Langsung ke konten utama

Wisata Kuliner Tradisional Purwokerto


Menghadirkan kuliner asli Purwokerto di warung-warung sederhana. Ada Sate Kambing Yani, Pecel Pincuk Bang Toyyib, Soto Sutri yang legendaris, Bakso & Soto Samiasih, Soto Bank, Bakso Pekih, Sate kambing Moro Kangen dan Umaeh Inyong.

1. Sate Kambing Yani




Ini adalah kuliner pertama saya selama berada di Purwokerto. Terletak di pinggiran Jalan Sudirman. Posisinya ada di salah satu rentetan ruko, jadi kalau sedang mencari Warung Yani, harus benar pelan-pelan. Baliho penunjuknya kecil dan nyaris tidak terlihat kalau tidak benar-benar mencari. Tempatnya suasana warung tapi nyaman. Sate Kambing yang dihadirkan termasuk kambing muda, tetapi menurut saya tidak seempuk sate tegal, hanya cukup ada di posisi comfort zone. Suasana jam makan pun tidak terlalu ramai. Saya tidak memfoto makanan, jadi foto ambil dari internet yaa :D.

2. Pecel Pincuk Bang Toyyib





Like a gem in outskirt of city, Pecel Pincuk ini tidak diduga enaknya. Berawal di akhir pekan yang cerah dan kami berniat mencari sarapan diluar. Waktu itu adalah akhir pekan pertama kami di Purwokerto, kami jadi tidak tahu keriaan pagi ada dimana saja. Saya pikir bakal ada aneka ragam jajanan di alun-alun, meluncurlah kami kesana. Eh, ternyata hanya ada sekumpulan anak kecil yang sedang berolahraga dibawah matahari yang terik. Belakangan saya baru tahu kalau alun-alun ternyata baru ramai dari sore hingga tengah malam. 

Karena terlanjur lapar, akhirnya kami memutuskan di warung Pecel Pincuk ini. Posisinya ada di Berkoh, mengarah ke luar Purwokerto, dekat dengan RSUD Margono. Saya memesan ayam geprek dan suami memesan nasi pecal pincuk pakai telor. Diluar dugaan, semua yang ada disini rasanya luar biasa. Bumbu pecalnya padat, kaya rasa dengan komposisi racikan yang sempurna. Sayurannya juga segar-segar bagaikan baru saja di petik. Ayam geprek saya juga rasanya pedas gurih. Ayam gorengnya renyah tapi lembut dan bumbunya sukses memanjakan lidah. Jangan lupa, mendoan disini juga termasuk salah satu yang terbaik di Purwokerto (menurut saya). Karena begitu menyenangkan pengalaman makan disini, kami berniat kembali kesini lagi untuk sarapan pagi lain kesempatan. Sayang sekali keinginan itu tidak tercapai.

3. Soto Sutri




One of the legend. Setiap saya membuka website yang berisi rekomendasi kuliner di Purwokerto, Soto Sutri selalu bertengger di daftar manapun. Sebenarnya Soto Sutri tidak berada di Kota, tapi di Soekaraja. Posisinya juga masuk ke gang (bisa dilalui mobil), namanya Jalan Pramuka. Sepanjang Jalan sebenarnya ada dua Soto Sutri, saya mencoba Soto Sutri 2 yang kebetulan lewat pertama kali. Soto Sutri 1 yang merupakan pertama ternyata berada di belokan jalan yang lebih mengecil serta relatif sulit parkir mobil. 

Saya datang hari Jumat sesaat sebelum azan sholat Jumat memanggil. Dari awal saya udah rencana datang bukan jam makan siang, karena berdasarkan testimoni masyarakat sekitar serta ulasan di website, kalau mau datang jangan jam siang karena akan ramai banget. Selain itu setelah jam makan siang biasanya juga sudah habis. Saat saya datang, warung masih sangat lengang, pengunjung masih sepi. Saya memesan semangkuk soto. Ternyata Soto Sukaraja itu enak banget ya. Soto benin dan segar disajikan dengan kacang. Sambelnya pun sambel kacang. Rasa kuahnya perpaduan manis dan asin. Dagingnya tebal tapi empuk. Disajikan dengan kecambah, mie, ketupat dan kerupuk merah. Untuk porsi sebanyak itu kita hanya merogoh kocek 18 ribu saja! Sebulan disini, saya 2 kali datang. Belakangan suami bilang ternyata bisa pesan pakai sumsum, dan lagi-lagi, sampai kepulangan saya dari Purwokerto saya belum mencobanya :(.

4. Bakso dan Soto Samiasih




Another legend! Sama seperti Soto Sutri, Soto Samiasih terletak di Jalan Pramuka. Tapi ini bedanya Jalan Pramuka di kota 😁. Saya datang hampir masuk jam makan siang. Lokasi di tengah kota, warungnya relatif lapang. Tampaknya mereka mengakuisisi 3 warung sekaligus sebagai warung makan. Karena lokasinya lumayan luas, jadi meski jam makan siang tidak berasa sesak ditengah pengunjung yang silih berganti. Oiya, ternyata warung ini sudah berdiri semenjak tahun 70-an loh.

Mereka menyajikan Soto dan Bakso sebagai menu andalan. Awalnya saya ragu, lagi mood makan soto tapi mereka menaruh nama "Bakso" di paling depan, artinya Bakso sebagai super andalan mereka. Akhirnya saya meneguhkan hati untuk memesan soto campur. Akhirnya Soto muncul di hadapan saya! Segera saya suap sesendok soto yang masih panas demi mendapatkan kesan pertama. Ternyata ga nyesel dateng kesini. Ini enak. Pake banget. Seperti soto sukaraja lainnya, ini adalah soto yang disajikan menggunakan bumbu kacang. Rasa bumbu kacangnya gurih, begitu dicampur ke soto, rasanya blend banget. Memang ya, rasa manis kacang di soto itu memperkaya komposisi rasa soto. Gurih, manis, legit.

Saya pesan Bakso di kedatangan kedua. Rasa kaldunya tebal dan sangat berminyak. Racikan rempahnya juara. Untuk porsi jangan tanya ya, banyak banget! Kalau di Jakarta segini harga berapa ya. Untuk bakso dan soto harganya cuma 18 ribu saja!

Kali ketiga saya datang. Karena saya datang bersama keluarga yang meminta agar kacang dipisah, saya baru tau, ternyata kuah bakso dan sotonya sama. Wuiiih. Bedanya soto dikasih bumbu kacang dan kecap. Tapi saya sarankan kalau memesan soto default aja ya, soalnya saya ngeracik kacang dan kecap sendiri rasanya ga nendang haha.

5. Soto Bank H. Loso




Berlokasi di jalan Bank, hanya jarak jalan kaki dari museum Bank BRI. Tampaknya, soto Bank ini adalah satu-satunya Soto Sukaraja yang memakai kaldu dan daging ayam kampung. Jadi rasa kaldunya lebih ringan sehingga perut tidak sesak. Ini soto ter-chewy dan terjorok yang pernah saya makan! Dihidangkan menggunakan ketupat, bihun dan aneka komposisi lain seperti sroto pada umumnya. Yang bikin beda dihidangkan pakai kerupuk mie kuning direndam. Alhasil, dalam satu suapan rasanya ngegigit krenyes kecambah segar, kerupuk mie lembek alot, ketupat dan daun bawang. Bayangkan, benar-benar kunyahan gemas, ketagihan banget nguyahnya! Oiya harga semangkuknya 16 ribu saja.

6. Bakso Pekih




Bakso Pekih juga termasuk bakso andalan di Purwokerto. Berlokasi di Jalan Pekih, dekat dengan alun-alun. Tempat makan bakso ini? LUAAAAAAS. Banget. Jadi halaman depan carport yang dijadikan parkiran motor, kemudian dalam rumah bagian depan yang isinya gerobak dan kursi-meja makan. Lebih dalam lagi ada ruangan super luas berisi deratan meja dan kursi. Pertama kali saya datang sebelum jam makan siang, saya jadi berandai-andai, ini ga rugi apa ya pemiliknya nyewa (atau beli) lokasi seluas ini. Kali datang kedua saat jam makan siang. Ternyata penuh, penuh dan penuh! Penuh tapi tetap ada posisi untuk duduk. Meja dan kursinya model warung. Oiya jangan lupa ada mushola juga loh disini. Uniknya, pelayanan disini semi modern. Jadi pelayannya input pesanan menggunakan smartphone. Kemudian membawakan pesanan kita bersama bon. Berikutnya bon kita bayarkan langsung ke kasir. Sang kasir tampaknya pemilik langsung, dia menghitung manual memakai kalkulator. Tetapi tampak di mejanya layar komputer beserta software keuangan macam Zahira. Wiiw.

Adonan baksonya gurih banget, tapi sayang kuahnya cenderung standar. Kaldu tidak begitu terasa hanya racikannya yang enak. Baksonya ada 4 jenis: polos, urat, telor dan tetelan. Kita bisa memesan salah satu bakso diatas atau bisa paket kombinasi. Daaaan untuk satu mangkoknya cuma seharga 14.500 rupiaaah! Pantas mereka menyatakan bahwa Bakso Pekih, Bakso semua kalangan :D.

7. Sate Moro Kangen


Ini juga bukan berlokasi di Purwokerto, tapi di Soekaraja, relatif dekat dengan Soto Sutri, tetapi ini posisinya dipinggir jalan utama persis. Sate ini merupakan sate kambing muda yang menitik beratkan pada lembut dan segarnya daging. Jadi mereka membakar sate tidak memakai kecap, mirip seperti sate tegal. Satenya beneran lembut dan enak. Layaknya warung sate pada umumnya. Mereka juga menjual tongseng dan gule. Kami memesan gule kambing. Rasanya enak, gurih dan pas! Kekurangan disini adalah waktu yang dibutuhkan dari memesan hingga makanan dihidangkan tergolong lama. Soalnya mereka memotong daging, menusuk daging serta membakarnya by request. Mungkin supaya dipastikan yang disajikan benar-benar segar.

8. Oemah Sendok




Restoran ini menempati di jalan utama A. Yani. Parkirnya luas. Bangunan restorannya memiliki tema bangunan tradisional. Jadi interior dan ornamennya kental akan unsur jawanya. Mereka menjual aneka menu masakan Jawa. Saya memesan Bakmi godhog dan mendoan. Bakminya cukup segar, porsinya pas. Mendoannya juga enak. Ambience disini nyaman banget. Cocok untuk makan keluarga ataupun foto-foto. Pencahayaannya juga bagus. Namun karena disini banyak tanaman, jadi suka banyak nyamuk berkeliaran. Harga relatif menengah murah untuk ukuran restoran keluarga. Berhubung saya tidak memfoto, gambar ambil di internet yaaa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Baby Gear: Aprica Karoon Review

Sewaktu masih hamil hasan trimester kedua, saya udah mulai rajin buka tutup review stroller di pelbagai website. Banyak faktor yang dibutuhkan untuk memilih stroller yang pas. Pertimbangan saya dalam memilih stroller dapat dilihat di artikel saya sebelumnya mengenai kriteria stroller disini. Melihat segala kriteria saya dan budget yang dimiliki, muncul beberapa shortlisted. Namun, ternyata alhamdulillah Hasan mendapat kado stroller dari Datuk Aya. Berhubung dikadoin, saya mah pasrah apa aja. Apalagi lebih mahal dari budget kita hehe. Stroller yang dikasih Aprica Karoon. Seperti ini penampakannya.

Drama keberangkatan ke Chiang Mai

Setelah hampir 2 bulan, akhirnya saya memberanikan untuk menulis ini karena menurut saya pengalaman ini sangat memalukan sekaligus agak menyesakkan. Let's call it rejeki hanya sampai disitu saja dan rejeki pengalaman berharga.
Suami mendapatkan kabar pada bulan Juli kemarin bahwa akan dikirimkan ke Chiang Mai di bulan Oktober selama sebulan. Sontak saya gembira karena akhirnya akan kejadian juga tinggal di negara asing meski hanya sebulan. Sebenarnya suami mendaftar untuk pengiriman bulan Maret, setelah mengira tidak dapat jatah praktis kabar bulan Oktober ini sedikit mengejutkan. Mulailah pada saat itu saya malam-malam suka iseng membukan online travel apps semacam Traveloka, Tiket.com, dan pegi-pegi. Karena kami masih di Jogjakarta pada saat itu, kami memutuskan mulai agak serius memesan tiket nanti saja setelah kepulangan ke Jakarta pada bulan Agustus. Selain itu, kalau mencari tiket pada waktu itu saya juga tidak konsen karena otak saya masih terjejali rencana-rencana kunjung…

5 Buku Nonfiksi Favorit

Tahun 2019 adalah titik balik saya untuk kembali banyak membaca buku setelah tahun lalu dan tahun-tahun sebelumnya hanya membaca 2-3 buku per-tahun. Miris bukan? Oleh karena itu, postingan kali ini saya dedikasikan sebagai bentuk apresiasi saya kembali membaca. Daftar buku dibawah juga berdasarkan daftar bacaan saya tahun 2018 yang selengkapnya bisa dilihat di goodreads saya. Kali ini saya akan coba merekomendasikan 5 buku non fiksi, tanpa sesuai urutan favoritnya.
1. Mindset: The New Psychology of Success - Carol S. DweckSuka penasaran tidak kenapa banyak anak kecil yang dianggap sebagai child prodigy kebanyakan hanya mampu mekar pada tempo waktu yang singkat. Biasanya saat mereka sudah dewasa, kiprahnya malah jarang terdengar. Akhirnya saya mengetahui alasannya setelah membaca buku ini.
Carol S. Dweck membagi pola pikir manusia menjadi dua: growth mindset dan fixed mindset. Growth mindset adalah pola pikir yang mendorong kita untuk selalu berkembang. Sementara fixed mindset adalah …