Langsung ke konten utama

Review Makanan Korea Pertama: Tudari

Berhubung oleh kepenasaran saya terhadap makanan Korea, akhirnya saya memutuskan makan di sebuah restoran Korea dekat rumah saya. Tudari. Posisinya ada di Jl. drg. Suria Sumantri, dekat dengan Universitas di Bandung. Sebenarnya ada cukup banyak Restoran Korea di Bandung. Saya ingatnya beberapa di daerah Setiabudi, Myeong Ga dan Tudari ini. Namun karena mendengar review teman saya, Asti dan Kak Yenny yang merekomendasikan Tudari, jadilah saya Jumat kemarin bersama Kak Yenny melakukan Lunner (Lunch Dinner) :D

Pertama kali masuk ke restoran, langsung disambut "Anyeong haseo" oleh para pelayan. Keadaan restoran pada saat saya datang, ada sepasang suami istri Korea sedang makan. Selain itu tidak ada pengunjung lain selain kami. Di meja partisi ruangan, terletak tumpukan Koran dan Majalah bertuliskan Hangeul. Saya juga tidak tahu darimana mengimpornya. Selain itu terletak juga tumpukan kartu nama dimana kita bisa mengontaknya untuk mendapatkan Red Gingseng. Iya betul, red gingseng yang bentuknya segede gaban yang menurut gw bentuknya seperti janin bayi :o. Dekorasi dindingnya sangat korea, ditambah banyak pajangan foto yang mempromosikan restoran tersebut. Lightningnya bagus. Tempat yang nyaman menurut saya.





Kami duduk di salah satu pojok ruangan. Sang pelayan langsung menyodorkan menu makanan. Semua menu berisikan nama makanan Korea yang saya se tidak ada ide itu makanan macam apa yang tertera. Akhirnya teman saya menunjuk suatu menu, namanya Tteobokgi. Satu menu itu untuk berdua karena ia bilang bakal akan sangat kenyang. Saya hanya bisa mengangguk.

Setelah menu diangkat, kemudian langsung dihidangkan mug plastik berisi teh. Karena saya berfikir Korea adalah tetangganya Jepang, jadi di otak saya terpatri kalo minuman di hadapan saya rasanya seperti Ocha. TERNYATA SAYA SALAH BESAR. Minuman yang dihidangkan ternyata teh beras. Jadi rasanya menurut saya seperti teh rasa pulut begitu. Disajikan juga peralatan makanan yang baru pertama kali saya lihat. Sumpitnya stainless steel dan bukan kayu. Bentuk sumpit dan sendoknya juga tidak familiar. Nasinya juga unik. Tampaknya nasinya campuran dengan pulut juga.


Teman saya menunjukkan siapa pemiliknya. Ternyata seorang pemuda Korea. Tidak lama kemudian ada suami istri korea paruh baya duduk di meja sebelah. Dugaan saya mereka pemilik restoran tersebut atau setidaknya punya hubungan famili dengan pemilik restoran tersebut karena mereka hanya duduk tidak memesan apa-apa. Kemudian datang seorang wanita berjilbab membawa selebaran mobil. Betul, suami istri Korea ini tampak ingin membeli mobil. :s
Makanan yang ditunggu pun datang. Sebentar, ternyata ini bukan makanan utama, tetapi makanan pembuka. Kata teman saya memang biasanya orang Korea menyediakan makanan pembuka yang terdiri dari 7 jenis. Namun kali ini cuma 5 jenis. Saya cuma tahu kimchi saja, 4 lainnya entahlah. Ada yang bentuknya seperti tahu sambal, ada seperti selada mayonnaise, ada juga yang seperti batang kangkung. Entah apalah namanya.


Setelah mengobrol sedikit, akhirnya makanan utama muncul. Benar ternyata kata teman saya. Porsinya besar sekali, dihidangkan dengan piring seperti hotplate. Entah benar atau tidak. Isinya tepung beras berbentuk silinder panjang, paprika, telur rebus, lobak dan aneka seafood yang dibalur dengan saos manis pedas ala korea beserta lelehan keju. Aneka seafood meliputi kerang hijau dan cumi. Rasanya cukup menarik, pedas manis sedikit asin. Jika dicampur sembari makan nasi dan minum teh beras, maka rasanya nikmat dan korea sekali.
Untuk urusan harga, saya memandangnya cukup moderat. Tidak mahal dan tidak murah. Untuk semua yang kami makan ini, harganya sekitar 100 ribu rupiah saja. Selesai makan, kami beranjak dan para pelayan mengucapkan "Kamsa Hammida", yang artinya terima kasih. Saya cukup puas, tapi mungkin lidah saya kurang cocok untuk makanan Korea, saya merasa puas yang biasa saja. Mungkin lain kali saya coba menu Bulgokkgi (daging) atau mie dengan rasa asin pedas. Untuk anda penggemar makanan Korea, saya rasa wajib mencoba makanan disini. Recomended!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Baby Gear: Aprica Karoon Review

Sewaktu masih hamil hasan trimester kedua, saya udah mulai rajin buka tutup review stroller di pelbagai website. Banyak faktor yang dibutuhkan untuk memilih stroller yang pas. Pertimbangan saya dalam memilih stroller dapat dilihat di artikel saya sebelumnya mengenai kriteria stroller disini. Melihat segala kriteria saya dan budget yang dimiliki, muncul beberapa shortlisted. Namun, ternyata alhamdulillah Hasan mendapat kado stroller dari Datuk Aya. Berhubung dikadoin, saya mah pasrah apa aja. Apalagi lebih mahal dari budget kita hehe. Stroller yang dikasih Aprica Karoon. Seperti ini penampakannya.

Story of Hasan: Icip Kolam Renang Pertama

Selasa minggu lalu, 14 Maret 2016 untuk pertama kalinya Hasan icip-icip kolam renang. Saya tinggal di apartemen yang ada kolam renang di tiap towernya. Tapi baru kali ini setelah Hasan berusia 6.5 bulan ia icip-icip kolam renang. Kemana saja saya selama ini?
Oke.
Jadi sebenarnya niatnya adalah Hasan belajar berenang langsung nyemplung di kolam renang saat usia 6 bulan. Setelah berusaha mencari tempat les renang bayi, akhirnya saya menemukan 2 tempat les renang bayi di Jakarta. Aquatic Baby dan Anak Air. Keduanya dapat menerima bayi minimal berusia 6 bulan. Wah cocok ni pikir saya. Pada saat itu Hasan sudah berusia 5 bulan. Kemudian saya menghubungi Aquatic Baby perihal brosur. Ternyata eh ternyata, berhubung kelasnya terbatas jadi waiting list nya panjang benar. Masa term berikutnya Mei atau Juni, yang mana Hasan sudah berusia 9 atau 10 bulan. Oh iya, Aquatic Baby ini berlokasi di Bintaro. Informasi lebih lanjut mungkin bisa lihat di postingan ini.

Baby Gear: Stroller #1 Kriteria

Halooo,,
Wah parah setelah ngecek query,  ternyata udah lama banget ga nulis, terakhir sekitar setengah tahun lalu :o Yah baiklah, untuk kembali mengkatalis tingkat keproduktifan, mari mulai menulis kembali!
Seperti layaknya mak-mak lainnya, teruma first-mom-to-be, udah pasti euforia menunggu kelahiran si lucu-lucu. Hihi. Mulai dari shopping frenzy sampe riset mencari baby gear semacam ini #eaaa. Nah bagian mencari baby gear termasuk bagian favorit saya. Kenapa? Well, emang dari dulu sih hobinya ngeriset barang yang mau dibeli. Bahkan teman perempuan saya kalau mau cari gadget suka nanya saya merekomendasikan barang apa ke mereka. Dan saya dengan senang hati merisetkan barang-barang untuk mereka :D Salah satu hasil riset saya yang paling berhasil adalah Nikon D90. Mid rangecamera yang dari bertahun-tahun lalu gw beli sampe sekarang harga belinya relatif sama dan dinobatkan salah satu kamera paling versatile. Hihi.


Back to topic!