Langsung ke konten utama

5 Hal Tentang Saya

Saya selalu malas menulis macam-macam seperti ini. Berasa narsis gitu, dalam bentuk tulisan 😂. Tapi terkadang nulis seperti ini ada baiknya. Untuk lebih mengenal diri sendiri. Agar bisa lebih bersyukur.

1. Introvert dan Pemikir

Introvert terkenal sebagai orang yang suka menyendiri. Namun bukan berarti mereka antisosial dan tidak mau bergaul. Saya sangat menikmati kesendirian sebagai suatu sarana mengisi ulang batere tenaga dan mood saya. Saya tidak berkeberatan untuk makan di restoran dan menonton di bioskop sendirian. Begitu sudah punya anak satu pun saya masih tetap ingin sendiri dengan cara sering berjalan-jalan hanya berdua dengan anak. Saya tidak suka membawa ART saat jalan-jalan meski membantu menjaga anak saya karena saya kurang nyaman saja bawa orang lain selain keluarga. Semacam malas berinteraksi dan menyuruh.

Introvert tidak suka bergaul? Kebalikannya, saya sangat suka mencari komunitas, jejaring dan kenalan baru. Bagi saya berkenalan dengan orang baru memberikan semacam suatu semangat yang unik. Dulu saat saya masih aktif ikut seminar dan konferensi, waktu coffee break merupakan waktu favorit saya karena saya bisa mengobrol dan bertanya-tanya kepada pembicara yang menarik bagi saya. Namun, permasalahan muncul bagi saya yang introvert ini. Saya tidak bisa memulai pembicaraan dengan basa basi. Sebagai contoh, jika saya sedang duduk menunggu sesuatu, sebenarnya saya senang berbicara dengan orang-orang disebelah saya yang sedang sama-sama menunggu. Namun saya berharap orang tersebut yang duluan mengajak saya bicara ketimbang saya yang berbasa-basi duluan.

Saya juga memiliki kecanggungan bersosial lainnya. Saat saya mengenal seseorang, tetapi dalam level tidak kenal-kenal amat, saya cenderung mempersingkat pertemuan bahkan menghindari pertemuan. Sebagai contoh, saat saya hendak berpapasan dengan orang yang tidak kenal amat, saya cenderung mengambil rute jalan lain sambil pura-pura tidak lihat, atau bahkan sok-sok sibuk lagi menelepon menggunakan gawai. Jika saya sedang ada urusan dengan orang yang tidak terlalu dikenal, saya sering ingin cepat-cepat menyudahi pembicaraan. Pernah suatu saat di lingkungan kerja beberapa tahun lalu, rekan saya yang kebetulan teman kuliah mengatakan kalau atasannya mengatakan saya orang yang sombong. Teman saya ini tampak biasa saja atau wajar melihat kelakuan saya seperti itu. Kemudian saya jelaskan kenapa saya seperti itu. Esoknya saya mengevaluasi diri untuk lebih beramah-ramah, memberi salam kepada atasan teman saya itu karena tampaknya si atasan agak sedikit "ingin dihormati". Hehe, ah sudahlah.

Introvert memang sering dikaitkan dengan kepribadian yang suka berfikir. Maka itu adalah salah satu yang amat mewakili kepribadian saya. Saya menemukan kesenangan saat sendiri dan berfikir. Tak jarang saat saya hendak tidur tetapi sedang tidak mengantuk amat malah lama baru bisa tidur karena seketika merem, seketika itu pula otak saya berpikir. Terbukti, sebelum saya menikah (tepatnya sebelum punya anak), saya menghasilkan tulisan-tulisan blog yang relatif lebih progresif dibandingkan sekarang. Ya karena kebanyakan waktu mikir itu 😁. Kalau sekarang sudah memiliki kewajiban mengurus anak, otomatis jadinya kurang waktu berpikir dan berkontemplasi. Sekarang waktu berpikir favorit saya adalah saat berenang. Sejalan dengan melakukan putaran renang, waktu itu pula pikiran saya menjadi liar dan kerap sekali mendapatkan ilham akan tema blog. Apalagi kalau di kolam benar-benar saya sendiri. Wih, nikmat!

2. Daftar sosial media

Saya sempat ada di fase ga mau ketinggalan punya sosmed hits apapun waktu itu. Umur saya kecepatan setahun, masuk kuliah berarti 16 tahun. Alhasil, fase "pencarian jati diri" yang biasanya kerap dimiliki oleh anak-anak SMA baru saya rasakan saat saya kuliah dimana teman-teman saya sudah sampai pada fase emosi stabil. Friendster, Meet Up, Multiply, Soundcloud, Foursquare, YM, Tumblr, Path, Instagram, Facebook, semua punya. Aplikasi chat saya juga punya hampir semua loh. WA, Telegram, Kakao, Line dan Wechat. Coba bayangkan! Dan hebatnya hampir semuanya saya aktif, atau walaupun tidak posting, saya bergiliran membaca tiap update. Kebayang kan betapa banyak waktu saya yang habis sia-sia pada waktu itu. Sampai sekarang saya mulai agak stabil dan mulai bijak melakukan sosial media, hanya sedikit sosial media yang saya punya, setidaknya jauh lebih sedikit yang saya pantau ketimbang masa dahulu.

Untuk akun pribadi, saya cuma punya FacebookInstagramTwitter dan Goodreads. Chat plattform yang aktif juga hanya Whatsapp yang untuk berinteraksi secara umum, Telegram jika berinteraksi dengan suami, Line. Yang paling jarang saya buka adalah Line, cuma karena untuk berinteraksi dengan beberapa toko online dan grup.

Untuk blog saya cuma aktif di dua platform saja. Blogspot untuk tulisan umum berbahasa Indonesia dan Wordpress untuk tulisan umum berbahasa Inggris. Saya lebih sering menulis Bahasa Indonesia, karenanya Blogspot saya lebih banyak arsipnya ketimbang Wordpress, ditambah ekspor dari Multiply saya juga disana. Namun sepertinya saya akan mulai menjadwalkan menulis secara rutin meski sekali seminggu di Wordpress karena saya ingin mengasah kemampuan menulis Bahasa Inggris saya.

Saya juga sekarang berusaha mempromosikan, mengkampanyekan dan mempopulerkan keselamatan berkendara bagi anak. Karena itu saya mulai membuat akun instagram yang berisi konten ulasan carseat dan artikel serta ajakan mengapa pentingnya carseat bagi anak. Instagramnya bisa klik disini. Saya coba buat juga blog yang berisikan hal senada dengan ulasan dan tulisan lebih panjang, bisa klik disini. Arsipnya masih sangat sedikit, saya waktu itu belum terlalu komit untuk rajin membuat konten. Namun tampaknya sekarang saya sudah mencanangkan untuk lebih serius mengejar mimpi saya itu.

3. Hobi: membaca

Membaca adalah hobi saya nomor satu. Sudah saya lakoni semenjak dari usia sangat dini. Kabarnya,  orang tua saya mengatakan bawa saya bisa membaca dengan sendirinya saat TK (4 tahun) hanya modal sering minta dibacain buku dan komik oleh orang tua. Kami langganan majalah bobo. Saya juga rutin membaca koran setiap pagi. Saya bak manusia yang kehausan akan buku meski semua kebiasaan baik ini mulai berhenti saat masa perkuliahan. Disebabkan oleh gempuran sosial media dan saya tidak mampu menyikapinya dengan baik. Kemudian mulai tahun ini, tepatnya tahun 2018 saya mulai meniatkan untuk membaca serius dengan mengurangi porsi waktu menggunakan sosial media melalui gawai. Maka dari 2-3 buku yang ditamatkan dalam setahun, bisa berubah 40-an buku untuk tahun ini. Daftar buku bacaan saya bisa dilihat di akun Goodreads saya. Semoga bisa tetap istiqomah untuk tahun-tahun mendatang ya.

4. Lucid dreamer

Lucid dream, atau keadaan dimana di pemimpi sadar bahwa dia sedang bermimpi bahkan bisa mengontrol mimpinya. Ya, saya bisa sering sadar bahwa saya sedang bermimpi dan seringnya saya bisa mengontrol mimpi tersebut. Disaat bermimpi, saya kerap kali masih bisa membawa akal dan logika saya kesana. Mimpi bagaikan sedang bermain permainan bergenre RPG (Role Playing Game) dimana saya sendiri sebagai karakternya. Saat itu, sering sekali terasa saya dapat mengendalikan sang karakter tersebut bahkan apabila karakter tersebut gagal atau gameover, saya dapat memulai kembali. Keadaan seperti itulah titik dimana saya sadar bahwa itu hanyalah mimpi. 

Saya juga terkadang dapat merencanakan mimpi atau melanjutkan mimpi. Cukup dengan sebelum tidur berfikir tentang hal yang ingin dimimpikan itu. Hal ini sering membuat saya kelamaan tidur karena kerap saat sedang mimpi yang seru saya terbangun di tengah jalan, tetapi saya masih penasaran lanjutannya bak lanjutan suatu film. Jadi saya memutuskan untuk melanjutkan tidur lagi dan eh, benar mimpi saya itu berlanjut.

Sisi buruk lainnya adalah terkadang saya tidak bisa membedakan mana yang mimpi dan mana yang nyata. Serius, ini sering terjadi. Misalnya saat saya terbangun karena mendengar dering pesan singkat dari gawai saya. Saat itu saya sedang teramat mengantuk dan ingin melanjutkan tidur tetapi di sisi lain saya juga sangat ingin membuka gawai saya dan melihat pesan singkat apa yang masuk. Berujung saya bermimpi dengan sangat nyata bahwa saya sedang membuka pesan singkat dari gawai saya. Bangun tidur. Saya merasa sudah baca pesan singkat, tetapi kok notifikasinya masih ada?

Dan terkadang isi pesan singkat itu isinya mirip dengan apa yang terjadi di mimpi saya.

Saya beberapa kali menulis mengenai kemampuan lucid dream saya. Bisa liat disini dan disini ya! 😋

5. Masih menginginkan menjadi akademisi

Saya sudah berkeluarga, akan segera memiliki anak ke-dua Insya Allah dan yap, masih tersimpan ingin menjadi akademisi dan melanjutkan studi. Hehe. Meski saya tahu kemungkinannya agak nol. Tapi tidak mengapa kan berharap? Toh saya juga santai saja akan kejadian atau tidak. Ada kesempatan atau tidak. Menjadi akademisi benar-benar hasrat saya. Sebagai seorang pemikir, senang menulis dan mengajar, menjadi akademisi seperti jalannya. Saya menikmati 2 tahun menjadi akademisi beberapa tempo lalu. Rejeki saya juga, memiliki atasan yang baik, lingkungan yang kooperatif dan suasana yang menyenangkan.

Saya masih menyimpan hasrat ingin melanjutkan studi mengenai ilmu atmosfer dan pencemaran udara, kuliah PhD di Caltech, dan kerjasama dengan NASA. Sounds riddiculous, right? Saya pernah menulis tentang ini di postingan disini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Baby Gear: Aprica Karoon Review

Sewaktu masih hamil hasan trimester kedua, saya udah mulai rajin buka tutup review stroller di pelbagai website. Banyak faktor yang dibutuhkan untuk memilih stroller yang pas. Pertimbangan saya dalam memilih stroller dapat dilihat di artikel saya sebelumnya mengenai kriteria stroller disini. Melihat segala kriteria saya dan budget yang dimiliki, muncul beberapa shortlisted. Namun, ternyata alhamdulillah Hasan mendapat kado stroller dari Datuk Aya. Berhubung dikadoin, saya mah pasrah apa aja. Apalagi lebih mahal dari budget kita hehe. Stroller yang dikasih Aprica Karoon. Seperti ini penampakannya.

Story of Hasan: Icip Kolam Renang Pertama

Selasa minggu lalu, 14 Maret 2016 untuk pertama kalinya Hasan icip-icip kolam renang. Saya tinggal di apartemen yang ada kolam renang di tiap towernya. Tapi baru kali ini setelah Hasan berusia 6.5 bulan ia icip-icip kolam renang. Kemana saja saya selama ini?
Oke.
Jadi sebenarnya niatnya adalah Hasan belajar berenang langsung nyemplung di kolam renang saat usia 6 bulan. Setelah berusaha mencari tempat les renang bayi, akhirnya saya menemukan 2 tempat les renang bayi di Jakarta. Aquatic Baby dan Anak Air. Keduanya dapat menerima bayi minimal berusia 6 bulan. Wah cocok ni pikir saya. Pada saat itu Hasan sudah berusia 5 bulan. Kemudian saya menghubungi Aquatic Baby perihal brosur. Ternyata eh ternyata, berhubung kelasnya terbatas jadi waiting list nya panjang benar. Masa term berikutnya Mei atau Juni, yang mana Hasan sudah berusia 9 atau 10 bulan. Oh iya, Aquatic Baby ini berlokasi di Bintaro. Informasi lebih lanjut mungkin bisa lihat di postingan ini.

Menjadi Istri PPDS: The Beginning

Hari ini, Rabu 25 Juni 2014 adalah hari pertama suami saya menjalankan kehidupan PPDS (Program Pendidikan Dokter Spesialis) setelah sehari sebelumnya briefing resmi baik dari departemen dan senior.



Apa yang berubah?