Langsung ke konten utama

Mommies War Series: Sesar vs Normal

Sesar atau normal?

Saya yakin, apabila pertanyaan tersebut diutarakan kepada para ibu maupun calon ibu, hampir 100% akan memilih normal.

Tetapi bagaimana jika ternyata kondisi medis menyatakan harus sesar?

Sebagian kecewa berat. Sebagian biasa aja. Ah, yang penting ibu dan anak dalam kondisi sehat, they said. Kenapa? Kenapa harus kecewa berat?


Saya memiliki seorang teman yang bekerja di salah satu RSIA di bilangan Jakarta Selatan. Saat ini, ia sedang ditempatkan di bagian NICU (Natal Intensive Care Unit).

"Gw penasaran, apa sih kira-kira kasus bayi-bayi yang ada di NICU?"
 "Banyak loh net kasus bayi-bayi di NICU karena ibunya memaksakan untuk lahir normal padahal kondisi medis mengatakan lebih baik lahir sesar. Sekarang kan mindsetnya lahiran normal diatas lahiran sesar. Misal, maksain diri lahiran normal dengan cara menggunakan epidural, rasa mulesnya ga kerasa, ngedan ga efektif. Apa gunanya lahiran bisa normal tapi bayi berakhir di NICU?"
Words.

Ternyata mindset mendewakan lahiran normal diatas lahiran sesar bisa cukup berbahaya. Superior complex. Mencoba lahiran normal setelah mendengarkan anjuran lahiran sesar tidak apa-apa. Yang apa-apa kalau memaksakan diri untuk lahiran normal. Kenapa sih kita tidak cukup untuk berpasrah diri, berdoa, dan berikhtiar kepada Allah mengenai apa-apa yang terbaik. Toh kita kan tidak tahu mana yang benar-benar terbaik untuk kita. Allah can see beyond eyes can see while we can't. Hampir semua ibu dan calon ibu mendambakan lahiran normal. Saya alhamdulillah bisa lahiran normal. Dan tetap berharap lahiran anak berikutnya juga normal. Perkara finansial *jitak* dan keadaan postpartum.

Pernah juga saya iseng mengarungi mommies war di FB. Saya buka komen-komen para mak-mak ini. Malah ada yang komentar begini:

"Semoga saya lahiran anak berikutnya bisa normal. Saya ingin merasakan sepenuhnya menjadi ibu"
..........................................

...............................

..................

.......

.

Krik

Sekarang kenapa lagi ini perkara lahiran normal dan sesar menjadi perkara perasaan menjadi ibu sepenuhnya. Mau lahir sesar kek, mau lahir normal kek, mau lahir sambil kayang kek, mau lahir sambil jalan jongkok kek, tetap melahirkan hamil, melahirkan anak, membesarkan anak adalah suatu rangkaian menjadi ibu sepenuhnya. Sesar saya dengar juga mengalami rasa sakit yang luar biasa paska kelahiran. Dahulu saya kira susahnya hamil itu cuma perkara morning sickness, badan berat, beugah, kepanasan, tidur ga puguh dan sebagainya. Ternyata setelah saya sendiri merasakan kehamilan dan berdasarkan cerita kehamilan disekitar saya, problem hamil yang sebenarnya menurut saya adalah kondisi medis kehamilan tersebut. Ada yang muntah berlebihan, harus bedrest, tekanan darah tinggi, kolesterol, preklamsia, dan sebagainya. Saya sendiri pada minggu 36-39 kehamilan hampir menuju preklamsia dan hellp syndrome. Alhamdulillah kehamilan saya tidak sampai harus di-terminasi. Memang banyak yang bercita-cita bisa melahirkan normal setelah melahirkan sesar. Makanya istilah VBAC (Vaginal Birth After Cesarean) menjadi populer. Tentu ini tidak mengapa. Cukup Bagus. Yang masalah adalah ya mindset superior ini yang pada akhirnya memperbudak dan mendoktrin fikiran. 

Pada akhirnya, semoga para wanita-wanita di luaran sana yang masih memiliki pola pikir judgemental berhenti dan dapat menjinakkan pikirannya sendiri. Wanita itu makhluk sensitif. Hormon wanita paska melahirkan itu tidak stabil. Urusan remeh temeh dan ga penting aja bisa bikin nangis berurai air mata. Apalagi sudahlah hormon dalam stase tidak stabil, lelahnya keadaan paska melahirkan baik emosi dan fisik, kemudian ada omongan diluar sana perkara buruknya lahiran sesar. Yah, opini publik terkadang bisa bersifat kejam. Di situasi kelabilan inilah dimana peran suami sebagai lelaki yang fitrahnya lebih logis bisa menetralkan perasaan seorang wanita yang terombang-ambing akibat penilaian orang luar. Mungkin tidak terbatas perkara jenis lahiran saja. Tapi perkara lainnya semisal perkara parenting.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Baby Gear: Aprica Karoon Review

Sewaktu masih hamil hasan trimester kedua, saya udah mulai rajin buka tutup review stroller di pelbagai website. Banyak faktor yang dibutuhkan untuk memilih stroller yang pas. Pertimbangan saya dalam memilih stroller dapat dilihat di artikel saya sebelumnya mengenai kriteria stroller disini. Melihat segala kriteria saya dan budget yang dimiliki, muncul beberapa shortlisted. Namun, ternyata alhamdulillah Hasan mendapat kado stroller dari Datuk Aya. Berhubung dikadoin, saya mah pasrah apa aja. Apalagi lebih mahal dari budget kita hehe. Stroller yang dikasih Aprica Karoon. Seperti ini penampakannya.

Story of Hasan: Icip Kolam Renang Pertama

Selasa minggu lalu, 14 Maret 2016 untuk pertama kalinya Hasan icip-icip kolam renang. Saya tinggal di apartemen yang ada kolam renang di tiap towernya. Tapi baru kali ini setelah Hasan berusia 6.5 bulan ia icip-icip kolam renang. Kemana saja saya selama ini?
Oke.
Jadi sebenarnya niatnya adalah Hasan belajar berenang langsung nyemplung di kolam renang saat usia 6 bulan. Setelah berusaha mencari tempat les renang bayi, akhirnya saya menemukan 2 tempat les renang bayi di Jakarta. Aquatic Baby dan Anak Air. Keduanya dapat menerima bayi minimal berusia 6 bulan. Wah cocok ni pikir saya. Pada saat itu Hasan sudah berusia 5 bulan. Kemudian saya menghubungi Aquatic Baby perihal brosur. Ternyata eh ternyata, berhubung kelasnya terbatas jadi waiting list nya panjang benar. Masa term berikutnya Mei atau Juni, yang mana Hasan sudah berusia 9 atau 10 bulan. Oh iya, Aquatic Baby ini berlokasi di Bintaro. Informasi lebih lanjut mungkin bisa lihat di postingan ini.

Menjadi Istri PPDS: The Beginning

Hari ini, Rabu 25 Juni 2014 adalah hari pertama suami saya menjalankan kehidupan PPDS (Program Pendidikan Dokter Spesialis) setelah sehari sebelumnya briefing resmi baik dari departemen dan senior.



Apa yang berubah?