Langsung ke konten utama

2 Hari di Solo: Dapat Apa?

Yogyakarta dan Solo adalah 2 kota besar yang hanya terpisahkan oleh jarak 60-an kilometer saja. 2 kota yang berbeda provinsi dengan kota Klaten diantaranya. Jika lancar, hanya memakan waktu 1.5 jam untuk menempuh perjalanan antar pusat kota.

Pada bulan Juli 2018, suami mendapatkan stase jaga RSUD Klaten. Saya dan Hasan turut dibopong. Sedari awal kami sudah menentukan untuk tinggal di sekitaran Yogya agar lebih ada "kehidupan". Saya pun memilih kosan yang berada di sebelah timur kota Yogya agar jarak tempuh ke Klaten semakin memendek. Sudah mendapatkan kesempatan tinggal di Yogya, rasanya sayang kan untuk melewatkan kesempatan ke Kota Solo?

Kami berwacana hendak ke Solo pada akhir pekan ke-3 Bulan Juli. Cuma bisa menginap semalam karena hari kerja biasa suami harus rutin masuk RSUD. Yah, tidak apa-apa. Mari dimaksimalkan mungkin kesempatan yang sudah ada!

Transportasi Umum

Prambanan Express

Kami tinggal tidak jauh dari Bandara Adi Sutjipto. Bandara ini cukup unik. Terletak sangat dekat dengan kota (masuk Kab. Sleman), berukuran relatif kecil dan terintegrasi dengan stasiun kereta Maguwo. Penasaran tentunya saya soal kereta apa saja yang berhenti pada stasiun tersebut. Ternyata hanya Prambanan Express (Prameks) lah kereta tersebut. Prameks ini adalah kereta bertipe komuter (kurang lebih seperti KRL Jabodetabek lah) tanpa tiket tempat duduk dengan rute Solo Balapan hingga Kutoarjo. Praktisnya, masyarakat Kota Purworejo dan Solo bisa bekerja di Yogya dengan menaiki kereta ini. Hanya ada harga tunggal untuk kereta Prameks, yaitu Rp 10.000 dan Rp 15.000 untuk rute Solo-Jogja dan Solo-Kutoarjo. Jadwal lengkap Prameks bisa dilihat disini. Saya pun menjadi sangat penasaran untuk menjajal kereta ini.

Akhirnya kesampaian!

Ternyata, suami harus masuk dulu ke RS di hari Sabtu disaat rencana pelesir ke Solo. Saya pun mengusulkan agar saya dan Hasan duluan ke Solo menggunakan Prameks baru kemudian suami menyusul sekaligus membawa barang bawaan menggunakan mobil  setelah beres urusan rumah sakit. Saya berniat membeli tiket sehari sebelumnya di Stasiun Maguwo. Apa daya, rasanya malas keluar pesan Grab cuma untuk membeli tiket. Tertunda, tertunda, tertunda. Malam pun tiba, saya meminta izin ke suami untuk pergi sebentar pakai mobil ke Stasiun Maguwo.

"Udahlah, besok aja sekalian belinya. Ngapain malam-malam keluar."

Saya pun manut. Memang setengah malas juga sih untuk pergi keluar.

Keesokan harinya,  1.5 jam setelah suami berangkat ke rumah sakit, saya dan Hasan pergi menuju Stasiun Maguwo. Ah, benar dugaan saya, tiket Prameks ke Solo untuk jam terdekat sudah habis! Akhirnya saya membeli 1 tiket (Hasan masih gratis) untuk jadwal setelahnya. Masih sekitar 1.5 jam nih, akhirnya kami memilih untuk berjalan-jalan di Bandara Adi Sutjipto dan kemudian makan donat di Dunkin Donuts.

Perlu menyeberang rel kereta untuk mencapai peron kereta yang menuju Solo. Calon penumpang sudah berbaris. Alhamdulillah, ada salah seorang calon penumpang yang memberikan tempat duduk di kursi tunggu karena melihat saya membawa anak kecil. Orang tersebut tampaknya baru mendarat di Adi Sutjipto, terlihat dari koper dengan tag bandara yang masih hangat.

Kereta pun datang. Sesuai dugaan saya, kereta penuh! Tentu saja, soalnya Stasiun Maguwo adalah stasiun Yogya terakhir sebelum menuju Klaten dan Solo. Penumpang berjejal, masuk saja macet. Akhirnya saya dan Hasan berdiri. Selamat datang Hasan di dunia Proletar 😝!

Tidak lama sebelum mencapai stasiun Klaten, tiba-tiba Hasan minta duduk. Saya pun sembari agak berjongkok mendudukkan Hasan di pangkuan saya. Melihat yang saya lakukan, seorang bapak menawarkan tempat duduknya kepada saya dan Hasan.

"Tidak apa-apa pak, nanti anaknya mau duduk.", jawab saya sembari melihat ke arah anaknya yang sejak awal tidak duduk dan gelendotan di kursi ibunya.

Bapak tersebut berpergian membawa istri dan seorang anaknya yang kira-kira kelas 5-6 SD. Alhamdulillah, akhirnya saya dapat duduk dengan Hasan dipangku hingga Stasiun Purwosari. Stasiun ini merupakan 1 stasiun sebelum stasiun besar Solo Balapan. Kami memutuskan turun disitu karena dekat dengan Museum Radya Pustaka, Musem Pers, dan tempat penginapan kami.
Halo Solo!

Batik Trans Solo (BST)


Jarak dari Museum Pers Nasional ke Paragon Mall HANYA 950m tapi saya memutuskan untuk menggunakan moda transportasi Batik Trans Solo demi sebuah pengalaman. Padahal jarak segitu adalah jarak santai dan menyenangkan untuk berjalan kaki.

Batik Trans Solo (BST) bisa dibilang sejenis Trans Jakarta dan Trans Jogja. Sebelum melakukan perjalanan ke Jogja, saya sudah menelisik Google Map jalur mana yang dalam rencana saya akan saya lewati sekaligus merupakan jalur BST. Akhirnya terpilih lah jalur Museum Pers - Paragon Mall meski hanya 950m. 

Mengingat frekuensi Trans Jogja yang relatif sedikit, saya tidak berharap banyak untuk langsung bisa naik BST. Halte BST pun lebih kecil dari Trans Jogja yang bahkan jauh lebih simpel dari halte Trans Jakarta. Halte BST hanya seperti platform ukuran 1mx4m dengan dudukan besi yang kurang nyaman.
Sempat sedikit putus asa karena bis yang tak kunjung datang. Saya menetapkan waktu terakhir yang apabila bis tidak datang, kami akan berjalan kaki saja. Akhirnya, setelah menunggu hampir setengah jam datang juga bis berwarna biru dengan corak batik di sisi samping-nya. Interiornya kurang lebih serupa dengan Trans Jogja dan Trans Jakarta. Entah karena belum jam sibuk atau bukan jalur favorit, bis ini relatif lowong dan kami dengan mudahnya mendapatkan tempat duduk. Harga yang dipatok adalah Rp 4.500 per-orang (Hasan belum bayar). Pembayarannya dengan cara membayar sejumlah uang kepada petugas bus dan nanti akan diberikan lembaran kecil berupa karcis.

Akhirnya kami turun di halte yang tepat berada di depan Paragon Mall.

Penginapan

Rumah Turi

Alamat: Jl. Srigading II no. 12, Surakarta

Saya sudah mulai mencari-cari penginapan semenjak 2 minggu sebelum keberangkatan dari solo. Berbekal dengan semua aplikasi pemesanan hotel di gawai, akhirnya pilihan antara sebuah budget hotel yang berlokasi di pinggir jalan utama Slamet Riyadi dan eco-hotel  yang berlokasi di dekat Paragon Mall. Harga keduanya mirip. Setelah menimbang-nimbang,  akhirnya pilihan jatuh pada eco-hotel yang bernama "Rumah Turi". Penginapan ini ternyata pernah memenangkan perlombaan dengan kategori eco-hotel.

Kesan pertama yang saya dapat saat menginjakkan kaki di halaman penginapan adalah, "wah, ada ya rumah dengan suasana desa beserta burung berkicauan di tengah kota?". Betul, Rumah Turi berkesan asri serta memiliki banyak sekali pepohonan dan tanaman. Tanaman rambatan, hias sampai tanaman gantung. Interiornya seperti suasana rumahan dan banyak didominasi oleh kayu. Kamar-kamar dirancang mengelilingi taman yang berada di tengah bangunan. Bangunan ini terdiri dari 2 lantai. Pada lantai bawah terdiri resepsionis, kamar-kamar serta restoran. Pada lantai atas terdiri dari kamar-kamar, aula santai dan jembatan yang menghubungkan antara koridor kamar dan aula santai tersebut. Aula santai tersebut berlantaikan kayu dan memiliki langit-langit atap yang tinggi. Di dalamnya banyak instrumen musik tradisional seperti gamelan dan kendang.

Salah satu pertanyaan besar yang terbesit di benak saya soal Rumah Turi ini adalah bagaimana mereka mendapatkan sumber air untuk menyiram sebegitu banyak tanaman disana? Ternyata mereka menggunakan air kuning (yellow water) dari bekas air mandi atau air siraman toilet. Wow. Ternyata ada level penginapan juga yang mengaplikasikan ini. Kamarnya berlantaikan kayu dan sangat bersih. Rumah Turi cocok menyandang predikat sebagai eco-hotel.

Tempat Historis

Museum Radya Pustaka

Alamat: Jl. Slamet Riyadi no. 275, Surakarta

Museum ini adalah pemberhentian pertama saya dan Hasan setelah turun di Stasiun Purwosari. Karena jarak yang ditempuh lebih dari 2km, saya memutuskan untuk menggunakan Grab Car.

Museum Radya Pustaka adalah salah satu museum tertua di Pulau Jawa, lebih tua daripada museum Sonobudoyo di Yogya. Didirikan pada masa pemerintahan Pakubuwana IX. Sebenarnya lokasi museum yang sekarang ini adalah lokasi yang sudah dipindahkan ke kediaman seorang Belanda, Johannes Buselaar.

Koleksi Museum Radya Pustaka adalah berbagai barang-barang kuno seperti meriam zaman VOC, arca-arca Hindu-Buddha, pusaka adat, keris, wayang kulit dan buku-buku kuno. Museum ini relatif bersih meski agak tidak terawat, terlihat dari cat dinding yang terkelupas. Di teras depan terdapat meriam zaman VOC beserta arca-arca Hindu-Budha. Di ruang depan (bekas ruang tamu terdapat patung dada Rangga Warsita yang merupakan pujangga keraton Surakarta. Aneka keris dipajang di ruangan sebelah kanan dan kiri. Di Ruang tengah, terdapat panggung dengan berbagai macam alat musik tradisional. Di sekelilingnya terpajang berbagai macam wayang dengan berbagai cerita. Ruang belakang relatif kosong dan ada beberapa miniatur pendopo. Keluar dari pintu belakang, kami meleawati berbagai arca-arca di sepanjang koridor.

Museum Pers Nasional

Alamat: Jl. Gajahmada  no. 76, Surakarta

Kami berjalan kaki menuju museum Pers Nasional setelah menyelesaikan tur museum Radya Pustaka karena jaraknya kurang dari 2km. Jalan Slamet Riyadi yang juga merupakan lokasi diadakannya Car Free Day (CFD) memiliki trotoar yang sangat luas. Hasan sangat senang lari-larian disana.

Museum Pers Nasional terletak di perempatan bundaran Gajahmada-Yosodipuro. Yang saya masuki pertama kali adalah Gedung Sasana Soeka yang merupakan gedung lama. Di pelataran depan terdapat patung dada tokoh-tokoh kunci pers Indonesia seperti Tirto Adhi Soerjo, Djamaluddin Adinegoro, Sam Ratulangi, dan Douwes Dekker. Kita juga disajikan 6 diorama yang menceritakan sejarah pers di Indonesia. Diorama pertama menceritakan bentuk komunikasi di Indonesia jaman pra-kolonial. Diorama kedua memperlihatkan pers era kolonial. Diorama ketiga menggambarkan pers pada masa pendudukan Jepang. Diorama keempat menunjukkan pers pada masa Revolusi Nasional. Diorama kelima menceritakan pengekangan pers pada masa orde baru dan Diorama keenam menunjukkan kondisi pers era Reformasi.

Di bagian dalam terdapat contoh-contoh alat pers dari masa pra kolonial termasuk kamera dan mesin ketik. Selain itu juga terdapat koran cetak mulai masa pra-kolonial hingga masa reformasi.

Puro Mangkunagaran

Alamat: Jl. Ronggowarsito no. 83, Surakarta

Puro Mangkunegaran atau yang dikenal dengan Istana Mangkunegaran merupakan tempat kediaman resmi trah Mangkunegaran. Layaknya Yogya, Solo pada awalnya terdapat dua trah penguasa besar, yaitu Mangkunagaran dan Paku Buwono. Berbeda dengan Yogya yang kedua pemimpin menjadi penguasa setempat, Mangkunegaran dan dan Paku Buwono hanya menjadi pemimpin simbolik di Solo.

Puro Mangkunagaran menempati lahan yang amat luas. Seluruh kompleks dikelilingi oleh tembok. Saat memasuki bangunan bagian depan, terdapat semacam resepsionis. Kita akan disambut oleh petugas. Dengan biaya Rp 10.000 untuk wisatawan lokal dan Rp 20.000 untuk wisatawan asing, kita sudah dapat mengelilingi dan menjelajahi areal istana. Namun, berkeliling didalamnya wajib didampingi oleh pemandu karena keluarga Mangkunegaran masih tinggal di dalam istana. Untuk pemandu tidak dikenai tarif tambahan, tetapi diharapkan untuk memberikan tips seikhlasnya. Saya dipandu oleh salah seorang siswi SMK yang sedang bekerja paruh waktu menjadi pemandu.

Bangunan pertama yang kami temui adalah Pendopo Ageng yang merupakan Pendopo terbesar di Indonesia karena dapat menampung lima sampai sepuluh ribu orang. Seluruh bangunan dibangun tanpa menggunakan paku. Di langit-langit pendopo, tampak ornamen otentik yang ternyata merupakan perlambangan astrologi Hindu-Jawa yang dipermanis dengan deretan lampu gantung antik yang dipesan langsung dari Belanda. Pendopo Ageng ini mengalami banyak pemugaran dan perubahan, seperti terdapat beberapa dekorasi ala Eropa yang tampak di berbagai sudut Pendopo, sebagai contoh, terdapat patung anak dan simbol ala Eropa pada atap depan pendopo.

Dibelakang Pendopo, terdapat beranda terbuka yang bernama Pringgitan yang memiliki tangga menuju Dalem Ageng, yakni bangunan berikutnya di belakang Pendopo. Awalnya, Dalem Ageng dimaksudkan sebagai kamar tidur pengantin kerajaan yang sekarang difungsikan sebagai Museum. Museum ini memamerkan perhiasan, senjata, perlengkapan perang, pakaian, medali, perlengkapan wayang, uang logam, serta berbagai benda seni. Sayangnya, memasuki Dalem Ageng, kita dilarang untuk mengambil foto.

Di belakang Dalem Ageng, terdapat area kediaman keluarga Mangkunegaran. Suasanya sangat asri dan rimbun. Terbagi dua menjadi area putri dan area putra. Di tengah-tengahnya terdapat tanaman yang terawat dengan baik. Kolam, air mancur serta tampak juga beberapa patung-patung klasik bergaya Eropa.

Menghadap taman terbuka, terdapat Beranda Dalem (Pracimoyasa), yakni bangungan bersudut delapan dimana di dalam bangunan terdapat tempat lilin dan perabotan Eropa. Beranda Dalem ini pada awalnya dimaksudkan sebagai ruang keluarga Mangkunegaran.

Selesai sudah tur istana kali ini. Senangnya mendapat pemandu yang sangat baik serta sangat rinci dan informatif dalam menceritakan sejarah bangunan tersebut. Sembari mengucapkan terima kasih, saya memberikan tips kepadanya lalu beranjak pulang.

Keraton Kasunanan Surakarta (Paku Buwono)

Alamat: Baluwarti, Pasar Kliwon, Surakarta

Layaknya Puro Mangkunagaran, keluarga Paku Buwono masih tinggal di area ini. Sebagian komplek keraton disulap menjadi museum yang memamerkan berbagai koleksi milik kasunanan seperti kereta perang, mahkota, keris, senjata dan lain-lain. Arsitektur keraton ini jawa sekali dan diakui termasuk arsitektur terbaik di jamannya,

Berbeda dengan Puro Mangkunegaran, museum keraton ini hanya sedikit pemandunya dan kita bisa berkeliaran bebas memasukinya. Mungkin karena bagian museum terpisah dengan tempat tinggal keluarga keraton ya. Bangunan berbentuk lorong yang mengelilingi taman yang berada di tengahnya. Koridornya luas. Sayang, tiap barang hampir tidak ada penjelasan sama sekali. Sebaiknya mengunjungi museum ini menggunakan pemandu agar mengetahui cerita dibaliknya.
Persetujuan Antara HB IX, Presiden Soekarno dan Pangeran Bobby (PB XII)

Wisata Sejarah Lainnya

Seminggu sebelum keberangkatan ke Solo, saya baru mengetahui perihal adanya Museum Tumurun. Museum Tumurun merupakan museum pribadi yang dibuka untuk umum namun harus reservasi dahulu. Sayang, saat saya menghubungi narahubung, jadwal kunjungan yang saya bisa sudah penuh. Maklum, kabarnya hanya 10 reservasi per-hari. Museum ini dimiliki oleh anak pendiri perusahaan tekstil terbesar di Asia, PT. Sritex. Isinya pun merupakan koleksi pribadinya.

Jika kamu penyuka batik, maka wajib  mengunjungi Museum Danar Hadi. Kalau ada waktu lebih juga bisa mengunjungi Benteng Vastenburg. Keduanya juga berada di tengah kota.

Wisata Kuliner dan Oleh-oleh

Warung Tengkleng Mbak Diah

Alamat: Desa Tanjunganom, Kabupaten Sukaharjo, Jawa Tengah

Kuliner malam minggu pertama kami adalah Warung Tengkleng Mbak Diah. Ternyata, warung tengkleng ini sudah berusia sekitar 25 tahun. Menyajikan berbagai menu olahan kambing. Kami memesan tengkleng, tongseng dan satenya. Semua olahan makanannya lezat dan tidak berbau amis. Bumbu yang digunakan cukup kuat, tercium dari aroma tengkleng yang sarat akan bau kencur dan kunyit. Daging kambingnya juga cukup lembut, Hasan saja bisa makan tongseng disini. Tongsengnya tidak pedas, namun tengklengnya cukup pedas karena mengandung rawit. Harga yang dibanderol cukup masuk akal. Sebagai contoh 35 ribu orang satu porsi tengkleng.

Nasi Liwet Wongso Lemu

Alamat: Jl. Teuku Umar, Keprabon, Surakarta

Ini adalah destinasi menu makan malam kedua kami. Nasi liwet merupakan salah satu kuliner khas Solo. Nasi yang disajikan dengan ayam suwir yang mirip opor, sayur labu, telur dan sambel. Rasanya agak manis namun legit di lidah, terutama ayam suwirnya. Nasi Liwet Wongso Lemu bebentuk warung dengan jajaran pengunjung yang duduk lesehan atau duduk di kursi mengelilingi lemari kaca makanan. Buka dari pukul 16.00 - 01.00 dini hari. Harga tergantung dengan pesanan dan berkisar antara 10 ribu hingga 20 ribu rupiah seporsi. Kami mencoba makan disini pada malam hari sekitar pukul 20.00 dan masih sangat ramai!

Timlo Sastro

Alamat: Jl. Kapten Mulyadi no. 8, Surakarta

Timlo Sastro merupakan menu pertama sarapan minggu kami. Sesampainya kami disini, kami masih tidak tahu menahu apa itu timlo. Ternyata timlo adalah sup kaldu bening yang disajikan dengan ayam suwir, ati, ampela, sosis solo dan telur pindang. Timlo Sasatro berlokasi dekat Pasar Gedhe dan berupa warung pinggir jalan. Rasa kuahnya segar. Dengan tambahan nasi, Hasan pun makan timlo dengan lahap. Seporsi timlo komplit dihargai sekitar 20 ribu rupiah. Buka dari pukul 06.00-15.30 sore, jadi bagi yang ingin sarapan bisa langsung icip Timlo Sastro.

Sate Kambing Hj. Bejo

Alamat: Jl. Sungai Sebakung no. 10, Pasar Kliwon, Surakarta

Sate Kambing Hj. Bejo itu sejatinya adalah sate buntel. Jadi, potongan daging cincang kemudian dibalut dengan lemak kambing. Kebayang kan betapa lumer dan legitnya sate kambing ini. Selain menu sate buntel, rumah makan ini juga menyajikan menu kambing khas lainnya seperti tongseng dan tengkleng. Namun, karena sebelumnya kami sudah menyicipi tongseng dan tengkleng di tempat lain, ditambah ini adalah perhentian kedua sarapan, kami hanya memesan sate buntelnya saja. Menurut saya, harga yang dibanderol untuk seporsi sate cukup mahal. Tapi jangan khawatir, kuliner ini wajib dicoba kalau menyambangi Solo!

Selat Solo Mbak Lies

Alamat: Jl. Veteran Gg. 2 no. 42, Surakarta

Inilah perhentian ketiga sarapan kami, Selat Solo Mbak Lies. Ambisius sekali bukan? Selat Solo Mbak Lies letaknya cukup tersembunyi, ada di dalam gang. Kami sendiri lumayan kesulitan mencarinya. Kendaraan bisa diparkir di luar gang dengan bantuan tukang parkir yang mengkoordinir parkiran.

Meski didalam gang, interior warung selat solo ini cukup menarik dan khas. Meja dan kursi terbuat dari keramik. Banyak juga hiasan dinding dan piring-piring kuno terpampang rapi. Kami datang agak pagi, jadi masih terlihat ruangan baru dipel oleh petugas.

Dinamakan Selat Solo, merupakan derivatif dari padanan Salad yang merupakan makanan orang bule. Karena ingin mengadopsi salad itu ditambah dengan kearifan lokal, jadilah Selat Solo. Potongan daging semur atau galantin (bisa dipilih) dipadu dengan rebusan wortel dan buncil, telur pindang, kentang, selada, dan dipermanis dengan "mustard" ala jawa. Manis, legit dan asem berpadu dengan sempurna. Satu porsi dibanderol sekitar Rp 28.000 saja.

Restoran Kusuma Sari

Alamat: Jl. Slamet Riyadi no. 111, Surakarta

Kami datang kesini dengan rekomendasi teman saya. Beberapa kali kami hilir mudik di kota sering sekali melewati restoran ini. Wajar saja, letaknya tepat di tengah kota. Teman saya menganjurkan untuk makan stik disini, namun karena kami sebelumnya sudah makan selat solo, akhirnya kami memilih untuk makan es krim saja disini.

Layaknya restoran tua lainnya, es krim disini khas sekali "tua"-nya seperti es krim "Rasa" dan "Sumber Hidangan" di Bandung. Kami memesan seporsi es krim strawberry. Rasanya tidak terlalu manis dan enak. Hasan juga suka. Suasana disini juga tenang sekali. Meski sudah lewat jam makan siang, restoran ini masih tetap ramai.

Roti Orion

Alamat: Jl. Jendral Urip Sumoharjo no. 80, Surakarta

Siapa yang tidak kenal dengan legenda roti di Solo, Roti Orion? Karena mengetahui kalau toko roti tua ini sebegitunya melegenda, kami memutuskan mampir setelah sarapan timlo. Roti Orion ini berlokasi di pusat kota dan menempati gedung tua. Katanya sih yang terkenal Roti Mandarin, tapi kami malah tidak beli. Kami membeli roti semir-nya yang juga terkenal dan aneka roti lainnya. Pantas disebut legenda roti di Solo. Harganya tidak mahal dan rasanya juara!

Serabi Notosuman

Alamat: Jl. Moh. Yamin no. 51, Surakarta

Oleh-oleh dari Solo? Pasti yang terlintas di benak kita pasti Serabi Notosuman. Awalnya saya kira Serabi Notosuman seperti Surabi Enhaii di Bandung. Ada tempat makanannya dan bisa memilih aneka macam kreasi surabi. Ternyata hanya toko biasa dan menjual surabi untuk dibawa pulang. Pilihannya hanya dua: surabi original dan surabi coklat. Selain surabi, tiap toko Surabi Notosuman juga menjual aneka makanan oleh-oleh lainnya. Serabi Notosuman ini juga bermacam nama dan cabang. Yang kami sambangi Serabi Notosuman Ny. Lidia. Sementara nama lain banyak cabangnya, untuk Ny. Lidia tidak ada cabang lain.

Sudah pasti, surabi solo rasanya endeus!

Kuliner Lainnya

Selain kuliner diatas, ada beberapa rekomendasi kuliner dari teman. Ada yang menyarankan Nasi Liwet sekitar Stadion Manahan, tetapi berhubung kami sudah makan nasi liwet kemarin malamnya, akhirnya kami mengurungkan diri. Ada juga Sate Kambing H. Bejo yang dekat rel kereta api. Kami sempat menyambanginya, sayang karena kepagian mereka belum siap. Nah, satu lagi yang legenda kata teman adalah Gudeg Ceker Bu Kasno Margoyudan. Bukanya? Baru jam 2 DINI HARI sampai subuh hahaha. Karena kami sudah tidak bertenaga mengejar kuliner di jam-jam aneh dan kami pun tinggal di Yogya dengan aneka gudegnya, akhirnya kami mengurungkan diri dan memilih lain kali saja jika ke Solo lagi.
Gudeg Ceker Bu Kasno
Tapi jadi penasaran juga kan.

Tempat Kerumunan

Solo Paragon Mall

Alamat: Jl. Yosodipuro no. 133, Surakarta

Solo Paragon adalah salah satu mal terbesar di Kota Solo. Saya kesini menggunakan BST setelah dari Museum Pers karena hendak mencari makan siang buat Hasan, Panties Pizza idolanya Hasan kala di Kampung, haha. Posisinya juga cuma jarak berjalan kaki ke penginapan kami. Mal modern cukup besar dengan toko-toko yang cukup lengkap. Cocok dikunjungi untuk mencari makanan atau barang-barang kasual.
Calzone-nya Panties Pizza

Taman Balekambang

Alamat: Jl. Balekambang no.1, Surakarta

Sebelum sarapan, kami mengunjungi Taman Balekambang dahulu yang berlokasi di dekat Stadion Manahan. Pagarnya tidak terlihat menarik. Setelah masuk melewati pagar, ternyata taman ini sangat luas. Jauh lebih luas dibanding keliatannya dari luar. Kami mengarah ke kiri dahulu setelah melewati pagar.

Di sebelah kiri ternyata taman dengan jalan setapak dan banyak rusa-rusa berkeliaran. Ada rusa yang dibalik pagar, ada juga yang berkeliaran bebas. Rusa jantan yang ditandai dengan adanya tanduk tampak agresif. Saya khawatir dan bilang ke suami agar Hasan benar-benar diperhatikan. Takut diseruduk! Sementara rusa-rusa betina terlihat tenang, mereka lebih berhati-hati terhadap manusia karena menjaga anak-anaknya yang ikut berkeliaran.

Kami kembali ke gerbang masuk, kali ini kami mengambil arah kanan. Ternyata taman bagian sini sangat luas! Kami mengarah ke pedagang-pedagang yang sibuk membereskan lapaknya, tampaknya ada pasar malam sebelumnya. Kemudian sayup-sayup terdengar irama musik senam, ternyata sedang ada senam ibu-ibu dan gathering sesuatu. Di tengah taman ada air mancur yang dikelilingi pohon beringin besar sekali. Di sisi ujung ada semacam waduk. Ada beberapa orang yang tampak memancing. Gerombolan burung pun banyak terlihat. Hasan asyik mengejar mereka.

Ternyata Taman  Balekambang ini banyak diminati juga oleh warga Kota Solo untuk berekreasi dan bersantai!

Alun-Alun Kidul

Alamat: Pasar Kliwon, Surakarta

Untuk tata kota semacam Yogya dan Solo, ada dua jenis alun-alun. Alun-Alun Lor dan Alun-Alun Kidul. Alun-Alun Lor yang berada di sebelah utara keraton, sementara Alun-Alun Kidul yang berada di sebelah selatan. Sama seperti Yogya, Alun-Alun Kidul lah yang lebih ramai ketimbang Lor. Pasar malam adanya di Kidul. Sebagai anak alun-alun, maka tidak sah kalau Hasan tidak menyambangi alun-alun suatu kota di Jawa 😝. Ini adalah alun-alun ke-6 Hasan pada tahun 2018.

Seperti Yogya, saya tidak terlalu berharap banyak kalau Alun-Alun Solo akan seramai dan segegap gempita alun-alun Jombang. Maklum, baik Solo dan Yogya adalah kota besar yang sudah memiliki pusat perbelanjaan seperti mal. Siapa pula yang berminat untuk nongkrong di alun-alun? Bahkan, Alun-alun Klaten yang terletak diantara 2 kota besar (Solo dan Yogya) tetap tsepi. Mungkin muda-mudinya lebih tertarik untuk nongkrong di Solo atau Yogya ya.

Ternyata cukup lumayan, di alun-alun terdapat perosotan balon, odong-odong bahkan trampolin. Hasan juga sempat menyalurkan kesenangan bermain pasir disana. Tarif kota besar, sekali main 15 ribu. Kalau di Klaten bisa 10 ribu, bahkan di Jombang bisa 5 ribu saja!

Alhamdulillah, yang penting Hasan senang kan?

Tempat Lainnya

Taman Sriwedari sepertinya merupakan taman ikonik di Kota Solo. Padahal letaknya disamping Museum Danar Hadi persis, tapi saya juga bingung kenapa tidak mengunjunginya. Bagi yang senang berbelanja batik, tidak lain dan tidak bukan bisa menyambangi Pasar Klewer. Karena saya bisa membeli batik di Pasar Beringharjo Yogya, maka saya tidak mengunjungi pasar ini.
Pasar Klewer

Jangan khawatir walaupun hanya bisa menyambangi Kota Solo secara kilat. Banyak tempat wisata dan kuliner yang bisa dinikmati dan dicoba.

Selamat menikmati Kota Solo!

Komentar

  1. Penginapannya asri, sejuk dan nyaman gitu. Banyak tanaman hijau. Jadi seger lihatnya.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

5 Buku Nonfiksi Favorit

Tahun 2019 adalah titik balik saya untuk kembali banyak membaca buku setelah tahun lalu dan tahun-tahun sebelumnya hanya membaca 2-3 buku per-tahun. Miris bukan? Oleh karena itu, postingan kali ini saya dedikasikan sebagai bentuk apresiasi saya kembali membaca. Daftar buku dibawah juga berdasarkan daftar bacaan saya tahun 2018 yang selengkapnya bisa dilihat di goodreads saya. Kali ini saya akan coba merekomendasikan 5 buku non fiksi, tanpa sesuai urutan favoritnya.
1. Mindset: The New Psychology of Success - Carol S. DweckSuka penasaran tidak kenapa banyak anak kecil yang dianggap sebagai child prodigy kebanyakan hanya mampu mekar pada tempo waktu yang singkat. Biasanya saat mereka sudah dewasa, kiprahnya malah jarang terdengar. Akhirnya saya mengetahui alasannya setelah membaca buku ini.
Carol S. Dweck membagi pola pikir manusia menjadi dua: growth mindset dan fixed mindset. Growth mindset adalah pola pikir yang mendorong kita untuk selalu berkembang. Sementara fixed mindset adalah …

Pusat Perbelanjaan Purwokerto

Bukan orang asli maupun yang punya di keluarga, entah mengapa saya menulis rentetan blog seri Purwokerto ini bagaikan menulis Purwokerto 101 😉. Bagian yang pertama adalah dimana saja sih pusat perbelanjaan? You're living, you need place(s) to shop to fulfil your daily life. Standar, pusat perbelanjaan ada supermarket dan pasar tradisional.

Baby Gear: Aprica Karoon Review

Sewaktu masih hamil hasan trimester kedua, saya udah mulai rajin buka tutup review stroller di pelbagai website. Banyak faktor yang dibutuhkan untuk memilih stroller yang pas. Pertimbangan saya dalam memilih stroller dapat dilihat di artikel saya sebelumnya mengenai kriteria stroller disini. Melihat segala kriteria saya dan budget yang dimiliki, muncul beberapa shortlisted. Namun, ternyata alhamdulillah Hasan mendapat kado stroller dari Datuk Aya. Berhubung dikadoin, saya mah pasrah apa aja. Apalagi lebih mahal dari budget kita hehe. Stroller yang dikasih Aprica Karoon. Seperti ini penampakannya.