Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2019

Majalah Bobo dan Literasi Masa Kecil

Ayo ngacung, siapa yang disini masa kecilnya ditemani oleh romantisme bersama majalah Bobo?
Generasi X dan Generasi Y yang lahir pada rentang tahun 1961-1980 dan 1981-1994 sudah pasti tidak asing terhadap majalah Bobo. Majalah Bobo ini sendiri berdiri pada tanggal 14 April 1973 dan masih ada sampai sekarang. Wow, artinya umurnya sudah menjajaki 46 tahun ya! Ibaratnya kalau manusia sudah memasuki usia paruh baya yang kaya akan pengalaman hidup.

Saya sendiri yang lahir pada tahun 1991 dan termasuk Generasi Y merasakan betapa majalah Bobo yang terbit mingguan itu menemani hari-hari saya semasa kecil. Tahun 90-an dan hidup di kota kecil membuat para anak-anak disana minim hiburan selain bermain di lapangan dan video game semacam nintendo dan sega. Seingat saya, kami mulai berlangganan saat saya TK, mungkin sekitar tahun 95 dimana saya berusia 4 tahun. Saya yang katanya tergolong cepat bisa membaca pada saat itu sedang menjalani masa haus-hausnya untuk membaca. Sementara abang saya lebih …

Romantisme Hasan dan (Calon) Adeknya

Makanya, Hasannya sedih kan tiap pulang dari ketemu saudaranya. Belum ada adeknya sih, jadi sendirian. Terus terang, saya suka sedih dan keki dengan respon dan komentar-komentar semacam itu. Sedih buat sayanya yang memang sudah lama ingin memberi adik untuk Hasan, dan sedih untuk Hasan karena terkesan mendiskreditkan Hasan.

*akan diperbaharui secara berkala, tergantung suasana hati 😙


Di saat saya menulis tulisan ini, Alhamdulillah saya sedang hamil jalan 36 minggu di usia Hasan yang memasuki 3.5 tahun itu. Dari dulu, Hasan memiliki suatu kelemahan yang sangat terlihat. Apakah itu? LEMAH TERHADAP BAYI-BAYI 😀 Hahaha, jika itu mau disebut kelemahan. Hasan selalu suka sama bayi-bayi. Kalau tiap mau main ke tempat temannya atau saudaranya, pasti yang disebut pertama kali yang lebih muda dari dia atau yang bayi-bayi. Kalau lagi makan di restoran dan kebetulan sedang ada bayi-bayi, Hasan mendadak makan tidak konsen. Hasan yang memiliki kepribadian membutuhkan adaptasi terhadap orang baru …

Momen Traumatis Terhadap Gula

Saya: Semenjak pulang dari Pemalang, aku merasa traumatis banget buat konsumsi gula. Biasanya relatif gampang beli minuman manis. Chatime aja tinggal ngesot juga jadi. Ini tiap tiba-tiba kerasa pengen minum minuman manis, benar-benar bergulat dalam pikiran beli atau engga, yang 98% berujung dengan ga beli. Ternyata gula sejahat itu ya?Suami: Loh, baru sadar?
Apakah yang terjadi di Pemalang? Kenapa saya sampai segitu traumatisnya dalam mengkonsumsi gula? Perkara berat, atau?

Gula dan Saya Dari dulu saya merasa diri saya adalah sweet-tongue. Saya suka makanan manis, meski saya tidak rutin mengkonsumsinya. Saya bukanlah orang yang rutin mencari makanan manis secara harian. Kalau pun mencicipi makanan manis, saya tidak bisa banyak-banyak. Tapi, sekalinya makan atau minum yang manis, harus manis banget. Sejatinya saya suka membuat kue dan minuman manis. Tapi bertahun-tahun saya tidak membuatnya dengan alasan tidak ada massa yang menghabiskannya. Anak saya tidak suka ngemil. Saya pun tidak …

Travelling Sebulan, Kehidupan Baju 7 Hari dan Konmari

Siapa sih jaman sekarang yang tidak mengenal Marie Kondo dengan teknik Konmari-nya?

Marie Kondo terkenal dengan bukunya yang berjudul "The Life Changing Magic of Tidying up". Harga tanah dan properti yang sangat mahal di Jepang, membuat standar luas apartemen dan rumah orang Jepang tidak besar. Keterbatasan ruang ini menyebabkan mereka benar-benar memperhitungkan barang-barang yang ada di rumah mereka. Marie Kondo dikenal sebagai ahli berbenah yang menciptakan metode Konmari, yang mana nama Konmari ini berasal dari namanya, KONdo MArie. Ia mengklaim dengan memiliki jumlah barang yang terbatas dan hanya yang membuat kita senang, artinya kita sudah memutuskan untuk hidup di lingkungan positif. Banyak yang mengklaim kehidupannya mendadak lebih bahagia pasca berbenah. Untuk selanjutnya Marie Kondo dan Konmari dikenal dengan frase: Does it spark joy?
Netflix yang jitu pun mengambil peluang dengan cara mengajak Marie Kondo pada sebuah acara televisi bergenre realita yang terdiri da…

Panduan Menggunakan Transportasi Umum di Chiang Mai

Meskipun saya tinggal selama sebulan di Chiang Mai, saya tetap memandang kami sekeluarga adalah turis di kota itu. Sebagai turis, mencari tahu sarana transportasi umum apa saja untuk kepentingan memudahkan mobilisasi menjadi sangat krusial. Saya sudah mulai riset internet sejak hampir sebulan sebelum keberangkatan. "Salah satu kelemahan Chiang Mai adalah transportasi publiknya buruk", ujar seorang teman saya yang sudah lama tinggal disana.
Lantas saya menjadi bimbang untuk ikut serta kesana? Tidak! Saya malah semakin tertantang untuk mencari tahu. Bagi yang ingin mengunjungi Chiang Mai, semoga informasi ini bisa bermanfaat ya!
Transportasi Umum Massal 1. Songthaew (Red Car)
Menggunakan transportasi umum di Chiang Mai sejatinya mahal, apalagi kalau ingin dibandingkan langsung dengan biaya transportasi umum di Indonesia. Songthaew, dikenal dengan Rod Daeng/Red Car, atau kita kenal dengan angkot versi Thailand. Merupakan sarana transportasi umum paling populer di Chiang Mai. M…