Langsung ke konten utama

Hal-hal Sederhana yang Membahagiakan

Terkadang, untuk mendapatkan suatu kebahagiaan tidak melulu membutuhkan harga yang mahal. Kebahagian sederhana versi saya mayoritas berbicara soal waktu. Setelah menikah apalagi memiliki anak, waktu senggang atau yang lebih dikenal dengan me time menjadi sangat berharga. Waktu me time tidak harus banyak, sedikit yang penting berkualitas. Karena kebahagiaan seorang ibu akan berdampak kepada kebahagiaan sang anak bukan?


Ada beberapa waktu dan kegiatan yang menurut saya membuat saya bahagia. Benar-benar tidak mahal bahkan cenderung murah. Kalaupun menggunakan biaya paling hanya semacam biaya akomodasi dan transportasi.

1. Anak Tidur


Ini adalah waktu-waktu krusial yang paling berharga. Seyogyanya, ada 2 waktu anak tidur, yaitu tidur siang dan malam. Tidur siang biasanya hanya 2 jam. Sebenarnya bisa sampai 3 jam sih, namun saya cenderung membangunkannya agar rutinitas tidur malam dan bangun paginya tidak terganggu. Biasanya Hasan tidur siang pukul 14.00-16.00. Jam 13.30 biasanya mulai proses tidur. Kalau dia tidak sedang mengantuk biasanya kurang dari 5 menit tidur. Kalau dalam keadaan aktif ya baru tidur jam 14.00. Untuk tidur malam biasanya pukul 22.00-06.00. Proses mulai tidur biasanya pukul 21.00.

Membaca dan menulis adalah 2 kegiatan favorit saya saat anak tidur jika sedang tidak ada suami. Saat Hasan tidur siang, biasanya saya mati-matian menahan kantuk agar tidak ikutan tidur siang. Menurut saya tidur siang itu bukan me time karena waktu akan hilang begitu saja tanpa bisa berbuat apa-apa. Kalaupun saya mengantuk saya selalu mengulang-ngulang dalam kepala supaya maksimal waktu tidur saya hanya setengah jam. Biasanya benar, saya hanya melakukan power sleep. Teknik lainnya adalah berfikir sembari memejamkan mata, jadi tidur tidak santai dan terganggu hingga akhirnya cuma tidur sebentar.

Kalau tidak ketiduran, saya biasanya main gawai sebentar dan membatasi maksimal hanya setengah jam. Jika saya ketiduran, saya hanya secepat kilat membuka gawai lalu meloncat menuju meja kerja karena sisa waktu 1.5 jam pada dasarnya tidak terlalu banyak progress yang bisa dilakukan.

Saat menunggu anak tidur malam, saya gunakan waktu untuk membaca buku via kindle karena lampu kamar mati. Tapi kadang-kadang racun sih, kalau saya pegang gawai duluan malah kelamaan sehingga kerap kali anak sudah tidur eh saya-nya belum buka kindle sama sekali 😅. Begitu anak tidur saya keluar kamar untuk membaca buku fisik. Saya bacanya duduk di meja belajar dengan lampu belajar sebagai tambahan penerangan. Alasannya kalau bacanya sambil tidur-tiduran baru sebentar eh sudah ketiduran. Tidak maju-maju nanti bacanya. Dengan baca duduk saya jadi lebih tahan lama. Sering loh saya mati-matian menahan kantuk karena masih penasaran dengan bacaan haha. Saya membaca kalau sedang tidak ada aktifitas lain seperti menulis blog atau harus belajar buat kelas online. Atau kalau sedang tidak ada jadwal serial TV keluar 😌. Saat sedang ada suami saya memutuskan untuk berbincang dan menghabiskan waktu dengan suami. Kalau suaminya lagi main game sih, baru saya melakukan hal yang diatas 😂.

2. Adrenalin


Salah satu yang saya rindukan selepas saya keluar dari dunia kerja adalah adrenalin. Hadirnya tenggat waktu membuat hidup menjadi lebih produktif dan menantang. Bagi saya, rutinitas kalau dilakukan dalam waktu lama terasa membosankan. Saya membutuhkan sedikit ombak tantangan supaya bisa lebih bersemangat baik dalam menunaikan tantangan maupun menjalani aktifitas sehari-hari. 

Awal saya berhenti berkerja saya memasuki fase semacam mencari jati diri. Beruntung dalam pekerjaan saya terdahulu cukup santai dan bukan dalam suatu jabatan bonafid. Berhenti bekerja tidak membuat saya terkejut seperti ibu bekerja lainnya yang sudah lebih dulu memiliki karir bonafid dan bergaji menjanjikan. Pada saat saya berhenti bekerja yang saya pikirkan adalah apa yang bisa saya lakukan?

Lumayan membutuhkan waktu sampai saya menemukan komunitas yang cocok, membangun hal yang saya sukai dan kembali mencoba menekuni hobi. Di awal tahun ini saya menemukan ajakan target membaca, pertengahan tahun menemukan komunitas online menulis blog tiap minggu dan akhir tahun ada tantangan menulis blog tiap hari satu. Sembari dengan kelas online bahasa arab lainnya, kegiatan untuk membaca, menulis dan belajar pada akhirnya menjadi rutinitas dan terasa perlahan membosankan. Akhirnya saya menemukan kembali riak dengan ikut lomba-lomba menulis yang temanya saya sukai. Saya tidak menjadikan hadiah sebagai orientasi akhir, tetapi lebih kepada  kesempatan  untuk bersenang-senang. Dan alhamdulillah, berapa ajakan untuk mengerjakan “sesuatu” juga berdatangan 😊.

3. Ikut Seminar/Workshop


Ini juga merupakan bentuk aktualisasi dan optimasi diri saya sendiri. Berhubung saya idealis, saya hanya menulis topik yang saya suka. Saya hanya mengikuti seminar pada topik yang saya suka. Biasanya yang saya ikuti berkaitan dengan hal yang sedang saya optimalkan di masa itu. 

Seminar dan workshop biasa diadakan sabtu, biasanya saya menitipkak Hasan pada bapaknya. Saat suami keluar kota, saya menitipkan kepada asisten rumah tangga di rumah orang tua/mertua dengan Orang tua/mertua sebagai supervisor. 

Seminar dan workshop yang biasa saya ikuti tanpa berbayar. Kalaupun berbayar saya memastikan bahwa apa yang saya bayar sepada dengan apa yang bisa saya dapatkan.

4. Networking


Atau berkomunitas. Bergaul. Mingling. Berbeda dengan kepribadian saya semasa sekolah, semenjak saya kuliah sampai sekarang, saya senang berkomunitas, bertemu orang baru dan menambah jaringan di luar kehidupan saya sehari-hari. Rasanya senang menemukan kenalan lain yang memiliki frekuensi yang sama. Beruntung saya bisa bergabung dengan ITBMH (ITB Motherhood), SKI (Safekids Indonesia), COYM (Circle of Young Mom), dan Jabodetabek Menggendong. Serta komunitas online seperti #1m1c (1 minggu 1 cerita) dan blogger perempuan.

ITBMH  ini komunitas ibu-ibu muda lulusan ITB, komunitas yang sukses membuat ibu-ibu almamater lain jiper dengan kesolidan kami 😅. Padahal beda jurusan dan angkatan, tapi di percakapan grup berasa kayak teman udah lama. Kalau ketemu meski berawal dari “siapa ya?”, tetap ujung-ujungnya sok kenal dekat. SKI tidak sengaja menemukan di instagram, orang-orangnya ternyata pada sevisi dan asyik-asyik. COYM karena dimasukkin oleh seorang teman, ternyata disana banyak teman SMP suami haha. Pertama kali kopdar sewaktu acara Financial Check Up, dan tidak disangka, orang-orangnya “hangat” sekali dan menyenangkan. Jabodetabek Menggendong belum sempat kopi darat, tadinya mau ikut temu penggendong Bintaro namun harus mengurungkan diri akibat sakit tenggorokan. Saya benar-benar masih “kosong” ini benar-benar ingin mempelajari menggendong untuk memudahkan mengurus Adiknya Hasan dan Hasan nantinya hehe. Alhamdulillah mereka ramah dan cenderung tidak menggurui kalau saya banyak nanya.

5. Sendirian


Kok kesannya bertentangan dengan yang awal ya. Poin awal ingin bergaul tetapi poin kedua ingin sendirian. Yap, saya yang memiliki jiwa introver ini benar-benar membutuhkan waktu sendiri. Waktu untuk berpikir. Sebenarnya waktu anak tidur merupakan salah satu waktu sendirian. Waktu sendirian favorit saya lainnya adalah saat berenang! Berhubung di apartemen saya ada kolam renang, saya rutin berenang hampir tiap harinya jika sedang ada di rumah dan tidak ada kebutuhan aktivitas keluar rumah di pagi hari. Biasanya bisa 4 kali dalam seminggu. Yang menyenangkan dalam renang adalah saya merasa lebih fit, berat badan terjaga dan adanya waktu sendirian itu. Terutama jika di kolam tidak ada siapapun. Saat saya sedang melakukan renang putaran, saya kerap kali berpikir. Entah ada saja yang saya pikirkan, malah tidah jarang saya malah mendapatkan inspirasi baru, termasuk inspirasi tulisan blog 😁.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Baby Gear: Aprica Karoon Review

Sewaktu masih hamil hasan trimester kedua, saya udah mulai rajin buka tutup review stroller di pelbagai website. Banyak faktor yang dibutuhkan untuk memilih stroller yang pas. Pertimbangan saya dalam memilih stroller dapat dilihat di artikel saya sebelumnya mengenai kriteria stroller disini. Melihat segala kriteria saya dan budget yang dimiliki, muncul beberapa shortlisted. Namun, ternyata alhamdulillah Hasan mendapat kado stroller dari Datuk Aya. Berhubung dikadoin, saya mah pasrah apa aja. Apalagi lebih mahal dari budget kita hehe. Stroller yang dikasih Aprica Karoon. Seperti ini penampakannya.

Story of Hasan: Icip Kolam Renang Pertama

Selasa minggu lalu, 14 Maret 2016 untuk pertama kalinya Hasan icip-icip kolam renang. Saya tinggal di apartemen yang ada kolam renang di tiap towernya. Tapi baru kali ini setelah Hasan berusia 6.5 bulan ia icip-icip kolam renang. Kemana saja saya selama ini?
Oke.
Jadi sebenarnya niatnya adalah Hasan belajar berenang langsung nyemplung di kolam renang saat usia 6 bulan. Setelah berusaha mencari tempat les renang bayi, akhirnya saya menemukan 2 tempat les renang bayi di Jakarta. Aquatic Baby dan Anak Air. Keduanya dapat menerima bayi minimal berusia 6 bulan. Wah cocok ni pikir saya. Pada saat itu Hasan sudah berusia 5 bulan. Kemudian saya menghubungi Aquatic Baby perihal brosur. Ternyata eh ternyata, berhubung kelasnya terbatas jadi waiting list nya panjang benar. Masa term berikutnya Mei atau Juni, yang mana Hasan sudah berusia 9 atau 10 bulan. Oh iya, Aquatic Baby ini berlokasi di Bintaro. Informasi lebih lanjut mungkin bisa lihat di postingan ini.

Menjadi Istri PPDS: The Beginning

Hari ini, Rabu 25 Juni 2014 adalah hari pertama suami saya menjalankan kehidupan PPDS (Program Pendidikan Dokter Spesialis) setelah sehari sebelumnya briefing resmi baik dari departemen dan senior.



Apa yang berubah?