Langsung ke konten utama

Run, Run for Your Life

Siapa yang menyangka (termasuk gw sendiri) bahwa seorang gw yang suka males-malesan ogah-ogahan olahraga, yang suka tiba-tiba ditarik kaki gw sama bokap tiap weekend di Jakarta dulu karena malas olahraga memutuskan untuk mendaftar lari marathon kelas 5k (saja). Berawal dari post plurk Irfan yang mengajak massa plurk untuk ikutan lomba marathon Halo Fit Run edisi Bandung. Sebenarnya sebelumnya gw udah random pengen ikut marathon, tapi 5 k aja dulu gara-gara liat post foto marathon nya si Ley di Facebook. Gayung bersambut, muncul post plurk ajakan Irfan, langsung ga pake mikir dua kali gw login di web site halo fit run. Ga mikirin dulu ngajak teman siapa biar barengan.

Akhirnya coba ngajak si Ley yang emang udah semacam hobi olahraga, cuma masih galau doi mengingat lagi banyak kerjaan dari Om Ben, tapi akhirnya berujung juga untuk mendaftar 5k (haha). Awalnya pesimis, tau sendiri lah, badan orang yang jarang dipake buat olahraga tiba-tiba mau dibawa lari 5k. Ragu juga, mau latihan tapi masih sibuk persiapan sidang yang praktis gw ga akan bisa ngapa-ngapain karena pasti bergadang, bergadang dan bergadang. Kira-kira sisa 2 minggu setelah sidang sebelum Halo Fit Run tanggal 30 Juni 2013. Konsultasi sama Ley, doi bilang masih kekejarlah kalo 2 minggu mah. Baru akhirnya mendaftar untuk lari 5k di web.

Persiapan

Akhirnya sidang magister beres. Yeeaaay! Oke sisa 2 minggu lagi nih. Tiap hari mau lari pagi ah! #maunya #pencitraan. Bangun besok paginya, males karena masih mau leyeh leyeh pasca sidang. Besoknya, lusanya, kemudian ortu datang, udah lewat aja sampe setengah minggu pasca sidang. Ortu sempat datang ke Bandung, ada meeting di Hyatt, jadinya dapat nginap di Trans Luxury Bandung. Alhamdulillah. Tapi praktis ga akan bisa lari pagi jadinya kan. Akhirnya diputskan berenang aja, sore dan besok paginya. Ga tau sih ini renang tergolong main-main apa enggak (segala sesuatu kalau kolamnya bukan ukuran olimpik anggap saja renang main-main :p). Tapi tetap saja diniatkan untuk "memanaskan" badan dipakai buat olahraga. Terus besoknya revisi, revisi, revisi, print Tesis sampai ngelucifer (tidak tidur minimal 24 jam) lagi. Paginya jadi agak stress, stress mikirin kapan waktu buat tidur. Mondar mandir hilir mudik ngurusin perjilidan tesis praktis akan sibuk dan ga ada waktu tidur bahkan di lab atau di kosan teman. Kemudian lanjut sore janjian sama Ley nemenin ke toko olahraga. Iya, gw sampe niat loh nyari heel spurs untuk persiapan lari (ciyeee). Pasti sampai malam. Yaudah praktis kata hampir 2 hari PENUH ini gw tidak akan tidur. Haha *miris*. Pada akhirnya baru sempat masukin jilidan jam  4, dijanjikan selesai jam setengah 6. Emm,, sebenarnya deadline ngumpulin ke TU hari itu juga,, cuma modal agak melas, nego-nego akhirnya dibolehin besok :p. Sewaktu memasukkan jilidan, dapat kabar dari Ley lagi heboh tugas dari Om Ben, molor jam 5. Tidak apa-apa, bisi sekalian nunggu jilidan beres. Sembari nunggu jilidan gw pergi shalat Ashar di Mesjid Unpad. Lelah, rebahan bentar masih pake mukena, ngeluarin Sherlock (si tablet) buat mainan Subway Surfers. Hilang Kesadaran. Iya betul, gw ketiduran sambil megang Sherlock, dan tas ga karuan kebuka resletingnya di depan gw. Alhamdulillah aman dan ga ada yang nyuri :'D. Setengah 5 selesai Shalat. Setengah 6 terbangun. Panik, ingat harus ngambil jilidan. Tanpa babibu langsung beresin tas dan segera meluncur ke tempat fotokopian. Gara-gara dari tidur langsung dipake buat buru-buru gitu, kepala dan badan gw semacam panas dari dalam gitu. Kayak mau meledak. Baca Sms dari ley, ngajakin ketemunya sekalian abis shalat aja. Sip, cocok nih. Akhirnya balik ke Salman buat shalat maghrib. Beres shalat maghrib, berasa ada air mengalir di hidung. Mimisan. Akhirnya pergi ke toilet buat ngebersihin dan beli yoghurt dalam rangka nyari sesuatu minuman yang bergizi (modus, padahal emang gw yoghurt addict aja xD).

Ketemu Ley di lantai bawah Labtek IXC. Langsung cabs ke Sport Stasion BIP. Beres, cari makan malam di food court, baru sampai rumah malam. Bandelnya gw, bukannya sampai rumah langsung bobo, malah nonton Quantum Leap dulu di PC :|

Besoknya, hari Selasa pulang ke Jakarta, di Jakarta akhirnya (ya akhirnya!) baru bisa terealisasikan lari pagi di komplek. Hari besoknya lari sore, lusanya ga lari :p, besok lusanya lari pagi lagi. Total cuma 3 kali lari sebelum hari H. Parah bet parah. Race pack pun minta diambilin sepupu di gedung pos di Jl. Ambon. Balik hari sabtu siang. Baru inget ga punya sepatu lari. Jadinya sepatu lari minjem ke sepupu. Ukuran 42. Padahal udahlah sepatu cowo, ukuran sepatu gw 38. Haha. Can't you imagine how silly I am? >.<

Hari H

Tiba hari H. Lokasi start point ada di depan Gedung Sate. Jalanan  masih super lengang, para pedagang gasibu juga baru datang nyiapin lapaknya. Ketemu Ley disana yang datangnya agak mepet start time 10k dengan asumsi bakal ngaret (dan iya emang ngaret start nya :p). Ketemu juga banyak anak TL09, Dariel, Kandu, Anggi, Wisnu, Nurulbaiti, dll. Gw ketemu juga Radix (TI 05) yang emang kuncen indorunner.

Start time 5k dimulai sekitar 15 menit setelah start time 10k. Terlihat berbagai macam jenis gerombolan manusia. Ada yang emang niat menang dan juara, udah steady di garis line terdepan. Gw dan Ley yang lari hore santai aja ke area start. Start flag dilakukan oleh seseorang bule direktur Telkom. Yang jenis emang ngincar juara udah langsung jauh aja lari melesat. Sebagian besar lainnya masih santai lari jogging dan ada yang masih pengen jalan dulu dengan asumsi manusia masih padat jadi susah lari. Gw termasuk kategori santai lari jogging (dengan kecepatannya yang tidak bertambah tentunya, malah menurun secara grafik eksponensial :p). Sampai di jl. Juanda bawah, akhirnya memutuskan untuk jalan cepat (iya, lemah bener ya). Jadi pola lari gw bentuknya sequential jogging-lari. Sampai disini, pola pikir gw sedikit aneh. Disini secara tidak langsung menghapal kira-kira orang-orang mana saja yang pola ritmenya seperti gw yang otomatis disekitaran gw secara konstan orang-orangnya bakalan itu-itu saja. Di pikiran gw seperti terpatri, wah kalo misal si A udah lari mendahului gw, gw berhenti jogging dan ikutan lari. Hal ini berlaku untuk sekitar 4-5 orang yang let's say, patokan gw. Ya gara-gara kini gw jadi tidak terlena cuma jalan doank dan bukan lari (ups).

Seingat gw, ada 2 pos minum sepanjang rute 5k. Disini gw menemukan pemandangan yang membuat hati gw cukup kecewa. Banyak sekali gelas-gelas bekas minum para pelari mengotori jalanan. Minus buat panitia, ya, mereka tidak menyediakan tempat sampah dimana para pelari bisa membuang gelas bekas minumnya. Gw tau, pasti nanti ujung-ujungnya panitia bakal mengutip gelas-gelas tersebut. Tapi alangkah baiknya apabila panitia menyediakan tempat sampah yang akan lebih baik secara estetika dan moral. Semoga ini bisa menjadi masukan bagi panitia.

Memasuki Jalan Riau, gw melihat beberapa pelari yang tiba-tiba jauh melesat mendahului para pelari yang ritmenya seperti gw ini. Dugaan gw mereka para pelari dari 10. Overlap. Hahahahaha edan gw yang 5k aja didahului sama pelari-pelari 10k yang tracknya udah muter gitu mengelilingi jalan Dipati Ukur dan Taman Sari. Jelas, mereka adalah orang-orang pelari benaran *bukan seperi gw yang pelari hore*.

Memasuki jalan Cimanuk (CMIIW), gw merasa ada jalur dipotong. Seharusnya treknya lebih memutar sedikit. Ternyata dugaan gw benar, Wisnu, anak TL 09 juga mengatakan hal serupa saat kami semua sudah melewati garis finish.

Semakin mendekati finish. Perasaan sedikit campur aduk, entah ingin terus memacu atau mau santai sejenak dengan jalan. Kepala dan badan gw panas akibat terbakarnya kalori.

"Ayo kak, semangat!", ujar Nurulbaiti tiba-tiba dari belakang dan lari mendahului gw

"Ya ya ya sok manga duluan aja!"

Dari posisi jalan cepat saya jadi mendadak semangat lagi untuk lari. Ini posisinya di jalan Cisangkuy yang mana sudah sangat dekat dengan garis finish. Dengan melawan rasa letih, memikirkan gw bisa istirahat sepuasnya setelah selesai, gw bantai buat lari terus sampai garis Finish.

Finish.

Bahagia sekali rasanya. Benar seperti kata Ley di blognya. Berlari Marathon membuat kita merasa seperti seorang juara saat berhasil mencapai garis finish. Benar-benar membuat bangga dengan diri sendiri. Bangga telah berusaha melawan diri dari segala kemanjaan dan berusaha tegar pantang menyerah. Lega. Lari benar-benar menempa kita bagaimana bisa bermental juara dan tahan banting. Minum air dingin, milo dingin dan 2 buah pisang. Kemudian bercengkerama dengan anak TL09 dan ketemu Ley kembali.

Suasana Halo Fit Run
Setelah mengambil barang bawaan di loker, boleh lah kita berpose sok-sok juara di podium. Aheeey.

Gw
Ley
Sedikit atau lebih, saya merasa film Seven Something memberikan pengaruh positif dan motivasi untuk saya agar mencoba berlari marathon. Dan kebetulan, di edisi marathon, yang jadi pemeran adalah Nickhun Horvejkul 2 PM. Jadi yah,, ehehehehehehe.
Rekam Jejak


Jika hanya ingin berlari, larilah jarak pendek. Tapi jika ingin berlari untuk hidup, larilah marathon - Seven Something

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Baby Gear: Aprica Karoon Review

Sewaktu masih hamil hasan trimester kedua, saya udah mulai rajin buka tutup review stroller di pelbagai website. Banyak faktor yang dibutuhkan untuk memilih stroller yang pas. Pertimbangan saya dalam memilih stroller dapat dilihat di artikel saya sebelumnya mengenai kriteria stroller disini. Melihat segala kriteria saya dan budget yang dimiliki, muncul beberapa shortlisted. Namun, ternyata alhamdulillah Hasan mendapat kado stroller dari Datuk Aya. Berhubung dikadoin, saya mah pasrah apa aja. Apalagi lebih mahal dari budget kita hehe. Stroller yang dikasih Aprica Karoon. Seperti ini penampakannya.

Drama keberangkatan ke Chiang Mai

Setelah hampir 2 bulan, akhirnya saya memberanikan untuk menulis ini karena menurut saya pengalaman ini sangat memalukan sekaligus agak menyesakkan. Let's call it rejeki hanya sampai disitu saja dan rejeki pengalaman berharga.
Suami mendapatkan kabar pada bulan Juli kemarin bahwa akan dikirimkan ke Chiang Mai di bulan Oktober selama sebulan. Sontak saya gembira karena akhirnya akan kejadian juga tinggal di negara asing meski hanya sebulan. Sebenarnya suami mendaftar untuk pengiriman bulan Maret, setelah mengira tidak dapat jatah praktis kabar bulan Oktober ini sedikit mengejutkan. Mulailah pada saat itu saya malam-malam suka iseng membukan online travel apps semacam Traveloka, Tiket.com, dan pegi-pegi. Karena kami masih di Jogjakarta pada saat itu, kami memutuskan mulai agak serius memesan tiket nanti saja setelah kepulangan ke Jakarta pada bulan Agustus. Selain itu, kalau mencari tiket pada waktu itu saya juga tidak konsen karena otak saya masih terjejali rencana-rencana kunjung…

5 Buku Nonfiksi Favorit

Tahun 2019 adalah titik balik saya untuk kembali banyak membaca buku setelah tahun lalu dan tahun-tahun sebelumnya hanya membaca 2-3 buku per-tahun. Miris bukan? Oleh karena itu, postingan kali ini saya dedikasikan sebagai bentuk apresiasi saya kembali membaca. Daftar buku dibawah juga berdasarkan daftar bacaan saya tahun 2018 yang selengkapnya bisa dilihat di goodreads saya. Kali ini saya akan coba merekomendasikan 5 buku non fiksi, tanpa sesuai urutan favoritnya.
1. Mindset: The New Psychology of Success - Carol S. DweckSuka penasaran tidak kenapa banyak anak kecil yang dianggap sebagai child prodigy kebanyakan hanya mampu mekar pada tempo waktu yang singkat. Biasanya saat mereka sudah dewasa, kiprahnya malah jarang terdengar. Akhirnya saya mengetahui alasannya setelah membaca buku ini.
Carol S. Dweck membagi pola pikir manusia menjadi dua: growth mindset dan fixed mindset. Growth mindset adalah pola pikir yang mendorong kita untuk selalu berkembang. Sementara fixed mindset adalah …