Langsung ke konten utama

Asa untuk Transportasi Umum di Jakarta

Menyandang status ibukota, DKI Jakarta memiliki jumlah populasi 10 juta jiwa lebih di wilayah yang hanya seluas 661,52 km2. Hal ini menempatkan Jakarta sebagai kota terbebani nomor 2 di Asia setelah Tokyo. Pada jam kerja, penduduk Kota Jakarta meningkat hampir 3 kali lipat. Penduduk tambahan ini berasal dari penduduk Metropolitan Jakarta yang meliputi Kota Bogor, Depok, Tangerang, Tangerang Selatan, dan Bekasi.


Masih teringat di benak saya saat pertama kali pindah ke Jakarta pada tahun 2002, betapa pendek asa saya melihat sektor tranportasi umum di Jakarta. Pada saat itu saya hanya mengenal mobil angkutan umum (angkot), berbagai bus (Kopaja, Damri, Mayasari) dan KRL. Sehari-hari untuk berangkat sekolah saya masih menggunakan moda angkot atau antar jemput mobil pribadi. Ayah saya pun masih menggunakan mobil pribadi untuk ke kantor. Pada saat itu, menggunakan angkutan umum terasa kurang nyaman. Angkutan umum terkenal akan sering "ngetem", desak-desakan, ataupun jalur yang terkesan memutar. Kebijakan pembatasan kendaraan pribadi pada saat itu hanya 3 in 1 yang berlaku di ruas Jalan Sudirman dan Kuningan pada jam berangkat (06.00-10.00) dan pulang (16.00-20.00) kerja. Alih-alih untuk membatasi kendaraan pribadi guna mengurangi kemacetan, kebijakan ini terlalu banyak celah. Sebagai contoh, muncul suburnya joki 3 in 1 dengan tarif yang bervariasi.

Jakarta memiliki populasi yang sangat besar namun sangat minim jalan dan sistem transportasi. Kapasitas Jalan yang segitu-segitu saja, volume kendaraan bermotor yang terus bertambah menempatkan Jakarta sebagai kota termacet ke-12 di dunia dan ke-2 di Asia (Inrix 2017 Scorecard).

Inrix 2017 Scorecard
Berdasarkan lama waktu kemacetan yang dirasakan pengendara di Jakarta, rata-rata dalam setahun mencapai 63 jam dengan porsi 20 persen. Angka ini mengalami peningkatan dibandingkan 2016 yang menyebutkan bahwa para pengendara dapat menghabiskan waktu 55 jam saat kemacetan terjadi.

5 Tahun yang Lalu

Saya mulai agak sering menggunakan moda TransJakarta pada tahun 2014. Pada saat itu saya dan suami tinggal di Lebak Bulus, Jakarta Selatan, dengan lokasi yang sangat strategis untuk menggunakan angkutan umum. Sekali angkot ke terminal bus Lebak Bulus, akses langsung angkot di depan rumah dan sedikit jalan kaki untuk naik bus kopaja. Jalur TransJakarta tidak sebanyak sekarang. Terhitung ada 3 koridor busway paralel dari wilayah Jakarta Selatan, yakni Lebak Bulus, Blok M dan Ragunan. Singkatnya, tinggal di Lebak Bulus pada saat itu merupakan suatu kegembiraan karena saya dapat memilih menggunakan jalur mana saja untuk mengunjungi pusat kota Jakarta.

5 tahun yang lalu, transportasi umum di Jakarta jauh dari kata terintegrasi. Angkot, bus kota, KRL, dan TransJakarta berdiri sendiri. Antara moda satu dan moda lainnya tidak saling berbagi informasi. Artinya, butuh pembelajaran, pengalaman bahkan kesalahan untuk mendapatkan jalur dan moda yang paling optimal untuk menuju suatu tempat. Sebagai contoh, dimana kita bisa melihat info jalur angkot? bagaimana dengan jalur bus kota? Trans akarta? KRL? Semuanya harus dicek sendiri-sendiri.

TransJakarta hanya merangkul penumpang dari dan dalam Jakarta. Penumpang kota satelit Jakarta seperti Tangerang, Tangerang Selatan, Depok, dan Bekasi hanya difasilitasi menggunakan KRL. Bisa sih menggunakan angkot dan bus umum, namun rute yang terbatas membuat pemilihan non KRL tidak efektif. Pun, moda transportasi umum selain KRL hanya membebani kapasitas Jalan di Jakarta. Kemacetan tetap tidak dapat dipungkiri.

Asa untuk Trasportasi Umum

Setahun berselang, saya melihat kegiatan konstruksi dilakukan di dekat tempat tinggal saya. Wah, mau dibikin apa ini? Usut punya usut, ternyata Pemerintah sedang membangun MRT Jakarta. Artinya Jakarta tidak akan kalah keren dibandingkan Singapura dan Kuala Lumpur yang jauh lebih dulu sudah memiliki sistem MRT. Tidak lama kemudian, saya juga mulai melihat banyak tiang pancang dibangun di sepanjang tol Jagorawi menuju Cibubur. Ternyata tidak hanya MRT, pemerintah pun mulai membangun LRT Jakarta! Sebagai penduduk yang pernah tinggal di Cibubur, saya merasa pembangunan LRT Jakarta dengan jalur Cibubur - Kuningan adalah ide yang sangat brilian. Pasalnya, penduduk Cibubur sangat ketergantungan jalan tol untuk menuju kota Jakarta, dengan komposisi pilihan terbesar menggunakan kendaraan pribadi. Kenapa kendaraan pribadi? karena pilihan  jalur menggunakan angkutan umum menuju kota Jakarta sangat sedikit.

Setelah sekian lama, di akhir tahun 2018 saya menggunakan TransJakarta kembali. Untuk memastikan koridor dan bus yang akan saya ambil menuju tempat tinggat di Pramuka, saya mengunduh peta rute di situs TransJakarta

Alangkah kagetnya saya karena ternyata sekarang trayek, koridor dan armada sudah berkembang sangat pesat. Selain itu, (tampaknya) bus semacam Kopaja, Damri dan Mayasari sudah bermetamorfosa menjadi bus pengumpan dengan manajemen dibawah TransJakarta. Menariknya,  jalur bus pengumpan ini juga dimasukkan ke dalam jalur bus TransJakarta. Saya membayangkan, betapa mudahnya orang jaman sekarang, tidak terkecuali turis dalam dan luar negeri  untuk menentukan bus apa saja yang digunakan untuk mencapai suatu tempat tertentu. Tidak hanya itu, peta jaringan TransJakarta juga memasukkan peta bus tingkat wisata. Bus pengumpan dan beberapa angkot juga sudah terintegrasi dan pembayarannya bisa menggunakan Jaklingko. All for one, one for all!

3 bulan setelahnya, MRT Jakarta membuka uji coba gratis untuk publik pada bulan Maret 2019. Tidak mau menunggu, saya langsung mengklaim tiket untuk sekeluarga dan alhamdulillah kami berkesempatan untuk merasakannya. Rasanya halus, benar-benar seperti naik MRT di luar negeri. Kami naik dari stasiun Dukuh Atas menuju Lebak Bulus pulang pergi. Sejauh ini, trayek MRT baru dibangun dari Lebak Bulus hingga Bunderan HI dan butuh waktu tempuh kurang lebih 30 menit.  Akan dibangun fase 2 untuk perpanjangan jalur dari Bundaran HI menuju Stasiun Jakarta Kota. Depo MRT Jakarta berada di Stasiun Lebak Bulus. Kabarnya, harga tiket MRT Jakarta dibanderol Rp 8.500, sebuah harga yang cukup murah dan masuk akal.


Seminggu setelahnya, saya menaiki KRL kembali setelah sekian lama. Ternyata sistem tiketnya sudah jauh berbeda dibandingkan saat saya naik KRL pada tahun 2017. Pemerintah mengembangkan sistem tiket baru untuk KRL, MRT dan LRT. Ketiganya memiliki sistem tiket yang sama. Artinya, ketiganya pun sudah diusung untuk saling terintegrasi. Sebagai contoh, di Dukuh Atas merupakan persimpangan antara stasiun MRT, KRL, kereta bandara dan TransJakarta. 

Tersedia mesin penjualan tiket yang ramah pengguna dan loket penjualan tiket di tiap stasiun MRT, LRT, dan KRL. Kartu tiket yang bisa dipilih terdiri dari tiket satu perjalanan (STJ) dan multi trip. Tiket tersebut bersama dengan beberapa kartu uang elektronik lain bisa digunakan untuk diketuk di gerbang masuk.

LRT Jakarta kabarnya akan dirilis paling belakangan. Jalur pertama yang akan diuji coba adalah Velodrome - Kelapa Gading. Jalur ini memiliki 3 stasiun diantaranya dengan total panjang 5,8 km. Depo LRT  yang berdiri di lahan seluas 100 hektar dengan kemampuan menampung sebanyak 160 kereta berada di Pengangsaan Dua, yakni sebelah utara stasiun Kelapa Gading Mall. Diharapkan LRT Jakarta dapat membawa hingga 14.000 penumpang perhari. Jarak antar KA direncanakan memiliki jeda 5 menit saat jam puncak dan 15 menit saat jam non-puncak. 

Kapasitas LRT Jakarta mampu  mengangkut hingga 270 orang dan daya angkutnya bisa ditambah dengan sistem coupling. Saat ini LRT Jakpro memiliki sebanyak 8 rangkaian LRT. Rencana kedepannya koridor LRT ini akan terintegrasi dengan TransJakarta koridor 2 dan koridor 4 dengan menggunakan Sky Bridge.

Stasiun LRT Jakarta memiliki beberapa fasilitas guna menciptakan kenyamanan para calon penumpang di tiap stasiunnya. Fasilitas-fasilitas tersebut antara lain: Ruang Ibadah, Ruang Menyusui, Toilet Umum, Pos Kesehatan, Lift, Eskalator, CCTV 24 jam dan layanan disabilitas. LRT benar-benar mengusung transportasi umum yang ramah dan terpercaya.

Sejujurnya, hal yang masih belum saya pahami sampai sekarang adalah mengapa jalur LRT pertama yang disiapkan adalah Kelapa Gading -Velodrome. Jalur yang terlalu pendek dan arah yang bukan menuju area perkantoran membuat jalur ini sementara hanya akan menjadi jalur rekreasional saja. Jalanan di sepanjang jalur LRT ini juga masih dalam tahap kejenuhan yang wajar di jam puncak kemacetannya. Ingin rasanya saya membaca kajian transportasi yang mendasari konstruksi jalur LRT ini. Usut punya usut, ternyata untuk jangka kedepannya jalur ini akan diperpanjang menjadi Jakarta Kota - Dukuh Atas. Dari pusat kota menuju pusat perkantoran. Dalam rencana Jabodetabek Urban Railway Network Map 2020, selain jalur tersebut juga akan ada jalur LRT Cibubur - Dukuh Atas dan Bekasi Timur - Cawang.


Saya sangat tertarik dan setuju akan adanya 2 jalur LRT yang berasal dari kota satelit Jakarta. Hadirnya LRT di Cibubur membuat wilayah Cibubur yang sebelumnya sangat ketergantungan dengan jalan tol menjadi terjangkau. Berpergian menggunakan LRT akan menjadi alternatif pilihan yang nyaman untuk menuju pusat kota. Pengambilan jalur paralel yang berbeda dari KRL dapat memecah kedatangan "penduduk tambahan Jakarta" melalui kendaraan pribadi, angkutan umum konvensional, KRL dan LRT. Begitu juga dengan LRT jalur Bekasi timur. Jalur paralel yang berbeda dengan KRL membuat penduduk Bekasi Timur memiliki alternatif ke pusat kota tanpa harus menempuh jarak jauh ke utara dahulu demi naik KRL.

Setelah ketiga jalur LRT tersebut, tampaknya pemerintah juga sudah memiliki Grand Design rencana pembangunan LRT dan MRT tahap berikutnya. MRT jalur hijau dengan arah Cikarang - Balaraja yang menghubungkan Bekasi dan Tangerang, LRT Grogol dengan arah Senayan - Grogol dan perpanjangan LRT Cibubur hingga Barangsiang, Bogor.

MRT, LRT dan KRL yang mengambil jalur berbeda dan tidak saling tindih ini merupakan pilihan yang efektif untuk mentransformasi penduduk Jabodetabek untuk mulai beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi umum. Transformasi ini memiliki efek jangka panjang untuk mengurangi tingkat kemacetan di Jakarta dan sekitarnya.

Adanya peta Jabodetabek Urban Railway Network Map diatas membuat rasa optimis saya bangkit terhadap sektor transportasi umum di Jakarta. Sistem komutasi di Jabodetabek digambarkan dengan detail. Semua jalur (MRT, LRT, KRL), stasiun, serta stasiun mana saja yang terintegrasi dengan transportasi umum lainnya seperti TransJakarta, Kereta Bandara, Bus umum dan Kereta Antar Kota. Semua Stakeholder tampak berpegangan erat membangun suatu sistem transportasi umum Jabodetabek yang lebih baik. Peta seperti ini menjadi acuan yang sangat baik untuk dipublikasikan baik bagi penduduk Jabodetabek maupun turis.

Perbedaan MRT, LRT dan KRL

Setelah sekian kali disebut MRT, LRT dan KRL disebut, lantas apa saja yang membedakan diantara ketiganya? Perbedaan ada di rangkaian, kapasitas penumpang dan perlintasannya. LRT memiliki 2-4 rangkaian kereta dengan kapasitas 600 penumpang dan target 360.000 penumpang. LRT merupakan kereta yang paling kecil serta paling sedikit kapasitas penumpang diantara ketiganya. Meskipun begitu, target penumpang per hari LRT lebih besar dibandingkan MRT. Jeda kedatangan antar kereta juga lebih sebentar. Ini membuat LRT sebagai sarana transportasi umum yang lincah. Sistem perlintasannya juga bersifat melayang, sehingga relatif tidak menggangu jalanan dan bangunan dibawahnya.

Jalur Berikutnya?

Untuk kedepannya, diharapkan pemerintah mengembangkan dan memperbanyak jalur MRT dan LRT yang berasal dari kota satelit karena salah satu permasalahan mayor padatnya lalu lintas jakarta adalah "penduduk tambahan" yang menggunakan kendaraan pribadi disaat jam puncak, yaitu jam berangkat dan pulang kerja. Ada beberapa usulan pembangunan jalur yang layak dipertimbangkan:
  • Antara jalur KRL Bogor dan MRT Lebak Bulus
  • Antara jalur KRL Rangkas Bitung dan KRL Tangerang
  • Sebelah utara jalur rencana MRT Cikarang
  • Jalur yang menghubungkan lingkar luar Jakarta (TB Simatupang)
Sebagai mantan penduduk Jakarta Selatan dan memiliki keluarga yang bekerja di area TB Simatupang, kenihilan transportasi umum selain via jalanan membuat semua yang bekerja dan beraktifitas di sekitaran TB Simatupang relatif hanya mengandalkan bus pengumpan yang difasilitasi TransJakarta, kendaraan pribadi dan kendaraan carteran. Padahal, sepanjang jalan TB Simatupang itu sendiri sedang direncanakan untuk menjadi area perkantoran. Penduduk Tangerang Selatan yang hendak bekerja di TB Simatupang? Via tol. Penduduk Depok? Via jalanan. Penduduk Bogor? Via tol. Penduduk Jakarta kota? Via jalanan. Penduduk Bekasi? Via tol. Semuanya membebani dan meningkatkan volume jalanan di Jakarta Selatan. Tidak bisa dipungkiri, kemacetan di Jakarta Selatan tergolong parah, termasuk di ruas JORR (Jakarta Outer Ring Road).

Dengan hadirnya jalur LRT yang memfaasilitasi area Jakarta Selatan, diharapkan kemacetan menjadi lebih terpecahkan. Masyarakat juga menjadi lebih memiliki opsi. LRT dirasa cocok karena bentuknya lebih kecil dan lincah serta dengan cakupan kapasitas penumpang yang lumayan.

Because LRT Jakarta Moving People, Connecting Communities.

Komentar

  1. keren ya di Jakarta, aku yang di luar kota jadi ingin coba semuanya hehe

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Baby Gear: Aprica Karoon Review

Sewaktu masih hamil hasan trimester kedua, saya udah mulai rajin buka tutup review stroller di pelbagai website. Banyak faktor yang dibutuhkan untuk memilih stroller yang pas. Pertimbangan saya dalam memilih stroller dapat dilihat di artikel saya sebelumnya mengenai kriteria stroller disini. Melihat segala kriteria saya dan budget yang dimiliki, muncul beberapa shortlisted. Namun, ternyata alhamdulillah Hasan mendapat kado stroller dari Datuk Aya. Berhubung dikadoin, saya mah pasrah apa aja. Apalagi lebih mahal dari budget kita hehe. Stroller yang dikasih Aprica Karoon. Seperti ini penampakannya.

Story of Hasan: Icip Kolam Renang Pertama

Selasa minggu lalu, 14 Maret 2016 untuk pertama kalinya Hasan icip-icip kolam renang. Saya tinggal di apartemen yang ada kolam renang di tiap towernya. Tapi baru kali ini setelah Hasan berusia 6.5 bulan ia icip-icip kolam renang. Kemana saja saya selama ini?
Oke.
Jadi sebenarnya niatnya adalah Hasan belajar berenang langsung nyemplung di kolam renang saat usia 6 bulan. Setelah berusaha mencari tempat les renang bayi, akhirnya saya menemukan 2 tempat les renang bayi di Jakarta. Aquatic Baby dan Anak Air. Keduanya dapat menerima bayi minimal berusia 6 bulan. Wah cocok ni pikir saya. Pada saat itu Hasan sudah berusia 5 bulan. Kemudian saya menghubungi Aquatic Baby perihal brosur. Ternyata eh ternyata, berhubung kelasnya terbatas jadi waiting list nya panjang benar. Masa term berikutnya Mei atau Juni, yang mana Hasan sudah berusia 9 atau 10 bulan. Oh iya, Aquatic Baby ini berlokasi di Bintaro. Informasi lebih lanjut mungkin bisa lihat di postingan ini.

Menjadi Istri PPDS: The Beginning

Hari ini, Rabu 25 Juni 2014 adalah hari pertama suami saya menjalankan kehidupan PPDS (Program Pendidikan Dokter Spesialis) setelah sehari sebelumnya briefing resmi baik dari departemen dan senior.



Apa yang berubah?