Langsung ke konten utama

Plus Minus ODOP for 99 Days

Sebenarnya, terkesan sudah sangat telat jika saya harus mnuliskan apa yang memotivasi saya untuk ikutan tantangan #ODOPfor99days. Kalo dipikir-pikir bakal nyusahin banget ya. Kayak dikejar-kejar ngerjain sesuatu tiap harinya, dengan outcome yang tidak jelas. Tapi benarkah outcome-nya tidak jelas?



PLUS


Keuntungan ikut ODOP for 99 days ini adalah melatih konsistensi. Semangat menggebu-gebu bisa ada awal-awal. Tapi siapa yang bisa menjamin semangat itu akan terus tetap ada, katakanlah di hari ke-73? Bentuk peraturan yang mewajibkan kita untuk menulis tiap harinya memaksa mau ga mau ya menulis. Konsistensi membentuk suatu kebiasaan. Susah memulainya. Tapi akan terasa manfaatnya jika sudah terbiasa. Bisa karena biasa.

Kedua, dengan menulis, melatih kita untuk mengutarakan ide. Berbagi ide. Yang awalnya hanya dimiliki sendiri, dipikirkan sendiri, kini lantas dapat kita bagi kepada orang lain untuk berpikir. Ternyata, menuangkan ide menjadi suatu tulisan terstruktur dan menarik itu sungguh tidak mudah. Keuntungan kedua ini sungguh sangat saya cari. Saya memiliki bakat sebagai seorang random thinker. Berfikir. Berfikir membuat saya senang. Membuat saya bahagia. Rasanya sungguh sayang jika isi pikiran saya yang membuncah ini tidak dikeluarkan. Menulis itu bagaikan memahat ide abadi. Apa yang dipikirkan sekarang belum tentu terpikirkan nanti. Dan siapa yang bisa menyangka kalau pemikiran acak sekarang suatu nanti bisa bermanfaat?

Ketiga, belajar struktur bahasa dan memperkaya kosa kata secara otomatis. Tidak bisa dipungkiri. Apapun profesi kita, tidak akan lepas akan urusan menulis. Seorang pegawai menulis laporan kepada bosnya. Seorang mahasiswa menulis tugas kepada dosennya. Seorang akademisi menulis jurnal kepada lembaga publikasi. Baiknya struktur bahasa tak pelak lagi meningkatkan "kecerdasan" beberapa level. Kelas.

Keempat, asyiknya berbagi ide. Memang tidak menjamin tulisan kita dibaca orang lain. Apalagi disukai. Banyaknya yang membaca dan yang menyukai tentu bukan tujuan utama. Tetapi tujuan utama kita adalah memberikan sofa yang empuk bagi pembaca yang sudah menyempatkan waktunya untuk menyelami pikiran kita.

MINUS


Tampaknya saya baru menemukan satu kekurangan ODOP for 99 days ini. Yakni saya kehilangan kesenangan saya dalam menulis. Menulis bagi saya pribadi adalah proses kontemplasi diri dan pembelajaran baru. Tak jarang saya malah belajar atau tahu lebih banyak ketimbang sebelum menulis. Rapatnya rentang waktu membuat saya hanya membuat tulisan cukup di "permukaan" saja. Oleh karena itu banyak tulisan saya di ODOP ini lebih naratif. Padahal saya yang senang berfikir ini senang "riset" kesana-kemari dalam membuat tulisan. Bolak-balik menyelami berbagai website dan crosscheck.

Menulis itu butuh waktu tenang untuk berfikir bagi saya.


YANG DIHARAPKAN


Yang saya harapkan setelah ikut tantangan ini adalah konsistensi dalam menulis untuk berikutnya. Tak butuh tiap hari, asal dalam beberapa hari rutin mengkonstruksi tulisan, menghimpun tulisan dan menyempurnakannya. Apalagi jika melihat kecenderungan gaya penulisan saya yang lebih suka berkontemplasi.

Jujur saya merasa "jiper" saat saya keluar masuk tulisan saya. Mungkin saja saya tidak memiliki bakat bahasa. Tapi ah, saya tidak peduli. Toh saya menulis untuk bersenang-senang.

Komentar

  1. Kelebihan ODOP saya bisa membaca ide ide seperti ini, tak perlu mendalam, di permukaan saja sudah amat memberi inspirasi buat saya.Terimakasih untuk tulisan ini mbak.

    BalasHapus
  2. Kelebihan ODOP saya bisa membaca ide ide seperti ini, tak perlu mendalam, di permukaan saja sudah amat memberi inspirasi buat saya.Terimakasih untuk tulisan ini mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama sama mba adeliana :) klo saya memang senang baca tulisan mengulas hehe

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Baby Gear: Aprica Karoon Review

Sewaktu masih hamil hasan trimester kedua, saya udah mulai rajin buka tutup review stroller di pelbagai website. Banyak faktor yang dibutuhkan untuk memilih stroller yang pas. Pertimbangan saya dalam memilih stroller dapat dilihat di artikel saya sebelumnya mengenai kriteria stroller disini. Melihat segala kriteria saya dan budget yang dimiliki, muncul beberapa shortlisted. Namun, ternyata alhamdulillah Hasan mendapat kado stroller dari Datuk Aya. Berhubung dikadoin, saya mah pasrah apa aja. Apalagi lebih mahal dari budget kita hehe. Stroller yang dikasih Aprica Karoon. Seperti ini penampakannya.

Story of Hasan: Icip Kolam Renang Pertama

Selasa minggu lalu, 14 Maret 2016 untuk pertama kalinya Hasan icip-icip kolam renang. Saya tinggal di apartemen yang ada kolam renang di tiap towernya. Tapi baru kali ini setelah Hasan berusia 6.5 bulan ia icip-icip kolam renang. Kemana saja saya selama ini?
Oke.
Jadi sebenarnya niatnya adalah Hasan belajar berenang langsung nyemplung di kolam renang saat usia 6 bulan. Setelah berusaha mencari tempat les renang bayi, akhirnya saya menemukan 2 tempat les renang bayi di Jakarta. Aquatic Baby dan Anak Air. Keduanya dapat menerima bayi minimal berusia 6 bulan. Wah cocok ni pikir saya. Pada saat itu Hasan sudah berusia 5 bulan. Kemudian saya menghubungi Aquatic Baby perihal brosur. Ternyata eh ternyata, berhubung kelasnya terbatas jadi waiting list nya panjang benar. Masa term berikutnya Mei atau Juni, yang mana Hasan sudah berusia 9 atau 10 bulan. Oh iya, Aquatic Baby ini berlokasi di Bintaro. Informasi lebih lanjut mungkin bisa lihat di postingan ini.

Baby Gear: Stroller #1 Kriteria

Halooo,,
Wah parah setelah ngecek query,  ternyata udah lama banget ga nulis, terakhir sekitar setengah tahun lalu :o Yah baiklah, untuk kembali mengkatalis tingkat keproduktifan, mari mulai menulis kembali!
Seperti layaknya mak-mak lainnya, teruma first-mom-to-be, udah pasti euforia menunggu kelahiran si lucu-lucu. Hihi. Mulai dari shopping frenzy sampe riset mencari baby gear semacam ini #eaaa. Nah bagian mencari baby gear termasuk bagian favorit saya. Kenapa? Well, emang dari dulu sih hobinya ngeriset barang yang mau dibeli. Bahkan teman perempuan saya kalau mau cari gadget suka nanya saya merekomendasikan barang apa ke mereka. Dan saya dengan senang hati merisetkan barang-barang untuk mereka :D Salah satu hasil riset saya yang paling berhasil adalah Nikon D90. Mid rangecamera yang dari bertahun-tahun lalu gw beli sampe sekarang harga belinya relatif sama dan dinobatkan salah satu kamera paling versatile. Hihi.


Back to topic!