Langsung ke konten utama

Baby Gear: Aprica Karoon Review

Sewaktu masih hamil hasan trimester kedua, saya udah mulai rajin buka tutup review stroller di pelbagai website. Banyak faktor yang dibutuhkan untuk memilih stroller yang pas. Pertimbangan saya dalam memilih stroller dapat dilihat di artikel saya sebelumnya mengenai kriteria stroller disini. Melihat segala kriteria saya dan budget yang dimiliki, muncul beberapa shortlisted. Namun, ternyata alhamdulillah Hasan mendapat kado stroller dari Datuk Aya. Berhubung dikadoin, saya mah pasrah apa aja. Apalagi lebih mahal dari budget kita hehe. Stroller yang dikasih Aprica Karoon. Seperti ini penampakannya.

Penampakan Aprica Karoon
Sebenarnya, pas saya dan suami survey stroller di ITC Kuningan, kita sempat naksir Aprica Karoon karena ringan banget, simpel dan kecil. Maklum beratnya cuma 3.6 kg (beberapa sumber menyatakan 4.5 kg). Kita juga butuhnya stroller yang ringan supaya gampang dibawa-bawa. Apalagi saya kayaknya (ternyata beneran) doyan pergi sendirian pas suami ga ada. Jadinya stroller ringan dan simpel preferensi utama. Pada awalnya saya hanya membatasi berat stroller maksimal 7 kg sahaja. Kita tanya lah harganya, eh overbudget. Ya sudahlah kita melengos aja dan cari opsi lain. 

Plus

Kelebihannya? ringan bangeeeet. Dengan Hasan tiduran di stroller saya masih gampang banget angkat turun naik stroller kalo ketemu tangga di parkiran basement mall. Simpel, one hand fold away. Jadi saya bisa buka-tutup stroller sambil gendong hasan. Self-standing saat dilipat. Jadi bisa ditaro dimana saja tanpa harus disandarkan di dinding. Ringan, simpel, self-standing, jadi saya bisa sambil gendong Hasan sambil geret stroller sambil bawa tas diaper. Sendirian :D Alhamdulillah perfectly fit my daily life.

Aprica Karoon saat dilipat

Material stroller ini bagus banget. Semacam material logam yang kokoh meski ringan. Karena kokoh saya tidak mendengar bunyi dentingan saat mendorong stroller. Suspensi roda depannya juga serba bisa. Untuk stroller sekecil ini kalau didorong di media jalan yang tidak rata goncangannya tidak terlalu hebat. Dan di beberapa sumber menyebutkan kalau roda depannya menggunakan teknologi 3D suspension tidak hanya meredam getaran vertikal saja, tetapi juga lateral.

Sistem 5 point harness belt di stroller Aprica untuk semua jenis agak beda dengan stroller lain. Bentuknya trapesium yang sesuai dengan tumbuh kembang bayi. Begitu juga bentuk alas sandarannya. Ini salah satu yang saya suka, bentuk sandarannya memiliki side support yang melindungi kepala dan tulang belakang. Bentuk yang seperti ini sangat membantu bayi yang masih berumur 2-4 bulan tanpa harus menggunakan tambahan bantalan penopang kepala dan badan.

Stroller ini juga bisa hadap depan dan hadap belakang. Dan enaknya, hadap depan-hadap belakangnya hanya dengan cara menarik pegangan stroller. Jadi lebih fleksibel jika tiba-tiba ingin menukar hadapan di tengah jalan. Lebih simpel dibanding apabila penentu hadap belakangnya dari dudukannya. Dulu awalnya pas kita survey stroller, parameter ini tidak begitu kita pertimbangkan. Ah, kayaknya hadap depan (hadap si pendorong) tidak harus-harus amat. Ternyata setelah Hasan ada, hadap depan ini sangat berpengaruh karena ternyata Hasan awal-awal tidak tahan lama di stroller. Berdasarkan pengalaman ibu-ibu yang lain, para bayi banyak yang lebih nyaman kalau ia melihat wajah si pendorong (terutama ibunya) saat berada di stroller. Mungkin semacam perasaan insecure ya.

Minus

Karena model lipatannya seperti itu (lihat gambar diatas), bisa ditebak kalau stroller ini meski ringan dan simpel tapi tetap bulky saat dilipat. Kalau berpergian naik mobil suami saya, Mitsubishi Mirage, stroller tidak muat di bagasi belakang, jadinya diletakkan di kursi depan (saya duduk di kursi belakang nemanin Hasan di Carseat).

Double-sided  dari terlalu ringannya stroller adalah stroller bisa dengan mudah "terjungkang" (bahasa apa pula ini) ke belakang kalau kita tidak hati-hati. Biasanya kalau saya mengangkat Hasan dengan keadaan diaper bag tersangkut di belakang stroller otomatis stoller akang limbung ke belakang. Jadi saya harus akal-akalan, entah melepas diaper bag dahulu atau menahan stroller agar tidak jatuh. Oh iya, jangan lupa beli kait ya untuk menyangkutkan tas dan bawaan di stroller.

Aprica Karoon ini menurut saya penutup kepalanya kurang besar. Kurang kebawah karena cuma satu lipatan saja. Kalau matahari sangat terik dan kebetulan menghadap ke bayi kasian bayinya kepanasan. Tapi ini bisa diakali dengan memutar balik pegangan. Selain itu di penutup kepalanya tidak ada peek-a-boo window, jadinya agak susah melihat keadaan bayi saat hadapan bayi ke depan. Harus agak melirik. Bagasi bawah Aprica Karoon menurut saya lumayan namun celah memasukkan barangnya teramat kecil. Satu lagi, Foot paded dari Aprica Karoon kurang karena tidak ada penyangganya.

Dimensi lebar Aprica termasuk kecil. Mungkin agak kasihan untuk anak-anak yang badannya gendut dan lebar. Buat Hasan mungkin tidak masalah karena badan Hasan slender. Ramping meski berbobot. Tapi kalau saya perhatikan kebanyakan stroller buatan Jepang (Aprica dan Combi), memang di desain tidak lebar. Saya menyimpulkan mungkin karena keadaan Negeri Jepang yang padat dan banyak gang menyebabkan bentuk stroller berdimensi kecil lebih disukai.

Kelemahan terakhir yang sekaligus menurut saya sedikit vital adalah sudut terbesar dari dudukan hanya 170 derajat. Yakni, tidak murni lurus. Agak kasian buat bayi baru lahir apalagi kalau prematur. Tapi kalau saya lihat di katalog stroller, kebanyakan stroller bermodel sama memang cuma sampai 170 derajat. Namun, menurut teman saya, Ibam yang tinggal di Belanda, Uni Eropa memilik peraturan agar bayi dibawah 6 bulan memakai full pram stroller alias stroller yang bisa berbentuk tempat tidur rata sama sekali. Seperti gambar dibawah ini.

Full Pram Stroller

Overall

Secara keseluruhan, saya adalah konsumen yang cukup puas dengan kinerja Aprica Karoon diatas semua kekurangannya. Balik lagi seperti yang saya bilang di artikel memilih stroller yang tempo hari saya buat, prefensi tiap orang berbeda-beda dalam memilih dan menggunakan stroller. Tergantung tiap orang ingin seperti apa dan sebesar apa toleransinya dalam menerima kekurang stroller yang dipakai.

Jika ada yang bertanya, apakah saya merekomendasikan Aprica Karoon, saya sangat merekomendasikan. Tapi menurut saya akan lebih baik memilih Aprica Karoon plus dengan berbagai fitur tambahan seperti penutup kepala yang lebar, terdapat peek-a-boo window dan foot padded.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

5 Buku Nonfiksi Favorit

Tahun 2019 adalah titik balik saya untuk kembali banyak membaca buku setelah tahun lalu dan tahun-tahun sebelumnya hanya membaca 2-3 buku per-tahun. Miris bukan? Oleh karena itu, postingan kali ini saya dedikasikan sebagai bentuk apresiasi saya kembali membaca. Daftar buku dibawah juga berdasarkan daftar bacaan saya tahun 2018 yang selengkapnya bisa dilihat di goodreads saya. Kali ini saya akan coba merekomendasikan 5 buku non fiksi, tanpa sesuai urutan favoritnya.
1. Mindset: The New Psychology of Success - Carol S. DweckSuka penasaran tidak kenapa banyak anak kecil yang dianggap sebagai child prodigy kebanyakan hanya mampu mekar pada tempo waktu yang singkat. Biasanya saat mereka sudah dewasa, kiprahnya malah jarang terdengar. Akhirnya saya mengetahui alasannya setelah membaca buku ini.
Carol S. Dweck membagi pola pikir manusia menjadi dua: growth mindset dan fixed mindset. Growth mindset adalah pola pikir yang mendorong kita untuk selalu berkembang. Sementara fixed mindset adalah …

Pusat Perbelanjaan Purwokerto

Bukan orang asli maupun yang punya di keluarga, entah mengapa saya menulis rentetan blog seri Purwokerto ini bagaikan menulis Purwokerto 101 😉. Bagian yang pertama adalah dimana saja sih pusat perbelanjaan? You're living, you need place(s) to shop to fulfil your daily life. Standar, pusat perbelanjaan ada supermarket dan pasar tradisional.