Langsung ke konten utama

Weekday, Family Day

Bukan seorang ibu bekerja, kadang-kadang orang melihat tidak ada perbedaan aktivitas signifikan antara hari kerja dan akhir pekan. Tetapi bagi saya, ada beberapa perbedaan apalagi jika suami sedang tidak bertugas ke luar kota. Suami yang terbiasa berangkat pagi dan biasanya pulang setelah matahari tenggelam, praktis waktunya untuk berbagi untuk saya dan Hasan hanya setelah itu. Sehari-hari di rumah ada asisten rumah tangga yang membantu pekerjaan rumah tangga.

Perubahan yang mendasar saat akhir pekan adalah adanya suami. Biasanya kami mengeplot akhir pekan sebagai waktu berkunjung ke rumah mertua atau orang tua. Biasanya menginap. Kami biasanya berangkat saat menjelang makan siang karena sekalian makan siang di luar. Kami tidak pernah membawa asisten rumah tangga ikut serta karena kami lebih menikmati waktu bertiga saja. Suami saya yang berjiwa foodies dan seorang petualang makanan membuat kami menjatah sabtu sebagai hari eksplorasi restoran. Karena rumah mertua dan orang tua kami di daerah selatan, praktis restoran dan mal yang kami singgahi harus di area selatan. Yah terkadang agak diatas tetapi dekat seperti daerah Kelapa Gading. Tetapi itu pun harus memang benar-benar diinncar. Minggu sore sekitar sehabis Ashar, biasanya kami singgah lagi dirumah neneknya suami, di bilangan Kebayoran Baru. Kebetulan posisinya mengarah ke utara, jadi sekalian ke arah kami pulang. Kami pun berangkat pulang ke apartemen setelah sholat Isya.

Saya pun kadang-kadang memanfaatkan akhir pekan sebagai waktu eksplorasi diri. Alhamdulillah, suami termasuk yang bisa diajak kompromi untuk dititipkan Hasan dan mendukung kegiatan-kegiatan saya. Biasanya saya suka mengikuti semacam seminar ataupun workshop. Saat ada suami, Hasan saya titipkan ke suami. Workshop/seminar yang saya pilih biasanya berlokasi di sekitar jalan menuju rumah mertua ataupun orang tua. Kalau sudah dekat rumah mertua, suami dan Hasan memilih langsung menuju kesana dan saya nantinya akan pulang sendiri menggunakan Go-car. Kalau kebetulan saya mendapatkan tawaran sebagai pembicara di area yang lebih jauh seperti Bintaro, suami mengajak Hasan main-main dahulu di sekitar tempat acara menunggu acara saya selesai.

Saat suami saya ditugaskan keluar kota selama hampir 2 bulan, sejujurnya saya sedikit kelimpungan memikirkan bagaimana Hasan saat saya ada acara. Kebetulan, 2 minggu yang lalu saya mendaftar 2 acara di hari yang sama dan alhamdulillah keduanya terpilih. Acara pertama pagi jam 9.15 sampai 10.30 di Gelora Bung Karno dan acara kedua di Cipete mulai jam 13.00 sampai 16.00. Saya menelepon mertua dan berencana untuk menitipkan Hasan yang dilihat oleh asisten rumah tangga di rumah nenek suami, kemudian mertua mengusulkan untuk menjemput Hasan di Kebayoran Baru untuk langsung diantar ke rumah mertua. Setelah mendapatkan usulan itu, akhirnya setelah saya turunkan Hasan di Kebayoran Baru, saya langsung acara di GBK untuk kemudian lanjut ke Cipete. Ternyata saya baru sampai rumah mertua saat azan maghrib. Mertua melapor Hasan bertingkah manis serta cenderung tidak merepotkan. Hati saya pun menjadi lega, membuat saya mendaftar acara seminar berikutnya yang berlokasi di Bursa Efek Indonesia pada hari sabtu depannya. Alhamdulillah, berdasarkan laporan dari mertua, Hasan juga tetap bertingkah baik berdasarkan laporan dari mertua. Saya pulang pukul 13.30 sudah makan dan lagi tidur malah.

Terkadang saya berpikir, memiliki agenda setiap akhir pekan bersilaturahmi ke orang tua dan mertua agak membuat waktu bertiga dengan suami dan Hasan tergerus. Pasalnya, saat kami pergi menginap, saya kurang menikmati waktu bertiga. Mungkin lain kali kami jadwalkan setidaknya seminggu sekali waktu bertiga kami saja ya. Berlibur atau dirumah hanya bertiga.

Komentar

  1. Saya juga termasuk yang menjadikan hari Minggu sebagai family time, Mba. Soalnya berharga banget, karena suami sibuk kerja Senin-Sabtu. Kadang pulang kerja udah capek banget, waktu main bareng anak juga sebentar.

    Ah saya juga pengen banget bisa ikutan workshop juga di weekend. Semoga bisa terwujud dalam waktu dekat.

    Makasih udah sharing, Mba (:

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Baby Gear: Aprica Karoon Review

Sewaktu masih hamil hasan trimester kedua, saya udah mulai rajin buka tutup review stroller di pelbagai website. Banyak faktor yang dibutuhkan untuk memilih stroller yang pas. Pertimbangan saya dalam memilih stroller dapat dilihat di artikel saya sebelumnya mengenai kriteria stroller disini. Melihat segala kriteria saya dan budget yang dimiliki, muncul beberapa shortlisted. Namun, ternyata alhamdulillah Hasan mendapat kado stroller dari Datuk Aya. Berhubung dikadoin, saya mah pasrah apa aja. Apalagi lebih mahal dari budget kita hehe. Stroller yang dikasih Aprica Karoon. Seperti ini penampakannya.

Story of Hasan: Icip Kolam Renang Pertama

Selasa minggu lalu, 14 Maret 2016 untuk pertama kalinya Hasan icip-icip kolam renang. Saya tinggal di apartemen yang ada kolam renang di tiap towernya. Tapi baru kali ini setelah Hasan berusia 6.5 bulan ia icip-icip kolam renang. Kemana saja saya selama ini?
Oke.
Jadi sebenarnya niatnya adalah Hasan belajar berenang langsung nyemplung di kolam renang saat usia 6 bulan. Setelah berusaha mencari tempat les renang bayi, akhirnya saya menemukan 2 tempat les renang bayi di Jakarta. Aquatic Baby dan Anak Air. Keduanya dapat menerima bayi minimal berusia 6 bulan. Wah cocok ni pikir saya. Pada saat itu Hasan sudah berusia 5 bulan. Kemudian saya menghubungi Aquatic Baby perihal brosur. Ternyata eh ternyata, berhubung kelasnya terbatas jadi waiting list nya panjang benar. Masa term berikutnya Mei atau Juni, yang mana Hasan sudah berusia 9 atau 10 bulan. Oh iya, Aquatic Baby ini berlokasi di Bintaro. Informasi lebih lanjut mungkin bisa lihat di postingan ini.

Menjadi Istri PPDS: The Beginning

Hari ini, Rabu 25 Juni 2014 adalah hari pertama suami saya menjalankan kehidupan PPDS (Program Pendidikan Dokter Spesialis) setelah sehari sebelumnya briefing resmi baik dari departemen dan senior.



Apa yang berubah?