang tidak keluar di Indonesia, jadi percuma menulis ulasannya. Meski salah satunya sudah saya tuliskan di blog dan satunya lagi hanya ulasan singkat di instagram saya. Punya saudara juga tidak mungkin dipinjam karena dipakai. Otomatis jumlah tulisan ulasan saya juga sangat terbatas.

Kemudian saya berkali-kali melakukan kontak kepada beberapa vendor seperti Chicco, Oyster, Joie bahkan retailer seperti Birds and Bees. Tapi tidak ada satupun yang menanggapi saya. Bahkan saya kerap sekali gemas karena ulasan yang mereka posting di instagram banyak yang tidak sesuai kaidah seharusnya. Saya kontak via DM, kemudian menjelaskan dimana kesalahannya. Beberapa merespon, beberapa lagi diam saja. Kemudian saya menawarkan diri untuk memberi ulasan atau bahkan semacam menjadi penasihat "dibelakang".

Bahkan tanpa harus muncul di depan.

Bahkan tanpa harus ada hubungan timbal balik yang sesuai.

Sampai sebegitunya saya karena memang benar-benar ini bentuk kepedulian dan passion saya. Dan kembali, tidak ada yang menggubris.

Kemudian saya sadar, saya tidak memiliki kekuatan sama sekali. Saya tidak ada "angka" buat dijual. Saya sadar, ternyata aktifitas dunia maya itu berbeda sekali konsepnya dengan ketika saya menjadi akademisi. Dulu, saya sering menulis makalah dan jurnal tanpa harus disuruh karena saya sangat senang berfikir dan menulis. Saya publikasikan. Saya bersosialisasi saat coffee-break dengan kolega lainnya karena murni rasa keingintahuan saya. Then, I got noticed. Angka berupa (sebagai contoh) impact factor pada jurnal akan keluar belakangan sebagai hasil dari kecintaan di awal.

Dunia maya sungguhlah berbeda. Dari awal memang harus ada angka yang dijual. Harus sering menjual "diri" dan mengajak orang. Dan ini sangat bertentangan dengan saya yang suka memulai dengan "bersenang-senang" serta introvert. Saya cukup tertegun. Semenjak itu saya mulai merasa bahwa secara konkrit saya harus lebih serius menulis dan saya melihat peluang itu ada saat bergabung dengan BPN. Banyak tantangan-tantangan yang diberi. Banyak anggota yang saling berbagi. Banyak juga info lomba. Keseluruhan itu menjadi pemecut semangat saya untuk terus berkarya.

Meskipun saya masih tetap tidak terlalu peduli dengan statistik, Domain Authority (DA) dan Page Authority (PA). Haha


Komentar

  1. Jadi member BPN itu sungguh banyak manfaatnya ya mbak....bisa nambah ilmu dan wawasan bisa juga nambah pundi2 rupiah dr job yg ditawarkan.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Baby Gear: Aprica Karoon Review

Sewaktu masih hamil hasan trimester kedua, saya udah mulai rajin buka tutup review stroller di pelbagai website. Banyak faktor yang dibutuhkan untuk memilih stroller yang pas. Pertimbangan saya dalam memilih stroller dapat dilihat di artikel saya sebelumnya mengenai kriteria stroller disini. Melihat segala kriteria saya dan budget yang dimiliki, muncul beberapa shortlisted. Namun, ternyata alhamdulillah Hasan mendapat kado stroller dari Datuk Aya. Berhubung dikadoin, saya mah pasrah apa aja. Apalagi lebih mahal dari budget kita hehe. Stroller yang dikasih Aprica Karoon. Seperti ini penampakannya.

Drama keberangkatan ke Chiang Mai

Setelah hampir 2 bulan, akhirnya saya memberanikan untuk menulis ini karena menurut saya pengalaman ini sangat memalukan sekaligus agak menyesakkan. Let's call it rejeki hanya sampai disitu saja dan rejeki pengalaman berharga.
Suami mendapatkan kabar pada bulan Juli kemarin bahwa akan dikirimkan ke Chiang Mai di bulan Oktober selama sebulan. Sontak saya gembira karena akhirnya akan kejadian juga tinggal di negara asing meski hanya sebulan. Sebenarnya suami mendaftar untuk pengiriman bulan Maret, setelah mengira tidak dapat jatah praktis kabar bulan Oktober ini sedikit mengejutkan. Mulailah pada saat itu saya malam-malam suka iseng membukan online travel apps semacam Traveloka, Tiket.com, dan pegi-pegi. Karena kami masih di Jogjakarta pada saat itu, kami memutuskan mulai agak serius memesan tiket nanti saja setelah kepulangan ke Jakarta pada bulan Agustus. Selain itu, kalau mencari tiket pada waktu itu saya juga tidak konsen karena otak saya masih terjejali rencana-rencana kunjung…

5 Buku Nonfiksi Favorit

Tahun 2019 adalah titik balik saya untuk kembali banyak membaca buku setelah tahun lalu dan tahun-tahun sebelumnya hanya membaca 2-3 buku per-tahun. Miris bukan? Oleh karena itu, postingan kali ini saya dedikasikan sebagai bentuk apresiasi saya kembali membaca. Daftar buku dibawah juga berdasarkan daftar bacaan saya tahun 2018 yang selengkapnya bisa dilihat di goodreads saya. Kali ini saya akan coba merekomendasikan 5 buku non fiksi, tanpa sesuai urutan favoritnya.
1. Mindset: The New Psychology of Success - Carol S. DweckSuka penasaran tidak kenapa banyak anak kecil yang dianggap sebagai child prodigy kebanyakan hanya mampu mekar pada tempo waktu yang singkat. Biasanya saat mereka sudah dewasa, kiprahnya malah jarang terdengar. Akhirnya saya mengetahui alasannya setelah membaca buku ini.
Carol S. Dweck membagi pola pikir manusia menjadi dua: growth mindset dan fixed mindset. Growth mindset adalah pola pikir yang mendorong kita untuk selalu berkembang. Sementara fixed mindset adalah …