Langsung ke konten utama

4 Alasan Keuntungan Nge-game

Mungkin banyak sekali kasus dimana anak-anak bahkan orang dewasa kecanduan game. Baik console (playstation, xbox, dll), gadget, ataupun PC. Biasanya game-game yang menjadi candu itu berubah sesuai jaman. Dulu jaman saya SMP atau SMA, game-game online semacam gunbound dan ragnarok menjangkiti kawula muda maupun orang dewasa CS (Counter Strike) juga tidak ketinggalan. Jaman saya kuliah hingga sekarang DOTA masih menjadi puncak candu game. Tidak hanya game-game online, game-game non online (meski bisa dimainkan online juga) juga menjadi pilihan candu.




Saya, Zeneth Ayesha Thobarony, meski perempuan bersama abang saya sudah mengenal game PC dan console semenjak usia dini. Sejak SD kelas 1, saya sudah bermain dan memiliki Super Nintendo. Bersama abang saya pula kami kerap berkeliling main Sega dan Spica di rumah anak-anak tetangga. Tidak hanya console, saya juga sudah bermain game PC. Ayah saya mulai memberikan game original (iya Ori!) setiap pulang dinas dari Amerika. Game yang loading dari DOS semacam Doom juga saya ikuti,

Genre game juga bervariasi. Mulai dari RTS (Role Time Strategy), RPG (Role Playing Game), simulator, puzzle, racing, adventure, action dan banyak lainnya. Bingung dengan istilah diatas? Mari sedikit saya jelaskan kepada nubitol dunia game :D RTS singkatnya game strategi berbasiskan waktu. Biasanya game perang yang harus mendirikan base, membuat armada, menyerang, bertahan, dan seterusnya. Jujur saya sama sekali tak tertarik dengan genre ini. Abang saya yang jago. RPG adalah game dimana kita menggerakkan karakter yang dimainkan. Biasanya bisa first person (keliatan tangannya aja) atau third person (keliatan utuh orang/unitnya).

Genre favorit saya dari dulu hingga sekarang adalah RPG. Game favorit saya GTA (Grand Theft Auto), dan hampir seluruh game keluaran Rockstar Game. Untuk genre Simulasi The Sims dan Simcity menjadi favorit saya. Untuk action Counter Strike dan Bioshock. Oh ya ada satu lagi, favorit saya dari genre RTS meski saya sangat ga bisa, Starcraft,

Grand Theft Auto V, favorit sayah!


Cukup liar kan selera game saya?

Lantas apa saja keuntungan nge-game terlepas dari efek kecanduannya? Berikut beberapa yang dapat saya simpulkan dari pengalaman pribadi saya.

1. Menambah Pengetahuan Umum

Vinewood, jilpakan Hollywood di Los Angeles

Saya bisa tau gambaran dan POI (place of interest) California dan Miami dari GTA. Saya bisa tau jenis senjata dari CS. Saya bisa tau sistem badan-badan militer dan kepolisian amerika. Saya bisa tau pop culture reference di era terkait. Dan banyak hal lain yang belum tentu bisa saya dapatkan dalam kehidupan sehari. Penting atau ga penting pengetahuan umum tersebut.

2. Meningkatkan Kemampuan Bahasa Inggris

Starcraft, narasi ceritanya suka menggunakan kosa kata canggih

Oh ini tentu. Saya bisa menambah kosa kata, memperbaiki grammar Bahasa Inggris saya terutama dari game-game yang memiliki sifat naratif. Kembali lagi, kosa kata dan aksen yang belum tentu saya dapatkan dalam kehidupan sehari-sehari saya diluar kalau saya tidak berpergian ke negara dengan bahasa ibu Bahasa Inggris.

3. Meningkatkan Reflek Motorik

Bioshock, dystopia action

Banyak game-game yang saya mainkan berupa game action. Game action menuntut reflek motorik yang baik karena banyak kejutan-kejutan tidak terduga di tengah-tengah permainan. Lambat laun, saya merasa reflek motorik saya bertambah tajam (yah,, meskipun termasuk cupuk yak!) dalam kehidupan nyata.

4. Meningkatkan Kelihaian "Mencari Celah" Dalam Menghadapi Permasalahan

Stanley Parable, looping gamenya suka bikin bingung

Ini juga cukup penting menurut saya. Pernah suatu ketika di lab saya, teman saya dan dosen pembimbing mendiskusikan perihal jurnal yang hanya bisa diunduh secara terbatas.

"Yah sebenarnya belum jelas juga maksud terbatasnya, apakah satu orang terbatas sekian jurnal, atau gimana.", ujar dosen pembimbing saya.
"Kalau maksud terbatasnya gitu, kan bisa didonlod dari beberapa akun bu. Atau bikin akun palsu. Atau coba diganti proxynya.", tandas saya.
"Ah si Zeneth mah suka cari-cari celah." 
 Gara-gara keterbatasan skill saya dalam bermain game di genre favorit saya, RTS, saya kerap kali mencoba "menghalalkan" berbagai cara demi tercapainya mission objectives. Dari cara yang bisa dibilang cerdik sampai cara "super cupu" yang tidak terpikirkan sama sekali. Dibawah alam sadar saya. Ternyata "kelicinan" saya ini sangat berpengaruh dalam kehidupan nyata saya.

Jadi,,,

Betul, saya sudah mengenal dunia game semenjak usia dini. Ya, Alhamdulillah, meski mengenal semenjak usia dini saya dan abang saya termasuk pecandu game. Kami hanya seasonal gamer. Kalau sudah memulai game, maka untuk beberapa hari atau beberapa minggu, saya akan konsisten bermain di jam yang relatif sama guna menyelesaikan game tersebut. Namun meski saya sedang berada di "dunia game", saya tidak menghabiskan waktu lama untuk nge-game per hari. Paling hanya sekitar 2 jam-an. Rutin. Terus menerus hampir tiap hari. Hingga game tamat atau saya memilih untuk berhenti hingga hilang niat meneruskan game tersebut. Bahkan kadang kalo lagi masuk musim nge-game saya pernah lo satu harian sangat produktif. Contoh terakhir saat saya on progress menamatkan GTA V. Game yang RUARRR BIASA seru dan kerennya. Saya bisa loh bangun pagi cepat, membereskan suami, bebersih rumah untuk kemudian berangkat ke kampus jam 9! :D

Saya bukan pecandu game.

Tidak, saya tidak akan mengenalkan anak saya game semenjak usia dini.

Karena saya tahu, kasus yang teramat jarang bisa mengenal game dari usia dini namun tidak menjadi pecandu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

5 Buku Nonfiksi Favorit

Tahun 2019 adalah titik balik saya untuk kembali banyak membaca buku setelah tahun lalu dan tahun-tahun sebelumnya hanya membaca 2-3 buku per-tahun. Miris bukan? Oleh karena itu, postingan kali ini saya dedikasikan sebagai bentuk apresiasi saya kembali membaca. Daftar buku dibawah juga berdasarkan daftar bacaan saya tahun 2018 yang selengkapnya bisa dilihat di goodreads saya. Kali ini saya akan coba merekomendasikan 5 buku non fiksi, tanpa sesuai urutan favoritnya.
1. Mindset: The New Psychology of Success - Carol S. DweckSuka penasaran tidak kenapa banyak anak kecil yang dianggap sebagai child prodigy kebanyakan hanya mampu mekar pada tempo waktu yang singkat. Biasanya saat mereka sudah dewasa, kiprahnya malah jarang terdengar. Akhirnya saya mengetahui alasannya setelah membaca buku ini.
Carol S. Dweck membagi pola pikir manusia menjadi dua: growth mindset dan fixed mindset. Growth mindset adalah pola pikir yang mendorong kita untuk selalu berkembang. Sementara fixed mindset adalah …

Pusat Perbelanjaan Purwokerto

Bukan orang asli maupun yang punya di keluarga, entah mengapa saya menulis rentetan blog seri Purwokerto ini bagaikan menulis Purwokerto 101 😉. Bagian yang pertama adalah dimana saja sih pusat perbelanjaan? You're living, you need place(s) to shop to fulfil your daily life. Standar, pusat perbelanjaan ada supermarket dan pasar tradisional.

Baby Gear: Aprica Karoon Review

Sewaktu masih hamil hasan trimester kedua, saya udah mulai rajin buka tutup review stroller di pelbagai website. Banyak faktor yang dibutuhkan untuk memilih stroller yang pas. Pertimbangan saya dalam memilih stroller dapat dilihat di artikel saya sebelumnya mengenai kriteria stroller disini. Melihat segala kriteria saya dan budget yang dimiliki, muncul beberapa shortlisted. Namun, ternyata alhamdulillah Hasan mendapat kado stroller dari Datuk Aya. Berhubung dikadoin, saya mah pasrah apa aja. Apalagi lebih mahal dari budget kita hehe. Stroller yang dikasih Aprica Karoon. Seperti ini penampakannya.