Langsung ke konten utama

Pelesir Kota Tanpa Rencana

"Gw dibilang gila sama temen gw, ke Bogor cuma buat ngopi Doctor Who doank!"
Begitu kata seorang teman saya dua hari yang lalu. Setidaknya kemarin setelah tulisan ini ditulis. Saya cuma bisa tertawa  tetapi dalam hati sangat setuju dengan ide teman saya itu, Ririn. (Katanya) dia naik bus MGI dari Terminal Leuwipanjang ke arah Leuwiliang pukul 12 siang sesuai arahan saya. Awal rencana saya menyuruhnya turun di depan kampus IPB Dramaga karena toh saya pikir lama perjalanan paling tidak 3.5 jam. Saya beres memberi praktikum, shalat kemudian bisa ketemu dan pergi bareng ke kota sambil melakukan "transaksi" disana. 

Ke Bogor dengan tujuan utama Doctor Who edisi Matt Smith


Berpedoman rencana ini bahkan saya sampai miskalkulasi, berangkat ke departemen ogah bawa payung karena cerahnya bukan main, ternyata setelah beres hujan. Deras. Karena berpikiran setengah 4 saya harus jemput ke depan kampus, saya lari hujan-hujanan ke lab sambil mendekap laptop. Efeknya sekarang tangannya masih keram :|. Ternyata oh ternyata, hujan membawa apes. Teman saya terjebak macet. Intinya pada akhirnya saya menginstruksikan untuk turun di Lotte Mart sebelum Yasmin dan mengasumsi saya dari Kampus akan sampai barengan disana. Perhitungan saya tepat! (hurrah~). Katastrof lainnya, udah tau saya mau menggelontorkan file sebesar belasan giga, teman saya lupa bawa Hard Disk yang pada saat ini kondisinya sama seperti makan lauk tanpa garam xD. *Poker face*. Apa mau dikata, jadinya beli DVD-R dulu di Gramedia. Akhirnya "transaksi" bisa dilaksanakan sambil makan malam di lantai paling atas (literally). Kenapa di Botani Square? Karena posisinya kurang dekat apa sama Terminal Baranangsiang. Lebih banyak pilihan bus dengan ragam jadwal, begitu maksud saya, walaupun ternyata pada kenyataannya teman saya ini hampir tidak bisa pulang karena jadwal bus MGI ke Bandung terakhir jam 8 x'D. Well, ain't that well enough? everything was according to plan, after all (whaa,, what plan??! :p)

Menarik.

Walaupun ini impulsifnya kebangetan, tapi impulsif tanpa rencana sebagian besar masih merupakan nama belakang saya. Ada dua cerita impulsif kota yang sungguh saya ingat. Salah duanya yang menyenangkan. Terlalu banyak yang saya dapatkan dari wandering kota begini. Bahagia. Dan keduanya adalah jalan-jalan plus-plus yang ternyata kepuasannya sama atau hampir besar dari tujuan awal pergi ke kota tersebut.

Sekali merengkuh dua-tiga pulau terlalui

Tengah tahun 2009. Di jumat malam saya sudah terlalu lelah (atau memang malas :p) untuk mandi dulu karena sebelumnya latihan mini Marching Band dulu buat nampil di suatu acara perusahaan di suatu hotel daerah Slipi, Jakarta. Diinstruksikan dari awal agar semua pemain diharapkan shalat subuh pada hari sabtu di Mesjid Salman ITB saja agar setelahnya tidak memakan banyak waktu mengumpulkan semua anggota untuk keberangkatan ke Jakarta. Sebelum tidur saya setel alarm. Pukul 4, agar ada waktu mandi dan bersiap-siap diantarkan ke kampus.

brrrtttt,, brrrtt,, brrttt,,

What the... 27 missed calls??!

Ternyata pukul 4.45!. Bahkan azan subuh sudah berlalu. Hormon adrenalin langsung membuncah. Sontak tanpa babibu saya loncat dari kasur. Shalat, ganti baju langsung minta diantarkan ke kampus. Mandi, udah mandi Net? Ehehehehe. Sesampai disana benar-benar tidak enak hati dengan teman-teman. Karena paling telat begitu. Hp tidak bisa dihubungin pula. Dan benar-benar langsung berangkat.

Di jalan menuju Jakarta, saya dapat jarkom ada reunian kelas 12 SMA saya, 12 IPA tiga a.k.a Kudeta SMAN 28 Jakarta, Pasar Minggu. Tempat reuniannya di rumah salah satu teman saya, yaitu di bilangan Cinere. Langsung SMS minta izin sekalian reunian ke Ayah. Padahal orang tua saya saat itu lagi dipindahkan, tidak di Jakarta :))).

"Oke, naik apa kesananya?", tanya ayah saya.

"Ga tau, belum cari-cari tau euy."

"Mau naik taksi aja?"

"Jangan deh, ga seru."

"Yaudah, coba naik blablablaabla,,, terus blablabla,,,. Coba cari tau dulu."

So much win. Ayah saya mentalnya ga jauh dari saya. Jadi perihal minta ijin pengen naik kendaraan umum ke suatu tempat semacam sudah dipahami. Biasalah, like father like daughter :p.

Herannya entah kenapa saya bawa santai begini. Sampai sudah beres tampil pun. Kemudian didata kembali siapa saja pemain+official yang ikut bis kembali ke Bandung dan siapa saja yang tidak. Perlu digaris bawahi lagi, bahkan sampai fase ini saya masih dalam fase "ga ada bayangan ke cinere naik apa dan gimana". Sampai akhirnya ada seorang teman MBWG (Marching Band Waditra Ganesha, nama unit MB ITB), Aussa melaporkan dirinya tidak ikut bis, mau ke arah Lebak Bulus (kalau ga salah) karena ada tantenya meninggal. Kebetulan. Akhirnya saya bilang ke Aussa mau ikutan bareng naik Damri/Kopaja ke arah selatan. Sisa Lebak Bulus - Cinere, saya sms teman saya agar diberikan instruksi. Turun bus di dekat perbatasan Cinere Depok-Cinere Tangsel. Disitu saya dijemput oleh teman SMA saya yang rumahnya dijadiin tempat acara. TADAAAA,, sampai juga akhirnya~ :D

Kembali lagi,, sampai acara beres saya tetap tidak ada ide bagaimana ini pulang. Tetap santai dong (atau kelewatan santai). Entah kenapa meskipun saya Pejabat (Peranakan Jawa Batak), suka tidak enak hati begitu, tidak bisa mengungkapkan langsung entah mencari barengan pergi ke cinerenya, atau mencari barengan pulang turun sampai mana. Harus dipancing. Sampai akhirnya saya menemukan beberapa gelintir manusia yang pulangnya diantar sang empu rumah sampai SMA 28. Bazinga! Saya menawarkan diri ikut bareng. Sampai muncul pertanyaan berikutnya:

Bagaimana caranya pulang ke Bandung?

Tiba-tiba dapat SMS dari Aussa, bertanya bagaimana saya pulang. Telepon Xtrans dan Cipaganti (jaman itu bisnis travel belum sehip sekarang) area Cinere Lebak Bulus sekitarnya. Ternyata tidak ada kursi kosong. Timbul ide saya, bagaimana kalau saya pesan travel dari Cibubur, berhubung itu bukan Kota, tapi daerah pinggiran (yoi! B'D). Ternyata dapat. Inilah yang semakin meyakinkan alasan saya ikut kloter diantarin ke SMA 28. Berbekal ingatan pengetahuan dunia rute perangkotan seadanya, sesampai di SMA 28 say coba menerka kembali angkot apa saja yang akan membawa saya ke Cibubur. Yang pasti 3 kali angkot. S15a sampai Pasar Rebo, hampir angkot apa saja sampai simpang Kp. Rambutan dan terakhir angkot 121 melalui jalur tol.

Sampai di pool Cipaganti. Sisa setengah jam, belum makan, beli McD di Plaza Cibubur. Tepat waktu sampai pool. Dan sampailah saya di Bandung :'D

Apa yang saya dapatkan dalam perjalanan seharian itu meski belum mandi hampir tepat 2 hari (kok dibahas sih xD)?

Nampil + reunian + impulsif + get lost + angkutan umum = Priceless!!

Bagai sekali mendayung dua-tiga pulau terlampaui, kesenangan, kepuasan, kebahagian batin yang didapatkan. Mungkin bagi sebagian orang ceritanya biasa saja. Tidak ada yang menarik. Tetapi bagi saya ini pengalaman luar biasa. Jarang-jarang bisa begini. Sama seperti hidup. Terkadang alur hidup diluar rencana itu menyenangkan bukan? Itulah intinya hidup. Enjoy the unplanned plan!

A Walk To Remember

Ini cerita terbaru. Dibandingkan cerita diatas yang sudah basi sekali, sekitar 5 tahun yang lalu. Sekitar 2 minggu yang lalu saya ke Bandung yang sebenar pada intinya saya mau seminar hari Seninnya di LAPAN, Bandung. Rencana awal saya cetak poster di Jakarta, kemudian bareng tante ke Bandung Minggu siang, kemudian besoknya seminar, kabur sedikit lebih awal dengan modus mau ke Kampus.

Ke Kampus ngapain net?

Banyak. Berhubung akhirnya saya bisa ke Bandung weekday, saya mau sekalian ambil ijazah dan transkrip Inggris di TU FTSL, Ke Lab udara, ketemu dosen pembimbing saya buat membicarakan sesuatu, mondar mandir di prodi, menyapa teman dan junior, menyapa dosen-dosen, serta bernostalgia dan membuka kembali ruang memori saya di kampus. Ternyata saya tidak bisa mencetak poster di Jakarta karena selesainya lama dan tidak terburu. Langsung pesan travel. Dapat Minggu jam 8. Kenapa harus berangkat pagi? Karena saya takut prinnya tidak beres dan sekalian bisa main, ketemu teman dan mutar-mutar di Bandung :p.

Ternyata Tante saya memutuskan ikut pulang cepat saja. Jadi meski sudah memesan travel, pada akhirnya berangkat jam 8 sama tante saya serta sepupu. Jam 8 lewat maksudnya, hehe. Sampai di Bandung jam 10. Yang biasanya selalu keluar di gerbang tol Cimahi, sekarang keluar gerbang tol Pasteur karena mau mengantar saya dulu ke Tirta Anugrah (tempat langganan print poster atau skala besar). Apa mau dikata, Tirta Anugrah (masih) tutup. Mungkin karena hari Minggu. Akhirnya coba cari di DU simpang Unpad. Dan benar saja, pada buka. Inilah tempat yang menyediakan fasilitas 24 jam dan menjadi surga bagi anak-anak mahasiswa yang dikejar hantu bernama deadline Tugas Akhir :))). Setelah bertanya di tiap kios, akhirnya pada kios keempat yang menerima print poster ukuran A2. Eh baru inget, ternyata itu adalah tempat dimana saya mencetak kilat Tesis 4 eksemplar sampai saya mimisan :"D.

Nunggu posternya agak lama, jadi saya janjian ketemuan dulu sama teman. Tapi janjiannya ga jelas LOL. Sebelum mendapat kejelasan, saya memilih ke McD Simpang Dago, mau makan eskrim grean tea red bean :9. Sebenarnya jarak dari fotokopian ke McD lumayan juga. Tapi saya memilih berjalan kaki dengan alasan:

  • Terlalu dekat naik angkot, sayang duit Rp 1.500 (lagi pelit kak!)
  • Jalan kaki biar sehat
  • Nostalgia
Sebenarnya alasan ketiga ini adalah alasan paling krusial dan penting buat saya. Walaupun cuma seruas jalan yang panjangnya tidak sampai 1 km, tetapi banyak sekali kenangan di area sekitar situ. Lagian, hidup saya 6 tahun di Bandung memang tidak jauh-jauh berkisar Bandung utara. Berjalan, menikmati suasana Bandung, menghirup hawa udara segar (anggap saja segar meskipun lalu lalang kendaraan :p), wandering. Derap langkah kaki saya yang tergolong cepat untuk rata-rata orang Indonesia (tapi tentu lambat untuk Nihonjin) menjadi lebih lambat sepertiga kali. Sesekali ke Bandung seperti ini memang paling asyik membuka ruang nostalgia. Mengingat hal-hal seru, kejadian lucu, senang-senang, cita-cita, jatuh cinta, patah hati. Semuanya. Memang benar seperti kata Pidi Baiq, personel band Panas Dalam:
"Bandung tidak hanya soal letak geografis, tapi juga masalah hati."
Seruas sebagian jalan Dipati Ukur, yang berisi daerah-daerah simbolik dan menjadi pintu mengingat yang sudah terjadi. Mulai dari Mesjid Unpad dimana ketiduran saat dahulu menunggu prin Tesis, ruas jalan dimana melakukan floating speed survey dan traffic counting yang dibantu teman-teman Savakra dengan ikhlas demi kepentingan TA saya :'), tempat-tempat kuliner, semuanya terus saling taut menaut seperti rantai sepeda.

Buku asik
Sesampai di McD akhirnya baru bisa janjian dengan Teman yang menolak bertemu di McD. Katanya McD simpang sekarang sudah terlalu banyak anak abg labil. Dan ternyata benar. Everything's changed ya :|. Jam makan siang ketemu makan dan ngobrol di Sam's Strawberry di depan Borma. Kangen makan yamin di Sams kak! Jadi Sams tempatnya baru dan jauh lebih layak dibanding dulu saat posisi di depan SMAK 1 Dago. Setelah beres karena teman saya memilih tidur di kosan karena ngantuk, saya lebih baik cek ke fotokopian sekalian ambil hasil print. Ternyata sudah beres. Marilah pulang, naik angkot. This was the interesting part! Menguji kembali pengetahuan dunia perangkota Bandung. Dari depan Unpad saya naik Panghegar-DU, melewati rumah kedua saya selama 6 tahun a.k.a ITB, kemudian turun di perempatan BEC-Gramed. Jalan kaki sepanjang Purnawarman dan memilih "nyangkut" dahulu di Gramed. Banyak ketemu buku asik termasuk buku Kriegsmarine xD. 

Sekilas ITB, hasil jepretan tahun 2010
Jalan kembali sampai simpang Rumah walikota, naik angkot St.Hall - Gunung Batu sampai ujung trayek. Turun di tempat yang biasa saya bilang Delman (yoi kan,, masih ada Delman berkeliaran!), minta dijemput sepupu dan Tada sampailah dirumah!

Besoknya juga tidaknya sepenuh rencana sih. Awalnya mau cabut cepat dari seminar terus ke kampus melakukan semua agenda. Tapi ternyata tidak jadi. Malah materi di akhir-akhir menarik. Tentang atmosfir. Kangen loh sama atmosfir dan pencemaran udara :"D. Jadinya langsung pulang. Pulangnya untung saja sekalian bisa bareng sepupu. Pulangnya besok setelah subuh travel jam 5.

Bandung, cuma 2 hari tapi menyenangkan loh! :"D


Ada beberapa tipe-tipe jalan-jalan yang menyenangkan untuk saya:
  1. Jalan-jalan keluar kota dengan teman-teman atau keluarga
  2. Jalan-jalan berbau sejarah
  3. Jalan-jalan di dalam kota dan eksplorasi ke tempat yang belum pernah tau
  4. Jalan-jalan ke kota yang sebelumnya pernah tinggal
Poin keempatlah yang saya bahas di tulisan ini. Mungkin ini jenis jalan-jalan yang super se biasa itu. Hidup di suatu kota yang sebelumnya memiliki banyak cerita memang menyenangkan.

But life has to move on, right?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

5 Buku Nonfiksi Favorit

Tahun 2019 adalah titik balik saya untuk kembali banyak membaca buku setelah tahun lalu dan tahun-tahun sebelumnya hanya membaca 2-3 buku per-tahun. Miris bukan? Oleh karena itu, postingan kali ini saya dedikasikan sebagai bentuk apresiasi saya kembali membaca. Daftar buku dibawah juga berdasarkan daftar bacaan saya tahun 2018 yang selengkapnya bisa dilihat di goodreads saya. Kali ini saya akan coba merekomendasikan 5 buku non fiksi, tanpa sesuai urutan favoritnya.
1. Mindset: The New Psychology of Success - Carol S. DweckSuka penasaran tidak kenapa banyak anak kecil yang dianggap sebagai child prodigy kebanyakan hanya mampu mekar pada tempo waktu yang singkat. Biasanya saat mereka sudah dewasa, kiprahnya malah jarang terdengar. Akhirnya saya mengetahui alasannya setelah membaca buku ini.
Carol S. Dweck membagi pola pikir manusia menjadi dua: growth mindset dan fixed mindset. Growth mindset adalah pola pikir yang mendorong kita untuk selalu berkembang. Sementara fixed mindset adalah …

Pusat Perbelanjaan Purwokerto

Bukan orang asli maupun yang punya di keluarga, entah mengapa saya menulis rentetan blog seri Purwokerto ini bagaikan menulis Purwokerto 101 😉. Bagian yang pertama adalah dimana saja sih pusat perbelanjaan? You're living, you need place(s) to shop to fulfil your daily life. Standar, pusat perbelanjaan ada supermarket dan pasar tradisional.

Baby Gear: Aprica Karoon Review

Sewaktu masih hamil hasan trimester kedua, saya udah mulai rajin buka tutup review stroller di pelbagai website. Banyak faktor yang dibutuhkan untuk memilih stroller yang pas. Pertimbangan saya dalam memilih stroller dapat dilihat di artikel saya sebelumnya mengenai kriteria stroller disini. Melihat segala kriteria saya dan budget yang dimiliki, muncul beberapa shortlisted. Namun, ternyata alhamdulillah Hasan mendapat kado stroller dari Datuk Aya. Berhubung dikadoin, saya mah pasrah apa aja. Apalagi lebih mahal dari budget kita hehe. Stroller yang dikasih Aprica Karoon. Seperti ini penampakannya.