Langsung ke konten utama

Drama Kisah 3 Hari Asian Games 2018

Gegap gempita perhelatan Asian Games 2018 telah usai. Menyisakan kebahagiaan dan haru. Meninggalkan berbagai kesan dan cerita dari berbagai pihak. Termasuk oleh pengunjung seperti saya ini. Bersyukur kita, Masyarakat Indonesia dapat merasakan histeria Asian Games setelah terakhir diselenggarakan pada tahun 1962, yakni 56 tahun yang lalu. Lebih dari setengah abad lampau! Tidak heran, banyak masyarakat bahkan penduduk diluar Kota Jakarta dan Palembang juga ikut berbondong-bondong memeriahkan acara ini. Tidak sedikit juga yang datang lebih dari sekali. Dengan berbagai venue yang tersebar di penjuru Jakarta, harga tiket yang variatif, pertandingan-pertandingan yang diselenggarakan Asian Games ini patut untuk dihadiri.

Dari rentang waktu 2 minggu diadakannya Asian Games, Saya berkesempatan untuk berpartisipasi memeriahkan acara ini dalam 3 kedatangan. 2 venue yang berbeda dan 2 waktu  yang berbeda. Pertama saat kami menonton acara renang di GBK pada pagi hari. Kedua saat kami menggunakan tiket festival bertamasya di GBK saat minggu malam. Ketiga saat menonton pertandingan balap sepeda jalur di Velodrome.


Hari 1: Renang di GBK

Tidak pernah terbersit di benak saya kalau membeli tiket pertandingan secara online lewat blibli.com akan sesulit itu. Sulit dalam arti tiketnya habis! Saya tidak menyangka sedemikian besar animo masyarakat terhadap acara ini. Saya juga melupakan bahwa yang membeli tiket pertandingan bukan hanya masyarakat Indonesia, tetapi juga turis mancanegara yang sudah bersusah payah menempuh jarak ratusan hingga ribuan kilometer demi mendukung atlitnya bertanding. Saya berencana membeli tiket renang di Akuatik Gelora Bung Karno (GBK) pada Senin, 20 Agustus untuk pertandingan hari Jumat, 24 Agustus. Saya sengaja memilih tanggal genap untuk menyesuaikan dengan plat kendaraan saya yang juga genap. Cek tiket, loh kok tiketnya terjual habis? Tidak putus asa, saya juga mengecek semua hari diadakannya renang, tidak terkecuali tanggal ganjil. Semua tiket untuk semua hari pertandingan renang habis! Pada saat itu, tiket yang masih ada hanya di cabor akuatik lain seperti lompat indah. Berbekal keputus-asaan dan sedikit harapan, saya menggunakan fitur terakhir yang saya fikirkan, yakni menekan tombol "ingatkan saya" pada tiket tanggal 24 Agustus. Tidak berharap, karena saya tidak pernah berharap dengan fitur seperti ini. Akhirnya saya hanya membeli tiket sepeda trek karena dengan sangat beruntung saya masih mendapatkan tiket untuk jadwal Selasa, 28 Agustus.

Pucuk dicinta ulam pun tiba, tanpa disangka saya mendapatkan surel notifikasi bahwa tiket renang dengan jadwal pilihan saya kembali dijual! Tetapi saya sedikit skeptis karena selisih waktu antara surel datang dan saya membaca surel hampir 20 menit. Benar saja, status tiket masih saja habis terjual. Belum berputus asa, saya kembali menekan tombol "ingatkan saya" kembali. Tanpa penantian yang panjang, di hari yang sama saya kembali mendapatkan surel dan notifikasi. Aha, hanya 2 menit selisih surel datang dan saya baca. Bergegas saya menuju website. Berhasil, muncul tombol "beli sekarang". Alhamdulillah, tiket renang berhasil diamankan 😝.

Tertulis di tiket pertandingan dimulai pukul 09.00. Berhubung jarak dari Pramuka menuju GBK cukup lumayan, saya memutuskan berangkat pukul 08.00. Sebuah tenggang waktu yang cukup sebagai waktu perjalanan. Selasa, 24 Agustus, saya melakukan kesalahan yang sangat fatal. Saya kurang riset! Padahal riset sebelum melakukan perjalanan adalah kegiatan wajib saya. Saya tidak punya bayangan gerbang mana saja yang dibuka, bagaimana arus lalu lintas, jalan mana yang ditutup, dan yang paling fatal saya berfikir mobil boleh masuk ke Area GBK.

Karena dari utara, saya naik ke atas Semanggi kemudian mengitari GBK melalui Senayan. Pelan-pelan saya perhatikan gerbang mana yang buka. Gerbang logistik, gerbang VIP, gerbang khusus media, gerbang ditutup. Tidak ada tanda-tanda dibuka sampai saya tiba di simpang jalan Asia Afrika dan Pintu Satu Senayan. Saya membelok dengan tujuan mengitari senayan. Lagi-lagi jajaran gerbang ditutup. Loh ini kenapa tiba-tiba jalur ditutup dan kendaraan putar balik? Sia-sia akhirnya saya putar balik dan kembali menyusuri Jalan Asia Afrika dan melewati Plaza Senayan. Sampai di simpang FX, saya berbelok kembali menuju Pintu Satu Senayan. Loh, kok kendaraan kembali diarahkan putar balik. Diseberang FX saya juga melihat pengunjung sudah berbaris. Akhirnya saya bertanya kepada salah satu petugas,

"Pak, gerbang yang boleh masuk mobil gerbang berapa?"

"Gerbang utama mba, yang di depan Hotel Mulya.", jawab petugas.

Dengan naifnya saya ikut berputar balik sambil hati kecil saya berbicara, "perasaan tadi lewat sana dan tidak ada tanda-tanda gerbang dibuka. Kembali ke Jalan Sudirman, saya juga melihat 2 gerbang di sepanjang Jalan Sudirman juga tidak ada tanda-tanda dibuka untuk mobil. Ah, itu dia. Ada gerbang dibuka dan mobil bisa masuk. Maka masuklah saya. Ternyata itu gerbang jalan menuju Hotel Sultan! akhirnya saya terbawa kembali menuju Jalan Asia Afrika dan segera menuju Gerbang Utama seperti yang disebutkan petugas sebelumnya. Benar saja, disana malah tertulis "khusus media". Hati saya masygul.

"Pak, boleh masuk ga?", tanya saya kepada petugas.

"Ga boleh mba, ini khusus media aja. Coba gerbang 4".

Atuhlah, jelas-jelas saya sudah mengelilingi GBK dan benar-benar tidak ada gerbang dibuka. Saya mendadak dongkol dengan jawaban petugas yang tidak seragam itu.Tidak lama kemudian, anak saya yang memang dari sebelumnya tidak enak perut, muntah. Panik, perasaan tidak enak, jorok, menangislah ia. Saya langsung tidak berkutik, saya terangkan tidak ada yang bisa saya lakukan pada saat itu meski berhenti karena sepanjang jalan tidak diperbolehkan berhenti. Disertai lalu lintas yang awut-awutan, lelah menangis, dan tidak enak perut anak saya akhirnya tidur dengan kubangan muntah di carseat-nya 😔.


Jam sudah menunjukkan pukul 9.45, perlahan saya mulai skeptis dapat nonton renang. Mengingat  jadwal renang pagi itu hanya sedikit dan total semua pertandingan tidak memakan waktu sampai 2 jam. Selamat tinggal tiket 150 ribu rupiah. Akhirnya saya memutuskan, sudahlah, merapat dulu di FX. Fokus membenahi baju anak saya. Setelah mengangkat anak dari carseat yang otomatis membangunkan tidurnya, saya mengganti bajunya serta mengilap badannya dengan tisu basah. Sudah jam 10.00. Saya cek jadwal pertandingan melalui aplikasi. Ah, bagaimana kalau dicoba bergegas ke area pertandingan, setidaknya masih bisa melihat pertandingan terakhir. Lantas sambil menggandeng anak kami buru-buru keluar dari FX. Menyebrang dan memasuki area GBK setelah tiket dipindai. Kamipun jalan cepat menuju arena akuatik. Hasan pun bisa mengikuti tempo jalan cepat saya. Akhirnya kami tiba di depan akuatik meski ternyata jarak dari gerbang masuk kesana adalah 900 meter. Setelah saya menunjukkan tiket, petugas meminta kami untuk masuk melalui pintu yang harus memutar setengah arena akuatik. Saya menolak dan memelas, saya bilang biarkan kami masuk, kami cuma berdua bahkan bisa saja si anak dipangku. Kalau memutar dahulu bisa-bisa kelewatan pertandingannya. Akhirnya petugas mengizinkan kami masuk. Alhamdulillah ternyata masih ada beberapa tempat duduk. Kami duduk manis sambil saya berikan anak saya cemilan pisang. Tepat dugaan saya, kami masih bisa menikmati pertandingan terakhir, yaitu 4x100 m men relay. Jadi 1 grup ada 4 perenang pria, masing-masing menggunakan gaya berbeda dan renang dengan jarak 100 m (sekali bolak-balik). Seru sekali melihat susul menyusul, anak saya juga antusias melihatnya.


Seiring dengan pertandingan selesai dan pemberian medali, kami keluar dari arena. Tak lupa saya menyempati diri untuk memfoto Hasan yang antusias berfoto dengan gambar-gambar maskot lucu: Atung, Kaka, dan Bhin-Bhin. Sekeluar dari komplek akuatik, datang bus dan kami menaikinya. Ternyata ini bus yang membawa berkeliling GBK sembari berhenti di pemberhentian arena pertandingan lain. Setelah memutar, kami turun di Zona Bhin-Bhin. Kami lantas langsung menuju Super Store, yakni tempat penjual cendera mata resmi karena dari sebelum berangkat Hasan sudah menagih mau maskot rusa. Tak disangka, antrian mengular panjang!


"Hasan beneran mau maskot rusa? Kalau mau harus sabar mengantri, ini panjang. Ga boleh rewel".

"Mau maskot rusa." Tandasnya.

Dan kami tetap melanjutkan antrian karena anak saya begitu teguh pendirian. Setelah setengah jam, akhirnya kami masuk ke super store. Ternyata superstore dijejali sesak pengunjung. Baik lokal maupun mancanegara. Padahal pada saat itu adalah hari kerja dan siang hari. Tujuan utama kami adalah maskot rusa (Atung). Tapi sayang sekali dari jajaran boneka yang tinggal sedikit tidak ada Atung. Awalnya saya ambil badak (Kaka) dan burung (Bhin-Bhin). Tapi karena harganya lumayan akhirnya kami hanya mengambil Bhin-Bhin. Di rak agak tengah kami menemukan gantungan kunci Atung.

"Boneka Atung udah habis, gantungan kunci aja gapapa ya!"

"Atuuung", jawab Hasan.

Karena sudah malas menembus kerumunan orang, akhirnya saya putuskan untuk langsung mengantri kasir saja. Antrian kasir pertama yang kami pilih benar-benar stuck. Tampak tidak maju-maju. Didepan saya berdiri 2 orang turis Tiongkok berperawakan besar dan tinggi. Setelah beberapa menit, mereka memutuskan pindah kasir. Entah kenapa saya tergerak mengikuti mereka. Ternyata kasir kedua juga tidak kalah stuck, tetapi tampaknya memang lebih lumayan dari kasir pertama. Beberapa menit kemudian 2 orang turis tersebut pindah lagi ke kasir lainnya. Entah kenapa saya tidak mengikuti mereka. Hampir sejam kemudian saya menyadari kalau mereka sudah membayar di kasir sementara saya masih mengantri sekitar 15-20 menit lagi. Wow. Mungkin karena mereka tinggi besar jadi lebih bisa melihat keadaan antrian kasir mana yang bonafide.

Saat mengantri di kasir 2, didepan saya berdiri bapak-bapak dengan belanjaan sekeranjang. Lewatlah seorang pegawai superstore sambil membawa boneka Atung! Bapak-bapak di depan saya langsung memanggil mas tersebut,

"Mas saya mau satu!"

"Bentar ya pak, ini ada yang dibelakang mau." Jawab si mas.

Berakhir dengan keberuntungan bapak-bapak tersebut karena boneka Atung jatuh ke tangannya. Hasan berulang kali melihat Atung yang tergeletak di keranjang depan. Berulang kali juga saya tekankan kami tidak rejeki dapat Atung, jadi dia harus terima boneka Bhin-Bhin dan gantungan kunci Atung. Alhamdulillah dengan gampangnya Hasan menerima kenyataan itu.

Di belakang saya berdiri 2 orang ibu-ibu yang tidak saling mengenal tetapi aktif berbicara satu sama lain hampir sepanjang antrian 😛. Hasil dari sadapan saya sih yang tepat berada di belakang saya suaminya wasit Taekwondo Asian Games 2018. Lawan bicaranya ibu-ibu yang asik iri karena si istri wasit dapat barang-barang hasil pemberian ke wasit. Namanya juga ibu-ibu, mereka ini pertama mengantri hanya sedikit membawa barang di tangan untuk kemudian begitu di depan kasir barang mereka sendiri bisa sekeranjang menggunung.

Kok bisa?

"Eh mbak, itu coba tolong liatin goodie bag di rak sebelah. Wah bagus ya, cocok nih buat oleh-oleh. Tolong ambilin 5 biji ya mbak!"

"Pak, itu yang bapak ambil apa? wah lucu ya pulpen-pulpen. Berapaan pak? Wah murah, ambil juga ah!"

"Mas, itu hiasan apa? Coba tolong liatin harganya donk. Wah lumayan mahal juga ya, tapi gapapa, tolong ambiling satu ya!"

"Eh itu apa ya? kayak tempat makanan. Tolong jagain antrian saya dulu ya, mau ngambil. *kemudian kembali*, liat deh bu, dapat tempat makan, tumbler, cuma segini loh. Mau ga? biar saya ambilin".

Kemudian belanjaan mereka sudah menggunung. 😏. Saya sendiri akibat gosipan mereka tergoda membeli 1 goodie bag lucu.

Akhirnya tiba giliran kami membayar di kasir. Diselesaikan dengan cepat oleh kasir. Saya heran, padahal beberapa orang didepan saya yang tampak dengan mata kepala saya transaksinya berlangsung cukup lama. Tampaknya mereka ada beberapa barang yang belum terekam di mesin, sehingga tak jarang kasir masih menulis barang belanjaan pengunjung menggunakan bon. Mungkin inilah penyebab antrian berlangsung amat lama.

Keluar dari superstore, sempat terbersit untuk makan di arena, namun saya urungkan karena harus mengisi dahulu tapcash saya. Akhirnya kami diarahkan untuk keluar dari gerbang 6. Indah sekali pemandangan berlatarkan gedung-gedung tinggi Sudirman. Kami jalan kembali menuju FX dan makan dengan santai disana. Untung sekali, perjalan pulang juga sangat lancar.


Hari 2: Festival Malam di GBK

Minggu, 2 September, saya dan keluarga besar berencana pergi ke arena GBK sore hari dengan membeli tiket festival. Tiket festival ini maksudnya tiket masuk ke arena GBK tapi tidak untuk menonton pertandingan. Harga tiket festival pada awal perhelatan dibanderol 40 ribu rupiah, kemudian turun 25 rupiah dan pada akhirnya hanya 10 ribu rupiah dengan niat menarik pengunjung untuk meramaikan GBK. Berbekal dengan pengalaman ke GBK selama Asian Games sebelumnya, saya menyarankan untuk pakai Grab, kalau memakai kendaraan pribadi parkir di Plaza Senayan karena parkir di FX sangat beresiko tidak dapat. Akhirnya kami semua pergi menggunakan 1 kendaraan minivan.

Rencana awalnya kami mampir dulu ke Saudi House yang sedang diadakan tidak jauh dari GBK, yakni Restoran Pulau Dua Senayan. Memang sudah saya duga bakal ramai, tetapi saya tidak menyangka semacet itu. Jalan Gerbang Pemuda di sisi Jalan Gatot Subroto sudah ditutup, tidak ada mobil lain boleh masuk. Saat sampai Saudi House, gerbang masuknya sudah ditutup. Tidak hanya itu, tampak antrian manusia mengular sampai tumpah ruah ke trotoar jalan. Ada mungkin panjang antrian sekitar 500 meter! Maklum animo masyarakat seheboh itu karena masuknya juga gratis, dapat kurma pula. Akhirnya kami  mengurungkan niat mengunjungi Saudi House. Mobil kami arahkan kembali ke GBK, tetapi karena  banyak jalan yang ditutup kami melewati Jalan Tentara Pelajar, lalu masuk ke Asia Afrika melalui Patal Senayan. Dengan lalu lintas yang lebih ramai dibandingkan kunjungan GBK saya tempo hari, kami akhirnya mendapat rejeki menemukan parkir di area parkir Plaza Senayan.

Menembus area perpakiran Senayan Square, kami berjalan agak lumayan menuju GBK. Karena desas-desusnya tiket dijual di gerbang 7, akhirnya kami melanjutkan jalan keluar dari Jalan Pintu Senayan menuju Jalan Sudirman. Pemandangan golden hour berlatar belakang rentetan gedung di sepannjang Jalan Sudirman tidak kalah indahnya. Kami menikmati perjalanan karena matahari juga tidak lagi terik.


Di gerbang 6 tampak panjang antrean. Tetapi karena kami berfikir bahwa tiket festival dijual di gerbang 7, beberapa dari kami melanjutkan perjalanan ke gerbang 7 untuk membeli tiket. Ternyata antrean di gerbang 6 juga antrean penjualan tiket festival. Untung saya, antrean di gerbang 5 tampak lebih pendek. Buktinya sebelum beberapa dari kami sampai di gerbang 7, tiket sudah didapatkan. Setelah tiket dapat kami langsung masuk untuk selanjutnya dilakukan pemindaian barang bawaan kami oleh mesin pemindai.

Maghrib tiba sesaat kami sampai di dalam komplek. Kami segera menuju mushola terdekat yang terletak di lantai dasar gedung parkiran timur GBK. Pengunjung sudah banyak menjejali mushola tersebut. Alhasil kami sholat dengan penuh sesak dan berdesak-desakan.

Karena saya sudah pernah melewati Zona Bhin-Bhin, saya bermaksud kedatangan kali ini untuk mengunjungi Zona Atung atau Zona Kaka. Ternyata banyak dari kami sudah lapar, karena posisi paling dekat adalah Zona Bhin-Bhin, akhirnya kami memutuskan untuk makan disana. Ternyata ramai sekali yang mengantri makanan. Benar-benar panjang. Mata saya mengarah ke KFC, Hasan juga mau makan itu. Sayang ternyata saat itu ayamnya sudah habis. Akhirnya saya dan suami mengantri di Hoka-Hoka Bento yang posisinya relatif disebelah KFC. Tidak lama mengantri, kok mulai banyak pengunjung yang mendatangi KFC. Setelah saya coba mendatanginya, ternyata ayamnya baru datang lagi! Akhirnya tanpa mengantri lama, 2 kotak KFC sudah dalam genggaman kami.


Setelah makan, kami semua berkumpul lagi dan coba menikmati keramaian. Banyak pengunjung yang duduk dan memenuhi rotunda untuk menonton pertandingan Bulutangkis yang disiarkan melalui layar sangat besar. Kami memutuskan untuk masuk menuju GBK. Disana tampak obor dimana banyak orang-orang melakukan swafoto. Ada juga mobil pemadam kebakaran yang dibanjiri oleh anak-anak yang antusias untuk menaikinya ataupun sekedar berfoto. Tak lupa Hasan juga berfoto didepan damkar kesayangannya.


Ternyata di area dalam GBK juga banyak terlihat jajaran kios-kios makanan layaknya di Zona Bhin-Bhin. Karena kami mulai kehabisan minuman, beberapa dari kami mengantri untuk membeli minuman. Antrian yang ternyata juga sama lamanya dari antrian makanan di Zona Bhin-Bhin. Sambil duduk-duduk menikmati keramaian, kami juga seraya mendengar teriakan penonton yang sedang menonton pertandingan atletik dari dalam GBK.


Setelah merasa cukup, kami memutuskan pulang. Tapi sebelumnya kami hendak menaiki bus angkutan yang akan membawa pengunjung berkeliling arena GBK. Kami naik dari dekat Zona Bhin-Bhin dan turun di dekat Superstore supaya lebih dekat ke gerbang 5, agar lebih dekat jalan menuju parkiran kami di Plaza Senayan.

Hari 3: Sepeda di Velodrome

Arena yang sangat dekat dengan tempat tinggal saya adalah salah satu alasan utama kenapa saya memutuskan mengapa menonton sepeda di Velodrome. Jadi Velodrome ini adalah arena sepeda yang baru saja selesai di renovasi besar-besaran untuk menyambut Asian Games. Kabarnya, Velodrome ini bagus sekali dan sudah mendapat sertifikat internasional. Semakin penasaran saya akan bagaiman bentuk dan rupa velodrome ini.

Pertandingan dimulai pukul 9. Karena teramat dekat, saya dan Hasan berangkat dari rumah pukul setengah 9 lewat. Setelah bertanya kepada petugas yang bertugas di depan komplek Velodrome, ternyata parkiran berada di seberang Velodrome, yakni sejajaran dengan Arion Mall. Sebenarnya sempat terbersit di pikiran saya untuk parkir di Arion Mall, cuma ah sudahlah, parkir di mall kan nanti harus bayar per-jam. Parkiran tepat berada di samping tangga penyebrangan menuju halte Trans Jakarta. Setelah kami menyeberang, kami kira pintu masuk ada di sisi Jalan Pemuda, ternyata ada di sisi Jalan Velodrome. Berarti kami harus berjalan cukup jauh dibandingkan parkir di Arion Mall yang relatif tinggal menyeberang. Mencari parkiran dan berjalan memakan waktu hampir 20 menit. Kami pun sebenarnya sudah telat memasuki arena.

Kami harus menaiki tangga yang tinggi menuju pintu masuk Velodrome. di penguhung gerbang, tampak petugas sukarela meminta tiket kami dan memeriksa tas kami. Ternyata tidak diperbolehkan makan dan minum di dalam arena. Jadi makanan dan minuman ditinggal di luar. Kalau berkenan botol minuman akan ditandai dengan spidol tidak permanen. Pengunjung dilarang membawa makan dan minum, tapi boleh keluar masuk dari arena jika ingin makan dan minum.

Karena kami sudah telat, benar saja, kami telah melewati satu pertandingan. Saat di pintu masuk semua pengunjung diberi semacam selebaran yang berisi jenis-jenis pertandingan yang dilombakan pada cabor sepeda trek ini. Ternyata pada hari itu kami menonton partai woman keirin dan group sprint.


Jadi keirin ini adalah pertandingan terdiri dari 6 putaran. Saat pistol diletuskan, semua peserta harus mengikuti kecepatan motor panitia, berjejer di belakang dan tidak boleh saling menyalip. Setelah 3 putaran, motor keluar dari jalur dan peserta saling berlomba salip-menyalip sisa 3 putaran. Pertandinan berlangsung sangat cepat dan mendebarkan. Pertandingan pagi itu merebutkan posisi perebutan medali emas, perak dan perunggu.

Partai lainnya yang dilombakan hari itu adalah group sprint. Wanita dan pria. 1 grup beranggotakan 4 pesepeda. Umumnya dilombakan secara duel, namun kalau ternyata jumlah negara peserta kualifikasi berjumlah ganjil, maka akan ada 1 grup yang bertanding sendirian. Posisi duel 1 grup di bagian selatan, 1 grup di bagian utara. Yang diperhitungkan pada partai ini adalah total waktu yang dibutuhkan. Jadi yang kalah pada saat duel belum tentu tidak lanjut ke perebutan medali jika waktunya termasuk baik. Pada posisi ancang-ancang, sepeda dibantu ditopang oleh official, jadi begitu pistol diletuskan, pesepeda tinggal mengayuh. Pertandingan berlangsung cukup sengit untuk semua partai. Tiap 1 lap, pesepeda yang berada paling depan akan mengambil jalur luar dan pindah ke urutan paling belakang. Konon katanya setelah saya pelajari, formasi seperti ini dilakukan karena yang berada paling depan menggunakan usaha yang paling besar akibat gaya friksi. Pindah ke jalur belakang dilakukan untuk memberi gantian kepada urutan belakangnya agar kecepatan dapat dijaga.

Tiap pertandingan ditampilkan waktu perolehan masing-masing peserta. Pada partai duel group sprint, dapat terlihat mana yang lebih unggul dan berapa detik mereka unggul dari rivalnya. Tidak jarang grup yang unggul berganti-gantian. Apabila suatu grup unggul dengan selisih waktu cukup banyak (lebih dari 7 detik), tampak terlihat mereka menyusul rivalnya.

Tidak semua pertandingan berjalan mulus, sebagai contoh, saat pertandingan man group sprint antara Korea Selatan dan Tiongkok, Peserta Korsel sempat unggul beberapa detik. Sebelum akhirnya salah satu peserta terpeleset sehingga sepeda jatuh. Praktis peserta Korea Selatan gugur dan peserta Cina tetap melanjutkan pertandingan sampai selesai.

Total semua partai pada hari itu memakan waktu 2 jam. Kami keluar dari arena Velodrome saat pertandingan selesai. Setelah mengambil botol minuman di luar, saya berniat memfoto gedung Velodrome yang telah berskala internasional ini beserta halamannya.

MRT dari Velodrome

Tidak hanya gedung yang luar biasa apik. Disekitar arena juga ditata taman yang cukup menarik. Mungkin saat Asian Games usai akan dibuka untuk umum.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

5 Buku Nonfiksi Favorit

Tahun 2019 adalah titik balik saya untuk kembali banyak membaca buku setelah tahun lalu dan tahun-tahun sebelumnya hanya membaca 2-3 buku per-tahun. Miris bukan? Oleh karena itu, postingan kali ini saya dedikasikan sebagai bentuk apresiasi saya kembali membaca. Daftar buku dibawah juga berdasarkan daftar bacaan saya tahun 2018 yang selengkapnya bisa dilihat di goodreads saya. Kali ini saya akan coba merekomendasikan 5 buku non fiksi, tanpa sesuai urutan favoritnya.
1. Mindset: The New Psychology of Success - Carol S. DweckSuka penasaran tidak kenapa banyak anak kecil yang dianggap sebagai child prodigy kebanyakan hanya mampu mekar pada tempo waktu yang singkat. Biasanya saat mereka sudah dewasa, kiprahnya malah jarang terdengar. Akhirnya saya mengetahui alasannya setelah membaca buku ini.
Carol S. Dweck membagi pola pikir manusia menjadi dua: growth mindset dan fixed mindset. Growth mindset adalah pola pikir yang mendorong kita untuk selalu berkembang. Sementara fixed mindset adalah …

Pusat Perbelanjaan Purwokerto

Bukan orang asli maupun yang punya di keluarga, entah mengapa saya menulis rentetan blog seri Purwokerto ini bagaikan menulis Purwokerto 101 😉. Bagian yang pertama adalah dimana saja sih pusat perbelanjaan? You're living, you need place(s) to shop to fulfil your daily life. Standar, pusat perbelanjaan ada supermarket dan pasar tradisional.

Baby Gear: Aprica Karoon Review

Sewaktu masih hamil hasan trimester kedua, saya udah mulai rajin buka tutup review stroller di pelbagai website. Banyak faktor yang dibutuhkan untuk memilih stroller yang pas. Pertimbangan saya dalam memilih stroller dapat dilihat di artikel saya sebelumnya mengenai kriteria stroller disini. Melihat segala kriteria saya dan budget yang dimiliki, muncul beberapa shortlisted. Namun, ternyata alhamdulillah Hasan mendapat kado stroller dari Datuk Aya. Berhubung dikadoin, saya mah pasrah apa aja. Apalagi lebih mahal dari budget kita hehe. Stroller yang dikasih Aprica Karoon. Seperti ini penampakannya.