Langsung ke konten utama

Sedikit Cerita dari Sidang

Jadi pada hari ini, akhirnya saya menunaikan sidang akademis yang ke dua kalinya, di umur dua puluh dua. Berhubung ini yang kedua kalinya, mungkin udah ga sedeg-degan seperti hampir tepat dua tahun yang lalu saat pertama kali. Cuma tetap saja ada beberapa faktor yang pastinya menjelang sidang rasanya tidak seperti hari-hari biasanya. Misalnya kenyataan bahwa para eksekutor (baca: penguji) yang nantinya ada di hadapan saya berjumlah 5 orang, bukan 3 orang seperti dahulu kala. Saya juga sadar betul bahwa persiapan saya harus lebih matang dibandingkan pada saat sidang S1. Materi yang lebih rumit, serta lima orang penguji yang pastinya mewakili bidang-bidang keilmuan TL masing-masing yang nantinya akan menanyakan hal-hal terutama di bidang keahlian mereka.


Sidang S1 saya diuji oleh 3 orang dosen. 1 orang dosen pembimbing saya, Bu Ndit yang pada saat sebelum sidang saya prediksi akan menanyakan perihal kualitas dan model udara, 1 orang dosen (katakan saja) co-pembimbing saya teknik sipil, Pak Harmein yang akan menyinggung perihal transportasi serta 1 orang dosen yang berasal dari luar KK (Kelompok Keahlian), Pak Chae. Oh iya, sebelumnya dijelasin dulu bahwa TL dosen penguji baik sidang sarjana, magister ataupun dokter harus ada dari luar KK topik yang dibahasnya. Dosen penguji ini sudah dipilihkan oleh koordinator Tugas Akhir/Tesis/Disertasi. TL punya sistem seperti ini karena muridnya banyak, yang sidang pastinya juga banyak. Jadi ruangan, dosen, ruangan sidang sudah dimanajemen oleh koordinator merupakan dosen juga. Untuk S1 syaratnya 2 penguji berasal dari 1 KK (termasuk pembimbing) dan 1 dosen pembimbing lain dari KK lainnya di TL. Untuk kasus saya agak bingung juga. Bu Ndit dan Pak Chae dari 1 KK, yakni PUL (Pengelolaan Udara dan Limbah Padat). Tapi tetap aja kan udara sama limbah padat itu beda banget. Haha. Mungkin yang dianggap sama Pak Benno (Koor sidang Tugas Akhir saat itu) dari KK luar itu Pak Harmein, KK Transportasi Prodi Teknik Sipil. Jadi kesimpulannya 3 dosen penguji saya itu berasal dari spesifikasi keahlian yang berbeda-beda.

Benar saja dugaan saya sewaktu sidang S1 berlangsung. Pak Chae bertanya hal-hal yang memang ingin diketahui perihal penelitian saya, bukan ke menguji. Mempertimbangkan apa jawaban saya masuk akal dan berlandasan. Pak Chae nanyanya banyak banget. Bisa dikatakan 2/3 sidang milik beliau. Setelah selesai bertanya beliau lebih cepat keluar ruangan karena katanya ada urusan. Jadilah di ruangan tinggal bertiga. Saya, Bu Ndit dan Pak Harmein. Suasana bertiga ini tidak langka karena sepeninggalan Pak Chae bawaanya seperti ya sedang bimbingan biasa. Kemudian Pak Harmein mengetes sedikit pengetahuan ilmu transportasi saya terkait TA saya kemudian membetulkan jawaban-jawaban yang salah saat Pak Chae menanyakana saya sebelumnya. Jujur saja, saat sidang itu Pak Harmein bersifat membangun sekali. Kemudian tiba giliran Bu Ndit bertanya. Perihal kualitas udara. Entah kenapa saya tersendat menjawab beliau tapi tipikal pertanyaan beliau mengarahkan ke jawaban yang benar dan saya berasa dapat ilmu. Bukan seperti memojokkan. Kemudian keluarlah saya. Mungkin saya berbeda dengan teman seangkatan saya yang lain. Pucat, deg-degan, dan sejenisnya. Saya keluar dengan tampang yang cenderung cengengesan. Oh well, mungkin saya kehilangan kharisma saya (atau malah tidak punya?) di ruangan sidang. Wajar saja teman saya malah berseru,

"Kok pas lu keluar ga ada terharunya sama sekali sih? Beda sama yang lain!"

I laughed hard.

Saya pun bingung kenapa malah bisa seperti itu. Saat masuk kembali ke ruangan, Alhamdulillah Bu Ndit mengumumkan kelulusan bersyarat saya. Perasaan lega, teman-teman saya pun menghambur masuk. Sayang, tidak kesampaian foto bertiga dengan para dosen penguji saya. Pak Chae keburu pergi di tengah sidang, Pak Harmein langsung balik ke lab Transportasi karena sudah dikejar bimbingan oleh anak bimbingannya. Jadinya saya hanya sempat berfoto bersama dosen pembimbing saya :)

Satu lagi yang menyenangkan dari TA saya, saya berhasil  memenuhi keinginan saya melakukan persilangan ilmu di penelitian saya. Udara dan Ilmu Transportasi. Alhamdulillah :)

Menjelang sidang tesis saya, suasananya berbeda kembali.

Dua hari menjelang saya sidang, yakni saat sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan draft dan menyerahkan kepada penguji, saya mendapat kabar bahwa anak S1 yang barusan sidang jam 9 tidak lulus sidang.

"Gw dengar suara tangisan tadi di atas. Gw kirain tangisan terharu bahagia gitu, tapi kok makin lama makin keras. Ternyata ga lulus", ujar Arfan.

"Iya Jun, katanya metodologinya salah, jadi harus diulang.", tambah Rana

"Oke, cukup fatal sih", ujar saya dalam hati.

"Di dalam tadi penguji ada dosen pembimbing lo dan gw loh net", sambut Arfan lagi.

Perasaan saya campur aduk. Saya sedih mendengar kabar tidak lulus itu. Semoga anak TL 09 itu dilapangkan dan dikuatkan oleh Allah. Amin. Di sisi lain, saya jadi sedikit khawatir bagaimana dua hari ke depan saya.

"Bu Dwina, Bu Ndit, Bu Kania lumayan banyak loh ga ngelulusin muridnya", respon Kak Yeni perihal cerita saya tadi pagi, setengah jam sebelum saya sidang.

Memang sih, angkatan setelah saya, 2008 dan 2009 ada beberapa anak yang bermasalah sidangnya. Ada yang ditunda pengumuman sidangnya, ada yang harus diuji ulang dan yang terakhir tidak lulus. Angkatan saya Alhamdulillah tidak ada masalah bahkan yang melanjutkan S2 sampai sekarang dan moga-moga benar-benar sampai semuanya yang mengambil S2 lulus tidak ada masalah juga (Amin).

Haha. Yaudah sih ya, pasrah aja kan. Toh saya sudah melakukan yang terbaik. Oke singkat kata jadi kelima dosen penguji saya itu adalah Bu Ndit, Bu Kania, Bu Dwina, Pak Doni dan Pak Haryo. Kalau saya prediksi sebelum sidang, Bu Ndit tidak akan banyak bertanya, Bu Kania tentang udara, Bu Dwina membahas statistik. Pak Doni dan Pak Haryo mengenai jaringan ANN (Artificial Neural Network). Yang paling saya khawatirkan malah sebelum sidang adalah masalah statistik. Benar. STATISTIK. Selain saya memang tidak begitu suka kuliah ini sejak tingkat 2 sarjana, yang paling fatal saya tidak melakukan SAMA SEKALI uji statistik untuk pre-eliminary dan hasil data saya. Jadi dari beberapa hari sebelum sidang saya belajar statistik beserta mempersiapkan jawaban yang memang benar tapi masuk akal namun tetap saja atas nama "ngeles" saya. Saya tidak melakukan uji statistik dengan asumsi model saya sudah mengeluarkan hasil berupa R, RMSE dan MSE serta pada tahap pre-eliminary saya melakukan scatter plot dalam mencari hubungan dan merasa itu sudah cukup.

Saat sidang tiba. Sedikit Telat. Pukul 10.30 saat saya masuk ruangan. Bu Ndit tampak cantik. Iya, beliau tampak lebih cantik jika ada sidang anak bimbingannya. Haha. Pak Haryo ganteng, pakai jas. Aduh maaf, kok jadi salah fokus gini :p. 

Selesai presentasi didepan para penguji, sesi penanya pertama dibuka oleh Pak Doni. Tepat dugaan saya, beliau mengulas dan menguji pemahaman saya mengenai ANN. Begitu juga Pak Haryo, ditambah dengan kemampuan saya mengolah data dalam jaringan dan memastikan pekerjaan saya benar atau tidak. Saya selalu suka jika giliran Pak Haryo. Beliau sangat konstruktif, semua saran dan pertanyaannya membangun dan selalu mengajukan sesuatu yang mendorong saya untuk mencoba dan mengaplikasikannya. Misalnya beliau menyebut Genetic Algorithm dan Radial Basis Function (RBF). Wow, I should give it a shot someday ! :D. Sedikit lirik arloji, setengah satu kurang untuk dua orang. Ya, sekitar setengah jam jika dipotong waktu presentasi saya.

Tiba giliran Bu Dwina. Di luar dugaan saya, beliau tidak bertanya perihal statistik. Pertanyaan dibuka mengenai bagaimana ozon terbentuk di troposfer. Alhamdulillah, saya bisa menulis reaksi di papan tulis, dan menjelaskannya. Selain itu juga ditanya perihal sedikit scatter plot saya yang saya terima dengan kesalahan saya. Lanjutan kritik dari Pak Haryo sebelumnya. Kemudian giliran Bu Kania. Beliau menanyakan lebih struktural. Misal bagaimana ini linearias antara tujuan dan kesimpulan penelitian saya. Beliau juga menanyakan tentang kualitas dan komponen udara. Kemudian tiba pertanyaan,

"Kamu mengerjakan ini berapa lama?"

"Nunggu Bu Ndit pulang dari Australi", Canda Pak Doni.

"Hmm, yah katakan 8 bulan bu". Jawab saya.

"Waktu yang cukup lama untuk mengerjakan ini, kamu banyak bengong ya?."

Saya 100% tidak mengingkari perkataan Bu Kania ini. Ya tepat sekali beliau. Saya pun merasa sangat lama sekali mengerjakan penelitian ini. Entahlah. Kadang-kadang kalau saya ingat, boros waktu sekali saya. Cuma kalau saya sedikit muhassabah, semuanya seperti diatur sama Allah.

Ya betul saya banyak bengong seperti kata Bu Kania.

Ya betul saya tidak seintensif saat penelitian S1.

Namun saya balik lagi ke pemikiran, saya pada saat itu berusaha. Namun entah kenapa Allah memutar dan menyetel waktu saya tidak bisa mengejar April. Selalu ada saja hal yang terjadi. Entah salah satu dosen penguji seminar 1 tidak bisa, atau seminar 1 yang diundur beberapa kali karena alasan tersebut, dan lain-lain. Sudahlah, saya sudah melakukan terbaik dan harus banyak bersyukur.

Bu Kania beres. Lirik jam, masih pukul 12 kurang. Oke santai, Bu Ndit paling tidak banyak bertanya. Ternyata saya salah. Sangat diluar dugaan saya, gara-gara saya membuat satu slide terakhir mengenai VOC/NOx, bahan dan pembahasan yang tidak ada di draft tesis dan baru saya susun serta pikirkan semalam sebelumnya, Bu Ndit pun menjadi semangat untuk "mengisengi" saya. Betul, beliau menanyakan saya perihal kimia atmosfer. Entah mengapa beberapa hal saya kok malah lupa. Coba bayangkan, masa nama "berat molekul" saja saya lupa! Haha.

"Kenapa menghitung VOC/NOx satuan konsentrasi harus ppm, bukan ug/m3?", Uji Bu Ndit.

"Karena untuk mixing ratio, per unitnya harus sama. Kalau ppm kan misal konsentrasi VOC terhadap konsentrasi semua zat dalam satu satuan volume. Jadi yang dibandingkan sama."

"Kalau dari ug/m3, kamu bisa ga langsung menghitung jadi satuan ppm? Coba harus ada unsur apa untuk mengkonversinya?"

"Aduh, ampun bu, saya tau "itu" apa, tapi saya kok lupa ya. "Itu" yang misalnya O nilainya 18".

"Udah lupa, salah pula!", celetuk Pak Haryo tiba-tiba sambil tertawa.

"Eh, maaf salah pak. 16 Maksud saya."

Kemudian saya cengengesan di depan.

Walaupun model seperti itu, tapi rentetan pertanyaan Bu Ndit benar-benar menuntun saya ke jalan yang benar. Mengritik sesuatu hal yang saya salah lakukan. Sangat membangun bahkan saya mengetahui hal yang belum saya ketahui sebelumnya serta merangkai dan memperluas analisis saya di bagian analisa kimia atmosfer. Senang sekali saya rasanya.

Pertanyaan 5 penguji beres. Bu Ndit menyuruh saya keluar.

"Wow, kurang dari 2 jam Net!".

Liat arloji, ternyata benar itu adanya. Kembali lagi saya tidak menyangka. Di dalam ruangan 5 orang dosen loh. Malah pak Benno sebenarnya mengalokasikan ujian sidang tesis 2.5 jam karena menilik bahwa ada 4 orang penguji. Tapi saya 5 orang penguji dan kurang dari 2 jam. Alhamdulillah.

Kemudian Pak Doni keluar lebih cepat, tampaknya ada urusan. Tak lama, Bu Ndit memanggil saya kembali masuk. Untuk kedua kalinya, Bu Ndit membacakan kelulusan bersyarat saya. Alhamdulillah. Saya salami keempat dosen yang tersisa. Lagi-lagi cita-cita saya berfoto dengan seluruh dosen penguji saya gagal. Pak Doni sudah keluar duluan. Bu Ndit keluar ke kamar mandi. Pak Haryo, Bu Dwina dan Bu Kania langsung makan di lab karena jam 1 menjadi penguji kembali di sidang yang lain.

Benar-benar Alhamdulillah rasanya. Dua kali, dari rasa sedikit khawatir kemudian dimudahkan oleh Allah. Betul, seluruh kemudahan datangnya dari Allah dan seluruh rasa khawatir serta was-was datangnya hanya dari syaitan.

Yah, jadi begitulah sedikit cerita dari sidang saya. Moga-moga ada sidang yang ketiga dan kali ini sudah ditemani oleh suami (Amin!) :D

Have a nice day, lads!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Baby Gear: Aprica Karoon Review

Sewaktu masih hamil hasan trimester kedua, saya udah mulai rajin buka tutup review stroller di pelbagai website. Banyak faktor yang dibutuhkan untuk memilih stroller yang pas. Pertimbangan saya dalam memilih stroller dapat dilihat di artikel saya sebelumnya mengenai kriteria stroller disini. Melihat segala kriteria saya dan budget yang dimiliki, muncul beberapa shortlisted. Namun, ternyata alhamdulillah Hasan mendapat kado stroller dari Datuk Aya. Berhubung dikadoin, saya mah pasrah apa aja. Apalagi lebih mahal dari budget kita hehe. Stroller yang dikasih Aprica Karoon. Seperti ini penampakannya.

Drama keberangkatan ke Chiang Mai

Setelah hampir 2 bulan, akhirnya saya memberanikan untuk menulis ini karena menurut saya pengalaman ini sangat memalukan sekaligus agak menyesakkan. Let's call it rejeki hanya sampai disitu saja dan rejeki pengalaman berharga.
Suami mendapatkan kabar pada bulan Juli kemarin bahwa akan dikirimkan ke Chiang Mai di bulan Oktober selama sebulan. Sontak saya gembira karena akhirnya akan kejadian juga tinggal di negara asing meski hanya sebulan. Sebenarnya suami mendaftar untuk pengiriman bulan Maret, setelah mengira tidak dapat jatah praktis kabar bulan Oktober ini sedikit mengejutkan. Mulailah pada saat itu saya malam-malam suka iseng membukan online travel apps semacam Traveloka, Tiket.com, dan pegi-pegi. Karena kami masih di Jogjakarta pada saat itu, kami memutuskan mulai agak serius memesan tiket nanti saja setelah kepulangan ke Jakarta pada bulan Agustus. Selain itu, kalau mencari tiket pada waktu itu saya juga tidak konsen karena otak saya masih terjejali rencana-rencana kunjung…

5 Buku Nonfiksi Favorit

Tahun 2019 adalah titik balik saya untuk kembali banyak membaca buku setelah tahun lalu dan tahun-tahun sebelumnya hanya membaca 2-3 buku per-tahun. Miris bukan? Oleh karena itu, postingan kali ini saya dedikasikan sebagai bentuk apresiasi saya kembali membaca. Daftar buku dibawah juga berdasarkan daftar bacaan saya tahun 2018 yang selengkapnya bisa dilihat di goodreads saya. Kali ini saya akan coba merekomendasikan 5 buku non fiksi, tanpa sesuai urutan favoritnya.
1. Mindset: The New Psychology of Success - Carol S. DweckSuka penasaran tidak kenapa banyak anak kecil yang dianggap sebagai child prodigy kebanyakan hanya mampu mekar pada tempo waktu yang singkat. Biasanya saat mereka sudah dewasa, kiprahnya malah jarang terdengar. Akhirnya saya mengetahui alasannya setelah membaca buku ini.
Carol S. Dweck membagi pola pikir manusia menjadi dua: growth mindset dan fixed mindset. Growth mindset adalah pola pikir yang mendorong kita untuk selalu berkembang. Sementara fixed mindset adalah …