Langsung ke konten utama

The Story of Back Pain

Rabu pagi lalu, saya sedang santai duduk di sofa sedang menggerus puree untuk sarapan Hasan. Bangkit, kemudian saya menyadari ada sedikit yang aneh di pinggang saya tapi saya menghiraukan karena rasanya tidak begitu berarti. Kemudian saya ke kamar hendak menghampiri Hasan yang baru bangun pagi di ranjang bayi. Rasa sesuatu di pinggang yang semula saya hiraukan menjadi sesuatu yang sangat signifikan.



"Duh,, duh,, bentar Hasan. Kok rasanya pinggang mama sakit ya." Ringis saya kesakitan sembari mengelus pinggang.

Jadi posisi pinggang saya yang sakit adalah pinggang tengah bawah. Rasanya seperti otot tertarik. Mau ngapa-ngapain jadi serba sakit semua. Karena hampir semua yang dilakukan menggunakan otot pinggang tersebut. Mau duduk, mau jalan, mau bangkit dari tempat tidur, dan sebagainya. Rasanya? Super tersiksa. Horrible. Mana lagi saya punya bayi seberat hampir 9 kg yang pastinya harus menggendong dan memindahkannya dalam frekuensi yang sering.

Rasanya saya ingin dipijit, tapi apa daya, lusa saya harus pergi berlibur ke luar kota. Nanggung dan lagi saya malas bikin appointment sama tukang pijit langganan. Yasudah, apa boleh buat. Saya tahankan rasa sakit yang sangat itu. Saya banyak dikira sakit pinggang karena k menggendong Hasan yang berat. Padahal pikir saya, saat sakit itu muncul saya sedang tidak menggendong Hasan sama sekali. Namun bisa jadi beban sakit menumpuk dan munculnya saat saya sedang menggerus makanan Hasan itu. Sedangkan suami mencurigai saya salah posisi dalam menggendong beban berat (a.k.a Hasan).

Saya dan keluarga besar pergi berlibur ke Pantai Tanjung Lesung, memakan waktu perjalanan darat sekitar 4 jam. Alhamdulillah juga pikir saya. Saya bisa meminimalisir menggendong Hasan karena pasti nanti banyak yang bisa dititipin untuk babysitting Hasan. Alhamdulillah keluarga banyak yang mau menggendong. Tapi kadang saya merasa tidak enakan, jadi saya suka menolak.

"Kamu jangan banyak gendong dulu supaya semakin tidak menjadi." Saran suami

Saya kira saya disarankan untuk tidak menggendong karena kasihan dengan saya. Ternyata ada unsur "for the health sake" juga. Sakit pinggang memang bikin tidak enak di banyak hal. Sudahlah mau apa-apa tersiksa, mau naik banana boat sewaktu liburan kemarin juga tidak bisa. Bahkan, saat perjalanan darat apabila mobil meluncur dan melewati gundukan, saya sering mencengkeram sekitar saya karena sakit pinggang yang saya rasakan.

Minggu maghrib saya, suami, dan Hasan sampai di apartemen. Rasa sakit? Masih, sembari berharap esok hari rasa sakit hilang atau setidaknya berkurang. Then I remembered something.

"Kayaknya benar deh aku sakit pinggang gara-gara salah mengangkat Hasan. Belakangan ini kan aku sering taruh Hasan di karpet main, mengangkat Hasan dari karpet main kayaknya beneran salah. Aku gendongnya membungkuk pakai pinggang. Bukan jongkok dulu lalu mengangkat Hasan pakai tangan." Ujar saya kepada suami
Yap! Eureka ketemu asas kausitasnya. Jadi ternyata saya selama ini mengangkat Hasan dari karpet main seperti yang saya deskripsikan diatas. Aneh saya padahal tidak biasanya begitu. Ada barang jatuh pun saya mengambil tidak lansung membungkuk. Melainkan jongkok dengan punggung tegak.

Cara mengangkat beban berat ternyata memiliki beberapa aturan jika tidak ingin terjerat sakit pinggang/punggung di kemudian harinya. Caranya ada beberapa tahap:

  1. Buka kaki lebih lebar, pastikan pijakan jadi lebih stabil
  2. Dorong pantat kebelakang 
  3. Angkat beban dengan tidak menumpukan ke pinggang
  4. Luruskan kaki perlahan-lahan seiring dengan naiknnya beban
Posisi mengangkat yang benar


Sementara posisi yang salah dan kebanyakan saya khilaf belakangan ini adalah langsung mengangkat dengan titik tumpu pinggang. Badan membungkuk, kemudian mengangkat dengan titik tumpu pinggang.

Perbedaan mengangkat yang benar dan salah

Dan benar saja, saat pinggang saya sakit dan mengangkat Hasan dari karpet main dengan posisi mengangkat yang benar tidak menyebabkan rasa sakit di pinggang. Well, at least sakitnya super minimal. Alhamdulillah hari ini rasa sakit pinggang saya jauh berkurang, hampir tidak ada. Kata suami, jangan dipacu dulu dengan gerakan yang salah, karena bisa jadi sakitnya akan muncul kemarin. Saya belum betul-betul pulih, tapi ini menjadi pelajaran yang sangat berarti untuk saya untuk lebih memperhatikan posisi menggendong dan mengangkat agar tidak mencederai diri saya sendiri. Kok anak masih satu masih tujuh bulan tapi sudah sakit pinggang. Hehe.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Baby Gear: Aprica Karoon Review

Sewaktu masih hamil hasan trimester kedua, saya udah mulai rajin buka tutup review stroller di pelbagai website. Banyak faktor yang dibutuhkan untuk memilih stroller yang pas. Pertimbangan saya dalam memilih stroller dapat dilihat di artikel saya sebelumnya mengenai kriteria stroller disini. Melihat segala kriteria saya dan budget yang dimiliki, muncul beberapa shortlisted. Namun, ternyata alhamdulillah Hasan mendapat kado stroller dari Datuk Aya. Berhubung dikadoin, saya mah pasrah apa aja. Apalagi lebih mahal dari budget kita hehe. Stroller yang dikasih Aprica Karoon. Seperti ini penampakannya.

Story of Hasan: Icip Kolam Renang Pertama

Selasa minggu lalu, 14 Maret 2016 untuk pertama kalinya Hasan icip-icip kolam renang. Saya tinggal di apartemen yang ada kolam renang di tiap towernya. Tapi baru kali ini setelah Hasan berusia 6.5 bulan ia icip-icip kolam renang. Kemana saja saya selama ini?
Oke.
Jadi sebenarnya niatnya adalah Hasan belajar berenang langsung nyemplung di kolam renang saat usia 6 bulan. Setelah berusaha mencari tempat les renang bayi, akhirnya saya menemukan 2 tempat les renang bayi di Jakarta. Aquatic Baby dan Anak Air. Keduanya dapat menerima bayi minimal berusia 6 bulan. Wah cocok ni pikir saya. Pada saat itu Hasan sudah berusia 5 bulan. Kemudian saya menghubungi Aquatic Baby perihal brosur. Ternyata eh ternyata, berhubung kelasnya terbatas jadi waiting list nya panjang benar. Masa term berikutnya Mei atau Juni, yang mana Hasan sudah berusia 9 atau 10 bulan. Oh iya, Aquatic Baby ini berlokasi di Bintaro. Informasi lebih lanjut mungkin bisa lihat di postingan ini.

Menjadi Istri PPDS: The Beginning

Hari ini, Rabu 25 Juni 2014 adalah hari pertama suami saya menjalankan kehidupan PPDS (Program Pendidikan Dokter Spesialis) setelah sehari sebelumnya briefing resmi baik dari departemen dan senior.



Apa yang berubah?