Langsung ke konten utama

Romantisme Hasan dan (Calon) Adeknya

Makanya, Hasannya sedih kan tiap pulang dari ketemu saudaranya. Belum ada adeknya sih, jadi sendirian.
Terus terang, saya suka sedih dan keki dengan respon dan komentar-komentar semacam itu. Sedih buat sayanya yang memang sudah lama ingin memberi adik untuk Hasan, dan sedih untuk Hasan karena terkesan mendiskreditkan Hasan.

*akan diperbaharui secara berkala, tergantung suasana hati 😙



Di saat saya menulis tulisan ini, Alhamdulillah saya sedang hamil jalan 36 minggu di usia Hasan yang memasuki 3.5 tahun itu. Dari dulu, Hasan memiliki suatu kelemahan yang sangat terlihat. Apakah itu?
LEMAH TERHADAP BAYI-BAYI 😀
Hahaha, jika itu mau disebut kelemahan. Hasan selalu suka sama bayi-bayi. Kalau tiap mau main ke tempat temannya atau saudaranya, pasti yang disebut pertama kali yang lebih muda dari dia atau yang bayi-bayi. Kalau lagi makan di restoran dan kebetulan sedang ada bayi-bayi, Hasan mendadak makan tidak konsen. Hasan yang memiliki kepribadian membutuhkan adaptasi terhadap orang baru membuat ia bagaikan bayi-bayi penguntit. Jadi sering curi pandang diam-diam bayi-bayi di sekitar tapi tidak berani mendekatinya haha. 

Kebayang kan bagaimana reaksi Hasan saat ia tahu kalau ia akan memiliki adik sendiri? Senang sekali dia. Bahkan sudah tersusun paripurna kurikulum apa saja yang hendak dia ajarkan ke adiknya! 😂.
Ade bebi nanti diajarin merangkak sama abang Hasan.
Ade bebi nanti pakai jilbab warna pink gambar hello kitty
Ade bebi nanti diajarin naik sepeda sama abang Hasan. Sepedanya yang kecil karena masih kecil dia.
Ade bebi nanti diajarin renang sama abang Hasan dibawah.
Dan segudang susunan rencana kurikulum lainnya.

Banyak orang yang suka khawatir jika nanti anak kesekiannya lahir, abang/kakaknya bakal cemburu sama sang adik. Adiknya dibelikan ini itu, kakanya tidak. Adiknya dapat kado ini itu, kakaknya tidak. Sementara Hasan malah segala apapun ingin beli buat adek bebi. Malah dia suka lupa sama barang yang dia butuhkan sendiri. Mau beli baju adek bebi, mau beli mainan adek bebi, mau beli buku buat adek bebi. Dia hampir tidak pernah minta barang buat diri sendiri kecuali kalau kita sedang bawa ke semacam toko mainan dan dia cuma liat-liat mainan semacam die cast mobil Tomica dan mainan karakter seperti McQueen dan Paw Patrol. Malah, kalau Hasan diajak buat beli perlengkapan adek bebi, dia merasa itu seperti hiburan ia tersendiri.

Situasi 1

Saya dan Hasan hendak pergi ke kantor imigrasi untuk menanyakan beberapa perihal paspor untuk mertua saya. Respon Hasan?

Saya: Kita lagi di kantor imigrasi, dulu Hasan bikin paspor disini
Hasan: Mau bikin paspor ade bebi
Saya: Ade bebinya kan belum lahir. Emang abang Hasan mau kemana sih sama ade bebi?
Hasan: Nanti kalau ade bebi lahir mau nemenin ade bebi bikin paspor. Mau ke legoland sama ade bebi

Kemudian setelah kami beres urusan paspor, saya menawarkan ke Hasan,

Saya: Hasan mau pulang atau cuci mata liat baju ade bebi?
Hasan: Mau liat-liat baju ade bebi.

Sesampainya kami di Birds & Bees Kelapa Gading, Hasan bersemangat sekali turun dari mobil dan memasuki toko. Kemudian di etalase, terpampang nyata koper-koperan merk Trunki. Saya katakan koper ini bisa dinaiki. Kemudian saya tanyakan,


Saya: Ini ceritanya koper Hasan, bisa dinaikin loh. Isinya kayak koper beneran. Kira-kira nanti mau diisi apa sama abang Hasan?
Hasan: Mau diisi baju-baju ade bebi

Situasi 2

Hasan entah kenapa suka "ngerjain" dan iseng sama babehnya.

Saya: Hasan anak?
Hasan: Acom
Saya: Dan anak?
Hasan: Soleh
Saya: Sayang?
Hasan: Sayang mama, ade bebi tapi babehnya ga sayang *kemudian tersenyum jail*

Atau suatu ketika saya, suami dan Hasan sedang berenang di kolam apartemen.

Suami: Ini babeh lagi sayang-sayang mama cinca dan ade bebi *sambil mengelus perut yang ada ade bebi*
Hasan: aaaaah, ga boleh! Babehnya ga boleh! Ade bebinya ditutup sama abang Hasan *sambil langsung mendekap dan nutupin perut mamanya.

Hasan ini juga suka banyak ngobrol sama adenya. Bahkan banyak ritualnya saat mau pamit. Misal pamit mau ke mesjid:

Hasan: *kiss ade bebi di perut* Ade bebi, abang Hasan pergi ke mesjid dulu ya, ade bebi jangan lupa solat sama mama. Dah ade bebi *kiss bunyi lagi*

Sementara nasib babehnya,

Babeh: Hasan babeh kiss ya! *kiss Hasan
Hasan: *mengilap bekas kiss

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

5 Buku Nonfiksi Favorit

Tahun 2019 adalah titik balik saya untuk kembali banyak membaca buku setelah tahun lalu dan tahun-tahun sebelumnya hanya membaca 2-3 buku per-tahun. Miris bukan? Oleh karena itu, postingan kali ini saya dedikasikan sebagai bentuk apresiasi saya kembali membaca. Daftar buku dibawah juga berdasarkan daftar bacaan saya tahun 2018 yang selengkapnya bisa dilihat di goodreads saya. Kali ini saya akan coba merekomendasikan 5 buku non fiksi, tanpa sesuai urutan favoritnya.
1. Mindset: The New Psychology of Success - Carol S. DweckSuka penasaran tidak kenapa banyak anak kecil yang dianggap sebagai child prodigy kebanyakan hanya mampu mekar pada tempo waktu yang singkat. Biasanya saat mereka sudah dewasa, kiprahnya malah jarang terdengar. Akhirnya saya mengetahui alasannya setelah membaca buku ini.
Carol S. Dweck membagi pola pikir manusia menjadi dua: growth mindset dan fixed mindset. Growth mindset adalah pola pikir yang mendorong kita untuk selalu berkembang. Sementara fixed mindset adalah …

Pusat Perbelanjaan Purwokerto

Bukan orang asli maupun yang punya di keluarga, entah mengapa saya menulis rentetan blog seri Purwokerto ini bagaikan menulis Purwokerto 101 😉. Bagian yang pertama adalah dimana saja sih pusat perbelanjaan? You're living, you need place(s) to shop to fulfil your daily life. Standar, pusat perbelanjaan ada supermarket dan pasar tradisional.

Momen Traumatis Terhadap Gula

Saya: Semenjak pulang dari Pemalang, aku merasa traumatis banget buat konsumsi gula. Biasanya relatif gampang beli minuman manis. Chatime aja tinggal ngesot juga jadi. Ini tiap tiba-tiba kerasa pengen minum minuman manis, benar-benar bergulat dalam pikiran beli atau engga, yang 98% berujung dengan ga beli. Ternyata gula sejahat itu ya?Suami: Loh, baru sadar?
Apakah yang terjadi di Pemalang? Kenapa saya sampai segitu traumatisnya dalam mengkonsumsi gula? Perkara berat, atau?

Gula dan Saya Dari dulu saya merasa diri saya adalah sweet-tongue. Saya suka makanan manis, meski saya tidak rutin mengkonsumsinya. Saya bukanlah orang yang rutin mencari makanan manis secara harian. Kalau pun mencicipi makanan manis, saya tidak bisa banyak-banyak. Tapi, sekalinya makan atau minum yang manis, harus manis banget. Sejatinya saya suka membuat kue dan minuman manis. Tapi bertahun-tahun saya tidak membuatnya dengan alasan tidak ada massa yang menghabiskannya. Anak saya tidak suka ngemil. Saya pun tidak …