Langsung ke konten utama

Berpergian dengan Transportasi Umum = Masyarakat Modern

Because modern people commuting using public transportation - Suami



Kota Jakarta merupakan kota metropolitan yang di hari dan jam kerja jumlah penduduknya berkali-kali lipat dibandingkan dengan jumlah penduduk kota Jakarta aslinya. Kebutuhan akan transportasi umum sudah begitu mendesak semenjak beberapa dekade lalu. Jakarta yang terlalu padat. Jakarta yang sesak dan hingar bingar. Kemacetan merupakan isu nomor wahid yang menjadi momok dan perbincangan di semua kalangan masyarakat. Jakarta menempati peringkat ke-17 sebagai kota termacet di dunia. dengan indeks kemacetan mencapai 237,25 dan rata-rata waktu tempuh di jalan 48,57 menit sekali jalan. Berdasarkan data yang dirilis oleh Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya, jumlah kendaraan bernotor di Jakarta dan sekitarnya bertambah sebanyak 5500 hingga 6000 unit kendaraan per-hari. Artinya terjadi peningkatan sebesar 12 persen tiap tahunnya. Alih-alih mengurangi kemacetan, tingginya pertumbuhan kendaraan pribadi ini malah makin menyebabkan kemacetan dimana-mana.

Paksaan

Masyarakat Jabodetabek yang sebelumnya sudah sangat dimanjakan oleh kendaraan pribadi pastilah merasa sulit untuk melakukan transisi ke transportasi umum. Oleh karena itu, adanya peraturan yang menjadi "paksaan" dinilai sangat efektif.
Aturan ganjil genap


Aturan pembatasan ganjil genap sudah memasuki tahap ketiga semenjak pertama kali dikeluarkan. Aturan ini menggantikan aturan sebelumnya yaitu 3in1. Peraturan ini riskan disalah-gunakan, terlihat dari banyaknya joki yang bermunculan sebelum memasuki ruas jalan yang terkena peraturan. Yang sudah diberlakukan tidak terlihat keefektifannya.

Peraturan ganjil genap pada awalnya hanya 2 ruas, yaitu Jl. Jendral Sudirman dan Kuningan saja. Pada tengah tahun 2018 lalu, Indonesia menjadi kota penyelenggara ajang internasional Asian Games. Untuk menertibkan lalu lintas, dinas perhubungan mencoba perluasan ruas ganjil genap, termasuk ruas-ruas jalan yang bertindihan dan jalan tol dalam kota. Setelah melalui tahap evaluasi dan dinilai positif, perluasan ganjil genap pertama ini dilangsungkan dari pukul 06.00-10.00 dan 16.00-21.00.

Setelah perhelatan Asian Games selesai, dishub melakukan evaluasi terhadap percobaan ganjil genap ruas baru. Didiskusikan oleh para ahli dan pengambil kebijakan, disebar angket kepada masyarakat. Akhirnya, palu diketuk dan resmi lah perluasan ganjil-genap tahap pertama.

Bagi saya sendiri, adanya perluasan ganjil-genap tahap pertama ini sungguh efektif. Masyarakat benar-benar terpaksa harus menggunakan angkutan umum atau bahkan tebengan saat tanggal yang tidak cocok dengan plat kendaraan masing-masing. Meskipun tidak menutup penyelesaian pragmatis seperti 2 mobil dengan plat ganjil dan genap ataupun penambahan sepeda motor. Sektor krusial berikutnya adalah tertutup akses jalan tol dalam kota yang tindihan ruasnya terkena aturan ganjil genap bagi mobil yang memiliki plat tidak cocok. Memang bisa dirasakan, ruas tol dalam kota yang padat merayap saat jam pergi dan pulang kerja secara signifikan menjadi jauh lebih lancar dan lengang. Aturan ini sempat mendapat pertentangan sehingga sempat diubah dengan adanya zona non-ganjil-genap di tengah-tengah ruas yang berlaku. zona ini terletak antara pintu tol dan simpang terdekat.

Melihat kesuksesan sebelumnya, dishub tertarik untuk melakukan perluasan ganjil genap tahap kedua. Ruas tambahan adalah ruas jalan yang sudah merupakan cakupan Trans-Jakarta dan MRT. Jakarta Selatan yang sebelumnya tidak tersentuh ganjil genap mulai termasuk, seperti ruas jalan Fatmawati. Uji coba dimulai pada bulan September dan aturan mulai diberlakukan sejak 1 Oktober. Aturan tetap sama, hanya sekarang zona non-ganjil-genap ini dihapus.

Masyarakat protes. Masyarakat (terpaksa) menggunakan transportasi umum. Masyarakat mulai terbiasa. Malah pada akhirnya merasa lebih nyaman menggunakan angkutan umum ketimbang menyetir dan luntang-lantung dalam kemacetan.

Keuntungan Menggunakan Transportasi Umum

Lebih sehat

Peneliti Universitas Stanford, Amerika Serikat, menunjukkan data bahwa Singapura lebih baik daripada Indonesia dalam hal berjalan kaki. Singapura menempati peringkat 9 diantara 46 negara sementara Indonesia berada di posisi paling terakhir. Kondisi infrastruktur Indonesia yang kurang memadai menyebabkan hal ini terjadi. Trotoar yang sempit dan cakupan transportasi umum yang masih dinilai kurang. Berbeda dengan Singapura yang sudah sangat besar cakupan transportasi umumnya.

Jakarta sudah mulai berbenah.


Cakupan jalur Trans Jakarta sudah mulai meluas, begitu juga armadanya semakin banyak. Dilihat dari begitu banyak koridor dan sudah mulai terkoneksi dengan bus pengumpan yang memfasilitasi ke area-area lebih rural. Konektivitas antar moda dengan KRL, MRT dan LRT sudah mulai terhubung. Jakarta semakin nyaman untuk komutasi.


Berbeda dengan menggunakan kendaraan pribadi yang pergi langsung naik dan sampai langsung turun kendaraan. Menggunakan transportasi umum menuntut untuk melakukan jalan kaki lebih banyak. Dari tempat awal butuh mencapai tempat pemberhentian moda transportasi dahulu, bahkan harus naik turun tangga. Sampai di tujuan juga butuh jalan kaki. Memang menggunakan transportasi umum membutuhkan durasi waktu yang lebih lama, namun sebaliknya malah lebih sehat karena membuat tubuh lebih banyak bergerak dan mengeluarkan lebih banyak kalori.

Menurut The Victoria Policy Institute dan The American Public Transportation Association, individu yang menggunakan transportasi umum melakukan aktifitas fisik 3 kali lebih banyak daripada yang menggunakan transportasi pribadi. US Center for Disease Control merekomendasi kegiatan fisik menengah sebesar 22 menit tiap harinya, salah satunya dengan cara berjalan. Aktif melakukan kegiatan fisik membantu mengurangi resiko terkena penyakit serius seperti: serangan jantung, stroke, diabetes, hipertensi, osteoporosis, radang sendi, kanker usus dan payudara, dan depresi.

Kami tinggal di sebuah apartemen di bilangan Pramuka. Sehari-hari suami pulang pergi menggunakan sepeda untuk mencapai rumah sakit tempat kerjanya yang jaraknya kurang lebih 5km. Sesekali suami harus berpindah tempat ke rumah sakit yang ada di bilangan Jakarta Selatan. Beruntung sekali posisinya yang terlewati jalur MRT. Dia bisa mencapainya menggunakan MRT. Selain itu terkadang ia juga harus ke Depok. Kebetulan sekali bisa dicapai dengan KRL. Untuk mencapai stasiun MRT ataupun KRL sekarang masih menggunakan jasa ojek daring. Target jangka panjangnya adalah mencapai stasiun-stasiun tersebut menggunakan sepeda. Sepeda yang digunakannya sampai sekarang adalah sepeda lipat. Semoga kedepannya bisa segera ada rejeki mengganti sepeda menjadi sepeda lipat yang jika dilipat menjadi sangat kecil dan kompak seperti Brompton. Wah, bakal semakin nyaman berkomutasi pastinya. Semoga!

Mengurangi stres

Suatu ketika saya pernah bertanya, apa suami tidak berminat membawa mobil ke tempat kerjanya. Ia menjawab mustahil. Selain karena tempat kerjanya terkena area ganjil-genap, mustahil menembusnya saat plat mobil tidak cocok. Ia merasa lebih tidak stres berangkat-pulang kerja tanpa mobil. Bayangkan saja, dengan membawa mobil artinya harus berhadapan dengan kemacetan berangkat-pulang kerja. Belum lagi stres mencari parkiran mobil yang sangat sulit. Selain itu, ia merasa kegiatan rutin bersepeda hariannya itu merupakan olahraga kardio yang membuatnya tetap bugar dan fit.
Because modern people commuting using public transportation - Suami
Seperti yang kita tahu, dengan berolahraga artinya kita mengeluarkan hormon endorfin, yaitu hormon yang membuat rasa bahagia. Begitu juga dengan sedikit berkeringat dengan cara banyak berjalan kaki saat menggunakan angkutan umum. Berjalan kaki dapat mengurangi tekanan pekerjaan di kantor yang rentan membuat stres.

Lebih Hemat

Ada yang sudah pernah menghitung perbandingan berangkat-pulang kerja menggunakan transportasi umum dan pribadi?

Biaya menggunakan transportasi pribadi mencakup bensin yang tidak murah, uang tol dan uang parkir. Biaya supir jika menggunakan supir. Sementara dengan menggunakan transportasi umum mencakup biaya naik kendaraan. Bisa hanya satu kendaraan, dua ataupun tiga. Ongkos pulang-pergi pasti jauh lebih murah menggunakan transportasi umum. Perbedaan mencolok hanya tenaga dan waktu saja.

Kesimpulan

Memiliki kendaraan pribadi sah-sah saja. Namun ada kalanya penggunaan transportasi umum lebih efektif, terutama untuk komutasi rutin seperti pergi dan pulang kerja. Apalagi apabila area komutasinya sudah terjangkau oleh rute transportasi umum seperti Transjakarta, MRT, LRT dan KRL. Mari berkomutasi menggunakan transportasi umum! Selain lebih sehat, mengurangi stres, juga lebih hemat. Semoga kedepannya Kementerian Perhubungan dan Dinas Perhubungan menambah cakupan rute transportasi umum, memperbaiki kualitas dan menambah kuantitas.



Kementerian Perhubungan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

5 Buku Nonfiksi Favorit

Tahun 2019 adalah titik balik saya untuk kembali banyak membaca buku setelah tahun lalu dan tahun-tahun sebelumnya hanya membaca 2-3 buku per-tahun. Miris bukan? Oleh karena itu, postingan kali ini saya dedikasikan sebagai bentuk apresiasi saya kembali membaca. Daftar buku dibawah juga berdasarkan daftar bacaan saya tahun 2018 yang selengkapnya bisa dilihat di goodreads saya. Kali ini saya akan coba merekomendasikan 5 buku non fiksi, tanpa sesuai urutan favoritnya.
1. Mindset: The New Psychology of Success - Carol S. DweckSuka penasaran tidak kenapa banyak anak kecil yang dianggap sebagai child prodigy kebanyakan hanya mampu mekar pada tempo waktu yang singkat. Biasanya saat mereka sudah dewasa, kiprahnya malah jarang terdengar. Akhirnya saya mengetahui alasannya setelah membaca buku ini.
Carol S. Dweck membagi pola pikir manusia menjadi dua: growth mindset dan fixed mindset. Growth mindset adalah pola pikir yang mendorong kita untuk selalu berkembang. Sementara fixed mindset adalah …

Pusat Perbelanjaan Purwokerto

Bukan orang asli maupun yang punya di keluarga, entah mengapa saya menulis rentetan blog seri Purwokerto ini bagaikan menulis Purwokerto 101 😉. Bagian yang pertama adalah dimana saja sih pusat perbelanjaan? You're living, you need place(s) to shop to fulfil your daily life. Standar, pusat perbelanjaan ada supermarket dan pasar tradisional.

Momen Traumatis Terhadap Gula

Saya: Semenjak pulang dari Pemalang, aku merasa traumatis banget buat konsumsi gula. Biasanya relatif gampang beli minuman manis. Chatime aja tinggal ngesot juga jadi. Ini tiap tiba-tiba kerasa pengen minum minuman manis, benar-benar bergulat dalam pikiran beli atau engga, yang 98% berujung dengan ga beli. Ternyata gula sejahat itu ya?Suami: Loh, baru sadar?
Apakah yang terjadi di Pemalang? Kenapa saya sampai segitu traumatisnya dalam mengkonsumsi gula? Perkara berat, atau?

Gula dan Saya Dari dulu saya merasa diri saya adalah sweet-tongue. Saya suka makanan manis, meski saya tidak rutin mengkonsumsinya. Saya bukanlah orang yang rutin mencari makanan manis secara harian. Kalau pun mencicipi makanan manis, saya tidak bisa banyak-banyak. Tapi, sekalinya makan atau minum yang manis, harus manis banget. Sejatinya saya suka membuat kue dan minuman manis. Tapi bertahun-tahun saya tidak membuatnya dengan alasan tidak ada massa yang menghabiskannya. Anak saya tidak suka ngemil. Saya pun tidak …