Langsung ke konten utama

Benarkah Rakyat Malaysia Disebut "Merpati dalam Sangkar Emas", sedangkan Indonesia Disebut "Garuda Hutan yang Kotor"

Ini sebuah artikel yang ditulis ama salah seorang temen di bulbo FS. Nicknya azzuandaabdie. Mungkin agak sedikit menyinggung suatu negara. Mudah2an warga negara yang disebut dibawah tidak membacanya. Lumayan menarik juga :D

Indonesia dikenal dengan negara pelopor demokrasi pertama di dunia, karena itu masyarakat Indonesia pun dengan bebas bisa berdemo di depan Istana Merdeka atau tempat umum lain untuk menyampaikan aspirasinya kepada pemerintah, tetapi dibalik semua kebebasan itu, tetapi masih ada juga yang miskin dan tunawisma. Pendapatan per kapita masih rendah, dll.
Tetapi bandingkan dengan Malaysia. Mereka diberi biaya oleh pemerintah dan hidup mereka makmur, tetapi dibalik semua itu tidak ada kebebasan dalam menyampaikan aspirasi seperti Indonesia. Contohnya adalah yang baru saja terjadi, yaitu kaum tamil India yang berdemo kepada pemerintah Malaysia, toh demo itu pun tidak terlalu ditanggapi oleh pemerintahnya sendiri. Bahkan terdengar kabar, kalau berani bertindak melawan pemerintah, dia akan segera dipenjara tanpa ada alasan apapun. Jadi benar, Malaysia itu adalah "Merpati dalam Sangkar Emas", sedangkan Indonesia adalah "Garuda Hutan yang Kotor".
semuanya berputar sesuai waktu. Menurut saya, APa yang dialami oleh Indonesia lebih MAJU daripasa MALAYSIA. Kondisi keemasan ekonomi yg dialami Malaysia saat ini adalah sebagaimana kondisi masa lalu Indonesia yang secara ekonomi luar biasa. Dengan demikian, bisa dipastikan kondisi Malaysia di masa akan datang akan seperti Indonesia, karena saat ini terdapat ketegangan antara warganegaranya (ras) sebagaimana kita dulu di ORBA. (Wajar kita merdeka duluan). Th. 1970 an Malaysia mendatangkan guru2 dari Indonesia untuk mengajar di sekolah mereka.
Hanya saja, tentu Malaysia bisa belajar dari kondisi kita, dan bisa menghindari apa yang terjadi di antara kita saat ini.
Amerika bisa maju kan perang saudara dulu, dan dia merdeka sudah ratusan tahun. Kondisi yang mirip dengan kita adalah China dan India. Masih banyak orang miskin disana, dan dengan jumlah penduduk yang besar memiliki berbagai suku bangsa.
Bedanya, China menggunakan tangan keras dalam memerintah, untuk di India saya kurang tahu deh mungkin demokrasinya sudah lebih maju dari kita (dari liat film India)
Bagaimanapun Hujan Emas di negeri orang lebih enak Hujan Batu di negeri sendiri (eh apa iya) hehe

Komentar gw :
Setiap negara yang akan menempuh fase makmur melewati fase sulit. Seperti jika kita lihat tulisan di atas Amerika melewati perang saudara berkepanjangan, China ekonominya melarat parah. Indonesia sudah melewati fase gemilang dahulu. Sekarang sedang fase sulit. Ada kalanya Indonesia akan mendapatkan fase gemilang tersebut lagi. Sedangkan Malaysia yang demokrasinya seperti terhengkang sedang mendapat fase gemilang. Jadi bagi masyarakat Indonesia yang kecewa akan sikap "kekurangajaran" malaysia atas klaim budaya kita, jangan berkecil hati. Akan ada waktu dimana fase sulit akan datang menjemput negara tersebut :D.

Satu hal yang dapat gw pelajari. Hidup seperti roda berputar. Ada kalanya kita berada di atas, tengah-tengah ataupun di bawah. Tidak hanya hidup individual manusia. Tapi juga keberlangsungan hidup suatu negara. :D

Komentar

  1. Indonesia ni... yang katanya abis memperingati 100 kebangkitan nasional... semoga makin bangkit deh... tapi tetep aja sih Ze, kalo dibandingin ma Malaysia kesannya Indonesia jauuuh banget ketinggalan ya... Semoga Indonesia lg beranjak naik yah... :)

    BalasHapus
  2. Amin!!!
    Yah,,klo dibandingkan dengan malaysia sekarang memang agak jauh. Apa boleh buat, Indonesia udah terlanjur hanyut dalam sistem yang bobrok kayak gini. Mungkin cara yang bagus supaya ga berlarut2 kayak gini dengan cara membuat ato paling ga memperbaharui "sistem" tersebut. BANGKITLAH INDONESIAKU,,^_^

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

5 Buku Nonfiksi Favorit

Tahun 2019 adalah titik balik saya untuk kembali banyak membaca buku setelah tahun lalu dan tahun-tahun sebelumnya hanya membaca 2-3 buku per-tahun. Miris bukan? Oleh karena itu, postingan kali ini saya dedikasikan sebagai bentuk apresiasi saya kembali membaca. Daftar buku dibawah juga berdasarkan daftar bacaan saya tahun 2018 yang selengkapnya bisa dilihat di goodreads saya. Kali ini saya akan coba merekomendasikan 5 buku non fiksi, tanpa sesuai urutan favoritnya.
1. Mindset: The New Psychology of Success - Carol S. DweckSuka penasaran tidak kenapa banyak anak kecil yang dianggap sebagai child prodigy kebanyakan hanya mampu mekar pada tempo waktu yang singkat. Biasanya saat mereka sudah dewasa, kiprahnya malah jarang terdengar. Akhirnya saya mengetahui alasannya setelah membaca buku ini.
Carol S. Dweck membagi pola pikir manusia menjadi dua: growth mindset dan fixed mindset. Growth mindset adalah pola pikir yang mendorong kita untuk selalu berkembang. Sementara fixed mindset adalah …

Pusat Perbelanjaan Purwokerto

Bukan orang asli maupun yang punya di keluarga, entah mengapa saya menulis rentetan blog seri Purwokerto ini bagaikan menulis Purwokerto 101 😉. Bagian yang pertama adalah dimana saja sih pusat perbelanjaan? You're living, you need place(s) to shop to fulfil your daily life. Standar, pusat perbelanjaan ada supermarket dan pasar tradisional.

Momen Traumatis Terhadap Gula

Saya: Semenjak pulang dari Pemalang, aku merasa traumatis banget buat konsumsi gula. Biasanya relatif gampang beli minuman manis. Chatime aja tinggal ngesot juga jadi. Ini tiap tiba-tiba kerasa pengen minum minuman manis, benar-benar bergulat dalam pikiran beli atau engga, yang 98% berujung dengan ga beli. Ternyata gula sejahat itu ya?Suami: Loh, baru sadar?
Apakah yang terjadi di Pemalang? Kenapa saya sampai segitu traumatisnya dalam mengkonsumsi gula? Perkara berat, atau?

Gula dan Saya Dari dulu saya merasa diri saya adalah sweet-tongue. Saya suka makanan manis, meski saya tidak rutin mengkonsumsinya. Saya bukanlah orang yang rutin mencari makanan manis secara harian. Kalau pun mencicipi makanan manis, saya tidak bisa banyak-banyak. Tapi, sekalinya makan atau minum yang manis, harus manis banget. Sejatinya saya suka membuat kue dan minuman manis. Tapi bertahun-tahun saya tidak membuatnya dengan alasan tidak ada massa yang menghabiskannya. Anak saya tidak suka ngemil. Saya pun tidak …