Langsung ke konten utama

Majalah Bobo dan Literasi Masa Kecil

Ayo ngacung, siapa yang disini masa kecilnya ditemani oleh romantisme bersama majalah Bobo?

Generasi X dan Generasi Y yang lahir pada rentang tahun 1961-1980 dan 1981-1994 sudah pasti tidak asing terhadap majalah Bobo. Majalah Bobo ini sendiri berdiri pada tanggal 14 April 1973 dan masih ada sampai sekarang. Wow, artinya umurnya sudah menjajaki 46 tahun ya! Ibaratnya kalau manusia sudah memasuki usia paruh baya yang kaya akan pengalaman hidup.


Saya sendiri yang lahir pada tahun 1991 dan termasuk Generasi Y merasakan betapa majalah Bobo yang terbit mingguan itu menemani hari-hari saya semasa kecil. Tahun 90-an dan hidup di kota kecil membuat para anak-anak disana minim hiburan selain bermain di lapangan dan video game semacam nintendo dan sega. Seingat saya, kami mulai berlangganan saat saya TK, mungkin sekitar tahun 95 dimana saya berusia 4 tahun. Saya yang katanya tergolong cepat bisa membaca pada saat itu sedang menjalani masa haus-hausnya untuk membaca. Sementara abang saya lebih tertarik main di luar bersama tetangga atau main sega dan nintendo.

Rubrik-rubrik masa itu yang dapat saya ingat adalah komik keluarga Bobo di halaman paling depan, cerpen, cerbung, komik Oki dan Nirmala di halaman tengah, dan komik Bona dan Rong-rong di halaman belakang. Tidak lupa banyak juga kuis-kuis dan sayembara yang dilombakan serta bagi yang beruntung mendapat hadiah. Ada TTS untuk mengasah otak dan liputan kegiatan tentang anak-anak di seluruh pelosok Indonesia.

Coba tebak, mana rubrik favorit saya?

Cerpen!
Kalau tidak salah ada total 5 cerpen dan cerbung dalam 1 terbitan majalah Bobo. Cerpen ini kalau tidak salah membuka peluang anak-anak se-seantero Indonesia untuk berpartisipasi. Rata-rata tiap cerpennya ada dalam 2 halaman. Jadi tiap kali saya menerima majalah Bobo, saya langsung melahap semua cerpennya dahulu, baru kemudian baca komik dan lain-lain sesuai urutan halamannya. 

Majalah Bobo yang datang tiap minggu selalu kami simpan dengan rapi di lemari. Tak terasa, dalam setahun saja pasti bakal menumpuk 52 edisi majalah Bobo. Saat sudah menumpuk seperti itu, saya kerap kali secara acak mengambil majalah di tengah tumpukan untuk membaca cerpen-cerpennya saja. Kan baca pertama kalinya sudah lama sekali, isi cerpennya juga sudah lupa. Jadi membaca cerpen-cerpen lama itu bagaikan membaca cerpen-cerpen baru.

Perlu digaris bawahi, saat itu kami tinggal di sebuah kota kecil di Aceh Utara, Lhokseumawe. Tidak ada toko buku. Saya cuma bisa jajan buku hanya pada saat kami pergi ke rumah nenek-atok di Medan. Jadi frekwensinya jarang sekali. Oh ya, di komplek tempat saya tinggal sebenarnya ada semacam perpustakaan, bisa pinjam seminggu sekali. Saya paling senang baca komik serial cantik. Candy-Candy, you name it. Lumayan sih ini untuk memuaskan hasrat membaca.

Kami langganan bobo sampai sebelum pindah dari Lhokseumawe saja karena keributan GAM pada masa itu, yakni sampai akhir tahun 99 saja, atau saat saya berusia 8 tahun. Selepas itu kami pindah sementara ke Medan. Semua koleksi majalah bobo kami susun rapi ke kardus dan kami bawa ke Medan. Saat di Medan saya masih kerap meminta untuk dibelikan Bobo, tapi statusnya sudah bukan langganan lagi, tapi beli mingguan. Hampir tiap minggu, pernah sih bolos beli, tapi tidak sering. Pada waktu itu akses toko buku juga lebih mudah sehingga saya sudah tidak se-ketergantungan itu kepada Bobo. Saya yang sudah mulai beranjak besar itu menambah tabloid mingguan, seperti Fantasi yang kontennya agak lebih anak gede ketimbang Bobo.

Sebenarnya sekarang pun juga Bobo masih rutin terbit, dari berbagai sumber saya juga melihat rubrik-rubriknya lebih menarik dan kekinian mengikuti perkembangan zaman. Tapi, mengapa ya saya merasa kehadiran Majalah Bobo tidak se-booming saat saya masa kecil? Mungkin inikah efek dari zaman digitalisasi yang dipenuhi dengan gadget dan games. Di tengah hempasan tersebut, saya sangat kagum dengan Bobo yang masih tetap berjibaku berjuang menumbuhkan kemampuan literasi dan kecintaan anak-anak bangsa Indonesia untuk membaca. Mungkin bagi Bobo kedepannya perlu mengadakan acara yang bertajuk anak-anak dengan anak-anak sebagai peserta sebagai sarana mereka agar dapat mengenal Bobo.

Maka dari itu wahai anak-anak Indonesia, mari tumbuhkan minat baca!

Mari kembali ke Bobo! 😉

Komentar

  1. majalah favorit waktu kecil, nih...

    BalasHapus
  2. Akuuu dulu baca bobo dan awd. Dinanti tiap minggu~

    BalasHapus
  3. Bobo majalah sekarang memang kurang sebooming dulu. Mungkin karena Bobo sekarang sudah ada versi majalah online yaa

    BalasHapus
  4. majalahku waktu kecil nih, bahkan udah besarpun masih suka baca

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

5 Buku Nonfiksi Favorit

Tahun 2019 adalah titik balik saya untuk kembali banyak membaca buku setelah tahun lalu dan tahun-tahun sebelumnya hanya membaca 2-3 buku per-tahun. Miris bukan? Oleh karena itu, postingan kali ini saya dedikasikan sebagai bentuk apresiasi saya kembali membaca. Daftar buku dibawah juga berdasarkan daftar bacaan saya tahun 2018 yang selengkapnya bisa dilihat di goodreads saya. Kali ini saya akan coba merekomendasikan 5 buku non fiksi, tanpa sesuai urutan favoritnya.
1. Mindset: The New Psychology of Success - Carol S. DweckSuka penasaran tidak kenapa banyak anak kecil yang dianggap sebagai child prodigy kebanyakan hanya mampu mekar pada tempo waktu yang singkat. Biasanya saat mereka sudah dewasa, kiprahnya malah jarang terdengar. Akhirnya saya mengetahui alasannya setelah membaca buku ini.
Carol S. Dweck membagi pola pikir manusia menjadi dua: growth mindset dan fixed mindset. Growth mindset adalah pola pikir yang mendorong kita untuk selalu berkembang. Sementara fixed mindset adalah …

Pusat Perbelanjaan Purwokerto

Bukan orang asli maupun yang punya di keluarga, entah mengapa saya menulis rentetan blog seri Purwokerto ini bagaikan menulis Purwokerto 101 😉. Bagian yang pertama adalah dimana saja sih pusat perbelanjaan? You're living, you need place(s) to shop to fulfil your daily life. Standar, pusat perbelanjaan ada supermarket dan pasar tradisional.

Baby Gear: Aprica Karoon Review

Sewaktu masih hamil hasan trimester kedua, saya udah mulai rajin buka tutup review stroller di pelbagai website. Banyak faktor yang dibutuhkan untuk memilih stroller yang pas. Pertimbangan saya dalam memilih stroller dapat dilihat di artikel saya sebelumnya mengenai kriteria stroller disini. Melihat segala kriteria saya dan budget yang dimiliki, muncul beberapa shortlisted. Namun, ternyata alhamdulillah Hasan mendapat kado stroller dari Datuk Aya. Berhubung dikadoin, saya mah pasrah apa aja. Apalagi lebih mahal dari budget kita hehe. Stroller yang dikasih Aprica Karoon. Seperti ini penampakannya.