Langsung ke konten utama

5 Restoran Halal di Chiang Mai

Alhamdulillah, pada bulan Oktober kemarin kami mendapatkan rezeki tinggal sebulan di Chiang Mai. Berkali-kali saya menulis postingan mengenai Chiang Mai, tak henti-heti pula saya masih baper kepada kota yang memiliki keramahan dan kesantaian ala Yogyakarta dan memiliki pelataran alam seperti Bandung. Chiang Mai pun belum banyak populer di kalangan orang Indonesia yang hendak berwisata ke Thailand. Sebagai kota terbesar ke-dua di Thailand dan memakan waktu 1 jam lebih menggunakan perjalanan udara, apakah susah mencari makanan halal di Chiang Mai?
But First, please Install "Smart Halal" App on your smartphone.

Thailand berbatasan dengan Burma dan Cina di sebelah utara. Dari kedua negeri itulah imigran Islam Thailand berdatangan. Mayoritas masyarakat Islam di Thailand berasal dari suku Yunan China. Sisanya dapat ditemui wajah khas India, Arab ataupun Melayu. 

Aplikasi Smart Halal adalah salah satu aplikasi pencari makanan halal yang tampaknya adalah aplikasi yang dibuat oleh warga Chiang Mai karena mayoritas data restoran berada di Chiang Mai. Meski tampilannya sederhana dan kemudahan penggunaannya relatif rendah, aplikasi ini sungguh berguna bagi turis muslim yang hendak berwisata ke Chiang Mai. Jika belum berada di Chiang Mai, pencarian restoran hanya bisa menggunakan fitur "explore" dan kita tidak bisa mengetahui lokasi tepat restoran. Saat sudah berada di Chiang Mai, semuanya baru tampak jelas karena kita sudah bisa menggunakan fitur "Nearby". Akurasi posisi aplikasi ini juga cukup rendah karena beberapa restoran ternyata berada sekitar 200 meter sampai 1 kilometer dari lokasi tercantum.
Restoran halal mayoritas berada di sebelah timur kota tua, yakni sekitar Halal Street dan daerah Chang Klan. Jadi kalau hendak berwisata ke Chiang Mai, saya sarankan mengambil hotel di sekitaran jalan Chang Klan. Pilihan restoran variatif, dari masakan khas Thailand, Melayu hingga Eropa. Harga dari yang relatif mahal sampai murah. Tinggal pilih. Restoran yang berada di Jalan Changklan bagian utara (dekat pasar Warorot) mayoritas dimiliki oleh masyarakat muslim keturunan Yunan. Mesjid yang berada di Halal Street, Hidayatul Islam juga didirikan oleh Muslim Yunan. Terlihat banyak aksara Cina di berbagai sudut mesjid. Sementara jika kita Solat di mesjid Chang Klan kita akan menemukan variasi keturunan. Tiap solat Jumat juga suka banyak penjaja makanan di depan mesjid. Murah dan enak-enak loh!
Meski kami sebulan disana, sesungguhnya tidak banyak restoran halal yang kami kunjungi berhubung kami tinggal di sebelah barat Kota Tua, yakni dekat Nimman Heimin. 5 restoran dibawah ini patut didatangi jika penasaran.0\
\l,op=\\=;plg']'[/;

Khao Soi Islam

Berlokasi di Halal Street, Khao Soi Islam banyak muncul di daftar rekomendasi restoran halal Chiang Mai di berbagai laman web. Sesuai namanya, Khao Soi Islam menjadikan Khao Soi sendiri sebagai menu favoritnya. Khao Soi adalah makanan khas Thailand bagian utara dan beberapa daerah yang berbatasan di utara Thailand. Mi yang berbahan dasar beras disajikan dengan kuah kari dan santan. Seperti masakan Thailand pada umumnya, Khao Soi memiliki citra rasa sedikit asam layaknya Tom yam. Biasanya Khao Soi menggunakan kaldu dan daging babi. Diatas hidangan biasanya ditaburkan mie beras kering sehingga menambah sensasi garing. 
Saya memesan mi kuah bening (entah apa dalam bahasa Thailand-nya). Rasanya segar, mirip dengan rasa Pho Vietnam. Selain itu kami juga memesan spring roll. Disajikan bersama sambel cocol ala Thailand, rasanya enak dan gurih.

Takawa Halal Cuisine

Berlokasi di Chang Klan bagian selatan. Pertama kami datang tidak lama setelah zuhur, namun pemilik mengatakan restoran belum buka dan menawarkan untuk datang lagi untuk makan malam. Akhirnya saat makan malam kami menjajal kembali Takawa.
Takawa sendiri menawarkan variasi menu. Mulai dari masakan khas Thailand hingga Eropa. Kami memesan Tom Yum hingga spaghetti carbonara. Rasanya cukup mewakili sebagai comfort food. Tom yum-nya segar asamnya. Salah satu keunggulan restoran ini adalah pemiliknya (?) yang fasih berbahasa Inggris. Ada juga pegawai yang bisa berbahasa melayu yang memudahkan pelayanan terhadap pelanggan melayu. Suasana restorannya sangat nyaman dan menyenangkan. Luas, modern dan ada ayunan di halaman tengahnya. Restoran ini cocok untuk bersantap bersama keluarga.

Bismillah Restaurant

Photo from Google

Terletak tidak jauh dari Takawa. Setelah kedatangan kami ditolak saat jam makan siang, sang pemilik merekomendasikan resto ini yang terletak sekitar satu kilometer dari Takawa. Bentuk restoran ini cukup sederhana, seperti warung menengah yang berada di pinggir jalan. Tapi untuk rasa, mereka juara. Tampaknya saya mencicipi salah tom yum enak di Chiang Mai. 

Baragus

Saat kami berada disana, entah rejeki atau bagaimana kami menemukan bahwa sedang diadakan semacam pameran UMKM Thailand di Chiang Mai Convention Center (CMCC) yang lokasinya relatif tidak jauh dari lokasi kami tinggal. Pada acara itu, Halal Science Center Chulalongkorn University juga ikut berpartisipasi dengan mengambil judul Halal food disana. Di bagian Halal food, banyak tenant restoran halal ikut berpartisipasi. Makanan pertama yang mencuri perhatian kami adalah bebek peking merah kecoklatan digantung berjejer di suatu stand. Praktis kami pun menelan ludah karena benar-benar seperti permata di dalam sekam menemukan bebek peking di daerah yang penuh dengan panganan babi ini. Tetapi karena kami masih hendak melihat keseluruhan stand disini, akhirnya kami terus berlalu hingga ketika kembali ke depan stand bebek peking jam setengah dua siang, pegawainya sudah asik mahsyuk menghitung duit! 😓 Tidak putus asa, saya pun mengambil kartu nama yang terpajang dan kami berniat untuk langsung mendatangi restorannya.
Berbeda dengan lokasi kebanyakan restoran halal lainnya, Baragus berada di pinggir Ring Road timur Kota Chiang Mai, dekat dengan mal Chiang Mai Festival. Pada kartu namanya, mereka menyatakan "Fine dining restaurant". Kami sudah menyiapkan diri bahwa kami akan membayar harga makanan disini lebih mahal dibanding restoran lain yang kami datangi. Betul saja, saat kami datang suasananya apik sekali. Dengan meja bar berbentuk potongan kayu, penataan cahaya yang redup, susunan ruangan yang rapi, membuat restoran ini sungguh nyaman dan cocok jika mereka mengklaim dirinya fine dining. Kami menerima menu, tapi ternyata tidak ada alfabet latin sama sekali 😂, namun pelayan berusaha menjelaskan dengan baik. Kami memesan bebek peking (tentunya!), baso bakar dan spring roll sebagai makanan pendamping. Suami memesan bebek peking menggunakan mi dan saya menggunakan nasi. Bebek peking datang disertai dengan semacam kuah kaldu berisi lobak serta cocolan kecap inggris-nya. Bakso bakar hadir dengan cocolan sambal khas Thailand dan spring roll hadir dengan cocolan model lain. Orang Thailand memang senang cocol-mencocol ya! Bebek pekingnya empuk, bumbu dan charsiunya meresap, rasa keseluruhannya lezat. Spring roll beserta cocolannya saling melengkapi. Spring roll terenak yang kami rasakan selama di Chiang Mai. Sayang bakso bakarnya sedikit aneh dengan baso yang biasa saya makan di Indonesia.
Uniknya, karena kami membawa anak kecil, restoran menyediakan piring dan gelas melamin bergambar pooh. Hasan senang sekali dan bahagia sehingga langsung minta makan disediakan 😜.

Baragsu juga menjual Sukiyaki. Pada saat kami makan, banyak pelanggan lain bahkan non muslim. Di Chiang Mai, sukiyaki mana lagi yang halal selain di Baragus. Sayang, kami tidak mencobanya.

Setelah kami makan, tiba saatnya membayar tagihan. Ternyata tepat sesuai kami, harganya diatas harga yang biasa kami bayar untuk makan disana. Yakni kira-kira seharga makan di restoran mal di Jakarta. Hahaha, betul sekali, harga makanan di Chiang Mai signifikan lebih murah ketimbang di Jakarta.

Kruawnayadia


Another gem in Halal exhibition! Jadi setelah kami melewati stand Baragus di CMCC, kami terpikat oleh sebuah stand yang berada di paling ujung. Kenapa? Karena mereka menyediakan sate barbecue yang selalu membuat kami ngiler setiap melewati makanan pinggiran di Chiang Mai. Kalap, kami langsung memesan "sate"-nya. Ayam dan daging. Suami juga memesan Tom Yum. Komentar? Semua makanan disini enak! Per-sate-annya enak semua, kami sampai membawa pulang sate ayam-nya. a. Tom yumnya juga tom yum ter-enak di Chiang Mai menurut kami. Sampai-sampai, seorang bapak yang makan disebelah suami saya dari awalnya niat makan sendiri sampai membawa pulang 1 tom yum lagi. Untuk istrinya, katanya.
Karena begitu terkesan dengan makanan disana, suami bertanya kepada penjaga stand dimana letak restorannya. Berbekal Bahasa Inggris yang terbatas dan google map, sang penjaga menjelaskan bahwa restoran ini dimiliki bersama abangnya. Jam bukanya juga sedikit acak.

Saat solat Jumat di mesjid Chang Klan pada Jumat terakhir kami di Chiang Mai, akhirnya kami menemuka restoran ini. Sungguh restoran kecil berbentuk warung sederhana. Tapi sayang belum rejeki kami, restoran ini tutup dari sebelum sampai setelah kami selesai solat Jumat.

Restoran Lainnya

Tinggal di negara non-muslim meski hanya sebulan cukuplah menantang. Mulai dari berbelanja, mencari daging halal hingga mencari restoran halal. Tidak seperti di Indonesia, mau kemana-pun kita tidak usah pusing memikirkan harus makan dimana. Hampir dimana pun kita berada, banyak restoran yang bisa disinggahi. Maka dari itu, tiap kami berpergian kami harus memikirkan nanti makan dimana atau apakah kami harus membawa bekal makanan dari dorm. Berikut saya coba tuliskan beberapa restoran atau warung makanan halal apabila ada yang hendak ke Thailand dan mencari makanan halal tanpa harus mencari keluar gedung atau pasar.
  • Central Plaza Chiang Mai. Merupakan mal terdekat dari Bandara Chiang Mai. Sayang sekali disini tidak ada restoran halal. Satu-satunya yang bisa dimakan adalah Roti dan martabak yang dijual di foodcourt LG. Yang jual (tampaknya) suami-istri berwajah india-timur tengah. Saat kami menanyakan apakah ada tempat makanan yang bisa dimakan oleh muslim lainnya di Central Plaza, ia mengatakan tidak ada.
  • Central Festival Chiang Mai. Merupakan mal terbesar dan termodern di Chiang Mai. Ada 1 resto halal di foodcourt lantai atas. Saya lupa namanya, pokoknya di plang bawah namanya terdapat gambar bulan sabit dan tulisan halal. Menjual makanan khas Thailand dan Eropa. Rasanya juga lumayan.
  • Maya Mall. Mal terdekat dari lokasi kami tinggal. Bisa ditempuh dengan jalan kaki karena lokasinya kurang dari 2 km. Ada 1 restoran yang cukup besar di dalam mal, namanya Babylonian Iraqi. Selain di Maya, restoran ini juga memiliki cabang lain di samping pasar malam Kalare. Kami belum sempat menjajalnya. Kata yang pernah mencobanya sih harganya cukup mahal.
  • Saturday Night Market. Pasar malam khusus turis yang hanya ada tiap sabtu malam dan berlokasi di Jalan Wua Lai. Setidaknya, ada 4 stand makanan halal yang kami jumpai. Apabila kita memasuki pasar dari persimpangan Wua Lai dan Rat Chiang Saen, cobalah berbelok ke arah kiri pada area foodcourt pertama yang ditemui, ditandai dengan adanya air mancur. Jika ingin makan besar, ada 1 stand penjual nasi dan mi goreng yang lokasinya agak belakang disana. Jika ingin makan cemilan, ada 1 stand roti/martabak yang pekerjanya memakai jilbab dan 1 stand gyoza halal. Di foodcourt kedua sebelah kiri, kami juga menemukan 1 stand gyoza halal yang tampaknya cabang yang sama dari gyoza pertama yang kami temui. Oh ya, di pasar malam ini ada yang jual kalajengking dan daging buaya loh!
  • Sunday Night Market. Berlokasi di sepanjang Jalan Rachadamnoen dan hanya ada di Minggu malam. Agak berbeda dengan pasar sabtu, pasar minggu lebih banyak seniman yang menjual barang. Jika berminat mencari barang unik berseni, disinilah tempatnya! Sayang sekali, sepencarian kami sepanjang jalan benar-benar tidak ada stand makanan berat yang halal. Yang ada 1 stand makanan cemilan seperti donat dan roti goreng. Meski begitu, kami merasa sangat beruntung karena menemukan stand ini dari awal ditengah kelaparan melanda. Lokasinya ada di persimpangan jalan pertama belok kiri jika memasuki Rachadamnoen dari arah barat.
  • Green Canyon Chiang Mai. Merupakan Cekungan berisi air dan tebing yang terebentuk oleh alam. Lokasinya blusukan, agak jauh dari kota. Jika datang sebelum jadwal makan siang, tidak ada opsi makan ditempat lain. Tetapi, restoran di dalamnya yang bernama Caramelo mengklaim bahwa tidak menjual babi. Apabila hendak makan disini, bisa disiasati untuk menikmati makanan yang tidak rentan dari angciu dalam pembuatannya.
  • Chiang Mai University (Faculty Medicine dorm). Kami tinggal di dekat rumah sakit, tepatnya di area Fakultas Kedokteran Universitas Chiang Mai. Tidak kami pungkiri, kehadiran resto halal di kantin universitas yang dekat dengan dorm cowo sangat berjasa bagi kami. Kalau malas masak bisa beli disini. Harganya murah, rasanya juga enak, terutama thai basil. Bisa pilih juga mau ayam, sapi atau seafood. Tapi memang tampaknya budaya makan Thailand mirip di Indonesia. Nasi benar-benar setipruk tapi lauknya (untungnya) banyak!

Disclaimer

Sebaiknya sebagai muslim, jangan mudah tergoda untuk makan di restoran dengan embel-embel  asal tidak makan babi. Restoran cepat saji disana pun banyak yang menjual babi seperti McD. Masak menggunakan alat masak dan alat makan yang bercampur, serta daging ayam dan sapi dari penyembelihan tidak halal menjadi alasan untuk tidak bisa sembarang makan. Makan vegetarian juga tidak bisa sembarangan. Menu vegetarian banyak yang merupakan adaptasi masakan Cina, bisa menjamin tidak digunakan angciu dalam proses pembuatannya? Jika terpaksa makan makanan vegetarian, pilih lah yang bukan tumisan karena rentan akan ang ciu.

Bagaimana dengan makanan seafood? Belum tentu karena pada praktiknya, penggunaan arak saat pembakaran amat lumrah karena arak memberikan efek makanan laut menjadi lembut teksturnya. Wajar kan sebagai muslim harus berhati-hati untuk menjaga aliran darah dari zat yang haram? 😊

Jika mau mencari alternatif lain, saya menemukan 2 restoran Israel disini. Sababa dan BTC Lemtayel. Saya sudah menanyakan pemilik Sababa melalu Instagram dan mereka menyatakan bahwa restonya memakai standar Kosher. Untuk menu yang dihidangkan berbau timur tengah.

Ternyata, Thailand termasuk eksportir makanan halal terbesar sedunia. Jadi, kalau belanja di supermarket, kita relatif gampang menjadi makanan berlabel halal, bahkan sampai makanan bekunya. Karena penjual daging halal segar jauh ada di pasar Warorot, saya biasanya membeli daging beku di Makro atau daging dingin di supermarket harian Tops. Makanan ringan dan produk makanan kemasan lainnya juga banyak berlabel halal. Bahkan sampai susu!

Meski makanan halal terbatas, tetapi jika mencari tahu dan merencanakan dengan matang, masalah makanan tidak akan menjadi momok. Saya kira Chiang Mai merupakan kota yang pantas untuk dinikmati karena menawarkan berbagai lokasi wisata yang indahbaik kota maupun alam.

So folks, enjoy Chiang Mai!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

5 Buku Nonfiksi Favorit

Tahun 2019 adalah titik balik saya untuk kembali banyak membaca buku setelah tahun lalu dan tahun-tahun sebelumnya hanya membaca 2-3 buku per-tahun. Miris bukan? Oleh karena itu, postingan kali ini saya dedikasikan sebagai bentuk apresiasi saya kembali membaca. Daftar buku dibawah juga berdasarkan daftar bacaan saya tahun 2018 yang selengkapnya bisa dilihat di goodreads saya. Kali ini saya akan coba merekomendasikan 5 buku non fiksi, tanpa sesuai urutan favoritnya.
1. Mindset: The New Psychology of Success - Carol S. DweckSuka penasaran tidak kenapa banyak anak kecil yang dianggap sebagai child prodigy kebanyakan hanya mampu mekar pada tempo waktu yang singkat. Biasanya saat mereka sudah dewasa, kiprahnya malah jarang terdengar. Akhirnya saya mengetahui alasannya setelah membaca buku ini.
Carol S. Dweck membagi pola pikir manusia menjadi dua: growth mindset dan fixed mindset. Growth mindset adalah pola pikir yang mendorong kita untuk selalu berkembang. Sementara fixed mindset adalah …

Pusat Perbelanjaan Purwokerto

Bukan orang asli maupun yang punya di keluarga, entah mengapa saya menulis rentetan blog seri Purwokerto ini bagaikan menulis Purwokerto 101 😉. Bagian yang pertama adalah dimana saja sih pusat perbelanjaan? You're living, you need place(s) to shop to fulfil your daily life. Standar, pusat perbelanjaan ada supermarket dan pasar tradisional.

Baby Gear: Aprica Karoon Review

Sewaktu masih hamil hasan trimester kedua, saya udah mulai rajin buka tutup review stroller di pelbagai website. Banyak faktor yang dibutuhkan untuk memilih stroller yang pas. Pertimbangan saya dalam memilih stroller dapat dilihat di artikel saya sebelumnya mengenai kriteria stroller disini. Melihat segala kriteria saya dan budget yang dimiliki, muncul beberapa shortlisted. Namun, ternyata alhamdulillah Hasan mendapat kado stroller dari Datuk Aya. Berhubung dikadoin, saya mah pasrah apa aja. Apalagi lebih mahal dari budget kita hehe. Stroller yang dikasih Aprica Karoon. Seperti ini penampakannya.